Cerita Dari Meja Sudut
Cerita Dari Meja Sudut
~2.jpg)
Warung Sate Kambing dan Ayam Mbak Lastri berdiri di sudut perempatan, tepat di samping tiang listrik yang kabelnya menjuntai seperti rambut tak terurus. Bagi warga sekitar, warung ini adalah saksi bisu bagi keputusan-keputusan hidup yang seharusnya dipikirkan minimal dua kali sebelum diambil.
Tendanya terbuat dari terpal plastik berwarna biru yang sudah pudar, sewarna dengan langit Jakarta di kala polusi sedang tinggi-tingginya. Di beberapa bagian, terpal itu tampak ditambal dengan lakban hitam tebal. Meja-meja panjang di dalamnya terbuat dari kayu yang dilapisi plastik tipis bermotif jajar genjang, sedikit lengket. Kursinya goyang walau tidak digoyangkan.
Lampu LED empat puluh watt menggantung rendah di tengah tenda, diikat menggunakan tali rafia. Cahayanya putih perak, berpendar, dan selalu bergetar setiap kali ada truk atau bus lewat di jalan raya.
Di atas panggangan, asap sate mengepul. Angin malam yang berembus pelan membawa kabut putih itu berputar-putar di dalam tenda, membawa serta aroma lemak daging yang terbakar dan pekatnya arang batok kelapa.
Di meja paling ujung, tepat di bawah sorotan cahaya lampu, Roni sedang duduk menghadapi takdirnya sendiri.
Siti duduk di depannya dengan wajah serius seperti jaksa penuntut umum. Rambutnya tergerai rapi, matanya tajam, dan di tangannya ada satu batang tusuk sate yang belum terpakai.
Di meja samping mereka, Yadi duduk dengan posisi tubuh agak menyerong, mengunyah kerupuk dengan ketenangan orang yang tahu ini bukan masalahnya.
Sementara itu, Mbak Lastri berada di balik gerobak kayunya yang legam oleh minyak. Tangannya mengibas kipas bambu dengan gerakan stabil, dan tanpa emosi, gerakan yang hanya bisa dikuasai oleh seseorang yang sudah terlalu sering melihat drama rumah tangga, putus cinta, hingga pertengkaran utang piutang dipentaskan secara langsung di depan matanya selama belasan tahun.
Siti memutar-mutar tusuk sate di antara jari-jari telunjuk dan jempolnya. Matanya yang tajam menatap ujungnya yang runcing, sementara Roni menatap wajah Siti dengan tatapan pasrah yang biasa dimiliki oleh orang yang sudah mengikhlaskan logika demi satu senyuman dari orang yang disayangi.
"Jadi," kata Siti pelan. Suaranya halus, nyaris tenggelam oleh desis sate di panggangan. "Kamu mau jelasin sendiri pakai mulut kamu, atau aku yang pakai kreativitas aku buat improvisasi?"
Roni memajukan badannya beberapa sentimeter. Ia tersenyum kecil, jenis senyuman defensif yang biasa dipakai pria ketika tahu mereka berada di posisi kalah telak. "Improvisasi itu seni, Sayang. Dan kamu selalu punya selera seni yang tinggi."
Tusuk.
Tanpa peringatan, ujung tusuk sate yang dipegang Siti mendarat di punggung tangan kanan Roni yang berada di atas meja. Tekanannya tidak terlalu dalam, tidak sampai merobek kulit atau mengeluarkan darah, tetapi cukup kuat untuk meninggalkan bekas lingkaran merah kecil.
Roni meringis pelan, otot matanya berkedut menahan perih. Namun luar biasanya, senyum di bibirnya tidak hilang.
Yadi yang sejak tadi sibuk mengunyah kerupuk langsung menghentikan gerakan rahangnya. Suara kriuk yang tadinya mendominasi mendadak senyap. Ia memandang punggung tangan Roni yang masih ditempeli ujung tusuk sate, lalu pelan-pelan menolehkan kepalanya ke arah gerobak di mana Mbak Lastri sedang membalik belasan tusuk sate ayam.
