Menit-Menit Setelah 21:47
Menit-Menit Setelah 21:47 Bukan hujan deras yang membuat jalanan lumpuh, tapi cukup untuk membuat Jakarta basah dan terasa beberapa derajat lebih dingin dari biasanya. Di lantai tiga sebuah gedung percetakan di Jakarta, suara mesin menjadi satu-satunya hal yang konsisten. Dengung... klek... sret... dengung... klek... sret. Berulang, stabil, membosankan selama lebih dari dua belas jam. "Kalau printer ini bisa ngomong, pasti dia udah maki-maki kita pakai seluruh kebun binatang," kata Hadi sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Andra tidak menoleh dari layar monitor 28 incinya. Tangannya mulai lelah menggeser kursor, merapikan margin pada file desain. "Dia nggak perlu ngomong, Di. Suaranya aja udah cukup nyiksa kuping gue dari tadi siang." Di sudut ruangan, Rina menghela napas panjang. "Gue udah nggak ngerasain punggung gue lagi." Yuli, yang duduk dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya, hanya melirik ke luar. Air hujan masih menete...