Indah Namanya, Tapi...? (#4)

Indah Namanya, Tapi...? (#4)




pegawai kantor yang cantik jelita untuk ilustrasi cerita Indah Namanya, Tapi...? (#4)p


Pukul tujuh lewat lima belas menit, Heru sudah berada di kantor.

Ia datang lebih pagi daripada yang diminta Indah, sebagian karena tidak ingin terlambat, sebagian lagi karena semalam ia memikirkan laporan penjualan yang belum selesai diperiksanya. Ada kepuasan tersendiri ketika ia berhasil datang sebelum kebanyakan pegawai. Gedung masih relatif sepi, udara dari pendingin ruangan belum terasa menusuk, dan bunyi langkahnya sendiri terdengar jelas di lorong.

Di meja kerjanya, ia menyalakan komputer lalu membuka catatan yang dibuatnya kemarin. Ia sudah memeriksa beberapa dokumen pendukung, tetapi belum menemukan penjelasan yang meyakinkan untuk perbedaan angka pada salah satu transaksi. Nomor pesanannya cocok. Nama pelanggannya juga benar. Namun, jumlah barang yang tercatat pada laporan sebelumnya berbeda dari jumlah yang muncul dalam sistem terbaru.

Ia memeriksa sekali lagi.

Dua ratus empat puluh unit pada satu dokumen. Dua ratus empat belas pada dokumen lainnya.

Perbedaannya hanya dua puluh enam unit jika dilihat sekilas, tetapi Heru tahu bahwa angka sekecil apa pun bisa memengaruhi laporan penjualan, perhitungan stok, bahkan tagihan kepada pelanggan.

Ia membuat catatan tambahan dan menyiapkan daftar dokumen yang perlu ditanyakan kepada bagian penjualan.

"Wah."

Suara itu datang dari belakangnya.

Heru menoleh. Indah berdiri sambil membawa tas dan sebungkus roti. Rambutnya masih sedikit basah, seolah ia baru saja kehujanan atau belum sempat mengeringkannya dengan sempurna.

"Rajin sekali," katanya. "Saya bilang setengah delapan, bukan setengah hidup."

Heru tertawa. "Saya takut macet, Mbak."

"Jakarta memang mengajarkan dua hal kepada manusia. Kesabaran dan kemampuan berbohong soal waktu tempuh."

Indah meletakkan tas, lalu menarik kursi di sebelah Heru.

"Sudah sampai mana?"

Heru menjelaskan apa yang telah diperiksanya. Ia menunjukkan kedua dokumen, nomor pesanan, dan catatan mengenai perbedaan jumlah.

Indah memandangi layar beberapa saat.

"Oh, ini."

Nada suaranya berubah menjadi nada seseorang yang akhirnya menemukan benda yang sudah lama dicari.

"Sepertinya ada revisi pesanan."

"Sudah ada dokumen revisinya, Mbak?"

"Harusnya ada."

Heru menunggu.

Indah membuka beberapa folder di komputernya, mencari sebuah surel, lalu berpindah ke folder lain. Setelah beberapa menit, ia bersandar.

"Sebentar. Saya ingat pernah menerima konfirmasi dari Deni, tapi saya lupa menyimpannya di folder mana."

Heru mengangguk. "Saya bisa bantu mencari kalau Mbak ingat kira-kira kapan dikirim."

"Sepertinya hari Kamis minggu lalu. Atau Jumat. Pokoknya sebelum akhir bulan."

"Baik, Mbak. Saya coba cari."

"Jangan terlalu serius begitu. Kita sedang mencari surel, bukan mengungkap kasus pembunuhan." Indah tertawa kecil.

Heru ikut tersenyum, kemudian mulai memeriksa arsip surel berdasarkan tanggal. Ia tidak merasa keberatan. Bagaimanapun, ini bagian dari pekerjaannya, dan menemukan dokumen pendukung akan membantunya memahami sistem perusahaan dengan lebih baik.

Hampir dua puluh menit berlalu sebelum ia menemukan surel yang dimaksud.


Ada lampiran berisi revisi pesanan dari pelanggan. Jumlahnya memang dua ratus empat puluh unit, tetapi lampiran itu tidak memuat tanda persetujuan akhir. Di bagian bawah surel, Deni menulis bahwa ia masih menunggu konfirmasi dari pihak pelanggan.

Heru memperlihatkan temuan tersebut kepada Indah. "Ini yang Mbak maksud?"

