Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang

Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang




Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang,. adalah cerita pendek bergenre: Comedy, Romance, Slice of Life, dan Metropop


Arief menatap layar ponselnya yang berpendar di tengah remang pencahayaan kafe Kopi Senja. Jarum jam dinding di atas meja barista baru saja melewati angka delapan malam. Di hadapannya, secangkir caffè latte yang mulai kehilangan uap panasnya tampak kesepian. Biasanya, ada cangkir kedua di seberang meja, sebuah matcha latte dengan taburan bubuk kayu manis di atasnya. Namun malam ini, kursi kayu di depan Arief kosong melompong.

Sudah empat hari, tiga jam, dan dua puluh menit sejak pertengkaran hebat itu terjadi. Arief masih ingat betul bagaimana nada suara Dinda meninggi sebelum akhirnya perempuan itu meraih tas selempangnya, berdiri, dan melangkah keluar dari kafe ini tanpa menoleh lagi. Pemicunya sebenarnya sepele, hanya masalah perbedaan jadwal liburan dan ego Arief yang menolak untuk mengalah sedikit saja. Namun, dampaknya seperti bom yang meluluhlantakkan komunikasi yang sudah mereka bangun selama dua tahun.

Arief menghela napas panjang. Jempolnya bergerak refleks membuka aplikasi WhatsApp. Dia menyentuh tab Pembaruan. Kosong. Tidak ada nama Dinda. Perempuan itu seolah lenyap dari muka bumi, atau yang lebih buruk: Dinda sengaja menyembunyikan statusnya dari Arief menggunakan fitur privasi kontak yang dikecualikan.

"Gengsi," gumam Arief pada diri sendiri. Dia tahu dia egois. Dia tahu seharusnya dia yang mengirim pesan duluan dan mengucapkan kata maaf. Namun, setiap kali jempolnya berada di atas kolom obrolan Dinda, ketakutan akan diabaikan atau dibalas dengan dingin membuat jemarinya mendadak kaku. Ia benci merasa lemah.

Maka, otaknya yang sedang dilanda frustrasi mulai mencari jalan pintas. Sebuah ide muncul. Pintu belakang yang sering digunakan oleh manusia-manusia modern yang terlalu pengecut untuk berbicara langsung, yakni Fitur Status WhatsApp.

Arief mengangkat ponselnya, mengarahkan kamera ke arah cangkir kopinya yang sendirian, dengan latar belakang sudut kafe yang sengaja dibuat agak buram. Setelah mengambil gambar dengan komposisi yang dirasanya cukup melankolis, dia mulai mengetik takarir. Dia butuh kalimat yang tidak terlalu gamblang, tapi cukup tajam untuk menusuk hati Dinda jika perempuan itu melihatnya.

Setelah menimbang-nimbang selama lima menit, Arief menulis:

Tempatnya masih sama, rasanya masih sama, tapi suasananya sudah beda. Ada yang hilang.

Dengan satu ketukan pelan, status itu terunggah. Sebuah umpan telah dilempar ke samudera digital. Arief meletakkan ponselnya telungkup di atas meja, bersandar pada kursi, dan memejamkan mata. Dalam hatinya, ada debaran aneh yang bercampur antara harapan dan kecemasan. Dia memberi waktu lima menit sebelum mengecek siapa yang pertama kali memakan umpan tersebut.

Lima menit berlalu seperti lima jam. Arief membalikkan ponselnya, membuka kunci layar, dan mengetuk statusnya, 15x dilihat. Jantungnya berdegup kencang saat dia menggeser layar ke atas untuk melihat daftar nama.

Rani, Teguh, Maya, Ahmad, Dian... Tidak ada nama Dinda.

Arief mendengus kecewa. Namun, sebelum dia sempat mengunci kembali layarnya, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di bagian atas. Itu adalah balasan status dari Raya, rekan satu timnya dalam proyek analisis data di kantor.

Raya: Rief, lu nyindir gue ya gara-gara masalah input data kemarin? Duh, maaf banget ya, gue gak bermaksud bikin suasana kerja gak enak. Tapi tolong jangan dibawa ke status dong, gak enak kalau dilihat bos atau anak-anak divisi lain.

Arief terbelalak. Dia menepuk dahinya sendiri dengan keras. Dia sama sekali lupa bahwa kemarin dia dan Raya sempat berdebat agak sengit di ruang rapat mengenai tenggat waktu laporan keuangan. Raya adalah tipe orang yang sangat sensitif dan mudah mengalami kecemasan sosial. Status melankolis Arief tentang suasana yang beda dan ada yang hilang ternyata diartikan Raya sebagai sindiran profesional.


