Ketika Ikhlas Belum Selesai
Ketika Ikhlas Belum Selesai Hujan turun sejak sore dan baru berhenti menjelang azan Isya berkumandang. Hermansyah duduk sendirian di teras rumah, membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya. Di tangannya, ponsel menyala. Ia tidak sedang menunggu pesan dari siapa pun, hanya menggulir layar tanpa tujuan, sampai akhirnya ia membuka aplikasi WhatsApp dan melihat pembaruan. Sebuah lingkaran hijau mengelilingi foto profil Yuli yang menandakan dia membuat status. Hermansyah menatap sebentar lalu membukanya. Yuli termasuk orang yang jarang membuat status bernada pribadi, biasanya hanya foto makanan, pemandangan, atau kalimat pendek, tetapi malam itu berbeda. Status Yuli berbicara tentang keikhlasan. Tentang menerima sesuatu yang tidak bisa diubah. Tentang bagaimana manusia kadang mengatakan dirinya sudah ikhlas, padahal di dalam hati masih ada pertanyaan yang belum selesai. Hermansyah membacanya dua kali, kemudian tiga kali. Ia mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang terasa terlalu personal. Ia ta...