Mengapa Harus Dia?
Mengapa Harus Dia?

Hujan turun sejak sore, mengaburkan deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Dari balik jendela kafe kecil, Nara hanya memandangi titik-titik air yang berkejaran di kaca. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan, bercampur dengan alunan musik akustik yang diputar pelan.
Di hadapannya, secangkir americano sudah hampir dingin. Nara belum menyentuhnya lagi.
"Aku heran," suara Surya memecah keheningan. "Kamu datang ke sini hampir setiap Jumat, tapi mukamu tetap kayak orang dipaksa bayar utang."
Nara melirik sahabatnya sekilas. "Memangnya aku harus senyum-senyum sendiri?" jawabnya.
"Minimal kelihatan hidup," lanjut Surya.
Nara menghela napas kesal, lalu berkata, "Kalau hidup itu seperti komik romantis yang sering kamu baca, mungkin aku juga bakal kelihatan bahagia."
Surya memang selalu begitu. Terlalu mudah menemukan bahan candaan, bahkan ketika lawan bicaranya sedang tidak ingin bicara.
"Komik romantis itu memberi harapan."
"Harapan palsu."
Surya menggeleng sambil menyeruput cappuccino.
"Kamu ini masih saja trauma."
Nara tidak menjawab. Bukan trauma, pikirnya, lebih tepatnya lelah.
Dulu ia pernah percaya bahwa cinta cukup diperjuangkan. Bahwa selama dua orang saling menyayangi, semuanya akan baik-baik saja. Nyatanya tidak, perpisahan beberapa tahun lalu mengajarkannya satu hal sederhana. Perasaan bisa berubah, janji bisa gugur, dan masa depan terlalu licin untuk digenggam. Karena itu, setiap kali seseorang berbicara tentang selamanya, Nara hanya mampu tersenyum tipis. Bukan karena tidak percaya cinta, ia hanya tidak percaya dirinya mampu mempertahankannya.
Pintu kafe berbunyi pelan, Nara mendongak tanpa sadar.
Seorang perempuan melangkah masuk sambil menutup payung berwarna krem. Rambutnya yang sebahu sedikit basah. Ia mengenakan blus putih sederhana dipadukan dengan rok panjang cokelat.
Tidak ada yang berlebihan, namun entah mengapa, seluruh ruangan seolah berubah lebih hangat ketika perempuan itu tersenyum kepada pelayan.
"Itu dia," gumam Surya.
"Siapa?" Nara mengernyit.
"Yang sering kuceritakan."
Perempuan itu berjalan menuju salah satu meja dekat jendela. Beberapa saat kemudian seorang wanita lain menghampirinya dengan wajah ceria. Nara mengenalnya, itu Dina. Mereka pernah bertemu ketika perusahaan tempat Nara bekerja mengadakan pelatihan bersama kantor tempat Dina bekerja.
"Yang mana namanya?" tanya Nara.
"Reni," jawab Surya.
Nama itu terdengar biasa, namun saat perempuan itu tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Dina, Nara mendapati dirinya menoleh lebih lama dari yang seharusnya.
Senyumnya tidak mencolok, tidak dibuat-buat, justru sederhana. Tetapi ada sesuatu di balik lengkungan bibir itu yang membuat jantung Nara seperti kehilangan irama sesaat.
Surya menyenggol lengannya. "Tuh, kan."
"Apa?"
"Baru lihat saja sudah melamun."
"Aku cuma..."
"Cuma?"
Nara mengalihkan pandangan. "Dia kelihatan tenang," ucapnya.
Surya tersenyum penuh arti.
"Itu karena hidupnya sudah banyak ditempa."
Baca juga: Nurul, Si Gadis Kecil
"Maksudmu?"
"Dia janda."
Kalimat itu menggantung beberapa detik. Nara kembali menoleh, kini ia memperhatikan Reni lebih saksama. Tidak ada raut sedih yang dipamerkan. Tidak pula sikap mencari belas kasihan. Perempuan itu tampak biasa saja, malah terlalu biasa.
Beberapa menit kemudian, Dina melihat Surya.
"Wah! Mas Surya!"
Surya melambaikan tangan.
"Ke sini saja!"
Nara langsung menghela napas.
"Jangan bilang..."
"Terlambat."
Dina sudah menarik Reni menuju meja mereka.
"Mas Nara, masih ingat saya?" tanya Dina.
"Ingat."
"Nah, kenalin. Ini teman sekantor saya. Reni."
