Postingan

Pamit Yang Tak Terdengar - Cerpen

Gambar
Pamit Yang Tak Terdengar - Cerpen Rumah itu seharusnya hangat. Setidaknya itulah yang diingat Dirga saat ia bersama Firda , istrinya, pertama kali menandatangani kontrak sewa enam bulan lalu. Rumah bergaya kolonial minimalis di pinggiran kota itu punya jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menyentuh permukaan meja kayu di dapur. Namun, belakangan ini, matahari seolah enggan singgah. Rumah itu selalu terasa seperti pukul lima sore: remang, lembap, dan dingin. Dirga duduk di kursi ruang tamu, memperhatikan Firda yang sedang melamun di sofa depan. Istrinya itu terlihat kacau. Lingkaran hitam di bawah matanya mencekung, rambutnya yang biasa tergerai rapi kini diikat asal-asalan. Sudah seminggu ini Firda bersikap aneh. Ia jarang bicara, sering menangis tiba-tiba, dan yang paling membuat Dirga sakit hati, Firda seolah-olah tidak menganggapnya ada di sana. "Fir," panggil Dirga lembut. Suaranya serak, mungkin karena cuaca yang belakangan ini buruk. Fird...

Bukan Manis Tapi Iblis - Cerpen

Gambar
Bukan Manis Tapi Iblis - Cerpen Hujan di luar rumah kos Heru bukan lagi gerimis, tapi air tumpah dari langit seolah ingin menjebol atap kos. Di dalam kamar yang pengap oleh asap rokok, suasana tak kalah mendung. Heru duduk di pinggiran kasurnya, kaku, menatap dua tiket konser sold-out yang kini cuma jadi kertas sampah di atas meja kayu. Rizky, sahabatnya, berdiri di dekat dispenser, mengaduk kopi hitam di gelas dengan bunyi sendok yang beradu nyaring. Ia melirik Heru, lalu melirik jam dinding murah yang detaknya terasa memburu. "Sudah lewat dua jam, Her. Mau nunggu sampai kapan, sampai subuhkah?" tanya Rizky, suaranya berat karena kasihan. Heru tidak menoleh. Tatapannya kosong. Dengan suara parau yang hampir tertelan suara hujan, ia bergumam lirih, "Seharusnya kau berada di sisiku, mengusir sepi yang menyelimutiku." "Heru, dengarkan aku," Rizky mendekat, meletakkan gelas kopinya dengan kasar hingga airnya sedikit terpercik. "Dia tidak bakal datang....

Anomali Tulisan Tangan Yuli - Cerpen

Gambar
Anomali Tulisan Tangan Yuli - Cerpen Lisa adalah tipe pemimpin yang memuja detail; baginya, sebuah acara adalah karya seni yang tak boleh cacat. Itulah mengapa ia jatuh cinta pada naskah yang dikirimkan oleh seseorang bernama Yuli . Konsep itu tidak diketik, melainkan ditulis tangan di atas kertas linen. Garis-garis hurufnya meliuk indah, rapi, dan memiliki ritme yang menenangkan. Jenis tulisan mencerminkan ketelatenan seorang perempuan perfeksionis. "Angga, lihat transisi adegan ini," ujar Lisa sambil jarinya menelusuri baris-baris tulisan di atas kertas itu, di dalam ruang senat mahasiswa. "Yuli ini punya sensitivitas tinggi. Dia mengusulkan pencahayaan amber lembut untuk pembukaan. Hanya perempuan yang punya perasaan sehalus ini dalam memikirkan kenyamanan mata penonton." Angga yang sedang asyik menyesap kopi hampir tersedak. Ia melirik kertas itu. Ia tahu benar bahwa Yuli yang mengirimkan konsep itu adalah sahabatnya. Tulisan indah itu hanyalah hasil didikan ker...