Postingan

Simfoni Sunyi Di Ujung Mimpi

Gambar
Simfoni Sunyi Di Ujung Mimpi Udara malam di balkon apartemen lantai dua belas itu terasa dingin, membawa serta aroma sisa hujan yang turun sore tadi. Di dalam ruangan, lampu kekuningan memantul lembut di atas lantai, menyinari empat orang manusia yang terjebak dalam labirin perasaan mereka sendiri. Mereka adalah Yudha, Dian, Raya, dan Luna. Empat jiwa yang disatukan oleh meja pertemanan yang sama, namun dipisahkan oleh dinding tak kasat mata bernama rahasia. Yudha berdiri di sudut ruangan, memegang gelas berisi air dingin yang butir-butir airnya meleleh di permukaannya. Tatapannya tidak lepas dari sosok Dian yapng sedang duduk di sofa panjang, tertawa renyah mendengarkan lelucon yang dilontarkan oleh Raya. Raya, dengan segala pesona dan kepercayaan diri yang tinggi, sedang memamerkan rancangan bisnis terbarunya di atas layar tablet. Di sisi lain ruangan, agak jauh dari keramaian kecil itu, Luna duduk terpaku di kursi rotan membaca sebuah buku tebal, meski matanya sejak tadi hanya mena...

Mengapa Harus Dia?

Gambar
Mengapa Harus Dia? Hujan turun sejak sore, mengaburkan deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Dari balik jendela kafe kecil, Nara hanya memandangi titik-titik air yang berkejaran di kaca. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan, bercampur dengan alunan musik akustik yang diputar pelan. Di hadapannya, secangkir americano sudah hampir dingin. Nara belum menyentuhnya lagi. "Aku heran," suara Surya memecah keheningan. "Kamu datang ke sini hampir setiap Jumat, tapi mukamu tetap kayak orang dipaksa bayar utang." Nara melirik sahabatnya sekilas. "Memangnya aku harus senyum-senyum sendiri?" jawabnya. "Minimal kelihatan hidup," lanjut Surya. Nara menghela napas kesal, lalu berkata, "Kalau hidup itu seperti komik romantis yang sering kamu baca, mungkin aku juga bakal kelihatan bahagia." Surya memang selalu begitu. Terlalu mudah menemukan bahan candaan, bahkan ketika lawan bicaranya sedang tidak ingin bicara. "Komik romantis itu mem...

Bukan Tentang Lima Tahun

Gambar
Bukan Tentang Lima Tahun Aroma apek langsung tercium saat Nia membuka pintu kamar kos Lisa di daerah Karet Kuningan. Kamar berukuran 3×4 meter itu tampak sangat berantakan. Pakaian kotor menumpuk di keranjang hingga meluap, bungkus bekas makanan instan berceceran di lantai, dan gorden jendela ditutup rapat hingga membuat suasana siang hari terasa seperti tengah malam. Nia menggeleng-gelengkan kepala melihat kondisi Lisa. Sahabatnya sejak masa orientasi kampus itu sedang berbaring di tempat tidur, berselimut hingga ke leher padahal pendingin ruangan dalam keadaan mati. Matanya sembap bagaikan orang yang habis dipukuli, rambutnya acak-acakan, dan tubuhnya terlihat sangat kurus hanya dalam waktu seminggu. "Udah, Lis, jangan kayak orang mati lampu begini," kata Nia sambil menaruh tasnya. Nia langsung berjalan ke arah jendela lalu menyibak gorden berwarna abu-abu tersebut. Cahaya matahari siang yang terik seketika menerobos masuk, membuat kamar yang tadinya remang-remang kini ter...

Di Balik Cangkir Cappuccino

Gambar
Di Balik Cangkir Cappuccino Gerimis tipis yang membasahi kaca jendela Kedai Kopitagram membuat pantulan lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat tampak samar. Di luar, jalanan ibu kota merayap pelan dalam kemacetan sore. Namun di dalam kedai kayu beraroma sangrai kopi arabika ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sebuah meja bundar di sudut ruangan, Risa duduk memandangi kue tar cokelat berdiameter kecil. Di atas kue itu, dua batang lilin berbentuk angka 3 dan 2 menyala bergoyang-goyang ditiup angin tipis dari exhaust fan . Tiga puluh dua tahun. Sebuah angka yang matang. Sudah hampir enam tahun lamanya Risa menjalani hidupnya sendirian, sejak takdir mengambil suaminya dalam sebuah kecelakaan maut. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka, membesarkan keberanian, dan belajar menata hidup kembali sebagai seorang wanita tunggal. Ia telah tumbuh menjadi sosok yang terbiasa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, mandiri, tangguh, dan tanpa sadar, memunculkan be...