Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerbung

Dara, Gadis Dunia Maya (#4)

Gambar
Dara, Gadis Dunia Maya (#4) Sumber gambar google.com diedit oleh Hermansyah Arief masuk ke rumah untuk membuat kopi. Aku membuka bungkus rokok yang baru saja kukeluarkan dari saku celanaku. Di dalamnya masih ada beberapa batang. Kuambil sebatang, lalu sisanya yang ada di dalam bungkusnya kutaruh di lantai. Sebatang rokok itu kuselipkan di bibirku, kubakar ujungnya, dan mulai mengisapnya. Tak lama kemudian, Arief keluar dari dalam rumah dengan memegang dua gelas kopi hitam. Gelas-gelas itu kemudian diletakkannya di lantai. Aroma kopi yang begitu segar langsung tercium oleh hidungku. Aku mengambilnya segelas, meniup-niupnya sebentar, lalu meminumnya beberapa teguk untuk membasahi tenggorokan. "Ahh! Nikmat banget, mataku jadi terang, Rief. Monas kalau nggak kealingan pasti kelihatan hahaha" "Bukan cuma monas, duit gajian juga kalau udah keluar dari mesin ATM pasti kelihatan, Man." Arief menimpali sambil tertawa. "Tapi aku heran, Rief?!" "Heran, heran ken...

Dara, Gadis Dunia Maya (#3)

Gambar
Dara, Gadis Dunia Maya (#3) Sumber gambar google.com diedit oleh Hermansyah Aku dan Arief kembali tertawa ngakak, sampai-sampai semua yang tertidur terbangun oleh suara tawa kami berdua. Sementara ibunya Arief hanya geleng-geleng kepala. Untungnya ketika mereka semua terbangun, perjalanan hampir sampai, hanya tinggal beberapa ratus meter saja, dan mereka tak melanjutkan tidurnya kembali. Tak lama kemudian Arief menghentikan mobil yang dikemudikannya tepat di depan sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas dan tanpa pagar pembatas. "Nah kita sudah sampai, selamat datang di Banjarnegara, Man," ucap Arief sambil mematikan mesin mobilnya. Aku mengambil tasku yang kutaruh di dashboard mobil lalu membuka pintu dan keluar dari mobil. Tubuhku langsung disambut hawa dingin. Ketika aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, ternyata hampir pukul setengah empat pagi. Sebelum melangkah menuju rumah, kuhirup napas dalam-dalam untuk menikmati segarnya udara ...

Dara, Gadis Dunia Maya (#2)

Gambar
Dara, Gadis Dunia Maya (#2) Sumber gambar google.com diedit oleh Hermansyah "Man, besok jadikan ikut aku pulang ke Banjarnegara ?" tanya Arief, teman kerjaku ketika aku bertemu dengannya di dalam sebuah lift yang membawa kami naik ke lantai atas tempat kami berdua bekerja. "Jadilah, kan aku sudah mengambil cuti kalau sampai nggak jadi bisa mati bego aku di rumah, Rief. Dan aku juga ingin tau keramaian pesta pernikahan di Banjarnegara itu seperti apa. Selama ini aku belum pernah menghadiri pesta pernikahan di sana, Rief," jawabku. "Oke, Man. Kalau jadi, nanti aku kenalin kamu sama saudara sepupuku. Barangkali aja kamu berjodoh dengannya." "Lha, kan sepupu kamu besok mau nikah kok malah mau dikenalin ke aku, bisa digebukin orang sekampung aku, Rief?" "Bukan yang mau menikah yang mau aku kenalin, tapi sepupuku yang lainnya, Man. Cuma dia tak secantik gadis kota, maklumlah dia cuma gadis kampung biasa." "Oh, bolehlah... Walau gadis kam...

