Postingan

Andi: Sang Mekanik Hati

Gambar
Andi: Sang Mekanik Hati Suara hujan yang jatuh di atas atap seng Warung Kopi Gemini selalu terdengar seperti rentetan peluru kecil yang tak kunjung habis. Warung ini bukan tempat elit. Meja-mejanya kayu kusam, kursinya plastik yang sebagian sudah retak, dan menu andalannya hanyalah kopi sachet atau teh tarik kental. Di dalam warung, uap dari panci air yang mendidih beradu dengan aroma khas tembakau murah dan bau apek jas hujan yang digantung di tiang penyangga. Warung ini adalah "parlemen" bagi orang-orang kecil di sudut kota, tempat di mana kebijakan RT dibahas secara tidak resmi dan reputasi seseorang bisa naik atau jatuh hanya dalam satu putaran gelas kopi. Malam itu, lima orang berkumpul di satu meja panjang. Ada Andi, seorang mekanik bengkel motor; Rian, pemuda pengangguran yang hobinya main game online; Deni, seorang kurir paket yang selalu dikejar target deadline; Slamet, satpam komplek perumahan sebelah yang sedang libur; dan Bang Yadi sendiri, sang pemilik warung yan...

Satu Detik Sebelum Runtuh

Gambar
Satu Detik Sebelum Runtuh Hujan malam itu tidak sekadar turun; ia seperti mengurung dunia. Di lantai lima belas sebuah apartemen, suara rintiknya yang menghantam jendela bukan lagi latar belakang, melainkan dentum pelan yang memaksa siapa pun untuk berhenti bicara. Ella berdiri mematung di sana. Ujung jarinya menempel pada permukaan kaca yang dingin, mengikuti alur air yang jatuh acak. Di pantulan kaca, wajahnya tampak kabur, terbelah oleh garis-garis air, seperti seseorang yang sedang mencoba mengenali dirinya sendiri namun gagal. Sudah seminggu, sejak ciuman terlarang di bawah lampu taman itu. Namun bagi Ella, waktu telah kehilangan detaknya. Ia terjebak di sana, di antara dinginnya malam dan napas yang tertahan. "El..." Suara Ihsan memecah hening. Lembut, tapi terselip nada berat di sana. Ihsan tidak bergerak mendekat; ia hanya berdiri di dekat sofa, memperhatikan punggung Ella. "Aku di sini," lanjut Ihsan lebih pelan. "Tapi rasanya kamu... semakin jauh....

Hujan Yang Tak Lagi Dingin

Gambar
Hujan Yang Tak Lagi Dingin Sore itu, Jakarta sedang diguyur gerimis tipis. Di sudut sebuah kafe bernuansa industrial dengan lampu-lampu kuning yang temaram dan kaca-kaca besar yang menghadap ke jalanan, Dina duduk mengaduk-aduk caffe latte -nya yang sudah dingin. Uapnya sudah lama hilang, menyisakan buih-buih kecokelatan yang mulai pecah di pinggiran cangkir Di depannya, Heni, sahabatnya sejak di bangku sekolah memperhatikan sejak tadi. Ia sengaja memesan meja di pojok, jauh dari kebisingan mesin kopi, seolah tahu bahwa percakapan sore ini akan membutuhkan privasi. "Kamu dari tadi diam saja," kata Heni akhirnya, memecah keheningan yang cukup lama. "Biasanya kalau ketemu, kamu yang paling banyak cerita, Din. Bahkan tentang kucing tetangga yang salah masuk rumah pun kamu bisa ceritakan sampai setengah jam." Dina tersenyum tipis. Sebuah senyum yang hanya mampir di bibir, namun tidak sampai menyentuh matanya yang meredup. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, menata...

Winda Bukan Indah

Gambar
Winda Bukan Indah Orang-orang melewatinya tanpa banyak berpikir. Ada yang mengira itu sekadar coretan iseng di papan pengumuman desa. Ada juga yang menganggap itu pesan rahasia anak-anak sekolah. Tapi bagi Winda , kalimat itu seperti bayangan yang terus mengikutinya. Sejak pindah ke desa kecil itu, semua orang memandangnya dengan cara yang aneh. Tatapan ragu, senyum setengah hati, bahkan beberapa kali ia dipanggil dengan nama yang bukan namanya. "Indah… eh, maaf," panggil seorang ibu di warung suatu sore. Awalnya Winda hanya tertawa kecil. Kesalahan biasa, pikirnya. Namun semakin lama, ia merasa kesalahan itu seperti sesuatu yang disengaja. Hingga suatu hari, Winda memberanikan diri bertanya pada penjaga keamanan desa, satu-satunya orang yang tampak tidak pernah salah memanggil namanya. "Memangnya siapa Indah?" tanya Winda pelan. Penjaga keamanan itu diam cukup lama, lalu berkata, "Orang yang dulu tinggal di rumahmu." Jantung Winda berdegup lebih cepat dar...

Memilih Untuk Tidak Lari

Gambar
Memilih Untuk Tidak Lari Hujan turun sejak siang dan belum menunjukkan tanda akan berhenti, membasahi jendela kaca di gedung-gedung perkantoran yang menjulang di kota Jakarta. Rintiknya menghantam kaca dengan irama yang membosankan, seolah-olah langit sedang mengeluh. Dari balik jendela kaca ruang kerja di lantai delapan, Riska berdiri memandang ke luar. Kedua tangannya terlipat di dada. Keadaan di bawah tampak buram, tertutup tirai air yang jatuh tanpa jeda. Kendaraan melambat. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ia tidak benar-benar memperhatikan apa yang terjadi di luar sana. Pandangannya kosong, tertuju pada satu titik di kejauhan yang tidak nyata, tetapi pikirannya justru penuh, terlalu penuh. Ada badai lain yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya, jauh lebih hebat daripada hujan di luar. Di belakangnya, meja kerja tampak rapi seperti biasa. Laptop menyala, memancarkan cahaya putih terang. Beberapa dokumen tersusun rapi, tanpa ada satu pun sudut kertas yang terlipat....