Setelah Hujan Reda
Setelah Hujan Reda Lampu jalan mulai menyala satu per satu, berpendar putih di bawah langit Jakarta yang temaram. Hermansyah melangkah santai, tangannya merogoh saku jaket parasutnya yang mulai pudar. Di bangku kayu panjang depan warung mi rebus dan kopi sachet , Arief dan Kamal sudah duduk dengan kepulan asap rokok yang menyelimuti obrolan mereka. "Dari mana, Man?" tanya Arief tanpa menoleh, matanya fokus pada layar ponsel. "Habis dari rumah janda yang nggak ada lakinya, Rief," jawab Hermansyah sambil nyengir, menarik kursi plastik merah lalu duduk dengan posisi kaki terbuka lebar. "Lha di mana-mana, janda memang nggak ada lakinya, Man!" sambar Kamal sambil menyentil abu rokoknya. "Lalu?" jawab Hermansyah pendek, memancing reaksi. Arief menggeleng pelan, sementara Kamal cuma terkekeh. Mereka sudah hafal gaya Hermansyah yang suka menggantung cerita seperti jemuran. "Serius dikit, Man. Ceritanya apa?" tanya Arief akhirnya, meletakkan pon...