Postingan

Menit-Menit Setelah 21:47

Gambar
Menit-Menit Setelah 21:47 Bukan hujan deras yang membuat jalanan lumpuh, tapi cukup untuk membuat Jakarta basah dan terasa beberapa derajat lebih dingin dari biasanya. Di lantai tiga sebuah gedung percetakan di Jakarta, suara mesin menjadi satu-satunya hal yang konsisten. Dengung... klek... sret... dengung... klek... sret. Berulang, stabil, membosankan selama lebih dari dua belas jam. "Kalau printer ini bisa ngomong, pasti dia udah maki-maki kita pakai seluruh kebun binatang," kata Hadi sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Andra tidak menoleh dari layar monitor 28 incinya. Tangannya mulai lelah menggeser kursor, merapikan margin pada file desain. "Dia nggak perlu ngomong, Di. Suaranya aja udah cukup nyiksa kuping gue dari tadi siang." Di sudut ruangan, Rina menghela napas panjang. "Gue udah nggak ngerasain punggung gue lagi." Yuli, yang duduk dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya, hanya melirik ke luar. Air hujan masih menete...

Menunggu Respons Refa

Gambar
Menunggu Respons Refa Katanya, Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur. Menurutku, Jakarta bukan cuma tidak tidur, tapi kota ini juga mengidap sindrom kecemasan akut yang membuatnya harus berlari setiap saat. Di stasiun MRT Bundaran HI pukul delapan pagi, manusia-manusia mengalir seperti air bah yang lolos dari tanggul beton. Mereka melangkah cepat, sepatu-sepatu pantofel dan flat shoes berketukan di atas lantai marmer dengan ritme yang konstan. Lalu, ada aku. Aku berdiri di dekat tiang beton, mencoba mengancingkan jaket beludruku. Butuh waktu sekitar tiga detik bagi jariku untuk menyadari bahwa kancing teratas sengaja kumasukkan ke lubang kedua. Aku mematung, menatap kancing itu, lalu mulai berpikir apakah aku harus membongkar semuanya dari bawah atau membiarkannya saja sebagai tren mode baru. "Refa! Demi Tuhan, lu lagi instal ulang Windows 11 di kepala lu, ya? Ayo cepat, keretanya udah mau jalan!" Sebuah tarikan kencang di pergelangan tanganku memutus perdebatan batin t...

Dia Yang Memahami Diamku

Gambar
Dia Yang Memahami Diamku Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Setidaknya itu yang selalu kupikirkan setiap kali berdiri di balkon apartemenku pada malam hari. Dari lantai dua belas, lampu-lampu kendaraan masih mengalir seperti sungai cahaya yang tak pernah berhenti. Klakson terdengar sesekali dari kejauhan. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jendela yang masih menyala meski jarum jam sudah lewat pukul sebelas. Kota ini selalu bergerak. Sementara aku lebih sering diam, terjebak dalam ritmeku sendiri. Namaku Ardi. Usiaku dua puluh tujuh tahun dan bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan kreatif di kawasan Sudirman. Sebagian besar hidupku berjalan sederhana. Bangun pagi, naik MRT, bekerja, pulang, lalu menghabiskan malam dengan membaca buku atau mendengarkan musik. Tidak banyak yang berubah. Dan aku menyukainya. Kenyamanan dalam rutinitas adalah caraku bertahan hidup. Aku tidak pernah merasa perlu memiliki lingkaran pertemanan yang besar. Bagiku, keramaian sering kali m...

Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang

Gambar
Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang Arief menatap layar ponselnya yang berpendar di tengah remang pencahayaan kafe Kopi Senja . Jarum jam dinding di atas meja barista baru saja melewati angka delapan malam. Di hadapannya, secangkir caffè latte yang mulai kehilangan uap panasnya tampak kesepian. Biasanya, ada cangkir kedua di seberang meja, sebuah matcha latte dengan taburan bubuk kayu manis di atasnya. Namun malam ini, kursi kayu di depan Arief kosong melompong. Sudah empat hari, tiga jam, dan dua puluh menit sejak pertengkaran hebat itu terjadi. Arief masih ingat betul bagaimana nada suara Dinda meninggi sebelum akhirnya perempuan itu meraih tas selempangnya, berdiri, dan melangkah keluar dari kafe ini tanpa menoleh lagi. Pemicunya sebenarnya sepele, hanya masalah perbedaan jadwal liburan dan ego Arief yang menolak untuk mengalah sedikit saja. Namun, dampaknya seperti bom yang meluluhlantakkan komunikasi yang sudah mereka bangun selama dua tahun. Arief menghela napas panjang. Jempo...