Memilih Untuk Tidak Lari

Memilih Untuk Tidak Lari




memilih untuk tidak lari - cerpen


Hujan turun sejak siang dan belum menunjukkan tanda akan berhenti, membasahi jendela kaca di gedung-gedung perkantoran yang menjulang di kota Jakarta. Rintiknya menghantam kaca dengan irama yang membosankan, seolah-olah langit sedang mengeluh.

Dari balik jendela kaca ruang kerja di lantai delapan, Riska berdiri memandang ke luar. Kedua tangannya terlipat di dada. Keadaan di bawah tampak buram, tertutup tirai air yang jatuh tanpa jeda. Kendaraan melambat. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ia tidak benar-benar memperhatikan apa yang terjadi di luar sana. Pandangannya kosong, tertuju pada satu titik di kejauhan yang tidak nyata, tetapi pikirannya justru penuh, terlalu penuh. Ada badai lain yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya, jauh lebih hebat daripada hujan di luar.

Di belakangnya, meja kerja tampak rapi seperti biasa. Laptop menyala, memancarkan cahaya putih terang. Beberapa dokumen tersusun rapi, tanpa ada satu pun sudut kertas yang terlipat. Sebuah cangkir kopi yang sudah dingin dibiarkan setengah penuh, aromanya sudah lama hilang. Tidak ada yang berubah dari luar. Semuanya tampak normal, seolah-olah ini adalah sore biasa di kantor, kecuali satu hal: draft email di layar laptopnya. Subjeknya sederhana, namun sanggup membuat jemarinya gemetar: Pengunduran Diri.

Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana, terombang-ambing antara keberanian dan keraguan. Tidak ada satu kalimat pun yang berhasil ia pertahankan di badan email tersebut. Setiap kali ia mengetik satu paragraf, ia segera menghapusnya kembali. Semua yang ia tulis selalu terasa salah. Terlalu formal hingga terasa asing. Terlalu dingin hingga terasa tak berterima kasih. Atau justru terlalu jujur, yang membuatnya merasa telanjang.

Padahal, seharusnya ini hanya soal pekerjaan. Namun, Riska tahu ini tidak sesederhana itu. Ada benang kusut yang ikut terbawa ke dalam draft tersebut.

"Ris,"

Suara lembut datang dari arah belakang, memecah keheningan.

Riska menoleh pelan. Nita berdiri di ambang pintu ruang kerja, membawa dua gelas kopi yang uapnya masih mengepul tipis. Ia menatap Riska dengan ekspresi yang sudah terlalu familier, perpaduan antara penasaran dan khawatir yang selama ini selalu ia simpan untuk sahabatnya itu.

Tanpa menunggu izin, Nita masuk dan meletakkan salah satu gelas di meja. Bunyi gelas yang menyentuh meja itu terasa nyaring di telinga Riska.

"Lo belum pulang juga," katanya santai.

Riska tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. "Belum."

"Kerjaan atau pikiran?" Nita mengangkat alis.

Riska tidak langsung menjawab. Ia hanya kembali menatap ke luar jendela.

"Dua-duanya," jawabnya akhirnya.

Nita tidak langsung duduk. Ia melirik layar laptop yang masih menampilkan kursor berkedip-kedip. Ia tahu apa yang ada di sana.

"Masih yang itu?"

Riska tidak perlu bertanya apa maksudnya. Ia hanya mengangguk pelan, sebuah pengakuan yang berat.

"Karena kerjaannya… atau karena orangnya?"

Riska tertawa getir. Ia memutar tubuhnya, menyandarkan punggungnya di kaca jendela. "Kenapa sih lo selalu tau?"

"Karena gue udah liat lo jatuh dari awal, Ris," jawab Nita lembut. "Bahkan sebelum lo sendiri sadar kalau lo udah jatuh.”

Riska terdiam.

Jatuh.

Kata itu bergaung di kepalanya. Kata itu terasa berat. Terlalu jujur untuk diakui di sore yang kelam ini.


"Gue bahkan nggak tau kapan mulainya," ucap Riska pelan.

"Biasanya emang nggak pernah tau," sahut Nita. Ia menyesap kopinya perlahan. "Perasaan memang bukan jadwal rapat yang ada undangan pemberitahuannya."
 
Hening. Hanya ada bunyi rintik hujan yang menghantam kaca jendela.

"Dia tau?" tanya Nita kemudian.

Riska tertawa, tawanya terdengar lelah. "Tau."

"Dan?" Nita mengejar dengan nada menekan.

