Bukan Manis Tapi Iblis
Bukan Manis Tapi Iblis

Hujan di luar rumah kos Heru bukan lagi gerimis, tapi air tumpah dari langit seolah ingin menjebol atap kos. Di dalam kamar yang pengap oleh asap rokok, suasana tak kalah mendung. Heru duduk di pinggiran kasurnya, kaku, menatap dua tiket konser sold-out yang kini cuma jadi kertas sampah di atas meja kayu.
Rizky, sahabatnya, berdiri di dekat dispenser, mengaduk kopi hitam di gelas dengan bunyi sendok yang beradu nyaring. Ia melirik Heru, lalu melirik jam dinding murah yang detaknya terasa memburu.
"Sudah lewat dua jam, Her. Mau nunggu sampai kapan, sampai subuhkah?" tanya Rizky, suaranya berat karena kasihan.
Heru tidak menoleh. Tatapannya kosong. Dengan suara parau yang hampir tertelan suara hujan, ia bergumam lirih, "Seharusnya kau berada di sisiku, mengusir sepi yang menyelimutiku."
"Heru, dengarkan aku," Rizky mendekat, meletakkan gelas kopinya dengan kasar hingga airnya sedikit terpercik. "Dia tidak bakal datang."
"Dia janji, Ky. Katanya jam tujuh pas sudah bersiap di depan gang," balas Heru, jemarinya meremas kain celananya. "Di Sabtu malam janjimu... Tak sabar kumenunggu. Aku sudah siapkan semuanya. Tiket ini... bahkan ada kado kecil di laci itu."
"Tapi dia tidak ada di sini!" seru Rizky kesal.
"Walau kesal hatiku, but it’s OK!" potong Heru, mencoba tegar tapi rahangnya mengeras. "Mungkin motornya mogok. Atau mungkin dia kejebak macet parah. Aku harus positif, kan?"
Pintu kos yang tidak terkunci didorong pelan. Sekar, sahabat karib Nadhifa, muncul dengan payung basah kuyup dan wajah yang layu, seperti baru saja mendapat musibah.
"Sekar? Mana Nadhifa? Kamu bersama dia, kan?" Heru langsung berdiri, harapannya mendadak menyala kembali.
Sekar menggeleng, matanya tidak berani menatap Heru. "Dia... dia bilang ke aku badannya meriang, Her. Katanya mau istirahat di rumah saja."
"Bohong," desis Rizky. "Sekar, jujur saja. Kita semua tahu Nadhifa tidak pernah istirahat kalau malam Minggu."
Heru melangkah mendekati Sekar. "Kucoba memberikan toleransiku, Sekar. Selama ini aku diam kalau dia telat sejam-dua jam. Tapi malam ini beda. Sikapnya ini bikin resah, buyarkan konsentrasiku. Aku tidak bisa berpikir jernih!"
"Heru, tolong jangan begini," Sekar mulai menangis.
"Apakah engkau merasa aku bukan manusia?" suara Heru meninggi, memantul di tembok kos yang lembap. "Yang tak luput dari rasa amarah? Aku punya batas, Sekar! Aku bukan robot yang bisa dia on-off sesuka hatinya!"
Waktu terus merayap. Harapan yang tadi sempat menyala kini padam total, berganti rasa dingin yang menusuk tulang.
"Sudah jam sepuluh malam," Heru berbisik sambil menempelkan keningnya ke kaca jendela yang berembun. Di luar, lampu jalanan yang kuning tampak buram terkena hujan. "Suasana kurasakan begitu kelam."
Baca juga: Ratih, Secantik Dewi Ratih
"Her, ayo pergi. Kita cari mie tek-tek atau sate di depan. Aku yang bayar. Lupakan tiket itu," ajak Rizky, mencoba merangkul bahu sahabatnya.
Heru memejamkan mata. "Firasatku mengatakan, tak mungkin engkau datang. Tak seperti yang telah kau janjikan."
Tiba-tiba, bunyi notifikasi WhatsApp dari ponsel Sekar memecah suasana. Sekar tersentak, mencoba memasukkan ponselnya ke saku, tapi Rizky yang sudah hilang kesabaran langsung menyambarnya.
"Rizky! Jangan, Ky!" teriak Sekar.
