Asmara Tak Beralamat Tetap
Asmara Tak Beralamat Tetap

Di bangku panjang sebuah warung, Hermansyah duduk termangu. Pemuda berusia dua puluh empat tahun yang sehari-hari bekerja sebagai kurir paket itu menatap lurus ke arah tumpukan kerupuk kaleng. Wajahnya kusut, sekusut rambutnya yang sudah seminggu tidak terkena sisir.
"Sepertinya gue lagi jatuh cinta, tapi sama siapa, ya? Susah makan kalau lagi tidur, susah tidur kalau lagi makan. Itulah yang gue rasakan saat ini," gumam Hermansyah tiba-tiba. Suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk memecah keheningan siang yang gerah itu.
Wahyu, seorang buruh pabrik konfeksi yang sedang mendapat shift sore, langsung tersedak asap rokoknya sendiri. Di sebelahnya, Syarief, yang sedang sibuk menghitung sisa uang belanja di dompet kulitnya yang sudah mengelupas, menoleh dengan dahi berkerut dalam.
"Herman," panggil Wahyu, menepuk bahu pemuda itu agak keras. "Lu kalau ngomong jangan suka membalikkan hukum alam. Ya iyalah susah makan kalau lagi tidur! Lu mau mati keselek? Lagian, mana ada orang bisa tidur nyenyak sambil ngunyah nasi uduk?"
"Bukan begitu, Bang Wahyu," sanggah Hermansyah tanpa mengalihkan pandangan dari kaleng kerupuk. "Ini analogi. Jiwa gue itu rasanya... linglung. Kayak ada yang mengganjal di dada, tapi gue sendiri nggak tau ini gara-gara siapa."
Syarief menghela napas panjang, memasukkan kembali dompetnya yang tipis ke saku celana. Sebagai pria yang sudah sewindu berumah tangga dan tiap bulan pusing memikirkan uang kontrakan, drama romantis Hermansyah terdengar seperti kemewahan yang tidak berguna.
"Man, lu itu kurang minum air putih, makanya halusinasi," timpal Syarief. "Anak muda zaman sekarang kebanyakan gaya. Jatuh cinta kok pakai anonim. Kalau lu suka sama orang, ya tunjuk hidungnya. Jangan bikin rumus fisika baru di warung Mpok Yuli."
Dari balik etalase kaca yang berisi mi instan dan gula pasir, Yuli muncul sambil membawa nampan berisi es teh manis. Janda manis berusia mendekati tiga puluh satu tahun itu tersenyum tipis, menampilkan gurat wajah khas perempuan Jawa yang matang karena kerasnya keadaan hidup.
"Ada apa sih ini? Siang-siang begini sudah ribut urusan tidur sama makan," kata Yuli sambil meletakkan gelas di depan Hermansyah. "Nih, minum dulu, Man. Biar otaknya agak lurus."
"Ini loh, Mpok. Si Herman lagi kena penyakit anak muda. Katanya lagi jatuh cinta, tapi dia sendiri bingung cintanya buat siapa," adu Wahyu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Yuli tersenyum tipis, menatap Hermansyah dengan tatapan keibuan. "Wah, kalau kurir paket sudah kena penyakit begini, bisa-bisa alamat rumah orang ketukar semua nanti. Memangnya akhir-akhir ini kamu lagi sering antar paket ke siapa, Man? Biasanya kan cinta tumbuh karena sering ketemu."
Hermansyah meminum es teh manisnya dengan lesu. "Itu dia masalahnya, Mpok. Tiap hari gue ketemu ratusan orang. Tapi seminggu ini, tiap kali gue mau merem, mukanya berubah-ubah. Kadang gue ingat seseorang, tapi pas bangun, gue lupa itu siapa. Makanya gue bilang, susah tidur kalau lagi kepikiran, tapi pas mau makan malah kepikiran sampai nggak bisa nelan."
Baca juga: Beranjak Dari Luka
"Halah, itu mah gejala lu mau dipecat gara-gara rating toko turun," seloroh Syarief, yang langsung disambut tawa oleh Wahyu.
