Winda Bukan Indah
Winda Bukan Indah

Orang-orang melewatinya tanpa banyak berpikir. Ada yang mengira itu sekadar coretan iseng di papan pengumuman desa. Ada juga yang menganggap itu pesan rahasia anak-anak sekolah. Tapi bagi Winda, kalimat itu seperti bayangan yang terus mengikutinya.
Sejak pindah ke desa kecil itu, semua orang memandangnya dengan cara yang aneh. Tatapan ragu, senyum setengah hati, bahkan beberapa kali ia dipanggil dengan nama yang bukan namanya.
"Indah… eh, maaf," panggil seorang ibu di warung suatu sore.
Awalnya Winda hanya tertawa kecil. Kesalahan biasa, pikirnya. Namun semakin lama, ia merasa kesalahan itu seperti sesuatu yang disengaja. Hingga suatu hari, Winda memberanikan diri bertanya pada penjaga keamanan desa, satu-satunya orang yang tampak tidak pernah salah memanggil namanya.
"Memangnya siapa Indah?" tanya Winda pelan.
Penjaga keamanan itu diam cukup lama, lalu berkata, "Orang yang dulu tinggal di rumahmu."
Jantung Winda berdegup lebih cepat dari biasanya. "Dia mirip saya?"
Penjaga keamanan itu menghela napas. "Bukan mirip. Sangat mirip."
Sejak hari itu, Winda mulai memperhatikan hal-hal kecil. Cara orang menatapnya dari kejauhan. Bisikan yang berhenti saat ia lewat. Bahkan cermin di kamarnya sendiri mulai terasa berbeda, seolah merefleksikan seseorang yang belum sepenuhnya ia kenal.
Malam harinya, Winda kembali ke papan pengumuman itu. Kali ini ia berdiri lebih lama, menatap tulisan yang sama: Winda Bukan Indah.
Tangannya gemetar saat ujung jarinya menyentuh huruf-huruf itu. Seolah seseorang menulisnya bukan untuk umum, tapi khusus untuk dirinya.
Keesokan paginya, Winda menemukan sesuatu di bawah pintu rumahnya: sebuah foto. Foto itu sudah lama dan sedikit robek di sudut bawahnya. Di dalamnya, tampak seorang gadis tersenyum di depan rumah yang sama, dengan wajah yang sama persis dengannya. Di belakang foto itu tertulis satu kalimat kecil: Kalau mereka mulai lupa, kamu juga akan lupa.
Winda menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia tidak yakin dengan namanya sendiri.
**********
Pagi itu, udara masih dingin ketika Winda duduk di teras rumah kontrakannya. Jalan kecil di depannya mulai ramai oleh suara motor dan pedagang sayur yang lewat sambil berteriak, "Sayur… sayur…"
Di tangannya masih ada foto itu. Foto lama yang menampilkan seorang gadis berwajah yang sama, senyum yang sama, namun nama r berbeda.
"Winda!"
Suara itu membuyarkan lamunannya. Dari ujung gang, Bayu melambaikan tangan. Bayu, tetangga depan rumah, orang pertama yang menyapanya saat ia pindah.
"Kamu belum siap-siap? Katanya mau ke pasar?" tanya Bayu sambil mendekat.
Winda menyembunyikan foto itu cepat-cepat. "Iya... ini mau berangkat."
Bayu menatap Winda sebentar, lalu berkata pelan, "Kamu kelihatan pucat. Semalam tidak tidur?"
Winda ragu sejenak. Tapi akhirnya ia mengeluarkan foto itu dan menunjukkannya kepada Bayu.
Bayu mengernyit. "Ini Indah."
Jantung Winda serasa berhenti berdetak.
"Kamu kenal dia?" tanya Winda, suaranya hampir berbisik.
Bayu tidak langsung menjawab. Ia malah menoleh ke kiri-kanan, seperti memastikan tidak ada yang mendengar. "Kita bicaranya di warung Bu Sari saja," katanya.
Mereka pun menuju warung Bu Sari.
Baca juga: Misteri Di Balik Kata Hmmm
*********
Warung Bu Sari berada di pojok gang, bernaung di bawah pohon mangga yang rimbun, sederhana tapi selalu ramai. Bu Sari sendiri adalah perempuan paruh baya yang hafal hampir semua cerita warga desa kecil itu.