Reni mengulurkan tangan.
"Reni."
"Nara."
Nara menyambutnya, sentuhan itu hanya berlangsung sesaat. Namun anehnya, ia masih bisa merasakan hangatnya bahkan setelah tangan mereka terlepas.
"Senang bertemu." Senyumnya kembali muncul.
Nara mendadak lupa kalimat berikutnya. Biasanya ia cukup pandai berbasa-basi, kini kepalanya kosong dan Surya yang menyelamatkan suasana.
"Kalian duduk saja. Kebetulan mejanya masih muat."
Dina langsung setuju. Reni sempat ragu, tetapi akhirnya ikut duduk juga. Percakapan mengalir ringan, sebagian besar dipenuhi ocehan Dina dan candaan Surya. Nara lebih sering mendengarkan, sesekali ia mencuri pandang. Reni berbicara seperlunya. Ia tidak berusaha menjadi pusat perhatian, tetapi setiap kali ia tersenyum, Nara merasa sulit mengalihkan mata.
Reni memiliki bibir tipis yang membentuk lengkungan lembut. Bukan tipe kecantikan yang langsung memikat, melainkan jenis yang pelan-pelan tumbuh di pikiran seseorang, lalu sulit dilupakan.
"Ada apa?" Suara Reni membuat Nara tersentak.
"Hah?"
"Mas Nara dari tadi seperti ingin bilang sesuatu."
Nara salah tingkah.
"Tidak."
"Yakin?"
"Iya."
Dina terkekeh.
"Dia memang pendiam."
Nara mengusap tengkuknya. Padahal yang sebenarnya terjadi jauh lebih memalukan. Ia memang ingin mengatakan sesuatu, apa saja. Namun setiap kali menatap wajah Reni, kata-kata itu seperti menghilang.
Hujan belum juga reda ketika mereka memutuskan pulang. Dina menerima telepon dari kakaknya dan harus pergi lebih dulu. Surya juga pamit karena istrinya sudah berkali-kali mengirim pesan. Akhirnya tinggal Nara dan Reni.
"Mobil saya di parkiran belakang," kata Nara.
"Saya naik ojek saja."
"Hujan begini?"
Reni tersenyum.
"Sudah biasa."
Nara terdiam beberapa saat.
Baca juga: O.D.O.P
"Lewat mana?"
"Ke arah Taman Puspa."
"Kebetulan searah."
Reni tampak berpikir.
"Kalau tidak merepotkan..."
"Tidak."
Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran, suasana canggung justru terasa nyaman. Tidak ada yang memaksa percakapan, hanya suara hujan yang memantul di aspal.
Di dalam mobil, Reni memandangi jalan yang basah.
"Mas Nara memang pendiam, ya?"
"Sering dibilang begitu."
"Atau memang malas bicara?"
Nara tertawa kecil. "Yang kedua juga benar."
Reni ikut tertawa, tawa itu ringan tidak dibuat-buat. Untuk pertama kalinya malam itu, Nara merasa tertawa tanpa beban.
Di lampu merah, mobil berhenti. Reni memandang ke luar jendela dan berkata pelan, "Kadang saya suka iri sama hujan."
"Iri?"
"Hujan datang tanpa janji. Orang tetap menerimanya."
Nara menoleh. Reni masih menatap ke luar.
"Kalau manusia," lanjut Reni pelan, "kadang terlalu sibuk menjanjikan masa depan sampai lupa menjalani hari ini."
Kalimat itu menghantam sesuatu dalam diri Nara. Ia tidak tahu mengapa. Seolah Reni baru saja mengucapkan isi kepalanya sendiri.
Lampu berubah hijau, mobil kembali berjalan. Setelah beberapa menit, Reni berkata pelan, "Terima kasih sudah mengantar."
"Dengan senang hati."
Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Lampunya menyala hangat.
Seorang anak perempuan kecil berlari ke teras begitu melihat Reni turun. "Mama!"
Reni langsung memeluk anak itu. Senyumnya kali ini berbeda, lebih lepas, lebih utuh.
Nara baru sadar, Surya benar. Reni memang seorang janda. Dan perempuan kecil yang kini menggandeng tangannya barangkali adalah alasan mengapa senyumnya menyimpan begitu banyak cerita.
Reni menoleh sebelum masuk dan berkata, "Hati-hati di jalan, Mas Nara."
Nara mengangguk.
"Kamu juga."