"Mbak," ucap Yadi pelan. "Ini nontonnya bayar nggak, Mbak?"
Mbak Lastri tidak menoleh. Matanya tetap fokus pada percikan api yang timbul akibat tetesan lemak daging ke atas arang. "Kalau cuma nonton sambil ngabisin kerupuk, gratis. Tapi kalau kamu mulai ikut campur, baru bayar," jawab Mbak Lastri.
Baca juga: O.D.O.P
Di meja, suasana justru semakin memanas meskipun angin malam bertiup makin kencang. Siti mengangkat dagunya sedikit, menatap Roni dengan pandangan menginterogasi yang biasa dipakai oleh jaksa penuntut umum di pengadilan negeri.
"Kamu pikir aku ini buta, Ron? Kamu pikir aku nggak punya kuota internet buat lihat apa saja yang mondar-mandir di lini masa?" tanya Siti, nadanya meninggi. "Kamu pikir aku nggak lihat kamu ngasih like di foto dia?"
Roni memajukan kepalanya lagi, mencoba memakai taktik suara rendah yang menenangkan. "Dia itu... siapa dulu? Kita harus spesifik, Sayang, biar nggak ada salah paham di antara kita."
"Jangan tanya balik!" suara Siti memotong tajam.
Tusuk lagi.
Kali ini ujung tusuk sate itu berpindah ke lengan kemeja Roni yang digulung, mengenai kulit bagian dalam yang lebih sensitif. Roni menghela napas panjang, kali ini sengaja dibuat sedikit lebih dramatis dengan harapan Siti akan merasa iba dan menurunkan tensi kemarahannya.
"Sayang, kalau aku jelasin panjang lebar, kamu pasti bakal bilang aku nyari alasan dan ujung-ujungnya kamu marah. Tapi kalau aku milih diam dan nggak jelasin apa-apa, kamu justru bakal tambah marah karena ngerasa nggak dihargai. Sekarang aku cuma mau nanya, sebagai pacar yang baik, aku harus milih menghadapi kemarahan versi yang mana?"
Siti tidak menjawab. Matanya menyipit, membentuk garis lurus.
Yadi mengangkat kerupuk putih bundar tinggi-tinggi ke udara, seperti seorang prajurit yang sedang memberikan penghormatan terakhir pada sisa-sisa kewarasan yang ada di meja tersebut.
Tiba-tiba, tanpa ada aba-aba, tangan kiri Siti maju ke depan. Jari-jarinya mencengkeram kerah kemeja kotak-kotak yang dipakai Roni, lalu menarik tubuh pria itu mendekat dengan satu sentakan kuat.
Tarikan pada kerah baju itu seketika menekan tenggorokan Roni, cukup kuat untuk membuat pria itu sadar dalam sekejap bahwa mendapatkan pasokan oksigen secara gratis di malam hari adalah sebuah hak istimewa yang bisa dicabut kapan saja oleh pasangannya.
"Kamu jangan pernah sekali-kali ngeremehin ingatan aku, Ron," ucap Siti tepat di depan wajah Roni. Jarak mereka kini hanya tersisa seujung jari.
"Aku... aku nggak pernah ngeremehin kamu," jawab Roni dengan suara yang setengah tercekat, napasnya keluar satu-satu dari sela bibir. "Gimana bisa aku ngeremehin kamu, kalau di pikiran aku, posisi kamu itu selalu aku tinggiin di atas perempuan mana pun?"
"Ninggiin aku? Dengan cara ngasih jempol di foto perempuan lain yang posenya pamer bahu begitu?"
"Itu algoritma Instagram, Siti. Bukan perasaan aku. Jempol aku bergerak secara refleks karena sistem, hatiku tetap diam di tempat," bela Roni, masih sempat-sempatnya membawa argumen teknologi ke dalam pusaran cemburu.