"Teh manis dua, Bu. Panas," ujar Bayu singkat, ketika mereka sampai di warung, lalu menarik kursi plastik.
Bu Sari, yang sedang mengaduk sesuatu di panci besar, terhenti. Ia membalikkan badan. Saat matanya menatap wajah Winda, tatapannya tidak sekadar melihat; ia seolah sedang mencoba menembus lapisan kulit Winda untuk mencari sesuatu yang tersembunyi di bawahnya.
"Lama sekali tidak kelihatan, Nduk," gumam Bu Sari pelan.
Winda merasa suhu di warung itu mendadak turun beberapa derajat. "Maaf, Bu? Saya baru pindah beberapa minggu yang lalu."
Bu Sari tersentak, seperti baru saja ditarik paksa dari lamunan panjang. Ia tertawa kecil. "Ah, iya. Faktor umur. Kamu cuma mirip seseorang."
"Indah, kan?" potong Bayu.
Bu Sari tidak langsung menjawab. Ia meletakkan dua gelas teh di atas meja. Tanpa diminta, ia menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.
"Kalau kalian sudah mulai bicarakan dia," katanya pelan, "berarti memang sudah waktunya."
Tak lama kemudian, seorang pria tua datang dengan tongkat kayu. Pak Agus, ketua RT yang dikenal tegas, tapi jarang ikut campur urusan orang, duduk tanpa bicara di meja sebelah, tapi jelas menyimak semuanya.
"Pak," kata Bayu, "Winda harus tahu."
Pak Agus menatap Winda dalam-dalam. "Beberapa hal di desa ini lebih baik tetap jadi kabur, Nduk. Begitu kamu tahu jelas, kamu tidak bisa kembali lagi."
Winda menggenggam gelas tehnya erat. "Saya cuma ingin tahu siapa Indah sebenarnya."
"Indah itu…" Bu Sari menarik napas panjang, "Bukan orang jahat."
"Tapi?" Winda menekan.
"Dia hilang. Tiga tahun lalu." Bayu melanjutkan.
"Bukan sekadar hilang," kata Pak Agus, "Dia seperti menghilang dari ingatan."
Winda mengernyit. "Maksudnya?"
"Kami semua masih ingat dia pernah ada," jelas Bu Sari, "Tapi detailnya, wajahnya, suaranya, pelan-pelan kabur."
Bayu menatap Winda. "Sampai kamu datang."
"Dan kalian langsung ingat lagi?" tanya Winda.
"Bukan ingat," kata Pak Agus pelan, "Lebih tepatnya, seperti diingatkan."
Sreeek.
Suara kursi ditarik terdengar tepat di belakang Winda. Seorang perempuan duduk di sana. Dia mengenakan pakaian yang sama persis dengan yang ada di foto lama itu. Usianya tak jauh dari Winda. Wajahnya sangat mirip. Perempuan itu tersenyum kecil. "Lama ya," katanya tenang.
Winda berdiri perlahan. Lututnya terasa lemas. "Kamu... Indah?"
Perempuan itu mengangguk pelan. "Dan kamu, akhirnya datang juga," katanya sambil menatap Winda.
Bayu mundur satu langkah. Bu Sari menutup mulutnya. Bahkan Pak Agus yang biasanya tenang terlihat tegang.
"Kamu ke mana selama ini?" tanya Bayu.
Indah tidak menjawab. Ia justru mendekati Winda. "Sekarang kamu mengerti kenapa ada yang menulis itu?" katanya pelan.
"Winda bukan Indah," gumam Winda.
Indah tersenyum, tapi ada sesuatu yang ganjil di matanya. "Itu bukan pernyataan," katanya, "Itu peringatan."
Winda menelan ludah. "Peringatan... peringatan untuk siapa?"
Indah menatapnya dalam-dalam. "Untukku, supaya aku tidak mengambil tempatmu," jawabnya.
Lalu Indah menambahkan, hampir berbisik, "Karena dulu aku pernah mengambil tempat orang lain."
Indah duduk di hadapan Winda. Tidak ada satu pun orang lain yang berani bergerak, seolah-olah waktu membeku.
Winda menoleh ke Bayu. "Kamu lihat dia, kan?"
Bayu tidak menjawab, diam seperti patung.
"Bayu!" suara Winda meninggi.
