Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#2)

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#2)




janda bohay tersenyum mempesona untuk ilustrasi cerita Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi...?


Menjelang sore, Nadia menjemput Lila di rumah ibunya. Suasana sore itu terasa lengang, langit cerah tanpa awan sedikit pun.

Lila berlari menghampiri begitu melihat ibunya turun dari taksi daring.

"Ibu!" panggilnya dengan suara melengking.

Nadia membungkuk, merentangkan tangan, dan mendekap erat. "Sudah kangen Ibu, hmm?" tanya Nadia sambil mencium puncak kepala Lila.

Lila mengangguk cepat, kepalanya mendongak dengan mata berbinar. "Kangen banget," jawabnya jujur.

"Tidurnya nyenyak?"

"Enggak," cicit Lila cemberut.

Nadia merenggangkan pelukan, menatap wajah kecil itu dengan heran. "Kenapa? Nenek tidak mendongeng sebelum tidur?"

"Bukan. Karena Nenek mendengkur."

Nadia tertawa renyah, telapak tangannya mengelus pipi gembul putrinya. "Ssst, jangan bilang begitu ke Nenek. Nanti Nenek sedih."

Lila terkikik, memperlihatkan gigi susunya yang kecil.

Anak itu menenteng tas kecil bergambar kelinci pink. Rambutnya yang dikuncir dua tampak sedikit berantakan, tetapi wajahnya memancarkan keceriaan khas anak yang habis dimanja neneknya.

Ketika mereka tiba di rumah, Lila langsung berlari kecil melewati pintu depan yang tidak terkunci, sepatunya berdecit di lantai keramik putih.

"Rumah baru!" serunya kegirangan, berputar-putar di ruang tamu yang masih kosong melompong.

Nadia tersenyum.  "Jangan lari-lari, Sayang."

"Kenapa?" tanya Lila tanpa berhenti berputar.

"Nanti jatuh, lututnya bisa luka."

Lila langsung berhenti, napasnya memburu kecil. Ia menoleh kepada ibunya dengan dahi berkerut penasaran.

"Ibu."

"Ya?"

"Semalam ada siapa?"

Nadia yang sedang meletakkan kunci di atas meja sedikit terkejut, gerakan tangannya terhenti sesaat. "Kok tahu?"

"Nenek bilang ada tiga laki-laki datang ke sini malam-malam."

Nadia menggeleng pelan, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. "Bukan tiga laki-laki. Mereka teman Ibu."

"Teman laki-laki?" selidik Lila, matanya menyipit.

"Iya, sayang."

"Yang mana? Namanya?"

Nadia kembali tertawa kecil, mencubit hidung mungil Lila. "Banyak sekali pertanyaannya."

Lila mengangkat tiga jarinya di depan wajah Nadia. "Cuma tiga, kok."

"Baiklah. Namanya Irfan, Gilang, dan Hadi.”

Lila mengerjap, otaknya yang berusia lima tahun berputar mencerna nama-nama asing itu.

"Mana yang paling ganteng?"

Nadia langsung terbahak, tawanya lepas memenuhi ruangan yang bergaung. "Ya ampun, siapa yang mengajarimu pertanyaan seperti itu, hmm?"

"Nenek," jawab Lila tanpa dosa.

"Nenek?"

Lila mengangguk, rambut kuncir duanya ikut bergoyang.

Nadia menggeleng sambil tersenyum geli. "Ibu tidak tahu. Tidak ada yang paling ganteng."

"Berarti semuanya ganteng?" kejar Lila tak mau kalah.

"Nak..." Nadia menghela napas pasrah.

Lila tertawa senang, merasa berhasil mendebat ibunya.

Saat itulah Sekar keluar dari kamar. "Sudah pulang?"

Lila langsung berlari kencang menghampiri. "Tante Sekar."

Sekar berlutut dan memeluk Lila erat. "Wah, rasanya makin berat ya. Makan apa saja di rumah Nenek?"


"Aku makan banyak ayam goreng sama agar-agar cokelat."

"Bagus, biar cepat tinggi seperti model."

Nadia memperhatikan kehangatan itu dari kejauhan. Untuk beberapa saat, di tengah dinding-dinding rumah yang belum dihias apa pun, rumah itu terasa benar-benar seperti rumah, hangat dan hidup.

Namun kehangatan itu tidak berlangsung lama. Ponsel Nadia berdering nyaring, memecah keheningan sore. Nomor tidak dikenal terpampang di layar datar. Tanpa nama, hanya deretan angka.

