Sumpah Serapah Berbungkus Berkah
Sumpah Serapah Berbungkus Berkah Dinding batako tanpa plester itu setebal sepuluh sentimeter, tetapi bagi Deni dan Nisa, dinding itu tak lebih dari selembar kertas minyak yang basah. Segala hal dari rumah sebelah selalu merembes masuk tanpa permisi. Suara minyak jelantah yang berdesis saat bertemu potongan bawang, lengkingan gayung plastik yang beradu dengan dasar bak mandi yang kosong, hingga tangis anak-anak. Malam itu, jam dinding di ruang tamu Deni menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Deni duduk di atas kursi plastik hijau. Jemarinya yang kasar dan bernoda oli dari pekerjaannya sebagai montir lepas di bengkel pinggir jalan sibuk mengelus layar ponselnya. Dia sedang menghitung sisa saldo di dompet digitalnya. Tiga puluh dua ribu rupiah. Cukup untuk bensin motor dua hari dan beberapa batang rokok eceran. Di sudut ruangan yang merangkap sebagai dapur, Nisa sedang menyetrika pakaian, tangannya bergerak lincah melipat dan menumpuknya. Oeeekkk... Oeeekkk... Suara lengkinga...