Bukan Sabar, Itu Indah

Bukan Sabar, Itu Indah




sepasang kekasih sedang minum kopi di pinggir jalan untuk ilustrasi cerita Bukan Sabar, Itu Indah


Aroma sabun cuci motor bercampur uap aspal panas sudah menjadi menu sarapan Sabar setiap hari. Di bawah kanopi spandeks yang memantulkan terik matahari Jakarta pukul sebelas siang, tangannya cekatan menggosok sasis motor bebek yang berlumpur. Kaus oblongnya basah kuyup, entah oleh air selang atau keringatnya sendiri.

"Bar, dicariin si Indah tuh di depan," teriak Pak Amir dari dalam ruangannya yang merangkap gudang. Pak Amir mengendurkan raut mukanya yang kaku sebentar, memberikan isyarat dagu ke arah warung kopi di seberang jalan.

Sabar menghentikan semprotan airnya. Ia mengusap dahi dengan punggung tangan, lalu buru-buru mematikan kompresor. Di seberang jalan, duduk seorang gadis dengan seragam minimarket. Rambutnya dibiarkan lepas terurai melewati bahu, wajahnya tampak lelah. Itu Indah.

Sabar menyeberang jalan setelah meminta izin singkat pada Pak Amir. Di warung kopi, Tono sudah lebih dulu nangkring sambil mengisap sebatang rokok hasil patungan.

"Panas-panas gini muka ditekuk, Ndah. Entar manisnya hilang, tinggal sisa kasirnya doang," goda Tono saat Sabar duduk di sebelah Indah.

Indah tidak tersenyum. Ia mengaduk es teh manis di depannya dengan sedotan plastik hingga es batunya berdenting keras. "Aku pusing, Mas," ucap Indah, pandangannya lurus ke arah Sabar. "Mbak Wati tadi pagi ngomong lagi. Katanya, kalau bulan depan Mas Sabar belum bisa bawa orang tua ke rumah buat ngelamar, Mas Joko anak juragan sembako pasar mau datang."

Sabar terdiam. Jantungnya seperti ikut tersiram air dingin dari kompresor. Tangan kasarnya yang masih basah dan berbau sabun perlahan ditaruh di bawah meja, menyembunyikan jemari yang gemetar.

"Kan aku sudah bilang, Ndah. Tabunganku baru kekumpul sedikit, masih belum cukup. Buat sewa baju nikah sama bayar penghulu aja mepet, belum buat seserahan sama modal kontrakan kita nanti," kata Sabar pelan, suaranya tenggelam di antara raungan knalpot kendaraan yang lewat.

"Lha, makanya itu!" potong Tono sambil mengetuk meja kayu warung kopi dengan jari. "Sabar, Sabar. Nama lu doang Sabar, tapi nasib lu kagak sabar-sabar amat nindas lu. Ndah, lu juga kudu paham, si Sabar ini tiap hari meras keringat cuma dapet cepek sehari. Potong uang makan, potong kontrakan. Mau ngarep keajaiban dari mana bulan depan? Jatuh duit dari langit?"

"Tono, jangan bikin makin pusing," tegur Sabar lemah.

Indah menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. "Mbak Wati itu mikirin aku, Mas. Dia gak mau aku nasibnya sama kayak dia, ditinggal suami pas anak masih bayi, terus sekarang cuma bisa bergantung sama jahitan permak celana jeans yang sepi. Mas Joko itu udah punya toko sendiri di pasar. Mbak Wati bilang, hidup itu butuh kepastian, bukan cuma janji-janji sabar."

Kata sabar yang diucapkan Indah terdengar seperti hantaman godam di telinga Sabar. Di Jakarta, di kelas mereka yang hidup dari upah harian, kata sabar sering kali bukan sebuah kebajikan, melainkan sebuah hukuman mati untuk sebuah harapan.

"Aku cuma minta waktu sampai akhir tahun, Ndah," rayu Sabar, mencoba menggenggam jemari Indah yang dingin di atas meja.

Indah menarik tangannya perlahan. "Akhir tahun itu masih lima bulan lagi, Mas. Mbak Wati udah gak mau denger kata sabar. Tiap hari di rumah, kupingku panas." Gadis itu berdiri, membetulkan letak tas selempangnya. "Aku mau balik ke kontrakan dulu, mau tidur. Nanti sore masuk shift. Tolong pikirin ya, Mas. Aku sayang sama Mas, tapi aku juga capek ribut sama keluarga."

Sabar hanya bisa menatap punggung Indah yang perlahan menjauh, tenggelam di balik kerumunan orang di trotoar proyek LRT yang macet.

"Nih, minum dulu." Tono menyodorkan gelas es teh manis milik Indah yang baru diminum setengah. "Jangan dipikirin sampai gila. Perempuan emang gitu, Bar. Realistis. Gak bisa kenyang pake cinta."

