Sebelum Es Batu Mencair
Sebelum Es Batu Mencair

Kaca tebal yang membatasi area rooftop lounge itu tidak mampu sepenuhnya menghalau hawa panas yang mengepung Jakarta dini hari ini. Angin malam yang berembus di luar sana sama sekali tidak membawa kesegaran; ia terasa kering dan membawa aroma aspal yang terbakar sisa siang hari. Di dalam ruangan, mesin pendingin udara berdesis konstan, berjuang keras melawan suhu tubuh orang-orang urban yang dipompa oleh alkohol dan musik berdentum rendah.
Di sudut paling privat, empat orang berada dalam satu gravitasi yang sama, sementara satu sosok mengawasi dari balik meja bar.
"Jadi, cuma segini kemampuan perusahaan lu sekarang, Jar?"
Suara Baskara memecah denting es batu di dalam gelas kristal. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, sebelah tangannya merangkul bahu Mega dengan gestur posesif yang kentara.
Fajar, yang duduk di seberang meja, menghentikan gerakannya yang hendak meneguk whiskey. Wajahnya yang letih setelah seharian bertemu klien tampak makin kaku di bawah pendar lampu berwarna amber.
"Kita masih dalam tahap restrukturisasi, Bas. Setelah bokap tiada, banyak utang vendor yang harus diselesaikan. Tapi proyek yang gue tawarin ke lu ini prospeknya bersih," kata Fajar, berusaha menjaga suaranya tetap datar, meski jemarinya mengepal erat di bawah meja.
Baskara terkekeh, suara tawanya terdengar renyah namun sarat ejekan. "Bersih? Prospek? Jar, lu itu terlalu mirip sama bokap lu. Sama-sama hobi jualan mimpi. Bedanya, bokap lu berakhir di Lapas Cipinang karena korupsi, nah lu... lu hampir berakhir jadi gelandangan di tanah kelahiran sendiri, kalau gue gak kasihan malam ini."
Keheningan instan menyergap meja mereka. Kalimat itu terlalu vulgar, bahkan untuk standar pertemanan mereka yang toksik.
Mega, yang sejak tadi sibuk mematut diri lewat kamera depan ponselnya, hanya mendesah pelan. Ia memutar bola matanya, lalu menyesap cocktail stroberi miliknya tanpa niat mencampuri. Baginya, keangkuhan Baskara adalah harga yang harus ia bayar demi tas mewah yang melingkar di lengannya. Sementara di sudut sofa yang lain, Kartika menatap Baskara dengan mata yang berkilat dingin. Tangannya yang memegang ponsel bergetar samar.
"Bas, gak usah bawa-bawa almarhum bokap Fajar," cetus Kartika, suaranya tajam merobek kecanggungan. "Kita ke sini buat ngebahas prospek kerja sama, bukan buat dengerin lu khotbah soal kasta."
Baskara mengalihkan pandangannya lambat-lambat ke arah Kartika. Tatapannya turun naik, menilai penampilan wanita di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu mendengus meremehkan.
"Oh, Kartika. Sang pembela kaum tertindas," cemooh Baskara, tubuhnya condong ke depan. "Gue heran, Ka. Lu udah kepala tiga, kerja keras bagai kuda di agensi periklanan sampai muka lu kelihatan lebih tua lima tahun dari umur asli lu, tapi selera berpakaian lu masih kayak anak magang. Gaun hitam yang lu pakai itu... lu beli di pasar loak Manggarai? Pantesan sampai sekarang gak ada cowok Jakarta yang mau ngelirik lu. Lu terlalu sibuk ngurusin hidup orang sampai lupa ngurusin masa depan sendiri."
Baca juga: Ratih, Secantik Dewi Ratih
Kartika terasa tertampar. Wajahnya memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang mendidih di dalam dadanya. Ia ingin sekali menyiramkan sisa minuman di gelasnya ke wajah Baskara yang brengsek itu, namun ia tahu konsekuensinya. Di Jakarta, melawan orang sekuat Baskara sama saja dengan bunuh diri.