Saat mereka sedang asyik berseloroh, dua orang gadis berjalan melewati gang sempit di depan warung. Yang satu adalah Ningsih, seorang gadis berusia dua puluh tahun yang bekerja sebagai kasir di minimarket ujung jalan. Ningsih berwajah tegas, rambutnya selalu diikat ekor kuda, dan langkah kakinya selalu cepat mencerminkan kepribadiannya yang praktis. Di sebelahnya Devi, sahabatnya yang bekerja sebagai buruh cuci gosok di rumah-rumah orang kaya di perumahan sebelah. Devi lebih pendiam, matanya selalu terlihat lelah namun memiliki senyum yang tulus.
Melihat keramaian di warung Mpok Yuli terutama saat mendengar sayup-sayup gumaman Hermansyah, langkah kaki Ningsih yang biasanya cepat mendadak melambat. Dia mencuri dengar sejenak, lalu dengan gestur yang dibuat-buat cuek, dia membelokkan arah jalannya mendekati etalase kaca. Di sebelahnya, Devi mengekor pasrah.
"Mpok Yuli, beli... anu, pembalut sama sabun cuci piring saset kecil satu," panggil Ningsih.
Yuli mengambil barang pesanan itu sambil menatap Ningsih dengan senyum penuh arti. "Tumben, Sih? Di minimarket tempat kamu kerja kan melimpah barang ginian?"
Ningsih langsung salah tingkah, buru-buru merapikan ikat rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. "Eh... itu, Mpok, di toko lagi habis yang saset kecil. Lagian sekalian lewat," kilah Ningsih cepat, matanya melirik sekilas ke arah Hermansyah.
"Alasan aja lu, Ningsih! Bilang aja mau liat tontonan gratis," goda Wahyu sambil tertawa terkekeh-kekeh dan menggeser duduknya agar bangku kayu itu muat. "Sini, duduk dulu!"
Devi menggeleng pelan, memilih berdiri di dekat tiang listrik yang agak teduh, sementara Ningsih tetap berdiri menantang di depan etalase, berusaha mengembalikan wibawanya yang hampir runtuh. "Tontonan apa, Bang? Jangan bilang si Herman salah anter paket lagi?"
"Bukan," jawab Yuli sambil memberikan barang pesanan Ningsih. "Ini si Herman lagi patah hati sebelum bertempur. Katanya lagi jatuh cinta, tapi bingung sama siapa."
Ningsih langsung menoleh ke arah Hermansyah, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang khas. "Yee... Bang Herman. Lu kalau linglung jangan dipelihara. Itu namanya lu bukan jatuh cinta, tapi linglung akut. Lagian, kalimat lu tadi kedengaran di jalan tau. 'Susah makan kalau lagi tidur, susah tidur kalau lagi makan'. Itu mah anak TK juga tau!"
Hermansyah hanya bisa mendengus."'Lu nggak bakal paham, Ningsih. Lu kan hatinya terbuat dari struk belanjaan minimarket, kaku."
"Biar kaku begini yang penting hidup gue pakai logika, Bang!" balas Ningsih sengit, meski ada semburat merah tipis di pipinya yang buru-buru ia sembunyikan dengan memalingkan wajah.
Sementara itu, Devi hanya diam, memperhatikan Hermansyah dengan pandangan yang berbeda. Ada rasa iba, sekaligus sesuatu yang tersimpan di matanya. "Bang Herman... mungkin maksudnya, Bang Herman lagi kepikiran sama seseorang yang pernah Bang Herman bantu baru-baru ini? Biasanya rasa bersyukur atau rasa bersalah itu mirip sama rasanya jatuh cinta kalau di hati orang yang sensitif," ucap Devi.
Baca juga: Ancaman Yang Bikin Tersenyum
Perkataan Devi membuat suasana warung agak hening sejenak. Syarief dan Wahyu saling berpandangan.
