Asmara Tak Beralamat Tetap
Asmara Tak Beralamat Tetap Di bangku panjang sebuah warung, Hermansyah duduk termangu. Pemuda berusia dua puluh empat tahun yang sehari-hari bekerja sebagai kurir paket itu menatap lurus ke arah tumpukan kerupuk kaleng. Wajahnya kusut, sekusut rambutnya yang sudah seminggu tidak terkena sisir. "Sepertinya gue lagi jatuh cinta, tapi sama siapa, ya? Susah makan kalau lagi tidur, susah tidur kalau lagi makan. Itulah yang gue rasakan saat ini," gumam Hermansyah tiba-tiba. Suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk memecah keheningan siang yang gerah itu. Wahyu, seorang buruh pabrik konfeksi yang sedang mendapat shift sore, langsung tersedak asap rokoknya sendiri. Di sebelahnya, Syarief, yang sedang sibuk menghitung sisa uang belanja di dompet kulitnya yang sudah mengelupas, menoleh dengan dahi berkerut dalam. "Herman," panggil Wahyu, menepuk bahu pemuda itu agak keras. "Lu kalau ngomong jangan suka membalikkan hukum alam. Ya iyalah susah makan kalau lagi tidur! Lu ma...