Indah mendekat, membaca surel itu, lalu mengangguk. "Nah, benar. Berarti jumlahnya memang dua ratus empat puluh."

"Di sini tertulis masih menunggu konfirmasi, Mbak."

Indah terdiam sejenak. "Ya, mungkin konfirmasinya dikirim terpisah."

"Mungkin. Tapi sebaiknya kita pastikan dulu."

Indah menoleh kepada Heru.

Bukan tatapan marah. Bukan pula tatapan tersinggung yang jelas terlihat. Ia hanya memandang Heru selama satu atau dua detik, cukup lama untuk membuat pemuda itu menyadari bahwa ia mungkin baru saja mengatakan sesuatu yang kurang menyenangkan.

Lalu Indah tersenyum. "Betul. Kita pastikan. Bagus, kamu teliti."

Heru mengangguk, merasa lega.

"Untuk sementara, jangan ubah angka di laporan utama," lanjut Indah. "Saya tanyakan ke Deni nanti."

"Baik, Mbak."

Indah berdiri, mengambil rotinya, lalu berjalan menuju mejanya.

Heru kembali memandangi layar. Ia merasa telah melakukan hal yang benar. Ia menemukan dokumen yang dicari, membaca keterangannya, dan tidak mengambil kesimpulan sebelum mendapatkan konfirmasi.

Namun, entah mengapa, tatapan Indah tadi masih teringat olehnya. Ia mengabaikannya dan mulai memeriksa transaksi lain.

***

Pukul sembilan lewat lima belas menit, Pak Firman meminta laporan penjualan sementara untuk persiapan rapat mingguan.

Indah segera mengumpulkan beberapa file. Ia meminta Heru membantu memeriksa kesesuaian nama pelanggan dan nomor pesanan, sementara dirinya menyusun ringkasan angka penjualan.

Pekerjaan itu berlangsung cukup lancar sampai Heru menemukan sebuah masalah lain.

Pada salah satu baris laporan, nilai penjualan bersih terlihat lebih tinggi daripada jumlah yang seharusnya setelah retur dikurangi. Ia membuka dokumen transaksi, memeriksa kolom retur, lalu menghitung ulang dengan kalkulator.

Hasilnya tetap berbeda.

"Mbak Indah," panggil Heru.

Indah sedang berbicara melalui telepon. Ia mengangkat telunjuk, memberi isyarat agar Heru menunggu.

Heru menunggu sampai sambungan telepon selesai.

"Ada angka yang sepertinya perlu diperiksa di bagian ini," katanya sambil menunjukkan layar. "Nilai penjualan bersihnya belum sesuai setelah dikurangi retur."

Indah membungkuk sedikit untuk melihat. "Yang ini?"

"Iya. Saya sudah hitung ulang dua kali."

Indah mengambil mouse dan menggeser layar ke kiri.

"Oh, ini karena rumusnya."

"Rumusnya salah, Mbak?"

"Sepertinya referensi selnya bergeser ketika baris sebelumnya ditambahkan. Bisa terjadi kalau ada yang memasukkan data manual."

Heru memandang rumus yang ditunjuknya.

Ia tidak merasa pernah mengubah baris itu. Kemarin ia hanya menambahkan catatan pada kolom keterangan, tanpa menyentuh rumus perhitungan.


"Apakah mungkin karena file-nya disalin dari laporan sebelumnya?" tanya Heru.

"Mungkin saja."

Indah memperbaiki rumus tersebut, lalu angka pada laporan berubah.

"Nah, sudah. Selesai."

Heru memeriksa hasilnya.

"Sekarang angkanya cocok."

"Bagus. Nanti kamu periksa baris lain juga, ya. Siapa tahu ada yang seperti ini."

Indah hendak kembali ke mejanya, tetapi Heru memanggilnya lagi. "Sebentar, Mbak. Saya mau memastikan satu hal."

Indah berhenti.

"Kalau rumusnya bergeser, berarti kita perlu tahu siapa yang terakhir mengubah file ini, kan?"

"Untuk apa?"

"Supaya kita tahu apakah ada perubahan lain yang perlu diperiksa."

Indah menghela napas kecil. Bukan napas panjang yang menunjukkan kemarahan, melainkan desahan singkat orang yang merasa persoalan sederhana mulai menjadi terlalu rumit.

"Heru, laporan ini dikerjakan beberapa orang. Kita tidak bisa melacak setiap perubahan kecil seolah-olah sedang melakukan audit besar. Yang penting sekarang angkanya sudah benar."

