Postingan

Menampilkan postingan dengan label Young Adult Fiction

Langkah Pertama, Memaafkan (#2)

Gambar
Langkah Pertama, Memaafkan (#2) Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Ratih terus terngiang di kepalanya, bercampur dengan rasa sakit dan amarah yang belum sepenuhnya reda. Sesampainya di kamar, emosinya yang tertahan sejak tadi akhirnya meledak. Semua bercampur menjadi satu memenuhi dadanya, membuatnya sulit bernapas, sesak, marah, dan kecewa. Belum sempat ia meredakan gejolak dalam dirinya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, dan Yuni serta Dian sudah berdiri di ambang pintu. Kedatangan Yuni dan Dian seakan menjadi pemicu. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir deras, seolah-olah mereka telah membuka bendungan yang selama ini menahan rasa sakitnya. Nina terduduk di lantai, tubuhnya bergetar hebat, isakannya memecah kesunyian kamar. Seketika Yuni berlutut dan memeluknya erat tanpa kata, sementara Dian menutup pintu kamar, memberikan mereka ruang. "Dia... Ratih..." Nina tergagap di antara isaknya. "Dialah yang merebut Gilang dariku... Dan dia berani data...

Langkah Pertama, Memaafkan

Gambar
Langkah Pertama, Memaafkan Matahari pagi menyelinap melalui celah tirai kamar Nina , memaksanya membuka mata yang sembap karena tangis semalam. Udara di kamar itu terasa pengap. Aroma kopi dingin sisa semalam tercium dari meja samping tempat tidur. Nina menggeliat malas, mencoba membalikkan tubuh dan melanjutkan tidur, tetapi sia-sia saja. Cahaya yang hangat itu terus mengusik, membuatnya mendesah frustrasi. "Pergilah, matahari sialan! Kenapa juga harus menyelinap masuk lewat jendela dan tirai? Aku jadi tidak bisa tidur lagi," gumamnya kesal. Hatinya terasa berat. Ini hari ketiga sejak perpisahannya dengan Gilang, pria yang telah mengisi hidupnya selama tiga tahun terakhir. Dia tak pernah membayangkan hubungan mereka akan berakhir secepat ini tanpa peringatan, tanpa alasan yang masuk akal. Hanya satu pesan singkat yang diterimanya: "Aku sudah menemukan yang lebih baik. Maaf." Nina mengerang, memeluk bantalnya lebih erat. Tiba-tiba pintu kamar terbuka pelan, dan Yuni...

Untuk Irfan: Cerita Yang Tak Selesai

Gambar
Untuk Irfan: Cerita Yang Tak Selesai Di sebuah kamar dengan pencahayaan seadanya, seorang perempuan muda bernama Lia duduk termenung di depan layar laptopnya. Layar menyala terang, menyinari wajahnya yang polos tanpa riasan. Kursor berkedip-kedip di jendela email yang terbuka, tapi masih kosong. "Untukmu, Irfan , sahabatku di dunia maya," ia mulai mengetik, namun kembali berhenti. Jemarinya menggantung di udara, seperti tidak tahu bagaimana melanjutkannya. Ia menggerak-gerakkan kursornya di layar. Namun, tetap saja tak ada kata-kata yang keluar selain kata-kata yang sudah diketiknya. "Kenapa menulis sesuatu yang sederhana saja terasa sulit?" gumamnya pelan. Ia menarik napas panjang, membiarkan pikirannya melayang kembali ke masa ketika pertama kali Irfan hadir dalam hidupnya melalui jendela kecil bernama internet. Awalnya mereka hanyalah dua orang asing di dunia maya. Lia tak pernah menyangka, obrolan ringan di sebuah forum diskusi bisa membawanya akrab dengan sese...