Hujan Yang Tak Lagi Dingin

Hujan Yang Tak Lagi Dingin




hujan yang tak lagi dingin


Sore itu, Jakarta sedang diguyur gerimis tipis. Di sudut sebuah kafe bernuansa industrial dengan lampu-lampu kuning yang temaram dan kaca-kaca besar yang menghadap ke jalanan, Dina duduk mengaduk-aduk caffe latte-nya yang sudah dingin. Uapnya sudah lama hilang, menyisakan buih-buih kecokelatan yang mulai pecah di pinggiran cangkir

Di depannya, Heni, sahabatnya sejak di bangku sekolah memperhatikan sejak tadi. Ia sengaja memesan meja di pojok, jauh dari kebisingan mesin kopi, seolah tahu bahwa percakapan sore ini akan membutuhkan privasi.

"Kamu dari tadi diam saja," kata Heni akhirnya, memecah keheningan yang cukup lama. "Biasanya kalau ketemu, kamu yang paling banyak cerita, Din. Bahkan tentang kucing tetangga yang salah masuk rumah pun kamu bisa ceritakan sampai setengah jam."

Dina tersenyum tipis. Sebuah senyum yang hanya mampir di bibir, namun tidak sampai menyentuh matanya yang meredup. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap butiran air yang mulai berkejaran di kaca.

"Aku lagi capek, Hen."

Heni menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Dina dengan tatapan menyelidik. Sebagai orang yang telah mengenalnya cukup lama, ia tahu ada perbedaan antara capek fisik karena kerja dan capek batin yang menguras jiwa.

"Capek kerjaan… atau capek yang lain? Jangan bilang soal Arman lagi?" tanya Heni, suaranya merendah, memberi ruang bagi Dina untuk jujur.

Dina tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ada beban yang seolah menekan ulu hatinya setiap kali ia memikirkan kondisi rumah tangganya belakangan ini.

"Capek nikah," katanya akhirnya. Pelan, tapi terdengar sangat telak di telinga Heni.

Heni mengernyit, raut wajahnya berubah serius. "Dina! Kamu tidak bercanda, kan?"

"Aku serius," lanjut Dina, kini menatap Heni dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku capek merasa sendirian di rumah sendiri. Dia ada, tapi dia tidak 'di sana'. Kami tinggal di bawah atap yang sama, tidur di ranjang yang sama, tapi rasanya ada tembok kaca yang tebal di antara kami," suara Dina bergetar.

Hening sejenak di antara mereka berdua. Suara mesin espresso yang berdesis di bar terasa sangat nyaring di telinga Dina.

"Arman?" tanya Heni hati-hati.

Dina mengangguk kecil. Setitik air mata hampir jatuh, namun ia cepat-cepat mengerjapkan mata. "Dia berubah, Hen. Sangat berubah sampai terkadang aku bertanya-tanya, apakah laki-laki yang tidur di sampingku setiap malam adalah laki-laki yang sama dengan yang menikahiku tiga tahun lalu?"

"Berubah gimana? Dia main gila di luar? Atau mulai kasar sama kamu?"

Dina tertawa kecil, tapi suaranya hambar. "Tidak, justru itu masalahnya. Kalau dia selingkuh atau kasar, mungkin aku punya alasan jelas buat marah dan pergi. Tapi ini tidak. Dia tetap kerja, tetap pulang tepat waktu, tetap kasih uang belanja yang tidak pernah kurang. Secara administratif, dia suami yang sempurna. Namun, secara perasaan, dia tidak ada. Dia kosong."

Heni terdiam, membiarkan Dina menumpahkan segalanya.

"Dulu dia selalu cerita apa saja kalau pulang. Hal paling konyol di kantor sampai mimpi-mimpi dia sepuluh tahun ke depan. Sekarang? Kalau pulang, ya cuma pulang. Duduk, makan, diam, main ponsel sebentar, terus tidur. Kalau aku tanya, jawabannya cuma 'capek' atau 'biasa aja'. Aku berasa kayak pajangan di ruang tamu, Hen. Ada tapi tidak dianggap."

"Kamu sudah coba bicara sama dia?"

Dina menggeleng pelan, meremas jemarinya yang terasa dingin.

