Postingan

Anomali Tulisan Tangan Yuli - Cerpen

Gambar
Anomali Tulisan Tangan Yuli - Cerpen Lisa adalah tipe pemimpin yang memuja detail; baginya, sebuah acara adalah karya seni yang tak boleh cacat. Itulah mengapa ia jatuh cinta pada naskah yang dikirimkan oleh seseorang bernama Yuli . Konsep itu tidak diketik, melainkan ditulis tangan di atas kertas linen. Garis-garis hurufnya meliuk indah, rapi, dan memiliki ritme yang menenangkan. Jenis tulisan mencerminkan ketelatenan seorang perempuan perfeksionis. "Angga, lihat transisi adegan ini," ujar Lisa sambil jarinya menelusuri baris-baris tulisan di atas kertas itu, di dalam ruang senat mahasiswa. "Yuli ini punya sensitivitas tinggi. Dia mengusulkan pencahayaan amber lembut untuk pembukaan. Hanya perempuan yang punya perasaan sehalus ini dalam memikirkan kenyamanan mata penonton." Angga yang sedang asyik menyesap kopi hampir tersedak. Ia melirik kertas itu. Ia tahu benar bahwa Yuli yang mengirimkan konsep itu adalah sahabatnya. Tulisan indah itu hanyalah hasil didikan ker...

Titik Koma Di Fajar Pertama - Cerpen

Gambar
Titik Koma Di Fajar Pertama - Cerpen Sore itu, 31 Desember 2025, langit Jakarta tidak memberikan janji apa pun selain mendung yang menggantung rendah. Denis berdiri di teras depan rumahnya di kawasan Jakarta Barat. Di tangan kanannya tergenggam gelas berisi kopi yang sudah dingin. Ia memandangi langit yang mendung. Denis adalah seorang pria berusia 26 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan barisan kode pemrograman. Baginya, angka dan logika adalah segalanya. Namun, malam ini, ia merasa butuh sesuatu yang tidak logis. Ia butuh keramaian. "Den! Lu jadi berangkat nggak?" suara Yudha menggelegar dari dalam kamar, diikuti suara dentuman pintu lemari yang ditutup paksa. Yudha, sahabat Denis sejak masa kuliah di Bandung, adalah kebalikan dari Denis. Jika Denis adalah algoritma yang kaku, Yudha adalah glitch yang penuh warna. "Gue masih mikir, Yud. Lu lihat mendungnya? Kalau hujan, kita cuma bakal basah kuyup di Bundaran HI tanpa tujuan," jawab Denis s...

Jeda Setelah Luka (#2) - Cerbung

Gambar
Jeda Setelah Luka (#2) - Cerbung Tiga hari setelah tiga pesan yang masuk malam itu, Rina memutuskan untuk menuruti ajakan yang paling ringan dulu: dari Gilang. Ia tidak ingin tekanan, tidak ingin beban, tidak ingin hal yang terasa seperti keputusan hidup. Gilang menawarkan sesuatu yang sederhana: jalan sore di taman. Sore itu langit cerah. Rini berlari-lari kecil, sementara Rina duduk di bangku taman mencoba menikmati angin, meski masih sedikit gugup. Tak lama, Gilang datang dengan motor matiknya, memakai jaket denim dan membawa dua es krim. Ia melambaikan tangan dari jauh. "Mbak Rina! Rini!" Rini langsung menyambut, "Om Gilang bawa es krim?" Gilang tertawa lebar. "Bawain buat calon anak saya, dong." Rina memutar bola matanya. "Calon? Siapa yang setuju?" Gilang duduk di sampingnya dengan santai. "Bercanda, tenang aja. Saya belum kampanye, kok." Rina terpaksa ikut tertawa. Entah kenapa, energi Gilang selalu ringan. Tidak memaksa, tidak ...

Batas Yang Tak Terlihat - Cerpen

Gambar
Batas Yang Tak Terlihat - Cerpen Aku tidak tahu persis kapan semuanya mulai berubah. Yang aku tahu, dulu, jika ada satu nama yang akan langsung kutelepon saat aku sedang berada di puncak bahagia atau di dasar kehancuran, itu adalah Yuli. Kami bertemu saat kuliah, dua mahasiswi yang kebetulan duduk bersebelahan saat orientasi kampus. Aku tipe orang yang pendiam, kalem, dan lebih suka mengamati dari balik buku. Sebaliknya, Yuli adalah orang yang lincah, ceplas-ceplos, dan suka membicarakan apa saja. Tapi justru di situlah titik temu kami. Entah bagaimana, kami jadi saling melengkapi. Selama kuliah, kami seperti satu paket yang tak terpisahkan. Kami melewati malam-malam panjang mengerjakan tugas kuliah hingga subuh, berbagi sebungkus mi instan saat tidak punya uang, hingga menangis bersama saat patah hati. Yuli adalah orang yang akan memaki laki-laki yang menyakitiku seolah-olah dia sendiri yang disakiti. Sebaliknya, aku adalah rem bagi Yuli ketika hidupnya yang sering kali terlalu kenca...

Aroma Yang Dipilih Hutan - Cerpen

Gambar
Aroma Yang Dipilih Hutan - Cerpen Suara tawa memenuhi ruang kafe vintage yang ramai, sementara aroma kopi dan kue yang baru dipanggang menguar memenuhi udara. Lima sekawan duduk melingkari meja bundar. Mereka adalah Adhie, Galih, Kinan, Sheila, dan Risa. Semuanya adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. "Jadi, begini," kata Adhie sambil menggeser sebuah peta usang di atas meja. Jari telunjuknya berhenti di sebuah titik di ujung timur pulau Jawa, Taman Nasional Alas Purwo. "Proyek dokumenter semester ini kita ambil tema yang lain dari yang lain. Kita akan ke Alas Purwo." Kinan meletakkan latte -nya. Matanya membulat. "Alas Purwo, Dhie? Hutan tertua di Jawa? Tempat berkumpulnya jin, katanya?" Nadanya terdengar cemas. Namun, Adhie tahu Kinan selalu mengikutinya. "Justru itu!" seru Adhie, wajahnya berseri-seri. "Kita tidak akan mendokumentasikan flora dan fauna, tapi legenda dan mistisnya. Tempat itu adalah pusatnya energi. A...