Di Balik Cangkir Cappuccino
Di Balik Cangkir Cappuccino Gerimis tipis yang membasahi kaca jendela Kedai Kopitagram membuat pantulan lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat tampak samar. Di luar, jalanan ibu kota merayap pelan dalam kemacetan sore. Namun di dalam kedai kayu beraroma sangrai kopi arabika ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sebuah meja bundar di sudut ruangan, Risa duduk memandangi kue tar cokelat berdiameter kecil. Di atas kue itu, dua batang lilin berbentuk angka 3 dan 2 menyala bergoyang-goyang ditiup angin tipis dari exhaust fan. Tiga puluh dua tahun. Sebuah angka yang matang. Sudah hampir enam tahun lamanya Risa menjalani hidupnya sendirian, sejak takdir mengambil suaminya dalam sebuah kecelakaan maut. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka, membesarkan keberanian, dan belajar menata hidup kembali sebagai seorang wanita tunggal. Ia telah tumbuh menjadi sosok yang terbiasa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, mandiri, tangguh, dan tanpa sadar, memunculkan ben...