Nadia menatap layar itu lama, ibu jarinya menggantung di atas tombol hijau. Ia memilih tidak mengangkatnya. Ponsel itu berhenti berdering.

Namun hanya berselang beberapa detik, sebuah notifikasi pesan pendek masuk. Nadia membukanya:

Kita perlu bicara soal Lila. Jangan hindari saya.

Nadia menatap pesan itu lama.

Sekar yang melihat perubahan drastis pada wajah Nadia langsung bertanya, "Arman?"

Nadia mengangguk, pandangannya masih terpaku pada layar ponsel. "Dia mulai menghubungi lagi."

"Haruskah kita lapor polisi?"

"Belum."

"Kenapa, Nad?"

Nadia menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. "Karena saya belum tahu pasti apa yang dia mau. Kalau kita gegabah lapor, dia bisa memakai jalur hukum untuk memperumit hak asuh Lila."

Sekar terdiam.

Lila sedang asyik bermain di ruang tengah, sama sekali tidak mengetahui ketegangan yang merayap di antara dua wanita dewasa itu.

Nadia menarik napas dalam-dalam, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Jangan sampai Lila tahu,” bisiknya pada Sekar.

Sekar mengangguk pelan.

***

Malam harinya, di sebuah restoran bergaya klasik di kawasan Kemang.

Irfan datang lebih dulu bersama Gilang, duduk di sudut ruangan memesan dua cangkir kopi.

Hadi muncul lima menit kemudian. "Maaf, macet di perempatan tadi," ujar Hadi sambil menarik kursi.

Irfan melirik jam tangannya sekilas. "Kamu terlambat sepuluh menit."

"Sepuluh menit itu bukan terlambat, Irfan. Itu toleransi waktu urban," bela Hadi sambil nyengir.

Gilang tersenyum tipis, menyeruput kopinya.

"Kamu memang selalu punya definisi sendiri tentang waktu."

Tidak lama kemudian, pintu kaca restoran terbuka. Nadia datang bersama Sekar dan Lila yang menggandeng erat tangan ibunya.

Hadi langsung berdiri setengah badan begitu melihatnya. "Wah."

Irfan menatap dan bertanya, "Kenapa?"

Hadi berbisik, "Nadia bawa anak."

Irfan mengangguk, matanya mengikuti langkah Nadia. "Iya. Namanya Lila."

"Gue tahu."

"Terus?" cecar Irfan.

"Ya tidak apa-apa sih."

Nadia menghampiri meja mereka. "Maaf kami terlambat, jalanan tadi cukup padat," ucap Nadia sambil tersenyum.

"Tidak masalah sama sekali,” jawab Gilang ramah, langsung menarik kursi.

Lila melihat ketiga pria itu. Tanpa sadar, ia mundur satu langkah dan bersembunyi di belakang ibunya.

Nadia membungkuk. "Lila, ini teman-teman Ibu yang Ibu ceritakan tadi."

Lila mengintip malu-malu dari balik punggung ibunya, hanya memperlihatkan sepasang matanya yang bulat.

Hadi tersenyum lebar, mencoba memasang wajah selucu mungkin.


"Halo, Lila. Kenalin, saya Om Hadi."

Lila tetap diam, mengeratkan pegangannya pada baju ibunya.

Hadi melirik Nadia. "Dia malu?"

"Kalau baru bertemu orang memang begitu."

Irfan tersenyum, tatapannya melembut. "Halo, Lila."

Lila melirik Irfan sedetik, lalu kembali menunduk.

Gilang melambaikan tangan pelan.

"Halo juga, jagoan kecil."

Lila akhirnya bersuara pelan. "Halo."

Gilang langsung memegang dadanya dengan dramatis, seolah terkena serangan jantung ringan. "Syukurlah."

Nadia tertawa kecil melihat tingkah pria itu. "Kenapa lagi, Lang?"

"Saya diterima masuk dalam daftar pertemanannya."

Lila memiringkan kepalanya, menatap Hadi dari ujung rambut hingga ujung sepatu.

“Om yang kemarin ya?” tanya Lila polos.

Hadi terkejut, alisnya terangkat tinggi. "Kemarin?"

Lila mengangguk. "Yang paling berisik suaranya."

Irfan dan Gilang langsung terbahak keras. Hadi salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Hadi menatap Nadia. "Anak ini jujur sekali"

Nadia tersenyum geli. "Memang."

Mereka pun duduk. Lila berada di samping Nadia, kursi di sebelah Irfan ditempati oleh Sekar, sementara Gilang dan Hadi duduk di seberang mereka.

