Transit Singkat Di Kepala
Transit Singkat Di Kepala

Malam, gerimis sisa sore tadi menyisakan titik-titik air yang merayap lambat di kaca jendela ruang kerja Hermansyah. Rumah itu sunyi, tetapi di dalam kepala Hermansyah, suaranya justru berdengung nyaring bagaikan pasar malam yang tak kunjung tutup.
Hermansyah menatap layar ponselnya yang berpendar terang di atas meja kayu jati tua. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara berirama, sebuah kebiasaan yang kerap muncul manakala benaknya sedang berkelana jauh melampaui batas ruang fisik tempat ia berada.
Di hadapannya, secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis sudah beberapa menit dibiarkan begitu saja.
Ponselnya menampilkan sebuah grup WhatsApp bernama "Warung Obrolan", tempat ia dan tiga orang sahabat karibnya, Yuli, Syarief, dan Ningsih biasa melontarkan apa saja, mulai dari urusan sepele hingga renungan malam yang kadang membuat pusing tujuh keliling.
Hermansyah sudah beberapa menit menatap kolom percakapan itu, tidak ada pesan baru.
Ada satu pertanyaan yang sejak magrib tadi berputar-putar di kepalanya. Pertanyaan itu lahir dari sebuah perenungan bagaimana manusia sering kali menjadi musuh bagi dirinya sendiri.
Hermansyah menghela napas panjang. Jempolnya bergerak, mengetikkan pertanyaan tersebut dan menekan tombol kirim.
Hermansyah: "Jika kita bertarung dengan isi kepala sendiri, lalu siapa yang akan jadi pemenangnya?"
Hermansyah meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bersandar pada kursi kerjanya, membiarkan pertanyaan itu mengambang di udara maya. Ia tahu, kalimat semacam itu bukanlah tipe pertanyaan yang biasa dijawab dengan emotikon jempol atau tawa renyah. Itu adalah jenis pertanyaan yang menuntut perenungan.
Waktu merangkak lambat. Detik demi detik berlalu dalam sunyi.
Hermansyah meraih cangkirnya, menyesap kopi yang kini sudah suam-suam kuku. Ia membayangkan bagaimana Syarief mungkin akan membalas dengan petuah bijak bernada psikologis, atau bagaimana Ningsih akan menanggapi dengan candaan khasnya untuk mencairkan suasana. Namun, dugaan Hermansyah meleset jauh.
Kurang dari lima menit kemudian, layar ponselnya berpendar. Sebuah notifikasi pesan masuk.
Hermansyah mengangkat ponselnya, membuka dan membaca balasan yang tertera di sana. Jari Yuli rupanya bergerak jauh lebih cepat daripada bayangan filosofis yang sedang dirajut Hermansyah.
Yuli: "Penyakit yang jadi pemenangnya."
Hermansyah tertegun. Alisnya berkerut. Ia membaca ulang kalimat singkat itu sekali lagi, lalu dua kali.
Penyakit pemenangnya.
Sebuah jawaban yang sangat telak, dingin, tanpa basa-basi, dan sama sekali tidak memberikan ruang bagi romantisme pemikiran. Yuli, seperti biasa, memotong kerumitan dunia dengan pisau bedah realisme miliknya yang tajam.
Hermansyah menatap layar ponselnya dengan rasa tidak percaya. Ada rasa enggan yang mendadak menyeruak di dadanya. Apakah benar begitu? Apakah setiap pergulatan batin, setiap overthinking yang menggerogoti malam, pada akhirnya hanya akan berujung pada kemenangan sang "penyakit" kecemasan, keputusasaan, atau beban mental yang menggerogoti kewarasan?
Hermansyah menggelengkan kepala perlahan. Sebagai seorang yang terbiasa melihat lapis demi lapis makna di balik setiap peristiwa, ia merasa jawaban itu terlalu muram untuk ditelan mentah-mentah.
