Mengapa Harus Dia?
Mengapa Harus Dia? Hujan turun sejak sore, mengaburkan deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Dari balik jendela kafe kecil, Nara hanya memandangi titik-titik air yang berkejaran di kaca. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan, bercampur dengan alunan musik akustik yang diputar pelan. Di hadapannya, secangkir americano sudah hampir dingin. Nara belum menyentuhnya lagi. "Aku heran," suara Surya memecah keheningan. "Kamu datang ke sini hampir setiap Jumat, tapi mukamu tetap kayak orang dipaksa bayar utang." Nara melirik sahabatnya sekilas. "Memangnya aku harus senyum-senyum sendiri?" jawabnya. "Minimal kelihatan hidup," lanjut Surya. Nara menghela napas kesal, lalu berkata, "Kalau hidup itu seperti komik romantis yang sering kamu baca, mungkin aku juga bakal kelihatan bahagia." Surya memang selalu begitu. Terlalu mudah menemukan bahan candaan, bahkan ketika lawan bicaranya sedang tidak ingin bicara. "Komik romantis itu mem...