Indah Atau Winda, Atau...?
Indah Atau Winda, Atau...?

Aroma kopi yang beradu dengan aroma hujan sore itu selalu berhasil membuat Damar terjebak dalam lamunan. Di sudut Kafe Selasar Waktu yang temaram, cowok berpenampilan sederhana itu sedang menatap layar ponselnya. Ibu jarinya bergerak lambat, menggulirkan lini masa Instagram yang dipenuhi oleh foto-foto estetik dari sebuah akun bernama: indah_lestari.
Foto terbaru yang diunggah akun itu hanya menampilkan sudut sebuah jendela yang basah oleh tetesan air hujan, dengan sebuah buku terbuka di ambang jendela dan cangkir keramik hitam berisi teh yang masih mengepulkan uap. Sederhana, namun entah mengapa, foto itu memiliki jiwa. Di bawahnya, tertulis takarir pendek: Hujan selalu punya cara untuk menyampaikan apa yang gagal diucapkan oleh lidah.
Damar tersenyum kecil. Ia segera mengetuk ikon pesawat kertas, membagikan unggahan itu ke pesan langsung (DM), lalu mengetikkan sesuatu.
damar_aditya: Selalu suka sudut pandangmu kalau motret hujan. Kayak ada lagu melankolis yang muter di dalamnya.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit balasan pun datang.
indah_lestari: Hahaha, makasih Damar. Padahal itu cuma usaha mindahin rasa sepi aja ke dalam bingkai foto. Tapi senang kalau kamu bisa ngerasain ’lagu’ itu.
Percakapan mengalir begitu saja. Seperti malam-malam sebelumnya, bertukar pesan dengan Indah selalu terasa seperti pulang ke rumah yang hangat.
Indah adalah sosok yang ekspresif di dunia maya. Dia ramah, senang membalas cerita Instagram (Story) milik Damar, dan yang paling penting, mereka berdua seolah memiliki satu frekuensi otak yang sama.
Ketika Damar bercerita tentang penatnya dunia kerja atau keresahannya tentang masa depan, Indah selalu punya jawaban yang puitis, menenangkan, sekaligus penuh empati. Damar tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, dia mulai naksir berat pada sosok di balik akun indah_lestari, meskipun mereka belum pernah bertemu langsung.
"Woi, Mar! Malah bengong. Tuh, pesanan lu udah datang."
Sebuah tepukan keras di bahu membuyarkan lamunan Damar. Fajar, sahabatnya sejak zaman kuliah, menarik kursi di hadapan Damar sambil meletakkan dua cangkir kopi dan sepiring kentang goreng.
"Lagian lu ngelihatin ponsel sampai senyum-senyum sendiri kayak orang kesambet. Pasti lagi DM-an sama si Mbak Estetik itu ya?" goda Fajar, langsung menyambar sepotong kentang.
Damar terkekeh, buru-buru mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di meja dengan posisi menghadap ke bawah. "Sotoy lu, Jar. Ini cuma lagi nyari inspirasi aja."
"Inspirasi atau aspirasi buat ganti status hubungan?" Fajar menaikkan sebelah alisnya. "Gue akuin sih, selera lu tinggi. Si Indah-Indah itu emang kalau bikin feed Instagram cakep bener. Tapi inget, Mar, dunia maya itu fana. Lu jangan sampai menutup mata sama yang ada di depan muka lu sekarang."
Damar mengernyitkan dahi. "Maksud lu?"
"Nah, panjang umur. Tuh, realitas lu baru datang," ucap Fajar sambil melihat ke arah pintu.
Damar pun menoleh ke arah pintu. Di sana, seorang cewek berambut sebahu baru saja melangkah masuk sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang sedikit basah terkena hujan. Dia mengenakan kaos oblong putih longgar yang dipadukan dengan celana jins dan sepatu kets kanvas. Tidak ada riasan tebal di wajahnya, hanya polesan pelembap bibir tipis yang membuat penampilannya terlihat sangat kasual.
