Satu Detik Sebelum Runtuh
Satu Detik Sebelum Runtuh

Hujan malam itu tidak sekadar turun; ia seperti mengurung dunia. Di lantai lima belas sebuah apartemen, suara rintiknya yang menghantam jendela bukan lagi latar belakang, melainkan dentum pelan yang memaksa siapa pun untuk berhenti bicara.
Ella berdiri mematung di sana. Ujung jarinya menempel pada permukaan kaca yang dingin, mengikuti alur air yang jatuh acak. Di pantulan kaca, wajahnya tampak kabur, terbelah oleh garis-garis air, seperti seseorang yang sedang mencoba mengenali dirinya sendiri namun gagal.
Sudah seminggu, sejak ciuman terlarang di bawah lampu taman itu. Namun bagi Ella, waktu telah kehilangan detaknya. Ia terjebak di sana, di antara dinginnya malam dan napas yang tertahan.
"El..."
Suara Ihsan memecah hening. Lembut, tapi terselip nada berat di sana. Ihsan tidak bergerak mendekat; ia hanya berdiri di dekat sofa, memperhatikan punggung Ella.
"Aku di sini," lanjut Ihsan lebih pelan. "Tapi rasanya kamu... semakin jauh."
Ella tidak langsung menoleh. Ia benci betapa mudahnya Ihsan membacanya. Ihsan tidak pernah butuh penjelasan panjang lebar; ia hanya butuh melihat cara Ella berdiri atau menghindari tatapannya.
"Aku tidak ke mana-mana, Ihsan," jawab Ella. Suaranya datar, sebuah kebohongan yang ia sampaikan pada dirinya sendiri.
Ihsan akhirnya berdiri dan melangkah. Ia berhenti tepat di belakang Ella, cukup dekat untuk mencium aroma parfumnya, namun cukup jauh untuk tidak menyentuhnya. Jarak di antara mereka yang biasanya terasa hangat, kini terasa seperti jurang yang baru saja terbuka.
"Kalau kamu ada di sini, kenapa aku merasa sedang bicara dengan bayangan?" Ihsan bertanya pelan. "Apa aku melakukan kesalahan?"
Ella memutar tubuhnya. Ia menatap mata Ihsan, mata yang selalu menawarkan kenyamanan dan penuh rencana.
"Tidak. Kamu tidak pernah salah, Ihsan. Itu masalahnya. Kamu selalu melakukan segalanya dengan benar."
Ihsan tersenyum tipis, senyum yang biasanya ia berikan saat tahu ada sesuatu yang disembunyikan Ella. "Kalau bukan aku, lalu apa? Apa di kepalamu ada sesuatu yang sedang menyiksa dirimu, El. Katakan padaku."
Ella menarik napas panjang. Paru-parunya terasa sesak. "Pernah tidak kamu merasa berada di tempat yang paling benar, tapi hatimu justru bersikeras ingin tersesat?"
Ihsan mengernyit. "Itu bukan tersesat. Itu namanya melarikan diri dari sesuatu yang belum berani kamu hadapi."
"Dan bagaimana kalau sesuatu itu adalah kesalahan yang sudah terlanjur terjadi?"
Ihsan terdiam. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh pipi Ella. Sentuhan itu penuh perlindungan. "Kalau itu benar-benar kesalahan yang tidak berarti, kau tidak akan terus memikirkannya seperti ini. Rasa bersalahmu... itu punya alasan, El."
Sentuhan Ihsan seharusnya menenangkan. Namun, bagi Ella, itu terasa seperti pengingat akan semua hal baik yang akan ia hancurkan. Di saat yang sama, ia merasakan rindu yang keliru. Rindu pada sesuatu yang liar dan tidak teratur.
Baca juga: Batas Yang Tak Terlihat
Tepat saat itu, terdengar bunyi klik pelan dari pintu depan yang memang tidak terkunci rapat.
Andra berdiri di ambang pintu dengan jaket yang sedikit basah. Matanya langsung tertuju pada Ella. Ada intensitas yang tidak bisa disembunyikan. Ihsan menegang, tangannya terlepas dari pipi Ella.
"Aku mengganggu?" tanya Andra tanpa nada menyesal.
"Kau tidak pernah benar-benar peduli pada jawaban pertanyaan itu, kan?" balas Ihsan dingin.
Andra hanya menaikkan bahu, lalu melangkah masuk. Matanya masih menatap Ella, menelanjangi semua keraguan yang sedang perempuan itu rasakan.
"Berhenti, Andra," bisik Ella.
"Berhenti apa?"
"Berhenti menatapku seolah malam itu belum berakhir."