Jempolnya kembali menari di atas papan ketik virtual, melahirkan sebuah kalimat perlawanan kecil atas vonis singkat yang baru saja dijatuhkan oleh Yuli.
Hermansyah: "Masa sih? Nggak percaya saya... wkwkwk."
Pesan terkirim.
Hermansyah menyandarkan punggungnya kembali, menatap layar dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Pertarungan malam ini baru saja dimulai, dan ia tahu betul, Yuli tidak akan tinggal diam begitu saja mendapati argumennya ditentang.
Ponsel di atas meja kayu jati itu kembali berpendar. Hermansyah, yang tadinya sibuk menyeruput kopi dinginnya, segera mendekatkan pandangannya ke layar.
Baca juga: Di Balik Romantisme Yang Hilang
Yuli rupanya tidak butuh waktu lama untuk merespons ketidakpercayaan Hermansyah.
Yuli: "Tulisan dan makna yang ada di isi kepala kamu itu suka berbeda, jadi sulit ditebak."
Hermansyah tertawa kecil di dalam ruang kerjanya yang sunyi. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Yuli. Selama ini, di dalam grup pertemanan mereka, Hermansyah memang sering kali menjadi sosok yang paling hobi melempar kalimat-kalimat bersayap. Bagi Yuli yang berpijak pada bumi yang nyata, isi kepala Hermansyah mungkin tampak seperti labirin tanpa pintu keluar.
Namun, alih-alih merasa tersinggung, Hermansyah justru melihat celah untuk melancarkan balasan yang santai. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak sedang mencoba membuat teka-teki silang yang menyiksa.
Dengan cekatan, jempolnya mengetik balasan, lengkap dengan sentuhan humor khasnya untuk mencairkan suasana malam itu.
Hermansyah: "Memangnya isi kepala saya terminal, sulit ditebak? Makanya, jangan ditebak, dibaca pelan-pelan aja.. wkwkwk."
Pesan itu terkirim. Hermansyah tersenyum sendiri. Ia membayangkan Yuli di seberang sana mungkin sedang mengerutkan kening sambil membaca pesannya, antara jengkel dan ingin tertawa.
Tidak sampai satu menit, balasan dari Yuli muncul. Layar ponsel berkedip.
Yuli: "Terminal.. HAHAHA! Kelamaan kalau pelan-pelan, saya suka yang to the point."
Hermansyah tergelak pelan. Tawa Yuli lewat huruf kapital dan tanda seru itu seolah menegaskan karakternya yang blak-blakan, tidak sabaran, dan sangat menghargai efisiensi. Bagi Yuli, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan menebak-nebak metafora rumit ala Hermansyah.
Hermansyah menyadari, ia harus segera menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi wanita itu jika tidak ingin terus-menerus diledek sebagai "pemilik terminal". Ia pun mengetik balasan singkat yang merangkum permintaannya.
Hermansyah: "Wah, kalau maunya to the point, berarti saya harus bikin versi ringkasnya nih. Biar nggak pakai 'terminal' lagi... hahaha."
Pesan terkirim. Suasana obrolan malam itu terasa semakin cair, hangat, dan hidup, melompati batas jarak fisik yang memisahkan mereka.
Di tengah keasyikan itu, dua anggota grup lainnya yang sejak tadi hanya menjadi penonton setia akhirnya memutuskan untuk ikut ambil bagian. Layar ponsel Hermansyah kembali berpendar. Notifikasi dari Syarief dan Ningsih masuk secara hampir bersamaan, siap meramaikan panggung perdebatan kecil antara Hermansyah dan Yuli.
Suasana grup WhatsApp Warung Obrolan mendadak terasa semakin hidup ketika dua chat baru muncul.
Syarief, si penengah yang bijak tapi hobi menjadi penonton pasif, akhirnya memutuskan untuk ikut bersuara. Sebagai seseorang yang kerap meredam ketegangan dengan kepala dingin, Syarief melihat dinamika antara Hermansyah dan Yuli sebagai tontonan malam yang menghibur.
