Dialog Yang Tertunda
dialog yang tertunda

Malam itu, langit di atas Jakarta tampak enggan menunjukkan bintangnya. Hanya ada semburat abu-abu keperakan yang tipis, kalah telak oleh pendar lampu-lampu kota yang tak pernah tidur. Di atas rooftop rumah Yudha, udara berembus sedikit lebih kencang, membawa aroma arang terbakar dan bumbu BBQ yang gurih. Namun, bagi Baihaqi, udara malam itu terasa mencekik.
"Yud, jagungnya gosong satu tuh! Lu jangan melamun dong, mikirin jemuran di rumah apa gimana?" suara lantang Raka memecah keheningan, disusul tawa renyahnya yang khas.
Yudha, yang sedang memegang capitan besi di depan pemanggang, mendengus pelan. "Sialan lu, Ka. Ini efek karamelisasi namanya, bukan gosong. Lu kalau mau protes, mending bantu olesin mentega ke dagingnya nih."
Di sudut lain yang agak remang, Naia duduk di atas pembatas beton rooftop yang sudah dipasangi pagar pengaman. Kakinya yang dibalut celana jins tergantung bebas, diayunkan pelan mengikuti ritme angin. Pandangannya lurus menatap kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. Wajahnya yang biasanya ceria malam ini tampak lebih tenang, atau mungkin, lebih sendu. Besok pagi, sebuah penerbangan akan membawanya ke kota baru, kehidupan baru, dan babak baru sebagai mahasiswi pascasarjana.
Baihaqi berdiri bersandar pada pilar beton dekat pintu keluar rooftop. Tangannya terbenam di dalam saku jaket hoodie longgarnya. Jarak antara tempatnya berdiri dan tempat Naia duduk mungkin hanya sekitar sepuluh langkah. Namun bagi Baihaqi, sepuluh langkah itu terasa seperti jurang pemisah antar-galaksi. Dia telah menghabiskan empat tahun terakhir dalam lingkaran pertemanan ini, menyimpan satu perasaan yang sama, tanpa pernah memiliki keberanian untuk menyuarakannya.
Sebuah kaleng minuman dingin tiba-tiba menempel di pipi Baihaqi, membuatnya sedikit terlonjak.
"Mikirin apa sih? Serius amat muka lu," Lisa berdiri di sampingnya, menyodorkan kaleng soda rasa lemon yang masih berembun.
Baihaqi menerima kaleng itu, merasakan sensasi dingin yang kontras dengan telapak tangannya yang mulai berkeringat. "Nggak mikirin apa-apa, Lis. Cuma lagi... menikmati angin aja."
Lisa tidak langsung menjawab. Perempuan itu membuka kaleng minumannya sendiri, meneguknya sedikit, lalu mengarahkan pandangannya ke titik yang sama dengan yang sedang dipandangi Baihaqi sejak tadi: Naia. Lisa sudah bersahabat dengan Baihaqi cukup lama untuk bisa membaca arti dari setiap helaan napas cowok itu. Di antara mereka berlima, Lisalah yang paling peka terhadap dinamika rasa yang tersembunyi.
"Dia besok berangkat jam tujuh pagi," kata Lisa lirih, hampir tenggelam oleh suara tawa Raka dan Yudha di seberang sana yang sedang meributkan takaran saus. "Barang-barangnya udah masuk koper semua dari sore tadi. Yudha yang bantuin."
Baihaqi hanya bergumam pelan sebagai respons. Dia menatap kaleng minuman di tangannya, memutar-mutarnya dengan ibu jari, mencoba mencari kekuatan atau mungkin sekadar mengulur waktu dari kenyataan yang terus berjalan mundur menuju perpisahan.
"Lu nggak mau nyamperin?" tanya Lisa lagi, suaranya melembut, tanpa nada menghakimi. "Ini malam terakhir kita kumpul lengkap sebelum dia pindah, Bai."
Baihaqi memejamkan mata sejenak. Rasa sesak di dadanya seperti menuntut untuk dilepaskan, namun lidahnya terasa kelu. Ketakutan akan penolakan, ketakutan akan merusak persahabatan yang sudah mereka bangun, dan ketakutan bahwa dia sudah terlambat, semuanya bercampur menjadi satu simpul mati di tenggorokannya.
Baihaqi menatap kaleng minuman di tangannya, suaranya parau dan lirih.
"Sebenernya gue pengen banget ngomong banyak sama dia, Lis. Tapi gue nggak tahu cara memulainya, dan nggak tahu harus ngomongin apa."
Baca juga: Untuk Irfan: Cerita Yang Tak Selesai
Lisa menoleh pelan, menatap Baihaqi dengan tatapan bersimpati. Ada kilat keseriusan di mata Lisa yang biasanya santai. Dia menaruh kaleng sodanya di atas meja kecil di dekat mereka, lalu melipat tangan di dada.