Siti mendesah. Tangan kirinya melepas kerah baju Roni. Merasa mendapat celah untuk bernapas, Roni refleks membuang muka ke arah gerobak sate. Namun sedetik kemudian, tangan kanan Siti bergerak cepat ke belakang kepala Roni. Jari-jarinya menyusup di antara rambut bagian belakang Roni, lalu memberikan satu jambakan kecil.
Jambakan itu tidak kencang, tetapi cukup untuk membuat kepala Roni mendongak paksa.
Bukannya memberontak atau menjauhkan kepalanya, Roni justru sengaja memajukan duduknya, memasang tampang pasrah, dan membiarkan kepalanya mendongak nyaman mengikuti arah tarikan tangan Siti. Ia sengaja mengunci pandangan matanya tepat ke dalam mata Siti, seolah-olah posisi dijambak itu adalah posisi terbaik untuk merayu kembali.
"Lihat muka aku kalau aku lagi ngomong. Jangan lihat ke arah gerobak sate terus."
Roni menurut sepenuhnya. Tatapan mereka bertemu. Lampu LED di atas mereka kembali bergoyang kecil karena ada bus yang melintas di jalan raya, membuat bayangan wajah mereka di atas meja ikut bergerak-gerak dramatis seolah-olah sedang ikut tegang.
Baca juga: Makhluk Manis Dalam Lift
Yadi yang sejak tadi mencoba bersikap netral, perlahan mengangkat bokongnya dari kursi plastik. Ia berdiri sebentar, lalu duduk kembali. Ia memandang Mbak Lastri, lalu memandang kedua temannya yang masih berada dalam posisi dramatis tersebut.
Dengan volume suara yang sengaja dikeras-keraskan hingga terdengar oleh setengah penghuni warung, Yadi berkata dengan nada datar, "Entah apa yang ada di pikirannya. Sudah ditusuk, dicekik, dijambak. Bukannya lapor polisi malah ganti posisi?"
Suasana di dalam warung sate Mbak Lastri mendadak sunyi senyap selama satu detik yang terasa sangat panjang.
Seorang bapak-bapak paruh baya yang duduk di meja paling belakang mendadak menghentikan aktivitasnya meniup kuah sop kambing yang masih mengepul. Sendoknya menggantung di udara.
Siti menolehkan wajahnya pelan-pelan ke arah Yadi. Pandangan matanya beralih dari Roni ke arah pria yang sejak tadi hanya menjadi mesin penghancur kerupuk tersebut. Sementara itu, Roni masih berada dalam posisi pasrah, kepalanya mendongak dengan tangan Siti yang masih mencengkeram rambut belakangnya.
"Yad," kata Roni dengan suara yang dibuat selembut mungkin, mencoba meredam efek ledakan dari ucapan temannya. "Kamu di sini perannya sebagai teman baik aku, kan? Jujur, celetukan kamu sama sekali nggak membantu."
Yadi hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai, lalu mengambil satu tusuk sate ayam miliknya yang sudah dingin. "Gue nggak niat bantu kok, Ron. Gue cuma bertindak sebagai narator kehidupan aja. Tugas gue menyampaikan realita apa adanya ke penonton."
Mendengar ucapan Yadi, Siti perlahan-lahan melepas cengkeraman jemarinya dari rambut belakang Roni. Begitu tekanan itu hilang, Roni langsung menarik napas panjang dan dalam, membiarkan paru-parunya kembali terisi oksigen.
Lalu, tanpa ada ucapan pembuka atau aba-aba apa pun, Roni berdiri dari tempat duduknya. Ia memegang sandaran kursi plastik hijaunya dengan kedua tangan, lalu menggesernya perlahan di atas lantai semen warung yang kasar.
Kreeek.
Suara gesekan kaki kursi dengan lantai semen itu terdengar ngilu dan nyaring, memecah keheningan malam di bawah tenda biru. Roni menggeser kursinya memutar, melewati bagian belakang meja, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia meletakkan kursi tersebut tepat di samping kanan kursi Siti. Ia duduk di sana, memangkas jarak yang tadinya dipisahkan oleh meja menjadi tidak ada jarak sama sekali.
