Postingan

Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang

Gambar
Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang Arief menatap layar ponselnya yang berpendar di tengah remang pencahayaan kafe Kopi Senja . Jarum jam dinding di atas meja barista baru saja melewati angka delapan malam. Di hadapannya, secangkir caffè latte yang mulai kehilangan uap panasnya tampak kesepian. Biasanya, ada cangkir kedua di seberang meja, sebuah matcha latte dengan taburan bubuk kayu manis di atasnya. Namun malam ini, kursi kayu di depan Arief kosong melompong. Sudah empat hari, tiga jam, dan dua puluh menit sejak pertengkaran hebat itu terjadi. Arief masih ingat betul bagaimana nada suara Dinda meninggi sebelum akhirnya perempuan itu meraih tas selempangnya, berdiri, dan melangkah keluar dari kafe ini tanpa menoleh lagi. Pemicunya sebenarnya sepele, hanya masalah perbedaan jadwal liburan dan ego Arief yang menolak untuk mengalah sedikit saja. Namun, dampaknya seperti bom yang meluluhlantakkan komunikasi yang sudah mereka bangun selama dua tahun. Arief menghela napas panjang. Jempo...

Cerita Dari Meja Sudut

Gambar
Cerita Dari Meja Sudut Warung Sate Kambing dan Ayam Mbak Lastri berdiri di sudut perempatan, tepat di samping tiang listrik yang kabelnya menjuntai seperti rambut tak terurus. Bagi warga sekitar, warung ini adalah saksi bisu bagi keputusan-keputusan hidup yang seharusnya dipikirkan minimal dua kali sebelum diambil. Tendanya terbuat dari terpal plastik berwarna biru yang sudah pudar, sewarna dengan langit Jakarta di kala polusi sedang tinggi-tingginya. Di beberapa bagian, terpal itu tampak ditambal dengan lakban hitam tebal. Meja-meja panjang di dalamnya terbuat dari kayu yang dilapisi plastik tipis bermotif jajar genjang, sedikit lengket. Kursinya goyang walau tidak digoyangkan. Lampu LED empat puluh watt menggantung rendah di tengah tenda, diikat menggunakan tali rafia. Cahayanya putih perak, berpendar, dan selalu bergetar setiap kali ada truk atau bus lewat di jalan raya. Di atas panggangan, asap sate mengepul. Angin malam yang berembus pelan membawa kabut putih itu berputar-putar di...

Sebelum Es Batu Mencair

Gambar
Sebelum Es Batu Mencair Kaca tebal yang membatasi area rooftop lounge itu tidak mampu sepenuhnya menghalau hawa panas yang mengepung Jakarta dini hari ini. Angin malam yang berembus di luar sana sama sekali tidak membawa kesegaran; ia terasa kering dan membawa aroma aspal yang terbakar sisa siang hari. Di dalam ruangan, mesin pendingin udara berdesis konstan, berjuang keras melawan suhu tubuh orang-orang urban yang dipompa oleh alkohol dan musik berdentum rendah. Di sudut paling privat, empat orang berada dalam satu gravitasi yang sama, sementara satu sosok mengawasi dari balik meja bar. "Jadi, cuma segini kemampuan perusahaan lu sekarang, Jar?" Suara Baskara memecah denting es batu di dalam gelas kristal. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, sebelah tangannya merangkul bahu Mega dengan gestur posesif yang kentara. Fajar, yang duduk di seberang meja, menghentikan gerakannya yang hendak meneguk whiskey. Wajahnya yang letih setelah seharian bertemu klien tampak makin ka...

Asmara Tak Beralamat Tetap

Gambar
Asmara Tak Beralamat Tetap Di bangku panjang sebuah warung, Hermansyah duduk termangu. Pemuda berusia dua puluh empat tahun yang sehari-hari bekerja sebagai kurir paket itu menatap lurus ke arah tumpukan kerupuk kaleng. Wajahnya kusut, sekusut rambutnya yang sudah seminggu tidak terkena sisir. "Sepertinya gue lagi jatuh cinta, tapi sama siapa, ya? Susah makan kalau lagi tidur, susah tidur kalau lagi makan. Itulah yang gue rasakan saat ini," gumam Hermansyah tiba-tiba. Suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk memecah keheningan siang yang gerah itu. Wahyu, seorang buruh pabrik konfeksi yang sedang mendapat shift sore, langsung tersedak asap rokoknya sendiri. Di sebelahnya, Syarief, yang sedang sibuk menghitung sisa uang belanja di dompet kulitnya yang sudah mengelupas, menoleh dengan dahi berkerut dalam. "Herman," panggil Wahyu, menepuk bahu pemuda itu agak keras. "Lu kalau ngomong jangan suka membalikkan hukum alam. Ya iyalah susah makan kalau lagi tidur! Lu ma...

Indah Atau Winda, Atau...? (#2)

Gambar
Indah Atau Winda, Atau...? (#2) Winda merasa jantungnya seperti melompat dari tempatnya. Berdua aja? Damar ngajakin jalan berdua? Pikirannya mendadak kosong. Sisi emosionalnya menjerit senang, namun sisi introvert -nya langsung memicu alarm panik yang luar biasa. Berdua dengan Damar berarti dia harus berbicara, merespons, dan menatap cowok itu selama berjam-jam tanpa ada Sinta yang bisa dijadikan tameng penolong. "Gue..." Winda menelan ludah, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Gue takut... malah bikin bosen, Mar. Gue kan nggak pinter ngomong." Damar tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuat dada Winda makin berdesir. "Siapa juga yang mau nyari temen debat, Win? Gue cuma mau jalan bareng lu. Kalau lu nggak mau ngomong, ya kita muter-muter sambil diem-dieman aja juga nggak apa-apa. Gimana?" Winda terdiam cukup lama, menimbang-nimbang antara ketakutannya dan rasa sukanya yang sudah menahun pada Damar. Akhirnya, dengan anggukan yang sangat pelan, ...