Hujan Yang Tak Lagi Dingin
Hujan Yang Tak Lagi Dingin Sore itu, Jakarta sedang diguyur gerimis tipis. Di sudut sebuah kafe bernuansa industrial dengan lampu-lampu kuning yang temaram dan kaca-kaca besar yang menghadap ke jalanan, Dina duduk mengaduk-aduk caffe latte -nya yang sudah dingin. Uapnya sudah lama hilang, menyisakan buih-buih kecokelatan yang mulai pecah di pinggiran cangkir Di depannya, Heni, sahabatnya sejak di bangku sekolah memperhatikan sejak tadi. Ia sengaja memesan meja di pojok, jauh dari kebisingan mesin kopi, seolah tahu bahwa percakapan sore ini akan membutuhkan privasi. "Kamu dari tadi diam saja," kata Heni akhirnya, memecah keheningan yang cukup lama. "Biasanya kalau ketemu, kamu yang paling banyak cerita, Din. Bahkan tentang kucing tetangga yang salah masuk rumah pun kamu bisa ceritakan sampai setengah jam." Dina tersenyum tipis. Sebuah senyum yang hanya mampir di bibir, namun tidak sampai menyentuh matanya yang meredup. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, menata...