Antara Yuli Dan Winda
Antara Yuli Dan Winda

Terik matahari pukul dua siang di Kompleks Ruko Permata tidak pernah ramah. Aspal yang mulai retak memantulkan uap panas yang membuat pandangan sedikit berbayang. Di sebuah kios berukuran tiga kali empat meter yang pengap oleh bau timah panas, Bayu sedang berjibaku dengan sebuah laptop tua. Mesinnya tampak lebih berantakan daripada rambut Bayu yang sudah tiga bulan tidak kena gunting tukang cukur di bawah pohon waru.
Di sebelah mejanya, hanya terpisah sekat kayu rendah yang catnya sudah mengelupas. Sekat yang cukup rendah sehingga Bayu bisa melihat puncak kepala Fanny tanpa harus berdiri. Fanny sedang asyik menata tumpukan kartu perdana dan kabel data yang berantakan. Dia memakai kaos oblong hitam bergambar kucing yang sedang tidur dengan tulisan "Loading..." di bawahnya. Rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang warna kuning.
Setelah selesai merapikan tumpukan kartu perdana dan kabel data tersebut, Fanny menghela napas panjang. Ia mengempaskan dirinya di bangku plastik. Sambil menyeka keringat di dahi, ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja.
"Bang, kalau bautnya sisa satu itu artinya bukan kamu hebat, tapi kamu pelupa," celetuk Fanny tanpa menoleh. Matanya tetap fokus pada layar ponsel, jempolnya bergerak lincah bermain Mobile Legends.
Bayu mendengus, mencoba memutar obeng magnetnya dengan presisi. "Ini baut cadangan, Fan. Dalam ilmu teknik, selalu ada bagian yang dilebihkan untuk mengantisipasi guncangan masa depan."
"Strategi matamu. Itu namanya pikun dini karena kebanyakan mikir yang nggak-nggak. Makanya, kalau kerja itu fokus ke mesin, jangan fokus ke spion, nyariin siapa yang bakal datang bawa rantang," balas Fanny pendek. Deadpan humor-nya selalu berhasil memukul telak pertahanan Bayu di saat-saat paling lelah.
Bayu baru saja ingin membalas saat sebuah bayangan menutupi meja kerjanya. Bau parfum bunga melati yang manis dan elegan menyeruak, mengalahkan bau gosong dari alat solder yang sedang panas.
"Bayu, sudah makan siang belum? Ini aku bawakan ayam goreng mentega kesukaanmu. Tadi Mas Ilham yang antar paket ke bank, terus aku titip pesan, katanya kamu belum sempat ke warung dari pagi."
Itu Winda. Dia berdiri dengan seragam kerjanya yang sangat rapi, kemeja putih tulang yang licin disetrika dan rok span biru tua yang menunjukkan kelasnya sebagai pegawai kantoran. Senyumnya selalu terlihat seperti model iklan pasta gigi: simetris dan menenangkan. Winda adalah bagian dari masa lalu Bayu di SMA, sosok yang dulu pernah membuat Bayu rela menyisihkan uang sakunya selama sebulan hanya untuk membeli kado boneka beruang yang kini mungkin sudah berdebu di gudang rumah Winda.
"Eh, Win. Repot-repot amat. Padahal nanti aku mau ke depan, nyari mi ayam saja," jawab Bayu agak kikuk. Dia buru-buru mengelap tangannya yang menghitam karena debu komponen ke celana jinsnya yang sudah belel.
"Nggak repot kok. Tadi sekalian lewat mau setor laporan ke pusat," dusta Winda dengan halus. Bayu tahu, kantor pusat bank itu arahnya ke barat, sementara ruko ini ada di timur. Tapi Winda selalu punya alasan logis untuk "sekalian lewat" setiap kali dia merindukan obrolan singkat dengan Bayu.
Namun, kedamaian semu itu tidak bertahan lama. Dari arah warung makan di seberang jalan, seorang wanita dengan celemek merah dan rambut yang dikuncir kuda tinggi berjalan setengah berlari menyeberangi jalanan yang ramai. Itu Yuli. Dia membawa nampan berisi segelas besar es teh manis dengan embun yang menetes di pinggiran gelas, serta sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan uap.
