Setelah Hujan Reda
Setelah Hujan Reda

Lampu jalan mulai menyala satu per satu, berpendar putih di bawah langit Jakarta yang temaram. Hermansyah melangkah santai, tangannya merogoh saku jaket parasutnya yang mulai pudar. Di bangku kayu panjang depan warung mi rebus dan kopi sachet, Arief dan Kamal sudah duduk dengan kepulan asap rokok yang menyelimuti obrolan mereka.
"Dari mana, Man?" tanya Arief tanpa menoleh, matanya fokus pada layar ponsel.
"Habis dari rumah janda yang nggak ada lakinya, Rief," jawab Hermansyah sambil nyengir, menarik kursi plastik merah lalu duduk dengan posisi kaki terbuka lebar.
"Lha di mana-mana, janda memang nggak ada lakinya, Man!" sambar Kamal sambil menyentil abu rokoknya.
"Lalu?" jawab Hermansyah pendek, memancing reaksi.
Arief menggeleng pelan, sementara Kamal cuma terkekeh. Mereka sudah hafal gaya Hermansyah yang suka menggantung cerita seperti jemuran.
"Serius dikit, Man. Ceritanya apa?" tanya Arief akhirnya, meletakkan ponsel dan menatap Hermansyah penuh selidik.
Hermansyah mengambil rokok dari saku, lalu menyalakannya dengan gerakan perlahan, seolah sedang menikmati setiap detik ketegangan itu. "Gue dari rumah Ningsih," katanya setelah embusan asap pertama. "Janda muda yang udah dua tahun cerai. Dia tinggal sama adiknya, Wulan."
Kamal menaikkan alis. "Oh, yang rumahnya di gang dekat warung Bu Sari itu? Yang pagarnya biru muda?"
Hermansyah mengangguk. "Iya. Gue awalnya cuma bantu benerin keran air yang bocor. Tapi ya... jadi ngobrol."
"Ngobrol doang?" Arief menyipitkan mata, bibirnya menyunggingkan senyum curiga.
"Pelukan juga dikit." Hermansyah tertawa kecil.
"Serius, Man!" ucap Arief dan Kamal berbarengan, mata mereka membulat.
"Hahaha... becanda. Cuma ngobrol, tapi ngobrol serius. Dia orangnya beda."
Sore tadi, Hermansyah berdiri di depan rumah sederhana bercat biru yang sudah mulai mengelupas. Ningsih membukakan pintu. Rambutnya diikat asal, ada sisa bedak tipis di wajahnya yang lelah namun tetap terlihat bersih. Ia tersenyum, sebuah senyum yang tidak dibuat-buat, namun terasa hati-hati.
"Bang Herman ya?" tanyanya, sambil menyeka tangan yang basah ke kain serbet.
"Iya, katanya keran airnya rusak?"
"Iya, Bang. Keran di dapur," jawab Ningsih sambil menunjuk ke arah belakang, lalu mempersilakan Hermansyah masuk dengan gestur sopan. Di dalam, suasana rumah terasa hangat meski sederhana. Aroma teh melati tercium samar. Wulan, adik Ningsih, sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan ponsel.
Hermansyah memperbaiki keran tersebut dengan cekatan. Namun, yang membuatnya betah bukan pekerjaan itu melainkan obrolan setelahnya.
"Abang sering bantu-bantu benerin begini?" tanya Ningsih sambil menyuguhkan segelas teh hangat. Ia duduk di kursi kayu seberang Hermansyah, merapikan daster bagian lututnya dengan canggung.
"Lumayan sering. Daripada bengong di rumah," jawab Hermansyah.
Wulan ikut nimbrung tanpa mengalihkan mata dari ponsel, "Mbak ini jarang ngobrol sama orang luar, Bang. Makanya sekarang kayaknya senang banget. Apalagi kalau ada Devi, teman akrabnya, beuh... Bang Herman pasti langsung diinterogasi abis-abisan."
Ningsih tersenyum tipis, matanya melirik adiknya dengan sayang sekaligus malu. "Bukan jarang, Wulan. Cuma... ya, belum nemu aja yang enak diajak ngobrol."
Baca juga: Di Balik Romantisme Yang Hilang
Hermansyah menatap Ningsih sekilas, merasakan ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kalimat biasa. Ada gurat ketabahan di mata wanita itu.
Balik ke tongkrongan, Hermansyah mengembuskan asap rokok panjang ke udara.
"Dia kuat, tahu nggak," kata Hermansyah pelan, suaranya sedikit memberat. "Ngelewatin semuanya sendirian. Tapi tetap ramah, tetap hangat."
Arief mengangguk pelan, mulai memahami arah pembicaraan temannya. "Lu jadi suka?"
