Andi: Sang Mekanik Hati
Andi: Sang Mekanik Hati

Suara hujan yang jatuh di atas atap seng Warung Kopi Gemini selalu terdengar seperti rentetan peluru kecil yang tak kunjung habis. Warung ini bukan tempat elit. Meja-mejanya kayu kusam, kursinya plastik yang sebagian sudah retak, dan menu andalannya hanyalah kopi sachet atau teh tarik kental. Di dalam warung, uap dari panci air yang mendidih beradu dengan aroma khas tembakau murah dan bau apek jas hujan yang digantung di tiang penyangga. Warung ini adalah "parlemen" bagi orang-orang kecil di sudut kota, tempat di mana kebijakan RT dibahas secara tidak resmi dan reputasi seseorang bisa naik atau jatuh hanya dalam satu putaran gelas kopi.
Malam itu, lima orang berkumpul di satu meja panjang. Ada Andi, seorang mekanik bengkel motor; Rian, pemuda pengangguran yang hobinya main game online; Deni, seorang kurir paket yang selalu dikejar target deadline; Slamet, satpam komplek perumahan sebelah yang sedang libur; dan Bang Yadi sendiri, sang pemilik warung yang telinganya selalu tajam menangkap percakapan.
Perhatian mereka tertuju pada sosok wanita yang baru saja lewat di depan warung dengan payung transparan. Namanya Lia. Ia baru saja pulang kerja sebagai kasir di minimarket ujung jalan. Langkahnya tenang, wajahnya yang tanpa riasan tebal tetap terlihat bersih dan segar di bawah lampu jalan.
"Cantik ya, Lia," gumam Rian sambil menghentikan permainan di ponselnya. "Sayang, statusnya itu lho. Kok bisa ya orang secantik itu sendirian?"
Slamet menyahut sambil mengunyah mendoan, "Dengar-dengar mantan suaminya dulu orang kaya, tapi Lia milih cerai karena nggak tahan dipukuli terus. Sekarang dia mandiri. Padahal kalau mau, dia tinggal tunjuk siapa saja di kampung ini, pasti banyak yang mau."
"Kemarin si Haji Somad, yang punya toko bangunan itu, nanyain alamat rumah Lia ke aku. Katanya mau ngirim sembako bulanan. Lu juga ngerti lah maksudnya ke mana?" ujar Rian sambil memutar-mutar ponsel di tangannya.
Deni menyambar mendoan panas dari piring. "Halah, Haji Somad itu sudah punya istri dua. Mau nambah lagi buat jadi pajangan? Kemarin aku juga baru antar paket kosmetik mahal ke rumah Lia. Pas aku cek resinya, pengirimnya nama cowok, tapi pas aku tanya ke Lia, dia malah bilang: 'Bang Deni, ini bawa balik aja, saya nggak kenal'. Gila nggak? Barang sejuta lebih ditolak mentah-mentah!"
Slamet ikut menimpali. "Itulah yang bikin orang-orang di sini penasaran. Dia itu janda, pekerjaannya cuma kasir minimarket, tapi kok gayanya kayak ratu? Jual mahal banget. Padahal, maaf-maaf saja ya, di posisi dia sekarang kan harusnya dia butuh sandaran."
Andi, yang sedari tadi sibuk dengan rokoknya, mengembuskan asap perlahan. Matanya yang lelah menatap rintik hujan di luar. Ia sudah bosan mendengar Lia dijadikan bahan spekulasi setiap malam. Bagi Andi, Lia bukan sekadar objek obrolan; dia adalah cermin dari sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang-orang di warung ini: keteguhan.
"Kalian itu kayak orang baru kenal dunia saja," suara Andi berat, memotong perdebatan. Ia menatap Rian dan Slamet bergantian. "Kalian nganggap statusnya sebagai kelemahan, makanya kalian pikir dia itu 'murah' atau bisa dibeli dengan sedikit perhatian dan barang mewah."
Bang Yadi berhenti mengelap gelas, ia tahu Andi akan mengeluarkan "khotbah" malamnya.
Andi melanjutkan, "Kalian pikir status janda itu kayak diskon. Banyak yang tertarik, tapi belum tentu bisa membelinya. Kalau bukan dia yang suka lebih dulu, ya jangan berharap bisa mendapatkannya."
"Diskon tapi nggak bisa dibeli? Lah, itu mah kontradiksi, Ndi," bantah Rian sambil tertawa kecil.
