Anomali Tulisan Tangan Yuli - Cerpen

Anomali Tulisan Tangan Yuli - Cerpen




anomali tulisan tangan yuli - cerpen


Lisa adalah tipe pemimpin yang memuja detail; baginya, sebuah acara adalah karya seni yang tak boleh cacat. Itulah mengapa ia jatuh cinta pada naskah yang dikirimkan oleh seseorang bernama Yuli. Konsep itu tidak diketik, melainkan ditulis tangan di atas kertas linen. Garis-garis hurufnya meliuk indah, rapi, dan memiliki ritme yang menenangkan. Jenis tulisan mencerminkan ketelatenan seorang perempuan perfeksionis.

"Angga, lihat transisi adegan ini," ujar Lisa sambil jarinya menelusuri baris-baris tulisan di atas kertas itu, di dalam ruang senat mahasiswa. "Yuli ini punya sensitivitas tinggi. Dia mengusulkan pencahayaan amber lembut untuk pembukaan. Hanya perempuan yang punya perasaan sehalus ini dalam memikirkan kenyamanan mata penonton."

Angga yang sedang asyik menyesap kopi hampir tersedak. Ia melirik kertas itu. Ia tahu benar bahwa Yuli yang mengirimkan konsep itu adalah sahabatnya. Tulisan indah itu hanyalah hasil didikan keras sang kakek yang seorang kaligrafer.

"Mungkin saja, Lis," jawab Angga pendek sambil menyembunyikan senyum misterius. "Tapi jangan terlalu berekspektasi tinggi soal penampilannya. Dia orangnya sangat praktis."

Ketertarikan Lisa tidak berhenti di ruang senat saja. Beberapa hari kemudian, ia kembali membahas soal tulisan tangan itu kepada Angga saat mereka sedang menunggu kelas. Entah mengapa, berbicara dengan Angga selalu memberi Lisa rasa tenang, meski ia tak pernah benar-benar memikirkannya.

"Ga, aku sudah minta nomor Yuli ke sekretariat," kata Lisa sambil menimang ponselnya. "Aku rasa konsep panggungnya perlu kita pertajam lagi. Tapi aku agak sungkan kalau langsung telepon, takut mengganggu waktu belajarnya."

Angga menaikkan alisnya. "Kok ke sekretariat? Kan aku punya nomornya."

"Tadi aku tanya, kamu malah jawabnya asal-asalan sambil main game. Katanya, 'Cari saja di arsip surat masuk'. Ya sudah, aku minta ke sekretariat sekalian ambil berkas lain," gerutu Lisa.

Angga hanya nyengir tanpa rasa bersalah. Sebenarnya, ia sengaja. Ia tidak ingin Lisa menginterogasinya lebih jauh soal siapa Yuli sebenarnya sebelum waktunya tiba. "Ya sudah, sudah dapat, kan? Chat saja, Lis. Dia nggak gigit, kok. Tapi ya itu... jangan kaget kalau dia orangnya blak-blakan."

Lisa mengangguk pelan, jemarinya mulai mengetik sebuah pesan perkenalan dan komunikasi pun berlanjut ke ranah digital. Di sinilah imajinasi Lisa semakin liar. Yuli adalah seorang yang hemat kata, namun kehematan itu justru diterjemahkan Lisa sebagai sifat malu-malu atau elegan.

"Yul, untuk dekorasi lobi, apakah menurutmu bunga sedap malam terlalu berlebihan?" tanya Lisa suatu kali. "Simpel saja, Mbak. Yang penting tidak mengganggu jalan," balas Yuli singkat.

Lisa tersenyum di depan layar ponselnya. "Simpel saja," gumamnya. Ia membayangkan Yuli adalah sosok mahasiswi cantik berkacamata dengan rambut diikat rapi. Lisa bahkan mulai sering curhat soal beban kerjanya, dan Yuli selalu membalas dengan kalimat penenang yang logis, bagi Lisa terasa sangat suportif secara emosional.

