Postingan

Bukan Manis Tapi Iblis - Cerpen

Gambar
Bukan Manis Tapi Iblis - Cerpen Hujan di luar rumah kos Heru bukan lagi gerimis, tapi air tumpah dari langit seolah ingin menjebol atap kos. Di dalam kamar yang pengap oleh asap rokok, suasana tak kalah mendung. Heru duduk di pinggiran kasurnya, kaku, menatap dua tiket konser sold-out yang kini cuma jadi kertas sampah di atas meja kayu. Rizky, sahabatnya, berdiri di dekat dispenser, mengaduk kopi hitam di gelas dengan bunyi sendok yang beradu nyaring. Ia melirik Heru, lalu melirik jam dinding murah yang detaknya terasa memburu. "Sudah lewat dua jam, Her. Mau nunggu sampai kapan, sampai subuhkah?" tanya Rizky, suaranya berat karena kasihan. Heru tidak menoleh. Tatapannya kosong. Dengan suara parau yang hampir tertelan suara hujan, ia bergumam lirih, "Seharusnya kau berada di sisiku, mengusir sepi yang menyelimutiku." "Heru, dengarkan aku," Rizky mendekat, meletakkan gelas kopinya dengan kasar hingga airnya sedikit terpercik. "Dia tidak bakal datang....

Anomali Tulisan Tangan Yuli - Cerpen

Gambar
Anomali Tulisan Tangan Yuli - Cerpen Lisa adalah tipe pemimpin yang memuja detail; baginya, sebuah acara adalah karya seni yang tak boleh cacat. Itulah mengapa ia jatuh cinta pada naskah yang dikirimkan oleh seseorang bernama Yuli . Konsep itu tidak diketik, melainkan ditulis tangan di atas kertas linen. Garis-garis hurufnya meliuk indah, rapi, dan memiliki ritme yang menenangkan. Jenis tulisan mencerminkan ketelatenan seorang perempuan perfeksionis. "Angga, lihat transisi adegan ini," ujar Lisa sambil jarinya menelusuri baris-baris tulisan di atas kertas itu, di dalam ruang senat mahasiswa. "Yuli ini punya sensitivitas tinggi. Dia mengusulkan pencahayaan amber lembut untuk pembukaan. Hanya perempuan yang punya perasaan sehalus ini dalam memikirkan kenyamanan mata penonton." Angga yang sedang asyik menyesap kopi hampir tersedak. Ia melirik kertas itu. Ia tahu benar bahwa Yuli yang mengirimkan konsep itu adalah sahabatnya. Tulisan indah itu hanyalah hasil didikan ker...

Titik Koma Di Fajar Pertama - Cerpen

Gambar
Titik Koma Di Fajar Pertama - Cerpen Sore itu, 31 Desember 2025, langit Jakarta tidak memberikan janji apa pun selain mendung yang menggantung rendah. Denis berdiri di teras depan rumahnya di kawasan Jakarta Barat. Di tangan kanannya tergenggam gelas berisi kopi yang sudah dingin. Ia memandangi langit yang mendung. Denis adalah seorang pria berusia 26 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan barisan kode pemrograman. Baginya, angka dan logika adalah segalanya. Namun, malam ini, ia merasa butuh sesuatu yang tidak logis. Ia butuh keramaian. "Den! Lu jadi berangkat nggak?" suara Yudha menggelegar dari dalam kamar, diikuti suara dentuman pintu lemari yang ditutup paksa. Yudha, sahabat Denis sejak masa kuliah di Bandung, adalah kebalikan dari Denis. Jika Denis adalah algoritma yang kaku, Yudha adalah glitch yang penuh warna. "Gue masih mikir, Yud. Lu lihat mendungnya? Kalau hujan, kita cuma bakal basah kuyup di Bundaran HI tanpa tujuan," jawab Denis s...