"Bayu! Ini es tehnya. Jangan minum air keran terus, nanti otaknya karatan!" seru Yuli dari kejauhan, suaranya mengalahkan bising knalpot angkot.
Begitu sampai di depan kios, langkah Yuli melambat. Matanya menyipit tajam, menatap kotak bekal plastik berwarna pastel yang sudah bertengger manis di meja Bayu. Suasana mendadak menjadi tegang, seolah-olah ada petir yang menyambar di tengah cuaca cerah. Di langit, awan kelabu mulai berarak cepat menutupi matahari, membuat gerah di dalam ruko semakin menjadi-jadi.
Baca juga: Dia Yang Memahami Diamku
"Oh, sudah ada yang kasih makan ya? Pantas makananku tadi nggak disentuh di warung. Padahal aku sudah masak sambal terasi kesukaanmu, Bay," sindir Yuli tajam. Yuli adalah tipe wanita yang bicara tanpa filter. Dia tangguh, mandiri, dan sangat protektif pada apa yang dia anggap sebagai wilayah kekuasaannya. Bagi Yuli, memberi makan Bayu adalah hak patennya sebagai anak pemilik warung langganan.
Bayu merasa suhu di kiosnya mendadak naik sepuluh derajat. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Anu, Yul... ini Winda baru saja sampai. Kebetulan dia lewat..."
"Kebetulan atau memang sudah dijadwalkan lewat Google Calendar?" Yuli menaruh gelas es teh dengan bunyi brak yang cukup keras di atas meja kayu. Airnya sedikit tumpah mengenai mesin ponsel yang sedang dikerjakan Bayu.
Winda hanya tersenyum tipis, tipe senyum yang tenang tapi mengandung provokasi halus. "Namanya juga teman lama, Yul. Wajar kan kalau saling perhatian? Lagipula, Bayu butuh makanan yang sedikit lebih bernutrisi supaya kerjanya nggak lambat terus."
Yuli berkacak pinggang. "Bernutrisi? Maksudmu masakanku nggak sehat? Masakanku itu pake cinta, bukan pake pengawet kayak makanan katering bank!"
Fanny, yang sejak tadi diam di balik sekatnya sambil mengunyah kerupuk kaleng, tiba-tiba berdeham keras. Suaranya yang serak dan datar memecah konfrontasi itu.
"Bang Bayu, ini ada pelanggan lewat WhatsApp. Dia nanya apakah HP-nya yang kecebur sumur bisa diservis supaya bisa nelpon mantan yang sudah di alam kubur. Mau dibantu jawab pake logika atau pake dukun?"
Bayu menoleh ke arah Fanny dengan tatapan penuh terima kasih. Dia tahu Fanny sedang mengarang cerita untuk menyelamatkannya. "Bentar ya, Yul, Win. Saya harus cek stok sparepart dulu di belakang. Urgent ini!"
Bayu bergegas berdiri, hampir saja tersandung kabel charger yang melintang, mencoba meloloskan diri dari tatapan dua wanita yang seolah sedang memperebutkan satu-satunya oksigen di ruko itu. Di luar, angin tiba-tiba bertiup kencang, menerbangkan debu aspal dan plastik bekas, menandakan debat panas di dalam kios akan segera diredam oleh air dari langit.
Di seberang jalan, di bawah pohon ceri yang rindang dan berdebu, Ilham duduk di atas jok motor operasional kurirnya yang sudah kusam. Dia baru saja selesai menyusun tumpukan paket yang harus diantar sore ini. Topi kurirnya ditarik rendah ke depan untuk menghalau silau matahari yang mulai meredup tertutup mendung. Namun, matanya tetap tidak lepas dari pintu warung makan milik orang tua Yuli.
Dia melihat Yuli kembali ke warung dengan langkah entakan kaki yang menunjukkan kemarahannya. Yuli mengentakkan kakinya, membanting celemeknya ke kursi, dan mulai mengelap meja dengan tenaga yang bisa menghancurkan kayu. Ilham menghela napas panjang. Rasa sesak yang akrab kembali menghujam dadanya.