"Aku merasa punya chemistry yang kuat dengan Yuli, Ga," curhat Lisa suatu malam. "Dia pendengar yang baik. Aku ingin dia jadi pendampingku saat menyambut tamu VIP nanti. Kami akan jadi duet maut."


Angga hanya mengangguk-angguk. "Ya, dia memang sangat bisa diandalkan. Tapi dia sangat sibuk, jangan dipaksa muncul kalau belum waktunya."

Tak jauh dari sana, Kamal, koordinator lapangan yang diam-diam menyukai Lisa mendengar percakapan itu sambil merengut. Baginya, nama Yuli adalah gangguan yang membuatnya gerah dan merasa tersaingi setiap kali Lisa menyebutnya.

**********

Ketegangan memuncak saat hari simulasi tiba. Lisa sudah menyiapkan segalanya. Ia bahkan memesan sebuah syal sutra kecil sebagai kado perkenalan untuk Yuli. Di kepalanya, momen pertemuan ini akan menjadi awal dari persahabatan yang manis.

"Yuli akan datang jam empat," umum Lisa pada staf lain dengan nada bersemangat. "Pastikan semua rapi. Kita akan kedatangan otak di balik konsep besar ini."

Lisa berdiri di depan pintu aula, sesekali merapikan poninya. Ia memegang seragam panitia ukuran small yang sudah disetrika licin. Aroma parfum floral yang ia semprotkan ke ruangan mulai memenuhi udara, menciptakan suasana yang menurutnya akan disukai oleh si lembut Yuli.

Tepat pukul empat, suara knalpot motor yang menggelegar berhenti di depan aula. Suaranya begitu kasar, merusak keheningan sore. Lisa mengerutkan kening, merasa terganggu. Tak lama, langkah kaki yang berat mendekat.

Seorang pria berbadan tegap dengan tinggi proporsional muncul di ambang pintu. Jaket denimnya penuh noda oli tipis di bagian siku, dan ia menenteng helm full-face. Kulitnya kecokelatan terpapar matahari, dengan rahang tegas yang ditumbuhi bayangan tipis jambang.

"Maaf, saya cari Mbak Lisa. Katanya ada fitting baju?" Suara itu bukan suara lembut yang dibayangkan Lisa. Itu adalah suara bariton yang dalam.

Lisa terpaku. Seragam panitia di tangannya hampir jatuh. "Mas... salah ruangan ya? Kami sedang menunggu Yuli."

Pria itu menghela napas panjang, sebuah reaksi yang menunjukkan bahwa ia sudah sering menghadapi situasi ini. Ia merogoh dompet, mengeluarkan Kartu Mahasiswa, dan menunjukkannya tepat di depan wajah Lisa yang membatu.

Nama: Yuliansyah | Fakultas: Teknik

"Saya Yuli, Mbak. Maaf kalau penampilan saya tidak sesuai dengan tulisan tangan saya," ujar Yuli datar, namun ada nada geli yang tertahan di matanya.

Saat menatap wajah Lisa yang membatu, Yuli sebenarnya sedang menahan tawa mengingat dua minggu terakhir yang ia lalui. Baginya, berkomunikasi dengan Lisa adalah pengalaman yang ajaib. Sebagai mahasiswa Teknik Mesin yang lebih sering bicara dengan kunci pas ring daripada manusia, ia sempat merasa Lisa adalah atasan yang sangat perhatian meski agak aneh.

Ia ingat sempat bertanya pada Angga di bengkel kampus, "Ga, ini ketua panitia emang sedetail ini ya kalau nanya kabar? Dia tanya aku pakai sabun cuci muka apa biar tetap segar saat rapat. Aku jawab saja pakai sabun batang yang ada di kamar mandi."

Yuli tidak pernah bermaksud menipu. Ia hanya berpikir bahwa Lisa adalah tipe pemimpin modern yang sangat peduli pada kesejahteraan mental bawahannya. Saat Lisa curhat soal "patah hati karena drama persahabatan," Yuli membalasnya dengan logika mesin yang ia pahami: "Kalau ada bagian yang aus dan bikin berisik, lebih baik diganti atau dilubrikasi, Mbak. Jangan dipaksa jalan nanti mesinnya jebol."