"Dan itu alasan kenapa semuanya jadi aneh sekarang," jawab Riska sambil menatap ujung sepatunya.

Nita akhirnya duduk, menyilangkan kaki, dan menatapnya dengan serius. "Udah berapa lama lo mikirin ini?"

"Cukup lama," jawab Riska singkat. Suaranya terdengar lelah, seolah beban itu sudah menumpuk di pundaknya berbulan-bulan.

"Dan masih ragu?"

Riska menghela napas panjang, sebuah helaan yang terasa menyakitkan. Ia berjalan kembali ke meja, menarik kursi kerjanya yang sedikit berdecit, lalu duduk perlahan. Tubuhnya terasa berat.

"Gue kira bakal lebih gampang," katanya pelan. "Tinggal nulis, kirim, selesai. Hidup baru dimulai...."

"Tapi?" Nita mencondongkan tubuhnya sedikit, menunggu kelanjutan kalimat yang menggantung itu.

Riska menatap layar laptop itu lama, seolah berharap kata-kata akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu ia ketik. Ia mencari alasan logis yang bisa ia sampaikan tanpa harus terlihat rapuh.

"Tapi ternyata ada yang bikin gue nggak bisa," bisiknya hampir tak terdengar.

Nita tidak langsung bertanya. Ia sudah tahu jawabannya.

"Arya," ucapnya akhirnya.

Riska tersenyum kecil, tapi tidak menyangkal. Arya itu memang tidak perlu dijelaskan lagi. Arya adalah alasan yang tidak tertulis di dalam email, tapi menjadi alasan utama mengapa email itu tidak selesai-selesai.

Nama Arya sudah lama menjadi bagian dari rutinitas Riska. Sebagai pemimpin tim, Arya dikenal tegas, rapi, dan jarang terlibat urusan pribadi. Tapi entah bagaimana, dengan Riska, batas itu sempat bergeser.

Sejak pertama kali masuk ke tim, Riska sudah mendengar berbagai cerita tentangnya: perfeksionis, dingin, dan terlalu fokus pada pekerjaan hingga lupa waktu. Banyak yang menghormatinya karena kecerdasannya, tapi tidak banyak yang benar-benar mengenalnya. Namun, entah bagaimana, dalam dua tahun terakhir, batas itu perlahan berubah di antara mereka. Tidak drastis. Tidak tiba-tiba, dan tanpa ledakan perasaan yang dramatis. Hanya perlahan. Menyelinap melalui celah-celah kecil rutinitas kantor. Dimulai dari percakapan kecil setelah rapat yang melelahkan. Dari diskusi ringan yang melebar ke hal-hal di luar pekerjaan. Dari kebiasaan minum kopi di tempat yang sama sepulang kerja tanpa pernah dijanjikan sebelumnya. Tidak ada momen besar yang bisa dijadikan titik awal. Tidak ada kejadian dramatis. Tapi ada sesuatu yang tumbuh diam-diam. Dan Riska tidak menyadarinya sampai semuanya sudah terlambat untuk diabaikan. Sampai perasaan itu sudah memiliki akarnya sendiri.

"Lo udah bilang ke dia?" tanya Nita memecah lamunan Riska.

Riska menggeleng. "Nggak langsung."

Nita mengernyit, bingung dengan jawaban yang ambigu itu. "Maksudnya?"

Riska tertawa kecil, suara tawanya terdengar hambar. "Dia denger sendiri."

Ekspresi Nita berubah seketika. Matanya membulat. "Serius?"

"Iya. Waktu itu gue lagi ngobrol sama lo di pantry, inget? Gue lagi bahas soal kemungkinan pindah kantor," Riska menarik napas panjang.


Nita terdiam beberapa detik, mencoba mengingat kejadian itu, lalu menghela napas panjang saat menyadari sesuatu. "Jangan bilang...."

"Dia ada di belakang pintu."

Sunyi sejenak di antara mereka. Hanya suara AC yang berdengung halus mengisi ruangan.

"Pantes," gumam Nita pelan. "Sejak itu dia berubah."

Riska hanya menunduk, memainkan ujung pulpen di atas meja. Berubah. Kata itu terdengar sederhana, tapi dampaknya terasa jelas seperti luka yang terbuka. Arya yang dulu (yang sesekali tersenyum tipis padanya, yang mau meluangkan waktu lebih lama dari sekadar urusan pekerjaan) perlahan menghilang. Digantikan oleh sosok yang lebih formal. Lebih berjarak. Lebih dingin daripada hujan di luar sana. Seolah-olah apa yang pernah ada di antara mereka hanyalah sebuah kesalahpahaman besar yang harus segera diluruskan.