Di balik meja bar yang hanya berjarak dua meter dari sofa mereka, Chandra, seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja hitam polos sedang mengelap gelas.
Sebagai bartender sekaligus pemilik sebagian saham lounge privat ini, Chandra telah melihat segala jenis manusia urban Jakarta. Namun malam ini, matanya yang teduh dan dalam beberapa kali menangkap kilat amarah yang tertahan dari wajah Fajar dan Kartika. Chandra meletakkan gelas yang sudah bersih, lalu berjalan mendekati meja mereka dengan sebuah botol premium baru di tangannya.
"Minuman tambahan untuk merayakan malam Anda, Pak Baskara," ucap Chandra. Suaranya bariton, sangat tenang, seolah-olah ketegangan di meja itu tidak pernah ada.
Baskara mendongak, melihat Chandra yang berdiri dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi. Senyum sinis Baskara kembali terkembang. Ia merogoh dompet kulit di saku celananya, menarik tiga lembar uang seratus ribuan yang masih kaku, lalu dengan sengaja menyelipkannya ke dalam kantong kemeja di dada Chandra, tepat di atas jantung pria itu.
Ia menepuk-nepuk dada Chandra dengan kasar. "Nih, buat modal nikah atau modal ganti sepatu lu yang udah buluk itu, Dra. Biar kerjaan lu di sini gak cuma nuang air sama numpahin es batu seumur hidup. Kasihan gue liat lu, tiap hari cuma jadi penonton orang kaya bersenang-senang."
Chandra tidak berkedip. Ia tidak mundur, tidak juga menunjukkan reaksi emosional seperti tersinggung. Ia hanya menatap lurus ke dalam manik mata Baskara, lalu menundukkan kepalanya sedikit.
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Pak," ujar Chandra, sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin malam yang kering.
Baskara tertawa puas, merasa telah menaklukkan semua orang di ruangan itu. Ia berdiri, menggandeng tangan Mega yang tampak mulai mengantuk. "Yuk, Meg. Udah jam dua lewat. Udara di sini makin lama makin pengap gara-gara auranya orang-orang kalah."
Tanpa pamit pada Fajar dan Kartika, Baskara melangkah pergi, meninggalkan keheningan yang mencekat. Namun di bawah meja, kepalan tangan Fajar kini telah membuat kukunya memutih, dan tatapan Kartika melekat pada punggung Baskara bak sebilah belati. Di balik meja bar, Chandra kembali mengelap gelasnya, matanya menatap pantulan lampu yang bergetar di permukaan kaca.
**********
Pertemuan itu telah rusak sepenuhnya. Tidak ada alasan bagi Fajar dan Kartika untuk bertahan lebih lama di lounge yang mendadak terasa mencekik itu. Dengan langkah berat, mereka menyusul ke arah koridor lift, tepat ketika bel lift berdenting dan pintunya terbuka.
Baskara melangkah masuk lebih dulu dengan gaya dominan yang biasa ia tunjukkan, disusul oleh Mega yang sibuk membetulkan tali gaunnya yang sedikit melonggar. Fajar dan Kartika masuk paling akhir, mengambil posisi di sudut belakang lift, menjaga jarak sejauh mungkin dari Baskara.
Baca juga: Antara Cinta Dan Sahabat
Sebelum pintu lift tertutup, mereka sempat melihat Chandra berjalan ke arah lift barang di ujung lorong sambil membawa plastik hitam besar.
Pintu lift tertutup. Angka digital di atas pintu mulai menghitung mundur: 10... 9... 8...
Udara di dalam kotak logam itu terasa sangat kering. AC lift yang berembus pelan sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana yang telanjur membeku sejak di lounge tadi.
"Kamu besok jadi jemput aku jam sepuluh kan, Bas?" tanya Mega, memecah kesunyian demi mengusir rasa canggung yang mencekik. "Aku ada janji sama desainer di Grand Indonesia."