"Tuh, dengerin kata-kata si Devi. Lebih bermutu daripada ucapan lu, Ningsih," kata Wahyu.
Ningsih menyikut lengan Devi dengan gemas. "Lu ngapain sih belain dia, Dev? Biarin aja dia makin pusing sama teorinya sendiri."
Sebenarnya, ada alasan mengapa Hermansyah melontarkan kalimat absurd itu di warung Mpok Yuli. Warung ini adalah pusat semesta dari lingkungan mereka. Di sinilah semua tokoh ini kerap berinteraksi, dan tanpa disadari oleh Hermansyah, kebingungannya bersumber dari interaksinya dengan ketiga perempuan di sekitarnya dalam seminggu terakhir.
Syarief, sebagai orang yang paling tua di antara para pria di sana, mulai mengendus sesuatu. Dia menatap Hermansyah, lalu beralih menatap Yuli, Ningsih, dan Devi secara bergantian. Sebagai pria beristri yang sudah kenyang asam garam kehidupan bertetangga, dia tahu ada dinamika tersembunyi di sini.
"Man," kata Syarief sambil menyalakan rokoknya yang tinggal sebatang. "Gue tebak ya. Lu itu sebenarnya bukan bingung karena nggak tau siapa orangnya. Lu itu bingung karena lu kemaruk. Di otak lu, lu lagi membanding-bandingkan orang, iya kan?"
"Eh? Nggak, Bang! Sumpah, gue beneran bingung," elak Hermansyah, wajahnya mendadak tegang.
Tebakan Syarief tepat sasaran, langsung menghantam ulu hati Hermansyah. Detik itu juga, isi kepala Hermansyah mendadak berputar ke belakang, memutar kembali memori seminggu terakhir yang membuatnya linglung setengah mati.
Di otaknya, wajah Ningsih mendadak muncul. Tiga hari lalu, saat panas terik yang membuat aspal Jakarta seperti meleleh dan motor kurirnya mogok di dekat minimarket tempat Ningsih bekerja, Ningsih tiba-tiba keluar. Gadis galak itu menyodorkan sebotol air mineral dingin ke dada Hermansyah tanpa berkata apa-apa, lalu langsung balik badan masuk ke toko dengan wajah juteknya yang khas.
Belum selesai memori tentang Ningsih, bayangan Devi berganti masuk. Dua hari lalu, Hermansyah melihat Devi kepanasan di pinggir jalan sambil memeluk bungkusan baju cucian yang sangat besar, menanti angkot yang tak kunjung datang. Karena kasihan, Hermansyah mengantarkannya sampai ke rumah majikannya dan menolak dibayar sepeser pun. Saat turun, Devi tersenyum sangat manis dan mendoakan agar rezekinya lancar, senyuman tulus yang sukses membuat Hermansyah susah memejamkan mata malam itu.
Lalu yang terakhir, wajah Yuli ikut nimbrung. Setiap malam ketika dia pulang kerja dengan perut keroncongan dan uang di dompetnya tinggal dua puluh ribu, Yuli selalu memberikan porsi nasi dan lauk yang lebih banyak di warungnya. Janda manis itu sering kali berkata, "Sudah, bayar lima ribu saja, sisanya buat bensin besok." Kebaikan yang memberikan kehangatan berbeda di hatinya.
Baca juga: Rindu Yang Tak Terjawab
Tiga kebaikan dari tiga perempuan berbeda dalam waktu satu minggu. Itulah yang membuat otak Hermansyah yang sederhana mengalami korsleting total. Dia bingung apakah dia jatuh cinta pada ketegasan Ningsih, ketulusan Devi, atau kenyamanan yang diberikan Yuli. Semuanya campur aduk menjadi satu rasa kagum yang berlebihan.
"Jangan bohong lu, Man," sahut Wahyu, ikut-ikutan memanaskan suasana. "Wah, jangan-jangan salah satu dari yang ada di sini nih? Ayo ngaku lu, Man! Di sini ada Mpok Yuli yang pinter masak, ada Ningsih yang pinter nyimpen duit, ada Devi yang rajin. Lu pilih yang mana?"
