Postingan

Jari Yang Terkunci

Gambar
Jari Yang Terkunci Udara di satu kompleks perumahan sore itu terasa lengket. Firman duduk di kursi plastik yang kaki-kakinya mulai melengkung, menahan beban tubuhnya yang gelisah. Di depannya, segelas kopi hitam yang sudah dingin menyisakan ampas setebal setengah sentimeter. Dari kursi di sebelahnya, terdengar bunyi renyah seseorang yang sedang asyik mengunyah rempeyek. Namun, fokus Firman bukan pada suara itu, melainkan pada layar ponselnya yang redup. "Masih belum berani, Man?" Suara cempreng itu datang dari balik kepulan uap penggorengan. Mpok Neneng, wanita paruh baya dengan daster bermotif abstrak sederhana yang sudah pudar, menatap Firman dengan tatapan yang sulit diartikan. Warung Mpok Neneng bukan sekadar tempat makan; ini adalah pusat intelijen swadaya masyarakat. Di sini, rahasia tersebar tanpa ampun. "Ini masalah strategi, Mpok," jawab Firman berkilah. Jarinya mengambang di atas tombol Kirim. Pesan itu berbunyi: "Sore Mbak Sekar. Suaminya sedang tug...

Setelah Hujan Reda

Gambar
Setelah Hujan Reda Lampu jalan mulai menyala satu per satu, berpendar putih di bawah langit Jakarta yang temaram. Hermansyah melangkah santai, tangannya merogoh saku jaket parasutnya yang mulai pudar. Di bangku kayu panjang depan warung mi rebus dan kopi sachet , Arief dan Kamal sudah duduk dengan kepulan asap rokok yang menyelimuti obrolan mereka. "Dari mana, Man?" tanya Arief tanpa menoleh, matanya fokus pada layar ponsel. "Habis dari rumah janda yang nggak ada lakinya, Rief," jawab Hermansyah sambil nyengir, menarik kursi plastik merah lalu duduk dengan posisi kaki terbuka lebar. "Lha di mana-mana, janda memang nggak ada lakinya, Man!" sambar Kamal sambil menyentil abu rokoknya. "Lalu?" jawab Hermansyah pendek, memancing reaksi. Arief menggeleng pelan, sementara Kamal cuma terkekeh. Mereka sudah hafal gaya Hermansyah yang suka menggantung cerita seperti jemuran. "Serius dikit, Man. Ceritanya apa?" tanya Arief akhirnya, meletakkan pon...

Andi: Sang Mekanik Hati

Gambar
Andi: Sang Mekanik Hati Suara hujan yang jatuh di atas atap seng Warung Kopi Gemini selalu terdengar seperti rentetan peluru kecil yang tak kunjung habis. Warung ini bukan tempat elit. Meja-mejanya kayu kusam, kursinya plastik yang sebagian sudah retak, dan menu andalannya hanyalah kopi sachet atau teh tarik kental. Di dalam warung, uap dari panci air yang mendidih beradu dengan aroma khas tembakau murah dan bau apek jas hujan yang digantung di tiang penyangga. Warung ini adalah "parlemen" bagi orang-orang kecil di sudut kota, tempat di mana kebijakan RT dibahas secara tidak resmi dan reputasi seseorang bisa naik atau jatuh hanya dalam satu putaran gelas kopi. Malam itu, lima orang berkumpul di satu meja panjang. Ada Andi, seorang mekanik bengkel motor; Rian, pemuda pengangguran yang hobinya main game online ; Deni, seorang kurir paket yang selalu dikejar target deadline; Slamet, satpam komplek perumahan sebelah yang sedang libur; dan Bang Yadi sendiri, sang pemilik warung ya...

Satu Detik Sebelum Runtuh

Gambar
Satu Detik Sebelum Runtuh Hujan malam itu tidak sekadar turun; ia seperti mengurung dunia. Di lantai lima belas sebuah apartemen, suara rintiknya yang menghantam jendela bukan lagi latar belakang, melainkan dentum pelan yang memaksa siapa pun untuk berhenti bicara. Ella berdiri mematung di sana. Ujung jarinya menempel pada permukaan kaca yang dingin, mengikuti alur air yang jatuh acak. Di pantulan kaca, wajahnya tampak kabur, terbelah oleh garis-garis air, seperti seseorang yang sedang mencoba mengenali dirinya sendiri namun gagal. Sudah seminggu, sejak ciuman terlarang di bawah lampu taman itu. Namun bagi Ella, waktu telah kehilangan detaknya. Ia terjebak di sana, di antara dinginnya malam dan napas yang tertahan. "El..." Suara Ihsan memecah hening. Lembut, tapi terselip nada berat di sana. Ihsan tidak bergerak mendekat; ia hanya berdiri di dekat sofa, memperhatikan punggung Ella. "Aku di sini," lanjut Ihsan lebih pelan. "Tapi rasanya kamu... semakin jauh....

Hujan Yang Tak Lagi Dingin

Gambar
Hujan Yang Tak Lagi Dingin Sore itu, Jakarta sedang diguyur gerimis tipis. Di sudut sebuah kafe bernuansa industrial dengan lampu-lampu kuning yang temaram dan kaca-kaca besar yang menghadap ke jalanan, Dina duduk mengaduk-aduk caffe latte -nya yang sudah dingin. Uapnya sudah lama hilang, menyisakan buih-buih kecokelatan yang mulai pecah di pinggiran cangkir Di depannya, Heni, sahabatnya sejak di bangku sekolah memperhatikan sejak tadi. Ia sengaja memesan meja di pojok, jauh dari kebisingan mesin kopi, seolah tahu bahwa percakapan sore ini akan membutuhkan privasi. "Kamu dari tadi diam saja," kata Heni akhirnya, memecah keheningan yang cukup lama. "Biasanya kalau ketemu, kamu yang paling banyak cerita, Din. Bahkan tentang kucing tetangga yang salah masuk rumah pun kamu bisa ceritakan sampai setengah jam." Dina tersenyum tipis. Sebuah senyum yang hanya mampir di bibir, namun tidak sampai menyentuh matanya yang meredup. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, menata...