"Gue tau, Ton. Tapi gue musti nyari duit instan di mana? Ngerampok?"


"Ya jangan ngerampok juga, bego. Entar lu masuk sel, si Indah malah ijab kabul sama juragan sembako," sahut Tono ketus. "Udah, balik kerja sana. Tuh Pak Amir udah ngeliatin lu kayak mau nelan lu idup-idup."

**********

Sore harinya, langit Jakarta berubah tembaga, membawa hawa gerah yang lengket di kulit. Di dalam tempat cuci motor, setelah motor terakhir selesai dicuci, Pak Amir memanggil Sabar ke meja kerjanya yang penuh dengan nota lusuh.

"Gimana urusan lu sama si Indah tadi siang? Selesai?" tanya Pak Amir sambil menyalakan rokok kreteknya.

"Belum, Pak."

"Urusan kawin?"

Sabar mengangguk, kepalanya menunduk menatap ujung sepatunya. "Keluarganya minta kejelasan bulan depan, Pak. Kalau gak, dia mau dijodohin sama orang pasar."

Pak Amir mengembuskan asap rokoknya ke langit-langit spandeks. Beliau tahu persis bagaimana kelakuan Sabar. Bocah ini rajin, jujur, tidak pernah mencuri uang kembalian sepeser pun selama tiga tahun bekerja dengannya. Tapi Pak Amir juga tahu, bisnis cuci motornya sedang megap-megap sejak ada tempat cuci motor yang baru buka di ujung jalan.

"Bar, gue bukannya gak mau bantu. Lu tau sendiri keadaan tempat cuci motor ini. Buat bayar uang sewa tanah ini tahun depan aja gue masih muter otak," kata Pak Amir, nadanya melunak, kehilangan ketegasan biasanya. "Gue cuma bisa kasih lu bonus sedikit bulan ini. Tapi kalau buat biaya kawin komplit dalam sebulan... gue angkat tangan."

Pak Amir membuka laci mejanya, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu menyodorkannya ke Sabar. "Nih, ambil. Anggap aja panjar gaji bulan depan. Pake buat modal lu ngomong baik-baik sama kakaknya Indah."

Sabar menerima uang itu dengan tangan bergetar. "Terima kasih banyak, Pak."

"Satu hal lagi, Bar," Pak Amir menepuk pundak Sabar. "Perempuan itu kalau udah dituntut keluarga, mentalnya beda. Lu harus cepat bertindak, jangan cuma diam dan nerima nasib. Nama lu emang Sabar, tapi kelakuan lu jangan kelewat pasrah."

Malamnya, Sabar memutuskan untuk mendatangi rumah kontrakan Indah. Rumah itu terletak di sebuah gang sempit, di mana jarak antar rumah sangat rapat hingga suara bersin tetangga pun bisa terdengar jelas.

Saat Sabar sampai di depan pintu, ketika ia hendak mengetuk pintu, ia mendengar suara perdebatan dari dalam. Itu suara Mbak Wati dan Indah.

"Indah, kamu itu bodoh atau gimana? Si Sabar itu mau kasih kamu makan apa? Sabun colek? Busanya doang yang banyak, kenyangnya kagak!" suara Mbak Wati melengking tinggi.

"Mbak, Mas Sabar itu orangnya baik, rajin kerja. Dia lagi nabung!" balas Indah, suaranya terdengar serak, menahan tangis.

"Nabung berapa? Tiap bulan cuma bisa nyisihin sedikit begitu? Keburu kamu tua, Indah! Joko itu sudah punya rumah sendiri, biarpun di gang kecil, tapi sertifikatnya jelas. Toko sembakonya gak bakal bangkrut cuma gara-gara musim hujan. Pikirin masa depanmu!"

Sabar terpaku di depan pintu. Tangannya yang hendak mengetuk menggantung di udara. Dadanya sesak. Setiap kata yang diucapkan Mbak Wati bagai pisau yang menguliti harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Ia sadar, semua yang dikatakan Mbak Wati adalah kebenaran yang pahit. Di Jakarta, kebaikan hati tidak bisa dipakai untuk membayar kontrakan atau membeli susu anak.

Dengan langkah gontai, Sabar mundur. Ia tidak jadi mengetuk pintu. Ia berjalan kembali menyusuri gang sempit yang gelap, diiringi suara TV tetangga dan tangisan bayi dari rumah-rumah petak di sekitarnya.

Di ujung gang, ia bertemu Tono yang sedang memarkirkan motornya di dekat tiang listrik. Tono mematikan mesin, lalu menatap wajah sahabatnya yang seperti mayat hidup. Ia langsung paham apa yang terjadi.