Hermansyah tidak langsung menjawab. Ia memainkan korek api di tangannya, memutar-mutarnya di atas meja. "Gue cuma ngerasa... dia pantas dapat cerita yang lebih baik," katanya akhirnya.
Kamal tersenyum miring. "Hati-hati, Man. Kadang niat baik bisa jadi perasaan beneran. Lu siap?"
"Emangnya salah?" Hermansyah balik bertanya, menatap Kamal lurus-lurus.
Tak ada yang langsung menjawab. Suara motor lewat memecah keheningan sesaat. Arief menepuk bahu Hermansyah pelan. "Nggak salah. Cuma… jangan setengah-setengah. Luka orang kayak dia itu dalam, Man. Lagian, biasanya lu kan cuma main-main doang."
Malam itu obrolan mereka berlanjut seperti biasa, tapi pikiran Hermansyah tidak benar-benar ada di sana. Bayangan Ningsih, rumah kecil bercat biru, dan cara wanita itu menyelipkan rambut ke belakang telinga saat tersenyum terus terulang di kepalanya.
Hari-hari berikutnya, Hermansyah punya alasan baru untuk sering melewati gang itu. Kadang cuma mampir sebentar, kadang membantu hal-hal kecil, mengganti lampu yang mati, membetulkan engsel pintu yang berderit, atau sekadar memanggul galon air.
Suatu sore, ketika hujan turun deras seperti ditumpahkan dari langit, Hermansyah berteduh di rumah Ningsih. Wulan sedang keluar, dan suasana terasa lebih sepi, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam atap.
"Makasih ya, Bang. Jadi sering direpotin," kata Ningsih sambil meletakkan dua cangkir kopi di meja. Uapnya mengepul, menghangatkan ruangan yang mendadak dingin.
"Nggak apa-apa. Abang juga senang kok direpotin," jawab Hermansyah jujur, matanya menatap Ningsih tanpa beralih.
Ningsih menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil sambil menunduk. "Bang Herman ini aneh."
"Aneh? Aneh kenapa?"
"Baik… tapi kayak lagi nyari sesuatu."
Hermansyah terdiam. Kalimat itu terasa tepat, seolah Ningsih bisa melihat celah di hatinya yang bahkan dia sendiri belum pahami sepenuhnya.
"Mungkin abang lagi nyari tempat pulang," katanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan.
Suasana hening beberapa detik. Ningsih tidak menjawab, tapi tangannya yang memegang cangkir tampak sedikit bergetar.
Beberapa hari kemudian, sosok yang pernah disebut Wulan muncul. Devi datang berkunjung. Dia teman dekat Ningsih sejak lama, orangnya ceplas-ceplos dan sering bicara sambil menggerakkan tangan.
Saat Hermansyah datang sore itu, Devi langsung menyikut lengan Ningsih dengan tatapan menggoda.
"Ini yang sering kamu ceritain itu?" bisiknya, tapi volumenya sengaja dikencangkan agar terdengar.
Ningsih langsung memelototinya, wajahnya memerah. "Apaan sih, Dev. Malu-maluin aja."
Hermansyah cuma tertawa canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kayaknya gue jadi bahan rapat ya."
Baca juga: Lebih Seru Dari Sinetron
Devi menyeringai, melipat tangan di dada. "Santai aja, Bang. Saya cuma memastikan niatnya serius atau cuma lewat kayak tukang bakso?"
Pertanyaan itu membuat suasana sedikit kaku. Wulan yang baru datang pun ikut terdiam, memperhatikan dari ambang pintu. Hermansyah tidak langsung menjawab. Dia melihat ke arah Ningsih, yang kini menunduk sambil memainkan ujung bajunya, seolah tidak ingin ikut campur namun menunggu jawaban.
"Saya nggak suka janji kosong," lanjut Devi tegas.
Hermansyah menarik napas pelan, menatap Devi lalu beralih ke Ningsih. "Gue juga nggak suka."
"Jadi?" tagih Devi.
Hermansyah menatap Ningsih lagi, kali ini lebih lama dan dalam. "Gue nggak tahu ini bakal ke mana. Tapi yang jelas… gue nggak lagi main-main."
Ningsih perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu tidak ada kata, tapi ada getaran yang mulai menemukan jalannya.
Malamnya, Hermansyah kembali ke tongkrongan. Arief dan Kamal sudah menunggu seperti biasa di bawah lampu jalan.
"Gimana?" tanya Kamal langsung saat Hermansyah baru saja menarik kursi.
Hermansyah duduk, tapi kali ini tanpa nyengir nakal. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kayaknya gue jatuh beneran," katanya lirih.
Arief tersenyum tipis, menepuk meja pelan. "Akhirnya."
"Tapi…" Hermansyah menunduk, menatap ujung sepatunya. "Gue takut."
"Takut apa?" tanya Kamal heran.
