Memilih Untuk Tidak Lari
Memilih Untuk Tidak Lari Hujan turun sejak siang dan belum menunjukkan tanda akan berhenti, membasahi jendela kaca di gedung-gedung perkantoran yang menjulang di kota Jakarta. Rintiknya menghantam kaca dengan irama yang membosankan, seolah-olah langit sedang mengeluh. Dari balik jendela kaca ruang kerja di lantai delapan, Riska berdiri memandang ke luar. Kedua tangannya terlipat di dada. Keadaan di bawah tampak buram, tertutup tirai air yang jatuh tanpa jeda. Kendaraan melambat. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ia tidak benar-benar memperhatikan apa yang terjadi di luar sana. Pandangannya kosong, tertuju pada satu titik di kejauhan yang tidak nyata, tetapi pikirannya justru penuh, terlalu penuh. Ada badai lain yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya, jauh lebih hebat daripada hujan di luar. Di belakangnya, meja kerja tampak rapi seperti biasa. Laptop menyala, memancarkan cahaya putih terang. Beberapa dokumen tersusun rapi, tanpa ada satu pun sudut kertas yang terlipat....