Postingan

Menampilkan postingan dengan label Psycho Thriller

Sebelum Es Batu Mencair

Gambar
Sebelum Es Batu Mencair Kaca tebal yang membatasi area rooftop lounge itu tidak mampu sepenuhnya menghalau hawa panas yang mengepung Jakarta dini hari ini. Angin malam yang berembus di luar sana sama sekali tidak membawa kesegaran; ia terasa kering dan membawa aroma aspal yang terbakar sisa siang hari. Di dalam ruangan, mesin pendingin udara berdesis konstan, berjuang keras melawan suhu tubuh orang-orang urban yang dipompa oleh alkohol dan musik berdentum rendah. Di sudut paling privat, empat orang berada dalam satu gravitasi yang sama, sementara satu sosok mengawasi dari balik meja bar. "Jadi, cuma segini kemampuan perusahaan lu sekarang, Jar?" Suara Baskara memecah denting es batu di dalam gelas kristal. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, sebelah tangannya merangkul bahu Mega dengan gestur posesif yang kentara. Fajar, yang duduk di seberang meja, menghentikan gerakannya yang hendak meneguk whiskey. Wajahnya yang letih setelah seharian bertemu klien tampak makin ka...

Jari Yang Terkunci

Gambar
Jari Yang Terkunci Udara di satu kompleks perumahan sore itu terasa lengket. Firman duduk di kursi plastik yang kaki-kakinya mulai melengkung, menahan beban tubuhnya yang gelisah. Di depannya, segelas kopi hitam yang sudah dingin menyisakan ampas setebal setengah sentimeter. Dari kursi di sebelahnya, terdengar bunyi renyah seseorang yang sedang asyik mengunyah rempeyek. Namun, fokus Firman bukan pada suara itu, melainkan pada layar ponselnya yang redup. "Masih belum berani, Man?" Suara cempreng itu datang dari balik kepulan uap penggorengan. Mpok Neneng, wanita paruh baya dengan daster bermotif abstrak sederhana yang sudah pudar, menatap Firman dengan tatapan yang sulit diartikan. Warung Mpok Neneng bukan sekadar tempat makan; ini adalah pusat intelijen swadaya masyarakat. Di sini, rahasia tersebar tanpa ampun. "Ini masalah strategi, Mpok," jawab Firman berkilah. Jarinya mengambang di atas tombol Kirim. Pesan itu berbunyi: "Sore Mbak Sekar. Suaminya sedang tug...

Winda Bukan Indah

Gambar
Winda Bukan Indah Orang-orang melewatinya tanpa banyak berpikir. Ada yang mengira itu sekadar coretan iseng di papan pengumuman desa. Ada juga yang menganggap itu pesan rahasia anak-anak sekolah. Tapi bagi Winda , kalimat itu seperti bayangan yang terus mengikutinya. Sejak pindah ke desa kecil itu, semua orang memandangnya dengan cara yang aneh. Tatapan ragu, senyum setengah hati, bahkan beberapa kali ia dipanggil dengan nama yang bukan namanya. "Indah… eh, maaf," panggil seorang ibu di warung suatu sore. Awalnya Winda hanya tertawa kecil. Kesalahan biasa, pikirnya. Namun semakin lama, ia merasa kesalahan itu seperti sesuatu yang disengaja. Hingga suatu hari, Winda memberanikan diri bertanya pada penjaga keamanan desa, satu-satunya orang yang tampak tidak pernah salah memanggil namanya. "Memangnya siapa Indah?" tanya Winda pelan. Penjaga keamanan itu diam cukup lama, lalu berkata, "Orang yang dulu tinggal di rumahmu." Jantung Winda berdegup lebih cepat dar...

Kehangatan Yang Terlarang

Gambar
Kehangatan Yang Terlarang Pukul 15:00, di tengah terik matahari yang menyengat kaca depan, sebuah Honda Brio merah yang membawa empat mahasiswa asal Jakarta melaju kencang meninggalkan hiruk pikuk kota. Tujuan mereka adalah sebuah kawasan perbukitan di Jawa Barat yang menjanjikan ketenangan. Reyhan memegang kemudi dengan percaya diri. Terkadang, tangan kirinya sesekali menggenggam tangan Yuli, kekasihnya yang duduk di sampingnya. Yuli yang seharusnya merasa santai menikmati perjalanan justru tampak agak tegang. Ia menyandarkan kepala di kaca jendela, membiarkan pikirannya berkeliaran. Ia tidak sedang tidur, tapi juga tidak sepenuhnya sadar. Ada aura kecemasan yang tak terjelaskan. Matanya tertuju pada ponselnya, membaca ulang thread horor di X yang menceritakan pengalaman buruk wisatawan di vila terpencil. Mobil mulai meninggalkan jalan tol, memasuki jalan provinsi yang berkelok dan menanjak. Pemandangan hijau dan hawa sejuk mulai menyambut. "Lihat, Rey. Jalanan di sini udah mu...

Misteri Di Balik Senja (#2)

Gambar
Misteri Di Balik Senja (#2) Saat matahari sore mulai beranjak pergi, Lintang kembali berdiri di depan rumah besar milik Ibu Dyah. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah menyimpan rahasia yang menanti untuk diungkapkan. Ia melangkah memasuki gerbang yang berkarat, namun kali ini tidak langsung menuju pintu utama. Sebagai gantinya, ia mengitari sisi rumah menuju halaman belakang. Begitu ia tiba di sana, napasnya tercekat. Taman kecil yang disebutkan di buku harian itu memang ada, tetapi telah lama dibiarkan terbengkalai. Rerumputan liar menjalar di mana-mana. Sisa-sisa jalur batu yang dulu mungkin membentuk lingkaran kini hampir tertutup semak belukar. Di sudut taman, sebuah bangku kayu berdiri rapuh di bawah pohon flamboyan yang menjulang. Lintang berjalan perlahan, matanya meneliti setiap sudut taman, mencari sesuatu yang mungkin pernah disembunyikan Galuh. Langkahnya terhenti di dekat bangku kayu itu ketika ia melihat sesuatu yang aneh, tanah di bawah bangku itu tampak lebih...