Baskara tidak langsung menjawab. Ia sibuk menatap pantulan dirinya di dinding lift yang berlapis cermin, merapikan tatanan rambutnya. "Liat besok, Meg. Jam segitu gue ada meeting sama investor dari Singapura. Kalau urusan baju doang, lu bisa pakai sopir gue atau naik taksi online lah. Gak usah manja."
Mega mendengus, melipat kedua tangannya di dada dengan ketus. "Taksi online? Kamu yang bener aja, Bas. Panas-panas begini suruh aku naik mobil sewaan? Bisa rusak makeup aku sebelum sampai mal."
"Ya salah sendiri kenapa kulit lu sensitif banget kayak barang tiruan," sahut Baskara santai, matanya melirik sinis ke arah pantulan Kartika di cermin lift. "Tapi mendingan lu sih, daripada ada orang yang tiap hari naik transportasi umum, desak-desakan, bau matahari, tapi gayanya sok mau jadi pahlawan kesiangan."
Kartika yang merasa disindir langsung mendongak. Matanya menyalang menatap punggung Baskara. "Baskara, kalau mulut lu gak bisa berhenti ngegonggong malam ini, mending lu diam. Gak usah ngerasa paling mulia cuma karena lu punya roda empat yang cicilannya belum tentu lunas."
Baskara berbalik badan, menghadapi Kartika sepenuhnya dengan senyum meremehkan yang kembali terkembang. "Cicilan? Ka, aset gue itu bisa buat beli agensi tempat lu kerja rodi sekarang. Lu itu cuma sirik karena di umur segini lu masih harus mikirin tarif MRT, sementara gue tinggal tunjuk mau beli mobil apa bulan depan. Sadar diri, Ka. Lu itu gak punya apa-apa buat dibanggain."
"Cukup, Bas!" Fajar akhirnya membentak. Suaranya berat dan bergetar, menggema di ruang lift yang sempit. "Lu udah keterlaluan dari atas tadi. Kalau lu gak niat bantu proyek gue, bilang dari awal. Gak usah pakai cara ngerendahin keluarga gue dan ngehina Kartika."
Baskara justru tertawa terbahak-bahak, seolah bentakan Fajar adalah lelucon paling menggelitik yang pernah ia dengar.
"Oh, si anak koruptor mau jadi pahlawan?" Baskara melangkah satu kaki lebih dekat ke arah Fajar, mengintimidasi dengan tinggi badannya. "Jar, denger ya. Gue gak menolak proyek lu. Gue cuma lagi ngasih tau realita. Tanpa duit gue, perusahaan lu itu cuma rongsokan yang nunggu waktu buat disita bank. Harusnya lu itu berlutut, berterima kasih karena gue masih mau dengerin presentasi sampah lu malam ini. Bukan malah nyolot."
"Gue bisa cari investor lain, Bas. Jakarta gak cuma isinya lu doang," desis Fajar, napasnya mulai memburu, menahan amarah yang nyaris menembus ubun-ubun.
Baca juga: Dia Yang Sudah Lama Tertidur
"Silakan cari," tantang Baskara, menepuk pipi Fajar dua kali dengan kasar menggunakan punggung jarinya. "Cari sana sampai lu gila. Kita liat, siapa di kota ini yang mau temenan sama anak dari orang yang udah ngerugiin negara miliaran rupiah. Nama keluarga lu itu udah najis di dunia bisnis, Fajar."
Fajar mengepalkan tinjunya begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Detik itu juga, ia benar-benar ingin menghantam wajah Baskara. Kartika yang melihat gelagat itu langsung memegang lengan Fajar, menggelengkan kepala sebagai isyarat untuk menahan diri.
"Jangan, Jar. Orang kayak dia gak layak bikin tangan lu kotor," bisik Kartika, suaranya bergetar karena menahan emosi yang teramat sangat.
Mega hanya memalingkan wajah, mengembuskan napas bosan. "Aduh, kalian bisa diam gak sih? Berisik banget. Udah malem, hawanya panas, ditambah dengerin kalian berantem makin bikin pusing."
Ting.
Pintu lift akhirnya terbuka di lantai basement B2.