Dia merogoh kantong jaket kurirnya yang kumal, mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk sendok dan garpu dari kayu cendana yang dia beli saat mengantar paket ke pengrajin kemarin. Dia membayangkan betapa manisnya benda itu jika tergantung di kunci laci kasir Yuli. Namun, setiap kali kakinya melangkah mendekati pintu warung itu, nyalinya mendadak menguap seperti bensin di tengah terik.
"Hanya kurir, Ham. Tugasmu cuma antar barang, bukan antar perasaan. Kamu itu cuma figuran di film orang lain," bisiknya pada diri sendiri, lalu menyalakan mesin motornya dan pergi menembus kemacetan.
Sore itu, langit yang semula terik mendadak berubah menjadi abu-abu pekat. Hujan turun dengan sangat deras, membuat jarak pandang hanya sejauh beberapa meter. Kios servis Bayu terasa lembap dan dingin. Bau tanah basah menusuk hidung, bercampur dengan aroma kopi sachet yang baru saja diseduh Fanny.
Baca juga: Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang
Winda sudah pulang sejak jam empat tadi. Dia sempat berpamitan dengan terburu-buru, membuka payung lipat mungilnya dengan sangat hati-hati agar tidak ada satu pun percikan air yang menodai kemeja putihnya. Bayu hanya melihatnya dari ambang pintu, merasa ada jarak yang sangat lebar antara seragam rapi Winda dengan bau gosong timah di bajunya. Sementara Yuli, meski warungnya hanya di seberang jalan, dia sibuk melayani para pengendara motor yang berteduh di warungnya memesan kopi dan mi instan.
Bayu duduk di kursi putarnya yang berdecit setiap kali dia bergerak. Dia menatap rintik hujan yang jatuh di atas aspal dengan tatapan kosong. Pekerjaannya hari ini sudah selesai, tapi pikirannya justru semakin berantakan.
"Kenapa nggak pilih salah satu saja, Bang? Daripada tiap hari kena sidang di tempat," tanya Fanny tiba-tiba. Dia sedang duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding kayu sambil membersihkan layar ponsel pelanggan dengan cairan khusus.
Bayu menoleh. "Pilih apa?"
"Halah, nggak usah pura-pura amnesia. Yuli atau Winda. Semua orang di kompleks ruko ini, dari tukang parkir sampai pemilik toko emas sebelah, sudah taruhan. Siapa yang bakal dapet kunci hati tukang servis HP paling lamban sekecamatan."
Bayu menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruko. "Yuli itu baik, Fan. Dia perhatian dengan caranya yang kasar. Dia seperti rumah yang kokoh, tapi aku selalu merasa harus jadi orang yang sempurna di depannya supaya dia nggak kecewa. Terus Winda... dia manis, dia masa lalu yang indah. Tapi setiap dekat Winda, aku merasa harus punya mobil, harus punya kemeja mahal, harus jadi orang sukses supaya pantas bersanding sama pegawai bank kayak dia."
Fanny berhenti menggosok layar ponsel. Dia mendongak, matanya bertemu langsung dengan mata Bayu di sela rendahnya sekat kayu yang memisahkan mereka. Dia menatap Bayu dengan wajah datarnya yang tidak pernah menghakimi. "Emangnya kamu nggak mau sukses?"
"Ya mau. Tapi kadang aku cuma mau jadi Bayu yang apa adanya. Bayu yang boleh pakai kaos bolong di ketiak tanpa dikomentari, atau Bayu yang boleh makan mi instan dua bungkus sekaligus tanpa dibilang nggak sehat. Aku capek harus selalu 'pantas' buat mereka, Fan. Aku merasa seperti komponen yang dipaksa masuk ke mesin yang nggak cocok. Lama-lama aus, lalu patah."
Fanny diam cukup lama. Suara hujan di atap ruko mereka terdengar seperti tabuhan genderang yang riuh. Kemudian, Fanny melemparkan segumpal plastik bubble wrap yang sudah tidak terpakai ke arah wajah Bayu.
"Makanya, Bang. Cari itu orang yang bisa diajak gila bareng, bukan yang tiap hari nanyain kapan kamu bakal jadi direktur. Cari yang bikin kamu merasa kalau gagal itu nggak apa-apa."