Kata-kata Ella menggantung di udara seperti asap. Ihsan menoleh ke arah Ella, lalu ke arah Andra. Rahangnya mengeras.
"Apa maksudnya, El?" suara Ihsan kini berat karena emosi yang mulai tersulut.
Ella menunduk, meremas jemarinya sendiri. Namun Andra justru maju selangkah lagi. "Dia tahu maksudnya, Ihsan. Kami berdua tahu," ucap Andra.
"Diam kau, Andra!" bentak Ihsan. Ia kembali menatap Ella. "El, tatap aku. Katakan apa yang sesungguhnya telah terjadi?"
Ella mencoba mengangkat wajah, tapi matanya berair. Ia ingin bicara, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Kebungkamannya adalah pengakuan paling jujur yang pernah ia berikan.
"Sejak kapan?" tanya Ihsan. Suaranya pecah. Tidak ada kemarahan yang meledak, hanya rasa kecewa yang dalam.
"Aku tidak merencanakannya," Ella akhirnya bersuara, serak. "Aku bahkan mencoba membencinya... tapi aku tidak bisa."
Ihsan tertawa pendek. Tawa yang pahit. "Berselingkuh? Di belakangku?"
Ella tidak menjawab.
Ihsan beralih pada Andra. "Kenapa? Apa yang kau berikan yang tidak bisa kuberikan?"
Andra terdiam sejenak. Ia menatap Ella. "Karena bersamamu, dia mencoba menjadi versi dirinya yang paling sempurna. Tapi bersamaku, dia tidak perlu berpura-pura bahwa dia tidak terluka."
Kalimat itu menghantam telak. Ihsan mundur selangkah, seolah baru saja dipukul di dada.
"Kalian berdua salah," Ella memotong, suaranya naik satu nada. "Aku tidak tahu siapa diriku saat ini."
Ia menatap Ihsan dengan tatapan memohon. "Aku mencintaimu, Ihsan. Aku mencintai kenyamanan yang kamu beri." Lalu ia menatap Andra, dengan sorot mata yang lebih gelap. "Tapi aku tidak bisa mematikan rasa berisik di kepalaku setiap kali aku melihatmu."
Kejujuran itu telanjang dan menyakitkan.
Baca juga: Aroma Yang Dipilih Hutan
Ihsan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dirinya di atas lantai yang terasa seperti goyang. "Jadi aku ini apa? Tempat kamu pulang saat kamu lelah bermain-main dengan bahaya?"
"Bukan begitu..."
"Jangan kembali padaku hanya karena kau merasa bersalah," potong Ihsan. "Aku bukan pelabuhan darurat. Aku ingin menjadi pilihan pertama, atau tidak sama sekali."
Andra hanya berdiri diam. Ia mungkin menang dalam argumen ini, tapi melihat Ella sehancur itu membuatnya menyadari bahwa kemenangan ini tidak memberikan rasa puas yang ia bayangkan.
Ella berjalan menuju pintu balkon, membukanya lebar-lebar. Ia lebih memilih dihantam air hujan daripada harus terus berdiri di bawah tatapan mereka yang menuntut jawaban. Hujan langsung membasahi pakaiannya, memberikan rasa dingin yang nyata. Ia tidak peduli.
"Aku tidak tahu bagaimana cara mencintai dengan benar," gumam Ella, lebih pada dirinya sendiri. "Tapi aku tahu... aku tidak bisa kembali menjadi Ella yang dulu, yang tidak pernah merasakan ini."
Ia menoleh sedikit, memandang kedua pria itu dengan sisa keberaniannya.
"Kalau mencintai dengan cara ini adalah kesalahan, maka biarkan aku hancur sekalian. Aku lelah mencoba memperbaiki sesuatu yang memang sudah retak sejak awal."
Hujan semakin menderu, menelan sisa kata-kata yang mungkin ingin mereka ucapkan. Di ruangan itu, tidak ada yang menang. Hanya ada tiga orang yang menyadari bahwa untuk merasakan sesuatu yang benar-benar hidup, terkadang mereka harus rela kehilangan segalanya
Ihsan adalah orang pertama yang bergerak. Ia tidak mendekati Ella, jarak itu sudah ia ikhlaskan sejak tadi. Ia mengambil kunci mobilnya di atas meja dengan gerakan yang mekanis, hampir tanpa nyawa.
"Kamu tahu, El," suara Ihsan terdengar hampa, "aku selalu mengira bahwa cinta yang tenang adalah cinta yang cukup. Ternyata bagimu, ketenangan hanyalah nama lain dari rasa bosan."
