Indah Namanya, Tapi...? (#3)
Indah Namanya, Tapi...? (#3)

Menjelang pukul sebelas, Heru mulai memahami mengapa hampir semua orang di bagian pemasaran mengenal Indah.
Ketika seorang staf penjualan bernama Deni datang dengan wajah kusut karena salah mengirimkan daftar harga kepada pelanggan, Indah segera memeriksa surelnya.
"Ini yang kamu kirim kemarin?"
"Iya."
"Yang harga grosirnya masih versi bulan lalu?"
Deni mengangguk dengan ekspresi orang yang baru saja menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Indah menutup mata sebentar.
"Deni, saya mau tanya satu hal."
"Apa?"
"Kamu mengirim daftar harga bulan lalu karena kangen masa lalu, atau karena kamu memang ingin membuat pelanggan kita bernostalgia?"
Deni menunduk. "Saya salah, Mbak."1
"Ya, saya tahu kamu salah. Kalau tidak salah, kita tidak sedang membahas ini."
Adit mulai tertawa, tetapi berhenti ketika melihat wajah Deni.
Indah pun tidak melanjutkan leluconnya. Ia membuka surel, membuat versi daftar harga yang benar, lalu meminta Deni menghubungi pelanggan dan mengirimkan koreksi secepat mungkin.
"Jangan beralasan file-nya tertukar. Kamu yang mengirim, jadi kamu yang bertanggung jawab. Kalau pelanggan protes, dengarkan dulu. Jangan menyalahkan bagian lain."
"Iya, Mbak."
"Dan lain kali, periksa nama file sebelum dikirim."
Deni mengangguk beberapa kali. Ketika hendak pergi, ia tampak masih cemas.
Indah memanggilnya kembali.
"Den."
"Iya?"
"Sudah, jangan pasang muka seperti orang mau dipecat. Kamu salah, bukan membobol bank. Perbaiki sekarang. Nanti kalau sudah beres, kabari saya."
Deni menghela napas lega. "Terima kasih, Mbak."
"Tidak usah terima kasih. Saya juga pernah salah kirim file."
Adit menyela, "Bedanya, kalau Mbak Indah salah kirim, mungkin yang dikirim surat pengunduran diri Pak Firman."
Indah mengambil pulpen dan mengacungkannya ke arah Adit. "Kalau kamu terus bicara, yang saya kirim justru surat pengunduran diri kamu."
Deni akhirnya tertawa juga sebelum kembali ke mejanya.
Heru melihat bagaimana Indah menangani kesalahan itu. Ia tidak membiarkan Deni lolos dari tanggung jawab, tetapi ia juga tidak membiarkannya tenggelam dalam rasa takut. Ia memberi jalan keluar, menjelaskan apa yang harus dilakukan, lalu memastikan masalahnya bisa diselesaikan.
Itu kualitas yang Heru harapkan dari seorang senior.
***
Pukul dua belas lewat lima menit, Adit berdiri sambil meregangkan kedua lengannya. "Makan siang. Saya sudah mulai mendengar suara ayam goreng di kepala."
"Kamu setiap hari begitu," tanya Indah.
"Karena setiap hari saya lapar."
"Itu bukan alasan untuk mengganggu produktivitas kantor."
"Kalau begitu, tolong sampaikan kepada tubuh saya bahwa produktivitas lebih penting daripada nasi."
Baca juga: Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..?
Indah mendengus. "Tubuh kamu sudah berkali-kali saya ajak bicara. Dia tidak pernah mendengarkan."
Adit menoleh kepada Heru. "Ikut, Her. Kita makan di warung belakang. Murah, enak, dan kalau beruntung bisa melihat kucing tidur di bawah meja."
Heru mengangguk. "Boleh."
"Nani ikut?" tanya Indah sambil memeriksa layar ponselnya.
Dari meja bagian keuangan, seorang perempuan mengangkat kepala. Rambutnya diikat sederhana, dan di samping keyboard-nya ada botol minum serta beberapa lembar dokumen yang tersusun rapi.
