Pamit Yang Tak Terdengar - Cerpen
Pamit Yang Tak Terdengar - Cerpen Rumah itu seharusnya hangat. Setidaknya itulah yang diingat Dirga saat ia bersama Firda , istrinya, pertama kali menandatangani kontrak sewa enam bulan lalu. Rumah bergaya kolonial minimalis di pinggiran kota itu punya jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menyentuh permukaan meja kayu di dapur. Namun, belakangan ini, matahari seolah enggan singgah. Rumah itu selalu terasa seperti pukul lima sore: remang, lembap, dan dingin. Dirga duduk di kursi ruang tamu, memperhatikan Firda yang sedang melamun di sofa depan. Istrinya itu terlihat kacau. Lingkaran hitam di bawah matanya mencekung, rambutnya yang biasa tergerai rapi kini diikat asal-asalan. Sudah seminggu ini Firda bersikap aneh. Ia jarang bicara, sering menangis tiba-tiba, dan yang paling membuat Dirga sakit hati, Firda seolah-olah tidak menganggapnya ada di sana. "Fir," panggil Dirga lembut. Suaranya serak, mungkin karena cuaca yang belakangan ini buruk. Fird...