Bukan Manis Tapi Iblis - Cerpen
Bukan Manis Tapi Iblis - Cerpen Hujan di luar rumah kos Heru bukan lagi gerimis, tapi air tumpah dari langit seolah ingin menjebol atap kos. Di dalam kamar yang pengap oleh asap rokok, suasana tak kalah mendung. Heru duduk di pinggiran kasurnya, kaku, menatap dua tiket konser sold-out yang kini cuma jadi kertas sampah di atas meja kayu. Rizky, sahabatnya, berdiri di dekat dispenser, mengaduk kopi hitam di gelas dengan bunyi sendok yang beradu nyaring. Ia melirik Heru, lalu melirik jam dinding murah yang detaknya terasa memburu. "Sudah lewat dua jam, Her. Mau nunggu sampai kapan, sampai subuhkah?" tanya Rizky, suaranya berat karena kasihan. Heru tidak menoleh. Tatapannya kosong. Dengan suara parau yang hampir tertelan suara hujan, ia bergumam lirih, "Seharusnya kau berada di sisiku, mengusir sepi yang menyelimutiku." "Heru, dengarkan aku," Rizky mendekat, meletakkan gelas kopinya dengan kasar hingga airnya sedikit terpercik. "Dia tidak bakal datang....