"Aku takut, Hen. Takut kalau aku bicara, dia malah pikir aku istri yang tidak bersyukur karena tidak mengerti betapa capeknya dia mencari uang. Aku takut kalau aku komplain, aku malah jadi beban tambahan di kepalanya yang sudah penuh sama urusan kantor."

Heni menghela napas panjang, lalu meraih tangan Dina yang terasa dingin. "Dina, dengarkan aku. Kamu itu istrinya. Kamu adalah rumahnya, tempat dia seharusnya melepas lelah, bukan orang asing yang harus menjaga jarak agar tidak mengganggu. Kalau kamu diam, dia akan menganggap semuanya baik-baik saja."

"Tapi rasanya aku memang sudah seperti orang asing sekarang, Hen." Kalimat itu menggantung berat di udara.

Heni menatap Dina lebih dalam. "Kamu masih sayang sama dia?"

Dina langsung menjawab, tanpa keraguan sedikit pun. "Masih. Sangat sayang. Makanya aku sesakit ini."

"Dia?"


Pertanyaan itu membuat Dina terdiam cukup lama. Ia menatap tetesan hujan di luar. Itu adalah pertanyaan yang selama berbulan-bulan ini ia hindari bahkan dari pikirannya sendiri.

"Aku... tidak tahu," jawabnya akhirnya, lirih. "Mungkin dia masih sayang, tapi sayangnya sudah terkubur di bawah tumpukan tagihan dan pekerjaan kantor sampai dia lupa cara menunjukkannya.

Heni sedikit maju, mencondongkan tubuhnya ke arah Dina. "Bukan tidak sayang, Din. Laki-laki terkadang bodoh. Dia pikir kalau hidup sudah mapan dan kebutuhan rumah cukup, tugasnya selesai. Dia sering kali tenggelam di dunianya sendiri dan lupa kalau istrinya itu manusia yang butuh diajak bicara, butuh dipuji, butuh diperhatikan."

"Terus aku harus bagaimana?" tanya Dina, setetes air mata jatuh ke pipinya. "Aku sudah mencoba mengerti. Aku diam supaya dia bisa istirahat. Aku menunggu dia memulai pembicaraan. Tapi makin lama aku diam, aku malah merasa diriku pelan-pelan menghilang."

Heni menggenggam tangan Dina lebih erat lagi. "Kamu tidak bisa terus diam, menunggu dia sadar sendiri, Din. Dia bukan pembaca pikiran."

Dina menatap Heni, mencari pegangan.

"Kamu harus bicara. Malam ini."

"Malam ini?" Dina sedikit tersentak. Debaran di jantungnya mendadak mengencang.

Heni mengangguk mantap. "Iya. Jangan ditunda lagi. Kamu sudah terlalu lama menyimpan luka ini sendirian. Kalau kamu tunggu besok, kamu akan menemukan alasan lain untuk takut kembali."

"Kalau jawabannya menyakitkan? Bagaimana kalau ternyata dia memang sudah bosan denganku?"

Heni tersenyum kecil, menguatkan. "Lebih baik sakit karena kejujuran yang pahit, daripada hidup dalam kekosongan karena ketidaktahuan. Setidaknya setelah bicara, kamu tahu harus berbuat apa setelah itu."

Dina menghela napas panjang, mencoba mengatur degup jantungnya yang tak beraturan. Ia kembali menatap ke luar jendela. Hujan turun semakin deras, membuat lampu-lampu jalanan terlihat buram.

"Aku kangen dia yang dulu, Hen," bisiknya ke arah kaca yang berembun. "Laki-laki yang selalu bikin aku merasa jadi orang paling penting di dunianya, tidak peduli seberapa hancur harinya di kantor.”

Heni tersenyum. "Mungkin dia masih orang yang sama. Dia hanya sedang tersesat, dan dia butuh kamu untuk menariknya pulang. Tapi kamu tidak akan tahu, kalau kamu tidak mulai bicara malam ini."

Dina menggenggam cangkir caffe latte-nya yang kini benar-benar dingin, lalu meletakkannya kembali dengan tangan yang sedikit lebih stabil. Untuk pertama kalinya sejak sore itu, ada sesuatu yang berubah di matanya. Bukan hanya kesedihan yang gelap, tapi ada pendar kecil keberanian yang mulai menyala.

