Postingan

Indah Namanya, Tapi...? (#2)

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? (#2) Menjelang tengah hari, Heru mulai memahami bahwa pekerjaan pemasaran tidak hanya berhubungan dengan menawarkan produk kepada klien. Ia juga harus memeriksa data, memahami riwayat transaksi, dan mempelajari kebiasaan setiap pelanggan. Banyak hal yang terlihat sederhana di permukaan ternyata memiliki penjelasan panjang di baliknya. Ia sedang mencatat beberapa istilah yang belum dipahami ketika Adit datang membawa gelas plastik berisi kopi. "Bagaimana? Masih hidup?" "Sejauh ini." "Bagus. Biasanya orang baru baru menyadari beratnya pekerjaan setelah makan siang. Sebelum makan, mereka masih punya harapan." Heru tertawa. "Kamu selalu begini?" "Begini bagaimana?" "Bercanda terus." Adit duduk di kursi kosong di depan meja Heru. "Kalau tidak bercanda, nanti saya harus memikirkan pekerjaan. Itu berbahaya bagi kesehatan." Heru menggeleng sambil tersenyum. "Kamu sudah lama kerja di sini?" ...

Indah Namanya, Tapi...?

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? Senin pagi, Jakarta sudah terlihat lelah bahkan sebelum pukul delapan. Di jalan raya, deretan sepeda motor menyelip di antara mobil-mobil yang bergerak lambat. Klakson bersahutan seperti orang-orang yang saling menyalahkan atas sesuatu yang sebenarnya tidak bisa mereka kendalikan. Di trotoar, seorang pedagang kopi keliling sibuk menuangkan minuman ke gelas plastik, sementara beberapa pekerja kantoran berdiri menunggu pesanan dengan wajah yang menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya siap menghadapi hari. Heru termasuk salah satunya. Laki-laki berusia dua puluh enam tahun itu berdiri di depan sebuah gedung perkantoran berlantai delapan di kawasan Jakarta Selatan. Kemeja biru mudanya masih cukup rapi, meskipun bagian punggungnya sedikit lembap karena perjalanan dari halte bus. Di tangan kirinya, ia memegang tas kerja berwarna hitam. Tangan kanannya sibuk merapikan ujung lengan kemeja, padahal sejak tadi tidak ada yang salah dengan bagian itu. Ia hanya gugup. Hari...

Dua Centang Tanpa Warna

Gambar
Dua Centang Tanpa Warna Layar ponsel di atas meja kayu kafe itu menyala sekilas, memantulkan cahaya putih di wajah Kirana. Tangannya yang memegang cangkir kopi susu yang sudah mendingin sejak satu jam lalu refleks menegang. Matanya bergerak cepat. Namun, itu hanya notifikasi dari aplikasi belanja daring yang menawarkan diskon kilat tengah malam. Kirana mengembuskan napas berat, meletakkan kembali cangkirnya dengan ketukan lirih yang tenggelam di antara denting sendok dan tawa riuh pengunjung lain. Jakarta pukul sembilan malam di kawasan Senopati tidak pernah tenang. Suara bising knalpot kendaraan yang terjebak macet di luar beradu dengan dentum musik beraliran deep house yang diputar samar-samar oleh barista. Di sudut ruangan, sepasang kekasih sedang berswafoto dengan tawa yang lepas. Di sudut lain, seorang pria berjas rapi sibuk berbicara dengan laptopnya. Semua orang tampak terhubung dengan sesuatu atau seseorang. Kecuali Kirana. Ia membuka aplikasi WhatsApp untuk kesekian kalinya. J...

Logika Yang Lumpuh

Gambar
Logika Yang Lumpuh Aroma kopi arabika dan sisa hujan yang menguap dari aspal Jakarta menyeruak masuk setiap kali pintu kaca kafe berayun. Di sudut, Daniel menatap cangkir kopinya yang perlahan mendingin. Pandangannya kosong, terpaku pada pantulan seorang wanita di kaca jendela besar di hadapannya. Wanita itu, Nisa, sedang tersenyum lebar menatap layar ponselnya. Melakukan panggilan video dengan anak laki-lakinya. Suara tawa kecil bocah empat tahun itu samar-samar terdengar, membuat kerutan lelah di wajah Nisa mengendur seketika. Bagi Danil, senyum itu adalah candu sekaligus duri yang sengaja ia tancapkan ke dadanya sendiri. "Kamu gila, Niel," bisikan tajam itu membuyarkan lamunannya. Daniel menoleh. Di hadapannya, Kinan, sahabat Nisa sekaligus rekan kerja Daniel menatapnya dengan kilatan amarah yang tidak lagi ditahan-tahan. "Gila apanya?" Daniel menyahut datar. "Semuanya! Cara kamu ngeliatin Nisa, cara kamu selalu pasang badan buat dia, bahkan batalin meeting ...

Debat Kusir Jumat Berkah

Gambar
Debat Kusir Jumat Berkah Jarum jam di dinding ruang divisi marketing baru saja menunjuk pukul 10.45 WIB. Suasana di dalam ruangan ber-AC sentral itu tampak sibuk. Suara ketukan keyboard dari laptop dan suara printer berpadu dengan dengung halus pendingin ruangan. Hermansyah menghela napas pelan sambil meregangkan otot-otot lehernya yang terasa agak kaku. Sejak absensi masuk pukul 08.00 pagi tadi, Hermansyah langsung berkutat tanpa jeda dengan draf laporan bulanan yang menyita konsentrasinya. Kini, setelah laporan itu tuntas dikirim ke email manajer, ia merasa berhak mengambil jeda sejenak. Tangannya secara otomatis merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintar berlayar sentuh. Ibu jarinya bergerak lincah membuka kunci layar, lalu mengetuk ikon aplikasi hijau berlogo gagang telepon. Tanpa sadar, matanya beralih ke tab Status. Ada puluhan lingkaran kecil hijau yang menunjukkan status baru dari kontak-kontaknya. Jari Hermansyah menggulir layar ke bawah hingga matanya berhenti pada satu...