Dia adalah Winda. Teman satu tongkrongan Damar dan Fajar sejak satu tahun terakhir.
Winda tidak datang sendiri. Di belakangnya, mengekor Sinta, sahabat karib Winda yang penampilannya berbanding terbalik, rapi, modis, dan selalu wangi parfum vanila yang pekat.
"Hai, cowok-cowok kesepian," sapa Sinta dan langsung duduk di kursi sebelah Fajar. Sementara itu, Winda memilih duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah Damar.
"Sore, Mar. Sore, Jar," ucap Winda lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh suara musik akustik yang diputar di kafe. Dia memberikan senyum tipis, sangat tipis lalu segera menundukkan kepala, sibuk merapikan tas kain miliknya ke atas pangkuan.
Baca juga: Malam Terakhir Mereka
"Sore, Win. Basah banget di luar?" tanya Damar, mencoba membuka obrolan.
Winda mendongak sedikit, matanya sempat bertemu dengan mata Damar selama setengah detik sebelum dia kembali membuang muka ke arah meja. "Iya, lumayan. Untung bawa payung."
Hanya itu. Tiga kata yang diucapkan dengan nada datar dan irit.
Damar mengembuskan napas pendek. Ini dia masalahnya. Winda adalah sosok yang sangat kalem, pemalu, dan kalau diajak mengobrol langsung seperti memiliki benteng pertahanan yang tebal. Dia jarang memulai percakapan, dan kalau ditanya, jawabannya sering kali hanya berupa konfirmasi singkat. Damar harus bekerja keras memutar otak mencari topik hanya untuk mendengar Winda berbicara lebih dari dua kalimat.
Namun, di sinilah letak ironi hidup Damar. Di balik sifat pendiam dan dinginnya Winda, Damar justru menyimpan perasaan yang mendalam pada cewek itu. Ada sesuatu dari cara Winda menatap dunia, cara dia tersenyum simpul saat mendengarkan lelucon garing Fajar, atau bagaimana dia selalu melipat lengan bajunya dengan rapi, yang membuat Damar merasa Winda adalah cewek yang tulus dan menenangkan.
"Eh, kalian berdua dari mana sih? Kok sore amat baru nyampe?" Fajar mengambil alih pembicaraan, menyadari kecanggungan yang mulai merayap di antara Damar dan Winda.
"Biasa, nemenin si Winda ke toko buku bekas di Kwitang. Nyari novel lama katanya," jawab Sinta sambil menyenggol lengan Winda. "Padahal zaman sekarang kan udah ada e-book ya, tapi anak ini emang rada kuno selera hidupnya."
Winda hanya tersenyum tipis menanggapi sindiran Sinta, tangannya mulai meraih cangkir teh hangat yang baru saja diantarkan oleh pelayan. Dia memegang cangkir itu dengan kedua tangannya, mencari kehangatan dari porselen yang panas, sementara matanya menatap kosong ke arah luar jendela yang masih diguyur hujan.
Damar memperhatikan profil wajah Winda dari samping. Rahang yang tegas, bulu mata yang lentik tanpa maskara, dan pembawaannya yang tenang. Dalam hati, Damar berbisik, "Kenapa ya, Win? Lu kalau sama gue kayaknya susah banget buat terbuka. Apa gue ada salah?"
Pikiran Damar langsung terbelah. Di sebelah kanannya ada Winda, sosok nyata yang fisiknya begitu dekat hingga Damar bisa mencium aroma samar sabun bayi dari bajunya, namun jiwanya terasa sejauh bintang di langit. Sementara di dalam ponselnya menyimpan sosok Indah, cewek di dunia maya yang jiwanya terasa begitu dekat dan memahami setiap sudut pikiran Damar, namun sosok fisiknya masih menjadi misteri besar.