"Takut nggak cukup baik buat dia. Dia udah banyak menderita, gue takut malah nambahin."
Arief menggeleng. "Semua orang mulai dari situ, Man. Yang penting bukan lu sempurna atau nggak… tapi lu mau tetap ada atau nggak pas badai datang."
Hermansyah terdiam, mencerna kata-kata itu sambil memandangi aspal jalanan.
Beberapa minggu berlalu. Hubungan mereka semakin dekat, tapi tetap berjalan pelan, seolah mereka sedang menyusun kepingan puzzle yang rapuh. Tidak ada yang terburu-buru.
Suatu malam, Hermansyah mengantar Ningsih pulang setelah mereka makan bakmi sederhana di warung pinggir jalan. Di depan pintu rumah biru itu, mereka berhenti.
"Bang," ucap Ningsih pelan, suaranya sedikit bergetar, "aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama. Aku takut kecewa lagi."
Hermansyah mengangguk paham. Ia mengambil satu langkah mendekat. "Abang juga nggak mau jadi orang yang nyakitin Ningsih."
Ningsih tersenyum getir. "Kalau suatu saat Abang berubah gimana? Kalau Abang bosan?"
Hermansyah berpikir sejenak, lalu menjawab dengan nada rendah namun mantap, "Ya Ningsih ingetin abang. Atau kalau abang emang udah bandel banget dan nggak bisa dibilangin… tinggalin aja."
Ningsih tertawa kecil, tawa yang lepas dan tanpa beban untuk pertama kalinya. "Jujur banget ya."
"Daripada abang sok meyakinkan pakai sumpah tapi akhirnya bohong," kata Hermansyah sambil tersenyum tipis.
Hening sejenak di bawah temaram lampu teras. Lalu, untuk pertama kalinya, Ningsih mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Hermansyah. Jari-jarinya terasa dingin namun genggamannya erat.
"Ya udah… kita coba pelan-pelan ya."
Hermansyah mengangguk, membalas genggaman itu. "Pelan-pelan, tapi pasti."
Hari-hari setelah malam itu terasa berbeda. Hermansyah tidak lagi datang ke rumah Ningsih hanya untuk mampir. Setiap langkahnya terasa lebih sadar, lebih hati-hati.
Baca juga: Hati Yang Lelah Menanti
Suatu sore, Hermansyah datang dan melihat Wulan sedang duduk di teras sambil mengunyah gorengan.
"Bang Herman makin rajin aja ke sini," goda Wulan sambil menaikkan alisnya.
"Lagi investasi, Lan," jawab Hermansyah santai sambil memarkir motor.
"Investasi apa? Saham?"
Hermansyah melirik ke arah pintu dalam di mana bayangan Ningsih terlihat sedang merapikan meja. "Investasi masa depan."
Wulan tertawa keras sampai tersedak. "Wah, berani juga ngomong gitu!"
Di dalam, Ningsih mendengar itu. Ia tidak keluar, tapi tangannya yang sedang memegang kain lap terhenti, dan senyumnya diam-diam mengembang lebar.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Dunia nyata selalu punya cara untuk menguji.
Suatu malam, Hermansyah datang terlambat. Wajahnya terlihat sangat lelah, ada lingkaran hitam di matanya, dan kemejanya sedikit kusut. Ningsih yang membuka pintu langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari cara Hermansyah berdiri.
"Abang kenapa, Bang?” tanyanya khawatir.
"Biasa, kerjaan di lapangan lagi kacau," jawab Hermansyah singkat, suaranya datar.
"Capek? Mau aku buatkan minum?"
"Iya."
Biasanya mereka akan duduk dan ngobrol panjang sampai larut. Tapi malam itu, Hermansyah lebih banyak diam, matanya kosong menatap lantai. Ningsih mencoba mengajak bicara soal hal-hal ringan, tapi Hermansyah hanya menjawab dengan "iya", "nggak", atau gumaman pendek.
Akhirnya, Ningsih berhenti bicara. Ia meletakkan gelasnya dengan denting yang sedikit keras. "Kalau Abang lagi nggak pengen di sini… nggak apa-apa, Bang. Pulang aja."
Hermansyah langsung menoleh, terkejut. "Bukan gitu maksud abang..."
"Apa?" potong Ningsih, "dari tadi aku kayak ngomong sama tembok."
Hermansyah menghela napas panjang, mengusap rambutnya dengan kasar. "Abang lagi pusing, Sih. Banyak pikiran soal proyek yang mandek. Bukan karena Ningsih."
Ningsih menatapnya dalam, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku pernah ada di posisi ‘bukan karena kamu’ itu, Bang. Mantan suamiku dulu juga bilang begitu, sampai akhirnya dia benar-benar pergi. Aku tetap kena dampaknya."