"Kalau semuanya berubah setelah ini?" tanya Dina pelan, seolah bertanya pada takdir.

Heni melepaskan genggaman tangannya. "Bukankah itu tujuanmu, Din? Untuk mengubah keadaan ini?"

Dina tidak menjawab lagi, namun ia mengangguk pelan. Ia tahu, setelah ia melangkah keluar dari kafe ini dan menembus hujan untuk pulang, tidak ada jalan kembali. Ia harus menghadapi kenyataan yang menunggunya di balik pintu rumah yang sunyi itu.

**********

Di ruang tamu rumah yang sederhana, Dina duduk termenung di sofa panjang; sofa yang dulu mereka pilih bersama dengan penuh tawa saat baru pertama kali menempati rumah ini. Kini, sofa itu terasa terlalu luas untuknya sendiri.

Jam di dinding menunjukkan pukul 22:00, tapi Arman belum juga pulang. Di luar, hujan turun dengan intensitas yang tak kunjung reda sejak sore tadi. Suara rintiknya yang menghantam atap menciptakan irama monoton yang memenuhi setiap sudut rumah.

Dina memeluk lututnya erat. Matanya tak lepas menatap pintu kayu di depannya. Pintu itu tertutup rapat, seolah mengunci segala harapan yang tersisa di dalam hatinya. Ia teringat kembali pada masa-masa awal pernikahannya, tiga tahun yang lalu.

Dulu, setiap kali Arman terlambat pulang, ponselnya tidak akan pernah sunyi. ia selalu menerima pesan sederhana "Aku di jalan, Sayang. Tunggu aku, ya." Atau terkadang, Arman akan mengirim foto gerobak martabak di pinggir jalan dengan kalimat, "Mau martabak manis? Aku belikan, ya." 

Namun kini, ponselnya sunyi. Tidak ada notifikasi, tidak ada dering telepon, tidak ada kabar. Kesunyian itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran hebat sekalipun.


Dina meremas jemarinya yang mulai terasa dingin. Ia mendesah pelan, mencoba mengusir sesak yang menggelayut di dadanya. Apakah semua pernikahan memang memiliki pola yang sama? tanyanya dalam hati. Awalnya penuh bunga, kata-kata manis yang tak habis-habis, lalu perlahan-lahan semuanya memudar dan digantikan oleh rutinitas yang membosankan? Apakah aku yang terlalu berlebihan?

Pukul 22.45 malam. Terdengar suara kunci yang diputar, lalu pintu depan terbuka perlahan. Arman masuk dengan wajah lesu. Tanpa menatap Dina terlebih dahulu, ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak tanpa suara. Ia berjalan menuju meja, meletakkan tas kerja, lalu menjatuhkan diri di sofa di depan Dina. Arman menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak, membiarkan tubuhnya diserap oleh empuknya bantalan sofa.

"Kamu belum tidur?" tanya Arman tanpa membuka mata. Suaranya rendah dan dingin.

"Aku menunggumu," jawab Dina pelan.

Arman hanya mengangguk kecil lalu menghela napas panjang.

Melihat kondisi suaminya, kemarahan dan kekecewaan Dina sedikit memudar, digantikan oleh rasa iba. Ia berdiri, berjalan ke dapur, menyalakan kompor, memanaskan air, dan kembali dengan secangkir teh manis hangat. Dina memberikan cangkir itu kepada Arman lalu duduk kembali di tempat semula.

"Minumlah selagi hangat, Mas," ujar Dina.

Arman membuka matanya, menatap gelas itu sejenak, lalu meraihnya. Ia menyesap teh itu perlahan. "Terima kasih, Din."

Dina menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia simpan sejak sore tadi. "Kamu sepertinya capek, ya?"

"Capek sekali, Din. Banyak pekerjaan di kantor," jawab Arman, pandangannya lurus menatap uap teh, bukan menatap Dina.

"Bisa kita bicara sebentar?"

Arman menoleh. Alisnya bertaut. "Sekarang? Ini sudah hampir tengah malam, Din. Aku ingin segera mandi dan tidur."

"Iya, sekarang," Dina memaksakan senyum yang paling tulus yang bisa ia berikan. "Aku janji tidak akan lama."