"Gak jadi masuk lu, Bsr?" tanya Tono.

Sabar menggeleng. Ia duduk di pembatas jalan, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Bahunya berguncang pelan. Untuk pertama kalinya, Tono melihat Sabar menangis.


Tono melangkah mendekat, lalu duduk di samping Sabar. Ia menawarkan rokok, namun Sabar menolak dengan lambaian tangan. Tono menghela napas panjang, menatap langit Jakarta yang malam itu tidak memunculkan satu bintang pun akibat tertutup polusi dan kepulan asap kota.

"Lu tahu nggak? Orang-orang tua dulu sering bilang ke kita, sabar itu indah..." Tono membuka suara. Nadanya tidak lagi bercanda, melainkan terdengar getir. "Itu bohong. Sabar dan indah jelas berbeda. Sabar itu laki-laki, dan indah itu perempuan."

Sabar mendongakkan kepalanya, menatap Tono dengan mata yang merah dan basah. "Maksud lu apa, Ton?"

Tono tersenyum kecut, melemparkan pandangannya ke arah deretan kontrakan di depan mereka.

"Maksud gue ya kenyataan hidup kita sekarang ini, Bar. Peribahasa 'sabar itu indah' itu cuma omong kosong ciptaan orang-orang kaya yang gak perlu mikir besok makan apa. Buat kita, peribahasa itu gak berlaku. Kenapa? Karena jelas beda kastanya. Sabar itu lu, laki-laki miskin yang cuma bisa pasrah nunggu keajaiban sambil meras keringat. Dan Indah itu dia, perempuan yang punya batas waktu, yang dikejar tuntutan realitas perut dan keluarga."

Tono menepuk dada Sabar dengan punggung tangannya. "Sabar itu gak bakal pernah bisa bersatu sama Indah kalau lu cuma diam begini, Bar. Lu berdua itu dua hal yang berbeda. Lu itu kemiskinan yang dipaksa bertahan, dan dia itu tuntutan hidup yang bergerak maju. Kalau lu mau dapetin 'Indah', lu gak bisa cuma jadi 'Sabar' yang pasrah."

Kata-kata Tono malam itu mendengung di kepala Sabar. Tajam, menyakitkan, tapi membangunkan kesadarannya yang selama ini tertidur dalam zona nyaman kepasrahan.

**********

Keesokan paginya, Jakarta kembali sibuk dengan kegilaannya. Namun ada yang berbeda dari diri Sabar. Saat ia datang ke tempat cuci motor Pak Amir, matanya tidak lagi sayu. Ada gurat ketegasan yang baru di wajahnya.

"Pak Amir," panggil Sabar saat bosnya itu baru saja membuka pintu.

"Ya, Bar? Kenapa? Muka lu kayak orang habis tarung."

"Saya mau pinjam motor bebek yang nganggur di belakang, Pak. Saya mau narik ojek online juga setelah tempat cuci motor ini tutup jam lima sore. Sampai jam dua belas malam. Saya mau bagi hasil sama Pak Amir buat sewa motornya," kata Sabar dengan nada bicara yang tegas, tanpa keraguan.

Pak Amir menatap Sabar lama, mengamati perubahan pada diri anak buahnya. Perlahan, senyum tipis muncul di wajah tua yang kaku itu. "Gak usah bagi hasil. Pake aja motornya. Yang penting bensin lu isi sendiri, dan lu rawat itu mesin. Kalau rusak, lu yang tanggung."

"Terima kasih, Pak!"

Hari itu, kehidupan Sabar berubah drastis. Selepas jam lima sore, ketika badannya sudah remuk setelah mencuci puluhan motor, ia tidak langsung pulang ke kontrakannya untuk istirahat. Ia memakai jaket hijau yang ia pinjam dari Tono, menghidupkan aplikasi di ponselnya dan mulai membelah jalanan Jakarta yang kejam di malam hari.

Ia mengantar penumpang menembus kemacetan Sudirman, membawa barang-barang belanjaan ke apartemen mewah di Kuningan, hingga mengantar makanan ke perumahan elite di Menteng. Setiap kali rasa kantuk dan lelah yang luar biasa menyerangnya di atas motor, ia akan selalu mengingat kalimat Tono di ujung gang malam itu: Sabar itu laki-laki, Indah itu perempuan. Mereka berbeda.

Ia tidak mau membiarkan perbedaan itu memisahkan mereka. Ia harus menarik Sabar agar bisa sejajar dengan Indah.

Tiga minggu berlalu dengan ritme hidup yang membunuh fisik. Berat badan Sabar turun drastis, matanya menghitam karena kurang tidur, tapi kantong celananya mulai menebal. Tabungannya yang semula tidak seberapa kini sudah terkumpul cukup banyak berkat kerja keras tanpa henti dan uang bonus tambahan dari Pak Amir yang diam-diam menaruh simpati.