Rizky melihat layar ponsel itu. Sebuah foto kiriman teman Nadhifa memperlihatkan gadis itu sedang tertawa di lobi Grand Cinema, sebuah bioskop ternama. Nadhifa sedang tertawa sambil memegang popcorn. Seorang pria berjaket kulit merangkul bahunya mesra saat mereka mengantre masuk ke dalam studio.
Rizky menyodorkan layar ponsel itu tepat ke depan muka Heru. "Lihat ini, Her. Ini sakit yang dia maksud? Ini istirahat yang dia bilang?"
Heru menatap layar itu lama sekali. Urat lehernya menegang. Rasa kecewa yang tadinya sedalam lautan kini mendidih menjadi lava.
"Kuakui, kau memang manis, tapi kau iblis," kata Heru dengan nada tenang, ketenangan yang lebih mengerikan daripada teriakan. "Kau pikir kaulah segalanya tuk dimaklumi, dan juga tuk ditakuti?"
"Heru, tunggu! Mau ke mana?" Sekar panik melihat Heru menyambar kunci motor dan jaket serta kotak kecil dari dalam laci yang kemudian dimasukkannya ke saku jaketnya.
"Walau mempesona, membutakan mata, tapi bisa kubalas kau lebih gila!" Heru menyentak tangan Sekar dengan gerakan kasar yang tak terduga. Tatapannya yang tadi sayu kini menajam, mengunci mata Rizky. "Ayo, Ky. Kita selesaikan ini sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, Heru mengenakan jaket kulitnya. Ia melangkah keluar, menembus sisa-sisa hujan yang kini tinggal rintik tipis namun menusuk. Rizky segera menyusul. Mereka memacu motor masing-masing membelah kemacetan Sabtu malam yang menyesakkan. Angin malam yang dingin menerpa wajah Heru, namun tak sanggup mendinginkan darahnya yang mendidih.
Pikiran Heru berkecamuk, membayangkan setiap kebohongan yang telah ia telan bulat-bulat selama ini.
Hanya butuh dua puluh menit bagi mereka untuk sampai di pelataran parkir bioskop ternama itu. Heru melangkah masuk dengan langkah lebar, mengabaikan bajunya yang sedikit basah dan aroma rokok yang masih tertinggal di jaketnya. Ia berdiri tegak di depan pintu keluar studio, tepat saat lampu lorong mulai menyala, pertanda film di dalam sana telah usai.
Rizky berdiri di sampingnya, melipat tangan di dada dengan wajah yang sama tegangnya. Mereka menunggu di tengah arus orang yang mulai berhamburan keluar, seperti batu karang yang menunggu ombak.
Nadhifa muncul, masih tertawa kecil sambil menggandeng tangan pria itu. Begitu matanya melihat Heru, wajah cerianya langsung pucat pasi. Popcorn di tangannya hampir jatuh.
"Heru? Kamu... kok bisa di sini?" gagap Nadhifa, suaranya gemetar di lorong bioskop.
Baca juga: Antara Cinta Dan Sahabat
"Kuakui kau memang manis, tapi kau iblis!" seru Heru. Suaranya rendah namun tajam, bergetar karena menahan amarah hingga menggema di sepanjang lorong bioskop dan membuat penonton lain menoleh. "Kau pikir kau segalanya? Walau mempesona dan membutakan mata, bisa kubalas kau lebih gila"
Pria di samping Nadhifa mencoba pasang badan. "Eh, Mas, jangan teriak-teriak. Ini tempat umum."
"Diam kamu!" bentak Rizky, menunjuk wajah pria itu. "Ini urusan mereka!"
Nadhifa mencoba meraih tangan Heru, air mata mulai mengalir. "Heru, Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku cuma butuh hiburan... aku jenuh..."
"Kau belum tahu diriku, tapi kau sudah sita waktuku," Heru menepis tangan Nadhifa. "Tiga tahun, Nad. Tahukah kamu niat baik diriku? Aku datang ke kosmu bawa cincin, bukan cuma tiket konser!"
"Mungkin kau tak mengerti risau yang aku rasakan, setiap malam aku memikirkan masa depan kita!" Heru melanjutkan, suaranya bergetar hebat. "Sekarang kau ternyata ingkari, dan engkau telah mengkhianati."