Yadi langsung menepuk permukaan meja dengan telapak tangannya pelan, menciptakan bunyi prak yang ritmis. "Nah, lihat kan? Tepat seperti prediksi narasi gue. Ganti posisi."
Roni tidak memedulikan ejekan Yadi. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah-olah sedang menghadapi barang pecah belah peninggalan dinasti kuno, ia mengangkat kedua tangannya. Jari-jemari Roni mendarat di kedua bahu Siti yang tampak tegang.
Ia mulai memberikan pijatan-pijatan kecil yang lembut di sana. Gerakan tangannya sangat hati-hati.
"Kamu capek banget ya malam ini, Sayang? Pasti gara-gara kerjaan numpuk, makanya emosi kamu jadi gampang kepancing begini," bisik Roni lembut di dekat telinga Siti.
Siti mencoba mempertahankan ekspresi wajah kesalnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Namun, tidak bisa dibohongi, pijatan Roni pada otot-otot bahunya perlahan-lahan membuat tubuhnya mengendur. Pertahanannya mulai goyah oleh kenyamanan fisik.
"Aku tuh... aku tuh sebenarnya cuma pengin kamu fokus kalau lagi sama aku, Ron," kata Siti, suaranya kini terdengar pelan. "Masa kita lagi jalan bareng, tapi pikiran kamu masih sempat-sempatnya keluyuran ke profil perempuan lain."
"Aku fokus, Sayang. Sumpah, aku fokus banget sama kamu," jawab Roni dengan kecepatan bicara yang konstan agar terdengar meyakinkan. "Kalau suatu hari nanti kamu dikutuk jadi tiang listrik di pinggir jalan pun, aku bakal tetap datang tiap malam buat meluk kamu."
Yadi yang sedang mengunyah sate langsung memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya berkerut seolah-olah baru saja menelan sebutir obat yang rasanya sangat pahit. Ia meletakkan tusuk sate kosong ke atas piring dengan lemas.
"Mbak Lastri," kata Yadi lagi, suaranya mengarah ke arah gerobak. "Teman saya yang satu ini kayaknya udah stadium akhir. Di warung Mbak menyediakan jasa diskon akal sehat atau cuci otak darurat nggak? Tolong, saya bayar pakai uang pas."
Mbak Lastri membalik beberapa tusuk sate kambing yang baru. Kobaran api kecil sempat menyala tinggi dari panggangan akibat tetesan lemak, menerangi wajah wanita paruh baya itu yang tetap datar, tenang, dan tidak terpengaruh oleh gombalan maut Roni.
"Di sini cuma ada sate kambing dan ayam sama bumbu kacang. Kalau akal sehat bawa sendiri dari rumah," sahut Mbak Lastri dari balik kepulan asap.
Siti mengambil satu tusuk sate ayam dari piring di tengah meja. Aroma bumbu kacangnya yang manis menyengat hidung. Roni masih setia dengan pekerjaannya, jemarinya terus bergerak memijat pangkal leher Siti dengan konsistensi.
"Aku tuh... kadang-kadang sengaja nyari perkara buat marah sama kamu, Ron," kata Siti pelan, matanya menatap bumbu kacang yang meleleh di atas piring.
Gerakan tangan Roni sempat berhenti selama setengah detik mendengar pengakuan jujur itu. "Kenapa begitu?"
"Biar aku tahu, kamu masih punya niat buat ngejar aku atau nggak. Aku cuma pengin mastiin kalau kamu nggak bosan," lanjut siti, nadanya kini terdengar seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu.
Roni terdiam, tidak langsung merespons. Di seberang meja, Yadi menatap kosong ke arah langit-langit tenda terpal biru, memperhatikan seekor cicak yang sedang mengendap-endap mendekati laron di dekat bola lampu.
"Mbak Lastri," gumam Yadi dengan suara lirih. "Tolong siapin catatan, Mbak. Ini obrolan di meja depan udah bukan level tongkrongan lagi. Ini udah masuk kurikulum Bab Psikologi Hubungan Toksik semester tiga."
