Jari Yang Terkunci

Jari Yang Terkunci




jari yang terkunci


Udara di satu kompleks perumahan sore itu terasa lengket. Firman duduk di kursi plastik yang kaki-kakinya mulai melengkung, menahan beban tubuhnya yang gelisah. Di depannya, segelas kopi hitam yang sudah dingin menyisakan ampas setebal setengah sentimeter. Dari kursi di sebelahnya, terdengar bunyi renyah seseorang yang sedang asyik mengunyah rempeyek. Namun, fokus Firman bukan pada suara itu, melainkan pada layar ponselnya yang redup.

"Masih belum berani, Man?"

Suara cempreng itu datang dari balik kepulan uap penggorengan. Mpok Neneng, wanita paruh baya dengan daster bermotif abstrak sederhana yang sudah pudar, menatap Firman dengan tatapan yang sulit diartikan. Warung Mpok Neneng bukan sekadar tempat makan; ini adalah pusat intelijen swadaya masyarakat. Di sini, rahasia tersebar tanpa ampun.

"Ini masalah strategi, Mpok," jawab Firman berkilah. Jarinya mengambang di atas tombol Kirim.

Pesan itu berbunyi: "Assalamu'alaikum Mbak Sekar. Suaminya sedang tugas luar kota, kan? Kebetulan saya ada seblak nih, boleh saya ke rumah?"

Terdengar klise. Terdengar murah. Tapi bagi Firman, itu adalah sebuah deklarasi perang terhadap moralitas. Sekar adalah tipe wanita yang membuat pria lupa bahwa mereka punya cicilan utang. Dia lembut, bicaranya tenang, dan dia memiliki cara menatap yang membuat pria merasa seperti paling penting di dunia padahal kontribusi terbesarnya hanyalah memberi tahu Sekar bahwa ban motornya sedikit kurang angin.

"Gue nggak takut sama Mas Danu," gumam Firman, lebih kepada dirinya sendiri. "Mas Danu itu orang baik. Dia kalau marah paling cuma istigfar."

"Tapi adiknya bukan orang baik, Man," potong Mpok Neneng sambil membanting sutil ke wajan.

Tring!

Bunyi itu membuat Firman melonjak.

"Si Hendra itu... dia itu iblis yang dikasih jas putih. Kemarin si Ujang tukang gas salah naruh tabung di depan pagarnya saja, besoknya Ujang langsung demam panggung tiap lihat benda bulat. Katanya, Hendra bisikin sesuatu soal titik saraf yang bisa bikin orang lumpuh kalau ditekan pakai jempol."

Firman menelan ludah. Hendra. Adik laki-laki Sekar yang sedang menempuh residensi bedah saraf. Pemuda itu selalu rapi, kacamata tanpa bingkai, dan senyum yang terlalu simetris untuk ukuran manusia normal.

"Tapi kan ini cuma WA, Mpok. Bukan mau maling jemuran," bela Firman lemah.

"Di mata Hendra," Mpok Neneng mendekat, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Firman, "gangguan ke kakaknya itu setara dengan tumor ganas. Dan dia dididik untuk membuang tumor sampai ke akar-akarnya."

Firman menyadari dia butuh bantuan profesional. Bukan terapis, melainkan pelindung, maka dipanggillah Bang Jago.

Bang Jago adalah legenda urban di pinggiran kota. Tubuhnya penuh tato yang sudah pecah warnanya, baunya campuran antara minyak kayu putih dan bensin. Dia mengklaim pernah menagih utang ke sarang penyamun hanya dengan bermodalkan tusuk gigi.

Mereka bertemu di gudang belakang kompleks yang terbengkalai.

"Lu mau gue jagain lu pas lu nge-WA bini orang?" Bang Jago bertanya dengan nada tidak percaya. "Lu ini pengecut jenis baru ya, Man?"

"Bukan gitu, Bang. Adiknya ini beda. Dia dokter. Dia tahu caranya nyiksa tanpa ninggalin bekas memar yang bisa dilaporin ke polsek," jelas Firman dengan napas memburu.

Bang Jago meludah ke tanah. "Dokter? Gue udah pernah makan asam garam jalanan. Pisau bedah itu kecil, Man. Parang gue gede. Lu kirim itu pesan sekarang, gue jagain di depan rumahnya. Kalau adiknya keluar, gue lipat dia jadi kursi lipat."

Terpancing oleh keberanian Bang Jago, Firman akhirnya menekan tombol kirim. Centang satu. Lalu Centang dua. Biru.

Jantung Firman berhenti berdetak selama beberapa detik.

