Ilusi Musuh Dalam Cermin
Ilusi Musuh Dalam Cermin

Langit Jakarta belum sepenuhnya terang ketika aku mengeluarkan motor matik dari teras kontrakan. Pukul lima pagi adalah waktu di mana dunia terasa begitu sunyi, hingga deru motorku sendiri terdengar seperti gema yang memantul dari dalam kepala. Kepalaku terasa ringan, melayang, seolah kesadaranku tertinggal di suatu tempat dan hanya menyisakan tubuhku yang bergerak otomatis di atas aspal
Aku, seorang kurir pengiriman dengan jaket parasut hijau yang sudah pudar warna aslinya, memeriksa ban motor. Tanganku yang kasar meraba karet ban luar yang sudah mulai botak. Di kepalaku, tanpa diundang, sebuah suara kecil berbisik: "Kalau ban ini meletus di tengah jalan atau saat bawa barang berat, dari mana uang buat ganti? Uang di dompetmu hanya cukup untuk makan hari ini."
Aku menggelengkan kepala pelan, mencoba menepis pikiran itu, menyalakan mesin motor yang batuk-batuk dua kali sebelum akhirnya menderu konstan. Aku adalah tipe pria yang sedikit bicara. Di jalanan, aku hanya fokus pada setang dan alamat di layar ponsel yang ada di dasbor motor.
Tahun-tahun awal di Jakarta, aku punya mimpi besar. Aku pikir kerja keras selusin jam sehari akan mengubah nasib. Tapi kenyataannya, kota ini seperti mesin penggiling daging yang sabar; ia meremukkan mimpiku perlahan-lahan, menyisakan kelelahan yang mengendap di tulang belakangku. Di jalanan, aku hanya bisa membisu, fokus pada setang dan layar ponsel di dasbor yang terus-menerus menyala memuat alamat.
Dua jam berputar di jalanan dengan kepala pusing, aku mampir ke bengkel kecil milik Arief di sudut jalan kawasan ruko niaga. Tempat itu selalu berbau pekat campuran oli bekas dan bensin. Arief menyambutku dengan kunci pas di tangan,
"Wah, kurir andalan datang bawa beban hidup nih!" seru Arief, terkekeh renyah sambil melempar lap kumal ke meja kerja. "Muka lu kusut amat, Den. Jangan bilang paket yang lu bawa isinya beban pikiran rakyat miskin lagi?"
Aku tersenyum tipis, menurunkan standar samping motor. "Bukan paket, Rief. Ban belakang kayaknya udah tipis banget. Takut ngadat pas di jalan."
Arief tertawa lagi, tawa khas yang sering ia gunakan untuk menutupi rasa cemasnya sendiri. Namun bagiku tawa itu seperti ejekan.
"Sialan. Kau bisa tertawa lepas seperti itu karena bengkel ini milik pamanmu, sementara aku mempertaruhkan nyawa di aspal panas demi sesuap nasi," batinku sinis.
Aku buru-buru pergi dari sana, merasa tidak tahan berlama-lama di dekat orang yang mengejek kemalanganku lewat candaan.
Tak jauh dari bengkel Arief, di seberang jalan raya yang mulai padat, aku melirik sekilas ke arah konveksi rumahan. Dari balik kaca jendela yang berdebu tebal, aku melihat siluet Dara. Ia membungkuk kaku di depan mesin jahit high-speed, jemarinya bergerak lincah menuntun kain katun murah. Aku tahu dari desas-desus tetangga ruko bahwa Dara adalah sarjana sastra. Tapi lihatlah ia sekarang terperangkap di ruangan pengap, menjadi buruh jahit harian. Melihatnya justru semakin membuat dadaku sesak. Kalau seorang sarjana saja bisa diinjak-injak nasib hingga tak bersuara, apa kabar dengan diriku yang hanya lulusan SMA? Kami semua terjebak di sangkar yang sama, tapi saling pura-pura bahagia.
