Indah Atau Winda, Atau...? (#2)

Indah Atau Winda, Atau...? (#2)




indah atau winda, atau...? (#2)


Winda merasa jantungnya seperti melompat dari tempatnya. Berdua aja? Damar ngajakin jalan berdua? Pikirannya mendadak kosong. Sisi emosionalnya menjerit senang, namun sisi introvert-nya langsung memicu alarm panik yang luar biasa. Berdua dengan Damar berarti dia harus berbicara, merespons, dan menatap cowok itu selama berjam-jam tanpa ada Sinta yang bisa dijadikan tameng penolong.

"Gue..." Winda menelan ludah, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Gue takut... malah bikin bosen, Mar. Gue kan nggak pinter ngomong."

Damar tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuat dada Winda makin berdesir. "Siapa juga yang mau nyari temen debat, Win? Gue cuma mau jalan bareng lu. Kalau lu nggak mau ngomong, ya kita muter-muter sambil diem-dieman aja juga nggak apa-apa. Gimana?"

Winda terdiam cukup lama, menimbang-nimbang antara ketakutannya dan rasa sukanya yang sudah menahun pada Damar. Akhirnya, dengan anggukan yang sangat pelan, dia menjawab, "Ya udah... boleh."

"Oke, Sabtu jam empat sore gue jemput di gang rumah lu ya," kata Damar riang, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia kemudian berdiri, menepuk bahu Winda pelan. "Gue duluan ya, mau ada kelasnya Pak Agus. Sampai ketemu Sabtu, Win."

Winda hanya menatap punggung Damar yang menjauh dengan perasaan yang campur aduk antara bahagia yang meletup-letup dan kecemasan yang mendalam.

**********

Sore harinya, setelah mandi dan berganti pakaian rumah yang santai, Winda langsung meraih ponselnya. Dia butuh meluapkan semua rasa sesak di dadanya ini kepada seseorang, tapi bukan kepada Sinta yang pasti akan meledeknya habis-habisan. Dia butuh tempat bersandar di mana dia bisa menjadi dirinya yang ekspresif.

Dia membuka akun indah_lestari, lalu mengunggah sebuah foto baru di Story Instagram. Foto itu adalah jepretan bayangan pohon kersen di lantai semen kampus yang dia ambil tadi siang sebelum Damar datang. Di atas foto itu, dia menuliskan teks kecil dengan font melengkung: Tiba-tiba sepotong keberanian datang, membawa undangan yang bikin jantung nggak aman.

Hanya butuh sepuluh menit sampai akun damar_aditya membalas Story tersebut lewat DM.

damar_aditya: Wah, si Mbak Estetik lagi dapet undangan apaan nih? Kayaknya spesial banget sampai bikin jantung nggak aman.

Winda tersenyum di atas kasurnya. Jarinya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, berbanding terbalik dengan lidahnya yang kaku tadi siang.

indah_lestari: Hahaha, ada deh. Intinya seseorang yang nggak diduga-duga tiba-tiba ngajakin jalan. Lucu ya, padahal aku tipe orang yang lebih suka sembunyi, tapi dia malah narik aku keluar.

Di kamarnya sendiri, Damar yang sedang rebahan sambil mendengarkan lagu lewat earphone langsung menegakkan duduknya begitu membaca balasan dari Indah. Ada rasa sedikit berdenyut di dadanya. Rasa cemburu.

damar_aditya: Oh ya? Wah, beruntung banget cowok itu bisa ngajakin kamu jalan. Jujur, agak iri sih. Aku juga baru aja ngajakin jalan cewek yang aku suka di dunia nyata. Dia anaknya pendiem banget, beda sama kamu. Tapi untungnya dia mau.

Winda membaca pesan Damar dengan mata membelalak. Cewek yang aku suka di dunia nyata?

Darah Winda rasanya mendadak berdesir dingin. Jadi... Damar mengajak dirinya jalan hari Sabtu besok bukan cuma sebagai teman tongkrongan? Damar menyukai dirinya yang di dunia nyata, Winda yang pendiam dan membosankan itu?

Winda gemetaran. Dia ingin membalas pesan itu, tapi jemarinya mendadak kaku, persis seperti lidahnya saat berada di depan Damar.

**********

Hari Sabtu sore itu, langit kota dilingkupi warna jingga yang hangat. Damar menghentikan motor matiknya di depan sebuah gapura gang sempit yang tak jauh dari jalan utama. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya muncul.

Winda berjalan pelan menghampiri Damar. Sore ini dia terlihat sedikit berbeda. Meskipun tetap kasual dengan celana kulot hitam dan kemeja garis-garis yang kancingnya dibiarkan terbuka menampilkan kaos putih polos di dalamnya, rambut sebahunya dibiarkan tergerai rapi, sebuah tas kain tergantung di pundaknya. Ada aroma samar minyak wangi melati dan teh yang menguar saat dia berhenti di dekat motor Damar.


