Satu Detik Sebelum Runtuh
Satu Detik Sebelum Runtuh Hujan malam itu tidak sekadar turun; ia seperti mengurung dunia. Di lantai lima belas sebuah apartemen, suara rintiknya yang menghantam jendela bukan lagi latar belakang, melainkan dentum pelan yang memaksa siapa pun untuk berhenti bicara. Ella berdiri mematung di sana. Ujung jarinya menempel pada permukaan kaca yang dingin, mengikuti alur air yang jatuh acak. Di pantulan kaca, wajahnya tampak kabur, terbelah oleh garis-garis air, seperti seseorang yang sedang mencoba mengenali dirinya sendiri namun gagal. Sudah seminggu, sejak ciuman terlarang di bawah lampu taman itu. Namun bagi Ella, waktu telah kehilangan detaknya. Ia terjebak di sana, di antara dinginnya malam dan napas yang tertahan. "El..." Suara Ihsan memecah hening. Lembut, tapi terselip nada berat di sana. Ihsan tidak bergerak mendekat; ia hanya berdiri di dekat sofa, memperhatikan punggung Ella. "Aku di sini," lanjut Ihsan lebih pelan. "Tapi rasanya kamu... semakin jauh....