Kau Tak Sendiri, Laras
Kau Tak Sendiri, Laras Setiap malam, tepat pukul 21.40, Hermansyah akan tiba di sebuah halte bus di Jakarta. Kebiasaan itu telah menjadi ritual tak tertulis dalam hidupnya. Hermansyah adalah gambaran manusia urban yang hidup dalam rutinitas otomatis. Hari-harinya dihabiskan di sebuah percetakan kecil. Hidupnya monoton: berangkat kerja, mencetak pesanan, pulang, membeli nasi goreng di dekat kontrakan, lalu tidur. Begitu terus sampai ia lupa kapan terakhir kali benar-benar memikirkan arti hidupnya sendiri. Semuanya berlangsung demikian hingga malam itu tiba. Malam ketika hujan deras seolah meruntuhkan langit Jakarta dan membuat lalu lintas bertekuk lutut. Bus yang dinanti Hermansyah tertahan entah di mana. Di dalam halte yang hampir kosong itu, udara dingin merayap masuk melalui celah di antara panel-panel kaca. Di ujung halte, dekat pintu yang tertutup, berdiri seorang perempuan. Ia memegang payung transparan yang masih basah, lalu menyandarkannya pada dinding kaca. Pakaiannya sederhana...