Postingan

Bukan Sabar, Itu Indah

Gambar
Bukan Sabar, Itu Indah Aroma sabun cuci motor bercampur uap aspal panas sudah menjadi menu sarapan Sabar setiap hari. Di bawah kanopi spandeks yang memantulkan terik matahari Jakarta pukul sebelas siang, tangannya cekatan menggosok sasis motor bebek yang berlumpur. Kaus oblongnya basah kuyup, entah oleh air selang atau keringatnya sendiri. "Bar, dicariin si Indah tuh di depan," teriak Pak Amir dari dalam ruangannya yang merangkap gudang. Pak Amir mengendurkan raut mukanya yang kaku sebentar, memberikan isyarat dagu ke arah warung kopi di seberang jalan. Sabar menghentikan semprotan airnya. Ia mengusap dahi dengan punggung tangan, lalu buru-buru mematikan kompresor. Di seberang jalan, duduk seorang gadis dengan seragam minimarket. Rambutnya dibiarkan lepas terurai melewati bahu, wajahnya tampak lelah. Itu Indah. Sabar menyeberang jalan setelah meminta izin singkat pada Pak Amir. Di warung kopi, Tono sudah lebih dulu nangkring sambil mengisap sebatang rokok hasil patungan. ...

Sumpah Serapah Berbungkus Berkah

Gambar
Sumpah Serapah Berbungkus Berkah Dinding batako tanpa plester itu setebal sepuluh sentimeter, tetapi bagi Deni dan Nisa, dinding itu tak lebih dari selembar kertas minyak yang basah . Segala hal dari rumah sebelah selalu merembes masuk tanpa permisi. Suara minyak jelantah yang berdesis saat bertemu potongan bawang, lengkingan gayung plastik yang beradu dengan dasar bak mandi yang kosong, hingga tangis anak-anak. Malam itu, jam dinding di ruang tamu Deni menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Deni duduk di atas kursi plastik hijau. Jemarinya yang kasar dan bernoda oli dari pekerjaannya sebagai montir lepas di bengkel pinggir jalan sibuk mengelus layar ponselnya. Dia sedang menghitung sisa saldo di dompet digitalnya. Tiga puluh dua ribu rupiah. Cukup untuk bensin motor dua hari dan beberapa batang rokok eceran. Di sudut ruangan yang merangkap sebagai dapur, Nisa sedang menyetrika pakaian, tangannya bergerak lincah melipat dan menumpuknya. Oeeekkk... Oeeekkk... Suara lengking...

Akhir Era AreaMP3

Gambar
Akhir Era AreaMP3 Malam itu, langit Jakarta Pusat berwarna ungu keemasan, terpantul dari lampu-lampu gedung pencakar langit di sepanjang Jalan Thamrin. Di sebuah rooftop bar lantai tiga puluh, angin berembus cukup kencang, memainkan rambut Fani yang malam itu memakai gaun hitam kasual. Di atas meja kayu panjang, empat gelas mocktail dengan hiasan daun mint dan potongan jeruk nipis berembun dingin. Hermansyah, dengan kemeja flanel yang kancing atasnya dibuka, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Wajahnya berseri-seri, memancarkan aura seorang pemuda dua puluh empat tahun yang merasa baru saja menaklukkan dunia. "Lima belas juta pageviews dalam satu bulan," ucap Hermansyah, suaranya setengah berteriak melawan suara musik deep house yang diputar di kafe tersebut. "Lagu pop terbaru dari band yang kemarin baru rilis langsung pecah di Google Indonesia. Begitu orang ketik ' Download MP3 gratis', blog kita, AreaMP3, langsung nongkrong di urutan pertama Google!" ...

Menit-Menit Setelah 21:47

Gambar
Menit-Menit Setelah 21:47 Bukan hujan deras yang membuat jalanan lumpuh, tapi cukup untuk membuat Jakarta basah dan terasa beberapa derajat lebih dingin dari biasanya. Di lantai tiga sebuah gedung percetakan di Jakarta, suara mesin menjadi satu-satunya hal yang konsisten. Dengung... klek... sret... dengung... klek... sret. Berulang, stabil, membosankan selama lebih dari dua belas jam. "Kalau printer ini bisa ngomong, pasti dia udah maki-maki kita pakai seluruh kebun binatang," kata Hadi sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Andra tidak menoleh dari layar monitor 28 incinya. Tangannya mulai lelah menggeser kursor, merapikan margin pada file desain. "Dia nggak perlu ngomong, Di. Suaranya aja udah cukup nyiksa kuping gue dari tadi siang." Di sudut ruangan, Rina menghela napas panjang. "Gue udah nggak ngerasain punggung gue lagi." Yuli, yang duduk dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya, hanya melirik ke luar. Air hujan masih menete...

Menunggu Respons Refa

Gambar
Menunggu Respons Refa Katanya, Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur. Menurutku, Jakarta bukan cuma tidak tidur, tapi kota ini juga mengidap sindrom kecemasan akut yang membuatnya harus berlari setiap saat. Di stasiun MRT Bundaran HI pukul delapan pagi, manusia-manusia mengalir seperti air bah yang lolos dari tanggul beton. Mereka melangkah cepat, sepatu-sepatu pantofel dan flat shoes berketukan di atas lantai marmer dengan ritme yang konstan. Lalu, ada aku. Aku berdiri di dekat tiang beton, mencoba mengancingkan jaket beludruku. Butuh waktu sekitar tiga detik bagi jariku untuk menyadari bahwa kancing teratas sengaja kumasukkan ke lubang kedua. Aku mematung, menatap kancing itu, lalu mulai berpikir apakah aku harus membongkar semuanya dari bawah atau membiarkannya saja sebagai tren mode baru. "Refa! Demi Tuhan, lu lagi instal ulang Windows 11 di kepala lu, ya? Ayo cepat, keretanya udah mau jalan!" Sebuah tarikan kencang di pergelangan tanganku memutus perdebatan batin ...