Bayu tergagap, tampak bingung, seolah baru saja tersadar dari lamunan. "Lihat siapa?"
Dunia seperti berhenti. Winda menoleh ke Bu Sari. "Bu... tadi Ibu bicara sama dia, kan?"
Bu Sari mengerutkan kening. "Sama kamu dari tadi, Nduk. Tidak ada siapa-siapa lagi."
Gelas teh di tangan Winda bergetar. Ia menoleh perlahan ke arah Indah.
Perempuan itu masih di sana. Duduk tenang dan tersenyum. "Sekarang kamu mulai paham," kata Indah lembut.
Sejak hari itu, segalanya berubah. Winda mulai melihat Indah di tempat-tempat yang tidak masuk akal. Di cermin kamar, berdiri tepat di belakangnya, tapi menghilang saat ia menoleh. Di jendela, duduk di luar saat hujan turun, padahal tidak ada jejak kaki di tanah basah. Bahkan suatu malam, Winda terbangun dan menemukan Indah duduk di ujung tempat tidurnya. "Kamu capek pura-pura jadi dirimu sendiri?" tanyanya pelan.
Winda menyalakan lampu. Kosong.
Hari-hari berikutnya semakin membingungkan.
Pak Agus pernah berkata, "Kalau kamu merasa tidak yakin dengan apa yang kamu lihat, jangan langsung dipercaya."
Namun bagaimana kalau yang tidak bisa dipercaya justru kenyataan itu sendiri?
Winda mulai mencatat. Setiap kali Indah muncul, ia mencatat waktunya, tempatnya, dan apa yang dikatakan. Namun, ada yang aneh, tulisan itu berubah. Kalimat yang ia ingat berbeda dengan yang tertulis di buku. Ia ingat Indah berkata, "Aku bukan kamu." Tapi di bukunya tertulis: "Aku adalah kamu."
**********
Suatu sore, Bayu datang membawa sesuatu. "Ini aku ketemukan di rumah lama yang kamu tempati," katanya.
Sebuah buku harian. Halaman depannya lusuh, tapi masih terbaca jelas satu nama: Indah. Tangan Winda langsung dingin.
"Boleh aku baca?" suaranya hampir tak terdengar.
Bayu mengangguk.
Malamnya, Winda membuka buku itu sendirian. Halaman pertama berisi tulisan rapi: Kalau suatu hari aku hilang, itu bukan karena aku pergi.
Winda menelan ludah. Halaman berikutnya: Aku mulai lupa siapa aku.
Lalu: Orang-orang masih memanggil namaku, tapi rasanya itu bukan aku.
Napas Winda mulai tidak teratur. Ia membalik halaman dengan cepat, sampai menemukan satu bagian yang membuatnya terdiam.
Hari ini aku bertemu dia lagi. Namanya Winda.
Buku itu pun terjatuh dari tangannya.
"Jangan terlalu cepat percaya," suara itu muncul lagi.
Winda menoleh.
Indah berdiri di sudut kamar, bersandar pada dinding. "Kamu lihat sendiri kan?” katanya, "Aku sudah ada sebelum kamu."
"Bohong... Itu tidak mungkin" Winda mundur selangkah.
Baca juga: Memilih Untuk Tidak Lari
Indah tersenyum tipis. "Apa yang tidak mungkin? Dua orang dengan wajah yang sama?"
"Bukan itu," kata Winda. "Yang tidak mungkin aku ada di cerita kamu."
Indah mendekat perlahan. "Kalau begitu," bisiknya, "kenapa semua orang di sini lebih mudah mengingatku saat melihatmu?"
**********
Keesokan harinya, Winda mendatangi Pak Agus. "Saya mau jujur. Saya sering lihat Indah," katanya.
Pak Agus terdiam.
"Dan orang lain tidak lihat dia," lanjut Winda.
Pak Agus mengangguk pelan, seolah sudah menduga. "Dulu, Indah juga pernah bilang hal yang sama," katanya akhirnya.
Jantung Winda berdegup keras.
"Dia bilang, aku sering lihat seseorang. Namanya Winda," lanjut Pak Agus.
Winda pulang dengan kepala penuh pertanyaan. Sesampainya di rumah, ia langsung berdiri di depan cermin. Lama, sangat lama.
"Kalau kamu memang ada, muncul sekarang," katanya pelan.