"Diskon itu di mata kalian, para pemburu," Andi menunjuk Rian dengan jarinya. "Kalian melihat label 'janda' sebagai diskon untuk sebuah perjuangan. Kalian pikir nggak perlu usaha keras, nggak perlu cinta yang tulus, cukup kasih perhatian dikit atau pamer harta, dia bakal luluh karena butuh. Tapi kenyataannya? Lia itu bukan toko yang lagi bangkrut. Dia justru sedang menyeleksi siapa yang benar-benar layak masuk ke rumahnya."
Baca juga: Luka Yang Tak Layak Dicintai
Sementara itu di tempat lain yang hanya berjarak beberapa meter, Lia baru saja mengunci pintu rumahnya. Rumah itu sederhana, hanya terdiri dari satu ruang tamu dan dua kamar tidur. Dindingnya bercat putih kusam dengan beberapa bagian yang mulai mengelupas akibat lembap.
Suara batuk ibu Ratna, orang tua Lia, terdengar dari salah satu kamar ketika Lia meletakkan payungnya dan menyalakan lampu di ruang tamu yang merangkap ruang makan.
Lia segera menyeduh teh hangat dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Belum tidur, Bu?" tanya Lia lembut sambil membantu ibunya duduk.
"Ibu nungguin kamu. Tadi ada Bu RT datang," jawab Ibu Ratna dengan nada ragu. "Dia bilang, ada saudara jauhnya yang baru cerai juga. Orangnya mapan. Katanya kalau kamu mau, dia mau main ke sini."
Lia menghela napas, sebuah rutinitas yang selalu ia lakukan setiap kali topik perjodohan muncul. "Bu, Lia kerja di minimarket itu sudah cukup buat makan kita. Lia nggak mau buru-buru cuma karena takut sama omongan orang."
"Bukan soal omongan orang, Lia," Ibu Ratna memegang tangan anaknya. "Ibu cuma nggak tega lihat kamu capek sendiri. Tiap pulang kerja harus urus Ibu, urus rumah. Apa kamu nggak merasa kesepian?"
Lia terdiam. Kesepian? Tentu saja. Tapi rasa sepi itu jauh lebih baik daripada rasa takut yang dulu ia rasakan setiap kali mendengar suara langkah mantan suaminya di depan pintu. Ia teringat bagaimana dulu ia dianggap sebagai properti, sesuatu yang bisa dimaki dan dipukul hanya karena masalah kecil. Baginya, kemandirian saat ini adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.
"Kesepian itu bisa diobati dengan tidur, Bu. Tapi salah pilih orang itu luka yang nggak ada obatnya," jawab Lia singkat namun tegas.
Malam itu, setelah ibunya terlelap, Lia duduk di kursi plastik di teras depan. Ia menatap kegelapan jalan. Di kejauhan, ia melihat cahaya lampu dari warung Bang Yadi. Ia tahu namanya sering disebut di sana. Ia tahu ada pria-pria yang bertaruh tentang siapa yang bisa mendapatkannya. Ia merasa seperti mangsa di tengah hutan, namun kali ini ia telah memasang pagar besi yang sangat kuat di sekeliling hatinya.
**********
Dua hari kemudian, cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan seperti ditumpahkan dari langit dan angin kencang membuat payung-payung warga hampir terbang. Andi baru saja hendak menutup bengkelnya yang hanya berukuran 4x6 meter itu. Tangannya hitam pekat karena oli mesin motor bebek tahun 90-an yang baru saja ia perbaiki.
Tiba-tiba, sebuah motor matic putih berhenti mendadak di depan bengkel. Mesinnya terbatuk-batuk, mengeluarkan asap putih tipis, lalu mati total. Pengendaranya, seorang wanita dengan jas hujan plastik warna biru, turun dengan wajah panik. Itu Lia.
"Mas Andi... tolong," suaranya bergetar karena kedinginan.
Andi tidak banyak bicara. Ia menarik motor itu masuk ke dalam area bengkel yang sempit. "Duduk dulu, Mbak. Di sana ada kursi yang agak bersih. Biar saya cek."
Lia melepas jas hujannya. Di bawah lampu neon, Andi bisa melihat tetesan air yang jatuh dari rambut Lia ke pundaknya. Andi segera mengambil handuk bersih satu-satunya yang ia miliki di bengkel dan memberikannya pada Lia tanpa menatap matanya.
