Postingan

Sketsa Yang Tak Selesai

Gambar
Sketsa Yang Tak Selesai Bagi Hermansyah, sebuah laptop tua berselimut stiker kedai kopi dan sebuah pelataran blog berlatar putih adalah dunia yang jauh lebih ramah ketimbang riuhnya kenyataan. Di sanalah, di bawah nama pena yang sengaja disamarkan, ia membangun sebuah kota fiksi. Kota yang dihuni oleh kenangan-kenangan yang menolak mati, jalan-jalan setapak yang selalu basah oleh hujan sore hari, dan satu sosok wanita yang wajahnya tak pernah ia deskripsikan secara gamblang, namun kehadirannya terasa di setiap bait kalimat. Malam itu, jam dinding di kamarnya hampir pukul dua dini hari. Suara jangkrik di luar jendela beradu dengan ketukan ritmis jari-jari Hermansyah di atas papan ketik. “Beberapa orang ditakdirkan menjadi rumah, tempat kita pulang dan menetap. Namun, beberapa lainnya hanya ditakdirkan menjadi stasiun kereta. Kita singgah, bertukar senyum di peron, lalu terpaksa melambai saat peluit keberangkatan berbunyi. Dan bagian paling getir dari perjalanan itu adalah menyadari bah...

Antara Yuli Dan Winda

Gambar
Antara Yuli Dan Winda Terik matahari pukul dua siang di Kompleks Ruko Permata tidak pernah ramah. Aspal yang mulai retak memantulkan uap panas yang membuat pandangan sedikit berbayang. Di sebuah kios berukuran tiga kali empat meter yang pengap oleh bau timah panas, Bayu sedang berjibaku dengan sebuah laptop tua. Mesinnya tampak lebih berantakan daripada rambut Bayu yang sudah tiga bulan tidak kena gunting tukang cukur di bawah pohon waru. Di sebelah mejanya, hanya terpisah sekat kayu rendah yang catnya sudah mengelupas. Sekat yang cukup rendah sehingga Bayu bisa melihat puncak kepala Fanny tanpa harus berdiri. Fanny sedang asyik menata tumpukan kartu perdana dan kabel data yang berantakan. Dia memakai kaos oblong hitam bergambar kucing yang sedang tidur dengan tulisan "Loading..." di bawahnya. Rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang warna kuning. Setelah selesai merapikan tumpukan kartu perdana dan kabel data tersebut, Fanny menghela napas panjang. Ia mengempaskan d...

Simfoni Sunyi Di Ujung Mimpi

Gambar
Simfoni Sunyi Di Ujung Mimpi Udara malam di balkon apartemen lantai dua belas itu terasa dingin, membawa serta aroma sisa hujan yang turun sore tadi. Di dalam ruangan, lampu kekuningan memantul lembut di atas lantai, menyinari empat orang manusia yang terjebak dalam labirin perasaan mereka sendiri. Mereka adalah Yudha, Dian, Raya, dan Luna. Empat jiwa yang disatukan oleh meja pertemanan yang sama, namun dipisahkan oleh dinding tak kasat mata bernama rahasia. Yudha berdiri di sudut ruangan, memegang gelas berisi air dingin yang butir-butir airnya meleleh di permukaannya. Tatapannya tidak lepas dari sosok Dian yapng sedang duduk di sofa panjang, tertawa renyah mendengarkan lelucon yang dilontarkan oleh Raya. Raya, dengan segala pesona dan kepercayaan diri yang tinggi, sedang memamerkan rancangan bisnis terbarunya di atas layar tablet. Di sisi lain ruangan, agak jauh dari keramaian kecil itu, Luna duduk terpaku di kursi rotan membaca sebuah buku tebal, meski matanya sejak tadi hanya mena...

Mengapa Harus Dia?

Gambar
Mengapa Harus Dia? Hujan turun sejak sore, mengaburkan deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Dari balik jendela kafe kecil, Nara hanya memandangi titik-titik air yang berkejaran di kaca. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan, bercampur dengan alunan musik akustik yang diputar pelan. Di hadapannya, secangkir americano sudah hampir dingin. Nara belum menyentuhnya lagi. "Aku heran," suara Surya memecah keheningan. "Kamu datang ke sini hampir setiap Jumat, tapi mukamu tetap kayak orang dipaksa bayar utang." Nara melirik sahabatnya sekilas. "Memangnya aku harus senyum-senyum sendiri?" jawabnya. "Minimal kelihatan hidup," lanjut Surya. Nara menghela napas kesal, lalu berkata, "Kalau hidup itu seperti komik romantis yang sering kamu baca, mungkin aku juga bakal kelihatan bahagia." Surya memang selalu begitu. Terlalu mudah menemukan bahan candaan, bahkan ketika lawan bicaranya sedang tidak ingin bicara. "Komik romantis itu mem...