Postingan

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#2)

Gambar
Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#2) Menjelang sore, Nadia menjemput Lila di rumah ibunya. Suasana sore itu terasa lengang, langit cerah tanpa awan sedikit pun. Lila berlari menghampiri begitu melihat ibunya turun dari taksi daring. "Ibu!" panggilnya dengan suara melengking. Nadia membungkuk, merentangkan tangan, dan mendekap erat. "Sudah kangen Ibu, hmm?" tanya Nadia sambil mencium puncak kepala Lila. Lila mengangguk cepat, kepalanya mendongak dengan mata berbinar. "Kangen banget," jawabnya jujur. "Tidurnya nyenyak?" "Enggak," cicit Lila cemberut. Nadia merenggangkan pelukan, menatap wajah kecil itu dengan heran. "Kenapa? Nenek tidak mendongeng sebelum tidur?" "Bukan. Karena Nenek mendengkur." Nadia tertawa renyah, telapak tangannya mengelus pipi gembul putrinya. "Ssst, jangan bilang begitu ke Nenek. Nanti Nenek sedih." Lila terkikik, memperlihatkan gigi susunya yang kecil. Anak itu menenteng tas ke...

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..?

Gambar
Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? Hujan baru saja berhenti ketika Irfan mematikan mesin motornya di depan sebuah rumah bercat putih di kawasan Jakarta Selatan. Jalanan masih basah. Lampu-lampu teras memantul di genangan air, sementara aroma tanah bercampur asap kendaraan memenuhi udara malam. Irfan melepas helm dan melihat nomor rumah yang tertera di pagar. Ketika ia sedang mencocokkan nomor rumah dengan alamat yang tertera di ponselnya, sebuah motor berhenti tak jauh darinya. "Ini rumahnya?" tanya Gilang sambil turun dari ojek online yang baru berhenti beberapa meter di belakang Irfan. Irfan memeriksa alamat di ponselnya. "Kalau Google Maps tidak sedang mengerjai kita, iya." Gilang membetulkan posisi kacamatanya. Di tangan kanannya tergantung tas laptop, sedangkan payung yang dibawanya tampak hampir tidak berguna setelah terkena angin. Dari ujung gang, Hadi muncul sambil berlari kecil. "Kalian lama banget!" seru Hadi dengan nada protes. Irfan menatap...

Sunyi Yang Tak Bisa Kau Kendalikan

Gambar
Sunyi Yang Tak Bisa Kau Kendalikan Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang menempel di udara sore Jakarta. Di sebuah sudut kafe kecil yang tenang, Nizar duduk sendirian. Di hadapannya, secangkir kopi hitam tanpa gula mengepulkan sisa-sisa uap tipis sebelum akhirnya menyerah pada udara dingin ruangan. Ia tampak tenang, teramat tenang, tetapi bagi siapa saja yang cukup peka, ketenangan itu justru menyerupai permukaan air danau yang menyimpan pusaran di dasarnya. “Masih suka kopi hitam tanpa gula?” Suara seorang perempuan dari belakang memecah keheningan yang sejak tadi menemani lamunannya. Nizar menoleh perlahan. Sekilas, senyum tersungging di bibirnya, tipis, nyaris tak terlihat, seperti goresan pensil warna abu-abu di atas kertas putih. "Masih," jawab Nizar datar, matanya menatap mata perempuan itu. "Kamu masih suka nanya hal yang sama setiap kali ketemu, ya, Ra?" Aira tertawa kecil. Ia menarik kursi kayu di hadapan Nizar dan duduk di sana tanpa di...

Sketsa Yang Tak Selesai

Gambar
Sketsa Yang Tak Selesai Bagi Hermansyah, sebuah laptop tua berselimut stiker kedai kopi dan sebuah pelataran blog berlatar putih adalah dunia yang jauh lebih ramah ketimbang riuhnya kenyataan. Di sanalah, di bawah nama pena yang sengaja disamarkan, ia membangun sebuah kota fiksi. Kota yang dihuni oleh kenangan-kenangan yang menolak mati, jalan-jalan setapak yang selalu basah oleh hujan sore hari, dan satu sosok wanita yang wajahnya tak pernah ia deskripsikan secara gamblang, namun kehadirannya terasa di setiap bait kalimat. Malam itu, jam dinding di kamar Hermansyah hampir pukul dua dini hari. Suara jangkrik di luar jendela beradu dengan ketukan ritmis jari-jari Hermansyah di atas papan ketik. "Beberapa orang ditakdirkan menjadi rumah, tempat kita pulang dan menetap. Namun, beberapa lainnya hanya ditakdirkan menjadi stasiun kereta. Kita singgah, bertukar senyum di peron, lalu terpaksa melambai saat peluit keberangkatan berbunyi. Dan bagian paling getir dari perjalanan itu adalah m...

Antara Yuli Dan Winda

Gambar
Antara Yuli Dan Winda Terik matahari pukul dua siang di Kompleks Ruko Permata tidak pernah ramah. Aspal yang mulai retak memantulkan uap panas yang membuat pandangan sedikit berbayang. Di sebuah kios berukuran tiga kali empat meter yang pengap oleh bau timah panas, Bayu sedang berjibaku dengan sebuah laptop tua. Mesinnya tampak lebih berantakan daripada rambut Bayu yang sudah tiga bulan tidak kena gunting tukang cukur di bawah pohon waru. Di sebelah mejanya, hanya terpisah sekat kayu rendah yang catnya sudah mengelupas. Sekat yang cukup rendah sehingga Bayu bisa melihat puncak kepala Fanny tanpa harus berdiri. Fanny sedang asyik menata tumpukan kartu perdana dan kabel data yang berantakan. Dia memakai kaos oblong hitam bergambar kucing yang sedang tidur dengan tulisan "Loading..." di bawahnya. Rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang warna kuning. Setelah selesai merapikan tumpukan kartu perdana dan kabel data tersebut, Fanny menghela napas panjang. Ia mengempaskan di...