Dia Yang Memahami Diamku
Dia Yang Memahami Diamku

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Setidaknya itu yang selalu kupikirkan setiap kali berdiri di balkon apartemenku pada malam hari.
Dari lantai dua belas, lampu-lampu kendaraan masih mengalir seperti sungai cahaya yang tak pernah berhenti. Klakson terdengar sesekali dari kejauhan. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jendela yang masih menyala meski jarum jam sudah lewat pukul sebelas.
Kota ini selalu bergerak. Sementara aku lebih sering diam, terjebak dalam ritmeku sendiri.
Namaku Ardi. Usiaku dua puluh tujuh tahun dan bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan kreatif di kawasan Sudirman. Sebagian besar hidupku berjalan sederhana. Bangun pagi, naik MRT, bekerja, pulang, lalu menghabiskan malam dengan membaca buku atau mendengarkan musik.
Tidak banyak yang berubah. Dan aku menyukainya. Kenyamanan dalam rutinitas adalah caraku bertahan hidup.
Aku tidak pernah merasa perlu memiliki lingkaran pertemanan yang besar. Bagiku, keramaian sering kali melelahkan. Empat orang sudah cukup membuat hidupku ramai, Deni, Rifal, Aira, dan Nabila.
Mereka adalah orang-orang yang entah bagaimana berhasil bertahan di hidupku selama bertahun-tahun.
"Ardi, lu hidup atau nggak sih?" Suara Deni, nyaring membuatku mengangkat kepala dari layar laptop.
Kami sedang berada di sebuah kafe kecil di Blok M yang hampir setiap minggu kami datangi.
Aku menatapnya datar. "Hidup," jawabku.
"Kalau hidup, kasih respons yang lebih meyakinkan dong."
Aku menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena dari tadi gue cerita lima belas menit dan lu cuma bilang oh."
Rifal yang duduk di sebelah Deni tertawa kecil.
"Itu udah pencapaian besar buat Ardi, Den. Biasanya cuma ngangguk."
"Benar juga."
Aku menggeleng pelan. Mereka memang seperti itu. Terutama Deni. Sejak kuliah, laki-laki itu selalu memiliki energi yang tidak pernah habis. Kalau aku baterai ponsel lima persen, Deni adalah power bank berjalan.
"Kalian berisik," ujarku.
"Nah, ini baru Ardi." Deni menunjukku seolah baru menemukan spesies langka.
Aku tidak membalas, namun memilih menyesap kopi yang mulai dingin.
Aira yang duduk di seberangku justru tersenyum. Matanya menyipit jenaka.
"Kalian jangan ganggu Ardi terus."
"Tuh kan, Aira selalu membela."
"Karena kalian memang ganggu."
Aku diam-diam memperhatikan Aira. Rambutnya diikat sederhana hari itu, menyisakan beberapa anak rambut di pelipisnya. Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit kusut dan celana hitam karena baru pulang dari kantor. Sederhana, tapi entah kenapa selalu enak dipandang.
Aku segera mengalihkan pandangan sebelum ada yang menyadarinya. Perasaanku kepada Aira bukan sesuatu yang pernah kuceritakan kepada siapa pun. Bahkan kepada diriku sendiri, aku tidak mengakuinya, karena mengakui berarti harus menghadapi kemungkinan kehilangan dan aku tidak pandai menghadapi kehilangan.
Dua minggu kemudian kantor mendadak sibuk. Perusahaan kami mendapatkan proyek kampanye digital dari klien besar. Semua tim harus bekerja sama termasuk aku dan Aira.
"Ardi."
Aku menoleh.
Baca juga: Jari Yang Terkunci
Aira berdiri di samping mejaku sambil membawa beberapa berkas.
"Bisa diskusi bentar?"
"Ya."
Aku dan Aira menuju ruang rapat kecil. Selama hampir satu jam kami membahas konsep visual, target audiens, dan berbagai revisi.
Biasanya aku lebih nyaman bekerja sendiri, tapi bersama Aira rasanya berbeda. Ia tidak memaksaku banyak bicara. Ia juga tidak menganggap diam sebagai sesuatu yang aneh. Kadang kami bisa bekerja lima belas menit tanpa mengucapkan satu kata pun dan itu terasa nyaman.
"Ardi."
"Hm?"