Arief dengan panik langsung mengetik balasan:

Arief: Eh, gak gitu Ray! Astaga, demi Tuhan bukan buat lu. Ini urusan pribadi, sama sekali gak ada hubungannya sama kerjaan kita kemarin. Laporan lu udah bagus kok, sumpah.

Raya: Beneran nih? Soalnya pas banget momennya setelah kita debat kemarin. Gue kepikiran sampe gak bisa tidur ini.

Arief: Beneran Rayaaa. Aman, lu tidur aja yang nyenyak. Besok kita ngopi di kantor ya.

Setelah meyakinkan Raya dengan rentetan emotikon senyum yang dipaksakan, Arief melempar ponselnya ke atas meja. Pelipisnya mulai terasa pening. Niat hati ingin memancing respons dari sang kekasih yang sedang merajuk, dia justru harus sibuk melakukan manajemen krisis terhadap rekan kerjanya yang paranoid.

Arief kembali melihat statusnya. Angka pemirsa naik menjadi '24'. Dan di sanalah, di urutan paling atas daftar penonton terbaru, nama itu muncul: Sinta.

Sinta adalah staf administrasi di divisinya. Seorang perempuan ramah, bermata jernih, yang beberapa bulan terakhir ini sering memberikan perhatian lebih pada Arief, seperti menyisakan bekal makan siang, atau mengajak pulang bersama karena arah rumah mereka sejalur. Arief, yang dasarnya ramah, selalu menanggapi Sinta dengan batasan yang jelas sebagai teman kerja. Namun, Arief tidak pernah menyadari seberapa dalam Sinta mengartikan keramahan tersebut.

Ponsel Arief bergetar lagi. Sebuah pesan baru masuk. Kali ini dari Sinta.

Arief membuka pesan dari Sinta dengan perasaan yang mendadak tidak enak.

Sinta: Kalau ada yang hilang, dicari bareng-bareng aja, Rief. Sesuatu yang baru kadang bisa gantiin apa yang udah ilang kok. Besok mau kopi bareng lagi kayak minggu lalu?

Arief membeku di kursinya. Kalimat itu bukan sekadar balasan status biasa. Itu adalah sebuah pernyataan yang sarat akan makna terselubung. Otak Arief langsung memutar kembali kejadian beberapa hari lalu. Saat itu, hujan turun sangat deras di luar kantor. Dinda sedang tidak bisa dihubungi karena kesibukannya, dan Sinta mengajak Arief untuk menunggu hujan reda di kedai kopi seberang jalan. Di sana, mereka mengobrol banyak hal, dan Arief sempat bercerita bahwa dia merasa ada yang kurang dengan ritme hidupnya belakangan ini, maksud Arief adalah kejenuhan kerja.

Namun sekarang, setelah membaca status WhatsApp Arief tentang suasana yang beda di kafe, Sinta tampaknya langsung menyambungkan titik-titik asumsi di kepalanya. Sinta mengira Arief sedang menaruh kode untuknya, merindukan momen minum kopi berdua di tengah hujan, dan membuka pintu untuk hubungan yang lebih dekat.

"Aduh, mampus gue," ucap Arief frustrasi.

Dia menatap layar dengan jempol yang menggantung. Bagaimana cara membalas pesan ini tanpa menyakiti perasaan Sinta yang halus, tapi juga tanpa memberikan harapan palsu? Jika dia menjawab terlalu dingin, suasana di kantor besok pasti akan sangat canggung. Jika dia menerima ajakannya, itu berarti dia mengkhianati hatinya sendiri yang saat ini masih sepenuhnya milik Dinda.

Arief mulai mengetik dengan sangat hati-hati:

Arief: Haha iya Sin, makasih ya. Tapi besok kayaknya gue harus langsung pulang cepat setelah jam kantor selesai, ada urusan keluarga yang harus diurus.

Sinta membutuhkan waktu beberapa menit sebelum membalas.

Sinta: Oh gitu... Ya udah deh, gak apa-apa. Semangat ya urusan keluarganya, Rief.

Meskipun diakhiri dengan emotikon tersenyum, Arief tahu ada kekecewaan yang mendalam di balik pesan singkat itu. Arief mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Ruang digital setinggi status WhatsApp yang tadinya dia anggap sebagai tempat berekspresi yang aman, kini berubah menjadi medan ranjau yang siap meledak kapan saja.


Dan yang paling ironis dari semua kekacauan ini: Dinda, target utama dari umpan tersebut, masih belum juga melihat statusnya.