"Nanti, ya. Aku mau menyelesaikan rekonsiliasi ini dulu."
"Sebentar saja, Nan. Nanti kamu malah makan jam tiga."
"Sudah hampir selesai."
"Kalimat itu sudah kamu ucapkan sejak jam sebelas."
Nani tersenyum tipis. "Karena memang hampir selesai sejak jam sebelas."
Adit tertawa. "Jawaban yang bagus."
Indah mendekati meja Nani, mengambil selembar kertas yang terletak di atas map, lalu melihatnya.
"Ini dokumen yang kemarin saya titipkan, kan?""
"Iya. Sudah saya cek. Ada dua angka yang perlu dikonfirmasi sebelum saya tutup."
"Bisa sekalian kamu lihat data yang baru masuk? Punya saya ada sedikit perbedaan."
Nani menatap jam di sudut layar. "Sekarang?"
"Kalau bisa. Saya perlu memastikan sebelum rapat besok."
Nani diam sebentar. "Aku masih harus menyelesaikan yang ini."
"Tidak lama, kok. Cuma cocokkan angka. Kamu kan paling teliti."
Indah mengatakannya dengan nada memuji, disertai senyum yang membuat permintaan itu terdengar seperti pengakuan atas kemampuan Nani.
Heru melihat ekspresi Nani berubah. Hanya sebentar. Perempuan itu kemudian mengangguk. "Ya sudah. Kirim saja datanya."
"Nah, begitu dong." Indah menepuk bahu Nani. "Makanya saya suka kerja sama kamu. Kalau orang lain, saya harus menjelaskan dari awal."
"Berarti aku boleh makan dulu setelah ini?"
"Tentu."
"Janji?"
Indah mengangkat dua jari. "Janji seorang perempuan terhormat."
Adit mendekat ke Heru dan berbisik, cukup keras untuk didengar semua orang, "Catat tanggalnya. Ini kejadian langka."
Indah menoleh. "Saya dengar."
"Bagus. Berarti pendengaran Mbak masih sehat."
"Dan saya juga masih punya ingatan yang bagus. Jangan lupa, bulan lalu kamu janji mau mengganti uang patungan."
Adit langsung menegakkan badan. "Wah, warungnya sudah tutup. Saya mendadak kenyang."
Heru tertawa. Nani pun tertawa sambil kembali menatap layarnya.
Indah kembali ke mejanya seolah-olah tidak ada yang aneh. Ia tidak memaksa Nani secara terang-terangan. Ia hanya meminta bantuan, memuji ketelitiannya, lalu mengingatkan bahwa pekerjaan itu perlu diselesaikan.
Tidak ada bentakan. Tidak ada ancaman. Tidak ada alasan yang cukup kuat bagi siapa pun untuk menyebutnya perlakuan buruk.
Namun, Heru sempat melihat Nani memijat pangkal hidungnya sebelum membuka file yang baru dikirimkan Indah.
Baca juga: Indah Atau Winda, Atau...?
Gerakan kecil itu menghilang begitu cepat hingga Heru tidak yakin apakah ia benar-benar melihatnya.
***
Warung makan di belakang gedung kantor tidak terlalu besar. Empat meja memenuhi ruang utama, dengan kipas angin yang berputar lambat di atas kepala. Dari dapur terbuka, aroma bawang goreng dan sambal terasi menyebar hingga ke jalan.
Adit memilih meja paling dekat dengan kipas angin. Heru duduk di hadapannya, sementara Indah datang beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan sebuah panggilan telepon.
"Pesan apa?" tanya Indah.
"Nasi ayam," jawab Heru.
"Bagus. Anak baru harus makan yang cukup supaya kuat menghadapi kenyataan."
Adit mengangkat tangan. "Saya nasi telur. Kenyataan saya tidak seberat kenyataan Heru."
"Benar. Kenyataan kamu cuma harus melunasi utang patungan."
"Kenapa itu dibawa terus, Mbak?"
"Karena kamu belum bayar."
