Postingan

Hujan Yang Tak Lagi Dingin

Gambar
Hujan Yang Tak Lagi Dingin Sore itu, Jakarta sedang diguyur gerimis tipis. Di sudut sebuah kafe bernuansa industrial dengan lampu-lampu kuning yang temaram dan kaca-kaca besar yang menghadap ke jalanan, Dina duduk mengaduk-aduk caffe latte -nya yang sudah dingin. Uapnya sudah lama hilang, menyisakan buih-buih kecokelatan yang mulai pecah di pinggiran cangkir Di depannya, Heni, sahabatnya sejak di bangku sekolah memperhatikan sejak tadi. Ia sengaja memesan meja di pojok, jauh dari kebisingan mesin kopi, seolah tahu bahwa percakapan sore ini akan membutuhkan privasi. "Kamu dari tadi diam saja," kata Heni akhirnya, memecah keheningan yang cukup lama. "Biasanya kalau ketemu, kamu yang paling banyak cerita, Din. Bahkan tentang kucing tetangga yang salah masuk rumah pun kamu bisa ceritakan sampai setengah jam." Dina tersenyum tipis. Sebuah senyum yang hanya mampir di bibir, namun tidak sampai menyentuh matanya yang meredup. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, menata...

Winda Bukan Indah

Gambar
Winda Bukan Indah Orang-orang melewatinya tanpa banyak berpikir. Ada yang mengira itu sekadar coretan iseng di papan pengumuman desa. Ada juga yang menganggap itu pesan rahasia anak-anak sekolah. Tapi bagi Winda , kalimat itu seperti bayangan yang terus mengikutinya. Sejak pindah ke desa kecil itu, semua orang memandangnya dengan cara yang aneh. Tatapan ragu, senyum setengah hati, bahkan beberapa kali ia dipanggil dengan nama yang bukan namanya. "Indah… eh, maaf," panggil seorang ibu di warung suatu sore. Awalnya Winda hanya tertawa kecil. Kesalahan biasa, pikirnya. Namun semakin lama, ia merasa kesalahan itu seperti sesuatu yang disengaja. Hingga suatu hari, Winda memberanikan diri bertanya pada penjaga keamanan desa, satu-satunya orang yang tampak tidak pernah salah memanggil namanya. "Memangnya siapa Indah?" tanya Winda pelan. Penjaga keamanan itu diam cukup lama, lalu berkata, "Orang yang dulu tinggal di rumahmu." Jantung Winda berdegup lebih cepat dar...

Memilih Untuk Tidak Lari

Gambar
Memilih Untuk Tidak Lari Hujan turun sejak siang dan belum menunjukkan tanda akan berhenti, membasahi jendela kaca di gedung-gedung perkantoran yang menjulang di kota Jakarta. Rintiknya menghantam kaca dengan irama yang membosankan, seolah-olah langit sedang mengeluh. Dari balik jendela kaca ruang kerja di lantai delapan, Riska berdiri memandang ke luar. Kedua tangannya terlipat di dada. Keadaan di bawah tampak buram, tertutup tirai air yang jatuh tanpa jeda. Kendaraan melambat. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ia tidak benar-benar memperhatikan apa yang terjadi di luar sana. Pandangannya kosong, tertuju pada satu titik di kejauhan yang tidak nyata, tetapi pikirannya justru penuh, terlalu penuh. Ada badai lain yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya, jauh lebih hebat daripada hujan di luar. Di belakangnya, meja kerja tampak rapi seperti biasa. Laptop menyala, memancarkan cahaya putih terang. Beberapa dokumen tersusun rapi, tanpa ada satu pun sudut kertas yang terlipat....

Pamit Yang Tak Terdengar

Gambar
Pamit Yang Tak Terdengar Rumah itu seharusnya hangat. Setidaknya itulah yang diingat Dirga saat ia bersama Firda , istrinya, pertama kali menandatangani kontrak sewa enam bulan lalu. Rumah bergaya kolonial minimalis di pinggiran kota itu punya jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menyentuh permukaan meja kayu di dapur. Namun, belakangan ini, matahari seolah enggan singgah. Rumah itu selalu terasa seperti pukul lima sore: remang, lembap, dan dingin. Dirga duduk di kursi ruang tamu, memperhatikan Firda yang sedang melamun di sofa depan. Istrinya itu terlihat kacau. Lingkaran hitam di bawah matanya mencekung, rambutnya yang biasa tergerai rapi kini diikat asal-asalan. Sudah seminggu ini Firda bersikap aneh. Ia jarang bicara, sering menangis tiba-tiba, dan yang paling membuat Dirga sakit hati, Firda seolah-olah tidak menganggapnya ada di sana. "Fir," panggil Dirga lembut. Suaranya serak, mungkin karena cuaca yang belakangan ini buruk. Firda tidak m...

Bukan Manis Tapi Iblis

Gambar
Bukan Manis Tapi Iblis Hujan di luar rumah kos Heru bukan lagi gerimis, tapi air tumpah dari langit seolah ingin menjebol atap kos. Di dalam kamar yang pengap oleh asap rokok, suasana tak kalah mendung. Heru duduk di pinggiran kasurnya, kaku, menatap dua tiket konser sold-out yang kini cuma jadi kertas sampah di atas meja kayu. Rizky, sahabatnya, berdiri di dekat dispenser, mengaduk kopi hitam di gelas dengan bunyi sendok yang beradu nyaring. Ia melirik Heru, lalu melirik jam dinding murah yang detaknya terasa memburu. "Sudah lewat dua jam, Her. Mau nunggu sampai kapan, sampai subuhkah?" tanya Rizky, suaranya berat karena kasihan. Heru tidak menoleh. Tatapannya kosong. Dengan suara parau yang hampir tertelan suara hujan, ia bergumam lirih, "Seharusnya kau berada di sisiku, mengusir sepi yang menyelimutiku." "Heru, dengarkan aku," Rizky mendekat, meletakkan gelas kopinya dengan kasar hingga airnya sedikit terpercik. "Dia tidak bakal datang." ...