"Tapi kalau ada kesalahan lain..."

"Kalau ada, kita perbaiki. Saya tidak bilang jangan memeriksa. Saya hanya bilang jangan membuat pekerjaan sederhana menjadi terlalu panjang."

Ia mengatakannya dengan suara rendah agar tidak menarik perhatian orang lain.

Heru menutup mulut.

Indah menatapnya sebentar, kemudian melunakkan suaranya. "Kamu masih baru. Saya mengerti kamu ingin memastikan semuanya benar. Itu bagus. Tapi kamu juga perlu belajar menentukan mana yang harus diprioritaskan. Kalau setiap rumus yang berubah harus dicari siapa yang menyentuhnya, laporan kita tidak akan selesai-selesai."

Penjelasan itu terdengar masuk akal.

Heru sendiri tahu bahwa pekerjaan tidak mungkin berjalan jika semua orang menghabiskan waktu mencari penyebab setiap kekeliruan kecil. Ia tidak ingin menjadi pegawai baru yang dianggap terlalu kaku atau sulit diajak bekerja sama.

"Baik, Mbak," katanya. "Saya lanjutkan pemeriksaannya."

Indah tersenyum lagi. "Nah. Begitu lebih baik." Ia kembali ke mejanya.

Heru menatap layar yang kini menunjukkan angka benar. Ia mencoba mengingat apa yang dikatakannya sendiri tadi. Ia hanya ingin memastikan tidak ada kesalahan lain. Bukankah itu wajar?

Namun, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa pertanyaannya membuat Indah tampak sedikit terganggu.

Mungkin ia memang terlalu jauh berpikir.

Mungkin.

***

Menjelang makan siang, Adit datang ke meja Heru dengan membawa dua lembar kertas.

"Her, kamu tahu cara membuat tabel ini supaya tidak berantakan kalau dibuka di komputer lain?"

Heru memeriksa dokumen tersebut. "Ini dari Excel?"

"Iya. Di komputer saya kolomnya rapi. Begitu dibuka di komputer Pak Firman, tabelnya seperti habis berantem."

Heru tertawa. "Coba kita periksa ukuran kolomnya."

Mereka menghabiskan beberapa menit memperbaiki format dokumen.

Adit berdiri di samping kursi Heru sambil sesekali mengeluh tentang komputer kantor yang menurutnya memiliki kepribadian buruk. "Mesin ini tidak suka saya," katanya.


"Komputer tidak punya perasaan, Dit."

"Justru itu yang membuatnya berbahaya. Dia bisa membenci saya tanpa merasa bersalah."

Ketika dokumen selesai diperbaiki, Adit menepuk bahu Heru. "Terima kasih. Kamu menyelamatkan saya dari kemungkinan dimarahi Pak Firman."

"Lain kali simpan dalam format yang sama."

"Nasihat yang bagus. Akan saya lupakan besok."

Heru tersenyum.

Adit kemudian melirik layar komputer Heru, tempat laporan penjualan masih terbuka. "Lagi memeriksa angka?"

"Iya. Ada beberapa yang berbeda."

"Biasa."

Heru menoleh. "Maksudnya?"

Adit menarik kursi kosong dan duduk sebentar. "Laporan kita itu seperti jalanan Jakarta. Selalu ada saja yang tidak sesuai perkiraan."

"Kalau ada angka yang salah, biasanya siapa yang memperbaiki?"

"Siapa saja yang menemukan, tergantung masalahnya. Kadang bagian penjualan, kadang pemasaran, kadang keuangan."

"Kalau penyebabnya tidak jelas?"

Adit mengangkat bahu. "Ya, dicari kalau memang penting."

Heru mengangguk pelan. Jawaban Adit hampir sama dengan yang disampaikan Indah, meskipun terdengar lebih santai.

"Kenapa? Ada masalah?"

"Tidak. Saya cuma mau memahami alurnya."

Adit memandangnya beberapa saat, lalu tersenyum. "Kalau kamu mau memahami semua alur di kantor ini, kamu butuh waktu setahun. Kalau mau memahami semua orangnya, mungkin sepuluh tahun pun belum cukup."

"Termasuk kamu?"

"Terutama saya. Saya orang yang penuh misteri."

"Kemarin kamu cerita selama dua puluh menit tentang utang patungan."

"Itu bagian dari strategi menutupi misteri yang sebenarnya."