Belum sempat Riska meresapi luka dari kata 'berubah' yang diucapkan Nita, sebuah dehaman berat terdengar dari arah pintu. Sosok pria dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku bersandar di sana, mengamati pemandangan emosional di depannya dengan tatapan menyelidik.

Lutfi, rekan satu tim mereka yang paling santai namun sangat peka, entah sejak kapan berdiri di situ, akhirnya memutuskan untuk menyela. Berbeda dengan Arya, Lutfi adalah tipe yang mudah berbaur dengan siapa saja. Santai, tapi tajam dalam membaca situasi. Ia masuk sambil menyelipkan kedua tangan ke saku celana, matanya langsung menangkap suasana yang tidak biasa di ruangan itu.

"Ganggu?" tanyanya singkat.

"Udah terlanjur," jawab Nita dengan nada sedikit ketus namun akrab.

Lutfi tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati Riska. "Lo kelihatan kayak orang yang lagi mau kabur."

Nita tertawa kecil. "Nah, kan. Gue bilang juga apa."

Riska mengangkat alis, mencoba bersikap biasa saja. "Gue nggak kabur."

"Belum," sahut Lutfi. "Jadi… lo beneran mau resign?"

Pertanyaan itu terasa lebih berat saat diucapkan oleh orang lain. Rasanya seperti ditarik paksa ke kenyataan yang sedang ia hindari.

Riska tidak langsung menjawab. Ia menatap meja, memandangi berkas-berkasnya, lalu kembali ke layar laptop yang masih memajang draft itu, sebelum akhirnya berkata dengan suara yang dipaksakan tegar, "Iya."

Lutfi mengangguk pelan. Ia tidak tampak terkejut, seolah sudah memprediksi ini akan terjadi.

"Karena dia?" tanyanya to-the-point.

Riska menghela napas. "Sebagian."

"Sebagian itu biasanya berarti sebagian besar," gumam Lutfi.

Tidak ada yang membantah. Kebenaran itu terlalu nyata untuk disangkal.

"Lo tau nggak sih," lanjut Lutfi, suaranya kini lebih serius, "keputusan besar yang diambil karena satu orang itu… jarang berakhir baik. Lo lari dari masalah, bukan nyelesainnya."

Riska tersenyum kecil, mencoba membela diri. "Gue nggak ambil keputusan ini cuma karena dia, Lut. Ada karier yang harus gue kejar juga."

"Tapi dia jadi pemicu utamanya, kan?"

Riska diam. Dan diamnya itu sudah cukup sebagai jawaban bagi Lutfi.

Di sisi lain gedung, di sebuah ruang rapat yang kosong, Arya duduk sendirian. Laptopnya terbuka, tapi layarnya tidak benar-benar ia perhatikan. Pandangannya kosong, pikirannya berputar di tempat yang sama sejak beberapa hari terakhir.

Ia bukan orang yang mudah terganggu oleh hal pribadi. Ia bangga dengan kemampuannya memisahkan perasaan dari pekerjaan. Setidaknya, dulu ia begitu. Namun sekarang, bahkan pekerjaan yang biasanya terasa jelas, logis, dan terstruktur pun mulai kabur.

Baca juga: O.D.O.P

Semua karena satu hal, Riska. Sejak beberapa hari terakhir, ia tahu sesuatu berubah. Bukan hanya dari sikap Riska yang makin menjauh, tapi juga dari kabar yang beredar pelan-pelan di tim. Riska ingin resign

Tiba-tiba pintu terbuka tanpa ketukan, mengagetkan lamunannya.

Deni masuk dengan langkah santai, membawa sebuah map di tangan. "Lo kelihatan kayak orang yang lagi kehilangan arah," katanya tanpa basa-basi sambil menarik kursi di depan Arya.

Arya melirik sekilas, lalu kembali menatap layar laptopnya. "Sejak kapan lo jadi analis psikologi?"

"Sejak gue kenal lo lama," sahutnya tenang. Deni teman lama Arya, seseorang yang tahu persis bagaimana cara membaca diamnya Arya yang penuh misteri.

"Ini soal Riska?" tanya Deni langsung, menusuk ke inti masalah.

Arya tidak menjawab. Ia hanya menghela napas, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.

Deni tersenyum tipis, melihat reaksi temannya. "Berarti iya."

Hening sejenak. Suara hujan yang mulai mengecil terdengar dari jendela ruang rapat.

