Postingan

Mengapa Harus Dia?

Gambar
Mengapa Harus Dia? Hujan turun sejak sore, mengaburkan deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Dari balik jendela kafe kecil, Nara hanya memandangi titik-titik air yang berkejaran di kaca. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan, bercampur dengan alunan musik akustik yang diputar pelan. Di hadapannya, secangkir americano sudah hampir dingin. Nara belum menyentuhnya lagi. "Aku heran," suara Surya memecah keheningan. "Kamu datang ke sini hampir setiap Jumat, tapi mukamu tetap kayak orang dipaksa bayar utang." Nara melirik sahabatnya sekilas. "Memangnya aku harus senyum-senyum sendiri?" jawabnya. "Minimal kelihatan hidup," lanjut Surya. Nara menghela napas kesal, lalu berkata, "Kalau hidup itu seperti komik romantis yang sering kamu baca, mungkin aku juga bakal kelihatan bahagia." Surya memang selalu begitu. Terlalu mudah menemukan bahan candaan, bahkan ketika lawan bicaranya sedang tidak ingin bicara. "Komik romantis itu mem...

Bukan Tentang Lima Tahun

Gambar
Bukan Tentang Lima Tahun Aroma apek langsung tercium saat Nia membuka pintu kamar kos Lisa di daerah Karet Kuningan. Kamar berukuran 3×4 meter itu tampak sangat berantakan. Pakaian kotor menumpuk di keranjang hingga meluap, bungkus bekas makanan instan berceceran di lantai, dan gorden jendela ditutup rapat hingga membuat suasana siang hari terasa seperti tengah malam. Nia menggeleng-gelengkan kepala melihat kondisi Lisa. Sahabatnya sejak masa orientasi kampus itu sedang berbaring di tempat tidur, berselimut hingga ke leher padahal pendingin ruangan dalam keadaan mati. Matanya sembap bagaikan orang yang habis dipukuli, rambutnya acak-acakan, dan tubuhnya terlihat sangat kurus hanya dalam waktu seminggu. "Udah, Lis, jangan kayak orang mati lampu begini," kata Nia sambil menaruh tasnya. Nia langsung berjalan ke arah jendela lalu menyibak gorden berwarna abu-abu tersebut. Cahaya matahari siang yang terik seketika menerobos masuk, membuat kamar yang tadinya remang-remang kini ter...

Di Balik Cangkir Cappuccino

Gambar
Di Balik Cangkir Cappuccino Gerimis tipis yang membasahi kaca jendela Kedai Kopitagram membuat pantulan lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat tampak samar. Di luar, jalanan ibu kota merayap pelan dalam kemacetan sore. Namun di dalam kedai kayu beraroma sangrai kopi arabika ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sebuah meja bundar di sudut ruangan, Risa duduk memandangi kue tar cokelat berdiameter kecil. Di atas kue itu, dua batang lilin berbentuk angka 3 dan 2 menyala bergoyang-goyang ditiup angin tipis dari exhaust fan . Tiga puluh dua tahun. Sebuah angka yang matang. Sudah hampir enam tahun lamanya Risa menjalani hidupnya sendirian, sejak takdir mengambil suaminya dalam sebuah kecelakaan maut. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka, membesarkan keberanian, dan belajar menata hidup kembali sebagai seorang wanita tunggal. Ia telah tumbuh menjadi sosok yang terbiasa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, mandiri, tangguh, dan tanpa sadar, memunculkan be...

Insan-Biasa Dot Net

Gambar
Insan-Biasa Dot Net Beberapa tahun lalu, Jakarta terasa sangat mengintimidasi bagi Hermansyah, terutama di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di daerah Palmerah. Kamar itu pengap, dipenuhi aroma mi instan rebus, kopi sasetan, dan suara kipas angin yang berderit setiap malam. Namun, di sanalah impiannya lahir. Hermansyah adalah seorang pemuda yang gila musik. Setiap malam, sepulang kuliah, tugasnya adalah berburu file MP3 dari internet, memastikan kualitas suaranya tidak pecah, lalu mengetik lirik lagunya kata demi kata secara manual. Di sebelahnya, ada Ricky, teman satu kosnya yang kuliah di jurusan komputer. Ricky adalah orang yang tahu bagaimana cara menyewa hosting murah dengan paket paling hemat, mengatur tampilan blog , dan memastikan blog mereka tidak gampang error . Di masa itu, orang-orang mulai gemar pergi ke warnet untuk men- download lagu MP3 langsung ke ponsel mereka demi menghemat kuota data seluler yang masih mahal. Blog mereka, Insan-biasa.net , hadir di...

Bukan Sabar, Itu Indah

Gambar
Bukan Sabar, Itu Indah Aroma sabun cuci motor bercampur uap aspal panas sudah menjadi menu sarapan Sabar setiap hari. Di bawah kanopi spandeks yang memantulkan terik matahari Jakarta pukul sebelas siang, tangannya cekatan menggosok sasis motor bebek yang berlumpur. Kaus oblongnya basah kuyup, entah oleh air selang atau keringatnya sendiri. "Bar, dicariin si Indah tuh di depan," teriak Pak Amir dari dalam ruangannya yang merangkap gudang. Pak Amir mengendurkan raut mukanya yang kaku sebentar, memberikan isyarat dagu ke arah warung kopi di seberang jalan. Sabar menghentikan semprotan airnya. Ia mengusap dahi dengan punggung tangan, lalu buru-buru mematikan kompresor. Di seberang jalan, duduk seorang gadis dengan seragam minimarket. Rambutnya dibiarkan lepas terurai melewati bahu, wajahnya tampak lelah. Itu Indah. Sabar menyeberang jalan setelah meminta izin singkat pada Pak Amir. Di warung kopi, Tono sudah lebih dulu nangkring sambil mengisap sebatang rokok hasil patungan. ...