Satu menit kemudian, ponsel Firman bergetar. Bukan balasan dari Sekar, tapi sebuah kiriman foto dari nomor tidak dikenal. Foto itu memperlihatkan Bang Jago yang seharusnya berjaga di depan rumah malah sedang duduk di sebuah kursi kayu di dalam ruangan gelap. Di belakangnya, berdiri Hendra dengan tangan memegang bahu Bang Jago dengan posisi jempol yang sangat spesifik.


Wajah Bang Jago di foto itu tidak berdarah, tapi matanya melotot, mulutnya menganga, dan air liurnya menetes seolah semua otot wajahnya mendadak pensiun dini.

Di bawah foto itu ada pesan teks:
"Temannya kurang kalsium, Mas Firman. Ototnya kaku semua. Mau saya perbaiki sekalian, atau Mas mau datang ke sini untuk sesi konsultasi kelompok?"

Bang Jago, sang eksekutor legendaris, baru saja dijadikan manekin hidup dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Firman merasa dunianya menyusut menjadi seukuran layar ponsel 6 inci. Foto Bang Jago yang lumpuh seketika itu menjadi hantu yang menari-nari di retinanya. Dengan tangan gemetar, ia mencoba menelepon Bang Jago. Tidak diangkat. Ia menelepon nomor tidak dikenal tadi, namun hanya terdengar suara statis seperti suara mesin EKG yang memonitor detak jantung yang hampir berhenti.

Rasa penasaran yang beracun mengalahkan rasa takutnya. Firman memutuskan untuk mendekat ke rumah nomor 42, bukan sebagai pemangsa, melainkan sebagai pengintai yang terluka. Dengan kaki yang masih dibalut gips (kenang-kenangan dari "senggolan" motor misterius minggu lalu), ia merayap di balik semak-semak taman kompleks.

Di sana, ia melihat pemandangan yang tidak masuk akal.

Di teras rumah yang diterangi lampu temaram, Sekar duduk dengan tenang sambil menyulam. Wajahnya tampak damai, seolah-olah ia tidak baru saja menjadi subjek pesan genit dari pria kompleks. Namun, di sampingnya, Hendra sedang sibuk dengan sesuatu yang tampak seperti hobi baru.

Bukan mengasah pisau, kali ini Hendra sedang membedah sebuah radio tua dengan presisi seorang pemahat. Di dekatnya, Bang Jago duduk mematung. Benar-benar mematung. Dia masih hidup, matanya berkedip cepat, tapi tubuhnya kaku seperti semen yang baru kering. Hendra sesekali menyentuh leher Bang Jago dengan ujung pulpennya, dan setiap kali itu dilakukan, lengan kanan Bang Jago akan terangkat secara refleks seperti robot rusak.

"Hendra," suara Sekar terdengar merdu, memecah keheningan malam. "Mas Firman belum datang juga?"

"Sabar, Kak," sahut Hendra tanpa menoleh. "Orang seperti dia biasanya butuh waktu untuk mengumpulkan sisa-sisa keberanian sebelum akhirnya menyerah pada takdir biologisnya."

Sekar terkekeh. Suara tawa itu tidak terdengar seperti malaikat lagi di telinga Firman. Itu suara tawa seorang kurator yang sedang menanti koleksi barunya.

"Kamu jangan terlalu keras padanya," ucap Sekar sambil menarik benang sulamnya. "Mas Firman punya struktur tulang pipi yang bagus. Sayang kalau kamu buat asimetris."

"Tenang, Kak. Aku hanya akan bermain dengan sistem saraf otonomnya. Dia akan tetap ganteng, cuma mungkin dia nggak akan bisa berhenti cegukan selama tiga puluh tahun ke depan."

Firman membeku di balik semak. Ia menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan dari pisau bedah Hendra: Sekar adalah sutradaranya. Selama ini, Sekar bukan korban yang perlu dilindungi; dia adalah pemilik kebun binatang, dan Hendra adalah penjaga kandangnya. Mereka menjebak pria-pria hidung belang bukan untuk moralitas, tapi untuk bahan studi.

Saat Firman mencoba berbalik untuk kabur, sebuah suara menghentikannya. Bukan suara Hendra, melainkan suara Danu, suami Sekar yang seharusnya sedang dinas luar kota.

Danu muncul dari kegelapan di belakang Firman, membawa kantong plastik berisi martabak. Dia menatap Firman yang merangkak di semak-semak dengan tatapan prihatin.

"Lho, Mas Firman? Sedang cari kucing?" tanya Danu dengan nada sangat sopan.

Firman tergagap. "I-iya, Mas. Kucing saya... anu... hobi makan rumput."

Danu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih. "Wah, kebetulan sekali. Mari masuk dulu. Di dalam ada Hendra, dia jago soal anatomi hewan juga. Siapa tahu kucing Mas Firman bisa dia periksa sekalian."