"Udah lama, Mar?" tanya Winda, suaranya halus, hampir tenggelam oleh deru knalpot motor yang lewat di jalan raya.

"Nggak kok, baru lima menit. Nih, helmnya," Damar menyodorkan helm berwarna hitam.

Sepanjang perjalanan menuju Gedung Kesenian, suasana di antara mereka didominasi oleh deru angin jalanan. Winda duduk di jok belakang dengan posisi agak menjauh, tangannya berpegangan erat pada besi behel motor. Damar sesekali melirik dari spion, melihat Winda yang melempar pandangan ke arah pertokoan di pinggir jalan, tampak menikmati angin sore yang menerpa wajahnya.

Gedung Kesenian tua di dekat alun-alun itu tidak terlalu ramai, sebuah keberuntungan bagi Winda yang tidak menyukai kerumunan. Di dalam ruangan berlantai tegel kuno itu, puluhan foto hitam-putih yang merekam sudut-sudut kota zaman dulu dipajang dengan pencahayaan lampu kuning yang temaram.

Damar berjalan pelan, menyelaraskan langkahnya dengan Winda. Mereka bergerak dari satu bingkai foto ke bingkai foto lainnya. Seperti yang sudah diduga Damar, Winda tidak banyak bicara. Dia hanya berdiri, menatap foto-foto itu dengan pandangan mendalam, seolah sedang berkomunikasi dengan sejarah di balik kaca bingkai.

"Bagus ya, Win," ucap Damar memecah keheningan saat mereka berhenti di depan foto sebuah stasiun kereta api tua tahun 1970-an. "Melihat kota ini puluhan tahun lalu, rasanya kayak waktu itu berhenti."

Winda menoleh sedikit ke arah Damar, mengangguk pelan. "Iya. Kayak... mereka yang ada di foto ini abadi, meskipun aslinya mereka udah nggak ada atau udah menua."

Damar agak tertegun. Itu adalah kalimat terpanjang dan paling puitis yang pernah diucapkan Winda secara langsung di depannya. Ada binar berbeda di mata Winda saat mengatakannya. Namun, sedetik kemudian, Winda seolah tersadar bahwa dia baru saja berbicara terlalu banyak. Dia langsung menunduk, merapatkan tas kainnya ke dada, dan kembali memasang ekspresi datarnya yang canggung.

Damar tersenyum tipis. "Lu tuh sebenarnya punya banyak pikiran keren di kepala lu, Win. Kenapa lu selalu nahan diri buat nunjukin itu ke gue?" batin Damar dalam hati, gemas sekaligus penasaran.

Setelah puas berkeliling, Damar mengajak Winda melipir ke sebuah kedai kopi legendaris di pojok alun-alun. Kedai itu sederhana, hanya berupa jajaran meja kursi kayu hitam yang sudah agak kusam dengan penerangan seadanya. Suara riuh klakson kendaraan di luar dan obrolan bapak-bapak yang sedang bermain catur di meja sebelah menjadi latar suara yang sangat membumi.

Damar memesan dua gelas es kopi susu gula aren dan sepiring tahu cabai garam yang masih mengepul panas.

Suasana canggung kembali merayap saat makanan dihidangkan. Winda sibuk mengaduk es kopi susunya dengan sedotan plastik, matanya tertuju pada bulir-bulir air yang menetes di dinding gelas. Sementara Damar bersandar pada kursi kayu, memperhatikan cewek di depannya dengan perasaan campur aduk.

Karena tidak tahu harus memancing obrolan dengan topik apa lagi, Damar refleks merogoh saku celananya. Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi Instagram. Di sana, dia melihat akun indah_lestari baru saja mengunggah sebuah Story beberapa menit yang lalu.

Damar mengetuk layar. Story itu menampilkan foto sudut langit senja di alun-alun, sudut langit yang persis sama dengan yang bisa dilihat Damar jika dia menoleh ke luar jendela kedai saat ini. Di bawahnya ada teks kecil: "Senja di sudut yang sama, dengan rasa canggung yang sama pula."

Jantung Damar tiba-tiba berdesir aneh. Sudut yang sama? Alun-alun?

Dengan rasa penasaran yang mendadak membumbung tinggi, Damar mengetikkan pesan di DM Indah, langsung dari bawah meja agar tidak terlihat oleh Winda yang masih sibuk merunduk memandangi gelasnya.

damar_aditya: Kamu lagi di sekitar alun-alun juga ya? Kok foto senjanya mirip banget sama tempat aku nongkrong sekarang?