Syarief: "Wah, rame nih. Baru juga ditinggal bikin kopi sebentar, Hermansyah udah dituduh punya isi kepala mirip terminal bis antar-provinsi. Hahaha!"
Tidak berselang lama, Ningsih menyusul dengan balasan yang langsung menyasar inti perdebatan mereka sebelumnya. Ningsih adalah tipe pengamat yang tajam dan suka melemparkan bumbu-bumbu candaan segar ke dalam obrolan kelompok.
Ningsih: "Makanya, Yul, jangan suka nebak-nebak isi kepala si Hermansyah. Kalau salah, ujung-ujungnya kamu sendiri yang pusing. Mending dengerin aja versi ringkasnya dia, penasaran juga saya sama 'terminal' yang dimaksud."
Hermansyah tersenyum lebar membaca rentetan pesan dari kedua sahabatnya itu. Perdebatan kecil antara dirinya dan Yuli kini telah berubah menjadi panggung teater mini yang melibatkan seluruh warga grup. Ia merasa perlu membalas kedua orang itu dengan nada yang sama santainya.
Hermansyah mengetik balasan untuk Syarief dan Ningsih.
Baca juga: Lebih Seru Dari Sinetron
Hermansyah: "Nah, ada bala bantuan datang. Tenang, Syarief, Ningsih. Biar nggak dibilang terminal yang ruwet dan bikin macet, saya mau revisi nih. Sebentar lagi saya kasih versi ringkasnya."
Yuli, yang sedari tadi rupanya masih memantau layar ponselnya, langsung menyambar balasan Hermansyah dengan cepat. Sifat aslinya yang menyukai efisiensi langsung merespons tantangan tersebut.
Yuli: "Ditunggu loh versi ringkasnya. Jangan lama-lama, keburu ngantuk saya."
Hermansyah terkekeh geli. Jari jempolnya kembali bergerak cepat di atas layar ponsel, bersiap meluncurkan lelucon pamungkas yang sejak tadi sudah ia gadang-gadang di dalam benaknya, sebuah plesetan cerdas yang ia yakini akan membuat Yuli skakmat sekaligus tertawa lepas.
Dengan mantap, Hermansyah mengetik kalimat balasannya.
Hermansyah: "Ini versi ringkasnya, halte... wkwkwk."
Pesan itu terkirim mulus. Hermansyah bersandar di kursi kerjanya, menunggu reaksi meledak dari Yuli. Ia membayangkan bagaimana wanita itu akan terkejut dengan peralihan analogi dari bangunan terminal yang besar dan rumit menjadi sebuah halte kecil yang sederhana dan hanya tempat transit sesaat.
Satu menit berlalu. Layar ponsel sunyi.
Dua menit berlalu. Tidak ada chat baru yang muncul dari Yuli.
Hermansyah mengerutkan keningnya. Ia melirik indikator status di bawah nama kontak Yuli. Tulisan online menghilang.
Syarief dan Ningsih pun ikut menyadari keheningan mendadak itu.
Syarief: "Lho, kok senyap? Jangan-jangan Yuli beneran ketiduran gara-gara nungguin versi ringkas halte ala si Hermansyah? Hahaha."
Ningsih: "Hahaha, fix sih itu mah. Kalah telak dia sama argumen 'halte' pasrah mau tidur. Yah, penonton kecewa, pertarungan malam ini ditunda sampai besok pagi!"
Hermansyah menatap layar ponselnya sambil tertawa kecil. Pertarungan batin melawan isi kepala sendiri malam itu akhirnya ditutup dengan sebuah kemenangan kecil yang antiklimaks: sang lawan tanding memilih mengakhiri perdebatan dengan cara masuk ke alam mimpi lebih dulu.
Ia meletakkan ponselnya, membiarkan layar itu meredup dengan sendirinya dalam keheningan malam yang kian larut.