Sesaat setelah mengucapkannya, ia mengerutkan kening. Kamu? Bukan Anda, bukan Bu Reni. Entah sejak kapan jarak itu terasa memendek.
Reni hanya tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah.
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi daripada biasanya. Bukan karena hujan sudah reda, melainkan karena kepala Nara dipenuhi bayangan senyum yang terus berulang.
Ia memukul pelan setir mobil. "Kenapa harus dia?"
Nara mengenal Reni tidak lebih dari dua jam, namun pikirannya menolak berpindah ke hal lain. Sesampainya di apartemen, ponselnya bergetar. Pesan dari Surya: Gimana? Masih yakin semua kisah cinta cuma dongeng?
Nara membaca pesan itu cukup lama, lalu mengetik balasan singkat: Aku belum percaya kisah indah.
Beberapa detik kemudian muncul balasan: Kalau begitu, jangan mencari kisah indah. Carilah orang yang mau menjalani kisah biasa bersamamu.
Nara tidak langsung membalas. Ia mematikan layar ponsel, lalu tanpa sadar, wajah Reni kembali hadir di benaknya.
Baca juga: Makhluk Manis Dalam Lift
Bukan kecantikannya yang terus mengusik, bukan pula statusnya sebagai seorang janda, melainkan cara Reni tersenyum seolah telah berdamai dengan luka yang pernah singgah. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nara merasakan sesuatu yang selama ini ia kira telah hilang.
***
Pagi itu, Nara datang lebih awal ke kantor. Hal yang sebenarnya jarang terjadi. Ia meletakkan tas kerja di atas meja, menyalakan komputer, lalu memandangi layar yang bahkan belum selesai memuat tampilan awal. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, sementara pikirannya melayang ke tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan laporan proyek yang harus selesai sebelum siang.
Entah mengapa senyum itu masih ada, senyum seorang perempuan yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.
Nara mengembuskan napas panjang. "Aku mulai gila," gumamnya.
"Kalau ngomong sendiri begitu, memang kelihatannya begitu."
Nara menoleh. Surya berdiri di belakangnya sambil membawa dua gelas kopi.
"Satu buatmu."
"Makasih."
Surya meletakkan gelas di meja. "Lagi mikirin siapa?" tanyanya.
"Laporan."
"Oh?"
"Iya."
"Namanya Reni?"
Nara mendengus pelan. "Kamu terlalu banyak tahu."
"Karena mukamu gampang dibaca."
Nara mengambil kopi itu untuk menghindari tatapan usil sahabatnya.
Surya benar, sejak malam itu, ia beberapa kali memikirkan Reni tanpa alasan jelas. Bukan karena perempuan itu luar biasa cantik, Nara pernah bertemu perempuan yang lebih memesona. Bukan pula karena statusnya sebagai seorang janda, justru itu membuat Nara sedikit berhati-hati. Hal yang mengganggunya adalah ketenangan Reni.
Reni seperti seseorang yang pernah dihantam badai besar, tetapi memilih berdiri lagi tanpa banyak mengeluh. Ada sesuatu yang menenangkan sekaligus membuat penasaran.
"Kalau ketemu lagi, ajak ngobrol yang benar."
Nara tertawa kecil. "Aku bahkan kemarin hampir lupa namaku sendiri waktu dia lihat."
"Itu namanya gejala."
"Gejala apa?"
"Jatuh."
Nara menggeleng.
"Belum."
Surya tersenyum tipis. "Kamu boleh menyangkal. Tapi matamu tidak bisa."
***
Tiga hari kemudian perusahaan tempatnya bekerja mengadakan rapat koordinasi dengan perusahaan tempat Reni bekerja. Begitu memasuki ruang rapat, Nara langsung mengenali sosok itu.
Reni duduk di sisi kanan meja panjang, mengenakan blazer abu-abu dan rambut yang diikat sederhana.
Ketika mata mereka bertemu, Reni tersenyum. "Halo, Mas Nara," sapanya.
"Halo."
Tidak ada rasa canggung seperti pertemuan pertama, namun entah mengapa, jantung Nara tetap berdebar sedikit lebih cepat.
Dina yang duduk di sebelah Reni langsung menyeringai. "Wah... ketemu lagi."
Nara hanya mengangguk sambil menarik kursi.
