Postingan

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#3)

Gambar
Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#3) Dua hari setelah makan malam di kawasan Kemang, ritme di dalam rumah Nadia terasa bergeser ke arah yang lebih hidup. Pagi itu, Lila asyik menorehkan krayon warna-warni di atas kertas gambar di lantai ruang tamu. Sekar tampak serius merancang tata letak desain di laptopnya dekat meja makan, sementara Nadia sendiri sibuk di area dapur menyiapkan sarapan. "Ibu!" panggil Lila dengan suara nyaring. Nadia menghentikan sejenak kegiatannya dan menoleh ke arah sumber suara. "Ya, sayang?" "Lihat gambar Lila!" Lila mengangkat kertas gambarnya tinggi-tinggi. Nadia melangkah mendekat, tersenyum mendapati goresan tangan putrinya yang menggambarkan enam orang berdiri berjajar di depan sebuah rumah minimalis. "Wah, ini siapa saja?" tanyanya lembut. Satu per satu sosok ditunjuk oleh jemari mungil Lila. "Ini Lila, ini Ibu, dan ini Tante Sekar." Sekar yang mendengar namanya disebut, menghampiri mereka. Giliran t...

Ketika Ikhlas Belum Selesai

Gambar
Ketika Ikhlas Belum Selesai Hujan turun sejak sore dan baru berhenti menjelang azan Isya berkumandang. Hermansyah duduk sendirian di teras rumah, membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya. Di tangannya, ponsel menyala. Ia tidak sedang menunggu pesan dari siapa pun, hanya menggulir layar tanpa tujuan, sampai akhirnya ia membuka aplikasi WhatsApp dan melihat pembaruan. Sebuah lingkaran hijau mengelilingi foto profil Yuli yang menandakan dia membuat status. Hermansyah menatap sebentar lalu membukanya. Yuli termasuk orang yang jarang membuat status bernada pribadi, biasanya hanya foto makanan, pemandangan, atau kalimat pendek, tetapi malam itu berbeda. Status Yuli berbicara tentang keikhlasan. Tentang menerima sesuatu yang tidak bisa diubah. Tentang bagaimana manusia kadang mengatakan dirinya sudah ikhlas, padahal di dalam hati masih ada pertanyaan yang belum selesai. Hermansyah membacanya dua kali, kemudian tiga kali. Ia mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang terasa terlalu personal. Ia ta...

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#2)

Gambar
Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#2) Menjelang sore, Nadia menjemput Lila di rumah ibunya. Suasana sore itu terasa lengang, langit cerah tanpa awan sedikit pun. Lila berlari menghampiri begitu melihat ibunya turun dari taksi daring. "Ibu!" panggilnya dengan suara melengking. Nadia membungkuk, merentangkan tangan, dan mendekap erat. "Sudah kangen Ibu, hmm?" tanya Nadia sambil mencium puncak kepala Lila. Lila mengangguk cepat, kepalanya mendongak dengan mata berbinar. "Kangen banget," jawabnya jujur. "Tidurnya nyenyak?" "Enggak," cicit Lila cemberut. Nadia merenggangkan pelukan, menatap wajah kecil itu dengan heran. "Kenapa? Nenek tidak mendongeng sebelum tidur?" "Bukan. Karena Nenek mendengkur." Nadia tertawa renyah, telapak tangannya mengelus pipi gembul putrinya. "Ssst, jangan bilang begitu ke Nenek. Nanti Nenek sedih." Lila terkikik, memperlihatkan gigi susunya yang kecil. Anak itu menenteng tas ke...

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..?

Gambar
Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? Hujan baru saja berhenti ketika Irfan mematikan mesin motornya di depan sebuah rumah bercat putih di kawasan Jakarta Selatan. Jalanan masih basah. Lampu-lampu teras memantul di genangan air, sementara aroma tanah bercampur asap kendaraan memenuhi udara malam. Irfan melepas helm dan melihat nomor rumah yang tertera di pagar. Ketika ia sedang mencocokkan nomor rumah dengan alamat yang tertera di ponselnya, sebuah motor berhenti tak jauh darinya. "Ini rumahnya?" tanya Gilang sambil turun dari ojek online yang baru berhenti beberapa meter di belakang Irfan. Irfan memeriksa alamat di ponselnya. "Kalau Google Maps tidak sedang mengerjai kita, iya." Gilang membetulkan posisi kacamatanya. Di tangan kanannya tergantung tas laptop, sedangkan payung yang dibawanya tampak hampir tidak berguna setelah terkena angin. Dari ujung gang, Hadi muncul sambil berlari kecil. "Kalian lama banget!" seru Hadi dengan nada protes. Irfan menatap...