"Lu punya waktu empat tahun buat mencari tahu caranya, dan sekarang waktu lu tinggal hitungan jam," ucap Lisa, menekankan setiap kata seolah ingin menancapkannya langsung ke dalam kesadaran Baihaqi. "Lu mau biarin dia pergi dengan mengira lu nggak peduli?"
Baihaqi terdiam. Kalimat Lisa barusan seperti tamparan keras yang tak kasatmata. Dia mencengkeram kaleng minumannya lebih erat hingga terdengar bunyi kaleng aluminium yang sedikit meleyot. Matanya kembali menatap punggung Naia yang bergerak sedikit karena napasnya yang teratur.
Lisa menghela napas, kemarahan kecilnya mereda, digantikan oleh rasa peduli yang besar sebagai seorang sahabat. Ia mengulurkan tangan, menepuk lengan Baihaqi dengan lembut.
"Dia nggak butuh obrolan yang hebat, dia cuma butuh lu di sampingnya sekarang. Sana. Jangan sampai penyesalan ini jadi karakter lu selamanya."
Lisa memberikan satu dorongan kecil di bahu Baihaqi, sebelum akhirnya dia berbalik dan berjalan menghampiri Yudha dan Raka, sengaja meninggalkan Baihaqi sendirian dengan keputusannya.
Baihaqi berdiri terpaku selama beberapa detik. Kata-kata Lisa menggema di kepalanya: Jangan sampai penyesalan ini jadi karakter lu selamanya. Dia melihat Naia yang tiba-tiba merapatkan jaketnya, seolah mulai kedinginan oleh angin malam yang makin menusuk.
Dengan satu tarikan napas panjang, Baihaqi memutuskan untuk melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Setiap langkah terasa berat, namun dinding keraguan yang selama ini mengurungnya perlahan mulai retak.
Langkah ketujuh terasa seperti mendaki tanjakan yang paling curam. Di langkah kesembilan, Baihaqi bisa mendengar suara helaan napas Naia yang halus. Dan pada langkah kesepuluh, bayangan tubuh Baihaqi akhirnya jatuh menimpa pembatas beton tempat Naia duduk.
Naia sedikit tersentak, lalu menoleh. Rambut panjangnya yang digelung asal malam itu bergoyang, menyisakan beberapa helai yang beterbangan ditiup angin. Saat matanya menangkap sosok Baihaqi, gurat ketegangan di wajahnya perlahan mencair, digantikan oleh senyuman tipis yang selalu berhasil membuat dada Baihaqi bergemuruh.
"Eh, Baihaqi," sapa Naia, suaranya agak serak karena angin malam. "Kirain siapa. Tadi gue lihat lu mojok terus di deket pintu kayak satpam kompleks."
Baihaqi mencoba tersenyum, meski dia yakin senyumnya saat ini pasti terlihat kaku. Dia mengulurkan tangan yang memegang kaleng soda lemon dingin yang dibawakan Lisa tadi. "Nih. Lisa titip ini buat lu."
Naia menerima kaleng itu, lalu menggenggamnya. "Dingin ya malam ini."
"Iya, makanya aneh juga Lisa malah ngasih minuman dingin," jawab Baihaqi, mencoba melucu untuk mencairkan ketegangan di dalam dirinya sendiri.
Naia terkekeh pelan. Alih-alih membuka dan meminumnya, Naia hanya menggenggam kaleng itu dengan kedua telapak tangannya, seolah merasakan sisa-sisa dingin yang juga sempat singgah di jemari Baihaqi.
"Tapi makasih ya. Duduk, Bai. Di sini anginnya lebih enak kalau sambil duduk, bisa lihat lampu kota lebih jelas." Naia menepuk ruang kosong di sebelah kanannya.
Baihaqi menuruti ajakan itu. Ia melompat kecil untuk duduk di atas pembatas beton, menyisakan jarak sekitar tiga puluh sentimeter di antara mereka. Di bawah sana, Jakarta malam hari tampak seperti hamparan permata yang berserakan, merah, kuning, dan putih dari lampu-lampu kendaraan yang bergerak merayap.
Keheningan sempat merayap kembali di antara mereka selama beberapa saat. Namun, kali ini keheningannya terasa berbeda. Tidak lagi mencekam seperti saat Baihaqi berdiri di pojokan tadi; kini keheningan itu terasa lebih intim, seolah memberi ruang bagi keduanya untuk mengumpulkan kata.
Baca juga: Cahaya Di Ujung Terowongan
Di seberang rooftop, Raka baru saja melempar tawa keras setelah Yudha tidak sengaja menumpahkan bumbu sosis ke kausnya sendiri. Lisa, yang berdiri di samping mereka, sengaja menyenggol lengan Raka dengan sikunya, lalu memberikan isyarat mata ke arah sudut tempat Baihaqi dan Naia berada. Raka yang biasanya ceplas-ceplos langsung paham. Ia berdeham, mengecilkan volume suaranya, dan mengajak Yudha untuk memeriksa stok minuman di dapur bawah, memberikan privasi penuh bagi dua sahabat mereka di atas atap.
