Titik Koma Di Fajar Pertama - Cerpen
Titik Koma Di Fajar Pertama - Cerpen

Sore itu, 31 Desember 2025, langit Jakarta tidak memberikan janji apa pun selain mendung yang menggantung rendah. Denis berdiri di teras depan rumahnya di kawasan Jakarta Barat. Di tangan kanannya tergenggam gelas berisi kopi yang sudah dingin. Ia memandangi langit yang mendung.
Denis adalah seorang pria berusia 26 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan barisan kode pemrograman. Baginya, angka dan logika adalah segalanya. Namun, malam ini, ia merasa butuh sesuatu yang tidak logis. Ia butuh keramaian.
"Den! Lu jadi berangkat nggak?" suara Yudha menggelegar dari dalam kamar, diikuti suara dentuman pintu lemari yang ditutup paksa. Yudha, sahabat Denis sejak masa kuliah di Bandung, adalah kebalikan dari Denis. Jika Denis adalah algoritma yang kaku, Yudha adalah glitch yang penuh warna.
"Gue masih mikir, Yud. Lu lihat mendungnya? Kalau hujan, kita cuma bakal basah kuyup di Bundaran HI tanpa tujuan," jawab Denis sambil melangkah masuk.
"Justru itu seninya, kawan! Malam Tahun Baru 2026 ini cuma sekali seumur hidup. Kita dengerin band favorit kita, makan mi instan di pinggir jalan, dan siapa tahu, lu dapet pencerahan soal kenapa script lu banyak error belakangan ini," Yudha muncul dengan kemeja flanel yang kancingnya salah posisi.
Denis tertawa terpingkal-pingkal melihat sahabatnya. "Kancing baju lu benerin dulu, baru kita ngomongin masa depan."
Setelah perdebatan kecil tentang moda transportasi apa yang paling masuk akal, mereka akhirnya keluar rumah dan memutuskan untuk menggunakan MRT.
Di dalam gerbong MRT, suasana sudah penuh sesak. Wajah-wajah memancarkan campuran antara kelelahan dan harapan. Denis memperhatikan seorang gadis yang duduk di pojok gerbong, sedang menggambar sesuatu di buku sketsa kecilnya. Ada ketenangan di wajah gadis itu yang membuat Denis terpaku selama beberapa detik sebelum Yudha menyenggol lengannya.
"Woy, jangan melamun. Kita turun di Bundaran HI. Siapkan mental lu, pasti di sana udah jadi lautan manusia," ucap Yudha.
Keluar dari stasiun MRT Bundaran HI pukul 20.30 seperti keluar dari mulut mesin waktu, langsung ke jantung peradaban yang padat. Jalan telah ditutup total. Panggung-panggung besar berdiri setiap beberapa ratus meter. Bau jagung bakar dan aroma sosis goreng menusuk hidung, bercampur dengan aroma parfum murah dan keringat ribuan orang.
"Gila, ini sih lebih padat dari tahun lalu!" teriak Yudha agar suaranya terdengar di atas dentuman sound dari panggung utama.
Denis mengangguk. Ia merasa sedikit pusing dengan pergerakan massa yang tidak teratur. Mereka berjalan perlahan menuju panggung utama di mana band favorit mereka akan tampil. Di dekat barikade keamanan, suasana semakin kacau. Orang-orang merangsek maju untuk mendapatkan posisi terbaik.
Di sisi lain barikade, dua orang gadis sedang berjuang mempertahankan keseimbangan mereka. Rifa, gadis yang tadi dilihat Denis di MRT, sedang memegangi lengan temannya, Fanny, erat-erat.
"Fan, ini ide buruk! Aku harusnya dengerin kamu buat tetep di rumah nonton Netflix!" teriak Rifa. Ia merasa kakinya mulai pegal karena memakai sepatu boots yang sebenarnya lebih cocok untuk kafe daripada berdesakan di jalanan Jakarta.
"Tanggung, Rif! Lihat tuh, panggungnya udah deket. Kalau kita keluar sekarang, kita bakal kegiles orang-orang yang baru dateng!" jawab Fanny yang tampak jauh lebih menikmati kekacauan ini. Fanny adalah seorang Event Organizer, baginya, kerumunan adalah habitat alami.
Tiba-tiba, gelombang massa mendorong hebat dari arah belakang panggung. Gelombang dorongan itu merambat dengan cepat. Denis melihat sosok yang tak asing, gadis di MRT tadi ada tepat di depannya. Ia sedang berusaha membetulkan tali sepatunya yang longgar, benar-benar posisi yang berbahaya di tengah massa yang merangsek.