Danu mencengkeram bahu Firman. Cengkeraman itu tidak kasar, tapi sangat mantap, seperti kunci inggris yang mengunci baut. Firman tidak punya pilihan. Dengan kaki gipsnya yang menyeret, dia dituntun masuk ke halaman rumah nomor 42 ke dalam mulut singa yang sedang tersenyum.

Di teras, Hendra menyambut mereka dengan berdiri dan membungkuk hormat. "Selamat malam, Mas Firman. Akhirnya, tamu kehormatan kita tiba. Terima kasih sudah mengantar, Mas Danu."

"Sama-sama, Dek," jawab Danu santai. "Tadi Mas ketemu dia di semak. Sepertinya dia butuh bantuan medis untuk kakinya yang gips itu. Kelihatannya pemasangannya kurang presisi."

Hendra mendekat ke arah Firman. Dia mengeluarkan sebuah senter kecil dan menyorot mata Firman. "Pupil melebar, tremor di tangan, keringat dingin berlebih. Diagnosis sementara: kelebihan dosis rasa ingin tahu yang tidak sehat."

Sekar berdiri, melipat sulamannya, dan mendekati Firman. Dia mengusap pipi Firman dengan lembut, sentuhan yang dulu diimpikan Firman, tapi sekarang terasa seperti silet yang dingin di kulitnya.

"Mas Firman," bisik Sekar. "Kamu tahu kenapa suamiku nggak pernah marah kalau ada yang kirim WA ke aku?"

Firman menggeleng lemah.

"Karena Mas Danu adalah sponsor utama penelitian Hendra," jawab Sekar sambil tersenyum manis. "Mas Danu yang menyediakan alat-alatnya, Hendra yang mengerjakan seninya, dan aku... aku yang memilih modelnya."

Di sudut teras, Bang Jago tiba-tiba mengeluarkan suara erangan kecil. Hendra menekan sebuah titik di belakang telinga Bang Jago, dan suara itu langsung hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

"Nah, Mas Firman," Hendra membuka tas kopernya, memperlihatkan deretan alat logam yang berkilau di bawah lampu teras. "Mari kita mulai. Kita punya waktu semalaman sebelum Mas Danu berangkat dinas lagi. Kita akan cari tahu, di bagian otak mana tepatnya letak rasa pengen WA istri orang itu berada, dan kalau bisa... kita potong saja supaya tidak mengganggu lagi."

Firman diajak masuk ke ruang tamu, ia didudukkan di sebuah kursi antik bermaterial kulit yang terasa sangat nyaman bahkan terlalu nyaman untuk seseorang yang sedang menanti ajal sosialnya. Danu dengan santai meletakkan martabak di meja, membukanya, dan menawarkan sepotong kepada Firman.

"Makan dulu, Man. Biar kadar gulamu stabil. Prosedur ini butuh pasien yang tidak pingsan di tengah jalan," ujar Danu sambil mengunyah dengan tenang.

Hendra sudah mengenakan sarung tangan latex tipis. Ia mulai memutari Firman layaknya seekor hiu yang sedang mengamati anjing laut yang terluka. Di tangannya kini bukan lagi pisau bedah, melainkan sebuah perangkat elektronik kecil dengan kabel-kabel halus yang ujungnya memiliki jarum-jarum mikro.

"Mas Firman," suara Hendra terdengar seperti dosen yang sedang membimbing mahasiswa teladan. "Tubuh manusia itu adalah jaringan kabel. Masalahnya, kabel di kepalamu ini konslet. Kamu melihat milik orang lain sebagai hakmu. Itu gangguan sinyal."

"Hendra, tolong... gue khilaf," ratap Firman. Air matanya mulai membasahi pipi. "Gue janji bakal pindah kota. Gue bakal hapus nomor Sekar. Gue bakal ganti HP jadi Nokia senter!"

Sekar, yang duduk di sofa sambil menyesap teh chamomile, tertawa kecil. "Hapus nomor saja tidak cukup, Mas. Memori itu ada di otak, bukan di kartu SIM. Hendra hanya ingin membantu Mas menjadi orang yang lebih bersih."

Hendra berdiri di belakang Firman. Ia meraba tengkuk Firman dengan jari-jarinya yang dingin. "Pernah dengar tentang Lobotomy? Ah, itu terlalu kuno dan kasar. Saya lebih suka menyebutnya Digital Neuropathy Correction. Saya akan menyuntikkan inhibitor pada saraf motorik jarimu, sehingga setiap kali kamu mengetik nama Kak Sekar atau kata-kata genit lainnya, jarimu akan mengalami kejang ringan sebesar 15 volt."