Awalnya suasana terasa sedikit kaku dan canggung. Tetapi kehadiran Lila, dengan segala kepolosannya, perlahan mulai mencairkan suasana.

"Om Hadi kerja apa?" tanya Lila.

"Om jual kopi, Lila."

"Pahit?"

"Kadang-kadang, kalau gulanya kurang."

"Kenapa dijual kalau pahit?"

Hadi tertegun, terdiam sejenak kehabisan kata-kata di hadapan anak berusia lima tahun.

Gilang tertawa lepas hingga bahunya bergetar, sementara Irfan menutup wajahnya dengan sebelah tangan, berusaha menahan tawa.

Hadi menarik napas panjang. “Karena ada orang yang suka."

"Berarti aneh."

Hadi menoleh pada Irfan dengan ekspresi pasrah. Anak ini menyerang saya terus."

Nadia tertawa renyah. "Biasakan, Di. Dia memang kritis."

Sementara itu, Gilang mulai mengalihkan pembicaraan pada hal yang lebih serius dengan Nadia di sela-sela obrolan meja.

"Kamu sudah mulai menerima klien lepas untuk desain interior dan grafis?" tanya Gilang.

"Sudah beberapa, tapi masih skala kecil, kebanyakan dari rekomendasi teman lama."

"Kalau mau, saya bisa bantu buatkan situs sederhana. Biar kredibilitas kerjamu lebih kelihatan profesional."

Nadia menatap Gilang. "Serius?"

"Iya. Kebetulan akhir pekan ini saya senggang."

"Gratis?"

Gilang tersenyum. "Tentu saja, untuk teman."

Hadi langsung menyela. "Saya juga bisa bantu!"

Nadia menatap Hadi dengan sebelah alis terangkat. "Kamu bisa bantu apa, Di? Mau jualan kopi di galeri desain saya?"

Hadi berpikir keras, "Promosi."

"Bagaimana caranya?"

"Saya kenal banyak orang dari berbagai kalangan."


Irfan mendengkus pelan. "Kenal di mana?"

"Di relasi bisnis lah."

"Contohnya siapa?"

"Ya... pokoknya nanti saya cari."

Nadia tersenyum lebar, merasa dikelilingi oleh orang-orang yang tulus mendukungnya. "Terima kasih banyak, semuanya."

Irfan ikut menimpali, "Kalau saya, mungkin bisa membantu foto hasil akhir karyamu nanti. Pencahayaan dan sudut ambil gambar itu penting untuk produk desain."

Nadia menatap Irfan, ia menemukan ketulusan di dalam sorot mata pria itu.

"Itu justru hal yang saya butuhkan saat ini."

Sekar yang duduk di sebelah Irfan tiba-tiba menyela, suaranya sedikit datar. "Irfan memang selalu bagus kalau soal urusan foto."

Irfan menoleh perlahan. "Kamu masih ingat?” tanyanya pelan.

Sekar memalingkan pandangannya ke gelas air putih di depannya.

"Masih."

Hadi menatap bergantian antara Irfan dan Sekar, lalu berbisik pada Gilang, "Wah, ada aroma masa lalu."

Gilang tersenyum. "Sepertinya ada sejarah panjang di antara mereka."

Sekar menggeleng cepat, mencoba tersenyum natural. "Tidak ada apa-apa, kok."

Irfan tertawa kecil. "Memang tidak ada apa-apa."

Namun Nadia memperhatikan cara Sekar menatap Irfan, dan juga cara Irfan menghindari kelanjutan topik itu. Ia menyimpan tanda tanya itu dalam hatinya, memilih tidak memperpanjang suasana.

Makan malam berlanjut dengan hangat. Gelak tawa kecil kembali menghiasi meja mereka, membuat malam di Kemang terasa menyenangkan.

Sampai tiba-tiba, di tengah suapan terakhir puding cokelat Lila, anak itu menghentikan sendoknya dan menatap ibunya dengan tatapan polos. "Ibu," ucapnya.

"Ya, sayang?" jawab Nadia lembut.

“Kenapa Ayah tidak ikut makan malam?”

Suasana meja mendadak berubah drastis dalam satu detik.

Nadia terdiam, sendok di tangannya bergetar kecil di atas piring. Sekar menatap Lila, sementara Gilang dan Hadi saling berpandangan. Irfan menundukkan wajahnya, menatap piringnya yang kosong.

Nadia kemudian menjawab dengan suara yang dilembutkan, "Ayah sedang sibuk bekerja, Lila."