Dara, Gadis Dunia Maya

Gambar
Dara, Gadis Dunia Maya Sumber gambar google.com diedit oleh Hermansyah Apa artinya hidup ini Bila hanya berteman mimpi Dalam kegelapan aku berjalan Untuk mencari kedamaian hati Ho..oooo Semuanya takkan kusesali Walau perihnya luka ini Memang ku akui, yang kuinginkan Kesetiaan di atas segalanya Bayang-bayang hitam yang menghantui Kuanggap mimpi di siang hari Seberkas cahaya di dalam dada Jauhkanku dari putus asa Jauhkanku... Tiba-tiba lagu berganti ke nada dering karena ada panggilan telepon yang masuk. Sebebas camar engkau berteriak Setabah nelayan menembus badai Seikhlas karang menunggu ombak Seperti lautan engkau bersikap Aku yang sedang asyik duduk bersandar membaca novel di teras depan rumah langsung menghentikan bacaanku. Tanganku meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu menyapukan jariku ke layar dan menempelkannya ke telinga. "Assalamualaikum," terdengar suara seorang pria memberi salam. "Wa'alaikumussalam. Ada apa, Bay? tanyaku. "Man, Coba deh bu...

Apakah Memang Dia? (#3)

Gambar
Apakah Memang Dia? (#3) Sumber gambar google.com diedit oleh Hermansyah "Ihh, Abang beneran minta dicubit lagi nih!" jawab Devi sambil menggerakkan tangan kanannya, hendak mencubit kembali lengan Hermansyah. Hermansyah menjauhi lengannya agar tak tercubit oleh Devi. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan WhatsApp dari HP yang berada di dalam saku kiri depan celana Hermansyah. Tangan kiri Hermansyah langsung masuk ke saku celananya untuk mengeluarkan HP itu, lalu dia menyapukan jari tangan kanannya untuk melihat isi pesan yang baru saja diterimanya. Setelah membacanya, Hermansyah langsung membalas pesan itu. Seketika Hermansyah sibuk dengan HP-nya sementara Devi hanya memandanginya. Ketika dilihatnya Hermansyah sudah menyimpan kembali HP-nya, Devi langsung berkata, "Sekarang Abang gak bisa mengelak lagi, barusan Abang chat sama dia, kan?" "Dia? Dia siapa sih?" Jawab Hermansyah, pura-pura bingung. "Udahlah, Bang. Jangan pura-pura terus, Abang udah ...

Rasa Yang Telah Terbunuh (#2)

Gambar
Rasa Yang Telah Terbunuh (#2) Sumber gambar google.com diedit oleh Hermansyah Mungkin karena tidurku yang terlalu nyenyak, atau memang aku yang terlalu lelah, aku baru terbangun sekitar pukul enam pagi. Aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, aku berganti pakaian dengan pakaian yang kubeli semalam. Setelah merasa semua beres, aku keluar dari kamar. Perutku sudah terasa lapar, aku berencana mencari makan sekaligus menyerahkan kunci kamar dan berpamitan. Kukunci pintu kamar itu, lalu kuserahkan kuncinya kepada penjaga penginapan yang berjaga di meja penerima tamu . Aku memang hanya menyewa kamar untuk semalam saja, dan aku pun berpamitan. Ketika aku hendak berjalan keluar, penjaga penginapan itu berkata sambil menunjuk ke sebuah meja, "Tidak sarapan dulu, Mas? Itu sudah disediakan di atas meja." Aku melihat ke meja yang ditunjuk oleh penjaga penginapan. Di atas meja itu memang aku melihat ada beberapa piring nasi goreng dan beberapa gelas...

Rasa Yang Telah Terbunuh

Gambar
Rasa Yang Telah Terbunuh Sumber gambar google.com diedit oleh Hermansyah Motor ojek yang kutumpangi meliuk-liuk di jalan yang cukup ramai, menuju sebuah tempat yang kutuju untuk bertemu seseorang yang berjanji akan menemuiku di tempat itu. Pengojek Itu mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Aku yang menjadi penumpangnya cukup takut dengan kecepatan dan cara dia mengendarai motornya. Ketika berhenti di persimpangan jalan karena lampu lalu lintas yang menyala merah, kutepuk bahu pengojek motor itu sambil berkata, "Pelan-pelan saja, tak usah ngebut, aku juga tidak sedang dikejar-kejar waktu, Bang." Sang pengojek hanya mengangguk. Lampu berwarna hijau menyala, pengojek motor itu kembali menjalankan motornya, tapi kali ini tidak seperti tadi, ia menjalankan motornya sedikit lebih pelan. Sebelum azan Magrib, sampailah aku di tempat yang kutuju. Pengojek menghentikan motornya di pinggir jalan, tepat di depan sebuah mal. Aku pun turun dan menyerahkan selembar uang...