Indah Namanya, Tapi...? (#3)
Indah Namanya, Tapi...? (#3) Menjelang pukul sebelas, Heru mulai memahami mengapa hampir semua orang di bagian pemasaran mengenal Indah. Ketika seorang staf penjualan bernama Deni datang dengan wajah kusut karena salah mengirimkan daftar harga kepada pelanggan, Indah segera memeriksa surelnya. "Ini yang kamu kirim kemarin?" "Iya." "Yang harga grosirnya masih versi bulan lalu?" Deni mengangguk dengan ekspresi orang yang baru saja menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Indah menutup mata sebentar. "Deni, saya mau tanya satu hal." "Apa?" "Kamu mengirim daftar harga bulan lalu karena kangen masa lalu, atau karena kamu memang ingin membuat pelanggan kita bernostalgia?" Deni menunduk. "Saya salah, Mbak."1 "Ya, saya tahu kamu salah. Kalau tidak salah, kita tidak sedang membahas ini." Adit mulai tertawa, tetapi berhenti ketika melihat wajah Deni. Indah pun tidak melanjutkan leluconnya. Ia membuka sur...