Postingan

Dia Yang Memahami Diamku

Gambar
Dia Yang Memahami Diamku Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Setidaknya itu yang selalu kupikirkan setiap kali berdiri di balkon apartemenku pada malam hari. Dari lantai dua belas, lampu-lampu kendaraan masih mengalir seperti sungai cahaya yang tak pernah berhenti. Klakson terdengar sesekali dari kejauhan. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jendela yang masih menyala meski jarum jam sudah lewat pukul sebelas. Kota ini selalu bergerak. Sementara aku lebih sering diam, terjebak dalam ritmeku sendiri. Namaku Ardi. Usiaku dua puluh tujuh tahun dan bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan kreatif di kawasan Sudirman. Sebagian besar hidupku berjalan sederhana. Bangun pagi, naik MRT, bekerja, pulang, lalu menghabiskan malam dengan membaca buku atau mendengarkan musik. Tidak banyak yang berubah. Dan aku menyukainya. Kenyamanan dalam rutinitas adalah caraku bertahan hidup. Aku tidak pernah merasa perlu memiliki lingkaran pertemanan yang besar. Bagiku, keramaian sering kali m...

Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang

Gambar
Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang Arief menatap layar ponselnya yang berpendar di tengah remang pencahayaan kafe Kopi Senja . Jarum jam dinding di atas meja barista baru saja melewati angka delapan malam. Di hadapannya, secangkir caffè latte yang mulai kehilangan uap panasnya tampak kesepian. Biasanya, ada cangkir kedua di seberang meja, sebuah matcha latte dengan taburan bubuk kayu manis di atasnya. Namun malam ini, kursi kayu di depan Arief kosong melompong. Sudah empat hari, tiga jam, dan dua puluh menit sejak pertengkaran hebat itu terjadi. Arief masih ingat betul bagaimana nada suara Dinda meninggi sebelum akhirnya perempuan itu meraih tas selempangnya, berdiri, dan melangkah keluar dari kafe ini tanpa menoleh lagi. Pemicunya sebenarnya sepele, hanya masalah perbedaan jadwal liburan dan ego Arief yang menolak untuk mengalah sedikit saja. Namun, dampaknya seperti bom yang meluluhlantakkan komunikasi yang sudah mereka bangun selama dua tahun. Arief menghela napas panjang. Jempo...

Cerita Dari Meja Sudut

Gambar
Cerita Dari Meja Sudut Warung Sate Kambing dan Ayam Mbak Lastri berdiri di sudut perempatan, tepat di samping tiang listrik yang kabelnya menjuntai seperti rambut tak terurus. Bagi warga sekitar, warung ini adalah saksi bisu bagi keputusan-keputusan hidup yang seharusnya dipikirkan minimal dua kali sebelum diambil. Tendanya terbuat dari terpal plastik berwarna biru yang sudah pudar, sewarna dengan langit Jakarta di kala polusi sedang tinggi-tingginya. Di beberapa bagian, terpal itu tampak ditambal dengan lakban hitam tebal. Meja-meja panjang di dalamnya terbuat dari kayu yang dilapisi plastik tipis bermotif jajar genjang, sedikit lengket. Kursinya goyang walau tidak digoyangkan. Lampu LED empat puluh watt menggantung rendah di tengah tenda, diikat menggunakan tali rafia. Cahayanya putih perak, berpendar, dan selalu bergetar setiap kali ada truk atau bus lewat di jalan raya. Di atas panggangan, asap sate mengepul. Angin malam yang berembus pelan membawa kabut putih itu berputar-putar di...

Sebelum Es Batu Mencair

Gambar
Sebelum Es Batu Mencair Kaca tebal yang membatasi area rooftop lounge itu tidak mampu sepenuhnya menghalau hawa panas yang mengepung Jakarta dini hari ini. Angin malam yang berembus di luar sana sama sekali tidak membawa kesegaran; ia terasa kering dan membawa aroma aspal yang terbakar sisa siang hari. Di dalam ruangan, mesin pendingin udara berdesis konstan, berjuang keras melawan suhu tubuh orang-orang urban yang dipompa oleh alkohol dan musik berdentum rendah. Di sudut paling privat, empat orang berada dalam satu gravitasi yang sama, sementara satu sosok mengawasi dari balik meja bar. "Jadi, cuma segini kemampuan perusahaan lu sekarang, Jar?" Suara Baskara memecah denting es batu di dalam gelas kristal. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, sebelah tangannya merangkul bahu Mega dengan gestur posesif yang kentara. Fajar, yang duduk di seberang meja, menghentikan gerakannya yang hendak meneguk whiskey. Wajahnya yang letih setelah seharian bertemu klien tampak makin ka...