Matahari pagi menyusup perlahan lewat celah-celah gorden jendela ruang kerja Hermansyah, memancarkan bias keemasan yang menghangatkan lantai. Suasana rumah terasa jauh lebih terang dan segar dibandingkan semalam.
Hermansyah melangkah masuk ke ruangan sambil membawa secangkir kopi panas yang mengepulkan aroma harum biji kopi robusta pilihan. Semalam, obrolan di grup Warung Obrolan terhenti begitu saja setelah Yuli memilih undur diri ke peraduannya.
Ia duduk di kursi kerjanya, lalu iseng menyalakan ponsel untuk memeriksa apakah ada pesan yang masuk saat ia tertidur lelap.
Benar saja. Pagi hari di grup tersebut sudah diramaikan oleh pesan-pesan pembuka dari Ningsih dan Syarief yang rupanya bangun lebih pagi.
Ningsih: "Pagi, dunia! Wah, gimana nih, Hermansyah? Apakah halte semalam sudah buka loket tiketnya pagi ini? Wkwkwk."
Syarief: "Met pagi semuanya. Jangan lupa sarapan, biar isi kepalanya nggak berubah jadi terminal lagi."
Hermansyah tersenyum lebar membaca sapaan pagi dari teman-temannya. Ia merasa beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang mampu mengubah perenungan filosofis yang berat menjadi gelak tawa yang menyegarkan hari.
Jempolnya bergerak membalas pesan pagi itu dengan santai.
Hermansyah: "Pagi juga, Ningsih dan Syarief. Halte-nya sudah buka sejak subuh, bersih dari macet dan antrean panjang. Silakan mampir kalau mau transit sebentar... hahaha."
Baca juga: Hati Yang Lelah Menanti
Tidak lama berselang, sebuah notifikasi dari Yuli muncul. Rupanya sang ratu to the point itu sudah bangun dan membaca rentetan chat semalam hingga pagi ini.
Yuli: "Ampun deh sama haltenya, Hermansyah. Baru juga merem sebentar, udah dibikin guyonan pagi-pagi. Pagi semuanya!"
Seketika grup tersebut dibanjiri oleh emotikon tertawa terbahak-bahak dari Syarief dan Ningsih.
Hermansyah menyesap kopi hangatnya dalam-dalam. Sambil menatap layar ponselnya, ia merenungkan kembali perjalanan obrolan sejak semalam. Pertarungan dengan isi kepala sendiri yang awalnya ia takutkan akan dimenangkan oleh "penyakit" berupa kecemasan dan kekalutan, ternyata bisa dijinakkan dengan cara yang sederhana: tawa bersama teman-teman yang tepat.
Hermansyah menutup aplikasi ponselnya. Ia menatap ke luar jendela, siap menyambut hari baru dengan kepala yang jauh lebih ringan.
Beberapa hari berlalu sejak obrolan grup WhatsApp itu. Sore menjelang petang di sudut warung kopi Senja selalu menyisakan cerita. Angin berembus pelan, membawa aroma khas kopi tubruk bercampur asap tipis gorengan pisang yang baru diangkat dari wajan. Di meja kayu panjang yang terletak di bagian pojok, empat orang sahabat telah berkumpul melingkar.
Syarief dan Ningsih sudah duduk lebih dulu, sementara Yuli baru saja melepas helmnya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat terjangan angin jalanan. Tidak berselang lama, Hermansyah menyusul dan menarik kursi di sebelah Syarief dengan napas yang sedikit lega.
"Wah, lengkap sudah kuorum sore ini," seru Syarief sambil menuangkan sisa air panas dari ceret ke dalam gelasnya. "Datang tepat waktu, Hermansyah. Kalau telat semenit saja, denda kopi ditanggung sendiri."
