Postingan

Indah Atau Winda, Atau...? (#2)

Gambar
Indah Atau Winda, Atau...? (#2) Winda merasa jantungnya seperti melompat dari tempatnya. Berdua aja? Damar ngajakin jalan berdua? Pikirannya mendadak kosong. Sisi emosionalnya menjerit senang, namun sisi introvert -nya langsung memicu alarm panik yang luar biasa. Berdua dengan Damar berarti dia harus berbicara, merespons, dan menatap cowok itu selama berjam-jam tanpa ada Sinta yang bisa dijadikan tameng penolong. "Gue..." Winda menelan ludah, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Gue takut... malah bikin bosen, Mar. Gue kan nggak pinter ngomong." Damar tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuat dada Winda makin berdesir. "Siapa juga yang mau nyari temen debat, Win? Gue cuma mau jalan bareng lu. Kalau lu nggak mau ngomong, ya kita muter-muter sambil diem-dieman aja juga nggak apa-apa. Gimana?" Winda terdiam cukup lama, menimbang-nimbang antara ketakutannya dan rasa sukanya yang sudah menahun pada Damar. Akhirnya, dengan anggukan yang sangat pelan, ...

Indah Atau Winda, Atau...?

Gambar
Indah Atau Winda, Atau...? Aroma kopi yang beradu dengan aroma hujan sore itu selalu berhasil membuat Damar terjebak dalam lamunan. Di sudut Kafe Selasar Waktu yang temaram, cowok berpenampilan sederhana itu sedang menatap layar ponselnya. Ibu jarinya bergerak lambat, menggulirkan lini masa Instagram yang dipenuhi oleh foto-foto estetik dari sebuah akun bernama: indah_lestari. Foto terbaru yang diunggah akun itu hanya menampilkan sudut sebuah jendela yang basah oleh tetesan air hujan, dengan sebuah buku terbuka di ambang jendela dan cangkir keramik hitam berisi teh yang masih mengepulkan uap. Sederhana, namun entah mengapa, foto itu memiliki jiwa. Di bawahnya, tertulis takarir pendek: Hujan selalu punya cara untuk menyampaikan apa yang gagal diucapkan oleh lidah. Damar tersenyum kecil. Ia segera mengetuk ikon pesawat kertas, membagikan unggahan itu ke pesan langsung (DM), lalu mengetikkan sesuatu. damar_aditya: Selalu suka sudut pandangmu kalau motret hujan. Kayak ada lagu melankolis ...

Dialog Yang Tertunda

Gambar
Dialog Yang Tertunda Malam itu, langit di atas Jakarta tampak enggan menunjukkan bintangnya. Hanya ada semburat abu-abu keperakan yang tipis, kalah telak oleh pendar lampu-lampu kota yang tak pernah tidur. Di atas rooftop rumah Yudha, udara berembus sedikit lebih kencang, membawa aroma arang terbakar dan bumbu BBQ yang gurih. Namun, bagi Baihaqi, udara malam itu terasa mencekik. "Yud, jagungnya gosong satu tuh! Lu jangan melamun dong, mikirin jemuran di rumah apa gimana?" suara lantang Raka memecah keheningan, disusul tawa renyahnya yang khas. Yudha, yang sedang memegang capitan besi di depan pemanggang, mendengus pelan. "Sialan lu, Ka. Ini efek karamelisasi namanya, bukan gosong. Lu kalau mau protes, mending bantu olesin mentega ke dagingnya nih." Di sudut lain yang agak gelap, Naia duduk di atas pembatas beton rooftop yang sudah dipasangi pagar pengaman. Kakinya yang dibalut celana jins tergantung bebas, diayunkan pelan mengikuti ritme angin. Pandangannya luru...

Jari Yang Terkunci

Gambar
Jari Yang Terkunci Udara di satu kompleks perumahan sore itu terasa lengket. Firman duduk di kursi plastik yang kaki-kakinya mulai melengkung, menahan beban tubuhnya yang gelisah. Di depannya, segelas kopi hitam yang sudah dingin menyisakan ampas setebal setengah sentimeter. Dari kursi di sebelahnya, terdengar bunyi renyah seseorang yang sedang asyik mengunyah rempeyek. Namun, fokus Firman bukan pada suara itu, melainkan pada layar ponselnya yang redup. "Masih belum berani, Man?" Suara cempreng itu datang dari balik kepulan uap penggorengan. Mpok Neneng, wanita paruh baya dengan daster bermotif abstrak sederhana yang sudah pudar, menatap Firman dengan tatapan yang sulit diartikan. Warung Mpok Neneng bukan sekadar tempat makan; ini adalah pusat intelijen swadaya masyarakat. Di sini, rahasia tersebar tanpa ampun. "Ini masalah strategi, Mpok," jawab Firman berkilah. Jarinya mengambang di atas tombol Kirim. Pesan itu berbunyi: "Sore Mbak Sekar. Suaminya sedang tug...

Setelah Hujan Reda

Gambar
Setelah Hujan Reda Lampu jalan mulai menyala satu per satu, berpendar putih di bawah langit Jakarta yang temaram. Hermansyah melangkah santai, tangannya merogoh saku jaket parasutnya yang mulai pudar. Di bangku kayu panjang depan warung mi rebus dan kopi sachet , Arief dan Kamal sudah duduk dengan kepulan asap rokok yang menyelimuti obrolan mereka. "Dari mana, Man?" tanya Arief tanpa menoleh, matanya fokus pada layar ponsel. "Habis dari rumah janda yang nggak ada lakinya, Rief," jawab Hermansyah sambil nyengir, menarik kursi plastik merah lalu duduk dengan posisi kaki terbuka lebar. "Lha di mana-mana, janda memang nggak ada lakinya, Man!" sambar Kamal sambil menyentil abu rokoknya. "Lalu?" jawab Hermansyah pendek, memancing reaksi. Arief menggeleng pelan, sementara Kamal cuma terkekeh. Mereka sudah hafal gaya Hermansyah yang suka menggantung cerita seperti jemuran. "Serius dikit, Man. Ceritanya apa?" tanya Arief akhirnya, meletakkan pon...