Hawa pengap, panas, dan bau asap knalpot langsung menyergap indra penciuman mereka. Udara di bawah tanah ini terasa seperti uap yang mengendap, sangat tidak nyaman.
"Gue duluan, para pecundang," ujar Baskara tanpa menoleh lagi. Ia melangkah keluar lift dengan langkah lebar, memutar-mutar kunci mobilnya di jari telunjuk.
Mega mengikuti di belakangnya dengan langkah tergesa karena hak sepatunya yang tinggi mengetuk lantai beton dengan ritme cepat. Sementara Fajar dan Kartika tetap berdiri di dalam lift selama beberapa detik, membiarkan Baskara menjauh, seolah membutuhkan waktu untuk menghirup oksigen yang tersisa di dalam sana sebelum menghadapi kenyataan di basement yang sunyi itu.
Di sudut koridor lift yang gelap, siluet seseorang tampak berdiri diam, mengawasi kepergian mereka dengan mata yang tak berkedip.
**********
Lantai basement dua malam itu sunyi sedingin kuburan, namun hawanya terasa panas membakar seperti tungku pemanggang. Tidak ada angin yang bergerak. Suara dengung rendah dari mesin generator raksasa di ujung dinding beton menciptakan getaran yang membuat dada terasa sesak.
Baskara berjalan dengan langkah angkuh yang menggema di langit-langit rendah. Langkah kakinya berirama dengan ketukan high heels milik Mega yang mulai melambat.
"Bas, tungguin kenapa sih! Jalan kamu cepat banget," keluh Mega, mengusap lehernya yang mulai berkeringat. "Sumpah, AC basement ini mati ya? Pengap banget, aku bisa mati dehidrasi kalau lama-lama di sini."
Baskara menghentikan langkahnya tepat di bawah lampu neon yang memancarkan cahaya putih perak. Ia berbalik, menatap Mega dengan pandangan bosan. "Makanya punya badan jangan manja banget, Meg. Cuma jalan beberapa meter ke parkiran aja ngeluh. Tuh, liat temen lu si Kartika, tiap hari jalan kaki ke halte busway gak mati tuh."
"Kenapa jadi bawa-bawa Kartika sih? Aku kan pacar kamu, Bas!" Mega menatap Baskara dengan kesal, wajahnya yang cantik tampak kusut di bawah cahaya lampu.
Baca juga: Pertengkaran Di Sore Hari
"Pacar?" Baskara terkekeh, suara tawanya terdengar hambar di sela dengung mesin. "Meg, gue bisa dapet sepuluh cewek kayak lu dalam waktu semalam di Jakarta. Jadi gak usah banyak menuntut. Sekarang lu tunggu di sini, gue ambil mobil dulu di pojok sana. Mobil mahal gak cocok diparkir di tempat yang plafonnya bocor begini."
Mega menghentakkan kakinya kesal, namun memilih diam dan bersandar pada pilar beton bernomor B-12. Ia mengeluarkan ponselnya, mengabaikan Baskara yang berjalan menjauh menuju sudut basement, tempat mobil sport hitamnya terparkir.
Sementara itu, beberapa meter di belakang mereka, Fajar dan Kartika berjalan beriringan dengan langkah lunglai. Mereka sengaja memperlambat tempo agar tidak perlu berpapasan lagi dengan Baskara.
"Gue bener-bener udah gak tahan sama dia, Ka," bisik Fajar, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang sedari tadi ia tahan. "Kalau bukan demi nasib karyawan di kantor, gue udah hantam mukanya di atas tadi."
Kartika menghela napas panjang, mengusap peluh di dahinya. "Gue tau, Jar. Tapi lu harus ingat, orang kayak Baskara itu kayak karma berjalan. Mulutnya itu kuburan buat dirinya sendiri. Suatu saat, dia bakal kena batunya."
Klik.
Di kejauhan, suara lampu mobil Baskara menyala, memotong obrolan Fajar dan Kartika. Cahaya lampu LED putih dari mobil itu membelah kegelapan basement sebentar, sebelum kembali senyap.