"Dia mau resign," kata Arya akhirnya, suaranya terdengar berat dan parau.

"Gue tau."

Arya mengangkat alis, sedikit kesal. "Semua orang tau ya?"

Deni tersenyum miring. "Lo kira kantor ini nggak punya radar drama?"

Arya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Dan lo nggak mau dia pergi," lanjut Deni lagi, seolah bisa membaca pikiran Arya.

Kali ini, Arya tidak menyangkal. Untuk apa berbohong pada orang yang sudah tahu segalanya.

"Tapi lo juga nggak ngelakuin apa-apa buat nahan dia," tambah Deni.

Arya menatapnya tajam. "Gue harus ngapain? Dia sudah buat keputusan."

"Jujur."

Jawaban itu sederhana. Hanya satu kata. Tapi justru itu yang paling sulit bagi seseorang seperti Arya.

"Lo suka sama dia?" tanya Deni langsung.

Arya tidak menjawab.

"Arya!"

"Gue nggak tau," jawab Arya akhirnya.

Deni tertawa kecil. "Kalimat paling klasik."

"Serius," lanjut Arya. "Gue nggak pernah mikirin itu sebelumnya. Sampai dia ngomong…"

"Dan sekarang?" potong Deni.

Arya terdiam sejenak lalu berkata pelan, "Sekarang gue nggak bisa berhenti mikirin."

Deni mengangguk, seolah sudah menduga.

"Dan lo pikir menjauh itu solusi?"

"Gue pikir itu yang paling aman."

"Aman buat siapa?" tanya Deni.

Arya tidak punya jawaban.

**********

Malam turun perlahan menyelimuti Jakarta, tapi hujan masih bertahan, berubah menjadi gerimis yang tipis namun dingin. Lampu-lampu menyala terang, memantul di genangan air yang terbentuk di sepanjang jalan. Orang-orang bergegas pulang dengan payung mereka, meninggalkan sisa-sisa hari yang melelahkan di tempat kerja.

Riska duduk di sebuah kafe kecil tidak jauh dari tempatnya bekerja. Kafe itu temaram, hanya diterangi lampu gantung berwarna kuning hangat. Tempatnya tidak asing baginya. Justru terlalu familier. Di sanalah banyak percakapan ringan dengan Arya dulu terjadi. Di sanalah batas antara profesional dan personal mulai kabur untuk pertama kalinya. Dan di sanalah semuanya terasa lebih sederhana sebelum rahasia itu terbongkar.


Kini, ia duduk sendiri di meja sudut. Laptop terbuka di depannya. Draft email itu masih ada di sana dan masih sama, hanya subjeknya saja yang sudah ada sedangkan isinya masih tetap kosong. Kali ini, ia bertekad untuk menyelesaikan draft pengunduran diri itu sebelum keberaniannya hilang lagi. Jemarinya baru saja menyentuh tuts.

"Lo selalu pilih tempat ini ya."

Suara itu datang pelan dari arah samping, tapi cukup untuk membuat Riska membeku seketika. Ia mengenal suara itu dengan sangat baik.

Riska menoleh perlahan. Arya berdiri di sana. Rambut dan pakaiannya sedikit basah oleh hujan, napasnya sedikit terengah seolah ia habis berlari. Ekspresinya tidak lagi sepenuhnya tertutup dan kaku seperti beberapa hari terakhir. Ada sesuatu yang berbeda di matanya. Lebih jujur, lebih lelah, dan mungkin lebih nyata.

Tanpa menunggu izin dari Riska, Arya menarik kursi kayu di depannya dan duduk. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Hanya ada suara musik pelan dari speaker kafe dan denting sendok dari meja lain. Namun keheningan di antara mereka tidak lagi kosong. Ia penuh dengan hal-hal yang selama ini tidak pernah diucapkan, yang hanya dipendam dalam diam.

"Lo mau resign?" kata Arya akhirnya. Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah konfrontasi terhadap kenyataan.

Riska menatapnya lurus-lurus, mencoba mencari kekuatan di matanya sendiri. "Iya."

"Kenapa?"

Pertanyaan itu sederhana, hanya satu kata. Tapi jawabannya berlembar-lembar panjangnya. Riska menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya.

"Karena gue nggak bisa terus pura-pura semuanya normal," katanya pelan, suaranya bergetar sedikit. "Dan karena gue capek… ngerasain sesuatu yang nggak punya tempat di sini. Gue capek lari dari kenyataan kalau lo sengaja ngejauh."