"Aku baru sadar sesuatu."
"Apa?"
"Kamu ternyata lucu."
Aku hampir tersedak kopi.
"Lucu?"
"Iya."
"Aku nggak ngelucu."
"Justru itu." Aira tertawa.
Aku tidak mengerti apa yang lucu, namun melihatnya tertawa membuat sudut bibirku ikut terangkat sedikit. Sangat sedikit, namun cukup untuk membuat Aira menunjukku.
"Nah! Senyum!"
Aku langsung kembali datar.
Aira tertawa lebih keras, gemanya mengisi ruang rapat yang sempit.
Malam itu aku pulang dengan MRT. Gerbong tidak terlalu penuh. Aku berdiri dekat pintu sambil memandangi pantulan wajahku di kaca.
Aneh, beberapa bulan terakhir aku lebih sering memikirkan Aira.Lebih sering menunggu pesan darinya. Lebih sering memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Dan aku tahu itu bukan pertanda baik, karena aku juga tahu diriku sendiri. Aku bukan orang yang mudah mengungkapkan perasaan, bahkan ketika perasaan itu tumbuh semakin besar.
**********
Hari Sabtu, Deni mengajak kami berkumpul lagi. Kali ini di sebuah taman kota. Nabila datang paling akhir dan seperti biasa ia membawa kamera.
"Maaf telat."
"Fotoin orang lagi?" tanya Deni.
Nabila mengangguk.
Aku dan Nabila sering memiliki cara berpikir yang mirip. Mungkin karena kami sama-sama lebih banyak mengamati daripada berbicara.
Saat yang lain sedang bercanda, Nabila duduk di sebelahku. "Kamu capek?" tanyanya.
Aku menoleh.
"Kelihatan?"
"Sedikit."
Aku tertawa pelan.
"Proyek kantor."
"Dan Aira?"
Aku hampir tersedak udara.
"Nggak nyambung," ujarku.
"Nyambung."
Nabila tersenyum kecil, menatapku. Tatapannya begitu tajam, seolah ia bisa membaca hal-hal yang bahkan belum siap kuakui.
"Kamu suka Aira ya?"
Pertanyaan itu datang begitu saja. Langsung tanpa peringatan.
Aku terdiam cukup lama, lalu menjawab pelan, "Mungkin."
Nabila mengangguk. Tidak terkejut, tidak menghakimi, hanya mengangguk. "Aira orang baik," ucapnya
"Iya."
Baca juga: Setelah Hujan Reda
"Kamu pernah bilang?"
Aku menggeleng.
"Tebakan yang mudah."
Aku tersenyum tipis.
"Takut?"
Aku tidak langsung menjawab, karena sebenarnya bukan takut ditolak melainkan aku lebih takut kehilangan hubungan yang sudah ada. Takut semuanya berubah dan takut suasana nyaman itu hilang.
"Aku nggak tahu."
Nabila memandang langit sore yang mulai berubah jingga.
"Kadang orang terlalu lama menyimpan sesuatu sampai akhirnya kehilangan kesempatan."
Aku tidak tahu kenapa kalimat itu terasa berat. Mungkin karena aku tahu ada benarnya.
Beberapa hari kemudian, sesuatu terjadi. Aku sedang membereskan meja kerja ketika mendengar suara Deni dari belakang.
"Ardi."
"Hm?"
"Gue mau cerita," Deni melanjutkan. Nada suaranya berbeda, biasanya lebih santai.
Aku menoleh, wajahnya tampak serius.
"Kita keluar bentar? pintanya.
Aku dan Deni turun ke area merokok meski tidak ada satu pun dari kami yang merokok. Deni menyandarkan tubuh ke pagar, lalu diam cukup lama.
"Aneh," ucap Deni akhirnya.
"Apa?"
"Gue bingung mulai dari mana."
"Itu baru aneh."
Deni tertawa kecil, kemudian menatap jalanan di bawah sana.
"Gue suka seseorang."
Jantungku berdebar aneh. Entah kenapa.
"Mantap."
"Lu tahu orangnya."
Aku mulai tidak nyaman. "Siapa?" tanyaku.
Deni tersenyum tipis. Pada detik berikutnya, seluruh dunia seakan melambat.