"Kapan datangnya?" kejar Lila polos.

Nadia tersenyum getir, mengusap punggung tangan putrinya. "Nanti ya."

"Kapan?"

"Nanti kalau waktunya sudah tepat."

Lila tampak kecewa, bibirnya mengerucut sedih. "Dulu Ayah janji mau ajak aku ke kebun binatang lihat jerapah. Tapi tidak pernah ditepati."

Nadia merasakan dadanya seperti ditusuk ribuan jarum tak kasat mata. Ia segera menggenggam kedua tangan kecil putrinya erat-erat. "Nanti Ibu yang ajak ya. Hari Minggu besok kita ke sana berdua."

"Boleh?"

"Tentu saja boleh. Kapan pun Lila mau."

Lila tersenyum kembali, kesedihannya buyar seketika mendengar janji ibunya.

Hadi yang melihatnya ikut tersenyum. "Wah, nanti Om ikut ya, mau kasih makan monyet."

Tetapi sebelum ada yang sempat tertawa menanggapi Hadi, ponsel Nadia yang tergeletak di atas meja bergetar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali beruntun.

Nadia melirik layar ponsel yang menyala di atas meja. Wajahnya berubah seketika.


Sekar menyadari perubahan itu. "Nad? Ada apa?" tanya Sekar.

Nadia tidak menjawab. Matanya terpaku membaca pesan singkat yang baru masuk.

Saya ada di depan restoran. Keluar sekarang, atau saya yang masuk ke dalam dan menemui anak itu.

Nadia mengangkat kepala. Matanya langsung terarah lurus ke dinding kaca besar restoran yang menghadap ke jalan raya.

Di luar restoran, tepat di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam terparkir. Arman berdiri di samping pintu pengemudi.

Nadia membeku di kursinya. Lila sedang sibuk menghabiskan sisa pudingnya dan sama sekali tidak melihat ke arah luar jendela.

Gilang bertanya dengan suara pelan, "Nadia, kamu tidak apa-apa?"

Nadia memaksakan senyum. "Saya... saya baik-baik saja."

Irfan menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerik Nadia dengan insting tajamnya. "Tidak, kamu tidak terlihat baik-baik saja."

Nadia menatap Irfan, untuk sesaat, ia seperti ingin mengatakan sesuatu.

Namun akhirnya ia hanya berkata, "Saya harus keluar sebentar."

Sekar langsung berdiri dari kursinya. "Aku ikut."

Nadia menggeleng, menahan Sekar. "Jaga Lila di sini. Jangan biarkan dia ke mana-mana."

Sekar menatap Nadia dengan cemas. "Jangan lama-lama, Nad."

Nadia mengangguk cepat. Ia berdiri dari kursinya, melangkah meninggalkan meja makan menuju pintu keluar restoran.

Irfan memperhatikannya dari balik kaca jendela, mengikuti setiap langkah Nadia.

Hadi berbisik pelan pada Gilang dan Sekar, “Itu... mantan suaminya?”

Sekar mengangguk. "Iya."

Gilang menatap pintu kaca. "Apa yang dia inginkan?"

Sekar menarik napas. "Saya juga tidak tahu pasti..."

Di luar restoran, angin malam berhembus dingin menusuk kulit. Nadia berjalan beberapa meter menjauhi pintu utama, berhenti tepat di tepi trotoar di bawah pohon besar.

Arman melangkah mendekat dari seberang jalan, menyeberang tanpa memperdulikan kendaraan yang lewat.

"Kenapa kamu datang ke sini, Arman?!" sergah Nadia dengan suara bergetar.

Arman berhenti tepat di hadapannya. "Kamu tidak pernah menjawab telepon saya, Nadia. Pesan saya juga hanya dibaca."

"Karena saya tidak mau bicara! Hidup kami sudah tenang tanpa kamu!"

“Kita harus bicara tentang Lila."

"Bukan di sini tempatnya!" bentak Nadia.

“Kenapa?"

"Karena saya sedang makan bersama teman.'

"Teman laki-laki?"

Nadia mengeraskan suaranya. "Itu bukan urusanmu!"

"Bukan urusanku?" Arman melangkah lebih dekat, membuat Nadia terpaksa mundur selangkah. "Nadia, saya ayah kandung Lila! Darah saya mengalir di tubuh anak itu!"

"Saya tidak pernah melarang kamu bertemu Lila kalau waktunya pas! Tapi bukan dengan cara menguntit dan meneror seperti ini!"