Siti tidak memedulikan komentar Yadi, ia melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda. "Soalnya kalau aku nggak marah, kamu itu bawaannya santai terus, Ron. Cuek. Tapi kalau aku sudah mulai marah-marah sampai pasang muka seram, kamu baru mendadak jadi pria paling perhatian sedunia. Jadi, salah siapa, coba?"
Roni tersenyum kecil, sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang penuh arti. "Berarti, aku harus ngucapin terima kasih sama kemarahan kamu ya? Karena tanpa rasa marah kamu, aku nggak bakal duduk di kursi ini sambil mijitin bahu kamu sekarang."
Siti memutar bola matanya, sebuah gestur malas yang biasa ia lakukan jika sudah kehabisan argumen logis untuk mendebat balik. ,"Kamu tuh emang aneh, Ron. Otak kamu kayaknya emang ada sekat yang geser sedikit."
Roni menghentikan pijatannya, lalu menurunkan kedua tangannya untuk bersandar di sandaran kursi Siti. Tatapannya beralih dari bahu Siti, menatap lurus ke depan menembus kegelapan jalanan di luar tenda.
"Aku nggak aneh, Cin. Aku cuma punya satu ketakutan terbesar dalam hidup aku sekarang. Aku cuma takut kehilangan kamu," ucap Roni. Suaranya kali ini tidak mengandung nada bercanda atau gombalan murah. Nada suaranya terdengar sangat datar dan jujur.
Suasana di meja itu kembali diselimuti kesunyian. Lampu LED di atas mereka bergetar kecil sekali lagi seolah-olah memberikan jeda dramatis bagi kalimat Roni. Asap dari panggangan sate melayang perlahan, melewati celah di antara mereka berdua. Pemandangan itu mirip seperti sebuah adegan klise dalam film drama romantis kelas menengah.
Baca juga: Misteri Di Balik Kata Hmmm
Yadi yang tadinya berniat mengeluarkan celetukan sarkas berikutnya, mendadak mengurungkan niatnya. Ia meletakkan sisa kerupuknya kembali ke dalam plastik. Sementara itu, Mbak Lastri di balik gerobak tampak sedikit memperlambat gerakan kipas bambunya, seolah-olah ikut memberikan ruang bagi kalimat yang baru saja diucapkan oleh pelanggan setianya.
Siti menundukkan kepalanya dalam-dalam, memandangi ujung sepatunya yang kotor terkena cipratan air genangan jalanan. "Kamu... beneran takut kehilangan aku, Ron?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan, hampir berupa bisikan.
Roni mengangguk. "Iya. Sangat takut."
Namun, setelah jeda tiga detik, Roni menarik napas panjang dan melanjutkan kalimatnya dengan nada yang berbeda. "Tapi... di saat yang sama, akhir-akhir ini aku juga mulai ngerasa takut terhadap hal lain, Sit."
Siti menolehkan kepalanya ke samping, menatap langsung ke wajah Roni dari jarak dekat. "Takut karena hal apa lagi?"
"Aku takut... kalau ego kita berdua terus-terusan berjalan kayak begini, lama-lama aku bakal kehilangan diri aku sendiri," jawab Roni pelan.
Siti mengernyitkan dahinya, tidak mengerti. "Maksud kamu apa? Jangan bikin aku mikir keras malam-malam begini."
"Maksud aku, kalau setiap kali ada masalah kecil, jalan keluar yang kita ambil selalu sama. Kamu marah dengan cara 'nyiksa' perasaan aku, dan aku terus-terusan menjadi orang yang mengalah, menggeser kursi, dan ganti posisi cuma supaya kamu bisa tenang dan nggak marah lagi... nanti pada akhirnya aku bakal lupa, posisi awal aku sebagai laki-laki di dalam hubungan ini ada di mana. Aku takut suatu hari nanti aku nggak tahu lagi cara berdiri tegak karena terlalu sering membungkuk buat minta maaf."