"Aira"
Aku tidak langsung menjawab. Suara kendaraan di bawah terdengar samar. Angin sore berembus pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak tahu harus mengatakan apa, karena orang yang kusukai ternyata juga disukai sahabatku sendiri.
Deni tidak menyadari perubahan ekspresiku. Ia masih berbicara tentang Aira. Tentang bagaimana ia mulai menyukainya. Tentang bagaimana ia ingin mengajaknya keluar. Tentang bagaimana ia berharap semuanya berjalan baik.
Sementara aku hanya berdiri di sana mendengarkan seperti biasa. Karena sejak dulu aku memang lebih pandai menyimpan perasaan daripada mengatakannya.
Dan mungkin, itulah masalah terbesarku.
Aku tidak ingat bagaimana percakapan dengan Deni berakhir sore itu. Yang kuingat hanya senyum di wajahnya saat bercerita tentang Aira. Senang, tulus, dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku berharap ia berhenti bicara. Bukan karena aku tidak peduli justru karena aku peduli.
Deni adalah sahabatku. Salah satu dari sedikit orang yang berhasil masuk ke dalam lingkaran kecil yang kubangun selama bertahun-tahun. Jika ada orang yang pantas mendapatkan kebahagiaan, Deni termasuk salah satunya. Tapi manusia memang makhluk yang rumit. Kita bisa mencintai seseorang sekaligus iri kepada orang yang kita cintai. Dan saat itu aku sedang berusaha keras agar perasaan itu tidak tumbuh.
Baca juga: Andi: Sang Mekanik Hati
Malamnya aku tidak bisa tidur. Jakarta di luar jendela masih hidup seperti biasa. Lampu kendaraan bergerak tanpa henti. Sementara pikiranku berputar-putar di tempat yang sama.
Aku suka Aira. Deni suka Aira. Aira...
Aku bahkan tidak tahu apa yang Aira rasakan. Aku menutup mata lalu membuka lagi beberapa detik kemudian. Percuma, beberapa hal memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan tidur.
Hari Senin datang terlalu cepat. Di kantor, Aira sedang duduk di ruang rapat ketika aku masuk.
"Kamu kelihatan capek," ucap Aira
Aku meletakkan laptop di meja.
"Kurang tidur."
"Kerjaan?"
"Kurang lebih."
Aira mengangguk.
"Aku juga."
Lalu kami mulai bekerja. Biasanya aku menikmati saat-saat seperti ini, tapi hari itu berbeda.
Setiap kali Aira berbicara, aku teringat Deni. Setiap kali ia tersenyum, aku teringat Deni. Bahkan ketika ia hanya bertanya soal warna desain, aku masih teringat Deni.
Rasanya menyebalkan, karena aku tahu bukan Aira yang membuat situasi ini rumit. Melainkan perasaanku sendiri.
Seminggu kemudian Deni akhirnya mengajak Aira keluar. Ia menceritakannya di grup kami.
Deni: "Gue ngajak Aira nonton."
Rifal: Akhirnya."
Nabila: "Selamat."
Aku membaca pesan itu cukup lama, lalu mengetik.
"Semoga lancar."
Pesan sederhana. Dua kata, tapi butuh waktu hampir lima menit sebelum akhirnya kukirim.
Sabtu malam mereka pergi. Aku tidak ikut alasannya sederhana. Aku tidak ingin atau lebih tepatnya, aku tidak sanggup.
Aku memilih berjalan kaki sendirian di sekitar kawasan Senayan.
Udara malam cukup sejuk. Beberapa orang berolahraga, beberapa pasangan duduk di bangku taman, dan beberapa keluarga masih menghabiskan waktu bersama.
Aku memperhatikan mereka sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket. Kadang aku bertanya-tanya. Kenapa mengungkapkan perasaan bisa sesulit itu? Kenapa ada orang yang bisa mengatakan "aku suka kamu" dengan begitu mudah? Sementara aku bahkan kesulitan menjawab pertanyaan sederhana tentang diriku sendiri.
Ponselku bergetar, pesan dari Nabila.
"Lagi di mana?"
"Luar."
"Jawabanmu selalu detail."
Aku tersenyum kecil.
"Senayan."
"Sendiri?"
"Iya."
Beberapa detik kemudian balasan datang.
"Mau ditemani?"
Aku menatap layar, lalu mengetik satu kata.
"Boleh."
