Menunggu Respons Refa
Menunggu Respons Refa Katanya, Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur. Menurutku, Jakarta bukan cuma tidak tidur, tapi kota ini juga mengidap sindrom kecemasan akut yang membuatnya harus berlari setiap saat. Di stasiun MRT Bundaran HI pukul delapan pagi, manusia-manusia mengalir seperti air bah yang lolos dari tanggul beton. Mereka melangkah cepat, sepatu-sepatu pantofel dan flat shoes berketukan di atas lantai marmer dengan ritme yang konstan. Lalu, ada aku. Aku berdiri di dekat tiang beton, mencoba mengancingkan jaket beludruku. Butuh waktu sekitar tiga detik bagi jariku untuk menyadari bahwa kancing teratas sengaja kumasukkan ke lubang kedua. Aku mematung, menatap kancing itu, lalu mulai berpikir apakah aku harus membongkar semuanya dari bawah atau membiarkannya saja sebagai tren mode baru. "Refa! Demi Tuhan, lu lagi instal ulang Windows 11 di kepala lu, ya? Ayo cepat, keretanya udah mau jalan!" Sebuah tarikan kencang di pergelangan tanganku memutus perdebatan batin t...