Ningsih melirik Hermansyah dengan senyum penuh selidik. "Iya nih, kita dari tadi nungguin penjelasan ilmiah soal teori 'halte' yang bikin heboh grup semalam. Mana buktinya kalau kepala kamu sekarang sudah nggak mirip terminal bus antar-provinsi?"
Yuli, yang sejak tadi duduk bersedekap dengan gaya khasnya yang praktis, langsung menimpali tanpa basa-basi. "Nah, benar tuh. Jangan cuma jago bikin kiasan di chat doang. Coba jelaskan sekarang, kenapa isi kepala bisa berubah jadi halte?"
Hermansyah tersenyum tenang. Ia mengangkat gelas teh manis hangatnya, menyesapnya pelan-pelan untuk membasahi tenggorokan, lalu menatap satu per satu wajah sahabat-sahabatnya itu. Tatapannya berhenti pada Yuli, perempuan yang paling menuntut kejelasan di antara mereka.
"Begini, kawan-kawan," ucap Hermansyah dengan nada santai namun penuh penghayatan. "Kemarin malam, kepala saya memang sempat mirip terminal. Bus-bus pemikiran datang silih berganti, membawa muatan overthinking, kekhawatiran, dan beban yang nggak perlu. Semuanya mangkal di sana, bikin macet total sampai bikin pusing."
Syarief mengangguk-angguk kecil, menikmati analogi yang dilontarkan Hermansyah. "Terus, kenapa tiba-tiba jadi halte?"
"Karena saya sadar, kalau terus-terusan dibiarkan jadi terminal, saya sendiri yang stres," lanjut Hermansyah. "Makanya saya ubah jadi halte. Di halte, kendaraan atau pikiran-pikiran ruwet itu boleh datang, tapi sifatnya cuma transit. Turunin penumpang sebentar, ambil pelajarannya, habis itu langsung jalan lagi. Nggak boleh berlama-lama mangkal di kepala."
Ningsih bertepuk tangan pelan sambil tertawa renyah. "Wah, filosofi hidup versi transportasi umum! Tapi masuk akal juga, sih. Biar nggak gampang stres."
Yuli mendengus pelan, namun ada senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan di sudut bibirnya. "Alasan aja biar nggak kelihatan kalah debat semalam. Tapi... lumayanlah, daripada pusing mikirin terminal yang nggak jelas ujung pangkalnya, halte masih mending kecil dan ringkas."
Tawa pecah di meja pojok warung kopi itu. Suasana sore yang tadinya riuh oleh suara kendaraan di jalanan seakan mereda, melebur dalam kehangatan gelak tawa empat orang sahabat yang saling melengkapi kekurangan satu sama lain.
Baca juga: Cinta Dalam Bayang-Bayang Keraguan
Langit di atas warung kopi Senja perlahan berubah warna menjadi keunguan, menandakan malam mulai merangkak naik menggantikan senja. Lampu-lampu LED yang digantung di sepanjang atap terpal warung kopi mulai memancarkan cahaya hangat yang menerangi meja panjang tempat Hermansyah, Yuli, Syarief, dan Ningsih duduk berkumpul.
Piring-piring kecil berisi sisa gorengan pisang yang tadinya menumpuk kini tinggal remah-remahnya saja, sementara gelas-gelas kopi tubruk dan teh manis telah mendingin di dasar. Namun, atmosfer di meja itu sama sekali tidak mendingin. Justru, obrolan mengalir semakin cair, meleburkan batas antara perdebatan filosofis yang rumit dan candaan-candaan ringan keseharian.
Syarief menyandarkan punggungnya ke dinding warung kopi, merapikan letak jaketnya seraya tersenyum tipis. "Jadi, kesimpulannya nih, Hermansyah... setelah sekian bab perdebatan dari grup WhatsApp sampai ke meja warung kopi ini, apa pelajaran paling berharga dari teori terminal dan halte versi kamu?" tanyanya bernada menggoda, sengaja melempar pancingan agar sahabatnya itu memberikan kesimpulan penutup.