Baskara berjalan mendekati pintu kemudi mobilnya. Tangannya baru saja hendak menyentuh gagang pintu ketika sebuah gesekan halus, suara sol sepatu yang bergeser di atas beton berdebu terdengar dari balik pilar di samping mobilnya.
"Siapa?" tanya Baskara tajam. Alisnya bertaut. "Mega? Ngapain lu ke sini? Kan gue suruh tunggu di..."
Kalimat Baskara terputus.
Sebuah siluet tubuh melangkah keluar dari kegelapan. Orang itu bergerak begitu cepat. Sebelum Baskara sempat memproses apa yang terjadi, sebuah cengkeraman kuat mengunci kerah kemejanya, mendorong tubuhnya dengan hantaman keras ke badan mobil.
Brak!
"Bangsat! Lu apa-apaan..."
Jleb.
Rasa dingin yang ekstrem, diikuti oleh rasa panas yang membakar, tiba-tiba menusuk dalam ke bagian perut kanan Baskara. Sebuah benda tajam telah menembus kulit dan dagingnya dengan presisi.
Baskara terkesiap. Napasnya mendadak hilang. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah wajah sang penyerang yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari mukanya. Di bawah siraman cahaya lampu neon, wajah itu terlihat sangat jelas. Sangat familier.
"Lu..." bisik Baskara, suaranya bergetar hebat, dipenuhi rasa tidak percaya yang luar biasa. "Kenapa... lu..."
Sang penyerang tidak bersuara. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tanpa amarah, hanya kekosongan yang mematikan. Ia menarik senjatanya dengan satu sentakan cepat, membuat darah segar langsung merembes, membasahi kemeja putih yang dikenakan Baskara.
Baca juga: Di Saat Turun Hujan
Tubuh Baskara melemas. Lututnya tak lagi mampu menopang berat badannya. Ia merosot turun, ambruk di lantai basement yang berdebu. Tangannya yang gemetar mencoba menekan luka di perutnya, namun cairan kental berwarna merah terus mengalir di sela-sela jarinya.
Sang penyerang menatap Baskara sebentar, lalu berbalik tenang. Ia melangkah ke balik pilar gelap, mengambil kantong plastik hitam besar. Tanpa terburu-buru, ia memasukkan sesuatu ke dalamnya, lalu berjalan pergi menuju lift barang.
Baskara terkapar sendirian di lantai beton yang panas. Pandangannya mulai mengabur, menyisakan suara dengung generator yang terdengar makin menjauh, digantikan oleh suara langkah kaki lain yang berlari mendekat.
"Bas? Baskara! Kamu ngapain sih lama banget?!"
Suara Mega melengking, menggema di sepanjang koridor basement yang sepi. Rasa gerah yang membakar kulitnya membuat kesabarannya habis. Karena tidak mendapat jawaban, ia akhirnya melangkah tergesa-gesa menghampiri sudut parkiran, diikuti oleh Fajar dan Kartika yang berjalan beberapa meter di belakangnya.
Namun, begitu Mega melewati pilar beton terakhir, langkahnya mendadak terkunci. Ponsel di tangannya lolos begitu saja, jatuh menghantam lantai beton dengan bunyi keras.
"Bas... Baskara...?"
Suara Mega tercekat di tenggorokan. Di depannya, di samping pintu mobil sport yang terbuka, Baskara terkapar. Kemeja putihnya telah berubah warna menjadi merah pekat yang basah. Tubuh pria angkuh itu bergetar hebat, dan dari sela bibirnya keluar suara erangan yang patah-patah.
"Astaga, Baskara!" Kartika berteriak, langsung berlari menembus rasa syoknya. Ia berlutut di samping Baskara, sementara Fajar langsung merogoh kantong celananya dengan panik.
"Gue telepon ambulans sekarang! Tahan, Bas, tahan!" panggil Fajar, jarinya gemetar hebat saat menekan nomor darurat pada layar ponselnya.
"Sial, di sini gak ada sinyal!" umpat Fajar frustrasi. Ia langsung berlari panik meninggalkan area parkir menuju arah ramp tanjakan keluar basement demi mencari jaringan telepon.