Baca juga: Hanya Fiksi, Tapi...
"Awas!" sebuah suara berat terdengar tepat di belakang telinga Rifa.
Sesaat sebelum gadis itu kehilangan tumpuan, Denis merangsek maju. Dua tangannya yang kuat menahan bahu Rifa tepat sebelum lutut gadis itu menyentuh aspal. Denis menggunakan seluruh kekuatan kakinya untuk menjadi tembok bagi Rifa, menahan beban gadis itu sekaligus tekanan dari ribuan orang di belakangnya. Di sampingnya, Yudha yang sigap segera merangkul Fanny agar tidak terpental ke pagar besi.
"Tahan, Yud! Tahan!" teriak Denis dengan urat leher yang menonjol. Ia mengunci posisinya, membiarkan punggungnya dihantam desakan orang demi menjaga ruang napas untuk gadis di depannya.
Selama hampir satu menit, mereka terjebak dalam tekanan massa yang luar biasa. Denis bisa merasakan helai rambut Rifa mengenai pipinya, aroma sampo stroberi yang samar tercium. Denis menunduk sedikit, memastikan gadis itu masih bernapas. Ketika situasi mulai mereda, Denis perlahan melepaskan pegangannya, namun tetap dalam posisi siaga.
Rifa berbalik dengan wajah pucat pasi. Napasnya memburu. "Ya Tuhan... terima kasih. Aku bener-bener mikir bakal mati keinjak tadi."
Denis mencoba mengatur napasnya sendiri, berusaha menetralisir rasa cemas yang sempat memuncak. "Kamu nggak apa-apa? Apakah kakimu terkilir?"
Rifa melihat ke bawah. Pergelangan kaki kanannya terasa sedikit berdenyut. "Sepertinya cuma kaget. Aku Rifa."
"Kamu gadis yang menggambar di MRT tadi, kan?"
Rifa tertegun, matanya membelalak kecil. "Kamu... kamu yang duduk di dekat pintu?"
Denis mengangguk tipis, mencoba kembali ke mode tenangnya meski jantungnya masih berdegup kencang. "Denis," ucapnya memperkenalkan diri.
"Gila ya, cowok-cowok Jakarta sekarang sigap-sigap," canda Fanny sambil mengibas-gibaskan tangannya ke wajah untuk menghalau panas. "Gue Fanny. Ini temen gue yang agak ringkih, Rifa."
"Gue Yudha. Dan ini Denis, pahlawan tanpa tanda jasa tapi banyak tanda-tanda error di kepalanya," sahut Yudha sambil tertawa lebar, membuat ketegangan di antara mereka mencair seketika.
"Kalian mau terus di sini?" tanya Denis pada Rifa dan Fanny. "Area ini sepertinya bakal makin parah pas mendekati jam dua belas nanti."
Rifa menatap kerumunan di sekitarnya dengan ngeri. "Aku pengen keluar, tapi rasanya mustahil."
"Gini aja," tawar Yudha. "Kita buat formasi kotak. Gue sama Denis di depan dan belakang, kalian berdua di tengah. Kita melipir ke arah samping, dekat gedung yang ada kanopinya. Di sana udaranya lebih enak dan kita tetep bisa denger musiknya dengan jelas."
Fanny setuju tanpa pikir panjang. Rifa sempat ragu, namun melihat perlindungan yang diberikan Denis tadi, ia mengangguk.
Mereka mulai bergerak. Proses melipir itu memakan waktu hampir dua puluh menit hanya untuk menempuh jarak lima puluh meter. Di sepanjang jalan, dialog demi dialog mulai terbangun secara alami.
"Jadi, apa yang bikin seorang ilustrator sepertimu nekat ke sini, Rif?" tanya Denis saat mereka akhirnya mencapai area yang sedikit lebih longgar di bawah kanopi sebuah gedung bank swasta.
Rifa terkejut. "Kok kamu tahu aku ilustrator?"
"Tadi di MRT, aku lihat kamu menggambar. Teknik arsirmu... menarik. Kamu menggambar orang-orang yang sedang tidur di MRT dengan detail yang jujur."
Pipi Rifa memerah, kali ini bukan karena panas. "Kamu memperhatikanku sejauh itu? Aku pikir semua orang di Jakarta terlalu sibuk dengan ponsel mereka sampai nggak sadar ada orang di sebelah mereka."