Heru tertawa.

Adit berdiri, lalu menepuk bahunya sekali lagi. "Jangan terlalu tegang, Her. Kamu sudah bekerja dengan baik. Jangan sampai keinginanmu menjadi pegawai teladan malah bikin kamu lupa menikmati hidup."

Setelah Adit pergi, Heru kembali memeriksa laporan.

Ia menghargai nasihat itu. Mungkin memang ia terlalu memikirkan setiap detail karena takut membuat kesalahan. Selama berbulan-bulan mencari pekerjaan, ia sudah terbiasa menganggap setiap kesempatan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian.

Ia belum terbiasa dengan kenyataan bahwa di tempat kerja, tidak semua persoalan memiliki jawaban yang jelas. Dan tidak semua orang akan melihat ketelitiannya sebagai sesuatu yang berguna.

***

Pukul satu siang, sebuah surel masuk dari Deni.

Subjeknya singkat: Konfirmasi Revisi Pesanan.

Heru membukanya.

Deni mengirimkan dokumen revisi pesanan pelanggan yang sudah disetujui. Jumlah dua ratus empat puluh unit memang benar. Dokumen tersebut baru dikonfirmasi pada pagi hari itu, tetapi angka dalam laporan sementara ternyata sudah lebih dulu diubah sebelum persetujuan diterima.

Heru membaca surel itu dua kali.

Ia membuka kembali laporan penjualan. Angka dua ratus empat puluh sudah tercantum di sana.

Lalu ia memeriksa riwayat perubahan file, sebuah fitur yang kemarin sempat ia pelajari ketika mencari dokumen pendukung.

Perubahan pada angka tersebut dilakukan pada pukul empat lewat tiga puluh tujuh menit sore sebelumnya oleh akun Indah.


Heru menatap layar, ia tidak langsung merasa curiga. Ada beberapa kemungkinan. Mungkin Indah menerima konfirmasi lewat telepon. Mungkin dokumen yang dikirim Deni hanya salinan dari persetujuan yang sudah ada. Mungkin riwayat perubahan itu berkaitan dengan pembaruan lain yang tidak ia ketahui.

Ia berusaha memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu satu per satu. Namun, satu pertanyaan tetap mengganggunya.

Jika perubahan angka sudah dilakukan kemarin, mengapa Indah tadi pagi mengatakan bahwa mereka masih perlu memastikan apakah revisi itu benar?

Heru membuka surel dari Deni dan memeriksa waktu pengiriman. Konfirmasi baru itu memang dikirim pagi ini.

Ia membaca kembali catatan yang dibuatnya kemarin.

Perlu konfirmasi. Angka berbeda dari laporan sebelumnya.

Catatan itu masih ada.

Heru tidak tahu apakah ia harus menunjukkan temuannya kepada Indah atau langsung bertanya kepada Pak Firman. Ia juga tidak tahu apakah perubahan tersebut merupakan kesalahan yang perlu dipersoalkan atau sekadar prosedur kerja yang belum ia pahami.

Akhirnya, ia memilih melakukan hal yang paling sederhana: menyimpan surel konfirmasi dan mencatat waktu perubahan file.

Ia belum menuduh siapa pun. Ia hanya ingin memiliki informasi yang lengkap. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Sore itu, Heru sedang menyusun ringkasan pemeriksaan ketika Indah menghampiri mejanya.

"Sudah selesai?" tanya Indah.

"Sebagian besar, Mbak. Saya masih menunggu konfirmasi dari Deni untuk satu transaksi."

"Yang dua ratus empat puluh unit?"

Heru mengangguk. "Konfirmasinya sudah masuk."

"Bagus. Berarti bisa ditutup."

"Ada satu hal lagi yang saya temukan."

Indah menarik kursi, lalu duduk. "Apa?"

Heru menunjukkan riwayat perubahan file.

"Saya melihat angka itu sudah diubah kemarin sore. Sebelum konfirmasi resmi dari Deni masuk pagi ini."

Indah memandangi layar tanpa segera menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak Heru mengenalnya, perempuan itu tidak langsung mengeluarkan lelucon, komentar, atau senyum kecil untuk mengisi keheningan.

"Ya," kata Indah akhirnya. "Saya yang mengubah."

Heru menunggu penjelasan.

"Saya menerima informasi dari pelanggan bahwa jumlahnya akan direvisi. Mereka menyampaikan lewat telepon. Saya pikir konfirmasi tertulisnya akan menyusul."