Ia tak menyangka di seberang sana, metafora mesin itu dianggap Lisa sebagai bahasa kalbu yang sangat puitis.

Lisa masih terpaku, sementara wajahnya mulai berubah merah padam hingga ke telinga. Ia menoleh ke arah Angga yang sudah jatuh terduduk di kursi sambil menutup wajah dengan buku, tubuhnya berguncang hebat karena tertawa tanpa suara. Lisa kembali menatap Yuli, lalu menatap baju ukuran Small di tangannya. Baju itu mungkin hanya akan muat di satu lengan pria tegap ini.

"Jadi... selama ini aku curhat soal masalah kulit dan perasaan ke... seorang laki-laki?" batin Lisa menjerit.

Yuli hanya berdiri dengan tenang. "Jadi, Mbak, di mana saya bisa mencoba seragamnya? Tapi sepertinya yang Mbak pegang itu akan sobek kalau saya pakai."

Suasana belum benar-benar reda saat Kamal, koordinator lapangan yang sudah lama menaruh hati pada Lisa, masuk dengan wajah masam, tangan kanannya memegang segelas kopi. Sejak awal kepanitiaan, Kamal merasa selalu berada satu langkah di belakang Angga dan itu membuatnya mudah tersulut.

Selama berminggu-minggu, telinganya panas mendengar Lisa memuja-muja sosok bernama Yuli sebagai My creative soulmate.

Kamal melangkah lebar menuju kerumunan. "Mana orangnya, Lis? Mana si Soulmate itu? Aku mau lihat sehebat apa dia sampai kamu bilang selera kami semua di sini nggak ada apa-apanya."

Kamal berhenti tepat di samping Lisa, menyisir ruangan mencari mahasiswi modis yang ia bayangkan sebagai rivalnya. Saat matanya bertabrakan dengan Yuli, Kamal justru mendengus. "Mas, jangan menghalangi jalan. Saya lagi cari staf kreatif namanya Yuli."

Yuli bergeming. Ia menatap Kamal dari ketinggian bahunya. "Maaf, Mas, saya Yuli. Ada masalah?" ucapnya.

Kopi di tangan Kamal hampir tumpah. "Ini... creative soulmate kamu, Lis?" tanya Kamal dengan suara yang tiba-tiba menciut.

Rasa cemburu Kamal tidak padam; justru makin membara karena kini ia merasa terancam secara fisik. "Oh, jadi ini alasannya kamu sering senyum-senyum depan HP, Lis? Ternyata jiwa kreatif itu punya bahu selebar ini, ya? Jadi selama ini kamu main belakang?"

"Kamal, cukup!" sela Lisa, tapi air matanya sudah mulai menggenang karena malu.

Di sudut ruangan, Angga akhirnya bangkit. Tawanya hilang, digantikan oleh sorot mata yang tegas. Ia melepas jaket almamaternya dan menyampirkannya ke bahu Lisa yang mulai bergetar.

"Kamal, keluar. Sekarang," potong Angga tenang, namun tegas. "Jangan buat malu diri sendiri dengan cemburu pada orang yang bahkan nggak tahu apa-apa soal perasaanmu. Urus bagian tenda sana."

Kamal yang sadar telah kehilangan muka akhirnya pergi dengan langkah gontai. Aula menjadi hening sesaat.

"Makasih, Yul," bisik Lisa pelan, suaranya masih agak bergetar. "Maaf ya, gara-gara kesalahpahaman saya, kamu jadi terlibat urusan sama Kamal."

Yuli hanya mengangkat bahu, wajahnya kembali datar namun santai. "Nggak masalah, Mbak. Lagian, soal tawaran maskeran bareng itu... kalau Mbak masih mau, saya punya rekomendasi sabun cuci muka yang bagus buat bersihin bekas oli."


Lisa akhirnya tidak bisa menahan tawa di tengah rasa malunya. "Yul, panggil Lisa saja. Nggak usah pakai 'Mbak'. Dan tolong, demi apa pun, lupakan semua chat saya soal curhat itu."