Dua puluh menit kemudian Nabila datang seperti biasa ia membawa kamera.
"Kamu benar-benar datang."
"Kan aku bilang mau menemani."
Kami berjalan tanpa tujuan seperti kebanyakan percakapanku dengan Nabila, tidak ada tekanan untuk terus berbicara.
Baca juga: Satu Detik Sebelum Runtuh
Kadang kami diam selama beberapa menit, kadang saling bercerita. Sederhana, nyaman.
"Kamu kepikiran Deni?"
Aku menatap jalan di depan.
"Iya."
"Aira juga?"
"Iya."
Nabila mengangguk pelan.
"Ardi."
"Hm?"
"Kamu selalu mendahulukan orang lain ya?"
Aku tertawa pendek.
"Itu terdengar seperti kritik."
"Itu memang kritik."
Aku menoleh. Nabila sedang memandangku dengan ekspresi tenang.
"Kamu terlalu sering mengalah bahkan sebelum mencoba."
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada yang ingin kuakui, karena mungkin benar.
Aku sering menyerah sebelum bertanding, sering memilih diam sebelum berbicara, sering mundur sebelum melangkah. Bukan karena tidak ingin menang, tapi karena takut kehilangan.
Beberapa minggu berlalu proyek kantor semakin sibuk. Hubunganku dengan Aira tetap baik, begitu juga hubungan Aira dan Deni juga terlihat semakin dekat.
Mereka sering saling mengirim pesan, sering bercanda, sering menghabiskan waktu bersama, dan aku mulai membiasakan diri melihatnya atau setidaknya berpura-pura terbiasa.
Sampai suatu malam Aira menghubungiku, bukan lewat grup, tapi pesan pribadi.
"Kamu masih bangun?"
Aku membaca pesan itu beberapa kali.
"Masih."
Balasan datang cepat.
"Bisa telepon?"
Jantungku berdetak lebih cepat.
"Bisa."
Beberapa detik kemudian ponselku berdering.
"Halo?"
Suara Aira terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Halo."
"Kamu sibuk?"
"Nggak."
"Oke."
Lalu hening. Aku menunggu dan ia juga diam.
"Ada apa?" tanyaku akhirnya.
Aira mengembuskan napas.
"Aku bingung."
"Tentang?"
"Deni."
Aku langsung menatap langit-langit kamar. Entah kenapa aku sudah menduga.
"Kenapa?"
"Aku suka dia sebagai teman."
Aku memejamkan mata.
"Dan?"
"Aku nggak yakin bisa lebih dari itu."
Ada rasa lega yang muncul dan aku membencinya. Karena rasa lega itu lahir dari kemungkinan bahwa sahabatku mungkin akan terluka.
"Aku orang jahat nggak sih?"
Baca juga: Hujan Yang Tak Lagi Dingin
"Tidak."
"Tapi dia baik."
"Iya."
"Aku nggak mau bikin dia kecewa."
Aku memahami perasaan itu, terlalu memahami. Karena aku juga sering menahan sesuatu demi menghindari menyakiti orang lain.
"Aria."
"Hm?"
"Kamu nggak bisa memaksa perasaan."
Hening. Kemudian ia tertawa kecil.
"Aneh."
"Apa?"
"Aku malah curhat ke orang yang paling jarang ngomong."
Aku tersenyum.
"Karena aku nggak banyak komentar."
"Itu juga."
Untuk beberapa saat kami berbicara tentang banyak hal. Tentang pekerjaan, tentang keluarga tentang Jakarta, tentang hidup.
Dan untuk pertama kalinya aku merasa mengenalnya lebih dalam. Bukan Aira yang selalu tersenyum di kantor tapi Aira yang juga punya ketakutan, punya kebingungan, punya luka yang tidak selalu terlihat.
Ketika telepon berakhir hampir tengah malam, aku justru merasa lebih bingung daripada sebelumnya, karena semakin mengenal seseorang, semakin sulit melupakannya.
Dua hari kemudian semuanya berubah.
Deni akhirnya menyatakan perasaannya kepada Aira dan Aira menolak dengan baik.
Aku mengetahui kabar itu dari Deni sendiri. Kami duduk berdua di sebuah warung kopi dekat kantor. Ia menatap cangkir di depannya. Wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang.
"Ditolak."