Merasa kodenya kurang spesifik atau mungkin tenggelam di antara status kontak Dinda yang lain, ego Arief justru semakin tertantang. Alih-alih menghapus status tersebut dan menyadari kesalahannya, dia malah memutuskan untuk menaikkan taruhan. Dia ingin membuat Dinda benar-benar tahu bahwa dirinya sedang terluka dan tidak baik-baik saja.

Arief membuka aplikasi pemutar musik. Dia mencari sebuah lagu indie melankolis yang memiliki lirik tentang perpisahan yang disengaja, tentang dua orang yang saling menunggu tapi tak ada yang mau mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia mengambil tangkapan layar lirik lagu tersebut, lalu mengunggahnya sebagai status kedua.

Takarir kali ini lebih pendek, namun jauh lebih tajam:

"Menyerah bukan karena gak sayang, tapi karena capek berjuang sendirian."

Arief tersenyum kecut. Dia merasa ini adalah mahakaryanya malam ini. Jika Dinda melihat ini, perempuan itu pasti tahu bahwa Arief sedang berada di batas kemampuannya menghadapi silent treatment ini.

Namun, efek domino dari status kedua ini bergerak lebih cepat dari yang diduga Arief.

Hanya dalam waktu sepuluh menit, status kedua itu memicu gelombang kesalahpahaman baru. Sinta, yang baru saja ditolak ajakan minum kopinya dengan alasan urusan keluarga, melihat status Arief tentang menyerah karena capek berjuang sendirian. Di kepala Sinta, semuanya terasa sinkron dengan menyakitkan. Sinta mengira Arief sedang membuat status patah hati karena merasa Sinta tidak memberikan jawaban atau kepastian yang cukup jelas selama mereka dekat di kantor.

Terbakar oleh emosi dan rasa bersalah yang bercampur aduk, Sinta memutuskan untuk tidak tinggal diam. Dia membalas dengan senjatanya sendiri. Kurang dari lima menit kemudian, Sinta membuat status WhatsApp baru yang diatur agar bisa dilihat oleh Arief dan lingkaran pertemanan kantor mereka.

Arief, yang sedang memantau pembaruan, melihat nama Sinta. Dia mengetuknya, dan jantungnya serasa jatuh ke lantai kafe ketika membaca teks yang ditulis Sinta:

Ternyata sesakit ini berharap pada orang yang belum selesai dengan masa lalunya, tapi pura-pura memberi ruang.

"Astaga, Sinta..." Arief mendesah, menyandarkan kepalanya ke meja kayu kafe dengan frustrasi. Masalah ini sudah menggelinding menjadi bola salju yang sangat besar.

Kekacauan belum berhenti di sana. Raya, yang sejak awal sudah paranoid dengan status pertama Arief, melihat status tandingan dari Sinta. Raya yang panik dan salah paham mengira bahwa Arief dan Sinta sedang terlibat dalam pertengkaran hebat yang berpotensi merusak profesionalisme kerja tim mereka besok pagi.

Raya langsung mengirim pesan ke grup WhatsApp internal tim mereka yang hanya berisi Arief, Raya, dan Sinta:

Raya: Guys, kalian berdua kalau ada masalah pribadi tolong diselesaiin baik-baik ya. Jangan bikin status yang bikin satu kantor berspekulasi. Besok kita ada presentasi penting di depan direksi, gue mohon banget.

Arief menatap layar ponselnya dengan mata terbelalak. Grup tim kantornya sekarang ikut terseret. Niat awal yang hanya ingin menyentil hati Dinda, kini berubah menjadi drama segitiga fiktif di lingkungan kerjanya, melibatkan rekan tim yang panik dan seorang rekan kerja perempuan yang hatinya terluka karena asumsi yang salah arah.

Di tengah kepungan rasa bersalah, panik, dan pusing yang mendera kepalanya, sebuah notifikasi pembaruan status baru muncul di bagian paling atas layarnya.

Dinda.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arief mengetuk lingkaran hijau di profil Dinda. Seluruh otot di tubuhnya menegang. Apakah Dinda akhirnya membalas kodenya? Apakah Dinda membuat status melankolis juga sebagai tanda bahwa dia ingin berbaikan?


Layar ponselnya berganti menampilkan sebuah foto. Itu adalah foto Dinda yang sedang tersenyum lebar, memegang sebuah cone es krim besar di bawah lampu-lampu kota yang indah. Di sampingnya, tampak siluet beberapa teman kuliahnya yang sedang tertawa. Di bagian bawah foto tersebut, Dinda menuliskan takarir dengan huruf tebal yang seolah menampar wajah Arief secara digital:

Gak ada yang hilang, malah makin seru! Kebebasan itu mahal harganya.