"Tapi kamu menjauhkan dia dari saya! Kamu membuat dia lupa pada ayahnya sendiri!"

“Tidak!" bentak Nadia, kehilangan kesabaran. "Saya tidak pernah mengatakan kepada Lila bahwa kamu ayah yang buruk. Jangan membuat saya terlihat seperti itu."

Arman terdiam sesaat, terkejut dengan ledakan emosi Nadia yang biasanya lebih banyak mengalah.


Arman mengusap wajahnya, lalu merendahkan suaranya, mencoba melunakkan nada bicara meski sorot matanya tetap mengancam. "Saya hanya ingin membawa Lila akhir pekan ini. Menginap di tempat saya barang dua hari."

Nadia menggeleng. "Belum waktunya. Lila belum siap."

"Kenapa? Karena kamu punya pacar baru? Atau karena laki-laki di dalam itu?"

"Karena kamu tidak bisa muncul sesuka hati lalu menuntut hak tanpa memikirkan psikis anak itu!"

"Saya ayahnya, Nadia!"

"Dan saya ibunya!" balas Nadia tajam.

Keduanya saling menatap dalam diam.

Di balik kaca restoran, Irfan, Gilang, Hadi, dan Sekar dapat melihat ketegangan itu dengan jelas. Lila masih asyik dengan dunianya sendiri dan tak menyadari apa pun.

Arman akhirnya mundur perlahan, menyadari perdebatan itu tidak akan selesai malam ini.

"Baiklah," ucap Arman, berbalik badan dan melangkah menuju mobil sedan hitamnya.

Sebelum membuka pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah Nadia. "Kalau kamu tetap keras kepala dan tidak mengizinkan saya bertemu Lila dengan cara baik-baik... saya akan mencari cara lain."

Tanpa menunggu jawaban, Arman masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan tancap gas meninggalkan asap tipis di trotoar.

Nadia berdiri sendirian di tengah dinginnya malam, tubuhnya lemas seolah seluruh tenaganya baru saja dihisap habis.

Beberapa detik kemudian, pintu restoran terbuka. Irfan melangkah keluar menghampirinya. "Nadia."

Nadia menoleh pelan. "Saya... saya baik-baik saja, Irfan. Masuklah kembali ke dalam."

Irfan berhenti tepat di hadapannya, "Saya tidak bertanya apakah kamu baik-baik saja."

Nadia terdiam, menatap pantulan dirinya di mata pria itu.

Irfan melanjutkan dengan suara rendah yang menenangkan, "Saya cuma mau memastikan kamu tidak sendirian menghadapi semua ini."

Nadia menatapnya lama. Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sama seperti malam-malam sebelumnya.

Tetapi kali ini, Irfan melihat sesuatu yang jauh lebih dalam di balik senyuman itu.

Ada kelelahan yang teramat sangat, ada ketakutan yang disembunyikan rapat-rapat, dan ada secercah harapan kecil akan perlindungan.

"Terima kasih, Irfan," kata Nadia pelan.

Irfan mengangguk kecil. "Kalau kamu butuh bantuan apa pun, bilang saja."

Nadia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan dan tersenyum.

Dari balik kaca restoran, Sekar memperhatikan interaksi kedua orang itu dalam diam. Dan entah mengapa, dadanya terasa sedikit sesak oleh perasaan yang rumit.

Sementara itu, di ujung jalan, mobil Arman melaju semakin jauh.

Arman di dalam mobil mengeluarkan ponselnya. Ia membuka foto lama, foto kebersamaan ia, Nadia, dan Lila di masa lalu.

Arman itu tersenyum tipis. "Kalau kamu pikir bisa menyingkirkan saya dengan mudah..." gumamnya pelan. "kamu salah besar, Nadia. Saya juga tidak akan pernah menyerah."

Malam itu, tanpa diketahui kelima orang yang sedang berkumpul di restoran, sebuah permainan lama telah dimulai kembali.

Dan kali ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar harga diri atau perasaan sesaat. Melainkan keselamatan seluruh dunia kecil milik seorang anak bernama Lila.




Bersambung


Terima kasih telah membaca Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi...? (#2). Ini adalah cerita bersambung bergenre: Comedy, Drama Romantis, Komedi Romantis, Metropop, New Adult Fiction, Pernikahan, dan Romance. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Misteri Di Balik Kata Hmmm

Adakah Pertemuan Di Cerita Kita? (Masih Ada Sedikit Harapan)

Rasa Yang Telah Terbunuh

Makhluk Manis Dalam Lift

Dara, Gadis Dunia Maya (#3)