Yadi yang duduk sendirian di seberang mereka berdua tampak mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan setelah mendengar penjelasan panjang dari Roni. Untuk pertama kalinya sepanjang malam yang melelahkan itu, tidak ada senyuman mengejek atau niat untuk meledek di wajah Yadi. Tatapan matanya kali ini menunjukkan sebuah rasa hormat yang tulus dan mendalam terhadap keberanian sahabatnya untuk mengungkapkan isi hati yang paling jujur dan paling sensitif di depan pasangannya.
Mbak Lastri perlahan berjalan keluar dari balik gerobak. Langkah kakinya yang berat karena faktor usia terdengar mendekati meja paling depan. Kedua tangannya membawa sebuah piring yang permukaannya dipenuhi oleh sepuluh tusuk sate dengan ukuran potongan yang jauh lebih besar dibanding piring pertama. Permukaan daging sate itu dipoles oleh kecap manis tebal yang tampak berkilat-kilat di bawah pantulan cahaya lampu LED.
Mbak Lastri menaruh piring berisi sate itu tepat di tengah-tengah meja dengan gerakan yang sangat pelan. "Ini sate kambing bumbu kecap pedas, lengkap pakai potongan bawang merah iris sama cabai rawit," katanya dengan suara yang datar.
Yadi mendongakkan kepalanya, menatap piring tersebut dengan dahi yang berkerut bingung. "Lho, Mbak Lastri, kami bertiga kan nggak ada yang pesan sate kambing tambahan lagi setelah piring pertama tadi habis? Tadi di awal pesanan kami cuma sate ayam sepuluh tusuk sama sate kulit sepuluh tusuk saja, Mbak. Ini salah meja kali?"
Mbak Lastri mengusap kedua tangannya yang tampak sedikit berminyak ke kain celemek merah pudar yang terikat di pinggangnya. "Ini bukan pesanan salah meja yang harus kalian bayar nanti pas mau pulang di kasir, Mas. Anggap saja ini piring bonus sukarela dari saya pribadi buat kalian bertiga yang duduk di meja depan."
Roni menatap wajah Mbak Lastri dengan ekspresi yang tidak kalah heran dari Yadi. "Bonus dalam rangka apa dulu ini, Mbak? Memangnya warung sate Mbak Lastri lagi merayakan hari ulang tahun yang ke berapa malam ini?"
"Bukan karena urusan ulang tahun warung," jawab Mbak Lastri. Matanya menatap bergantian ke arah wajah Roni dan wajah Siti dengan pandangan seorang ibu yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan jalanan.
"Ini piring pengingat buat kalian berdua yang mukanya dari tadi sudah kusut mengalahkan kain lap di gerobak saya. Daging kambing itu, kalau kamu bakar di atas bara arang terus-menerus tanpa pernah dikasih jeda atau diangkat sebentar, bagian luarnya pasti bakal cepat berubah jadi gosong, hitam, dan rasanya pahit. Tapi, kalau daging gosong itu kamu belah pakai pisau, bagian dalamnya belum tentu matang dengan sempurna. Hubungan kalian berdua yang saya tonton dari tadi juga mirip seperti itu rasanya. Kelihatannya dari luar seru, penuh drama kejar-kejaran, marah-marahan, tusuk-tusukan pakai tusuk sate, tapi kalau hatinya masing-masing dipaksa buat panas terus sepanjang waktu, lama-lama hubungan kalian bakal gosong dan hancur juga sebelum waktunya matang."
Setelah menyelesaikan kalimat panjangnya yang terdengar seperti sebuah petuah spiritual, Mbak Lastri langsung membalikkan badannya. Dia berjalan kembali menuju ke area gerobaknya tanpa menunggu jawaban atau respons kata-kata dari ketiga anak muda yang terpaku di mejanya.
Roni menatap potongan daging kambing berbalut kecap di atas piring bonus tersebut. Kalimat dari Mbak Lastri barusan seolah-olah mengendap dengan sangat baik di dalam kepala semua orang yang ada di meja miring itu, memaksa mereka untuk berpikir ulang.
