Bukan Sabar, Itu Indah
Bukan Sabar, Itu Indah Aroma sabun cuci motor bercampur uap aspal panas sudah menjadi menu sarapan Sabar setiap hari. Di bawah kanopi spandeks yang memantulkan terik matahari Jakarta pukul sebelas siang, tangannya cekatan menggosok sasis motor bebek yang berlumpur. Kaus oblongnya basah kuyup, entah oleh air selang atau keringatnya sendiri. "Bar, dicariin si Indah tuh di depan," teriak Pak Amir dari dalam ruangannya yang merangkap gudang. Pak Amir mengendurkan raut mukanya yang kaku sebentar, memberikan isyarat dagu ke arah warung kopi di seberang jalan. Sabar menghentikan semprotan airnya. Ia mengusap dahi dengan punggung tangan, lalu buru-buru mematikan kompresor. Di seberang jalan, duduk seorang gadis dengan seragam minimarket. Rambutnya dibiarkan lepas terurai melewati bahu, wajahnya tampak lelah. Itu Indah. Sabar menyeberang jalan setelah meminta izin singkat pada Pak Amir. Di warung kopi, Tono sudah lebih dulu nangkring sambil mengisap sebatang rokok hasil patungan. ...