Sebelum Es Batu Mencair
Sebelum Es Batu Mencair Kaca tebal yang membatasi area rooftop lounge itu tidak mampu sepenuhnya menghalau hawa panas yang mengepung Jakarta dini hari ini. Angin malam yang berembus di luar sana sama sekali tidak membawa kesegaran; ia terasa kering dan membawa aroma aspal yang terbakar sisa siang hari. Di dalam ruangan, mesin pendingin udara berdesis konstan, berjuang keras melawan suhu tubuh orang-orang urban yang dipompa oleh alkohol dan musik berdentum rendah. Di sudut paling privat, empat orang berada dalam satu gravitasi yang sama, sementara satu sosok mengawasi dari balik meja bar. "Jadi, cuma segini kemampuan perusahaan lu sekarang, Jar?" Suara Baskara memecah denting es batu di dalam gelas kristal. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, sebelah tangannya merangkul bahu Mega dengan gestur posesif yang kentara. Fajar, yang duduk di seberang meja, menghentikan gerakannya yang hendak meneguk whiskey. Wajahnya yang letih setelah seharian bertemu klien tampak makin ka...