Indah Namanya, Tapi...? (#2)
Indah Namanya, Tapi...? (#2) Menjelang tengah hari, Heru mulai memahami bahwa pekerjaan pemasaran tidak hanya berhubungan dengan menawarkan produk kepada klien. Ia juga harus memeriksa data, memahami riwayat transaksi, dan mempelajari kebiasaan setiap pelanggan. Banyak hal yang terlihat sederhana di permukaan ternyata memiliki penjelasan panjang di baliknya. Ia sedang mencatat beberapa istilah yang belum dipahami ketika Adit datang membawa gelas plastik berisi kopi. "Bagaimana? Masih hidup?" "Sejauh ini." "Bagus. Biasanya orang baru baru menyadari beratnya pekerjaan setelah makan siang. Sebelum makan, mereka masih punya harapan." Heru tertawa. "Kamu selalu begini?" "Begini bagaimana?" "Bercanda terus." Adit duduk di kursi kosong di depan meja Heru. "Kalau tidak bercanda, nanti saya harus memikirkan pekerjaan. Itu berbahaya bagi kesehatan." Heru menggeleng sambil tersenyum. "Kamu sudah lama kerja di sini?" ...