Indah memesan nasi dengan ayam goreng dan sayur, lalu meletakkan ponselnya di meja. Untuk beberapa saat, percakapan mereka berkisar pada hal-hal ringan: kemacetan, harga makan siang, dan kebiasaan orang-orang yang mengirim pesan pekerjaan setelah jam kantor.
Adit bercerita tentang seorang pelanggan yang pernah meneleponnya pukul sepuluh malam hanya untuk menanyakan apakah katalog produk bisa dikirim lewat aplikasi pesan singkat.
"Padahal katalog itu sudah ada di surel sejak pagi," katanya. "Saya sampai berpikir, mungkin pelanggan itu ingin mendengar suara saya sebelum tidur."
Indah mengunyah makanannya sambil mengangguk serius. "Bisa jadi. Kamu punya suara yang menenangkan."
Adit tampak terharu.
"Benarkah?"
"Seperti suara kipas angin rusak. Lama-lama orang tidak sadar, tapi kalau berhenti, mereka merasa ada yang hilang."
Heru hampir tersedak air minumnya.
Adit menunjuk Indah dengan sendok. "Saya tahu. Saya tahu. Suatu hari nanti, Mbak akan membutuhkan saya."
"Kalau hari itu datang, saya akan mempertimbangkan untuk meminta bantuan orang lain dulu."
Mereka tertawa lagi.
Di tengah percakapan itu, Indah tiba-tiba bertanya kepada Heru, "Kamu tinggal sama orang tua?"
"Tidak, Mbak. Saya kos di daerah Tebet. Orang tua saya di Cirebon."
"Anak pertama?"
"Iya."
"Pantas."
Heru mengerutkan kening. "Pantas apa?"
"Pantas kamu kelihatan seperti orang yang kalau gagal sekali langsung merasa mengecewakan seluruh keluarga."
Heru terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar terlalu tepat untuk sekadar lelucon. Ia tidak tahu apakah Indah memang pandai membaca orang atau hanya kebetulan menebak.
"Mungkin sedikit," jawab Heru akhirnya.
Indah mengangguk, kali ini tanpa tertawa. "Saya dulu juga begitu. Waktu baru kerja, saya takut sekali bikin kesalahan. Saya pikir kalau atasan kecewa, habislah masa depan saya. Padahal, ya, ternyata tidak begitu."
"Sekarang sudah tidak takut lagi?" tanya Heru.
"Masih. Saya cuma lebih pintar menyembunyikannya."
Baca juga: Jeda Setelah Luka
Indah mengatakan itu sambil mengambil kerupuk dari piring Adit tanpa meminta izin.
"Lho, itu kerupuk saya!" protes Adit.
"Anggap saja biaya konsultasi."
"Kalau konsultasinya gratis, kenapa kerupuk saya yang bayar?"
"Karena kamu tidak punya hal lain yang cukup berharga."
Adit menggeleng putus asa.
Heru tersenyum, tetapi perhatiannya masih tertuju pada pengakuan Indah tadi. Untuk pertama kalinya, ia melihat sedikit bagian dari perempuan itu yang tidak dibungkus lelucon.
Mungkin Indah pernah merasa takut seperti dirinya. Mungkin itulah sebabnya ia selalu ingin terlihat tahu apa yang harus dilakukan.
Pikiran itu membuat Heru merasa lebih dekat dengannya.
Ia belum menyadari bahwa memahami alasan seseorang bertindak bukan berarti kita harus menerima semua akibat dari tindakannya.
Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor. Nani masih duduk di mejanya, memeriksa dua file yang terbuka berdampingan.
Indah berhenti di belakang kursinya. "Sudah ketemu?"
"Sudah. Ada perbedaan angka di satu transaksi. Saya tandai dulu karena perlu konfirmasi dari bagian penjualan."
"Bisa langsung kamu tanyakan ke Deni?"
"Bisa, tapi aku perlu memastikan nomor pesanannya dulu."
Indah mengangguk, kemudian mengambil ponsel. "Baik. Nanti saya tanyakan ke Deni."
Nani menatapnya, tampak sedikit lega.
"Terima kasih, Nan. Kamu memang penyelamat saya."