Firman mencoba berontak, tapi Danu memegang pundaknya. "Diam, Man. Ini demi kebaikanmu. Daripada saya lapor polisi atau saya pukul pakai balok, cara Hendra ini jauh lebih edukatif."

"Mari kita mulai," bisik Hendra.

Tepat saat jarum mikro itu menyentuh kulit leher Firman, ponsel Firman yang berada di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi muncul.

Itu pesan dari Mpok Neneng. Pesannya terbaca jelas di layar: "Man, kabur! Gue baru ingat, adiknya Sekar itu bukan cuma dokter, dia itu ketua yayasan rehabilitasi pecandu... dan dia baru saja pesan satu kursi roda baru atas namamu!"

Tawa Hendra meledak. "Mpok Neneng memang telat informasinya. Kursi rodanya sudah sampai di bagasi mobil Mas Danu sejak kemarin."

Hendra menekan jarum itu. Firman merasakan sensasi dingin yang luar biasa merambat ke tulang belakangnya, disusul oleh sengatan listrik yang membuat pandangannya memutih. Dia ingin berteriak, tapi otot rahangnya mendadak terkunci.

"Nah," suara Hendra terdengar menjauh, "sekarang coba ambil ponselmu, Mas Firman. Coba ketik satu pesan untuk kakakku."

Dengan sisa tenaganya, Firman meraih ponsel itu. Jarinya gemetar hebat. Begitu ia mengetik nama Sekar, seluruh tubuhnya tersentak hebat seolah disambar petir.

"Woi! Malah bengong!"

Tepukan keras di bahu membuat Firman tersentak hingga kursinya berderit nyaring. Ia megap-megap seperti orang yang baru saja muncul dari permukaan air. Pandangannya yang tadi memutih kini kembali fokus pada segelas kopi hitam yang sudah dingin dan ampas yang mengendap. Tidak ada Hendra, tidak ada jarum mikro, dan tidak ada Bang Jago yang lumpuh.

Ia masih duduk di kursi plastik warung Mpok Neneng yang kaki-kakinya mulai melengkung.

Firman tersentak. Lamunannya buyar.

Arie, teman yang sedari tadi duduk di sebelahnya sambil mengunyah rempeyek, mengerutkan kening.

"Gila... ngeri banget," gumam Firman dengan suara parau. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.

Arie, yang duduk di sebelahnya sambil mengunyah rempeyek, mengerutkan kening. "Ngeri kenapa? Gue cuma bilang adiknya Sekar itu calon dokter bedah saraf, lu langsung blank lima menit. Lu mikirin apaan, Man?"

Firman tidak menjawab. Ia segera menoleh ke arah rumah nomor 42 di seberang jalan. Di sana, Danu sedang menyiram tanaman sambil melambai ramah. Tapi di mata Firman, lambaian tangan Danu yang tulus itu kini terlihat seperti aba-aba untuk memulai prosedur operasi.

Dengan tangan yang masih gemetar, Firman menunduk melihat ponselnya. Draf pesan untuk Sekar masih ada di sana, siap dikirim: "Assalamu'alaikum Mbak Sekar. Suaminya sedang tugas luar kota, kan? Kebetulan saya ada seblak nih, boleh saya ke rumah?"

Tanpa menunggu Arie berkomentar lagi, Firman menekan tombol backspace dengan kecepatan penuh hingga pesan itu musnah tak bersisa. Ia bahkan langsung memblokir nomor tersebut detik itu juga.

"Lho, kok dihapus? Nggak jadi dikirim?" tanya Arie heran.

"Nggak, Rie. Barusan gue dapet bisikan gaib kalau seblak ini lebih barokah kalau kita makan berdua daripada jadi tiket masuk ke ruang bedah saraf," jawab Firman sambil berdiri. Kakinya masih terasa sedikit lemas, sisa dari trauma imajinasi yang baru saja ia alami.

Arie tertawa terbahak-bahak sambil merangkul bahu sahabatnya. "Nah, gitu dong! Otak lu akhirnya balik bener. Yuk, cabut. Kita cari bakso aja, lebih aman buat kesehatan jiwa lu."

Firman mengangguk mantap, berjalan menjauh tanpa berani menoleh lagi ke rumah nomor 42. Ia menyadari satu hal: imajinasi liar yang dipicu rasa takut terkadang adalah mekanisme pertahanan diri yang paling mutakhir sebelum seseorang melakukan kebodohan yang tak bisa diperbaiki.




Tamat

Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Satu Detik Sebelum Runtuh

Andi: Sang Mekanik Hati

Anomali Tulisan Tangan Yuli

Bukan Manis Tapi Iblis

Dia Yang Suka Dengan Kata Hmmm (Kenapa Mesti Hmmm?)