Menjelang siang, matahari Jakarta menyengat tanpa ampun, membakar aspal dan membuat kepalaku berdenyut-denyut nyeri. Perutku menuntut haknya. Aku membelokkan motor ke Warung Nasi Bu Neneng.
Baca juga: Luka Yang Tak Layak Dicintai
Warung itu sederhana, beratap seng dan beralas terpal biru dengan beberapa bangku plastik. Namun aroma opor ayam dan sambal terasi selalu berhasil menarik para pekerja. Bu Neneng melayani pembeli dengan senyum hangat dan sapaan keibuan. Tapi di mataku yang sudah diracuni kelelahan, senyuman itu mendadak tampak palsu seperti topeng kemunafikan dari orang-orang tua yang senang menghakimi generasi muda yang dianggap lembek.
"Lembur terus, Den? Kelihatan capek banget tuh mukanya," sapa Bu Neneng lembut saat menyodorkan piring berisi nasi dan sepotong tempe.
"Namanya juga cari rezeki, Bu," jawabku ketus, hampir tanpa menatap matanya.
Namun, di dalam kepalaku, aku merasa lelah itu bukan lagi sekadar lelah fisik. Itu adalah beban tak kasat mata yang mulai mendistorsi cara pandangku terhadap dunia. Ketika aku selesai makan dan mencuci tangan di ember sudut warung, aku sempat melirik sekilas ke arah cermin kecil yang digantung di dinding warung tersebut.
Untuk sedetik, pantulan di cermin kecil itu tidak meniru gerakanku. Bayangan itu membalas tatapanku dengan seringai sinis, seolah menertawakan betapa sia-sianya hidup yang kujalani selama ini.
Aku mengerjap cepat. Cermin itu kembali memantulkan wajahku yang letih dengan normal.
Aku menggelengkan kepala, meyakinkan diri bahwa mataku hanya salah lihat karena terlalu lelah dan kurang tidur. Tapi dingin mulai menjalar dari tengkukku.
***
Hari beranjak sore, meninggalkan sisa-sisa panas aspal yang menguap di udara. Beban kerjaku tidak kunjung surut. Ponsel di dasbor motor berdenging tanpa henti, memunculkan notifikasi alamat jemput dan antar paket baru. Di bawah helm, aku merasa sekujur tubuhku seperti ditarik ke dua arah yang berbeda: otot-ototnya kaku karena kelelahan fisik, sementara otakku berputar kencang memikirkan apakah aku bisa menyelesaikan semuanya sebelum malam tiba.
Saat aku berhenti di lampu merah perempatan jalan yang padat, tanpa sengaja aku melirik kaca spion motor matikku.
Biasanya, spion itu hanya memantulkan deretan kendaraan di belakang. Namun sore itu, ada yang terasa janggal. Pantulan wajahku sendiri di spion tampak begitu tajam, mata sayu menatap balik dengan tatapan yang penuh tuduhan dan kebencian yang mendalam.
"Kamu cuma berputar-putar di tempat," suara di dalam kepalaku berbisik begitu jernih, seolah diucapkan langsung tepat di telingaku. "Bensin habis, tenaga terkuras, tapi hidupmu tidak pernah maju karena kamu bodoh. Semua orang di jalan ini tahu kamu adalah pecundang yang gagal membanggakan keluargamu."
Aku tersentak hebat. Aku menggelengkan kepalaku keras-keras hingga helmku bergeser. "Diam," gerutuku tertahan di balik helm. Saat aku kembali melirik spion, bayangan itu kembali menjadi wajah lelahku yang biasa. Namun jantungku kadung berdegup kencang, memompa kecemasan ke seluruh tubuhku. Napasku memburu, tanganku gemetar mencengkeram setang motor.
Menjelang malam, Aku membelokkan motor kembali ke warung nasi Bu Neneng yang tadinya hendak tutup.
