Sketsa Yang Tak Selesai
Sketsa Yang Tak Selesai Bagi Hermansyah, sebuah laptop tua berselimut stiker kedai kopi dan sebuah pelataran blog berlatar putih adalah dunia yang jauh lebih ramah ketimbang riuhnya kenyataan. Di sanalah, di bawah nama pena yang sengaja disamarkan, ia membangun sebuah kota fiksi. Kota yang dihuni oleh kenangan-kenangan yang menolak mati, jalan-jalan setapak yang selalu basah oleh hujan sore hari, dan satu sosok wanita yang wajahnya tak pernah ia deskripsikan secara gamblang, namun kehadirannya terasa di setiap bait kalimat. Malam itu, jam dinding di kamarnya hampir pukul dua dini hari. Suara jangkrik di luar jendela beradu dengan ketukan ritmis jari-jari Hermansyah di atas papan ketik. “Beberapa orang ditakdirkan menjadi rumah, tempat kita pulang dan menetap. Namun, beberapa lainnya hanya ditakdirkan menjadi stasiun kereta. Kita singgah, bertukar senyum di peron, lalu terpaksa melambai saat peluit keberangkatan berbunyi. Dan bagian paling getir dari perjalanan itu adalah menyadari bah...