Dia Yang Memahami Diamku
Dia Yang Memahami Diamku Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Setidaknya itu yang selalu kupikirkan setiap kali berdiri di balkon apartemenku pada malam hari. Dari lantai dua belas, lampu-lampu kendaraan masih mengalir seperti sungai cahaya yang tak pernah berhenti. Klakson terdengar sesekali dari kejauhan. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jendela yang masih menyala meski jarum jam sudah lewat pukul sebelas. Kota ini selalu bergerak. Sementara aku lebih sering diam, terjebak dalam ritmeku sendiri. Namaku Ardi. Usiaku dua puluh tujuh tahun dan bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan kreatif di kawasan Sudirman. Sebagian besar hidupku berjalan sederhana. Bangun pagi, naik MRT, bekerja, pulang, lalu menghabiskan malam dengan membaca buku atau mendengarkan musik. Tidak banyak yang berubah. Dan aku menyukainya. Kenyamanan dalam rutinitas adalah caraku bertahan hidup. Aku tidak pernah merasa perlu memiliki lingkaran pertemanan yang besar. Bagiku, keramaian sering kali m...