"Siap, Lis. Tapi konsep panggung tetap saya yang pegang, kan?"

"Tentu," Lisa tersenyum, kali ini tulus tanpa ada bayangan sosok gadis di pikirannya. "Ternyata punya soulmate yang bisa angkat mesin genset sendirian nggak buruk juga."

Yuli mengangguk mantap lalu pamit menuju belakang panggung untuk mengecek kelistrikan. Kini, hanya tersisa Lisa dan Angga di tengah aula yang mulai sepi.

Lisa mematung sejenak, membiarkan suhu di pipinya perlahan turun sementara ia menelan kenyataan yang baru saja menghantamnya. Begitu Yuli menghilang ke belakang panggung, ia mengembuskan napas panjang dan menoleh ke arah Angga dengan sisa-sisa rasa malu yang kini berubah menjadi rasa pasrah.

"Aku benar-benar bodoh, ya?" bisik Lisa setelah hanya tersisa mereka berdua. "Aku jatuh cinta pada tulisan tangan di atas kertas linen sampai lupa realita."

Angga terkekeh, lalu menarik sebuah kursi untuk Lisa. "Kamu nggak bodoh, Lis. Kamu cuma terlalu mencintai keindahan. Tapi kamu terlalu sibuk melihat kertas sampai lupa melihat siapa yang selama ini dengerin kamu marah-marah soal vendor setiap jam satu pagi."

Lisa tertegun. Ia menatap Angga yang kini duduk di depannya, pria yang selalu ada namun sering ia abaikan demi bayangan puitis Yuli.

"Ga, kamu sengaja kan nggak kasih tahu aku?" tanya Lisa menuduh.

Angga tersenyum tulus. "Aku butuh momen ini supaya kamu sadar. Bahwa yang romantis itu bukan cuma kata-kata di atas kertas. Terkadang, yang paling romantis adalah orang yang tetap ada di sampingmu saat kamu sedang terlihat paling konyol sedunia."

Lisa tersenyum kecut memandangi syal di tangannya. Ia tersadar telah jatuh cinta pada bayangan yang ia ciptakan sendiri. Yuli yang ia kagumi memang ada, hanya saja bukan Yuli yang itu, bukan gadis puitis khayalannya, melainkan pria mesin yang baru saja mematahkan ekspektasinya.

Lisa akhirnya tertawa kecil. Ia melepas syal sutra kecil di tangannya, lalu dengan iseng mengalungkannya ke leher Angga.

"Nih, buat kamu. Anggap saja tanda terima kasih karena sudah jadi satu-satunya orang yang nggak bikin aku makin pusing hari ini."

Mereka berdua duduk di aula yang mulai gelap, di bawah lampu panggung yang mulai menyala berwarna amber, warna yang dipilih oleh Yuli, namun momen yang akhirnya dimiliki oleh Lisa dan Angga.




Tamat

Komentar

  1. Ohh jadi Si Lisa punya anggapan si Hermaniya itu cewek, eehh salah maksud gue Yuliansyah Fakultas Teknik.🤣🤣🤣

    Iyalah gimana nggak kecele bilangnya Yuli... nggak tahunya Yuliansyah.🤣🤣🤣

    Kaya Egistiyanah...eehh nggak tahunya Agus nama aslinya.🤣🤣🤣

    Berarti 'Tak Seimbang' Benar kata lagu Bang Iwan Fals & Momo Geisha.😁😂😂

    BalasHapus
  2. Jadi salah duga toh, di kira Yuli itu cewek yah, ternyata Juliansyah😁mana udah curhat segala lagi, syukur bukan curhat pribadi yang gimana-gimana, bisa bisa berabe tuh😁, ku salah menduga... Eh tapi bukan yang kalo siang Yanti kalo malem jadi Yanto pan 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan mbak Hens, Yang benar Malam Hermini kalau siang Herman.🤣🤣🤣

      Hapus

Posting Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Titik Koma Di Fajar Pertama - Cerpen

Batas Yang Tak Terlihat - Cerpen

Jeda Setelah Luka (#2) - Cerbung

Bukan Cinta Yang Sama (#2) - Cerbung