Postingan

Indah Namanya, Tapi...? (#3)

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? (#3) Menjelang pukul sebelas, Heru mulai memahami mengapa hampir semua orang di bagian pemasaran mengenal Indah. Ketika seorang staf penjualan bernama Deni datang dengan wajah kusut karena salah mengirimkan daftar harga kepada pelanggan, Indah segera memeriksa surelnya. "Ini yang kamu kirim kemarin?" "Iya." "Yang harga grosirnya masih versi bulan lalu?" Deni mengangguk dengan ekspresi orang yang baru saja menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Indah menutup mata sebentar. "Deni, saya mau tanya satu hal." "Apa?" "Kamu mengirim daftar harga bulan lalu karena kangen masa lalu, atau karena kamu memang ingin membuat pelanggan kita bernostalgia?" Deni menunduk. "Saya salah, Mbak."1 "Ya, saya tahu kamu salah. Kalau tidak salah, kita tidak sedang membahas ini." Adit mulai tertawa, tetapi berhenti ketika melihat wajah Deni. Indah pun tidak melanjutkan leluconnya. Ia membuka sur...

Indah Namanya, Tapi...? (#2)

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? (#2) Menjelang tengah hari, Heru mulai memahami bahwa pekerjaan pemasaran tidak hanya berhubungan dengan menawarkan produk kepada klien. Ia juga harus memeriksa data, memahami riwayat transaksi, dan mempelajari kebiasaan setiap pelanggan. Banyak hal yang terlihat sederhana di permukaan ternyata memiliki penjelasan panjang di baliknya. Ia sedang mencatat beberapa istilah yang belum dipahami ketika Adit datang membawa gelas plastik berisi kopi. "Bagaimana? Masih hidup?" "Sejauh ini." "Bagus. Biasanya orang baru baru menyadari beratnya pekerjaan setelah makan siang. Sebelum makan, mereka masih punya harapan." Heru tertawa. "Kamu selalu begini?" "Begini bagaimana?" "Bercanda terus." Adit duduk di kursi kosong di depan meja Heru. "Kalau tidak bercanda, nanti saya harus memikirkan pekerjaan. Itu berbahaya bagi kesehatan." Heru menggeleng sambil tersenyum. "Kamu sudah lama kerja di sini?" ...

Indah Namanya, Tapi...?

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? Senin pagi, Jakarta sudah terlihat lelah bahkan sebelum pukul delapan. Di jalan raya, deretan sepeda motor menyelip di antara mobil-mobil yang bergerak lambat. Klakson bersahutan seperti orang-orang yang saling menyalahkan atas sesuatu yang sebenarnya tidak bisa mereka kendalikan. Di trotoar, seorang pedagang kopi keliling sibuk menuangkan minuman ke gelas plastik, sementara beberapa pekerja kantoran berdiri menunggu pesanan dengan wajah yang menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya siap menghadapi hari. Heru termasuk salah satunya. Laki-laki berusia dua puluh enam tahun itu berdiri di depan sebuah gedung perkantoran berlantai delapan di kawasan Jakarta Selatan. Kemeja biru mudanya masih cukup rapi, meskipun bagian punggungnya sedikit lembap karena perjalanan dari halte bus. Di tangan kirinya, ia memegang tas kerja berwarna hitam. Tangan kanannya sibuk merapikan ujung lengan kemeja, padahal sejak tadi tidak ada yang salah dengan bagian itu. Ia hanya gugup. Hari...

Dua Centang Tanpa Warna

Gambar
Dua Centang Tanpa Warna Layar ponsel di atas meja kayu kafe itu menyala sekilas, memantulkan cahaya putih di wajah Kirana. Tangannya yang memegang cangkir kopi susu yang sudah mendingin sejak satu jam lalu refleks menegang. Matanya bergerak cepat. Namun, itu hanya notifikasi dari aplikasi belanja daring yang menawarkan diskon kilat tengah malam. Kirana mengembuskan napas berat, meletakkan kembali cangkirnya dengan ketukan lirih yang tenggelam di antara denting sendok dan tawa riuh pengunjung lain. Jakarta pukul sembilan malam di kawasan Senopati tidak pernah tenang. Suara bising knalpot kendaraan yang terjebak macet di luar beradu dengan dentum musik beraliran deep house yang diputar samar-samar oleh barista. Di sudut ruangan, sepasang kekasih sedang berswafoto dengan tawa yang lepas. Di sudut lain, seorang pria berjas rapi sibuk berbicara dengan laptopnya. Semua orang tampak terhubung dengan sesuatu atau seseorang. Kecuali Kirana. Ia membuka aplikasi WhatsApp untuk kesekian kalinya. J...