Postingan

Gara-gara Status WhatsApp, Siaallll!

Gambar
Gara-gara Status WhatsApp, Siaallll! Yudha merebahkan tubuhnya di atas kasur busa kosan yang sudah mulai menipis, memosisikan kipas angin mini tepat menghadap wajahnya yang gerah. Ritual malam hari setelah penat bekerja selalu sama: membuka ponsel, masuk ke aplikasi WhatsApp, lalu mengetuk tab Pembaruan. Baginya, melihat status WhatsApp orang lain adalah hiburan murah meriah daripada bergosip dengan tetangga. Jempolnya bergerak lincah melakukan scrolling. Ada status rekan kerjanya yang memamerkan kopi susu mahal, status sepupunya yang hobi membagikan kata-kata motivasi religius, hingga status bapak kos yang menagih uang sewa bulanan lewat kutipan hadis. Yudha hampir saja menutup aplikasi itu ketika matanya menangkap satu nama di daftar pembaruan. Fira. Nama itu seketika membuat jempol Yudha mengerem mendadak. Fira adalah teman kuliahnya dulu. Seorang perempuan yang ramah, bermuka imut, dan punya selera humor yang sangat receh. Masalahnya, Fira kini sudah menjadi istri orang. Dan bukan ...

Indah Namanya, Tapi...? (#4)

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? (#4) Pukul tujuh lewat lima belas menit, Heru sudah berada di kantor. Ia datang lebih pagi daripada yang diminta Indah, sebagian karena tidak ingin terlambat, sebagian lagi karena semalam ia memikirkan laporan penjualan yang belum selesai diperiksanya. Ada kepuasan tersendiri ketika ia berhasil datang sebelum kebanyakan pegawai. Gedung masih relatif sepi, udara dari pendingin ruangan belum terasa menusuk, dan bunyi langkahnya sendiri terdengar jelas di lorong. Di meja kerjanya, ia menyalakan komputer lalu membuka catatan yang dibuatnya kemarin. Ia sudah memeriksa beberapa dokumen pendukung, tetapi belum menemukan penjelasan yang meyakinkan untuk perbedaan angka pada salah satu transaksi. Nomor pesanannya cocok. Nama pelanggannya juga benar. Namun, jumlah barang yang tercatat pada laporan sebelumnya berbeda dari jumlah yang muncul dalam sistem terbaru. Ia memeriksa sekali lagi. Dua ratus empat puluh unit pada satu dokumen. Dua ratus empat belas pada dokumen lainn...

Indah Namanya, Tapi...? (#3)

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? (#3) Menjelang pukul sebelas, Heru mulai memahami mengapa hampir semua orang di bagian pemasaran mengenal Indah. Ketika seorang staf penjualan bernama Deni datang dengan wajah kusut karena salah mengirimkan daftar harga kepada pelanggan, Indah segera memeriksa surelnya. "Ini yang kamu kirim kemarin?" "Iya." "Yang harga grosirnya masih versi bulan lalu?" Deni mengangguk dengan ekspresi orang yang baru saja menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Indah menutup mata sebentar. "Deni, saya mau tanya satu hal." "Apa?" "Kamu mengirim daftar harga bulan lalu karena kangen masa lalu, atau karena kamu memang ingin membuat pelanggan kita bernostalgia?" Deni menunduk. "Saya salah, Mbak."1 "Ya, saya tahu kamu salah. Kalau tidak salah, kita tidak sedang membahas ini." Adit mulai tertawa, tetapi berhenti ketika melihat wajah Deni. Indah pun tidak melanjutkan leluconnya. Ia membuka sur...

Indah Namanya, Tapi...? (#2)

Gambar
Indah Namanya, Tapi...? (#2) Menjelang tengah hari, Heru mulai memahami bahwa pekerjaan pemasaran tidak hanya berhubungan dengan menawarkan produk kepada klien. Ia juga harus memeriksa data, memahami riwayat transaksi, dan mempelajari kebiasaan setiap pelanggan. Banyak hal yang terlihat sederhana di permukaan ternyata memiliki penjelasan panjang di baliknya. Ia sedang mencatat beberapa istilah yang belum dipahami ketika Adit datang membawa gelas plastik berisi kopi. "Bagaimana? Masih hidup?" "Sejauh ini." "Bagus. Biasanya orang baru baru menyadari beratnya pekerjaan setelah makan siang. Sebelum makan, mereka masih punya harapan." Heru tertawa. "Kamu selalu begini?" "Begini bagaimana?" "Bercanda terus." Adit duduk di kursi kosong di depan meja Heru. "Kalau tidak bercanda, nanti saya harus memikirkan pekerjaan. Itu berbahaya bagi kesehatan." Heru menggeleng sambil tersenyum. "Kamu sudah lama kerja di sini?" ...