Damar menaruh ponselnya di atas meja kayu hitam itu, tepat di samping piring tahu cabai garam, menanti balasan dengan perasaan berdebar.

Bzzzzttt.


Tiba-tiba, ponsel Winda yang tergeletak pasif di atas meja, tepat di sebelah tangan kirinya, bergetar pelan. Layarnya yang tadinya gelap mendadak menyala terang, memunculkan sebuah notifikasi pop-up gelembung pesan Instagram.

Karena jarak mereka dekat dan posisi ponsel Winda menghadap ke atas, mata Damar yang tajam secara refleks menangkap apa yang tertulis di layar tersebut.

Di sana, di bawah logo Instagram, tertera baris kalimat:

Pesan dari damar_aditya: Kamu lagi di sekitar alun-alun juga ya? Kok foto senjanya mirip banget...

Waktu seolah berhenti berputar di dalam kedai kopi itu. Suara bapak-bapak yang bermain catur mendadak hilang dari pendengaran Damar. Matanya terpaku pada layar ponsel Winda, lalu perlahan bergerak naik menatap wajah Winda yang detik itu juga mendadak pucat pasi.

Winda yang menyadari kecerobohannya langsung dengan gerakan panik menyambar ponselnya, membaliknya ke bawah, lalu mendekapnya erat-gemetar ke dadanya. Napasnya memburu, mukanya yang tadi putih bersih kini berubah merah padam sampai ke ujung telinga.

Damar masih membeku di kursinya. Otaknya yang biasanya encer mendadak butuh waktu beberapa detik untuk memproses rangkaian kejadian supernatural di dunia nyata ini.

Notifikasi DM yang dia kirim ke Indah... masuk ke HP Winda?
Foto senja alun-alun...
Kalimat-kalimat puitis tentang kecanggungan...
Nama akun indah_lestari... Winda Indah Lestari...

Potongan-potongan teka-teki yang selama sebulan ini membuat Damar pusing berputar-putar di kepalanya, tiba-tiba jatuh berhamburan dan menyatu membentuk sebuah gambar yang utuh dan sangat jelas.

Damar menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang memegang gelas es kopi susu agak bergetar. Dia menatap Winda yang kini memejamkan mata erat-erat di depannya, tampak seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu vonis hakim.

Perlahan, bibir Damar terbuka, menggumamkan kalimat gantung yang selama ini hanya berputar di alam bawah sadarnya:

"Indah atau Winda, atau jangan-jangan..."

Suasana di dalam kedai kopi kuno itu terasa makin magis. Kalimat Damar yang menggantung di udara seolah menghentikan seluruh gerak di sekitar mereka. Es yang mencair di dalam gelas masing-masing menimbulkan bunyi klenting halus yang beradu dengan riuh rendah alun-alun di luar sana.

"Mar... gue..."

Suara Winda bergetar. Dia masih mendekap ponselnya erat-erat di depan dada, seolah benda pipih itu adalah benteng pertahanan terakhirnya yang baru saja runtuh total. Matanya yang biasa teduh kini bergerak gelisah, menatap ke arah meja, ke arah luar jendela, ke mana saja asal tidak beradu pandang dengan mata Damar. Ia merasa telanjang; seluruh isi pikiran, rasa suka yang terpendam, dan rahasia yang ia jaga rapat-rapat kini terpampang nyata di depan cowok yang paling ia takuti sekaligus ia kasihi.

Damar tidak marah. Kejutan awal di kepalanya perlahan meleleh, digantikan oleh sebuah rasa hangat yang luar biasa yang menjalar ke dadanya. Rasa bingung, cemburu, dan dilema yang menyiksanya selama satu bulan terakhir menguap begitu saja.

Ia memajukan posisi duduknya, meletakkan kedua lengannya di atas meja kayu hitam itu, lalu tersenyum sangat lebar, jenis senyuman yang belum pernah Winda lihat sebelumnya.

"Jadi..." Damar membuka obrolan dengan nada suara yang sengaja ia buat selembut mungkin, "Mbak Estetik yang kalau malam sering nemenin gue deep talk di DM, yang fotonya selalu cakep, dan yang kemarin bilang kalau jantungnya nggak aman karena diajak jalan seseorang... itu lu, Win?"

Winda perlahan mendongak. Pipinya masih merona merah, kontras dengan lampu kuning kedai yang temaram. Melihat Damar yang tidak tertawa mengejek ataupun terlihat kecewa, keberanian kecil yang selama ini tersimpan di akun indah_lestari perlahan merayap naik ke tenggorokannya.