Baca juga: Untuk Irfan: Cerita Yang Tak Selesai
"Aku pengembang web," jawab Denis. "Pekerjaanku adalah memperhatikan detail kecil yang sering dilewatkan orang. Karena satu titik koma yang hilang bisa menghancurkan seluruh sistem."
"Filosofis sekali untuk seorang kutu buku," goda Rifa, yang membuat Denis tersenyum, sebuah senyum langka yang bahkan Yudha jarang melihatnya.
Di sisi lain, Yudha sedang berdebat seru dengan Fanny soal band yang sedang tampil.
"Liriknya terlalu menye-menye, Fan! Tahun baru itu harusnya semangat, bukan malah diajak galau soal mantan," keluh Yudha.
"Justru itu seninya, Yud! Tahun baru adalah tentang refleksi. Kita harus membasuh luka lama sebelum memulai lembaran baru. Kamu itu tipikal cowok yang kalau sedih larinya ke gym, ya? Nggak mau ngadepin perasaan sendiri?" Fanny membalas dengan telak.
Yudha terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak. "Sial, lu baru kenal gue beberapa menit dan udah bisa baca kepribadian gue? Oke, lu menang. Gue emang lebih suka angkat beban daripada angkat bicara soal perasaan."
Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Band utama naik ke panggung. Vokal yang berat dan melankolis mulai memenuhi udara Jakarta. Tidak ada kembang api yang meledak di langit, namun ribuan lampu ponsel yang dinyalakan oleh penonton menciptakan galaksi buatan di sepanjang Jalan Thamrin.
"Kenapa kamu nggak suka kembang api?" tanya Rifa tiba-tiba saat lagu melambat menjadi sebuah balada.
Denis menatap langit yang gelap tanpa bintang. "Kembang api itu egois. Dia menghabiskan banyak energi hanya untuk bersinar beberapa detik, membuat kegaduhan, lalu meninggalkan asap yang bikin sesak napas. Aku lebih suka lampu-lampu ponsel ini."
"Kenapa?"
"Karena setiap lampu ini mewakili satu orang. Satu cerita. Mereka nggak berusaha meledak dan mengalahkan yang lain. Mereka cuma bersinar bersama-sama dalam diam. Itu lebih... kuat menurutku."
Rifa terdiam. Ia mengambil buku sketsanya dan mulai mencoret-coret dengan cepat. "Boleh aku kutip kata-katamu itu untuk komikku nanti?"
"Asal namaku disamarkan," canda Denis.
"Aku akan menamaimu 'Pria Titik Koma'," jawab Rifa sambil tertawa renyah.
Percakapan mereka semakin dalam. Di tengah hiruk-pikuk ribuan orang, mereka merasa seolah berada di sebuah ruang kedap suara di mana hanya ada suara mereka berdua.
Waktu merambat pelan menuju pukul 23.30 WIB. Di bawah kanopi gedung bank yang dingin, Denis, Rifa, Yudha, dan Fanny telah membangun sebuah pulau kecil di tengah samudra manusia. Jika beberapa jam lalu mereka adalah orang asing yang dipertemukan oleh insiden sepatu, kini mereka tampak seperti empat kawan lama yang sedang bernostalgia.
"Kalian tahu apa yang paling aneh malam ini?" Fanny memecah suasana sambil mencoba merapikan rambut pendeknya yang lepek karena udara lembap. "Biasanya, jam segini kuping kita sudah mau pecah sama bunyi petasan cabe atau kembang api ilegal. Tapi sekarang... Jakarta rasanya seperti sedang menahan napas."
Yudha mengangguk. Ia menyandarkan punggungnya ke pilar marmer gedung. "Rasanya kayak sebelum badai datang, Fan. Tapi badainya bukan hujan, melainkan sesuatu yang lain. Gue jujur aja, awalnya gue nolak larangan kembang api ini. Gue pikir, ah, pemerintah cuma mau hemat anggaran. Tapi berdiri di sini, dengerin band ini main lagu akustik tanpa ada gangguan suara ledakan... gue jadi ngerasa Jakarta punya sisi manusiawi yang selama ini ketutup asap polusi."
Rifa menoleh ke arah Denis. "Den, menurutmu, apakah orang-orang ini kecewa?"