"Berarti waktu itu belum ada persetujuan tertulis?"

"Belum."

Heru mengangguk perlahan. "Kalau begitu, apakah sebaiknya kita mencatat bahwa angka tersebut sementara?"

Indah menyandarkan punggungnya. "Bisa saja. Tetapi kalau setiap perubahan yang sudah dikonfirmasi lewat telepon harus diberi tanda sementara, laporan kita akan penuh tanda yang tidak perlu."

Heru berusaha memahami jawabannya.

"Tapi kalau ternyata pelanggan membatalkan revisinya..."

"Mereka tidak membatalkannya."

"Betul, Mbak. Sekarang sudah ada konfirmasi. Saya hanya berpikir tentang prosedurnya."

Indah mengusap dahinya sebentar.


"Heru, saya sudah menangani pelanggan ini selama tiga tahun. Saya tahu bagaimana mereka bekerja. Kalau mereka bilang jumlahnya berubah, biasanya mereka memang mengubah jumlahnya. Dokumen menyusul karena bagian administrasi mereka lambat."

Nada suaranya masih tenang, tetapi ada ketegasan baru di dalamnya.

"Saya tidak sedang menyuruh kamu mengabaikan prosedur. Saya hanya ingin kamu tahu bahwa pekerjaan tidak selalu berjalan sesuai urutan ideal yang ada di buku panduan."

Heru mengangguk.

Ia tidak ingin membantah pengalaman Indah. Perempuan itu memang lebih lama bekerja di sana. Ia tentu mengetahui kebiasaan pelanggan yang belum dipahaminya.

"Baik, Mbak. Saya mengerti."

Indah memandangnya, seolah sedang memastikan bahwa percakapan itu benar-benar selesai.

"Bagus. Dan saya senang kamu memeriksa riwayat file. Itu menunjukkan kamu teliti."

Ia tersenyum kecil.

"Tapi lain kali, kalau menemukan sesuatu yang belum kamu pahami, tanyakan dulu kepada saya sebelum membuat kesimpulan."

Heru sedikit terkejut.

"Saya belum membuat kesimpulan, Mbak."

"Saya tahu." Indah segera menjawab. "Saya hanya mengingatkan supaya kita tidak salah paham."

Ia berdiri dan merapikan ujung blusnya.

"Laporan ini harus dikirim sebelum pukul empat. Tolong pastikan semua angkanya sudah sesuai."

"Baik, Mbak."

Indah kembali ke mejanya.

Heru duduk diam selama beberapa saat.

Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah bermaksud menuduh siapa pun. Ia hanya menunjukkan riwayat perubahan karena ingin memahami prosesnya. Namun, penjelasan tambahan terasa tidak perlu. Indah sudah mengatakan bahwa ia mengerti.

Lagi pula, mungkin ia memang terlalu bersemangat mengungkap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak bermasalah.

Heru menatap jam di sudut layar, lalu kembali bekerja.

Ia mengoreksi beberapa format, memeriksa jumlah transaksi, dan memastikan bahwa konfirmasi dari Deni sudah tersimpan bersama dokumen pendukung. Pada kolom catatan, ia menulis bahwa perubahan jumlah telah dikonfirmasi pada pagi hari itu.

Ia tidak menulis siapa yang mengubah angka sebelumnya. Ia juga tidak menulis bahwa perubahan tersebut dilakukan sebelum persetujuan tertulis diterima. Ia hanya menuliskan apa yang menurutnya diperlukan untuk menyelesaikan laporan.

Ketika akhirnya mengirimkan file kepada Indah, ia merasa lega.

Pekerjaan selesai. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada teguran. Tidak ada alasan untuk memikirkan kejadian itu lebih jauh. Namun, di suatu sudut pikirannya, sebuah pertanyaan kecil tetap tinggal.

Apakah ia sedang belajar memahami cara kerja kantor? Atau sedang belajar untuk tidak menanyakan hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman?




Bersambung


Terima kasih telah membaca Indah Namanya, Tapi...? (#4). Kisah ini merupakan cerita bersambung dengan genre: romance dan comedy seperti novel Metropop yang mengangkat tema potongan kehidupan (slice of life) penuh dengan drama romantis. Jika kamu menyukainya, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Makhluk Manis Dalam Lift

O.D.O.P

Di Saat Turun Hujan

Rasa Yang Telah Terbunuh

Dara, Gadis Dunia Maya