Damar terjebak di antara dua dunia. Dia menyukai Winda yang nyata dengan segala kebisuannya, tapi dia juga tidak bisa memungkiri kalau dia mulai jatuh cinta pada Indah yang fana dengan segala kehangatan kata-katanya.
**********
Malamnya, suasana di rumah Winda jauh dari kata estetik. Kamarnya sederhana, dengan kipas angin dinding yang berputar menimbulkan bunyi derit halus yang konstan. Di atas kasur lantai berkain seprai kotak-kotak, Winda sedang menelungkup. Ia meletakkan dagunya di atas bantal, sementara kedua tangannya sibuk mengetik di layar ponsel.
Wajahnya yang tadi sore di kafe terlihat datar tanpa ekspresi, kini tampak hidup. Matanya berbinar, dan sesekali ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman lebar yang manis.
Di layar ponselnya, aplikasi Instagram sedang terbuka. Ia baru saja mengganti akun dari akun pribadinya yang sepi, ke akun kedua dengan pengikut ribuan bernama: indah_lestari. Nama yang diambil dari singkatan nama lengkapnya sendiri: Winda Indah Lestari.
indah_lestari: Kadang-kadang, hal yang paling pengen kita sampein itu emang sengaja disimpan, Mar. Bukan karena nggak mau berbagi, tapi karena takut kalau diucapin langsung, maknanya malah jadi beda atau malah bikin canggung.
Ia mengirimkan pesan itu kepada damar_aditya.
Winda mengembuskan napas panjang, lalu membalikkan tubuhnya menatap langit-langit kamar. Jantungnya berdegup agak kencang. Menjadi "Indah" di dunia maya adalah satu-satunya cara bagi Winda untuk bisa mengobrol lepas dengan Damar tanpa harus gemetaran atau mendadak bodoh.
Baca juga: Pengakuan Yang Mengubah Segalanya
Di dunia nyata, Winda adalah seorang introvert akut. Ditambah lagi, dia sudah lama memendam rasa pada Damar. Kombinasi antara sifat pemalu dan rasa suka yang terlalu besar itu sering kali membuat sistem sarafnya terkunci tiap kali Damar berada di dekatnya. Alhasil, yang keluar dari mulutnya selalu saja jawaban-jawaban irit yang terkesan dingin, seperti tadi sore di kafe.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Winda diketuk, disusul oleh munculnya kepala Sinta dari balik pintu. Sinta, yang rumahnya memang hanya berbeda beberapa rumah, langsung masuk dan merebahkan diri di samping Winda.
"Tuh, kan! Muka lu kalau lagi natap ponsel beda banget, Win," tembak Sinta sambil merebut bantal Winda. "Tadi sore pas di kafe, si Damar ngajakin ngomong lu malah kayak patung batu. Sekarang di kamar, senyum-senyum sendiri kayak menang undian."
Winda buru-buru mematikan layar ponselnya. "Apaan sih, Sin. Nggak ada apa-apa."
"Halah, nggak usah bohong sama gue. Lu lagi nge-DM Damar pakai akun si Indah, kan?" Sinta menaikkan alisnya, menatap menyelidik. "Gue tuh gregetan ya sama lu. Kenapa sih lu nggak jujur aja sama Damar kalau indah_lestari itu lu? Si Damar itu kayaknya emang udah mulai baper sama si Indah di IG, tapi di sisi lain dia juga kayaknya penasaran sama lu yang di dunia nyata. Lu nggak kasihan apa liat tuh anak mukanya bingung terus tadi sore?"
Winda menggigit bibir bawahnya, memeluk lutut. "Lu nggak paham, Sin. Di dunia nyata, Damar itu pinter ngomong, supel, temennya banyak. Kalau gua mendadak banyak omong kayak di DM, gue ngerasa aneh banget. Gue takut dia malah ngerasa ill-feel atau ngetawain gue karena aslinya gue segaring ini."
