Sunyi Yang Tak Bisa Kau Kendalikan
Sunyi Yang Tak Bisa Kau Kendalikan Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang menempel di udara sore Jakarta. Di sebuah sudut kafe kecil yang tenang, Nizar duduk sendirian. Di hadapannya, secangkir kopi hitam tanpa gula mengepulkan sisa-sisa uap tipis sebelum akhirnya menyerah pada udara dingin ruangan. Ia tampak tenang, teramat tenang, tetapi bagi siapa saja yang cukup peka, ketenangan itu justru menyerupai permukaan air danau yang menyimpan pusaran di dasarnya. “Masih suka kopi hitam tanpa gula?” Suara seorang perempuan dari belakang memecah keheningan yang sejak tadi menemani lamunannya. Nizar menoleh perlahan. Sekilas, senyum tersungging di bibirnya, tipis, nyaris tak terlihat, seperti goresan pensil warna abu-abu di atas kertas putih. "Masih," jawab Nizar datar, matanya menatap mata perempuan itu. "Kamu masih suka nanya hal yang sama setiap kali ketemu, ya, Ra?" Aira tertawa kecil. Ia menarik kursi kayu di hadapan Nizar dan duduk di sana tanpa di...