Postingan

Menampilkan postingan dengan label Urban Thriller

Menit-Menit Setelah 21:47

Gambar
Menit-Menit Setelah 21:47 Bukan hujan deras yang membuat jalanan lumpuh, tapi cukup untuk membuat Jakarta basah dan terasa beberapa derajat lebih dingin dari biasanya. Di lantai tiga sebuah gedung percetakan di Jakarta, suara mesin menjadi satu-satunya hal yang konsisten. Dengung... klek... sret... dengung... klek... sret. Berulang, stabil, membosankan selama lebih dari dua belas jam. "Kalau printer ini bisa ngomong, pasti dia udah maki-maki kita pakai seluruh kebun binatang," kata Hadi sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Andra tidak menoleh dari layar monitor 28 incinya. Tangannya mulai lelah menggeser kursor, merapikan margin pada file desain. "Dia nggak perlu ngomong, Di. Suaranya aja udah cukup nyiksa kuping gue dari tadi siang." Di sudut ruangan, Rina menghela napas panjang. "Gue udah nggak ngerasain punggung gue lagi." Yuli, yang duduk dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya, hanya melirik ke luar. Air hujan masih menete...

Winda Bukan Indah

Gambar
Winda Bukan Indah Orang-orang melewatinya tanpa banyak berpikir. Ada yang mengira itu sekadar coretan iseng di papan pengumuman desa. Ada juga yang menganggap itu pesan rahasia anak-anak sekolah. Tapi bagi Winda , kalimat itu seperti bayangan yang terus mengikutinya. Sejak pindah ke desa kecil itu, semua orang memandangnya dengan cara yang aneh. Tatapan ragu, senyum setengah hati, bahkan beberapa kali ia dipanggil dengan nama yang bukan namanya. "Indah… eh, maaf," panggil seorang ibu di warung suatu sore. Awalnya Winda hanya tertawa kecil. Kesalahan biasa, pikirnya. Namun semakin lama, ia merasa kesalahan itu seperti sesuatu yang disengaja. Hingga suatu hari, Winda memberanikan diri bertanya pada penjaga keamanan desa, satu-satunya orang yang tampak tidak pernah salah memanggil namanya. "Memangnya siapa Indah?" tanya Winda pelan. Penjaga keamanan itu diam cukup lama, lalu berkata, "Orang yang dulu tinggal di rumahmu." Jantung Winda berdegup lebih cepat dar...

Misteri Di Balik Senja (#2)

Gambar
Misteri Di Balik Senja (#2) Saat matahari sore mulai beranjak pergi, Lintang kembali berdiri di depan rumah besar milik Ibu Dyah. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah menyimpan rahasia yang menanti untuk diungkapkan. Ia melangkah memasuki gerbang yang berkarat, namun kali ini tidak langsung menuju pintu utama. Sebagai gantinya, ia mengitari sisi rumah menuju halaman belakang. Begitu ia tiba di sana, napasnya tercekat. Taman kecil yang disebutkan di buku harian itu memang ada, tetapi telah lama dibiarkan terbengkalai. Rerumputan liar menjalar di mana-mana. Sisa-sisa jalur batu yang dulu mungkin membentuk lingkaran kini hampir tertutup semak belukar. Di sudut taman, sebuah bangku kayu berdiri rapuh di bawah pohon flamboyan yang menjulang. Lintang berjalan perlahan, matanya meneliti setiap sudut taman, mencari sesuatu yang mungkin pernah disembunyikan Galuh. Langkahnya terhenti di dekat bangku kayu itu ketika ia melihat sesuatu yang aneh, tanah di bawah bangku itu tampak lebih...

Misteri Di Balik Senja

Gambar
Misteri Di Balik Senja Lintang menghela napas panjang, memandangi layar laptopnya yang kosong. Inspirasi seakan lenyap entah ke mana. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, merasa frustrasi dengan kebuntuan yang tak kunjung pergi. Kopi di cangkir di sampingnya sudah habis, begitu pula semangatnya untuk menyelesaikan naskah ceritanya. "Gila, sudah tiga jam di sini, hasilnya nol!" gumamnya pelan, menutup laptop dengan kasar. Kafe di pinggiran kota itu mulai sepi. Hanya tinggal beberapa pengunjung yang tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Lintang melirik jam di pergelangan tangannya, hampir tengah malam. Ia meraih jaketnya, membayar di kasir, lalu berjalan keluar. Udara malam terasa dingin menyergap begitu ia melangkah ke parkiran. Mesin mobilnya berderu pelan saat ia melajukannya menyusuri jalan yang sepi.  Lampu jalan hanya menyala sebagian, menciptakan bayangan panjang di permukaan aspal. Hanya ada suara gesekan ban dan desiran angin malam yang menemani. Di perempatan s...

Malam Terakhir Mereka (#2)

Gambar
Malam Terakhir Mereka (#2) Nita , Andin, Wahyu, dan Yudha terus berlari dalam gelapnya kebun, sementara suara langkah makhluk itu terus mengejar, terkadang menghilang seolah mempermainkan ketakutan mereka. Kabut tipis perlahan mulai menyelimuti kebun, membuat suasana semakin mencekam. Nita, yang berlari paling depan, berhenti tiba-tiba saat melihat sesuatu di depannya. "Jalan buntu!" teriaknya. Rimbunan pohon besar dan semak belukar menghadang di depan mereka. "Bagaimana ini?" Wahyu mencoba menarik napas, dadanya terasa sesak. Ia memandang ke sekeliling, tetapi tidak ada celah untuk melarikan diri. "Gimana kita bisa keluar dari sini?" Andin menangis panik, tubuhnya gemetar hebat. "Kita nggak bisa terus lari… kita harus sembunyi!" seru Nita. "Tapi di mana? Tempat ini terlalu terbuka!" balas Wahyu. Yudha memutar kepalanya, matanya menyapu kegelapan kebun. Ia menunjuk sebuah pohon besar dengan akar-akar yang mencuat ke permukaan tanah, men...