"Nama tengah gue Indah, Mar," bisik Winda, akhirnya mengakui. Dia meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan posisi terbalik, jemarinya bertautan erat. "Winda Indah Lestari. Akun itu... awalnya cuma tempat gue nyimpen foto-foto yang menurut gue sayang kalau dibuang. Gue nggak pernah nyangka lu bakal nemu akun itu, apalagi sampai sering bales Story-nya."


"Terus, kenapa lu harus pura-pura nggak kenal gue di DM?" tanya Damar lagi, rasa penasarannya kini murni karena ingin memahami cewek di depannya.

Winda mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan rileks. "Gue... gue takut, Mar. Lu tahu sendiri kan di kampus gue kayak gimana? Gue gak pinter gaul kayak Sinta, gak supel kayak lu atau Fajar. Tiap kali lu deketin gue di dunia nyata, lidah gue mendadak kaku. Gue selalu takut kalau gue banyak omong, gue malah keliatan aneh di depan lu."

Winda berhenti sejenak, menatap lurus ke dalam mata Damar untuk pertama kalinya dengan keyakinan penuh. "Tapi di DM, di balik nama Indah, gue nggak perlu ngeliat mata lu yang bikin gue gugup. Di sana, gue bisa jadi diri gue yang sebenarnya. Sisi diri gue yang pengen banget ngobrol banyak hal sama lu, tanpa harus takut keliatan bodoh."

Damar mendengarkan setiap patah kata Winda dengan saksama. Baginya, penjelasan Winda malam ini jauh lebih indah dan puitis daripada seluruh takarir yang pernah ditulis akun indah_lestari di Instagram.

"Win, dengerin gue," Damar meraih sendok kecilnya, mengetuknya pelan ke pinggiran gelas untuk menarik perhatian Winda sepenuhnya. "Gue suka sama Indah di Instagram karena pemikiran dia yang keren dan frekuensinya klop banget sama gue. Tapi gue juga suka sama Winda di dunia nyata karena kesederhanaan lu, ketenangan lu, dan cara lu menatap hal-hal di sekitar lu."

Damar jeda sebentar, senyumnya makin dalam. "Sekarang, pas gue tau kalau Indah dan Winda itu adalah orang yang sama... lu tau nggak apa yang gue rasain?"

Winda menggeleng pelan, menanti dengan jantung yang kembali berdegup kencang.

"Gue ngerasa kayak orang paling beruntung," kata Damar tulus. "Gue nggak perlu milih di antara dua dunia lagi. Karena ternyata, cewek yang bikin gua jatuh cinta di dunia maya dan dunia nyata itu lagi duduk di depan gue sekarang, lagi megang gelas es kopi susu sambil mukanya merah kayak tomat."

"Damar!" Winda refleks memukul pelan lengan Damar, membuat Damar tertawa lepas. Rasa canggung yang selama ini menjadi dinding tebal di antara mereka runtuh seketika, digantikan oleh tawa bersama yang renyah dan alami.

Malam itu, di pojok kedai kopi alun-alun, di bawah riuhnya suara kota, Damar dan Winda tidak lagi berbicara lewat ketikan teks di layar ponsel. Winda tidak lagi irit bicara, dan Damar tidak perlu lagi memutar otak mencari topik. Mereka mengobrol tentang banyak hal, tentang buku bekas yang dibeli Winda di Kwitang, tentang Fajar yang sering bertingkah konyol, tentang Reihan yang ternyata salah paham, dan tentang bagaimana mereka akan menghadapi Sinta yang pasti akan menagih pajak jadian besok Senin.

Sebelum mereka beranjak pulang, Damar mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Dia membuka Instagram, lalu mengetikkan sesuatu di kolom DM akun indah_lestari, tepat di hadapan Winda yang sedang memperhatikannya dengan senyum simpul.

Bzzzttt.

Ponsel Winda bergetar untuk terakhir kalinya malam itu. Dia membuka layarnya dan membaca pesan terbaru dari Damar:

damar_aditya: Makasih buat hari ini, Winda Indah Lestari. Mulai besok dan seterusnya, kita deep talk-nya langsung aja ya, nggak usah lewat DM lagi.

Winda mendongak, menatap Damar yang sudah memasang helmnya sambil mengedipkan sebelah mata. Winda tersenyum, mengunci ponselnya, dan menyimpannya jauh-jauh ke dalam tas kainnya. Dia tidak membutuhkan akun kedua lagi untuk berbicara dengan Damar, karena di dunia nyata, labuhan hatinya sudah benar-benar ada di depan mata.




Tamat

Part sebelumnya: Indah Atau Winda, Atau..?

Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Andi: Sang Mekanik Hati

Jari Yang Terkunci

Setelah Hujan Reda

Kehangatan Yang Terlarang

Apakah Memang Dia? (#3)