Sepanjang rapat, Nara berusaha fokus. Namun beberapa kali tanpa sadar pandangannya beralih ke arah Reni. Perempuan itu berbicara seperlunya, kalimat-kalimatnya singkat, jelas, tidak pernah memotong pembicaraan orang lain, dan sesekali ia mencatat sesuatu di buku kecil berwarna cokelat.
Nara memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tidak penting. Cara Reni menggulung lengan bajunya ketika merasa gerah, cara ia meniup pelan kopi yang masih panas, cara ia mendengarkan lawan bicara tanpa sibuk memainkan ponsel. Sederhana, tetapi justru membuat Nara sulit berhenti memperhatikan.
Rapat selesai menjelang makan siang, sebagian peserta langsung pulang, sebagian lagi menuju kantin gedung. Dina menghampiri Nara. "Mas Nara."
"Iya?"
"Reni lagi ulang tahun hari ini."
Nara spontan menoleh.
"Serius?"
"Iya."
"Lho, kok diam saja?"
Dina terkekeh. "Dia memang begitu."
Nara melihat Reni sedang membereskan berkas. Tanpa pikir panjang ia berjalan menghampiri. "Selamat ulang tahun," ucapnya.
Reni mendongak. "Lho... Dina yang kasih tahu?"
Nara tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Harusnya dia diam saja."
"Kenapa?"
"Aku sudah tidak terlalu suka merayakan ulang tahun."
Nara mengernyit. "Boleh tahu alasannya?"
Reni terdiam beberapa saat. "Dulu setiap ulang tahun selalu ada yang mengingatkan."
Nara memahami maksudnya. "Mantan suami?"
Reni mengangguk pelan. "Dulu."
Ada jeda yang cukup panjang. Namun wajah Reni tidak menunjukkan kemarahan, yang ada hanya semacam penerimaan.
"Aneh ya?"
"Apa?"
"Orang sering mengira perempuan yang bercerai pasti membenci masa lalunya."
"Lalu?"
"Aku tidak membencinya."
Nara menatap Reni. "Kalau begitu?"
"Aku hanya sudah selesai."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Nara, ada luka panjang yang tersembunyi di baliknya.
Mereka akhirnya makan siang bersama dan hanya berdua. Percakapan kali ini jauh lebih mengalir. Nara mengetahui bahwa Reni memiliki seorang putri berusia enam tahun bernama Rara.
Rara sangat suka menggambar. Bahkan hampir setiap dinding rumah pernah menjadi "kanvas", sebelum akhirnya Reni menyerah dan membeli papan tulis besar. Nara tertawa membayangkannya.
"Capek ya?"
"Capek."
"Terus?"
"Tapi menyenangkan."
"Sendirian mengurus semuanya?"
Reni mengangguk. "Awalnya berat."
"Sekarang?"
"Masih berat."
Nara tersenyum kecil. "Jawaban yang jujur."
"Memangnya harus bohong?"
"Tidak."
Reni memandang keluar jendela restoran. "Kadang orang terlalu sibuk terlihat kuat."
"Lalu kamu?"
"Aku juga."
Nara mengernyit.
"Tapi sekarang aku sedang belajar berhenti berpura-pura."
Baca juga: Misteri Di Balik Kata Hmmm
Kalimat itu membuat Nara terdiam, ia mengenali perasaan itu. Selama bertahun-tahun ia juga berpura-pura baik-baik saja, berpura-pura tidak membutuhkan siapa pun padahal setiap pulang ke apartemen, yang menyambutnya hanya suara pendingin ruangan dan dinding yang terlalu sunyi.
Setelah makan siang mereka berjalan menuju area parkir. Langkah mereka pelan, tidak ada yang terburu-buru mengakhiri kebersamaan.
"Mas Nara."
"Iya?"
"Boleh tanya sesuatu?"
"Silakan."
"Kenapa belum menikah?"
Nara tersenyum hambar. "Takut."
"Takut?"
"Gagal lagi."
Reni memandangnya beberapa detik. "Luka lama?"
Nara mengangguk. "Pernah hampir menikah."
"Lalu batal?"
"Iya."
Reni tidak bertanya lebih jauh. Sikap itu justru membuat Nara merasa nyaman, tidak semua orang harus tahu isi luka seseorang. Kadang cukup tahu bahwa luka itu memang ada.
"Kalau aku boleh kasih pendapat..."
Nara menoleh.
"...masa lalu memang bisa mengajari kita berhati-hati."
"Lalu?"
"Tapi jangan sampai membuat kita menghukum orang yang bahkan belum melakukan kesalahan."
Nara terdiam.