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia jujur."
Deni tersenyum kecil.
"Katanya dia nggak punya perasaan yang sama."
Aku mengangguk.
"Deni..."
"Nggak apa-apa."
Tapi aku tahu itu tidak benar, karena selama bertahun-tahun aku mengenalnya. Deni selalu tersenyum seperti itu ketika sedang terluka.
"Aku bakal baik-baik aja."
Aku tetap diam. Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat. Melainkan teman yang bersedia duduk di sampingnya saat dunia terasa berat. Dan aku bisa melakukan itu. Mungkin itu satu-satunya hal yang selalu bisa kulakukan.
Minggu berikutnya suasana kelompok kami sedikit berubah. Tidak buruk, hanya canggung.
Deni berusaha bersikap biasa, Aira berusaha bersikap biasa. Kami semua berusaha bersikap biasa. Padahal tidak ada yang benar-benar biasa.
Suatu sore setelah pulang kerja, Nabila mengajakku minum kopi.
"Kamu kelihatan sedih."
"Aku?"
"Iya."
"Aku baik-baik aja."
"Kamu bohong."
Aku tertawa kecil.
"Kamu kenapa sih selalu benar?"
"Karena kamu mudah dibaca."
"Itu fitnah."
Nabila tersenyum, kemudian menatap keluar jendela.
Baca juga: Winda Bukan Indah
"Kamu pernah mikir nggak?"
"Mikir apa?"
"Bahwa mungkin selama ini kamu melihat ke arah yang salah."
Aku mengernyit.
"Maksudnya?"
Nabila tidak langsung menjawab, hanya memainkan sendok kopinya perlahan, lalu berkata pelan,
"Ada orang yang selalu ada buat kamu."
Aku diam.
"Nggak semua orang bertahan selama itu kalau mereka nggak peduli."
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak lama, aku mulai memperhatikan sesuatu yang selama ini mungkin kuabaikan.
Nabila selalu ada saat aku senang, saat aku bingung, saat aku terluka, saat aku memilih diam. Ia tidak pernah memaksaku berubah, tidak pernah menuntutku menjadi lebih ramai, tidak pernah membuatku merasa aneh karena menjadi diriku sendiri. Dan tiba-tiba aku merasa takut, karena aku mulai memahami apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
Malam itu aku pulang dengan pikiran yang jauh lebih kacau daripada sebelumnya. Aku berdiri di balkon apartemen, memandang Jakarta yang masih bercahaya. Dan untuk pertama kalinya, pertanyaan yang selama ini kuhindari akhirnya muncul.
Bagaimana jika orang yang selama ini kucari sebenarnya sudah berdiri di sampingku sejak awal?
Dan lebih menakutkan lagi.
Bagaimana jika aku baru menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat?
Ada hal-hal yang tidak kita sadari karena terlalu dekat. Seperti suara hujan yang sudah terlalu sering kita dengar atau jalan pulang yang setiap hari kita lewati tanpa benar-benar memperhatikannya. Dan mungkin, perasaan juga seperti itu. Aku baru menyadarinya ketika semuanya mulai terasa berbeda.
Setelah percakapanku dengan Nabila di kafe sore itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan kata-katanya.
"Ada orang yang selalu ada buat kamu."
Kalimat sederhana, namun semakin kupikirkan, semakin banyak potongan-potongan kecil yang muncul di kepalaku.
Nabila yang datang malam itu ke Senayan hanya karena aku merasa tidak baik-baik saja, Nabila yang selalu tahu kapan aku sedang menyembunyikan sesuatu, Nabila yang tidak pernah memaksaku menjadi orang lain, Nabila yang mengerti bahwa diam bukan berarti marah, Nabila yang memahami bahwa aku butuh waktu sebelum mampu menjelaskan isi kepalaku sendiri. Dan yang paling aneh, aku baru menyadari semua itu sekarang.
Beberapa hari kemudian aku bertemu Aira di kantor. Proyek besar kami akhirnya selesai. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, suasana kantor terasa lebih ringan.
"Selamat."
Aku menoleh.
Aira berdiri di samping mejaku sambil membawa dua gelas kopi.
"Satu buat kamu."
"Makasih."
"Kita berhasil."
Aku menerima kopi itu, lalu tersenyum kecil.
"Ya."
"Eh."
