Logika Yang Lumpuh
Logika Yang Lumpuh Aroma kopi arabika dan sisa hujan yang menguap dari aspal Jakarta menyeruak masuk setiap kali pintu kaca kafe berayun. Di sudut, Daniel menatap cangkir kopinya yang perlahan mendingin. Pandangannya kosong, terpaku pada pantulan seorang wanita di kaca jendela besar di hadapannya. Wanita itu, Nisa, sedang tersenyum lebar menatap layar ponselnya. Melakukan panggilan video dengan anak laki-lakinya. Suara tawa kecil bocah empat tahun itu samar-samar terdengar, membuat kerutan lelah di wajah Nisa mengendur seketika. Bagi Danil, senyum itu adalah candu sekaligus duri yang sengaja ia tancapkan ke dadanya sendiri. "Kamu gila, Niel," bisikan tajam itu membuyarkan lamunannya. Daniel menoleh. Di hadapannya, Kinan, sahabat Nisa sekaligus rekan kerja Daniel menatapnya dengan kilatan amarah yang tidak lagi ditahan-tahan. "Gila apanya?" Daniel menyahut datar. "Semuanya! Cara kamu ngeliatin Nisa, cara kamu selalu pasang badan buat dia, bahkan batalin meeting ...