Ketika aku datang dan duduk di bangku panjang dengan wajah pucat pasi dan tatapan kosong, Bu Neneng tersenyum dan bertanya, "Deni, kamu pucat banget. Mau dibikinin teh hangat?"
Baca juga: Senyum Laras Di Persimpangan
Aku menatap Bu Neneng, namun tatapanku kosong. Di mataku, senyuman Bu Neneng mendadak terlihat seperti seringai palsu orang yang sedang menghakimiku.
Langit malam mendadak runtuh tanpa peringatan. Awan hitam yang sejak sore menggantung di atas kawasan ruko niaga melepaskan amukannya dalam bentuk hujan deras. Air menjejali jalanan aspal, menciptakan genangan keruh yang memantulkan lampu LED warung dengan bias yang patah.
Warung nasi Bu Neneng yang tadinya hendak tutup mendadak menjadi tempat pelarian darurat. Empat orang manusia yang kelelahan, Deni, Arief, Dara, dan Bu Neneng kini terjebak di dalam terpal biru warung yang sempit. Suara deru hujan yang menghantam atap seng bergemuruh begitu keras, seolah menenggelamkan suara-suara lain di dunia.
Suasana di dalam warung terasa menyesakkan. Tidak ada yang berbicara. Arief duduk sambil memeluk lututnya, wajahnya yang biasanya dipenuhi candaan kini mengeras, menatap kosong ke arah genangan air di luar. Dara duduk meringkuk di sudut bangku, memeluk tas kerjanya erat-erat seolah itu adalah pelampung di tengah lautan badai. Bu Neneng berdiri di dekat kompor, sibuk menyeduh teh hangat dengan tangan yang gemetar halus.
Dan di tengah-tengah mereka, aku berdiri kaku menghadap ke arah dinding warung yang dipasangi cermin kecil, cermin yang sama yang aku lihat siang tadi.
Bagiku, suara hujan berubah menjadi dengungan ribuan lebah di dalam kepalaku. Di permukaan cermin yang berembun itu, bayanganku tidak lagi diam. Pantulan wajahku bergerak sendiri, menyeringai lebar, menunjuk-nunjuk ke arah Arief, Dara, dan Bu Neneng dengan tatapan penuh kebencian.
"Mereka semua menertawakanmu, Deni!" suara batin itu berteriak nyaring di kepalaku, begitu bising hingga aku merasa tengkorakku mau pecah. "Lihat si Arief, dia tahu kamu gagal membanggakan keluarga. Lihat si Dara, dia tahu kamu cuma kurir yang gak punya masa depan!"
"Diam!" bentakku pada bayanganku, tanganku mencengkeram tepi meja kayu.
"Deni? Kamu ngomong sama siapa?" Bu Neneng menoleh sambil menyodorkan segelas teh hangat, matanya menyiratkan kecemasan yang tulus.
Namun uluran tangan itu terlihat seperti ancaman maut. Aku sudah tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana halusinasi. Di mataku, mereka semua melebur menjadi satu musuh besar yang yang sedang menghakimiku.
"Kalian semua..." suaraku melengking tinggi, memotong suara gemuruh hujan. "Kalian semua terus mengawasiku! Kalian pikir aku tidak tahu kalau kalian diam-diam menertawakan hidupku yang hancur?!"
Arief terperanjat, berdiri dari duduknya dengan emosi memuncak. "Deni, lu ngomong apa sih? Waras, lu! Kita semua sama-sama hancur, bukan cuma lu!"
"Bohong!" bentakku. Napasku memburu, dada naik turun dengan liar. Aku merasa terkurung dalam sangkar besi. Tanpa sadar, aku melangkah cepat menghadap cermin kecil di dinding, mengira bayangan di sana adalah pangkal dari segala teror yang menyiksa jiwaku selama berhari-hari. "Jangan ngeliatin aku kayak gitu!"
Baca juga: Bayang-Bayang Di Bawah Bulan
Di dalam cermin, bayanganku menyeringai semakin lebar, menertawakanku dengan suara yang memekakkan kepala. Dengan kepalan tangan yang gemetar hebat, aku mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk menghantam cermin itu...
