Postingan

Sebelum Es Batu Mencair

Gambar
Sebelum Es Batu Mencair Kaca tebal yang membatasi area rooftop lounge itu tidak mampu sepenuhnya menghalau hawa panas yang mengepung Jakarta dini hari ini. Angin malam yang berembus di luar sana sama sekali tidak membawa kesegaran; ia terasa kering dan membawa aroma aspal yang terbakar sisa siang hari. Di dalam ruangan, mesin pendingin udara berdesis konstan, berjuang keras melawan suhu tubuh orang-orang urban yang dipompa oleh alkohol dan musik berdentum rendah. Di sudut paling privat, empat orang berada dalam satu gravitasi yang sama, sementara satu sosok mengawasi dari balik meja bar. "Jadi, cuma segini kemampuan perusahaan lu sekarang, Jar?" Suara Baskara memecah denting es batu di dalam gelas kristal. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, sebelah tangannya merangkul bahu Mega dengan gestur posesif yang kentara. Fajar, yang duduk di seberang meja, menghentikan gerakannya yang hendak meneguk whiskey. Wajahnya yang letih setelah seharian bertemu klien tampak makin ka...

Asmara Tak Beralamat Tetap

Gambar
Asmara Tak Beralamat Tetap Di bangku panjang sebuah warung, Hermansyah duduk termangu. Pemuda berusia dua puluh empat tahun yang sehari-hari bekerja sebagai kurir paket itu menatap lurus ke arah tumpukan kerupuk kaleng. Wajahnya kusut, sekusut rambutnya yang sudah seminggu tidak terkena sisir. "Sepertinya gue lagi jatuh cinta, tapi sama siapa, ya? Susah makan kalau lagi tidur, susah tidur kalau lagi makan. Itulah yang gue rasakan saat ini," gumam Hermansyah tiba-tiba. Suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk memecah keheningan siang yang gerah itu. Wahyu, seorang buruh pabrik konfeksi yang sedang mendapat shift sore, langsung tersedak asap rokoknya sendiri. Di sebelahnya, Syarief, yang sedang sibuk menghitung sisa uang belanja di dompet kulitnya yang sudah mengelupas, menoleh dengan dahi berkerut dalam. "Herman," panggil Wahyu, menepuk bahu pemuda itu agak keras. "Lu kalau ngomong jangan suka membalikkan hukum alam. Ya iyalah susah makan kalau lagi tidur! Lu ma...

Indah Atau Winda, Atau...? (#2)

Gambar
Indah Atau Winda, Atau...? (#2) Winda merasa jantungnya seperti melompat dari tempatnya. Berdua aja? Damar ngajakin jalan berdua? Pikirannya mendadak kosong. Sisi emosionalnya menjerit senang, namun sisi introvert -nya langsung memicu alarm panik yang luar biasa. Berdua dengan Damar berarti dia harus berbicara, merespons, dan menatap cowok itu selama berjam-jam tanpa ada Sinta yang bisa dijadikan tameng penolong. "Gue..." Winda menelan ludah, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Gue takut... malah bikin bosen, Mar. Gue kan nggak pinter ngomong." Damar tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuat dada Winda makin berdesir. "Siapa juga yang mau nyari temen debat, Win? Gue cuma mau jalan bareng lu. Kalau lu nggak mau ngomong, ya kita muter-muter sambil diem-dieman aja juga nggak apa-apa. Gimana?" Winda terdiam cukup lama, menimbang-nimbang antara ketakutannya dan rasa sukanya yang sudah menahun pada Damar. Akhirnya, dengan anggukan yang sangat pelan, ...

Indah Atau Winda, Atau...?

Gambar
Indah Atau Winda, Atau...? Aroma kopi yang beradu dengan aroma hujan sore itu selalu berhasil membuat Damar terjebak dalam lamunan. Di sudut Kafe Selasar Waktu yang temaram, cowok berpenampilan sederhana itu sedang menatap layar ponselnya. Ibu jarinya bergerak lambat, menggulirkan lini masa Instagram yang dipenuhi oleh foto-foto estetik dari sebuah akun bernama: indah_lestari. Foto terbaru yang diunggah akun itu hanya menampilkan sudut sebuah jendela yang basah oleh tetesan air hujan, dengan sebuah buku terbuka di ambang jendela dan cangkir keramik hitam berisi teh yang masih mengepulkan uap. Sederhana, namun entah mengapa, foto itu memiliki jiwa. Di bawahnya, tertulis takarir pendek: Hujan selalu punya cara untuk menyampaikan apa yang gagal diucapkan oleh lidah. Damar tersenyum kecil. Ia segera mengetuk ikon pesawat kertas, membagikan unggahan itu ke pesan langsung (DM), lalu mengetikkan sesuatu. damar_aditya: Selalu suka sudut pandangmu kalau motret hujan. Kayak ada lagu melankolis ...

Dialog Yang Tertunda

Gambar
Dialog Yang Tertunda Malam itu, langit di atas Jakarta tampak enggan menunjukkan bintangnya. Hanya ada semburat abu-abu keperakan yang tipis, kalah telak oleh pendar lampu-lampu kota yang tak pernah tidur. Di atas rooftop rumah Yudha, udara berembus sedikit lebih kencang, membawa aroma arang terbakar dan bumbu BBQ yang gurih. Namun, bagi Baihaqi, udara malam itu terasa mencekik. "Yud, jagungnya gosong satu tuh! Lu jangan melamun dong, mikirin jemuran di rumah apa gimana?" suara lantang Raka memecah keheningan, disusul tawa renyahnya yang khas. Yudha, yang sedang memegang capitan besi di depan pemanggang, mendengus pelan. "Sialan lu, Ka. Ini efek karamelisasi namanya, bukan gosong. Lu kalau mau protes, mending bantu olesin mentega ke dagingnya nih." Di sudut lain yang agak gelap, Naia duduk di atas pembatas beton rooftop yang sudah dipasangi pagar pengaman. Kakinya yang dibalut celana jins tergantung bebas, diayunkan pelan mengikuti ritme angin. Pandangannya luru...