Indah menyentuh bahu Nani sekali lagi sebelum pergi.
Nani tersenyum kecil, lalu kembali bekerja.
Heru, yang baru saja duduk, mendengar Adit berkata pelan, "Nani itu terlalu baik."
Heru menoleh. "Kenapa?"
Adit mengangkat bahu. "Kalau Indah minta tolong, dia susah menolak."
"Bukannya kita memang harus saling membantu di kantor?"
"Betul." Adit membuka bungkus permen. "Tapi kalau orang yang sama terus yang membantu, lama-lama itu bukan bantuan lagi. Itu sudah seperti fasilitas kantor."
Heru menunggu Adit tertawa setelah mengucapkan kalimat itu. Namun, Adit hanya memasukkan permen ke mulut dan menatap layar komputernya.
"Bercanda?" tanya Heru.
"Setengah."
Sebelum Heru sempat bertanya lebih jauh, Adit sudah kembali mengetik.
Heru memandang ke arah meja Indah. Perempuan itu sedang berbicara dengan seorang staf penjualan, tangannya bergerak-gerak saat menjelaskan sesuatu. Dari kejauhan, ia terlihat seperti pusat kecil yang menjaga seluruh bagian pemasaran tetap bergerak.
Heru tidak ingin terburu-buru menilai.
Ia baru dua hari bekerja di sana. Ia belum tahu sejarah hubungan mereka, belum tahu berapa banyak bantuan yang pernah diberikan Indah, atau berapa banyak hal yang harus ditanggung orang-orang di sekitarnya. Mungkin Adit hanya melebih-lebihkan. Mungkin Nani memang senang membantu. Mungkin semuanya sesederhana yang terlihat.
Ia memilih kembali bekerja.
***
Pukul tiga sore, Pak Firman memanggil Heru ke ruangannya.
Baca juga: Misteri Di Balik Senja
Ruangan itu berdinding kaca buram dengan sebuah lemari dokumen di belakang meja. Ada foto kegiatan kantor yang dipajang di dekat jendela dan sebuah tanaman kecil yang tampaknya sudah lama tidak disiram.
"Silakan duduk, Heru."
Heru duduk dengan punggung tegak.
"Bagaimana hari kedua?"
"Baik, Pak. Saya masih belajar memahami sistem laporan, tetapi Mbak Indah banyak membantu."
Pak Firman mengangguk. "Bagus. Indah memang cukup berpengalaman. Dia sudah lama menangani laporan penjualan dan hubungan dengan pelanggan."
"Saya bisa melihat itu, Pak."
"Dia juga punya inisiatif tinggi. Kadang terlalu tinggi." Pak Firman tersenyum tipis. "Kamu jangan takut bertanya. Kalau ada sesuatu yang belum jelas, pastikan dulu sebelum mengerjakannya."
"Baik, Pak."
Pak Firman membuka sebuah folder.
"Saya melihat catatan yang kamu buat pada laporan kemarin. Ada satu angka yang kamu tandai berbeda dari laporan sebelumnya."
Heru sedikit terkejut. "Iya, Pak. Saya belum mengubahnya karena saya belum tahu penyebab perbedaannya."
"Bagus. Jangan mengubah angka hanya karena ingin membuat laporan terlihat rapi. Kita harus tahu sumber perubahannya."
Heru merasa lega. Setidaknya, ia tidak melakukan kesalahan dengan membiarkan angka itu tetap seperti semula.
"Apakah saya perlu memeriksanya lagi, Pak?"
"Ya. Coba telusuri dokumen pendukungnya. Kalau belum menemukan jawaban, diskusikan dengan Indah. Setelah itu, laporkan kepada saya."
"Baik, Pak."
Pak Firman menutup folder.
"Dan satu lagi. Jangan merasa harus bisa semuanya dalam dua hari. Saya tidak merekrut kamu karena kamu sudah tahu seluruh pekerjaan. Saya merekrut kamu karena saya berharap kamu mau belajar dan bisa dipercaya."