Arief tertegun. Kata-kata Dinda sangat kontras dengan status melankolis miliknya. Saat Arief duduk sendirian di kafe, meratapi ego, dan memicu drama di tempat kerjanya demi mendapatkan perhatian, Dinda justru sedang menikmati hidupnya di luar sana bersama teman-temannya. Status Dinda seolah menjadi jawaban telak bahwa permainan kode yang dilakukan Arief sama sekali tidak memengaruhi kebahagiaannya. Atau mungkin, Dinda sengaja membuat status itu setelah melihat kode dari Arief, hanya untuk menunjukkan bahwa dia memenangkan perang dingin ini.

Arief menatap cangkir kopinya yang kini sudah benar-benar dingin. Rasa pahit yang tertinggal di lidahnya terasa sama dengan rasa pahit di hatinya. Dia menyadari satu hal yang sangat krusial malam ini: Menuliskan perasaan lewat status media sosial dengan harapan orang yang tepat akan membacanya dan mengerti adalah sebuah kebodohan yang kekanak-kanakan.

Arief menarik napas dalam-dalam. Dia memutuskan untuk mengakhiri kegilaan ini.

Pertama, dia membuka tab statusnya sendiri. Dengan gerakan cepat, dia menghapus kedua status yang dibuatnya malam itu sebelum masa tayang dua puluh empat jamnya habis. Dia tidak ingin ada orang lain lagi yang membaca tulisan konyol itu.

Kedua, dia membuka ruang obrolan pribadi dengan Sinta. Arief tahu dia berutang penjelasan yang jujur agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut.

Arief: Sinta, maaf banget kalau status gue tadi bikin lu salah paham. Status itu murni tentang masalah pribadi gue sama pacar gue yang lagi trouble, bukan tentang lu atau momen ngopi kita. Maaf kalau gue udah bikin lu gak nyaman. Lu teman kerja yang baik banget buat gue.

Setelah mengirim pesan itu, Arief beralih ke grup tim untuk menenangkan Raya, menyatakan bahwa semuanya sudah aman dan tidak akan mengganggu pekerjaan besok pagi.

Terakhir, Arief menatap kolom obrolan dengan Dinda. Foto profil Dinda masih menampilkan senyum indahnya. Arief menyadari bahwa gengsi yang dia pertahankan selama empat hari ini tidak menghasilkan apa-apa selain kekacauan dan rasa sepi yang semakin menumpuk. Jika dia benar-benar menyayangi hubungan ini, dia harus berani menurunkan egonya, menghadapi kenyataan, dan berbicara seperti orang dewasa bukan melempar teka-teki lewat sinyal digital yang semu.

Arief meletakkan jemarinya di atas papan ketik. Kali ini, tidak ada foto melankolis, tidak ada kutipan lagu patah hati, dan tidak ada takarir sindiran yang multitafsir. Dia mengetik pesan langsung, jujur, dan tanpa pelindung ego lagi.

Arief: Din, aku lagi di kafe Kopi Senja sekarang. Sendirian. Aku tahu aku egois kemarin, dan aku minta maaf. Kalau kamu ada waktu besok atau kapan pun kamu siap, tolong kabari aku. Aku mau ngomong langsung sama kamu, bukan lewat status.

Arief menarik napas panjang, lalu mengetuk tombol kirim. Tanda centang dua abu-abu muncul di bawah pesan tersebut. Arief tidak tahu apakah Dinda akan membalasnya dengan cepat atau membiarkannya menunggu lebih lama lagi. Namun, ketika dia mengunci ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jaket, Arief merasakan sebuah kebebasan yang nyata.

Dia telah menutup jendela dua puluh empat jam yang penuh kepura-puraan, dan akhirnya memilih untuk mengetuk pintu dunia nyata yang sebenarnya. Arief berdiri dari kursinya, meninggalkan cangkir kopi yang kosong, dan melangkah keluar menembus malam dengan hati yang jauh lebih ringan.




Tamat.


Terima kasih telah membaca Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang. Ini adalah cerita pendek bergenre: Comedy, Romance, Slice of Life, dan Metropop. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Jari Yang Terkunci

Dialog Yang Tertunda

Indah Atau Winda, Atau...?

Indah Atau Winda, Atau...? (#2)

Asmara Tak Beralamat Tetap