Denis memandang ke arah Bundaran HI. Ribuan orang berdiri tegak, mata mereka terpaku pada panggung yang kini hanya diterangi lampu sorot putih yang tenang. ,"Beberapa mungkin kecewa. Tapi lihat deh, Rif. Mereka nggak ada yang beranjak. Mereka nggak komplain. Malah, aku ngerasa mereka lebih hadir malam ini. Kadang, kita butuh kehilangan sesuatu yang berisik buat bisa dengerin suara di dalem diri kita sendiri."
Baca juga: Cahaya Di Ujung Terowongan
Rifa terdiam. Ia membolak-balik halaman buku sketsanya yang sudah terisi setengah oleh sketsa kasar wajah Denis yang sedang bicara. "Suara di dalam diri sendiri, ya? Aku dari tadi cuma denger suara ketakutanku soal tahun depan. Takut gagal lagi, takut karya nggak dihargai..."
"Tahun depan itu kayak baris kode yang belum ditulis, Rif," Denis memotong dengan nada lembut namun mantap. "Kita nggak tahu bakal ada bug atau nggak. Tapi kalau kita nggak berani run program-nya, kita nggak bakal pernah tahu hasilnya. Dan kalaupun ada error, kamu punya debug sekarang."
"Siapa?" tanya Rifa polos.
Denis tersenyum tipis, menunjuk dirinya sendiri dan kemudian Yudha. "Kami. Setidaknya untuk malam ini."
Pukul 23.50 WIB. Vokalis grup band utama naik ke atas panggung dengan hanya ditemani satu gitaris akustik. Lampu panggung meredup hingga hanya menyisakan satu titik cahaya kuning.
"Jakarta," suara sang vokalis bergema, rendah dan penuh emosi. "Malam ini kita tidak merayakan kemenangan. Kita merayakan ketabahan. Di Sumatera, saudara kita sedang melihat langit yang kelabu. Di sini, kita akan melihat langit yang bersih untuk menghormati mereka. Mari kita hitung mundur bukan untuk pesta, tapi untuk sebuah janji baru."
Suasana mendadak menjadi sangat khidmat. Ribuan orang yang tadi berdesakan kini seolah meleleh dalam satu perasaan yang sama. Denis merasakan tangan Rifa gemetar di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Rifa.
Rifa tersentak sedikit, namun ia tidak menarik tangannya. Ia justru membalas genggaman itu dengan erat, mencari pegangan di tengah ketidakpastian pergantian tahun.
"Sepuluh!" suara massa mulai terdengar, namun bukan teriakan histeris, melainkan gumaman yang kompak.
"Sembilan!" "Delapan!"
Di sebelah mereka, Yudha dan Fanny juga terdiam. Yudha yang biasanya tak bisa berhenti bicara, kini hanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah serius. Fanny secara perlahan menyandarkan bahunya ke lengan Yudha.
"Dua!" "Satu!"
Selamat Tahun Baru 2026.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada langit yang berubah menjadi warna-warni secara instan. Namun, tepat di detik pertama tahun 2026, dari balik gedung-gedung tinggi di kawasan Thamrin, ribuan drone meluncur ke angkasa dalam keheningan. Mereka bergerak seperti kunang-kunang raksasa, membentuk berbagai formasi.
"Ya Tuhan..." bisik Rifa. Air mata menetes di pipinya tanpa ia sadari. "Ini... ini jauh lebih indah dari apa pun."
Denis tidak melihat ke langit. Ia melihat Rifa. Di bawah cahaya putih dari drone yang terpantul di wajahnya, Rifa tampak seperti sebuah karya seni yang paling jujur yang pernah ia lihat. "Selamat tahun baru, Rifa," bisiknya.
Rifa menoleh, matanya masih basah. Ia tersenyum, sebuah senyum yang menghancurkan seluruh dinding pertahanan logika Denis. "Selamat tahun baru, Denis. Terima kasih sudah jadi dinding pelindung malam ini."
Setelah pertunjukan drone selesai, arus manusia mulai bergerak perlahan menuju stasiun-stasiun transportasi umum. Namun, keempatnya seolah enggan mengakhiri momen itu.
"Gue nggak tahu soal kalian, tapi perut gue udah konser lebih keras dari band tadi," celetuk Yudha, mengembalikan suasana menjadi santai. "Fan, lu beneran mau Mi Aceh? Gue tau Mi Aceh yang enak di dekat sini."
Fanny menghapus sisa kantuk di matanya. "Gas! Gue laper banget. Tapi kalau rasanya nggak enak, gue nggak bakal kasih tahu lu lokasi kafe rahasia gue di Sarinah, ya!"