Kalimat itu menghantam tepat sasaran. Bukankah selama ini ia selalu melakukan itu? Menolak semua kemungkinan hanya karena takut mengulang rasa sakit yang sama.
Malam harinya, Nara menerima sebuah foto dari nomor yang belum lama tersimpan di ponselnya. Itu foto Rara.
Gadis kecil itu sedang memegang kue ulang tahun sederhana dengan krayon warna-warni di tangannya. Di pipinya masih ada noda cokelat.
Tak lama kemudian muncul pesan: Maaf mengganggu. Tadi Rara bilang om yang mengantar Mama waktu hujan itu pasti orang baik. Dia bilang kalau ketemu, mau bilang terima kasih karena sudah membuat Mamanya pulang sambil tersenyum.
Nara membaca pesan itu berulang kali tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat. Ia membalas singkat: Dia pintar ya.
Beberapa detik kemudian.
Dia cuma anak kecil yang bisa membaca wajah ibunya.
Nara memandangi kalimat itu cukup lama. Anak kecil memang tidak pandai menyembunyikan perasaan mungkin karena itu mereka juga lebih mudah mengenali perasaan orang lain.
***
Keesokan sore, Nara kembali ke kafe tempat pertemuan pertama mereka. Bukan karena janjian, entah mengapa kakinya sendiri yang membawanya ke sana. Ia melihat Reni ada di sana sedang duduk sendirian sambil membaca buku. Ketika Reni melihat Nara, ia tampak terkejut. "Kebetulan sekali."
"Iya."
"Boleh duduk?"
"Tentu."
Pelayan datang membawa secangkir kopi untuk Nara. Suasana terasa nyaman tidak banyak percakapan, namun tidak ada keheningan yang terasa canggung.
Nara melirik buku di tangan Reni. "Tentang apa?" tanyanya.
"Psikologi."
"Berat."
"Supaya lebih mengerti diri sendiri."
Nara mengangguk. "Lalu?"
Reni tersenyum. "Belum tentu berhasil."
Mereka tertawa bersamaan.
Untuk beberapa saat, Nara hanya memperhatikan wajah perempuan di hadapannya.
Sore itu cahaya matahari yang menembus kaca jendela jatuh tepat di sisi wajah Reni. Ada garis-garis halus yang nyaris tak terlihat di dekat sudut matanya ketika ia tersenyum. Bukan tanda usia, melainkan jejak dari terlalu sering tersenyum setelah terlalu sering menangis.
Entah mengapa, justru itu membuatnya semakin cantik di mata Nara. Bukan cantik yang sempurna, tetapi cantik yang nyata.
Nara baru hendak mengatakan sesuatu ketika suara kursi bergeser cukup keras dari meja belakang.
Seorang pria berdiri tatapannya lurus ke arah Reni. Wajah Reni yang semula tenang mendadak berubah, senyumnya memudar. Jemarinya yang memegang cangkir kopi ikut menegang.
Nara mengikuti arah pandangnya. Pria itu berjalan perlahan mendekat. Tatapannya menyimpan penyesalan yang terlalu lama dipendam.
"Reni..."
Suara itu terdengar pelan, namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Reni membeku.
Nara belum mengenal pria itu, tetapi firasatnya berkata orang ini bukan tamu yang datang membawa ketenangan. Ketika Reni akhirnya mengembuskan napas panjang sebelum menjawab sapaan itu.
"Iya."
Nara tidak mengenal pria yang kini berdiri beberapa langkah dari meja mereka, namun ia mengenali ekspresi Reni. Senyumnya menghilang bukan karena takut melainkan karena lelah, lelah menghadapi sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin ia tinggalkan.
"Reni..."
Pria itu kembali memanggil, kali ini lebih pelan.
"Aku boleh duduk?"
Reni mengembuskan napas sebelum menjawab. "Silakan."
Nara hendak berdiri. "Kalau begitu saya pergi saja."
"Tidak."
Jawaban Reni membuat Nara berhenti.
"Kalau kamu pergi sekarang, nanti dia mengira aku masih tidak sanggup menghadapi masa lalu."
Nara kembali duduk.
Pria itu akhirnya menarik kursi. Tatapannya sempat beralih kepada Nara.
"Maaf."
Nara hanya mengangguk.
"Aku Arya."
"Nara."
Tak ada jabatan tangan, tak ada senyum basa-basi. Hanya keheningan yang terasa lebih berat daripada hujan pada malam pertama mereka bertemu.