Ella tidak berbalik. Ia memejamkan mata saat mendengar langkah kaki Ihsan menjauh. Pintu depan tertutup dengan bunyi klik yang pelan bukan bantingan keras yang penuh amarah. Dan itu justru lebih menyakitkan bagi Ella. Kepergian yang tenang adalah bentuk menyerah yang paling mutlak.
Kini, hanya ada Ella, Andra, dan suara hujan.
Andra melangkah mendekat ke arah balkon. Ia tidak mencoba menyentuh Ella. Ia hanya berdiri di sampingnya, membiarkan tempias air membasahi kemeja hitamnya.
"Dia benar," ucap Andra pelan. "Kamu memang bosan dengan ketenangan."
Ella tertawa pedih, bahunya sedikit bergetar. "Dan kamu merasa bangga karena telah mengacaukan semuanya?"
"Aku tidak mengacaukan apa pun yang memang sudah goyah, Ella. Aku hanya menyentuhnya sedikit, dan kamu sendiri yang memilih untuk runtuh."
Ella akhirnya menoleh. Rambutnya lepek, air hujan mengalir dari pelipis ke dagunya. "Kamu egois, Andra. Kamu datang saat aku hampir berhasil meyakinkan diriku bahwa aku bahagia bersama Ihsan."
Baca juga: Kehangatan Yang Terlarang
"Bahagia yang dipaksakan itu melelahkan, El," balas Andra. Ia menatap Ella dengan sorot mata yang sulit diartikan, ada kemenangan di sana, tapi juga ada kegelapan yang sama besarnya. "Kamu mencintainya karena dia 'aman'. Tapi kamu menciumku karena kamu ingin merasa 'ada'. Jangan salahkan aku karena memberimu apa yang sebenarnya kamu cari."
Andra mengulurkan tangan, kali ini benar-benar menyentuh lengan Ella. Kulit Andra terasa hangat, kontras dengan udara malam yang menggigit. Sentuhan itu tidak seperti Ihsan yang protektif; sentuhan Andra terasa seperti undangan menuju kekacauan yang lain.
Ella menarik lengannya pelan. "Lalu sekarang apa? Ihsan pergi. Aku hancur. Kamu menang. Apa itu cukup bagimu?"
Andra terdiam sejenak. "Aku tidak sedang bermain untuk menang atau kalah. Aku hanya ingin tahu seberapa jauh kamu berani melangkah untuk sesuatu yang tidak pasti."
Ia merogoh saku, mengeluarkan sebuah kunci kecil dan meletakkannya di pagar balkon yang basah.
"Itu kunci apartemenku. Tempat yang tidak diketahui Ihsan. Tempat yang tidak punya kenangan tentang siapa kamu seharusnya," kata Andra. "Kalau kamu lelah menjadi 'Ella yang baik', kamu tahu harus ke mana."
Andra berbalik, berjalan menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia berhenti.
"Satu hal lagi," ucapnya tanpa menoleh. "Jangan datang karena kamu merasa tidak punya pilihan. Datanglah karena kamu akhirnya berani mengakui bahwa kamu sama rusaknya denganku."
Lalu, Andra benar-benar pergi.
Ella sendirian sekarang. Di bawah hujan yang mulai mereda, ia menatap kunci kecil di pagar balkon. Kepalanya berdenyut. Di satu sisi, ada rasa rindu yang menyayat pada kehangatan Ihsan yang baru saja hilang. Di sisi lain, ada tarikan magnetis dari kegelapan yang ditawarkan Andra.
Ia meraih kunci itu. Besinya terasa dingin di telapak tangannya.
Dunia tidak pernah memberikan petunjuk yang jelas tentang mana yang benar dan mana yang salah saat hati sudah terbelah. Ella tahu, apa pun langkah yang ia ambil selanjutnya, ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi wanita yang berdiri di depan jendela itu satu jam yang lalu.
Hujan akhirnya berhenti, meninggalkan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan lampu kota yang pecah. Ella masuk ke dalam, menutup pintu balkon, dan membiarkan lantai apartemennya basah oleh sisa-sisa air dari pakaiannya.
Ia mengambil ponselnya. Ada satu pesan dari Ihsan.
"Aku meninggalkan jaketmu di kursi belakang mobil. Aku akan mengirimkannya besok. Maaf aku tidak bisa menjadi apa yang kamu cari."
Ella meremas ponselnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya. Ia terduduk di lantai yang dingin, di antara dua pilihan yang sama-sama menjanjikan luka.
Tamat
Baca juga: Luka Yang Tak Layak Dicintai
Komentar
Posting Komentar