"Pakai ini buat ngeringin rambut. Nanti masuk angin," kata Andi sambil berlutut di depan motor.
Selama hampir satu jam, suasana di bengkel itu sunyi, hanya diisi oleh suara kunci pas yang beradu dengan logam dan suara hujan yang mengamuk di luar. Lia memperhatikan Andi. Pria ini berbeda dengan Rian yang selalu mencoba melempar gombalan setiap kali dia lewat, atau Deni yang sering pamer tentang berapa banyak bonus yang dia dapat. Andi bekerja dengan tenang, seolah-olah dunia di luar sana tidak ada.
Baca juga: Senyum Laras Di Persimpangan
"Mas Andi sudah lama buka bengkel di sini?" tanya Lia memecah keheningan.
"Lima tahun, Mbak," jawab Andi tanpa menoleh.
"Kenapa nggak cari tempat yang lebih besar? Di depan jalan raya, misalnya?"
Andi terkekeh kecil, suara yang jarang didengar orang lain. "Modalnya nggak ada, Mbak. Lagian di sini pelanggan sudah kayak keluarga. Biarpun kecil, yang penting nggak punya hutang sama bank."
Lia tersenyum. Jawaban itu terasa jujur dan apa adanya. "Saya suka prinsip Mas Andi. Jarang ada orang yang bangga dengan kesederhanaan sekarang ini."
Andi menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap Lia, kali ini dengan pandangan yang dalam. "Sederhana itu pilihan, Mbak. Kayak Mbak Lia. Banyak yang nawarin hidup mewah di luar sana, tapi Mbak milih buat tetap di kaki sendiri. Itu jauh lebih keren daripada mereka yang pamer harta tapi hatinya kosong."
Lia merasa jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Baru kali ini ada pria yang tidak melihatnya sebagai "janda cantik", melainkan sebagai manusia yang memiliki prinsip.
"Motornya sudah beres, Mbak. Karburatornya kemasukan air," kata Andi sambil berdiri dan mengelap tangannya.
"Berapa, Mas?" tanya Lia sambil membuka dompetnya.
Andi menatap mata Lia sejenak, lalu menggeleng. "Nggak usah. Anggap saja ini bantuan sesama orang kerja keras. Lain kali, kalau suara mesinnya sudah beda, langsung dibawa ke sini, jangan tunggu mogok di jalan."
"Tapi Mas Andi kan butuh uang buat beli suku cadangnya?" desak Lia.
"Suku cadang, cuma saya bersihin, nggak ada yang diganti. Sudah, bawa pulang saja. Hujannya sudah agak reda," ujar Andi sambil membukakan jalan untuk motor Lia.
Sebelum naik ke motornya, Lia menatap Andi cukup lama. "Mas Andi... terima kasih ya. Bukan cuma buat motornya, tapi buat... kata-katanya tadi."
Andi hanya mengangguk pelan. Saat motor Lia menjauh, Andi menyadari sesuatu. Ia baru saja membuktikan teorinya sendiri. Ia tidak mencoba "membeli" Lia dengan kebaikan. Ia hanya menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat pintu pagar besi di hati Lia sedikit terbuka.
**********
Seminggu setelah kejadian di bengkel, suasana di warung Bang Yadi memanas. Rian datang dengan wajah ditekuk. Ternyata, usahanya untuk mendekati Lia dengan cara membelikan pulsa listrik secara diam-diam berakhir memalukan. Lia justru mendatangi rumah Rian dan mengembalikan uang pulsa itu di depan ibunya Rian.
"Sombong banget itu perempuan!" seru Rian sambil memukul meja. "Aku kan cuma mau bantu. Eh, malah dimaki-maki katanya aku nggak sopan Ikut campur urusan rumah tangganya."
Deni tertawa mengejek. "Makanya, Ian. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan. Dia itu nggak butuh pulsa, dia butuh orang yang nggak menganggap dia rendah."
Slamet si satpam ikut mengompori. "Tapi bener kata Andi tempo hari. Lia itu 'diskon' yang harganya selangit. Kita-kita ini nggak bakal sanggup beli."
Andi yang sedang menikmati kopi hitamnya hanya mendengarkan.
Tiba-tiba, sesosok pria berpakaian rapi dengan motor besar berhenti di depan warung. Itu adalah Anwar, yang terkenal sebagai "playboy" kelas kakap.
Anwar masuk ke warung dengan gaya angkuh. "Mana Andi?" tanya Anwar langsung.
