Jari Yang Terkunci
Jari Yang Terkunci Udara di satu kompleks perumahan sore itu terasa lengket. Firman duduk di kursi plastik yang kaki-kakinya mulai melengkung, menahan beban tubuhnya yang gelisah. Di depannya, segelas kopi hitam yang sudah dingin menyisakan ampas setebal setengah sentimeter. Dari kursi di sebelahnya, terdengar bunyi renyah seseorang yang sedang asyik mengunyah rempeyek. Namun, fokus Firman bukan pada suara itu, melainkan pada layar ponselnya yang redup. "Masih belum berani, Man?" Suara cempreng itu datang dari balik kepulan uap penggorengan. Mpok Neneng, wanita paruh baya dengan daster bermotif abstrak sederhana yang sudah pudar, menatap Firman dengan tatapan yang sulit diartikan. Warung Mpok Neneng bukan sekadar tempat makan; ini adalah pusat intelijen swadaya masyarakat. Di sini, rahasia tersebar tanpa ampun. "Ini masalah strategi, Mpok," jawab Firman berkilah. Jarinya mengambang di atas tombol Kirim. Pesan itu berbunyi: "Sore Mbak Sekar. Suaminya sedang tug...