Dua Centang Tanpa Warna
Dua Centang Tanpa Warna Layar ponsel di atas meja kayu kafe itu menyala sekilas, memantulkan cahaya putih di wajah Kirana. Tangannya yang memegang cangkir kopi susu yang sudah mendingin sejak satu jam lalu refleks menegang. Matanya bergerak cepat. Namun, itu hanya notifikasi dari aplikasi belanja daring yang menawarkan diskon kilat tengah malam. Kirana mengembuskan napas berat, meletakkan kembali cangkirnya dengan ketukan lirih yang tenggelam di antara denting sendok dan tawa riuh pengunjung lain. Jakarta pukul sembilan malam di kawasan Senopati tidak pernah tenang. Suara bising knalpot kendaraan yang terjebak macet di luar beradu dengan dentum musik beraliran deep house yang diputar samar-samar oleh barista. Di sudut ruangan, sepasang kekasih sedang berswafoto dengan tawa yang lepas. Di sudut lain, seorang pria berjas rapi sibuk berbicara dengan laptopnya. Semua orang tampak terhubung dengan sesuatu atau seseorang. Kecuali Kirana. Ia membuka aplikasi WhatsApp untuk kesekian kalinya. J...