Arman meletakkan kembali cangkir tehnya. Ia memperbaiki posisi duduknya. "Ada apa? Apa ada masalah di rumah? " tanya Arman, suaranya terdengar datar.

Dina menunduk, menatap jemarinya sendiri yang saling bertaut erat. Ia mencoba meredakan kegugupan yang menggelayut di dadanya, ada perasaan takut kalau-kalau percakapan ini justru berakhir dengan ledakan amarah.

"Aku merasa ada yang berubah di antara kita, Mas," ucap Dina. "Kamu tak lagi seperti dulu... atau mungkin aku yang terlalu berharap lebih dari yang bisa kamu berikan?"

"Berubah?" Arman mengernyitkan dahi.

"Iya." Dina mengangkat wajahnya, menatap mata suaminya dengan saksama.

Arman terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak mengerti, apa yang kamu maksud berubah, Din? Aku masih di sini, kan? Aku tetap pulang ke rumah ini. Aku tetap memenuhi semua tanggung jawabku."

"Iya secara fisik kamu di sini, tapi jiwamu tidak. Kamu seperti robot yang diprogram untuk bekerja, pulang, tidur, lalu pergi lagi. Dulu, kamu selalu ada buatku. Selalu perhatian, hangat, dan selalu mengajakku berbicara. Kamu selalu kirim pesan walau hanya sekadar menanyakan apakah aku sudah makan. Tapi sekarang... rasanya aku seperti orang asing yang kebetulan tinggal di satu atap denganmu."

Arman menatap Dina lama, seolah mencerna kata-katanya itu. "Aku tidak mengerti. Aku bekerja mati-matian di kantor itu bukan untuk diriku sendiri. Aku lembur, aku tahan dimarahi atasan, aku menghadapi stres yang luar biasa, itu semua untuk kita. Untuk masa depan kita, untuk cicilan rumah ini, untuk kamu agar tidak perlu kekurangan apa pun. Apa itu belum cukup?"

Dina tersenyum tipis, tapi matanya mulai terasa panas. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuknya. "Aku hargai itu, Mas. Sungguh. Aku tahu kamu kerja keras. Tapi, apakah semua materi itu harus dibayar dengan kehilangan dirimu? Aku tidak hanya butuh uang atau rumah yang layak. Aku butuh suamiku. Aku butuh seseorang yang bertanya bagaimana hariku, bukan sekadar sudah makan."

Dina menarik napas pendek, mencoba menahan isak tangisnya. "Aku rindu saat kita bisa duduk di teras sambil tertawa. Aku rindu saat kamu menatapku dan aku tahu bahwa aku adalah alasanmu untuk pulang. Sekarang, aku merasa kehadiranku hanya sekadar latar belakang di hidupmu yang sibuk."

Ekspresi di wajah Arman perlahan berganti menyerupai rasa bersalah, namun ia masih tampak bingung. "Aku... aku tidak sadar kalau kamu merasa sesepi itu, Din. Bagiku, selama aku bekerja keras dan kamu aman di rumah, aku pikir aku sudah menjalankan tugas sebagai suami dengan sempurna."


"Itu masalahnya, Mas," potong Dina lembut. "Kamu menganggap nafkah adalah satu-satunya bentuk cinta. Padahal, aku lebih butuh waktu sepuluh menit bicaramu daripada barang mewah mana pun. Aku butuh tahu kalau aku masih penting buat kamu. Aku butuh merasa... dilihat."

Arman menghela napas panjang, kali ini terdengar sangat berat, seakan ada beban berton-ton yang baru saja diletakkan di pundaknya. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruang tamu.

"Maaf, Din. Aku tidak pernah bermaksud membuat kamu merasa diabaikan," ucap Arman pelan. "Tapi aku juga manusia. Kadang aku pulang dengan otak yang sudah kosong. Aku hanya ingin berhenti berpikir, istirahat, tanpa harus memikirkan hal-hal lain. Aku pikir, kamu akan mengerti tanpa aku harus bicara...."

"Aku mengerti kamu capek, Mas," sela Dina. "Aku juga tidak minta kamu jadi laki-laki romantis yang memberikan bunga setiap hari. Aku cuma... kangen perhatian kecilmu. Kangen merasa jadi prioritasmu, bukan sisa-sisa energimu."

Hening menyelimuti mereka. Hanya detak jam dinding dan suara hujan di luar yang terdengar.