"Apa?"
"Aku baru sadar."
"Apa lagi?"
"Kamu sekarang lebih sering senyum."
Aku tertawa pelan.
"Perasaan nggak."
"Ada."
Baca juga: Memilih Untuk Tidak Lari
Aku menggeleng, namun dalam hati aku tahu mungkin ia benar. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi sempurna, tapi karena untuk pertama kalinya aku mulai jujur pada diriku sendiri.
Kami duduk di ruang santai kantor. Memandang gedung-gedung Jakarta dari balik kaca besar.
"Aku boleh tanya sesuatu?" kata Aira.
"Boleh."
"Kamu pernah suka seseorang?"
Aku hampir tersedak kopi.
"Kenapa tanya begitu?"
"Jawab dulu."
Aku menatapnya beberapa detik.
"Lumayan."
"Yang mana?"
Aku menghela napas.
"Aira."
Ia tertawa.
"Bukan nama orangnya."
"Oh."
Aku mengalihkan pandangan.
Aira masih tersenyum.
"Aku pernah curhat ke kamu malam itu."
"Iya."
"Dan aku nggak pernah bilang makasih."
""Kamu sudah bilang."
"Belum cukup."
Aku mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena saat itu aku benar-benar bingung. Dan kamu nggak pernah mencoba mengarahkan jawabanku. Kamu cuma mendengarkan."
Aku tersenyum tipis.
"Aku memang lebih jago mendengarkan."
"Nah itu."
Kami tertawa bersama.
Lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa melihat Aira hanya sebagai Aira. Bukan seseorang yang harus kumiliki, bukan seseorang yang harus kuperjuangkan, hanya seorang teman yang berharga dan anehnya, rasanya melegakan.
Deni membutuhkan waktu, namun ia adalah Deni. Orang yang selalu menemukan cara untuk bangkit. Sebulan setelah penolakan itu, ia sudah kembali menjadi dirinya sendiri atau setidaknya hampir.
Kami berlima kembali berkumpul di kafe langganan kami di Blok M. Tempat yang sama, meja yang sama, suasana yang terasa familiar.
"Aku punya kabar."
Semua menoleh ke arah Deni.
"Apa?" tanya Rifal.
"Gue mau pindah divisi."
"Hah?"
Aku ikut terkejut.
"Pindah?"
"Iya."
"Kenapa?"
Deni menyandarkan tubuh ke kursi.
"Mau cari tantangan baru."
"Itu bahasa korporat."
"Itu memang bahasa korporat."
Kami tertawa.
Rifal menggeleng.
"Nggak bisa serius lima menit ya?"
"Kalau bisa, gue bukan Deni"
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, aku melihat senyum yang benar-benar tulus di wajahnya.
Baca juga: Pamit Yang Tak Terdengar
Aku merasa lega. Mungkin beberapa luka memang tidak hilang, tapi waktu membantu kita hidup berdampingan dengannya.
Malam semakin larut, satu per satu kami pulang tinggal aku dan Nabila. Seperti biasa, entah kenapa itu sering terjadi.
"Kamu naik MRT?" tanyaku.
"Iya."
"Bareng aja."
"Oke."
Kami berjalan menuju stasiun. Trotoar Jakarta malam itu cukup ramai. Lampu jalan memantulkan warna kekuningan di aspal yang sedikit basah karena hujan sore tadi.
Untuk beberapa saat kami berjalan tanpa bicara. Tidak canggung, hanya tenang. Dan aku menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah merasa perlu mengisi setiap keheningan saat bersama Nabila.
"Bil."
"Hm?"
Aku berhenti melangkah, ia ikut berhenti. Ada banyak hal yang ingin kukatakan. Dan seperti biasa, aku kesulitan mencari kata yang tepat. Nabila memperhatikanku, kemudian tersenyum kecil.
"Kamu lagi mikir keras ya?"
Aku tertawa pelan.
"Kelihatan?"
"Banget."
Aku menatap jalan di depan, lalu kembali menatapnya.
"Maaf."
Nabila terlihat bingung.
"Kenapa minta maaf?"
"Karena aku telat."
Ia tidak langsung menjawab. Mungkin karena ia mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
"Aku lama menyadari banyak hal."
Suaraku terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Terlalu lama."
