Lelah Dalam Diam
Lelah Dalam Diam Kipas angin industri di pojok ruangan berputar, mengeluarkan derit monoton yang beradu dengan suara ketukan keyboard milik Hermansyah. Di luar jendela kaca berukuran besar, langit Jakarta sore menjelang magrib tampak kelabu, menggantung berat di atas gedung-gedung tinggi. Lantai empat di salah satu gedung itu adalah rumah bagi Divisi Pemasaran dan Administrasi PT Karya Wahana, sebuah perusahaan distributor logistik skala menengah. Di sinilah Hermansyah menghabiskan delapan jam sehari dalam hidupnya sebagai staf administrasi gudang dan data. Hermansyah mengusap matanya yang perih. Jam di pojok kanan bawah layar komputernya menunjukkan pukul 18.05 WIB. Seharusnya jam kerja sudah berakhir sejak sejam yang lalu. Namun, Hermansyah tidak beranjak. Matanya melirik ke arah kubikel di sudut seberang, tempat Fani duduk. Fani adalah rekan kerja satu divisinya. Hermansyah sudah lama jatuh hati pada perempuan itu. Bukan sekadar karena parasnya semata, melainkan karena ia melihat b...