"Apa kabar, Reni?"
"Baik."
"Rara sehat?"
"Sehat."
"Dia..."
"Makin besar."
Jawaban Reni selalu pendek. Seolah setiap kalimat lebih panjang hanya akan membuka pintu kenangan yang sudah susah payah ia tutup.
Baca juga: Bukan Tentang Lima Tahun
Arya mengusap wajahnya.
"Aku sering kepikiran dia."
Reni menatap mantan suaminya tanpa kebencian.
"Tapi kamu jarang datang."
"Aku tahu."
"Aku juga tidak pernah melarang."
Arya menunduk.
Nara memilih diam. Ia merasa menjadi orang asing yang menyaksikan percakapan yang terlalu pribadi, namun Reni tidak tampak keberatan ia berada di sana. Justru beberapa kali perempuan itu melirik ke arahnya, seolah memastikan bahwa keberadaannya memberi sedikit keberanian.
"Aku menyesal."
Kalimat itu akhirnya keluar. Pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin kopi.
Reni tersenyum tipis. "Penyesalan memang datang belakangan."
"Aku berubah."
"Semoga."
"Aku serius."
"Aku juga serius."
Arya menatap Reni lama. "Aku ingin memperbaiki semuanya."
Reni menggeleng perlahan. "Kamu tidak bisa memperbaiki masa lalu."
"Aku bisa mulai lagi."
"Kita tidak bisa."
"Kenapa?"
Karena aku sudah belajar hidup tanpamu. Kalimat itu tidak pernah keluar dari bibir Reni. Sebagai gantinya ia berkata dengan suara yang sangat tenang, "Ada banyak hal yang selesai bukan karena sudah tidak sayang."
Arya terdiam.
"Tapi karena terus bertahan justru menyakiti."
Nara melihat mata Arya memerah. Untuk sesaat ia merasa iba. Tidak semua orang yang menyesal mendapat kesempatan kedua dan tidak semua kesempatan kedua mampu menghapus luka pertama.
Setelah beberapa menit, Arya berdiri.
"Aku tidak akan memaksa."
Reni mengangguk.
"Tapi izinkan aku tetap menjadi ayah untuk Rara."
"Kamu memang ayahnya."
"Aku akan datang lebih sering."
"Datanglah untuk Rara. Bukan untukku."
Arya tersenyum pahit. "Aku mengerti."
Sebelum pergi, pria itu menoleh kepada Nara. "Jaga dia baik-baik."
Nara belum sempat menjawab, Arya sudah berjalan meninggalkan kafe. Bayangannya perlahan menghilang di balik pintu kaca. Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Reni hanya memandangi kopi yang sudah dingin.
"Aku minta maaf."
Nara mengernyit. "Untuk apa?"
"Harusnya kamu tidak perlu melihat semua itu."
"Aku tidak keberatan."
Reni tertawa kecil. "Tahu tidak?"
"Apa?"
"Orang sering mengira janda itu pasti masih sibuk memikirkan mantan suaminya."
"Lalu?"
"Padahal yang lebih sering kupikirkan cuma satu."
"Apa itu?"
"Besok Rara sarapan apa."
Baca juga: Di Balik Cangkir Cappuccino
Nara ikut tertawa. Tawa mereka kali ini terasa lebih ringan, seolah ketegangan beberapa menit lalu ikut larut bersama sisa aroma kopi.
"Aku pernah marah sekali sama hidup."
Reni berkata sambil memutar cangkir di hadapannya.
"Kenapa harus aku yang mengalami semua ini."
"Lalu?"
"Suatu hari Rara sakit."
Nara mendengarkan.
"Aku begadang tiga malam."
"Waktu dia sembuh..." Reni tersenyum. "...aku sadar."
"Sadar apa?"
"Bahwa hidup tidak menungguku selesai bersedih."
Kalimat itu sederhana, namun Nara merasa seperti sedang bercermin. Bukankah selama ini ia juga melakukan hal yang sama? Ia terlalu lama tinggal di masa lalu, seolah hidup akan memberinya waktu tanpa batas untuk takut.
***
Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang. Nara mulai terbiasa mengantar Reni menjemput Rara sepulang kerja. Awalnya hanya sesekali, lalu menjadi kebiasaan.
Rara ternyata jauh lebih cerewet daripada ibunya.
"Om Nara."
"Iya?"
"Om bisa gambar kucing?"
"Bisa sedikit."
