Hanya Fiksi, Tapi...
Hanya Fiksi, Tapi... Pagi itu, Irwan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia mengenakan kemeja batik yang sudah disetrika rapi oleh Yuli , istrinya. Sebelum meninggalkan rumah, ia mengambil dompet dari atas meja dan membukanya. Ia melihat foto Yuli yang sedang tersenyum manis. Yuli memperhatikannya dari dapur sambil tersenyum kecil. "Masih bawa foto itu, ya?" ucapnya, sambil menyajikan segelas teh hangat untuk Irwan. Irwan tersenyum balik. "Tentu saja. Kamu tahu, ini senjata rahasiaku di kantor," jawabnya sambil menyimpan dompet ke dalam saku celananya. Hari itu, seperti biasa, kantor tempat Irwan bekerja penuh dengan rutinitas. Di mejanya, Irwan menghadapi tumpukan laporan yang belum selesai. Saat sedang mengerjakan sebuah laporan, Adi, Deni, dan Yudhi, rekan-rekan kerjanya, datang. Mereka ingin mengajaknya makan siang bersama. "Wan, ayo makan siang dulu. Jangan serius-serius amat kerja terus, nanti tua sebelum waktunya," ujar Adi sambil tertawa kecil. Irw...