Postingan

Indah Namanya, Tapi...? (#5)

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? (#5) Pukul lima kurang sepuluh menit, Pak Firman keluar dari ruangannya dan menghampiri meja Indah. "Laporan sementara sudah siap?" "Sudah, Pak. Saya kirimkan tadi." Pak Firman membuka file di tabletnya. "Saya lihat ada perubahan jumlah pada pesanan pelanggan yang kemarin. Sudah dikonfirmasi?" "Sudah, Pak. Konfirmasi tertulisnya masuk pagi ini." "Bagus. Berarti tidak ada masalah." Indah mengangguk. Pak Firman membaca beberapa halaman lagi, lalu berhenti pada satu baris. "Ini kenapa nilai bersihnya sempat berbeda?" "Rumusnya bergeser ketika ada penambahan baris, Pak. Sudah saya perbaiki." "Siapa yang menemukan?" Indah melirik ke arah meja Heru. "Heru yang menemukan perbedaannya. Dia cukup teliti." Pak Firman menoleh kepada Heru yang sedang merapikan dokumen. "Bagus, Heru. Teruskan kebiasaan memeriksa angka seperti itu." Heru tersenyum. "Baik, Pak." "...

Kau Tak Sendiri, Laras

Gambar
Kau Tak Sendiri, Laras Setiap malam, tepat pukul 21.40, Hermansyah akan tiba di sebuah halte bus di Jakarta. Kebiasaan itu telah menjadi ritual tak tertulis dalam hidupnya. Hermansyah adalah gambaran manusia urban yang hidup dalam rutinitas otomatis. Hari-harinya dihabiskan di sebuah percetakan kecil. Hidupnya monoton: berangkat kerja, mencetak pesanan, pulang, membeli nasi goreng di dekat kontrakan, lalu tidur. Begitu terus sampai ia lupa kapan terakhir kali benar-benar memikirkan arti hidupnya sendiri. Semuanya berlangsung demikian hingga malam itu tiba. Malam ketika hujan deras seolah meruntuhkan langit Jakarta dan membuat lalu lintas bertekuk lutut. Bus yang dinanti Hermansyah tertahan entah di mana. Di dalam halte yang hampir kosong itu, udara dingin merayap masuk melalui celah di antara panel-panel kaca. Di ujung halte, dekat pintu yang tertutup, berdiri seorang perempuan. Ia memegang payung transparan yang masih basah, lalu menyandarkannya pada dinding kaca. Pakaiannya sederhana...

Gara-gara Status WhatsApp, Siaallll!

Gambar
Gara-gara Status WhatsApp, Siaallll! Yudha merebahkan tubuhnya di atas kasur busa kosan yang sudah mulai menipis, memosisikan kipas angin mini tepat menghadap wajahnya yang gerah. Ritual malam hari setelah penat bekerja selalu sama: membuka ponsel, masuk ke aplikasi WhatsApp, lalu mengetuk tab Pembaruan. Baginya, melihat status WhatsApp orang lain adalah hiburan murah meriah daripada bergosip dengan tetangga. Jempolnya bergerak lincah melakukan scrolling. Ada status rekan kerjanya yang memamerkan kopi susu mahal, status sepupunya yang hobi membagikan kata-kata motivasi religius, hingga status bapak kos yang menagih uang sewa bulanan lewat kutipan hadis. Yudha hampir saja menutup aplikasi itu ketika matanya menangkap satu nama di daftar pembaruan. Fira. Nama itu seketika membuat jempol Yudha mengerem mendadak. Fira adalah teman kuliahnya dulu. Seorang perempuan yang ramah, bermuka imut, dan punya selera humor yang sangat receh. Masalahnya, Fira kini sudah menjadi istri orang. Dan bukan ...

Indah Namanya, Tapi...? (#4)

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? (#4) Pukul tujuh lewat lima belas menit, Heru sudah berada di kantor. Ia datang lebih pagi daripada yang diminta Indah, sebagian karena tidak ingin terlambat, sebagian lagi karena semalam ia memikirkan laporan penjualan yang belum selesai diperiksanya. Ada kepuasan tersendiri ketika ia berhasil datang sebelum kebanyakan pegawai. Gedung masih relatif sepi, udara dari pendingin ruangan belum terasa menusuk, dan bunyi langkahnya sendiri terdengar jelas di lorong. Di meja kerjanya, ia menyalakan komputer lalu membuka catatan yang dibuatnya kemarin. Ia sudah memeriksa beberapa dokumen pendukung, tetapi belum menemukan penjelasan yang meyakinkan untuk perbedaan angka pada salah satu transaksi. Nomor pesanannya cocok. Nama pelanggannya juga benar. Namun, jumlah barang yang tercatat pada laporan sebelumnya berbeda dari jumlah yang muncul dalam sistem terbaru. Ia memeriksa sekali lagi. Dua ratus empat puluh unit pada satu dokumen. Dua ratus empat belas pada dokumen lainn...