"Bohong."
"Lho?"
"Kalau bisa, gambarin."
Nara mengambil selembar kertas. Lima menit kemudian seekor kucing hasil gambarnya lebih mirip tikus yang memakai kumis.
Rara tertawa sampai memegang perut.
"Mama... Om Nara lucu."
Reni yang sedang memotong buah ikut melihat, lalu ia tidak mampu menahan tawanya. "Maaf."
"Tertawa saja."
"Tapi memang lucu."
Nara menggeleng sambil ikut tertawa. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara rumah yang dipenuhi tawa seperti ini. Apartemennya selama bertahun-tahun terlalu sunyi dan entah sejak kapan, rumah sederhana milik Reni mulai terasa lebih hangat daripada tempat tinggalnya sendiri.
Suatu sore mereka duduk di teras setelah Rara tertidur. Angin membawa aroma tanah yang baru selesai diguyur hujan. Reni memegang secangkir teh hangat sedangkan Nara memandangi langit yang mulai berubah jingga.
"Mas Nara."
"Hm?"
"Boleh jujur?"
"Silakan."
"Dulu aku kira kamu orang yang dingin."
"Aku memang begitu."
"Ternyata tidak."
Nara tersenyum kecil. "Mungkin cuma karatan."
"Kamu takut ya?"
Nara tidak langsung menjawab. "Aku takut. Takut tidak bisa menjadi seseorang yang layak untuk orang lain."
Reni memandangnya. "Tidak ada manusia yang benar-benar siap."
Nara mengangguk pelan. "Aku pernah hampir menikah."
Baca juga: Insan-Biasa Dot Net
Reni sudah mengetahui itu, namun kali ini Nara memilih bercerita lebih jauh. Tentang perempuan yang pergi beberapa minggu sebelum hari pernikahan, tentang undangan yang sudah dicetak, tentang keluarga yang berusaha tersenyum meski kecewa tentang dirinya yang sejak saat itu memilih menutup pintu hati rapat-rapat.
"Aku marah." Nara menatap jemarinya sendiri. "Bukan sama dia."
"Lalu?"
"Sama diriku karena merasa gagal."
Reni mendengarkan tanpa menyela. Nara baru sadar, Reni memang selalu seperti itu. Ia tidak tergesa-gesa memberi nasihat, tidak sibuk memotong cerita. Ia hanya hadir. Dan kadang, kehadiran seperti itulah yang paling dibutuhkan seseorang.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi pasangan yang baik." Suara Nara nyaris berbisik.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi besok."
Reni tersenyum lembut. "Memangnya ada yang tahu?"
Nara ikut tersenyum hambar. "Tidak."
"Kalau begitu kenapa kamu menghukum hari ini karena kesalahan hari kemarin?"
Nara kehilangan jawaban.
***
Beberapa minggu kemudian, Surya dan Dina sengaja mengadakan acara makan malam kecil.
"Tidak ada alasan khusus," kata Surya.
"Saya cuma lapar," sahut Dina.
"Pembohong."
"Ya sudah, memang sengaja."
Mereka semua tertawa.
Di tengah makan malam itu, Surya tiba-tiba mengangkat gelas.
"Aku mau bersulang."
"Untuk apa?" tanya Nara.
"Untuk dua orang yang paling keras kepala di ruangan ini."
Dina mengangguk cepat. "Setuju."
Reni menahan tawa.
Nara menghela napas. "Dua-duanya siapa?"
"Kamu sama Reni."
"Kenapa?"
Surya menunjuk mereka bergantian. "Yang satu takut memulai. Yang satu lagi takut berharap. Untung sekarang sama-sama mulai belajar."
Reni menunduk sambil tersenyum malu. Nara tidak membantah, karena untuk pertama kalinya ia merasa Surya tidak sedang bercanda.
Malam semakin larut ketika Nara mengantar Reni pulang. Mereka berhenti di depan rumah, lampu teras masih menyala, Rara sudah tertidur di kamar, suasana begitu tenang.
"Nara." Ini pertama kalinya Reni memanggil namanya tanpa embel-embel "Mas".
"Ada apa?"
Reni menatapnya beberapa detik. "Aku mau tanya."
"Tanya apa?"
"Kamu masih takut?"
Nara mengembuskan napas panjang. "Tidak."
"Sudah tidak?"
"Aku masih takut."
Reni terkekeh. "Jujur sekali."
