Indah Namanya, Tapi...?
Indah Namanya, Tapi...? Senin pagi, Jakarta sudah terlihat lelah bahkan sebelum pukul delapan. Di jalan raya, deretan sepeda motor menyelip di antara mobil-mobil yang bergerak lambat. Klakson bersahutan seperti orang-orang yang saling menyalahkan atas sesuatu yang sebenarnya tidak bisa mereka kendalikan. Di trotoar, seorang pedagang kopi keliling sibuk menuangkan minuman ke gelas plastik, sementara beberapa pekerja kantoran berdiri menunggu pesanan dengan wajah yang menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya siap menghadapi hari. Heru termasuk salah satunya. Laki-laki berusia dua puluh enam tahun itu berdiri di depan sebuah gedung perkantoran berlantai delapan di kawasan Jakarta Selatan. Kemeja biru mudanya masih cukup rapi, meskipun bagian punggungnya sedikit lembap karena perjalanan dari halte bus. Di tangan kirinya, ia memegang tas kerja berwarna hitam. Tangan kanannya sibuk merapikan ujung lengan kemeja, padahal sejak tadi tidak ada yang salah dengan bagian itu. Ia hanya gugup. Hari...