Mega hanya bisa berdiri membeku, menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya perlahan merusak riasan wajahnya yang mahal. "Siapa... siapa yang tega ngelakuin ini?" tangisnya histeris.
Di tengah kepanikan, suara jeritan Mega, dan makian Fajar yang frustrasi karena panggilan daruratnya tak kunjung tersambung, terdengar sebuah langkah kaki yang ritmis. Sangat tenang. Sangat konstan.
Dari balik kegelapan koridor dekat lift, sesosok pria berjalan mendekat. Ia membawa sebuah kantong plastik hitam besar berisi sisa es batu dari bar yang hendak dibuang ke tempat pembuangan luar.
Chandra.
Langkah kaki Chandra berhenti tepat dua meter dari tempat Baskara sekarat. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan kepanikan. Tidak ada keterkejutan, tidak ada ketakutan. Matanya yang sedalam sumur menatap tubuh Baskara di lantai beton berdebu.
Baca juga: Nurul, Si Gadis Kecil
"Chandra! Tolongin, Dra! Panggil sekuriti di depan atau siapa aja! Baskara ditusuk orang!" seru Kartika dengan wajah pucat, tangannya menekan luka di perut Baskara yang terus mengeluarkan darah hangat.
Chandra tidak bergerak. Ia tidak berbalik untuk mencari bantuan. Ia justru meletakkan kantong es batunya ke lantai, lalu berjalan perlahan, melangkahi genangan darah yang mulai melebar.
Mega menjerit histeris, kakinya lemas hingga terduduk di lantai beton. Tubuhnya gemetar hebat seolah hendak pingsan. Kartika terpaksa melepaskan tekanannya pada luka Baskara, berbalik cepat untuk menahan tubuh Mega agar kepalanya tidak menghantam lantai.
"Bu Kartika, tenang. Biar saya periksa denyut nadinya," ucap Chandra. Suaranya bariton dan sangat tenang, mengalihkan perhatian Kartika yang telanjur syok. Kartika hanya bisa mengangguk pasrah sambil mendekap Mega yang menangis.
Baskara yang sisa kesadarannya tinggal seutas benang, mendongak lambat-lambat. Manik matanya yang mulai meredup menatap wajah Chandra. Baskara mencoba menggerakkan jarinya, ingin menunjuk, ingin meneriakkan sesuatu, namun tenggorokannya hanya mengeluarkan darah yang menyumbat kata-katanya.
Chandra memeriksa urat leher Baskara, lalu menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga pria yang sedang menjemput ajal itu. Di bawah pendar lampu neon, ekspresi Chandra tampak sedingin es batu yang mulai mencair di dalam plastiknya di atas lantai beton.
Dengan suara baritonnya yang sangat tenang, Chandra berbisik, "Teruslah menghina seseorang, sebab kamu tak akan tahu hinaanmu yang mana yang akan membuatmu mati terbunuh."
Mendengar kalimat itu, mata Baskara membelalak sempurna untuk terakhir kalinya. Rasa takut yang murni terpancar dari tatapannya. Detik berikutnya, tubuh Baskara menegang, sebelum akhirnya melemas sepenuhnya. Napasnya berhenti.
"Denyut nadinya sudah hilang. Saya akan panggil sekuriti di depan," ujar Chandra datar kepada Kartika yang masih sibuk menenangkan Mega yang histeris.
Chandra berdiri kembali, merapikan kemeja hitamnya yang tak ternoda sedikit pun. Melangkah, memungut kembali kantong es batunya yang kini meneteskan air di atas lantai. Ia berjalan pergi meninggalkan ketiga orang itu, tepat ketika Fajar berlari kembali dari arah ramp dengan wajah frustrasi karena masih tidak mendapatkan sinyal.
Di atas lantai beton yang panas, air dari kantong es batu Chandra yang bocor bercampur dengan darah Baskara, perlahan-lahan menghanyutkan bercak sidik jari yang mungkin tertinggal di sana.
Tamat
Baca juga: O.D.O.P
Komentar
Posting Komentar