Beberapa detik tidak terjadi apa-apa, lalu refleksi di cermin tersenyum lebih dulu dan itu bukan senyumnya.
"Sekarang kamu siap tahu?" suara Indah terdengar, tapi kali ini bukan dari luar melainkan dari dalam.
Winda memejamkan mata.
"Siapa kita sebenarnya?" bisiknya.
Jawaban itu datang, pelan dan menakutkan: "Kita adalah orang yang sama, yang tidak bisa diingat oleh dunia pada waktu yang sama."
Di luar, papan pengumuman itu masih berdiri, tetapi tulisannya telah berubah. Bukan lagi: Winda bukan Indah. melainkan: Pilih salah satu.
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara motor lewat. Tidak ada orang berbicara di luar. Bahkan anjing-anjing yang biasanya menggonggong pun diam.
Winda duduk di depan cermin. Tulisan di papan pengumuman masih terbayang jelas di kepalanya: Pilih salah satu.
"Kalau aku tidak memilih?" bisiknya.
Tidak ada jawaban atau mungkin ia tidak ingin mendengar jawabannya.
**********
Keesokan paginya, Bayu datang seperti biasa. "Winda!" panggilnya dari luar.
Tidak ada sahutan. Ia membuka pintu yang tidak terkunci. Rumah itu rapi bahkan terlalu rapi. Seperti tidak pernah benar-benar ditinggali.
"Winda?" panggilnya lagi.
Beberapa menit kemudian, Bu Sari dan Pak Agus ikut datang.
"Gimana?" tanya Bu Sari cemas.
Bayu menggeleng. "Tidak ada siapa-siapa."
Pak Agus masuk lebih dalam, memperhatikan setiap sudut rumah. Sampai akhirnya ia berhenti di depan meja kecil. "Ini apa?" tanyanya.
Sebuah buku harian.
Bu Sari membukanya pelan. Halaman pertama kosong, halaman kedua kosong, semua halaman kosong.
"Ini bukan buku yang kemarin," kata Bayu cepat. "Yang kemarin ada tulisannya."
Pak Agus tidak menjawab. Ia hanya menutup buku itu perlahan. "Kadang yang hilang bukan orangnya," katanya.
"Lalu?" tanya Bu Sari.
Pak Agus menatap keluar jendela. "Ingatannya."
Di luar, papan pengumuman itu masih berdiri, namun lagi-lagi, tulisannya berubah. Sekarang hanya ada satu kalimat: Sudah dipilih.
Baca juga: Pamit Yang Tak Terdengar
**********
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Warung Bu Sari tetap ramai. Anak-anak tetap bermain di gang. Bayu tetap lewat setiap pagi. Namun ada satu hal kecil yang terasa janggal.
Suatu sore, seorang perempuan datang ke warung. Wajahnya familier, bahkan terlalu familier. "Teh manis satu, Bu," katanya sambil tersenyum.
Bu Sari mengangguk, tapi matanya menyipit. "Baru pindah ya?" tanyanya.
Perempuan itu mengangguk. "Iya. Di rumah ujung gang."
Bayu yang kebetulan duduk di sana ikut menoleh. "Nama kamu siapa?" tanyanya.
Perempuan itu berhenti sejenak seolah sedang berpikir, lalu tersenyum lagi.
"Linda."
Tidak ada yang terasa aneh. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang merasa ada yang hilang.
Sampai malamnya, Bayu berdiri di depan cermin di rumahnya sendiri. Ia menatap refleksinya lama. Ada sesuatu yang mengganjal, tapi ia tidak tahu apa. Seperti ada nama yang hampir ia ingat tapi selalu lolos.
"Siapa ya..." gumamnya.
Refleksi itu diam, lalu sangat pelan tersenyum, sedikit berbeda dari biasanya.
Di luar, angin malam menggerakkan papan pengumuman. Coretan lama telah memudar, digantikan tulisan baru yang masih basah: Linda Bukan Winda.
Di bawahnya, sebuah kalimat tambahan tertulis dengan tinta yang hampir luntur: Bukan tentang siapa yang hilang. Tapi siapa yang diingat.
Dan entah kenapa kalimat itu terasa benar, meski tidak ada lagi yang benar-benar mengingat alasannya.
Tamat
Baca juga: Bukan Manis Tapi Iblis
Komentar
Posting Komentar