Mereka mulai berjalan kaki menuju restoran Mi Aceh. Jakarta di jam satu pagi tanpa sisa asap kembang api terasa sangat segar. Udara malam yang biasanya pengap kini terasa lebih ringan.
Baca juga: Jejak Hati Di Minimarket
Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah restoran Mi Aceh sederhana yang dipenuhi uap bumbu yang tajam. Mereka duduk di meja kayu panjang.
"Pesen apa, Den?" tanya Yudha.
"Mi goreng spesial, pedasnya sedang," jawab Denis. "Rifa, kamu mau apa?"
"Sama kayak kamu, Den, tapi tambahin emping yang banyak," jawab Rifa sambil membuka kembali buku sketsanya.
Sambil menunggu makanan datang, percakapan mereka menjadi semakin personal. Fanny bercerita tentang ambisinya menjadi promotor konser internasional pertama yang mengusung konsep zero waste di Indonesia. Yudha bercerita tentang mimpinya membangun aplikasi yang bisa membantu musisi jalanan mendapatkan royalti digital.
"Kalian berdua punya mimpi yang besar, ya," kata Rifa dengan nada kagum.
"Kita semua punya, Rif," sahut Fanny. "Cuma kadarnya beda-beda. Denis, lu sendiri gimana? Selain bikin kode-kode rumit?"
Denis terdiam sejenak, melihat ke arah Rifa yang sedang serius menggambar sketsa cepat pelayan warung yang sedang mengaduk teh tarik. "Dulu, mimpi gue cuma pengen kerja di perusahaan besar dan punya gaji stabil. Tapi malam ini... gue ngerasa hidup itu nggak cuma soal stabilitas. Gue pengen bisa bikin sesuatu yang punya jiwa, kayak ilustrasi Rifa atau musik yang kita denger tadi."
Rifa berhenti menggambar dan menatap Denis. "Kamu baru saja bilang hal paling manis yang pernah aku denger dari seorang programmer."
"Gue bilang apa? Dia ini puitis kalau udah kena angin malam," goda Yudha, membuat Denis melemparkan tisu padanya.
Waktu seolah melambat di antara uap teh tarik, mi goreng dan gelak tawa yang tidak kunjung usai. Obrolan mereka mengalir tanpa henti, berpindah dari satu topik ke topik lain, hingga tanpa sadar riuh rendah sisa perayaan di luar sana telah berganti dengan kesunyian dini hari.
Pukul 04.30 WIB. Mi Aceh sudah habis, teh tarik sudah tinggal ampas, dan tawa mereka sudah mulai mereda menjadi kantuk yang nyaman. Mereka berjalan menuju halte TransJakarta yang sudah mulai beroperasi kembali untuk melayani penumpang pagi pertama di tahun 2026.
Langit di timur mulai berubah warna menjadi ungu kebiruan. Cahaya fajar pertama menyentuh puncak-puncak gedung pencakar langit Jakarta, memberikan kesan bahwa kota ini telah benar-benar berganti kulit.
"Jadi... ini akhirnya?" tanya Fanny saat bus koridor 1 mulai terlihat di kejauhan. Ia menatap Yudha dengan pandangan yang sulit diartikan.
Yudha, untuk pertama kalinya malam itu, tampak sedikit gugup. "Eh, nggak harus jadi akhir, kan? Gue masih punya utang buktiin kalau kopi Palmerah lebih enak dari kopi Sarinah lu."
Fanny tersenyum lebar. "Bener juga. Sini ponsel lu." Ia mengambil ponsel Yudha dan mengetikkan nomornya dengan cepat. "Jangan cuma disimpen, beneran ajak gue ngopi minggu depan."
Sementara itu, Denis dan Rifa berdiri sedikit terpisah.
"Rif, soal buku sketsamu..." Denis memulai.
"Kenapa? Mau minta gambar gratis?" canda Rifa.
"Bukan. Aku cuma mau tanya... apa ada ruang di buku sketsamu yang berikutnya untuk sketsa kita berdua? Maksudku... di tempat yang lebih tenang dari ini?"
Rifa tertegun. Ia melihat ke arah buku sketsanya, lalu ke arah Denis. Ia merobek selembar kertas kosong di bagian paling belakang, menuliskan sesuatu, dan melipatnya kecil sebelum memberikannya pada Denis.
"Itu alamat studio kecilku dan nomor teleponku. Aku biasanya ada di sana setiap Sabtu sore. Kamu bisa dateng kalau mau jadi model sketsa... atau kalau cuma mau nemenin aku dengerin lagu-lagu jujur yang kamu bilang tadi."