"Tapi..." Nara menatap mata Reni. "...aku capek kalau harus terus lari."
Keheningan turun di antara mereka. Tidak canggung justru terasa hangat.
Nara mengumpulkan keberanian yang selama bertahun-tahun seperti hilang. "Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang sempurna."
Baca juga: Bukan Sabar, Itu Indah
Reni tidak memalingkan wajah.
"Aku juga tidak pandai mengucapkan kata-kata indah."
Perempuan itu tetap diam.
"Tapi kalau kamu bersedia..." Nara menarik napas. "...aku ingin berjalan pelan-pelan bersamamu."
Mata Reni mulai berkaca-kaca.
"Bukan sebagai penyelamat, bukan juga sebagai pahlawan. Hanya sebagai laki-laki biasa yang ingin pulang... dan menemukan rumahnya."
Air mata akhirnya jatuh di pipi Reni. Bukan tangis yang meledak-ledak melainkan air mata yang datang setelah sekian lama seseorang berhenti berpura-pura kuat.
"Nara."
"Iya?"
"Aku juga tidak butuh pahlawan."
"Lalu?"
"Aku cuma butuh seseorang yang tetap tinggal."
Nara mengangguk perlahan. Tanpa banyak kata, tanpa janji yang muluk-muluk ia meraih tangan Reni.
Hangat sedikit gemetar, namun tidak berusaha melepaskan. Reni balas menggenggam tidak erat, tapi cukup untuk mengatakan bahwa kali ini ia tidak ingin berjalan sendirian.
Di balik jendela, Rara yang ternyata belum benar-benar tidur mengintip sambil tersenyum jahil.
"Mama..." Bisiknya pelan kepada boneka kelincinya. "...kayaknya Om Nara bakal sering ke sini."
Lalu gadis kecil itu menutup kembali tirai kamarnya, membiarkan dua orang dewasa di teras melanjutkan percakapan yang tak lagi membutuhkan banyak kata.
Nara memandang langit malam. Dulu ia mengira cinta harus selalu megah, harus dipenuhi janji tentang selamanya, harus sehebat kisah-kisah yang sering diceritakan orang. Ternyata tidak, kadang cinta hanya sesederhana seseorang yang tetap memilih duduk di sampingmu ketika hidup sedang berantakan. Seseorang yang tidak menuntut kepastian atas hari esok, tetapi tetap menggenggam tanganmu hari ini.
Dan malam itu, Nara akhirnya memahami satu hal. Bukan senyum Reni yang paling menggoda melainkan keberanian perempuan itu untuk tetap tersenyum setelah hidup berkali-kali mengujinya. Keberanian itulah yang diam-diam mengajarkan Nara bahwa cinta bukan tentang menemukan kisah yang sempurna. Cinta adalah tentang menemukan seseorang yang membuatmu berani percaya lagi meski perlahan, meski dengan langkah kecil. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara tidak lagi merasa takut memikirkan hari esok. Bukan karena ia tahu apa yang akan terjadi, melainkan karena kini ia tak perlu menghadapinya sendirian.
Tamat.
Terima kasih telah membaca Mengapa Harus Dia?. Ini adalah cerita pendek bergenre: Drama Romantis, Metropop, Romance, Pernikahan, Slice of Life. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Sumpah Serapah Berbungkus Berkah
Mengapa Harus Dia? Kalau Si Anu Mingkin Takut Anu Nantinya.😁😆😆
BalasHapusMenarik Huu Ceritanya. Nara Si Bujang Galau Yang Dapat Kesejukan Hati, Dari Reni Seorang Joken Beranak Satu..😊😁😂
Joken...wkwkwk...ini bahasa mana pula?
HapusBahasa gaul anak Depok.. Jakarta juga ada sih meski nggak semuanya tahu.
HapusTapi awal sebutan Joken itu tercipta dari anak Gaul di Depok.😁😁
Oh, bahasa gaul anak Depok, Depok memang kota yang unik.
HapusKirain Nara takut karena habis perang Shinobi keempat makanya trauma.😂
BalasHapusReni sang janda, jadi ingat Reni dari Makassar yang juga janda, cuma orangnya lebih lucu.😁
Untuk cerpennya seperti biasa bagus , khas mas Herman. Ajarin bikin dong suhu.
Itu mah Naruto bukan Nara... wkwkwk.
HapusEny Reny kah? Gimana kabar dia sekarang ya?
Hasil belajar dari blog sebelah, Mas.. wkwkwk