Postingan

Ilusi Musuh Dalam Cermin

Gambar
Ilusi Musuh Dalam Cermin Langit Jakarta belum sepenuhnya terang ketika aku mengeluarkan motor matik dari teras kontrakan. Pukul lima pagi adalah waktu di mana dunia terasa begitu sunyi, hingga deru motorku sendiri terdengar seperti gema yang memantul dari dalam kepala. Kepalaku terasa ringan, melayang, seolah kesadaranku tertinggal di suatu tempat dan hanya menyisakan tubuhku yang bergerak otomatis di atas aspal Aku, seorang kurir pengiriman dengan jaket parasut hijau yang sudah pudar warna aslinya, memeriksa ban motor. Tanganku yang kasar meraba karet ban luar yang sudah mulai botak. Di kepalaku, tanpa diundang, sebuah suara kecil berbisik: "Kalau ban ini meletus di tengah jalan atau saat bawa barang berat, dari mana uang buat ganti? Uang di dompetmu hanya cukup untuk makan hari ini." Aku menggelengkan kepala pelan, mencoba menepis pikiran itu, menyalakan mesin motor yang batuk-batuk dua kali sebelum akhirnya menderu konstan. Aku adalah tipe pria yang sedikit bicara. Di jala...

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#3)

Gambar
Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#3) Dua hari setelah makan malam di kawasan Kemang, ritme di dalam rumah Nadia terasa bergeser ke arah yang lebih hidup. Pagi itu, Lila asyik menorehkan krayon warna-warni di atas kertas gambar di lantai ruang tamu. Sekar tampak serius merancang tata letak desain di laptopnya dekat meja makan, sementara Nadia sendiri sibuk di area dapur menyiapkan sarapan. "Ibu!" panggil Lila dengan suara nyaring. Nadia menghentikan sejenak kegiatannya dan menoleh ke arah sumber suara. "Ya, sayang?" "Lihat gambar Lila!" Lila mengangkat kertas gambarnya tinggi-tinggi. Nadia melangkah mendekat, tersenyum mendapati goresan tangan putrinya yang menggambarkan enam orang berdiri berjajar di depan sebuah rumah minimalis. "Wah, ini siapa saja?" tanyanya lembut. Satu per satu sosok ditunjuk oleh jemari mungil Lila. "Ini Lila, ini Ibu, dan ini Tante Sekar." Sekar yang mendengar namanya disebut, menghampiri mereka. Giliran t...

Ketika Ikhlas Belum Selesai

Gambar
Ketika Ikhlas Belum Selesai Hujan turun sejak sore dan baru berhenti menjelang azan Isya berkumandang. Hermansyah duduk sendirian di teras rumah, membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya. Di tangannya, ponsel menyala. Ia tidak sedang menunggu pesan dari siapa pun, hanya menggulir layar tanpa tujuan, sampai akhirnya ia membuka aplikasi WhatsApp dan melihat pembaruan. Sebuah lingkaran hijau mengelilingi foto profil Yuli yang menandakan dia membuat status. Hermansyah menatap sebentar lalu membukanya. Yuli termasuk orang yang jarang membuat status bernada pribadi, biasanya hanya foto makanan, pemandangan, atau kalimat pendek, tetapi malam itu berbeda. Status Yuli berbicara tentang keikhlasan. Tentang menerima sesuatu yang tidak bisa diubah. Tentang bagaimana manusia kadang mengatakan dirinya sudah ikhlas, padahal di dalam hati masih ada pertanyaan yang belum selesai. Hermansyah membacanya dua kali, kemudian tiga kali. Ia mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang terasa terlalu personal. Ia ta...

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#2)

Gambar
Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#2) Menjelang sore, Nadia menjemput Lila di rumah ibunya. Suasana sore itu terasa lengang, langit cerah tanpa awan sedikit pun. Lila berlari menghampiri begitu melihat ibunya turun dari taksi daring. "Ibu!" panggilnya dengan suara melengking. Nadia membungkuk, merentangkan tangan, dan mendekap erat. "Sudah kangen Ibu, hmm?" tanya Nadia sambil mencium puncak kepala Lila. Lila mengangguk cepat, kepalanya mendongak dengan mata berbinar. "Kangen banget," jawabnya jujur. "Tidurnya nyenyak?" "Enggak," cicit Lila cemberut. Nadia merenggangkan pelukan, menatap wajah kecil itu dengan heran. "Kenapa? Nenek tidak mendongeng sebelum tidur?" "Bukan. Karena Nenek mendengkur." Nadia tertawa renyah, telapak tangannya mengelus pipi gembul putrinya. "Ssst, jangan bilang begitu ke Nenek. Nanti Nenek sedih." Lila terkikik, memperlihatkan gigi susunya yang kecil. Anak itu menenteng tas ke...