Kalimat itu menampar Hermansyah tanpa suara. Ia terdiam, tak mampu membela diri. Malam itu, untuk pertama kalinya, Hermansyah pulang dengan rasa sesak dan tanpa senyum di bibir.
Ia kembali ke tongkrongan. Arief dan Kamal masih di sana, setia dengan kopi hitam mereka.
"Wajah lu kayak abis ditilang perasaan, Man," celetuk Kamal melihat wajah Hermansyah yang ditekuk.
"Gue bikin dia kepikiran. Gue... gue malah bersikap kayak orang yang dia takuti," jawab Hermansyah pelan.
Arief langsung paham situasi itu. "Lu mulai narik diri karena beban lu sendiri?”
Herman mengangguk lemah.
"Kenapa?"
"Takut," jawabnya jujur. "Kalau gue makin deket dan gue lagi dalam kondisi hancur kayak sekarang… gue takut malah nyakitin dia nantinya. Gue nggak mau dia liat sisi buruk gue."
Kamal menggelengkan kepala. "Klasik banget alasan lu."
Arief menambahkan dengan nada serius, "Lu kira dengan ngejauh sedikit sekarang, lu nggak nyakitin dia? Lu justru salah, Man. Yang bikin orang kayak Ningsih sakit itu bukan ditinggal… tapi dibikin bingung tanpa kejelasan."
Baca juga: Cinta Dalam Bayang-Bayang Keraguan
Kalimat itu menancap dalam di kepala Hermansyah, membuatnya tidak bisa tidur sepanjang malam.
Keesokan harinya, Hermansyah berdiri lama di depan rumah bercat biru itu. Ia tidak langsung mengetuk, hanya menatap pagar itu dengan perasaan campur aduk. Akhirnya, dengan sisa keberanian, ia mengetuk pintu.
Ningsih yang membuka pintu. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya bengkak, jelas habis menangis.
"Bang."
"Hai."
Suasana terasa sangat canggung, hanya suara kicau burung di pohon mangga depan rumah yang terdengar.
"Boleh masuk?" tanya Hermansyah ragu.
Ningsih mengangguk pelan, memberinya jalan. Mereka duduk di kursi kayu yang sama seperti biasanya. Tidak ada teh, tidak ada basa-basi gorengan.
Hermansyah langsung bicara, suaranya bergetar. "Abang kemarin salah, Sih. Abang minta maaf."
Ningsih tidak menjawab, ia hanya menatap tangannya yang terpangku di paha.
"Abang pikir dengan nahan diri dan nggak mau cerita beban abang, abang bisa jaga Ningsih tetap aman dari masalah abang. Tapi ternyata abang malah egois. Abang malah bikin Ningsih ngerasa sendirian lagi."
Ningsih menunduk sedikit, setetes air mata jatuh. "Aku cuma nggak mau nebak-nebak perasaan orang lagi, Bang. Rasanya capek banget."
Hermansyah mengangguk, ia memberanikan diri meraih tangan Ningsih. "Dan abang nggak mau Ningsih harus nebak-nebak abang. Abang janji."
Hening sejenak. Hermansyah menarik napas dalam.
"Abang nggak janji bakal selalu kuat, Sih. Ada kalanya abang bakal berantakan kayak kemarin," lanjut Hermansyah. "Tapi abang janji… abang nggak akan ngilang tanpa penjelasan. Kalau abang lagi pusing, abang bakal bilang abang pusing, bukan malah diemin Ningsih.”
Perlahan, Ningsih mengangkat wajahnya, menatap Hermansyah dengan mata yang masih basah. "Dan kalau Abang capek?" tanyanya pelan.
"Ya abang bilang abang capek. Kita capek bareng-bareng. Tapi abang nggak akan jadi orang asing buat Ningsih."
Ningsih menatapnya lama, seolah sedang membaca kejujuran di mata Hermansyah. "Bang…" katanya pelan, "aku nggak butuh Abang sempurna. Aku udah pernah punya yang sok sempurna tapi akhirnya bohong."
Hermansyah tersenyum tipis, merasa sedikit lega. "Syukurlah, karena abang emang jauh dari kata sempurna."
Ningsih ikut tersenyum kecil, menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Aku cuma butuh Abang tetap jadi Abang… tapi jangan pergi diam-diam."
Hermansyah mengangguk mantap. "Deal."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak perselisihan mereka, Ningsih kembali menggenggam tangan Hermansyah. Tidak erat, tapi cukup hangat untuk bilang: kita masih di sini.
Dan kali ini, Hermansyah sadar, ceritanya bukan lagi tentang cara memulai. Tapi tentang bagaimana belajar untuk tetap bertahan, meski badai sesekali mengguncang atap rumah biru mereka.
Tamat
Baca juga: Kita Dalam Sebuah Cerita
Komentar
Posting Komentar