Postingan

Memilih Untuk Tidak Lari

Gambar
Memilih Untuk Tidak Lari Hujan turun sejak siang dan belum menunjukkan tanda akan berhenti, membasahi jendela kaca di gedung-gedung perkantoran yang menjulang di kota Jakarta. Rintiknya menghantam kaca dengan irama yang membosankan, seolah-olah langit sedang mengeluh. Dari balik jendela kaca ruang kerja di lantai delapan, Riska berdiri memandang ke luar. Kedua tangannya terlipat di dada. Keadaan di bawah tampak buram, tertutup tirai air yang jatuh tanpa jeda. Kendaraan melambat. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ia tidak benar-benar memperhatikan apa yang terjadi di luar sana. Pandangannya kosong, tertuju pada satu titik di kejauhan yang tidak nyata, tetapi pikirannya justru penuh, terlalu penuh. Ada badai lain yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya, jauh lebih hebat daripada hujan di luar. Di belakangnya, meja kerja tampak rapi seperti biasa. Laptop menyala, memancarkan cahaya putih terang. Beberapa dokumen tersusun rapi, tanpa ada satu pun sudut kertas yang terlipat....

Pamit Yang Tak Terdengar

Gambar
Pamit Yang Tak Terdengar Rumah itu seharusnya hangat. Setidaknya itulah yang diingat Dirga saat ia bersama Firda , istrinya, pertama kali menandatangani kontrak sewa enam bulan lalu. Rumah bergaya kolonial minimalis di pinggiran kota itu punya jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menyentuh permukaan meja kayu di dapur. Namun, belakangan ini, matahari seolah enggan singgah. Rumah itu selalu terasa seperti pukul lima sore: remang, lembap, dan dingin. Dirga duduk di kursi ruang tamu, memperhatikan Firda yang sedang melamun di sofa depan. Istrinya itu terlihat kacau. Lingkaran hitam di bawah matanya mencekung, rambutnya yang biasa tergerai rapi kini diikat asal-asalan. Sudah seminggu ini Firda bersikap aneh. Ia jarang bicara, sering menangis tiba-tiba, dan yang paling membuat Dirga sakit hati, Firda seolah-olah tidak menganggapnya ada di sana. "Fir," panggil Dirga lembut. Suaranya serak, mungkin karena cuaca yang belakangan ini buruk. Firda tidak m...

Bukan Manis Tapi Iblis

Gambar
Bukan Manis Tapi Iblis Hujan di luar rumah kos Heru bukan lagi gerimis, tapi air tumpah dari langit seolah ingin menjebol atap kos. Di dalam kamar yang pengap oleh asap rokok, suasana tak kalah mendung. Heru duduk di pinggiran kasurnya, kaku, menatap dua tiket konser sold-out yang kini cuma jadi kertas sampah di atas meja kayu. Rizky, sahabatnya, berdiri di dekat dispenser, mengaduk kopi hitam di gelas dengan bunyi sendok yang beradu nyaring. Ia melirik Heru, lalu melirik jam dinding murah yang detaknya terasa memburu. "Sudah lewat dua jam, Her. Mau nunggu sampai kapan, sampai subuhkah?" tanya Rizky, suaranya berat karena kasihan. Heru tidak menoleh. Tatapannya kosong. Dengan suara parau yang hampir tertelan suara hujan, ia bergumam lirih, "Seharusnya kau berada di sisiku, mengusir sepi yang menyelimutiku." "Heru, dengarkan aku," Rizky mendekat, meletakkan gelas kopinya dengan kasar hingga airnya sedikit terpercik. "Dia tidak bakal datang." ...