"Tapi sampai kapan, Winda?" Sinta menghela napas, nadanya melunak. "Dunia nyata itu yang bakal lu jalanin. Masa lu mau pacaran sama Damar lewat jaringan internet doang? Lagian, cowok di tongkrongan kita kan bukan cuma Damar dan Fajar. Tadi Reihan sama Ratih juga nanyain lu pas kita nggak ikut kumpul di warung bubur. Kalau status lu gantung gini terus di pikiran Damar, entar malah makin rumit."
Mendengar nama Reihan, Winda agak tersentak. Reihan adalah teman seangkatan mereka yang akhir-akhir ini juga sering mencari perhatian Winda di kampus, meski Winda selalu menanggapinya dengan dingin.
"Gue cuma butuh waktu, Sin. Gue belum siap kalau Damar tahu sekarang," ucap Winda lirih.
Sementara itu, di sebuah warung kopi tidak jauh dari kampus, kepulan asap rokok dan aroma indomie rebus memenuhi udara. Damar sedang duduk di bangku panjang kayu bersama Fajar dan Reihan. Suara riuh televisi yang memutar siaran ulang pertandingan bola menjadi latar belakang obrolan mereka.
Damar menatap mangkuk mienya yang mulai mendingin. Pikirannya tidak di sana. Di tangannya, ponselnya baru saja bergetar menerima balasan dari indah_lestari.
"...takut kalau diucapin langsung, maknanya malah jadi beda atau malah bikin canggung."
Damar membaca baris kata dari Indah itu berulang kali. Entah mengapa, kalimat itu terasa begitu personal. Entah mengapa, saat membaca kata "canggung", wajah yang terlintas di kepala Damar justru wajah Winda saat menunduk memandangi teh hangatnya tadi sore.
"Mar, lu dengerin gue nggak sih?" Reihan menyenggol bahu Damar, membuat kuah mie hampir tumpah. "Gue nanya, lu tau nggak si Winda itu sukanya cowok yang kayak gimana? Kemarin gue chat dia cuma direndem doang. Tapi pas di kampus, dia kayaknya deket banget sama lu."
Damar berdehem, berusaha bersikap biasa saja. "Winda emang anaknya gitu, Han. Pendiam. Bukan sama lu doang, sama gue juga kalau ngomong seperlunya aja."
"Iya, Reihan sayang," timpal Fajar sambil tertawa ngakak. "Si Winda itu emang titisan cewek kuper. Tapi justru itu yang bikin si Damar ini pusing tujuh keliling dari bulan lalu."
Reihan mengernyitkan dahi, menatap Damar. "Lu suka juga sama Winda, Mar?"
Baca juga: Sepenggal Kisah Dunia Maya
Damar terdiam sesaat. Di satu sisi, ada rasa posesif yang muncul saat Reihan menanyakan tentang Winda. Tapi di sisi lain, bayangan profil Instagram indah_lestari yang malam ini begitu hangat menemani pikirannya juga tidak bisa hilang.
"Gue... gue cuma ngerasa dia spesial aja," jawab Damar pelan, memilih kalimat yang aman.
Damar mengunci ponselnya lagi. Rasa penasarannya sudah berada di titik puncak. Karakternya sebagai cowok yang lurus dan tidak suka menebak-nebak mulai berontak. Dia merasa harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa terus-menerus terjebak di antara kekagumannya pada Indah di dunia maya dan perasaannya pada Winda di dunia nyata.
Sembari membayar kopi hitamnya ke penjaga warkop, Damar membulatkan tekad. Besok, dia akan mengajak Winda jalan berdua saja. Tanpa Fajar, tanpa Sinta, tanpa Reihan. Dia ingin memastikan, apakah rasa canggung di antara mereka bisa dicairkan, ataukah dia memang harus merelakan Winda dan mulai fokus mengejar Indah yang misterius itu.