Andi menoleh. "Ada apa, War?"
"Aku dengar Lia sering ke bengkelmu? Kamu kasih jampi-jampi apa sampai dia nolak aku pas aku ajak makan malam?" Anwar mendekat, wajahnya merah padam. Rupanya egonya terluka karena penolakan Lia.
Warung seketika senyap. Bang Yadi memegang gagang penggorengan, berjaga-jaga jika terjadi keributan.
Baca juga: Bayang-Bayang Di Bawah Bulan
Andi berdiri pelan-pelan. Tingginya hampir sama dengan Anwar, tapi tatapannya jauh lebih stabil. "Aku nggak kasih jampi-jampi, War. Aku cuma perbaiki motornya."
"Halah, bohong! Kamu pasti jelek-jelekin aku di depan dia kan? Kamu bilang kalau aku cuma mau main-main?" tuduh Anwar sambil menarik kerah baju Andi.
Andi tidak melawan. Ia malah tersenyum tipis. "War, lu punya uang banyak, punya motor bagus. Tapi ada satu hal yang nggak lu punya: kuping buat dengerin kemauan perempuan. Lia itu bukan barang yang bisa lu tawar di pasar. Lu bawa emas satu kilo pun, kalau dia nggak sreg, dia nggak bakal noleh."
Andi melepaskan tangan Anwar dari kerahnya dengan tenang. "Status dia mungkin 'diskon' di mata orang sombong kayak lu, karena lu pikir dia gampang didapat. Tapi kenyataannya, lu bahkan nggak mampu 'beli' senyum tulusnya. Karena apa? Karena dia nggak suka sama lu. Simpel kan?"
Anwar yang merasa terhina hendak melayangkan pukulan, tapi Slamet dan Deni segera melerai. "Sudah, Mas Anwar. Jangan bikin ribut di sini. Malu dilihat orang," kata Slamet dengan nada tegas sebagai petugas keamanan.
Anwar pergi dengan penuh amarah, meninggalkan debu yang beterbangan di depan warung.
Setelah keributan itu, Andi kembali duduk. Tangannya sedikit gemetar, tapi hatinya merasa lega.
"Gila kamu, Ndi. Berani banget lawan Anwar," bisik Rian yang sekarang malah merasa kagum.
Bang Yadi mendekat sambil membawa segelas kopi baru, gratis untuk Andi. "Kamu bener, Ndi. Malam ini aku belajar satu hal. Orang kayak Lia itu justru yang paling mahal harganya, karena dia tahu nilai dirinya sendiri. Dan orang kayak kamu... kamu itu pembeli yang bijak, karena kamu nggak pakai uang buat nawar, tapi pakai rasa hormat."
Malam itu, saat Andi berjalan pulang melewati rumah Lia, ia melihat wanita itu sedang berdiri di teras, tampaknya baru saja selesai merapikan tanaman hiasnya.
"Mas Andi," panggil Lia.
Andi berhenti. "Ya, Mbak?"
"Saya dengar soal di warung tadi. Kabar cepat banget nyampai lewat grup WA ibu-ibu," Lia berjalan mendekat ke pagar. "Terima kasih sudah membela saya. Tapi lain kali, jangan bahayakan diri sendiri buat saya."
Andi tersenyum, kali ini lebih tulus. "Saya nggak membela Mbak Lia karena kasihan. Saya cuma nggak suka lihat orang yang merasa bisa beli segalanya dengan uang."
Lia terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Besok... kalau Mas Andi nggak sibuk, mampir ke sini ya? Ibu baru saja beli singkong banyak, katanya mau bikin kolak. Dia pengen Mas Andi yang nyobain pertama kali."
Andi tertegun. Tawaran itu sederhana, hanya sebuah kolak singkong. Tapi bagi Andi, itu adalah tanda bahwa ia telah diterima, bukan sebagai pembeli yang mencari diskon, melainkan sebagai tamu yang diharapkan kehadirannya.
"Saya akan datang, Mbak. Jam berapa?"
"Habis ashar saja, Mas Andi."
Andi mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya pulang. Di bawah langit malam, ia menyadari bahwa hidup terkadang memberikan kejutan pada mereka yang mau bersabar. Ia tidak pernah berharap memiliki Lia secara paksa, dan justru karena itulah, Lia memberikan kuncinya dengan sukarela.
Tamat
Baca juga: Di Balik Romantisme Yang Hilang