Bayu menangkap gumpalan plastik itu, lalu menatap Fanny dalam diam. Selama ini, Fanny ada di sana, hanya berjarak sekat kayu tipis. Fanny yang tahu kapan ia butuh kopi hitam tanpa gula saat sedang begadang mengerjakan pesanan. Fanny yang tahu kapan ia sedang pusing karena cicilan sewa ruko naik, lalu tiba-tiba meletakkan sebungkus nasi kucing di mejanya tanpa banyak bicara. Fanny tidak pernah menuntut ia menjadi pahlawan. Bagi Fanny, ia yang suka lupa menaruh obeng sudah cukup.
"Fan, kalau aku minta temani makan martabak di ujung jalan nanti pas hujan reda, kamu mau?" tanya Bayu dengan suara yang sedikit bergetar.
Fanny menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya kembali ke setelan pabrik: sinis dan humoris. "Martabaknya kamu yang bayar? Yang rasa keju susu lho ya, jangan yang kacang cokelat murah."
"Iya, aku yang bayar. Sama teh botol dua. Gimana?"
"Oke. Tapi jangan harap aku mau dengerin curhatanmu soal mantan yang melankolis itu. Tarif curhat beda lagi, per menit seribu rupiah," jawab Fanny, kembali fokus pada ponsel di tangannya. Namun, kali ini, Bayu bisa melihat ada sedikit lengkungan manis di sudut bibir Fanny yang biasanya datar. Sebuah senyum yang jarang diperlihatkan kepada dunia, tapi malam ini diberikan secara eksklusif untuknya.
Baca juga: Cerita Dari Meja Sudut
Malam mulai turun menyelimuti ruko. Hujan sudah mereda menjadi gerimis tipis yang dingin. Ilham baru saja kembali dari pengiriman terakhirnya yang cukup jauh. Jaket kurirnya yang berwarna hijau neon terlihat basah kuyup.
Dia menghentikan motornya tepat di depan warung Yuli. Lampu warung sudah sebagian dimatikan, menandakan warung akan segera tutup. Yuli terlihat sendirian di dalam, sedang mengangkat kursi-kursi kayu yang berat ke atas meja agar lantai bisa dipel.
Ilham turun dari motor tanpa melepas helmnya yang berembun. Dia langsung masuk dan membantu Yuli mengangkat sisa kursi yang paling berat dengan satu tarikan napas.
"Eh, Bang Ilham. Ya ampun, basah-basahan lagi? Nanti kalau masuk angin, nggak ada yang antar paket warga sini lho," kata Yuli. Nada bicaranya sedikit melunak, mungkin karena dia juga merasa kesepian di tengah sisa-sisa hujan.
"Sudah biasa, Yul. Namanya juga kurir, kalau nggak kena hujan ya kena debu. Sama kayak hati, kalau nggak kena rindu ya kena pilu," goda Ilham sambil menyeka air hujan di wajahnya, mencoba mencairkan suasana.
Yuli tertawa kecil, tawa yang tulus yang selalu membuat jantung Ilham berdebar lebih kencang dari mesin motornya. "Bisa saja kamu. Makan dulu sana, masih ada sisa nasi goreng spesial di dapur. Tadi sengaja aku masak lebih banyak, kirain Bayu mau mampir... tapi ternyata dia nggak kelihatan batang hidungnya."
Hati Ilham sedikit terasa seperti tersayat sembilu mendengar nama itu disebut lagi. Rasa cemburu itu ada, tapi rasa sayangnya pada Yuli jauh lebih besar. Dia duduk di sudut warung, menyantap nasi goreng dingin pemberian Yuli seolah-olah itu adalah makanan terenak di dunia.
Sambil makan, Ilham memperhatikan Yuli yang sedang menghitung uang di meja kasir. Cahaya lampu neon membuat wajah Yuli terlihat sangat manis sekaligus rapuh. Ilham merogoh sakunya lagi, menyentuh kotak kecil yang berisi gantungan kunci tadi. Ayo Ham, sekarang atau tidak sama sekali, batinnya menyemangati.
"Yul..." panggil Ilham pelan.