"Besok... penerbangan jam berapa, Nai?" Baihaqi akhirnya membuka suara, memilih pertanyaan paling standar yang bisa ia pikirkan, persis seperti tebakan Lisa.
"Jam tujuh tepat," jawab Naia, matanya masih menatap lurus ke depan. "Mungkin jam lima subuh gue udah harus jalan dari rumah. Masih nggak menyangka ya, Bai. Perasaan baru kemarin kita ribet ngurusin skripsi bareng-bareng di perpus, sekarang gue udah mau pergi lagi aja."
"Empat tahun itu ternyata cepat ya," gumam Baihaqi. Dan empat tahun itu habis buat gue jadi penakut, lanjut Baihaqi dalam hatinya.
"Lu bakal kangen nggak sama gue?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Naia, membuat Baihaqi menoleh cepat. Naia juga sedang menatapnya sekarang. Di bawah temaram lampu rooftop, Baihaqi bisa melihat ada binar antisipasi sekaligus kerapuhan di sepasang mata gadis itu. Naia tidak sedang bercanda.
Baihaqi menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam memenuhi rongga dadanya. Kata-kata Lisa kembali terngiang. Dia gak butuh obrolan yang hebat, dia cuma butuh kamu di sampingnya sekarang.
"Bukan cuma kangen, Nai," kata Baihaqi, suaranya kini terdengar lebih mantap, hilangnya kepasrahan yang biasanya selalu ia tunjukkan. "Rasanya bakal aneh banget. Nggak ada lagi yang bakal telepon malam-malam cuma buat nanya tempat makan sate yang enak di daerah selatan. Nggak ada lagi yang bakal ngambek kalau gue telat jemput lima menit pas mau kerja kelompok."
Naia tersenyum, namun matanya tampak sedikit berkaca-kaca. "Maaf ya, selama ini gue sering ngerepotin lu."
"Gue nggak pernah merasa direpotin, Nai. Malahan..." Baihaqi menggantung kalimatnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini terasa hangat. "...malahan gue bersyukur karena orang yang lu repotin itu adalah gue."
Naia tertegun. Kalimat Baihaqi barusan memiliki bobot yang berbeda dari sekadar ucapan antar-sahabat biasa. Ada kejujuran yang telanjang di sana, sesuatu yang selama empat tahun ini selalu disembunyikan Baihaqi di balik topeng "sahabat yang baik".
"Bai..." panggil Naia lirih.
"Gue tau ini terlambat," potong Baihaqi pelan, menatap Naia dengan tatapan paling tulus yang pernah ia miliki. "Gue tau besok lu udah harus mengejar mimpi lu di kota lain. Dan gue nggak berniat buat nahan lu atau jadi beban di pikiran lu selama di sana."
Baihaqi menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa dalam hidupnya.
"Gue cuma mau lu tau, kalau di kota ini, di tempat ini, selalu ada gue yang bakal nungguin kabar dari lu. Setiap hari. Jadi, jangan pernah merasa sendirian di sana, ya?"
Air mata yang sejak tadi ditahan Naia akhirnya luruh juga. Gadis itu tertawa kecil sambil menghapus air matanya dengan ujung lengan jaket. "Lu tuh ya... kenapa baru ngomong sekarang, sih? Dasar kaku."
"Lisa juga bilang begitu tadi," Baihaqi terkekeh, merasakan sebuah beban besar yang selama bertahun-tahun menggelayuti pundaknya kini runtuh begitu saja. Rasanya begitu lega.
Malam semakin larut, dan bara api di pemanggangan BBQ sudah hampir padam. Suasana haru yang sempat menyelimuti sudut rooftop perlahan mencair menjadi kehangatan yang menenangkan. Setelah tangis kecilnya reda, Naia tidak lagi menatap lampu kota dengan pandangan kosong. Ada binar baru di matanya—binar yang melegakan, karena dia tahu dia tidak melangkah ke kota baru sendirian; dia membawa sepotong hati yang ditinggalkan Baihaqi untuknya.
Baca juga: Jejak Hati Di Minimarket
Dari arah pintu tangga, kepala Raka muncul terlebih dahulu, disusul oleh Yudha yang sudah berganti kaus bersih, dan Lisa yang berjalan santai di belakang mereka membawa nampan berisi marshmallow tusuk.
"Woy, dua sejoli yang hobi menatap masa depan! Ini makanan penghabisan udah siap. Kalau nggak turun dari pembatas beton itu sekarang, jatah lu berdua dihabisin Raka!" seru Yudha sambil tertawa.