Kalimat itu terasa lebih berarti bagi Heru daripada yang ingin ia tunjukkan.
"Terima kasih, Pak."
"Silakan kembali bekerja."
Heru keluar dari ruangan dengan langkah lebih ringan. Selama berbulan-bulan mencari pekerjaan, ia telah menghadapi banyak penolakan. Ada masa ketika ia mulai meragukan kemampuan sendiri, terutama setelah beberapa wawancara berakhir dengan janji yang tidak pernah menjadi kabar.
Pekerjaan ini adalah kesempatan yang tidak ingin ia sia-siakan.
Ia ingin menjadi pegawai yang bisa diandalkan. Ia ingin membuktikan kepada orang tuanya bahwa keputusannya merantau bukan kesalahan. Dan ia ingin, sesederhana apa pun kedengarannya, berhenti merasa bahwa ia harus meminta maaf setiap kali belum mengetahui sesuatu.
Ketika kembali ke meja, ia menemukan Indah berdiri di samping kursinya.
"Dipanggil Pak Firman?"
"Iya, Mbak. Beliau membahas laporan kemarin."
"Terus?"
"Beliau minta saya menelusuri dokumen pendukungnya."
Indah mengangguk. "Bagus. Memang seharusnya begitu."
Heru menatapnya. "Mbak sudah tahu ada angka yang berbeda?"
"Tahu. Saya juga melihatnya kemarin."
"Kalau begitu, kenapa belum diperbaiki?"
Baca juga: Bukan Cinta Yang Sama
Indah terdiam sejenak, lalu menarik kursi di sebelah meja Heru. "Karena kita belum tahu apakah itu kesalahan atau memang ada revisi. Ada perubahan pesanan yang belum masuk ke laporan utama. Saya sedang menunggu konfirmasi."
"Jadi, angka itu mungkin benar?"
"Mungkin. Atau mungkin juga salah. Makanya kita cek."
Ia mengatakannya dengan tenang, seperti seseorang yang menjelaskan hal paling sederhana di dunia.
Heru merasa pertanyaannya tadi sedikit berlebihan. "Maaf, Mbak. Saya hanya ingin memastikan."
"Tidak usah minta maaf." Indah tersenyum. "Bagus kalau kamu teliti. Tapi jangan sampai semua hal kamu curigai. Nanti kamu capek sendiri."
Indah menepuk ringan sisi meja Heru, lalu berdiri. "Kalau sudah dapat dokumen pendukungnya, kabari saya. Kita cocokkan."
"Baik, Mbak."
Indah kembali ke mejanya.
Heru menatap layar komputer, lalu menarik napas. Ia merasa beruntung karena bisa bertanya tanpa dimarahi. Bahkan ketika pertanyaannya mungkin terdengar kurang perlu, Indah tetap menjelaskan dengan sabar.
Ia tidak tahu bahwa kalimat jangan sampai semua hal kamu curigai akan terdengar berbeda jika suatu hari nanti ia memiliki alasan kuat untuk curiga.
***
Menjelang pukul lima, sebagian pegawai mulai merapikan meja. Rika menyusun dokumen yang akan diserahkan kepada kurir, sementara Adit sudah memakai jaket dan berdiri di dekat pintu.
"Heru, pulang bareng?" tanya Adit.
"Sebentar. Saya mau merapikan catatan laporan dulu."
"Rajin sekali. Baru dua hari sudah seperti pegawai teladan."
"Kalau saya pulang duluan, besok kerjaan saya menumpuk."
"Kalau kamu terus begini, Indah akan menyukaimu."
Heru tertawa. "Memangnya itu buruk?"
Adit memiringkan kepala, seolah sedang mempertimbangkan jawaban yang tepat. "Tidak juga. Selama kamu tahu kapan harus bilang tidak."
"Bilang tidak untuk apa?"
Adit membuka mulut, tetapi sebelum menjawab, Indah muncul dari balik sekat meja.
"Untuk ajakan makan siang dari Adit. Orangnya suka mengajak, tetapi kalau giliran bayar selalu mendadak lupa membawa dompet."