Nadhifa tertunduk, tidak berani lagi mencari alasan. Penonton lain yang baru keluar dari studio mulai berbisik-bisik, menyaksikan drama nyata yang lebih pedih dari film yang baru saja mereka tonton.
"Tapi kau coba tuk tutupi, dengan dia kasihmu kau bagi!" Heru menunjuk pria asing itu dengan telunjuk yang bergetar. "Nikmati malammu, Nadhifa. Nikmati hiburan yang sangat kamu inginkan ini."
Heru merogoh saku jaketnya. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah marun. Ia membukanya sejenak, hanya sekilas memperlihatkan sebuah cincin yang berkilau di bawah lampu lorong bioskop yang terang. Nadhifa terkesiap, tangannya menutup mulut, menyadari apa yang baru saja ia hancurkan selamanya.
Heru menatap cincin itu dengan tatapan paling dingin yang pernah Nadhifa lihat.
"Tadinya, ini untukmu. Untuk masa depan yang aku susun susah payah sambil menahan kantuk di tempat kerja setiap hari," bisik Heru, suaranya kini tenang namun tajam seperti sembilu. "Tapi sekarang aku sadar... barang seindah ini tak pantas melingkar di jari seseorang yang bahkan tak punya harga diri untuk sebuah kejujuran."
Heru menutup kotak itu dengan bunyi klik yang tegas, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaketnya dalam-dalam.
"Simpan saja air matamu, Nadhifa. Aku tak butuh aktingmu lagi." Heru tersenyum miring, sebuah senyum perpisahan yang penuh luka sekaligus kelegaan. "Ah, ain't that so?"
Heru berbalik tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya mantap meninggalkan bioskop, diikuti oleh Rizky. Heru berjalan menuju parkiran motor. Ia merasa lebih ringan; meski hatinya remuk, ia tahu ia masih memiliki kehormatan yang ia bawa pulang di dalam sakunya.
Tamat
Baca juga: Dia Yang Sudah Lama Tertidur
Kok kayaknya familiar dengan beberapa dialognya ya. Terus gue sadar. Anjir ini mah lirik lagu woyyyyy wkwkwkwwk
BalasHapusTerinspirasi lagu Edane kayanya mas Die.😁😁
HapusWkwkwk
HapusWaah si Nadhifa selingkuh yee Huu.... Tapi Nadhifa temen Gue Huu jangan dibawa2. Dia anak baik dan Jujur Hobinya Nyanyi Huu.😁😁
BalasHapusGanti aja namanya sama Agus Huu.🤣🤣 Lhaa malah gue yang protes.😁😂😂
Kalau ganti jadi Agus bisa bahaya dong.. wkwkwk
Hapussuka juga dengan edane ya mas??? itu band favoritku, lagunya yg Kau Pikir Kau Segalanya ama yg Cry out paling aku suka ^o^... paling sering puter di mobil... suami yg sukanya lagu mellow, aku paksa biasa denger musik2ku yg keras hahahahahha.
BalasHapusLumayan suka, tapi ngga begitu banyak lagu EdanE yang saya tau, Mbak Fan.
Hapusengga ada maaf atas perselingluhan ya mas, meski hubungan udah jalan lama, tapi kalo udah selingkuh, mending putus aja :D
BalasHapuskau pikir kaulah segalanya dari edane juga lagu favorit dulu, lagu jadul tapi masih enak di dengerin :D
Kirain lagu favoritnya mas khanif itu Judi nya bang Haji Rhoma.😁
HapusKalau lagu judi itu lagu favoritnya Khanif yang tingkat pertama, Mas Agus.. wkwkwk
HapusBagus ceritanya mas lanjutkan
BalasHapusOke, terima kasih.
HapusGak bisa berkata-kata....
BalasHapusMasa sih, lalu kalau nangis bisa ngga?
HapusSemangat mas Heru, semoga cepat move on (wah, daku serius sekali menanggapinya)
BalasHapusNah loh.. wkwkwk
HapusWow, mas Herman masih aktif ngeblog nih.😀
BalasHapusTenang mas Herman, eh Heru, masih banyak cewek lain bukan cuma Nadhifa. Banyak juga Nadhifa-Nadhifa lain yang siap untuk mengecewakan mu.😂😂😂
Aktif dikit... hahaha
HapusLha ujungnya kok?