**********

Malam itu, tepat di hari kelahirannya yang ke-24, Sabar meminta Indah untuk bertemu lagi di warung kopi depan tempatnya bekerja setelah gadis itu pulang shift sore.

Indah datang dengan wajah yang dipenuhi rasa bersalah. Selama tiga minggu ini, ia melihat perubahan fisik Sabar yang drastis. Ia tahu Sabar narik ojek sampai tengah malam demi dirinya.

"Mas... kamu jangan kayak gini. Nanti kamu sakit," kata Indah lirih, matanya berkaca-kaca melihat lingkaran hitam di bawah mata kekasihnya. "Mbak Wati kemarin nanya lagi soal Mas Joko. Aku... aku udah gak bisa nolak lagi kalau minggu depan mereka datang ke rumah."

Sabar tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam sebulan ini, senyumnya terasa lepas dan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam jaket ojeknya dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Indah.

"Ini apa, Mas?" tanya Indah bingung.

"Buka aja," jawab Sabar pelan.

Dengan tangan gemetar, Indah membuka amplop tersebut. Di dalamnya ada tumpukan uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu rupiah. Jumlahnya mungkin belum cukup untuk membuat pesta, tapi lebih dari cukup sebagai bukti awal keseriusan untuk membayar mahar dan biaya penghulu.

"Ini hasil aku nyuci motor dan narik ojek tiga minggu ini, Ndah. Besok, pas hari liburku, aku sama Ibuku mau datang ke rumahmu. Kita temuin Mbak Wati," kata Sabar, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Aku mau buktiin sama Mbak Wati, kalau nama aku emang Sabar, tapi aku gak bakal pasrah miskin seumur hidup. Aku laki-laki, dan aku bisa bertanggung jawab buat kamu."

Air mata Indah langsung tumpah. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya dengan apa yang ada di depannya. Di ujung warung kopi, Tono yang sedang menyeruput kopi hitamnya memberikan acungan jempol pada Sabar sambil tersenyum lebar. Pak Amir yang kebetulan sedang mengunci pintu tempat cuci motor pun sempat menoleh dan mengangguk pelan, tanda hormat pada perjuangan anak mudanya.

Indah mengusap air matanya, lalu perlahan menggenggam tangan Sabar. "Mas, ini... ini semua demi aku? Kamu sampai kayak gini..." ucapnya, suaranya tercekat oleh rasa bersalah sekaligus haru yang teramat sangat.

Sabar menggeleng pelan, menatap lurus ke dalam mata Indah. "Bukan cuma buat kamu, Ndah. Tapi buat harga diriku sebagai laki-laki. Selama ini aku keliru. Aku pikir sabar itu artinya menerima semua ketetapan dengan tunduk. Ternyata enggak. Di kota ini, kalau kita cuma diam sambil bilang 'sabar', kita sebenarnya lagi menggali kuburan buat harapan kita sendiri."

Sabar menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah menghirup sisa tenaganya yang terkuras habis. "Uang ini memang belum seberapa dibanding kekayaan Mas Joko. Tapi ini bukti kalau aku punya nyali untuk bergerak. Besok, aku gak akan datang bawa janji kosong lagi ke Mbak Wati. Aku datang membawa keringatku."

Tono tiba-tiba mendekat, menepuk bahu Sabar dengan keras. "Nah, gitu baru temen gue! Mulai besok, nama lu ganti aja, Bar. Jangan Sabar lagi."

"Jadi apa, Ton?" tanya Sabar, mulai bisa tersenyum kecil.

"Sadar," sahut Tono sambil terkekeh, meski matanya menyiratkan rasa bangga. "Karena lu udah sadar kalau hidup ini kudu dilawan, bukan cuma ditungguin."

Jakarta malam itu masih tetap bising, egois, dan penuh polusi. Namun di bawah lampu warung kopi yang temaram, Sabar membuktikan satu hal pada dirinya sendiri, pada Tono, dan pada kerasnya kota ini.

Bahwa Sabar yang merupakan seorang laki-laki, akhirnya berhasil berjuang dengan caranya sendiri untuk menjemput Indah yang merupakan seorang perempuan. Mereka tidak lagi dibedakan oleh nasib, melainkan dipersatukan oleh sebuah perjuangan yang nyata.




Tamat


Terima kasih telah membaca Bukan Sabar, Itu Indah. Ini adalah cerita pendek bergenre: Drama Romantis, New Adult Fiction, Romance, Slice of Life, dan Urban Fiction. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang

Menunggu Respons Refa

Dia Yang Memahami Diamku

Menit-Menit Setelah 21:47

Batas Yang Tak Terlihat