"Fitnah!" seru Adit. "Dompet saya selalu ada."
"Uangnya yang tidak ada."
Rika tertawa dari meja resepsionis.
Adit menunjuk mereka bergantian. "Saya dikeroyok satu kantor. Ini lingkungan kerja yang tidak sehat."
"Kalau begitu, buat laporan ke HR," kata Indah.
"HR juga ikut menertawakan saya."
"Berarti laporan kamu tidak objektif."
Heru ikut tertawa. Percakapan itu menghapus pertanyaan yang sempat menggantung di kepalanya.
Adit berpamitan dan berjalan menuju lift. Rika kembali membereskan dokumen.
Indah menutup komputernya, kemudian menghampiri Heru. "Sudah selesai?"
"Sebentar lagi, Mbak."
"Jangan terlalu malam. Kamu juga butuh istirahat."
Heru menoleh, sedikit terkejut oleh perhatian itu. "Baik, Mbak."
"Besok datang sedikit lebih pagi, ya. Saya mau menunjukkan cara membaca laporan pelanggan yang sering berubah pesanan. Lebih mudah kalau kita lihat sebelum kantor ramai."
Baca juga: Langkah Pertama, Memaafkan
"Jam berapa?"
"Setengah delapan cukup."
Heru mengangguk. "Saya usahakan datang lebih awal."
"Bagus."
Indah mengangkat tasnya, kemudian berhenti sejenak.
"Oh, ya. Heru."
"Iya?"
"Kalau kamu bingung atau merasa kesulitan, tanya saya saja. Tidak perlu takut. Saya memang suka mengomel, tetapi saya tidak menggigit."
Heru tersenyum. "Terima kasih, Mbak."
"Belum tentu saya tidak menggigit kalau kamu menghabiskan kopi saya."
Indah tertawa, lalu melangkah menuju lift.
Heru kembali menatap layar komputernya dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Dalam dua hari, Indah telah memberinya banyak hal: penjelasan tentang pekerjaan, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kecil, tawa di tengah kecanggungan, dan keyakinan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Ia juga melihat bagaimana Indah membantu Deni, menenangkan pelanggan, dan memperlakukan orang-orang di kantor dengan keakraban yang seolah sudah menjadi bagian dari kepribadiannya.
Ada hal-hal kecil yang terasa kurang nyaman. Cara Indah memberi instruksi kepada Rika. Permintaan tambahan kepada Nani. Kalimat-kalimatnya yang terkadang membuat orang lain menjadi sasaran lelucon.
Namun, semua itu tampak terlalu kecil jika dibandingkan dengan hal-hal baik yang telah ia lihat.
Lagipula, siapa yang tidak punya kekurangan?
Heru mematikan komputer, memasukkan buku catatannya ke dalam tas, lalu berjalan menuju lift.
Di luar gedung, langit Jakarta mulai berubah kelabu. Kendaraan bergerak rapat di jalan, dan udara sore membawa bau aspal panas yang bercampur dengan sisa hujan dari siang tadi.
Ia memeriksa ponselnya. Ada pesan dari ibunya yang menanyakan apakah pekerjaannya berjalan lancar.
Heru mengetik balasan singkat.
Lancar, Bu. Teman-teman di kantor baik. Senior yang membimbing Heru juga baik sekali.
Ia membaca ulang kalimat itu sebelum menekan tombol kirim.
Lalu, sambil menunggu lampu penyeberangan berubah hijau, Heru teringat senyum Indah saat berkata bahwa ia tidak akan menggigit.
Ia tersenyum sendiri.
Baru dua hari, dan ia sudah merasa menemukan seseorang yang bisa ia percaya di tempat kerja barunya.
Bersambung
Terima kasih telah membaca Indah Namanya, Tapi...? (#3) Kisah ini merupakan cerita bersambung dengan genre: romance dan comedy seperti novel Metropop yang mengangkat tema potongan kehidupan (slice of life) penuh dengan drama romantis. Jika kamu menyukainya, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Malam Terakhir Mereka
Komentar
Posting Komentar