Pertanyaan blak-blakan dari Wahyu membuat atmosfer di warung berubah seketika. Udara Jakarta yang sudah panas terasa makin menyengat.
Ningsih langsung mendelik galak ke arah Wahyu. "Bang Wahyu kalau ngomong jangan sembarangan ya! Saya ini masih punya masa depan, nggak mau punya pacar yang kalau tidur nggak bisa makan!" ujarnya sambil menyambar plastik belanjaannya. Namun, matanya sempat melirik ke arah Hermansyah, menunggu reaksinya.
Devi hanya menunduk dalam-dalam, jemarinya memainkan ujung bajunya yang agak pudar. Pipinya merona merah. Dia tidak berani menatap siapa pun, terutama Hermansyah.
Sementara Yuli hanya tertawa renyah, walau tangannya berhenti mengelap meja sejenak. ""Ah, kalian ini ada-ada saja. Saya ini sudah janda, sudah nggak mikirin yang begituan. Yang penting warung laris, utang warga lunas, itu sudah bikin saya bisa tidur nyenyak dan makan kenyang."
Hermansyah merasa seperti disidang di tengah pasar. Dia memandangi ketiga perempuan itu. Ningsih yang galak tapi sebenarnya perhatian, Devi yang lembut dan mandiri, serta Yuli yang selalu jadi pelindungnya di kala lapar. Dia menyadari bahwa kelalaian logikanya, susah makan saat tidur dan susah tidur saat makan adalah akibat dari keserakahan hatinya yang mengagumi ketiganya sekaligus tanpa tahu mana yang benar-benar dia butuhkan sebagai pendamping hidup.
"Tuh kan, diem dia! Fix, pelakunya ada di sini!" seru Wahyu sambil tertawa puas, merasa memenangkan tebakan.
Syarief menggeleng-gelengkan kepala, lalu menepuk pundak Hermansyah dengan bijak. "Gini deh, Man. Sebagai orang yang sudah beristri, gue cuma mau kasih tau satu hal. Hidup di Jakarta ini keras. Kalau lu cuma mengandalkan rasa bingung lu itu, lu nggak bakal maju-maju. Cinta itu bukan tebak-tebakan buah manggis. Cinta itu pilihan, dan pilihan itu butuh tanggung jawab."
Syarief melanjutkan, "Istri gue di rumah, kalau lagi ngambek, Jangankan bikin susah tidur, bikin pusing tujuh keliling iya. Tapi gue tetap milih dia tiap hari karena gue tau dia yang nemenin gue dari nol. Jadi, lu beresin dulu isi kepala lu. Kalau lu masih susah tidur gara-gara mikirin makan, atau susah makan gara-gara mikirin tidur, itu artinya lu belum siap buat jatuh cinta sama siapa pun. Lu baru siap jatuh cinta sama bayangan lu sendiri.,"
Nasihat Syarief yang mendalam itu bagai guyuran air es di tengah siang yang terik. Hermansyah tertegun. Kata-kata itu menancap telak di egonya sebagai seorang bujangan yang terlalu romantis tapi miskin aksi.
Ningsih melihat jam tangan digitalnya. "Ah, sudah mau habis jam istirahat gue. Devi, ayo jalan, nanti telat gue diamuk bos," ajak Ningsih. Sebelum melangkah pergi, Ningsih menoleh lagi ke Hermansyah. "Bang Herman, paket gue yang isi bedak kemarin jangan sampai rusak, ya. Awas aja kalau lu linglung lagi pas ngantar."
"I-iya, Ningsih. Aman kok," jawab Hermansyah agak gugup.
Baca juga: Hanya Fiksi, Tapi...