Naia menoleh ke arah Baihaqi, tersenyum jahil. "Yuk, Bai. Kita amankan makanan kita. Gue nggak mau kelaparan di pesawat besok gara-gara lambung Raka yang nggak punya dasar itu."
Baihaqi terkekeh pelan. Ia melompat turun lebih dulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya untuk membantu Naia turun dari pembatas beton yang cukup tinggi itu. Untuk pertama kalinya, genggaman tangan mereka terasa berbeda. Tidak ada lagi keraguan. Hanya ada kehangatan yang mantap. Naia menerima uluran tangan itu, menggenggamnya erat selama beberapa detik setelah kakinya menyentuh lantai, sebelum akhirnya melepaskannya dengan canggung namun manis saat mereka berjalan mendekati meja makan.
Lisa yang melihat adegan itu dari kejauhan langsung memberikan tatapan penuh arti pada Baihaqi. Baihaqi hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman tulus yang seolah mengatakan, 'Terima kasih, Lis. Gue berhasil.'
Malam itu ditutup dengan tawa yang lebih lepas. Mereka membakar marshmallow, bernyanyi acak dengan iringan petikan gitar Raka yang terkadang sumbang, dan bernostalgia tentang masa-masa kuliah mereka yang penuh drama. Tidak ada lagi air mata kesedihan, yang ada hanyalah perayaan atas sebuah perpisahan yang manis.
Malam yang hangat itu akhirnya harus menyerah pada waktu. Beberapa jam kemudian, fajar menyingsing terlalu cepat.
Pukul 05.30, bandara Soekarno-Hatta sudah ramai. Kelima sahabat itu berdiri di area keberangkatan Terminal 3. Suasana dingin bandara terasa kontras dengan kehangatan di antara mereka.
Yudha maju duluan, memeluk Naia dengan erat. "Jaga diri baik-baik di sana, Nai. Kalau ada apa-apa, langsung telepon abang. Jangan sok kuat."
"Iya, Abang kaku," ledek Naia, membuat Raka dan Lisa tertawa, sementara Yudha hanya bisa mendengus pasrah.
Setelah Raka dan Lisa memberikan pelukan perpisahan mereka, tibalah giliran Baihaqi. Mereka berdua berdiri berhadapan. Di tengah hiruk-pikuk bandara dan suara pengumuman penerbangan yang menggema, dunia di sekitar mereka seolah melambat.
"Gue berangkat ya, Bai," pamit Naia lirih.
Baihaqi tersenyum, menatap matanya dalam-dalam. "Iya. Kejar mimpi lu di sana. Jangan lupa makan teratur, jangan keseringan begadang ngerjain tugas."
Naia mengangguk pelan. Tepat sebelum dia berbalik untuk masuk ke dalam gerbang pemeriksaan, Naia melangkah maju satu tapak, memeluk Baihaqi dengan cepat namun erat. Di dekat telinga Baihaqi, dia berbisik, "Nanti malam... telepon gue, ya? Gue mau denger kelanjutan obrolan kita yang kemarin belum selesai."
Sebelum Baihaqi sempat menjawab, Naia sudah melepaskan pelukannya, berbalik sambil melambaikan tangan dengan senyum paling cerah yang pernah Baihaqi lihat.
Baihaqi berdiri terpaku, memandangi punggung Naia yang perlahan menjauh dan hilang di balik kerumunan penumpang, membawa kopernya menuju masa depan. Namun kali ini, tidak ada rasa sesak di dada Baihaqi. Tidak ada penyesalan yang tertinggal.
Lisa berjalan mendekat, berdiri di samping Baihaqi sambil ikut menatap ke arah gerbang keberangkatan.
"Gimana rasanya?" tanya Lisa dengan nada menggoda.
Baihaqi menghela napas panjang, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Sebuah senyuman lebar terukir di wajahnya saat sinar matahari pagi mulai menembus kaca besar bandara, menyinari langkah baru mereka.
"Rasanya... lega banget, Lis. Dan ternyata, memulai obrolan nggak seseram yang gue bayangkan."
Lisa terkekeh, menepuk pundak Baihaqi. "Nah, gitu dong. Itu baru sahabat gue. Yuk balik, laper nih, kita tagih Yudha buat bayar sarapan!"
Mereka berempat berjalan beriringan meninggalkan bandara, menyongsong fajar yang baru. Baihaqi tahu, jarak fisik di antara dia dan Naia kini membentang ratusan kilometer. Namun, dia juga tahu, fondasi yang sempat dia takuti untuk dibangun semalam kini telah berdiri dengan kokoh. Sesuatu yang dimulai dengan kejujuran, tidak akan pernah benar-benar selesai oleh perpisahan.
Tamat
Baca juga: Beranjak Dari Luka
Komentar
Posting Komentar