Angin malam berembus pelan. Orang-orang berlalu lalang di sekitar kami, namun saat itu rasanya hanya ada kami berdua.
Nabila menatapku lembut, tenang seperti biasanya.
"Aku nggak pernah minta kamu cepat."
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak, karena begitulah Nabila. Ia tidak pernah menuntut, tidak pernah memaksa, dan justru karena itu aku merasa semakin bersalah.
"Aku sempat berpikir aku menyukai Aira."
"Kamu memang menyukai Aira."
Aku tersenyum tipis.
"Ya."
"Tapi?"
Aku mengembuskan napas perlahan.
"Tapi sekarang aku sadar ada perbedaan antara mengagumi seseorang dan merasa pulang saat bersama seseorang."
Nabila terdiam.
Aku melanjutkan.
"Dan selama ini..."
Aku berhenti sejenak. Mencari keberanian yang mungkin terlambat datang.
"Orang itu ternyata kamu."
Untuk beberapa detik tidak ada suara, hanya hiruk-pikuk Jakarta yang terus berjalan seperti biasa.
Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, konyol. Usiaku dua puluh tujuh tahun, tapi rasanya seperti remaja yang baru pertama kali menyatakan perasaan.
Baca juga: Bukan Manis Tapi Iblis
Nabila menunduk, lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti campuran lega dan haru.
"Ardi."
"Hm?"
"Kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Aku hampir menyerah."
Jantungku mencelos.
"Hampir."
"Tapi belum?"
Nabila menggeleng.
"Belum."
Aku tertawa. Untuk pertama kalinya malam itu aku bisa bernapas sedikit lebih lega.
Nabila memandangku beberapa saat, kemudian berkata, "Kamu tetap orang paling lambat yang pernah aku kenal."
"Itu kritik lagi?"
"Itu fakta."
Kami sama-sama tertawa. Dan entah kenapa, malam itu Jakarta terasa lebih hangat dari biasanya.
Hubungan kami tidak langsung berubah menjadi kisah romantis yang sempurna. Tidak ada musik latar, tidak ada adegan dramatis seperti di film.
Kami tetap kami, masih canggung sesekali., masih sering salah paham, masih sama-sama belajar, namun ada satu hal yang berbeda. Sekarang kami tidak lagi menyembunyikan apa yang kami rasakan.
Enam bulan kemudian. Aku duduk di balkon apartemen. Tempat yang sama, pemandangan yang sama. Jakarta masih menyala seperti biasa.
Ponselku bergetar, pesan dari Nabila.
"Lihat ke bawah."
Aku mengernyit, lalu berdiri melihat ke area depan apartemen. Di sana ada Nabila, mengangkat secangkir kopi ke arahku. Aku tertawa, kemudian membalas pesannya.
"Naik aja."
Beberapa menit kemudian bel apartemen berbunyi. Saat membuka pintu, Nabila berdiri sambil membawa dua gelas kopi.
"Aku tahu kamu belum tidur."
"Aku memang belum tidur."
"Tuh kan."
Ia masuk, duduk di balkon bersamaku. Tidak banyak bicara, hanya menikmati malam, memandang lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan.
"Aneh ya," kataku.
"Apa?"
"Dulu aku sering merasa sendirian di kota sebesar ini."
Nabila menoleh.
"Sekarang?"
Aku tersenyum, memandang langit Jakarta yang tidak pernah benar-benar gelap.
"Lampunya masih sama."
"Terus?"
"Macetnya juga masih sama."
Nabila tertawa.
"Lalu?"
Aku menatapnya, kemudian menjawab pelan.
"Tapi sekarang aku nggak merasa sendirian lagi."
Nabila tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggenggam tanganku. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam sunyi yang kubangun sendiri, aku menyadari sesuatu.
Tidak semua perasaan perlu diucapkan. Namun setiap hati berharap ada seseorang yang mampu memahaminya. Ketenangan memang bukan kesepian. Namun memiliki seseorang yang memahami diam kita membuat ketenangan itu terasa jauh lebih indah.
Tamat
Terima kasih telah membaca Dia Yang Memahami Diamku. Ini adalah cerita pendek bergenre: Drama Romantis, Metropop, New Adult Fiction, Slice of Life, dan Urban Legend. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Anomali Tulisan Tangan Yuli
Komentar
Posting Komentar