Devi mengikuti Ningsih dari belakang, namun sebelum benar-benar menjauh, dia menoleh sedikit ke arah Hermansyah dan memberikan sebuah anggukan kecil yang menyemangati, seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Setelah kedua gadis itu hilang di belokan gang, Wahyu berdiri dari duduknya, meregangkan badannya yang kaku. "Gue juga mau balik ke konfeksi ah. Mau numpang tidur siang di atas tumpukan kain sebelum shift sore mulai. Man, saran gue, lu pulang, mandi, terus tidur. Jangan makan dulu biar nggak susah!," seloroh Wahyu sebelum berjalan pergi.
Syarief juga berdiri, membawa sisa rokoknya. "Gue mau jemput anak sekolah dulu. Inget kata gue tadi, Man. Jangan kebanyakan bikin kuadrat cinta kalau dompet masih tipis," ucap Syarief sambil melenggang pergi meninggalkan warung.
Kini, di warung tinggal tersisa Hermansyah dan Yuli. Suasana kembali sepi, hanya terdengar suara kipas angin dinding kecil di dalam warung yang berputar dengan suara berderit-derit karena usang.
Yuli mendekati meja Hermansyah, mengambil gelas es teh manis yang sudah kosong. Dia menatap pemuda itu dengan senyuman tulus yang menenangkan.
"Nasihat Mas Syarief tadi ada benernya, Man," kata Yuli pelan. "Kamu itu masih muda, perjalanan masih panjang. Jangan dibuat ribet sama pikiran-pikiran yang kamu buat sendiri. Perempuan itu sebenarnya sederhana, Man. Mereka cuma butuh kepastian, bukan puisi yang dibolak-balik."
Hermansyah mendongak, menatap wajah Yuli. "Mpok... kalau menurut Mpok sendiri, gue ini sebenarnya gimana?"
Yuli terkekeh, mengibaskan kain lapnya ke udara. "Kamu itu kurir yang baik, anak muda yang sopan. Tapi ya itu, kalau lagi mikir suka kelewat jauh sampai lupa napas. Sudah sana, lanjut kerja lagi. Cari duit yang banyak. Nanti kalau duitnya sudah kekumpul, baru kamu datangi salah satu dari mereka atau siapa pun itu dengan cara yang jantan. Jangan cuma curhat di warung janda."
Hermansyah akhirnya tersenyum. Rasa sesak dan bingung di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh pemahaman yang baru. Paragraf absurd yang dia ucapkan tadi bukanlah tanda bahwa dia gila atau terkena sihir, melainkan sebuah alarm dari dirinya sendiri bahwa dia harus mulai bersikap dewasa dalam mengelola perasaannya di tengah kerasnya kota Jakarta.
Dia berdiri dari bangku kayu, merogoh kantong celananya, dan meletakkan selembar uang sepuluh ribu rupiah di atas meja.
"Nggak usah dikembaliin, Mpok. Anggap aja bayar konsultasi cinta," kata Hermansyah sambil nyengir, mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya.
"Yee... uang pas begini pakai bilang nggak usah kembaliin. Es teh manis sekarang empat ribu, sisa enam ribu buat bayar utang gorengan kamu yang kemarin!" balas Yuli sambil tertawa.
Hermansyah tertawa lepas, tawa pertamanya sejak seminggu terakhir. Dia memakai helm pengamannya, menyalakan mesin motornya yang bersuara nyaring, dan bersiap membelah jalanan Jakarta yang berdebu.
Dia tahu, dia mungkin masih belum menemukan jawaban pasti tentang siapa perempuan yang akan menjadi pelabuhan hatinya. Apakah Ningsih yang bermulut tajam namun jujur? Apakah Devi yang lembut dan penuh empati? Atau bahkan kenyamanan tak tergantikan yang selalu ditawarkan oleh Yuli? Dia tidak tahu.
Namun, satu yang pasti Jakarta tak pernah ramah pada orang-orang yang gemar melamun. Motornya pun melaju, meninggalkan Gang Senggol yang kembali riuh dengan keseharian warganya.
Tamat
Baca juga: Ratih, Secantik Dewi Ratih
Komentar
Posting Komentar