"Ya, Bang? Ada yang kurang? Mau tambah kerupuk?" Yuli menoleh dengan mata besarnya yang bening, menatap Ilham dengan penuh perhatian.
Ilham terdiam. Kata-kata "Aku suka kamu sejak kita pertama kali ketemu di ruko ini" mendadak terkunci rapat di kerongkongannya. Dia melihat bagaimana tatapan mata Yuli sesekali masih mencuri pandang ke arah kios servis Bayu di seberang jalan yang pintunya sudah tertutup rapat. Dia tahu, selama ada bayang-bayang Bayu di sana, dia tidak akan pernah bisa masuk lebih jauh ke dalam hidup Yuli.
"Anu... itu, besok paket pesanan ibumu datang pagi-agi sekali. Isinya kain jarik kalau nggak salah. Jangan lupa disiapkan uang pasnya ya, biar aku nggak usah cari kembalian," kata Ilham akhirnya. Dia tersenyum getir, memaki dirinya sendiri sebagai pengecut paling menyedihkan di dunia kurir.
"Oh, iya Bang. Makasih ya sudah diingatkan terus. Abang memang kurir paling rajin," jawab Yuli sambil tersenyum ramah.
Ilham menyelesaikan makanannya dengan cepat, seolah sedang diburu waktu pengiriman. Dia berpamitan, lalu memakai kembali jaket kurirnya yang lembap dan dingin. Saat dia keluar dan naik ke atas motor, dia melihat di seberang jalan, Bayu dan Fanny keluar dari ruko.
Mereka berdua berjalan kaki di bawah satu payung pelangi yang kecil, membuat bahu mereka harus berhimpitan agar tidak terkena air. Bayu tertawa lepas mendengar sesuatu yang dikatakan Fanny, tawa yang belum pernah Ilham dengar selama Bayu berurusan dengan Yuli atau Winda. Fannya terlihat santai, sesekali menyenggol bahu Bayu dengan sikunya. Mereka terlihat seperti dua orang yang telah menemukan frekuensi yang sama tanpa perlu banyak usaha.
Ilham menarik napas panjang, membiarkan udara dingin malam memenuhi paru-parunya. Dia melihat Yuli juga memperhatikan pemandangan itu dari balik tirai warungnya yang transparan. Bahu Yuli tampak merosot, dan dia perlahan mematikan lampu depan warungnya, seolah ingin menyembunyikan kekecewaan yang tumpah di wajahnya.
Ilham menyalakan motornya. Sebelum memacu gas, dia melepaskan jaket kurirnya yang bagian dalamnya masih terasa hangat oleh panas tubuhnya, lalu menyampirkannya ke pundak Yuli yang baru saja keluar untuk mengunci pintu pagar warung.
"Pakai ini, Yul. Angin malam itu jahat kalau kena hati yang lagi sedih. Biar aku saja yang kedinginan di jalan, kamu jangan," kata Ilham dengan suara rendah yang tulus.
Yuli tertegun, menatap jaket kurir yang kebesaran di tubuhnya itu. Dia belum sempat membalas atau bertanya, tapi Ilham sudah lebih dulu memacu motornya, menghilang di balik tikungan jalan yang gelap.
Hingga buku kehidupannya ditutup nanti, Ilham berjanji rahasia itu akan tetap aman. Dia akan tetap menjadi kurir yang mengantar kebahagiaan orang lain, sementara miliknya sendiri ia biarkan tertinggal di gudang penampungan tanpa pernah sampai ke alamat tujuan. Karena bagi Ilham, mencintai Yuli bukan berarti harus memilikinya, melainkan memastikan bahwa wanita itu tidak pernah kedinginan saat dunianya sedang terasa sunyi.
Dan di antara Yuli dan Winda, ternyata ada Fanny yang memberikan tawa, dan Ilham yang memberikan doa yang tak terdengar oleh siapapun.
Tamat
Terima kasih telah membaca Antara Yuli Dan Winda. Ini adalah cerita pendek bergenre: Drama Romantis, Metropop, New Adult Fiction, Romance, dan Urban Fiction. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Sebelum Es Batu Mencair
Komentar
Posting Komentar