Langkah Pertama, Memaafkan (#2)
Langkah Pertama, Memaafkan (#2) Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Ratih terus terngiang di kepalanya, bercampur dengan rasa sakit dan amarah yang belum sepenuhnya reda. Sesampainya di kamar, emosinya yang tertahan sejak tadi akhirnya meledak. Semua bercampur menjadi satu memenuhi dadanya, membuatnya sulit bernapas, sesak, marah, dan kecewa. Belum sempat ia meredakan gejolak dalam dirinya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, dan Yuni serta Dian sudah berdiri di ambang pintu. Kedatangan Yuni dan Dian seakan menjadi pemicu. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir deras, seolah-olah mereka telah membuka bendungan yang selama ini menahan rasa sakitnya. Nina terduduk di lantai, tubuhnya bergetar hebat, isakannya memecah kesunyian kamar. Seketika Yuni berlutut dan memeluknya erat tanpa kata, sementara Dian menutup pintu kamar, memberikan mereka ruang. "Dia... Ratih..." Nina tergagap di antara isaknya. "Dialah yang merebut Gilang dariku... Dan dia berani data...