Warung sate di sekitar mereka secara perlahan kembali dipenuhi oleh suara-suara latar yang normal dan biasa terdengar. Suara dentingan sendok besi yang beradu dengan permukaan piring dari meja pelanggan di bagian belakang, suara raungan mesin motor matic yang melintas cepat di jalan raya, dan suara arang di panggangan yang sesekali mengeluarkan letupan kecil akibat suhu panas yang ekstrem di bawahnya.
Yadi menyandarkan seluruh punggungnya ke sandaran kursi plastik hijau, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap lurus ke arah wajah Roni.
"Gue sebagai sahabat lu dari zaman susah cuma mau bilang satu hal penting sama lu, Ron," kata Yadi dengan nada suara yang santai namun terdengar sangat serius di telinga Roni. "Kalau besok-besok, minggu depan, atau bulan depan lu berada di warung tenda ini lagi dalam kondisi yang sama, ditusuk lagi pakai tusuk sate, dicekik lagi kerah kemejanya, atau dijambak lagi rambut belakangnya cuma karena urusan sepele di media sosial... gue pastikan dengan amat sangat bahwa gue bakal tetap duduk di kursi seberang lu ini dan mengulang kalimat ejekan yang sama persis seperti tadi.”
Roni tersenyum tipis mendengar komitmen aneh dari sahabatnya itu. Dia menatap Yadi dengan pandangan mata yang menyiratkan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadirannya. "Aku tahu karakter kamu, Yad. Dan aku pastikan aku nggak bakal bosan buat mendengar semua celetukan nggak bermutu dari mulutmu itu."
Siti yang sejak beberapa menit lalu hanya diam memperhatikan interaksi dan percakapan di antara kedua pria di hadapannya, perlahan-lahan mengulurkan tangan kirinya. Dia menyikut lengan kanan Roni dengan sebuah gerakan yang sangat pelan dan lembut, bukan lagi sebuah gertakan fisik seperti di bab awal, melainkan sebuah sentuhan kecil yang penuh dengan rasa bersalah yang coba dia sembunyikan di balik ekspresi wajahnya.
"Dan untuk kamu sendiri, Ron... kalau minggu depan atau kapan-kapan aku masih gampang merasa kesal dan marah karena hal-hal kecil yang nggak jelas alasannya, apa yang bakal kamu lakukan menghadapi aku?" tanya Siti pelan, matanya menatap lurus, masuk ke dalam mata Roni mencari kepastian jawaban.
Roni membalas tatapan mata Siti dengan penuh perhatian, lalu tersenyum tulus yang membuat Yadi di seberang meja terpaksa harus memalingkan wajahnya ke arah jalan raya karena tidak kuat melihat adegan drama romantis tersebut secara langsung di depannya.
"Aku? Mungkin aku masih bakal tetap berdiri dari kursi, memegang sandaran kursi plastik ini dengan kedua tangan aku, menggeser posisinya beberapa sentimeter, dan ganti posisi lagi buat duduk di sebelah kamu sampai kamu merasa tenang," jawab Roni dengan suara yang sangat tenang dan mantap.
Dari balik kepulan asap gerobaknya yang mulai menipis, suara gumaman lirih dari Mbak Lastri kembali terdengar lamat-lamat di antara suara kibasan kipas bambunya. "Asmaranya ajaib banget anak muda zaman sekarang ini. Bikin pusing kepala orang tua yang melihatnya."
Lampu LED yang menggantung di atas meja mereka terus bergoyang kecil tertiup angin malam, memancarkan cahaya putih perak di sudut perempatan. Malam itu, di antara sisa bumbu kacang yang mulai mengering, keputusan Roni untuk tetap duduk di sebelah Siti bukan lagi sekadar pelarian pria yang takut konflik, melainkan sebuah cara baru untuk memulai komitmen yang lebih dewasa.
Tamat
Baca juga: Sebelum Es Batu Mencair
tapi ya dalam suatu hubungan itu memang ada aja dramanya
BalasHapuskalau g ada dramanya kayak kureng gt