Postingan

Menampilkan postingan dengan label Drama Romantis

Di Balik Cangkir Cappuccino

Gambar
Di Balik Cangkir Cappuccino Gerimis tipis yang membasahi kaca jendela Kedai Kopitagram membuat pantulan lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat tampak samar. Di luar, jalanan ibu kota merayap pelan dalam kemacetan sore. Namun di dalam kedai kayu beraroma sangrai kopi arabika ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sebuah meja bundar di sudut ruangan, Risa duduk memandangi kue tar cokelat berdiameter kecil. Di atas kue itu, dua batang lilin berbentuk angka 3 dan 2 menyala bergoyang-goyang ditiup angin tipis dari exhaust fan . Tiga puluh dua tahun. Sebuah angka yang matang. Sudah hampir enam tahun lamanya Risa menjalani hidupnya sendirian, sejak takdir mengambil suaminya dalam sebuah kecelakaan maut. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka, membesarkan keberanian, dan belajar menata hidup kembali sebagai seorang wanita tunggal. Ia telah tumbuh menjadi sosok yang terbiasa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, mandiri, tangguh, dan tanpa sadar, memunculkan be...

Insan-Biasa Dot Net

Gambar
Insan-Biasa Dot Net Beberapa tahun lalu, Jakarta terasa sangat mengintimidasi bagi Hermansyah, terutama di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di daerah Palmerah. Kamar itu pengap, dipenuhi aroma mi instan rebus, kopi sasetan, dan suara kipas angin yang berderit setiap malam. Namun, di sanalah impiannya lahir. Hermansyah adalah seorang pemuda yang gila musik. Setiap malam, sepulang kuliah, tugasnya adalah berburu file MP3 dari internet, memastikan kualitas suaranya tidak pecah, lalu mengetik lirik lagunya kata demi kata secara manual. Di sebelahnya, ada Ricky, teman satu kosnya yang kuliah di jurusan komputer. Ricky adalah orang yang tahu bagaimana cara menyewa hosting murah dengan paket paling hemat, mengatur tampilan blog , dan memastikan blog mereka tidak gampang error . Di masa itu, orang-orang mulai gemar pergi ke warnet untuk men- download lagu MP3 langsung ke ponsel mereka demi menghemat kuota data seluler yang masih mahal. Blog mereka, Insan-biasa.net , hadir di...

Bukan Sabar, Itu Indah

Gambar
Bukan Sabar, Itu Indah Aroma sabun cuci motor bercampur uap aspal panas sudah menjadi menu sarapan Sabar setiap hari. Di bawah kanopi spandeks yang memantulkan terik matahari Jakarta pukul sebelas siang, tangannya cekatan menggosok sasis motor bebek yang berlumpur. Kaus oblongnya basah kuyup, entah oleh air selang atau keringatnya sendiri. "Bar, dicariin si Indah tuh di depan," teriak Pak Amir dari dalam ruangannya yang merangkap gudang. Pak Amir mengendurkan raut mukanya yang kaku sebentar, memberikan isyarat dagu ke arah warung kopi di seberang jalan. Sabar menghentikan semprotan airnya. Ia mengusap dahi dengan punggung tangan, lalu buru-buru mematikan kompresor. Di seberang jalan, duduk seorang gadis dengan seragam minimarket. Rambutnya dibiarkan lepas terurai melewati bahu, wajahnya tampak lelah. Itu Indah. Sabar menyeberang jalan setelah meminta izin singkat pada Pak Amir. Di warung kopi, Tono sudah lebih dulu nangkring sambil mengisap sebatang rokok hasil patungan. ...

Dia Yang Memahami Diamku

Gambar
Dia Yang Memahami Diamku Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Setidaknya itu yang selalu kupikirkan setiap kali berdiri di balkon apartemenku pada malam hari. Dari lantai dua belas, lampu-lampu kendaraan masih mengalir seperti sungai cahaya yang tak pernah berhenti. Klakson terdengar sesekali dari kejauhan. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jendela yang masih menyala meski jarum jam sudah lewat pukul sebelas. Kota ini selalu bergerak. Sementara aku lebih sering diam, terjebak dalam ritmeku sendiri. Namaku Ardi. Usiaku dua puluh tujuh tahun dan bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan kreatif di kawasan Sudirman. Sebagian besar hidupku berjalan sederhana. Bangun pagi, naik MRT, bekerja, pulang, lalu menghabiskan malam dengan membaca buku atau mendengarkan musik. Tidak banyak yang berubah. Dan aku menyukainya. Kenyamanan dalam rutinitas adalah caraku bertahan hidup. Aku tidak pernah merasa perlu memiliki lingkaran pertemanan yang besar. Bagiku, keramaian sering kali m...

Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang

Gambar
Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang Arief menatap layar ponselnya yang berpendar di tengah remang pencahayaan kafe Kopi Senja . Jarum jam dinding di atas meja barista baru saja melewati angka delapan malam. Di hadapannya, secangkir caffè latte yang mulai kehilangan uap panasnya tampak kesepian. Biasanya, ada cangkir kedua di seberang meja, sebuah matcha latte dengan taburan bubuk kayu manis di atasnya. Namun malam ini, kursi kayu di depan Arief kosong melompong. Sudah empat hari, tiga jam, dan dua puluh menit sejak pertengkaran hebat itu terjadi. Arief masih ingat betul bagaimana nada suara Dinda meninggi sebelum akhirnya perempuan itu meraih tas selempangnya, berdiri, dan melangkah keluar dari kafe ini tanpa menoleh lagi. Pemicunya sebenarnya sepele, hanya masalah perbedaan jadwal liburan dan ego Arief yang menolak untuk mengalah sedikit saja. Namun, dampaknya seperti bom yang meluluhlantakkan komunikasi yang sudah mereka bangun selama dua tahun. Arief menghela napas panjang. Jempo...