Ningsih ikut mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja. "Iya, betul. Supaya Yuli nggak pusing lagi kalau tiba-tiba kamu melempar wacana-wacana abstrak di grup tengah malam," timpalnya sambil melirik Yuli yang duduk bersidekap, namun matanya berbinar menantikan jawaban.
Hermansyah menarik napas panjang, meresapi aroma kopi yang tersisa di udara. Ia memandang satu per satu wajah sahabat-sahabat yang telah menemaninya melewati berbagai fase hidup, dari tawa lepas hingga diskusi-diskusi melelahkan tentang isi kepala manusia.
"Sebenarnya sederhana," kata Hermansyah memulai dengan suara tenang. "Hidup ini memang sering kali terasa seperti lalu lintas yang tidak ada habisnya. Isi kepala kita dengan segala ambisi, kekhawatiran, overthinking, dan pertarungan batin yang kita hadapi setiap hari sering kali menyerupai terminal besar. Ruwet, penuh sesak oleh bus-bus pikiran negatif yang datang silih berganti, dan kalau kita tidak hati-hati, kita bisa terjebak macet di dalam pikiran kita sendiri."
Yuli mengangguk pelan, kali ini tanpa bantahan. Ia menyimak dengan saksama.
"Tapi, seperti yang saya bilang kemarin," lanjut Hermansyah sambil tersenyum kecil ke arah Yuli, "kita selalu punya kendali untuk mengubah cara pandang itu. Kita tidak harus selalu membiarkan kepala kita menjadi terminal yang penuh sesak. Kita bisa mengubahnya menjadi sebuah halte. Tempat di mana pikiran-pikiran itu boleh datang dan singgah sebentar karena kita manusia, wajar kalau merasa cemas atau lelah, tetapi mereka tidak boleh berlama-lama mangkal di sana. Cukup ambil pelajarannya, turunkan bebannya, lalu biarkan ia berlalu. Kita harus segera 'jalan' lagi."
Syarief bertepuk tangan pelan, disusul oleh Ningsih yang tersenyum lebar. "Wah, filosofi transportasi darat yang sangat mencerahkan! Layak dibukukan jadi panduan anti-overthinking kaum milenial," puji Ningsih meledek.
Yuli ikut tersenyum, garis ketus di wajahnya melebur sepenuhnya digantikan kehangatan. "Nah, kalau penjelasannya padat, jelas, dan to the point begini kan enak didengar, Hermansyah. Nggak perlu ditebak-tebak pakai kamus bahasa tingkat tinggi segala. Kepala saya aman dari pusing."
"Siap, komandan. Mulai sekarang instruksi diterima, tidak ada lagi terminal bayangan di kepala saya," balas Hermansyah diiringi gelak tawa renyah dari semuanya.
Suasana warung kopi malam itu terasa begitu damai. Gelak tawa mereka berempat seolah menjadi penutup yang sempurna untuk sebuah dinamika kecil yang bermula dari layar ponsel di ruang kerja yang sunyi.
Ketika akhirnya mereka memutuskan untuk beranjak pulang dan membubarkan diri menuju rumah masing-masing, Hermansyah melangkah keluar warung kopi sambil menengadah sejenak menatap langit malam yang mulai bertabur bintang. Angin malam berhembus sejuk, menyapu wajahnya. Di dalam kepalanya, tidak ada lagi kemacetan panjang ataupun bus-bus pemikiran yang berdesakan. Yang ada hanyalah keheningan yang tenang. Sebuah halte kecil yang nyaman, siap menyambut esok hari dengan langkah yang lebih ringan, pasti, dan tentu saja, to the point.
Tamat
Terima kasih telah membaca Transit Singkat di Kepala. Ini adalah cerita pendek tentang potongan kehidupan (Slice of Life) bergenre: Metropop dan New Adult Fiction dengan sedikit unsur Comedy. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Kita Dalam Sebuah Cerita
Komentar
Posting Komentar