"Apa kamu benar-benar merasa aku tidak cinta lagi?" tanya Arman pelan.

Dina menunduk, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke pangkuannya. "Kadang aku tidak yakin, Mas. Karena cinta tanpa ekspresi itu rasanya seperti ruangan tanpa lampu."

Arman memejamkan mata sejenak. Ada kilatan luka di wajahnya, seolah kata-kata Dina memukul sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia abaikan. Ia bangkit dari sofa dan duduk di samping Dina, meraih tangannya dengan lembut. "Maafkan aku, Din," bisiknya. "Aku tidak tahu kamu merasa sekecewa ini."

"Aku tidak mau terus-terusan begini, Mas," ucap Dina. "Aku takut kalau aku diam saja, jarak di antara kita akan menjadi jurang yang tidak bisa lagi diseberangi. Aku tidak mau kehilangan kamu hanya karena kita berdua terlalu lelah untuk bicara."

Arman menarik napas dalam, seolah menghirup udara baru yang lebih segar. "Aku juga tidak mau kehilangan kamu. Kamu adalah alasan satu-satunya kenapa aku mau bangun setiap pagi dan menghadapi dunia yang keras ini. Aku cuma... aku cuma bodoh karena berpikir pembuktian cinta itu cukup lewat kerja keras dan angka di rekening.”

Dina menggeleng pelan, sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya. "Kamu tidak bodoh, Mas. Kamu hanya terlalu mencintaiku dengan caramu sendiri. Aku tidak minta banyak, Mas. Aku hanya ingin tahu kalau aku masih ada di hatimu. Aku ingin kita bicara lagi seperti dulu, tanpa merasa jadi beban buat satu sama lain. Aku kangen jadi bagian dari hari-harimu, Mas."

Arman mengusap lembut punggung tangan Dina dengan ibu jarinya. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuh Dina. "Maaf, aku tidak sadar, aku sudah membuatmu merasa sendirian. Aku terlalu sibuk mengejar hal-hal besar sampai lupa sama hal paling penting di hidupku."

"Dan itu aku? Hal paling penting di hidupmu?" tanya Dina lirih, mencari kepastian.

Arman tersenyum tipis, matanya penuh kehangatan yang sangat Dina rindukan. "Iya. Kamu. Maaf aku sempat tersesat di tengah kesibukanku sendiri."

Mereka terdiam cukup lama, tapi keheningan kali ini terasa lebih hangat, lebih dekat. Dina merasakan jantungnya berdetak lebih tenang di bawah sentuhan Arman.

Arman melihat ke arah jam dinding. "Besok aku akan pulang lebih awal.," janji Arman. "Kita akan pergi makan di tempat favoritmu. Aku tahu aku harus mulai dari hal-hal kecil lagi, kan?"

Dina tertawa kecil di sela air matanya. "Itu awal yang bagus, Mas."

Arman kemudian menarik Dina ke dalam pelukannya. Ia mendekap istrinya erat-erat seolah takut kehilangannya lagi. "Aku sayang kamu, Din. Selalu."

Di luar, hujan mulai mereda. Rintiknya tidak lagi menghantam atap dengan keras, melainkan berubah menjadi gerimis halus yang menenangkan. Malam yang tadinya terasa mencekam dan penuh jarak, kini berubah menjadi malam penyembuhan.

Dina memejamkan mata di pelukan Arman. Ia merasakan detak jantung suaminya yang stabil di bawah telinganya. Di bawah sisa-sisa hujan malam itu, mereka berdua baru saja menyelamatkan sesuatu yang tak ternilai harganya. Mereka menemukan kembali cinta yang mungkin tidak hilang, namun sempat tertimbun oleh kesibukan dunia.

Mereka sadar bahwa pernikahan bukan hanya tentang membangun masa depan yang megah, melainkan tentang menjaga api kecil di perapian agar tetap menyala, bahkan saat badai paling hebat sekalipun menghantam dinding rumah mereka. Dan malam itu, api itu menyala lebih terang dari sebelumnya.




Tamat

Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Dara, Gadis Dunia Maya (#2)

Memilih Untuk Tidak Lari

Winda Bukan Indah

Pamit Yang Tak Terdengar

Sepenggal Kisah Dunia Maya (#1)