Denis menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Aku bakal dateng. Sabtu ini?"
"Sabtu ini," konfirmasi Rifa dengan anggukan kecil.
Bus TransJakarta berhenti dengan suara desisan rem yang halus. Fanny dan Rifa naik ke atas bus. Sebelum pintu tertutup, Rifa menoleh sekali lagi dan melambaikan tangan ke arah Denis. Denis membalasnya dengan senyum yang paling lebar yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.
Saat bus menjauh, Yudha merangkul bahu Denis. "Gimana, pahlawan titik koma? Tahun 2026 kayaknya nggak bakal seburuk itu, kan?"
Denis melihat kertas di tangannya, lalu melihat ke arah matahari yang mulai terbit sempurna di atas Jakarta. "Nggak, Yud. Gue rasa... ini bakal jadi tahun terbaik yang pernah ada."
Mereka berdua berjalan menuju arah pulang, meninggalkan Bundaran HI yang kini sudah bersih kembali berkat petugas kebersihan yang bekerja dalam diam. Jakarta memulai hari pertamanya di tahun 2026 dengan tenang, namun di dalam hati dua pasang manusia, sebuah kembang api baru saja meledak, bukan di langit, melainkan di dalam sebuah harapan baru yang bernama asmara.
Tamat
Baca juga: Beranjak Dari Luka
Kemarin Reva mantan gue... Sekarang Rifa Bekas Bos gue waktu kerja di Telkom. Eehh tapi pernah gue pacarin juga tuh Rifa meski dia Bos. Tapi itu dulu.🤣🤣🤣
BalasHapusAnjayy anak Jakarta yee penulisnye sampe hafal Koridor 1 itu 24 jam.😁😁
Masa udah Tamat aja kan belum pacaran lebih detail + nganu.🤣🤣
Keren Hu ceritanya panjang lagi. Gue malah bikin cerita gue pendek-pendek puyeng mikirnya, Kadang niat bikin panjang tapi mentok di Ide akhirnya pendek lagi ceritanya.😂😂
Mas Herman lagi gacor bikin cerpennya kang. Mungkin habis salah makan.😁
HapusOhh kirain habis Mangkal sama Sampean di Lamer.🤣🤣🤣
HapusKebetulan lagi ada ide, sayang kalau ngga dilampiaskan.. wkwkwk
HapusLupa ilustrasi gambarnya keren juga... Luh dapet dari mana Hu atau pake AI apaan?🙄🙄
BalasHapusDapat dari google, kalau bikin sendiri saya ngga bisa, Mas.
HapusAkhir tahun dengan awal cerita baru
BalasHapusSepertinya..
HapusOh baru tahu kalo malam tahun baru di bunderan HI selalu ada keramaian konser atau pesta kembang api. Maklum aku sukanya ngumpet saja di rumah lalu tidur. Biasanya bangun jam 3 mau ke belakang.
BalasHapusMas Herman cerpennya makin bagus, mengalir lancar alur ceritanya. Empat tokohnya dapat porsi seimbang.
Sama, saya juga baru tau.. wkwkwk..malam tahun baru ngga ke mana-mana, cuma kelayapan tipis-tipis..wkwkwk.
HapusMasa sih? Terima kasih atas pujiannya jadi berasa ngga nginjak bumi..wkwkwk
mas agus malam tahun baru pasti mangkal 🤣🤣
HapusBetul sekali itu Nif... Malahan sampai Shubuh.🤣🤣🤣
HapusMangkal di kamar tidur aku kalo tahun baru.🤣
HapusNi ceritanya udah pernah ketemu blom sih mereka ini masing-masing sebelumnya, kayaknya gegara taun baru langsung jadian deh, berpasangan lagi 😁
BalasHapusBisa juga... Terkadang orang2 yang ada di Jakarta baru kenal aja bisa bilang gue dah dapat Gebetan.🤣🤣 Kan saya dulu juga sekolah Dijakarta mbak baru kenal cewek sehari juga dah bilang Ayank Tercinta.🤣🤣🤣
HapusHarusnya Cinta diawal tahun baru yee mbak judulnya... Meski selanjutnya belum tentu Abadi.🤣🤣🤣
HapusNah tuh, udah dijawab.. wkwkwk
Hapusawal tahun baru dengan kisah cinta yang baru, semoga langgeng 🤣
BalasHapusSudah lama tidak membaca cerita cinta, terakhir 2017 di Kaskus aaa 🤣
BalasHapus