**********
Keesokan harinya, koridor kampus terasa cukup terik meski jarum jam baru menunjukkan pukul sebelas siang. Suara dengung mesin pemotong rumput di lapangan bola berpadu dengan riuh mahasiswa yang baru saja keluar dari kelas.
Damar berdiri di dekat parkiran motor, bersandar pada jok motor matiknya. Matanya menyipit, memandang ke arah bangku beton di bawah pohon kersen yang tumbuh subur di samping gedung fakultas. Di sana, Winda sedang duduk sendirian. Dia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak longgar yang dijadikan luaran untuk kaos hitamnya. Rambut sebahunya diikat asal-asalan, sementara jemarinya tampak sibuk membolak-balik halaman sebuah buku bersampul cokelat tanpa gambar.
Dari kejauhan, Damar bisa melihat betapa tenangnya cewek itu. Di saat mahasiswi lain sibuk bergosip atau menatap layar ponsel dengan saksama, Winda seperti punya dunianya sendiri yang kedap suara.
Damar menarik napas dalam-dalam, merapikan letak kerah jaketnya, lalu melangkah mantap menghampiri pohon kersen tersebut.
"Serius amat, Win. Baca buku apaan sih?" sapa Damar sambil mendudukkan diri di ujung bangku beton yang sama, memberi jarak sekitar tiga puluh sentimeter agar Winda tidak merasa terintimidasi.
Winda tersentak kecil. Buku di tangannya hampir saja jatuh kalau dia tidak sigap menangkapnya. Dia menoleh ke arah Damar, matanya membelalak kaget selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali meredup dalam kepasifan yang biasa.
"Eh, Damar... Ini, cuma novel lama," jawab Winda lirih. Dia langsung menutup buku itu dan meletakkannya di atas pangkuan, seolah takut Damar akan membaca judulnya.
"Gue ganggu ya?" tanya Damar lagi, merasa agak bersalah melihat reaksi Winda yang seperti orang ketakutan.
"Nggak, kok. Nggak ganggu," Winda menggelengkan kepala pelan. Jarinya mulai memainkan ujung halaman buku, sebuah kebiasaan yang baru Damar sadari muncul setiap kali cewek ini merasa gugup.
"Anak-anak yang lain mana? Sinta? Reihan?" Damar mencoba memancing obrolan, sengaja menyelipkan nama Reihan untuk melihat reaksi Winda.
"Sinta lagi ada urusan himpunan. Kalau Reihan... gue nggak tahu," jawab Winda datar. Tidak ada perubahan ekspresi sama sekali saat nama Reihan disebut.
Damar mangut-mangut. Suasana kembali hening selama beberapa saat. Hanya ada suara angin sepoi-sepoi yang menggugurkan satu dua daun kersen kering ke atas lantai semen. Damar tahu, kalau dia tidak segera bicara, momen ini akan menguap begitu saja menjadi kecanggungan yang melelahkan.
"Win, Sabtu besok lu ada acara nggak?" tanya Damar langsung, tanpa basa-basi lagi.
Winda menoleh, menatap Damar dengan pandangan bingung. "Sabtu? Kayaknya nggak ada. Kenapa, Mar?"
"Gue mau ngajakin lu jalan. Berdua aja," kata Damar, menatap lurus ke dalam manik mata Winda. "Ada pameran arsip foto kota tua di gedung kesenian deket alun-alun. Gue tahu lu suka hal-hal yang berbau jadul dan sejarah gitu. Mau nggak?"
Jantung Winda rasanya seperti melompat dari tempatnya. Berdua aja? Damar ngajakin jalan berdua? Pikirannya mendadak kosong. Sisi emosionalnya menjerit senang, namun sisi introvertnya langsung memicu alarm panik yang luar biasa. Berdua dengan Damar berarti dia harus berbicara, merespons, dan menatap cowok itu selama berjam-jam tanpa ada Sinta yang bisa dijadikan tameng penolong.
Bersambung
Baca juga: Dara, Gadis Dunia Maya
Komentar
Posting Komentar