Brak!
Suara hantaman keras mendadak merobek kesadaran. Bukan suara pecahan cermin warung, melainkan suara pintu kontrakan di sebelah yang dibanting seseorang dalam gelap.
Aku terkesiap hebat. Aku terbangun dengan napas memburu, punggungku langsung menegak dari atas kasur tipisku. Jantungku berdegup kencang seolah mau copot dari rongga dada, dan keringat dingin bercucuran membasahi kening serta leherku. Suara detak jam dinding di kamarku berdetak nyaring: pukul tiga pagi.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba menyesuaikan penglihatan di dalam kamar petakku yang gelap gulita.
Tidak ada warung nasi Bu Neneng. Tidak ada hujan badai, tidak ada Arief, tidak ada Dara, dan tidak ada cermin yang pecah. Yang ada hanya kamarku sendiri. Di atas meja kayu kecil di samping tempat tidur, sebuah cermin dinding plastik murah tergantung diam, memantulkan kegelapan malam. Tanganku yang tadi terangkat untuk memukul cermin di mimpi, kini hanya mencengkeram kain selimutku sendiri yang basah oleh keringat.
Aku terdiam kaku di atas kasur. Aku mengusap wajahku, lalu menghembuskan napas panjang yang bergetar hebat. Seluruh teror mencekam, paranoia di jalanan, hingga bentrokan emosi di warung tadi... itu semua hanyalah mimpi buruk. Sebuah puncak halusinasi dari kepenatan dan beban pikiran yang menumpuk tanpa henti di kepalaku sebelum aku tertidur.
Aku bangkit secara perlahan dari kasur, berjalan pelan ke arah meja, lalu berhenti tepat di depan cermin plastik yang menggantung di dinding kamarku.
Aku menatap pantulan wajahku sendiri di cermin. Tidak ada seringai jahat. Tidak ada tatapan mengejek. Bayangan di cermin itu hanya meniru setiap gerakanku dengan sempurna, wajah seorang pria perantau yang letih, pucat, dengan mata sayu akibat kurang tidur, namun kini tampak jauh lebih tenang setelah teror mimpi itu terputus.
Aku tersenyum tipis pada bayanganku sendiri. Esok pagi matahari akan kembali terbit, beban hidup, cicilan motor, dan jalanan kota yang macet akan tetap menungguku di luar sana. Namun untuk saat ini, aku sadar bahwa musuh terbesar dalam hidupku bukanlah bayangan di cermin, melainkan rasa takut dan prasangka yang kubangun sendiri di dalam kepalaku.
Aku mematikan lampu meja, melangkah kembali ke tempat tidur, dan melanjutkan tidur agar esok pagi bisa bangun dengan tubuh yang segar dan hati yang jauh lebih lapang.
Tamat
Terima kasih telah membaca Ilusi Musuh Dalam Cermin. Ini adalah cerita pendek bergenre: Psycho Thriller dengan sedikit unsur Misteri yang mendekati slice of life. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Di Balik Romantisme Yang Hilang
Halunasi dengan bhatin yang terkan.😁😁
BalasHapusSampai memvonis masalah pendidikan yang tak jadi jaminan hidup dikota Besar. Meski berkata seperti itu bukan jaminan ada benarnya.😁😆😆
Namanya juga lagi tertekan... hihihi.
HapusSakin tertekannya sampai2 Bu Neneng, Arief, Dan si Dara jadi target amarah halu si Deni.😁😆😆😆😆
HapusItulah hebatnya si Deni... hihihi.
Hapusrasa takut yang di pelihara akan semakin mennjadi, seperti rasa sakit,
BalasHapusMakanya jangan dipelihara, Nif.
HapusSatu pesanku untukmu Deni, "Jangan menyerah! Dan jangan pernah malas untuk menemui Tuhanmu! Sakalut apapun hidupmu..."
BalasHapus