Arya menunduk sejenak, menatap meja kayu di depan mereka. Seolah kalimat Riska tepat mengenai sesuatu yang selama ini ia hindari dengan sekuat tenaga.

"Gue memang menjauh," katanya kemudian, mengakui kesalahannya.

Riska tersenyum kecil, senyum yang pedih. "Gue tau."

"Gue pikir itu solusi terbaik buat kita berdua."

"Dan?" tanya Riska, menuntut kelanjutan.

Arya menggeleng pelan, ekspresinya penuh penyesalan. "Salah. Ternyata gue salah besar."

Hujan di luar mulai mereda. Tidak benar-benar berhenti, tapi melambat, menyisakan tetesan air yang jatuh satu-satu dari atap. Seperti memberi ruang bagi sesuatu yang lain untuk tumbuh di dalam ruangan ini.

"Gue nggak tau harus ngapain waktu itu," lanjut Arya, suaranya lebih lembut sekarang. "Gue denger semuanya di pantry, dan… gue panik. Gue nggak siap menghadapi perasaan itu."

Riska tidak menyela, ia membiarkan Arya bicara.

"Bukan karena gue nggak peduli," tambahnya, menatap mata Riska dengan intensitas yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Tapi karena gue justru peduli. Terlalu peduli sampai gue takut ngerusak semuanya."

Kalimat itu menggantung di udara kafe yang hangat. Dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Riska merasa dadanya sesak, bukan karena menahan tangis atau kemarahan, tapi karena sesuatu yang tertutup rapat kini mulai terbuka perlahan.

"Gue takut," kata Arya lagi, mengulangi kata yang jarang keluar dari mulut pria sepertinya.

"Takut kenapa?" tanya Riska pelan, hampir berupa bisikan.

Arya menatapnya dalam-dalam. "Takut kalau perasaan ini nyata. Takut kalau gue nggak bisa jadi apa yang lo butuhin."

Sunyi kembali hadir. Tapi kali ini bukan sunyi yang kosong atau canggung. Tapi sunyi yang penuh arti, seolah waktu berhenti sejenak untuk mereka berdua.


"Dan sekarang?" bisik Riska.

Arya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Riska lama, seolah sedang memotret wajah wanita di depannya itu ke dalam ingatannya, memastikan bahwa apa yang akan ia katakan bukan sekadar dorongan hati karena takut kehilangan.

"Sekarang gue tau," katanya akhirnya dengan mantap.

"Apa?"

"Bahwa menjauh dari lo… bukan cara buat ngilangin perasaan ini. Itu justru makin nyiksa gue."

Riska tidak bergerak. Tidak bicara. Tapi matanya tidak lepas dari Arya, mencari kejujuran di sana dan ia menemukannya.

"Gue nggak punya alasan yang bagus," lanjut Arya lagi. "Nggak ada momen spesifik yang bisa gue tunjuk. Tapi lo ada terus di pikiran gue, bahkan saat gue berusaha keras buat fokus ke kerjaan. Dan itu… nggak hilang, Ris."

Hujan di luar benar-benar berhenti sekarang. Seolah memberi jeda bagi mereka untuk bernapas lega. Riska menutup laptopnya perlahan, bunyi klik-nya terasa seperti penutupan sebuah bab yang menyedihkan. Draft email itu belum selesai. Dan ia tahu, mungkin memang tidak perlu diselesaikan malam ini. Atau mungkin tidak perlu diselesaikan selamanya.

"Kalau gue nggak jadi pergi…" katanya pelan, menggantungkan kemungkinan.

Arya menunggu dengan sabar, matanya penuh harap.

"Itu bukan cuma karena lo," lanjut Riska, ingin tetap mempertahankan harga dirinya sedikit.

Arya mengangguk mengerti. "Gue nggak mau itu juga jadi satu-satunya alasan."

"Tapi mungkin… lo jadi alasan gue buat berhenti lari dari perasaan ini."

Senyum kecil muncul di wajah Arya. Bukan senyum lebar yang mencolok, tapi senyum yang tulus. Cukup untuk membuat Riska merasa hangat.

Di luar, jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu jalan yang terang. Tapi langit di atas mulai tampak lebih cerah, awan hitam perlahan bergeser. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Riska merasa damai.




Tamat

Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Dara, Gadis Dunia Maya (#2) - Cerbung

Bukan Manis Tapi Iblis

Pamit Yang Tak Terdengar

Dia Yang Kusayang (#2) - Cerbung

Dara, Gadis Dunia Maya (#1) - Cerbung