Postingan

Batas Yang Tak Terlihat - Cerpen

Gambar
Batas Yang Tak Terlihat - Cerpen Aku tidak tahu persis kapan semuanya mulai berubah. Yang aku tahu, dulu, jika ada satu nama yang akan langsung kutelepon saat aku sedang berada di puncak bahagia atau di dasar kehancuran, itu adalah Yuli. Kami bertemu saat kuliah, dua mahasiswi yang kebetulan duduk bersebelahan saat orientasi kampus. Aku tipe orang yang pendiam, kalem, dan lebih suka mengamati dari balik buku. Sebaliknya, Yuli adalah orang yang lincah, ceplas-ceplos, dan suka membicarakan apa saja. Tapi justru di situlah titik temu kami. Entah bagaimana, kami jadi saling melengkapi. Selama kuliah, kami seperti satu paket yang tak terpisahkan. Kami melewati malam-malam panjang mengerjakan tugas kuliah hingga subuh, berbagi sebungkus mi instan saat tidak punya uang, hingga menangis bersama saat patah hati. Yuli adalah orang yang akan memaki laki-laki yang menyakitiku seolah-olah dia sendiri yang disakiti. Sebaliknya, aku adalah rem bagi Yuli ketika hidupnya yang sering kali terlalu kenca...

Aroma Yang Dipilih Hutan - Cerpen

Gambar
Aroma Yang Dipilih Hutan - Cerpen Suara tawa memenuhi ruang kafe vintage yang ramai, sementara aroma kopi dan kue yang baru dipanggang menguar memenuhi udara. Lima sekawan duduk melingkari meja bundar. Mereka adalah Adhie, Galih, Kinan, Sheila, dan Risa. Semuanya adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. "Jadi, begini," kata Adhie sambil menggeser sebuah peta usang di atas meja. Jari telunjuknya berhenti di sebuah titik di ujung timur pulau Jawa, Taman Nasional Alas Purwo. "Proyek dokumenter semester ini kita ambil tema yang lain dari yang lain. Kita akan ke Alas Purwo." Kinan meletakkan latte -nya. Matanya membulat. "Alas Purwo, Dhie? Hutan tertua di Jawa? Tempat berkumpulnya jin, katanya?" Nadanya terdengar cemas. Namun, Adhie tahu Kinan selalu mengikutinya. "Justru itu!" seru Adhie, wajahnya berseri-seri. "Kita tidak akan mendokumentasikan flora dan fauna, tapi legenda dan mistisnya. Tempat itu adalah pusatnya energi. A...

Kehangatan Yang Terlarang - Cerpen

Gambar
Kehangatan Yang Terlarang - Cerpen Pukul 15:00, di tengah terik matahari yang menyengat kaca depan, sebuah Honda Brio merah yang membawa empat mahasiswa asal Jakarta melaju kencang meninggalkan hiruk pikuk kota. Tujuan mereka adalah sebuah kawasan perbukitan di Jawa Barat yang menjanjikan ketenangan. Reyhan memegang kemudi dengan percaya diri. Terkadang, tangan kirinya sesekali menggenggam tangan Yuli, kekasihnya yang duduk di sampingnya. Yuli yang seharusnya merasa santai menikmati perjalanan justru tampak agak tegang. Ia menyandarkan kepala di kaca jendela, membiarkan pikirannya berkeliaran. Ia tidak sedang tidur, tapi juga tidak sepenuhnya sadar. Ada aura kecemasan yang tak terjelaskan. Matanya tertuju pada ponselnya, membaca ulang thread horor di X yang menceritakan pengalaman buruk wisatawan di vila terpencil. Mobil mulai meninggalkan jalan tol, memasuki jalan provinsi yang berkelok dan menanjak. Pemandangan hijau dan hawa sejuk mulai menyambut. "Lihat, Rey. Jalanan di sini...

Luka Yang Tak Layak Dicintai - Cerpen

Gambar
Luka Yang Tak Layak Dicintai - Cerpen Malam merambat perlahan di atas kota, seperti selimut gelap yang menutup satu per satu sisa cahaya Sang Surya. Lampu jalan bersinar lembut, memantul di permukaan sungai yang mengalir di bawah jembatan kecil, tempat Hadi berdiri sendirian. Angin malam yang biasanya menenangkan kini membawa hembusan dingin, seakan mencerminkan rasa dingin yang datang ketika hati seseorang sedang kehilangan arah. Hadi berdiri di tepi jembatan kecil, menatap riak air yang tak henti-hentinya memecah bayangan lampu. Di dadanya, ada sesuatu yang terasa sesak: bukan sekadar patah hati, tapi bercampur kelelahan dan rasa kalah yang sudah terlalu lama ia simpan. Seolah-olah setiap langkah hidupnya belakangan ini selalu membawanya ke tempat yang sama, tempat di mana ia harus kembali memunguti potongan dirinya sendiri. Lagi-lagi, ia gagal. Dan lagi-lagi, kisah cintanya runtuh seperti daun kering yang lepas dari rantingnya tanpa sempat ia memahami apa yang sebenarnya kurang. ...

Senyum Laras Di Persimpangan - Cerpen

Gambar
Senyum Laras Di Persimpangan - Cerpen Senja merayap turun perlahan, memandikan kota Jakarta dengan cahaya jingga yang lembut. Raffa keluar dari gedung kantornya. Ia berjalan cepat melintasi trotoar, sesekali mencuri pandang ke langit yang mulai keemasan. Sore itu, ia kembali terlambat menemui dua orang yang sangat penting baginya, Nissa dan Laras. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang sejak pagi tak mau hilang dari dadanya, seolah malam itu akan mengubah segalanya. Lampu kuning kafe kecil di pojok jalan sudah menyala ketika Raffa mendorong pintu kaca. Aroma kopi dan manisnya kue menyeruak, menyambutnya dengan kehangatan yang membuatnya merasa sedikit bersalah karena baru tiba. Saat masuk, Raffa melihat dua wajah yang sangat dikenalnya tengah menunggunya di meja dekat jendela. Nissa duduk sambil memainkan sedotan es coklatnya, sesekali menggambar garis-garis kecil di embun jendela. Di sebelahnya, Laras menopang dagu, memandang keluar seolah mencari sesuatu yang tidak ada. "Kamu te...