Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#3)

Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..? (#3)




janda bohay yang sedang tersenyum untuk ilustrasi cerita Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi...? (#3)


Dua hari setelah makan malam di kawasan Kemang, ritme di dalam rumah Nadia terasa bergeser ke arah yang lebih hidup. Pagi itu, Lila asyik menorehkan krayon warna-warni di atas kertas gambar di lantai ruang tamu. Sekar tampak serius merancang tata letak desain di laptopnya dekat meja makan, sementara Nadia sendiri sibuk di area dapur menyiapkan sarapan.

"Ibu!" panggil Lila dengan suara nyaring.

Nadia menghentikan sejenak kegiatannya dan menoleh ke arah sumber suara. "Ya, sayang?"

"Lihat gambar Lila!" Lila mengangkat kertas gambarnya tinggi-tinggi.

Nadia melangkah mendekat, tersenyum mendapati goresan tangan putrinya yang menggambarkan enam orang berdiri berjajar di depan sebuah rumah minimalis. "Wah, ini siapa saja?" tanyanya lembut.

Satu per satu sosok ditunjuk oleh jemari mungil Lila. "Ini Lila, ini Ibu, dan ini Tante Sekar."

Sekar yang mendengar namanya disebut, menghampiri mereka.

Giliran tiga sosok terakhir yang ditunjuk, tiga figur laki-laki dengan proporsi tubuh yang unik, kepala berukuran besar dan tubuh mungil. "Nah, kalau tiga ini: Om Hadi, Om Gilang, sama Om Irfan."

Sekar terkekeh, "Kenapa kepala mereka digambar besar sekali, Lila?"

"Biar imut, mereka kan lucu," jawab Lila polos tanpa beban.

Nadia tertawa renyah, mengelus puncak kepala putrinya penuh kasih. "Bagus sekali gambarnya, Nak," puji Nadia.

Belum sempat suasana mereda, telunjuk Lila kembali mendarat pada salah satu figur pria berbadan kecil. “Ini Om Irfan.”

“Iya, lalu,” sahut Nadia.

Lila menatap Sekar dengan mata berbinar. "Om Irfan itu suka sama Tante Sekar."

Sekar yang sedang minum langsung tersedak air minumnya sendiri, batuk-batuk kecil.

Nadia menoleh cepat sambil menggigit bibir, berusaha keras menahan tawa agar tidak pecah. "Dari mana kamu tahu, Sayang?"

Lila mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Kelihatan dari caranya ngobrol."

Sekar menatap Nadia. "Anak ini benar-benar terlalu jujur kalau ngomong."

Tawa Nadia akhirnya pecah. "Namanya juga anak-anak, Sekar."

Suara bel rumah yang berdentang memotong percakapan pagi mereka. Nadia beranjak menuju pintu depan dan membukanya, mendapati Irfan berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah kotak kardus.

"Pagi, Nad," sapa Irfan ramah.

"Pagi juga, Fan. Bawa apa itu?"

Irfan mengangkat kotak tersebut sedikit ke atas. "Beberapa hasil cetak foto untuk portofolio desainmu."

Nadia tersenyum lebar. "Wah, cepat sekali kerjanya. Terima kasih banyak, ya."

Dari dalam ruang tamu, suara Lila langsung melengking memanggil. "Om Irfan!"

Irfan melangkah masuk, dan seketika itu juga Lila berlari kecil menghampirinya. "Halo, gadis kecil."

"Om, lihat gambarku!" Lila menyodorkan kertas gambarnya.

Irfan berjongkok, mengamati goresan krayon tersebut dengan saksama. "Wah, gambar apa ini? Bagus banget."

"Ada Om di sini," tunjuk Lila bangga.

Irfan memperhatikan gambar dirinya, lalu tertawa pelan. "Eh, kok kepala Om digambar paling besar?"


"Biar lucu," jawab Lila polos.

Irfan mengelus dadanya pura-pura pasrah. "Baiklah, kalau itu alasannya, Om terima."

Lila kemudian menggeser telunjuknya. "Ini Tante Sekar."

Sekar yang duduk di meja makan hanya bisa tersenyum. Lila kemudian memiringkan kepalanya, menatap Irfan lekat-lekat dengan mata berbinar. "Om Irfan suka sama Tante Sekar, kan?"

Irfan langsung terdiam, Nadia buru-buru menutup mulutnya dengan tangan untuk meredam gelak tawa yang hampir meledak.

Sekar menatap tajam ke arah Lila. "Lila, jangan sembarangan!," ucapnya dengan berpura-pura garang.

Alih-alih takut, Lila justru terkekeh geli lalu berlari kecil menuju kamarnya.

Irfan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya merona merah. "Aduh, anak itu benar-benar…"

Nadia menggelengkan kepala sambil tersenyum maklum. "Dia cuma menyuarakan apa yang tertangkap di kepala kecilnya."

Sekar berdeham pelan, salah tingkah. "Saya… ke dapur dulu ambil air."

Irfan memandangi punggung Sekar yang berlalu menjauh dengan tatapan sarat makna. Nadia yang melihat gerak-gerik itu langsung menyenggol pelan lengan Irfan. "Dia juga sebenarnya perhatian sama kamu, tahu."

Irfan menoleh kaget, matanya membelalak. "Serius?"

"Bukan begitu maksudku, maksudnya…" Nadia tertawa lepas mendapati reaksi salah tingkah Irfan.

Untuk beberapa detik, ketegangan mencair menjadi tawa ringan. Namun, keriangan itu mendadak buyar saat ponsel Nadia di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan singkat dari Arman terpampang nyata di layar, membuat senyum di wajah Nadia perlahan memudar.

Aku akan datang siang ini. Aku ingin bertemu Lila.

Nadia menghela napas, dadanya mendadak terasa sesak.

Irfan yang berdiri di dekatnya langsung menyadari perubahan ekspresi itu. "Arman?"

Nadia mengangguk pelan. "Dia mau datang ke sini. Katanya mau ketemu Lila."

"Dan kamu keberatan mengizinkannya?"

"Bukan begitu," gumam Nadia lirih, kembali duduk di sofa ruang tamu. "Saya cuma tidak mau Lila terus-menerus jadi korban saksi pertengkaran kami."

Irfan terdiam sejenak, mencerna kegelisahan di mata wanita itu. "Kamu tidak membencinya, kan?"

"Saya tidak benci, Fan. Saya hanya ingin semuanya tenang tanpa drama setiap minggu," jawab Nadia jujur.

Sebelum Irfan sempat merespons lebih jauh, bel pintu kembali berdering nyaring. Kali ini, sosok yang berdiri di baliknya sama sekali berbeda dari bayangan mereka. Hadi dan Gilang berdiri berdampingan di teras; Hadi menenteng dua kantong plastik berisi sarapan hangat, sementara Gilang membawa map berisi dokumen fisik untuk keperluan pengembangan situs.

"Pagi, Nadia. Ini saya bawakan sarapan." seru Hadi begitu pintu terbuka.

Gilang mengangkat map di tangannya. "Sekaligus membawakan draf akhir situsmu."

Nadia mempersilakan mereka masuk dengan senyum lega. "Kalian ini, tumben sekali datang sepagi ini."

Hadi mengedarkan pandangannya ke ruang tamu dan mendapati Irfan duduk di sana. Wah, rupanya ada yang sudah bersiaga di sini sejak Subuh."

Irfan menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa? Ada masalah?”

Gilang tersenyum simpul. "Tidak apa-apa. Kami tadinya mengira hari ini hanya akan fokus membahas urusan pekerjaan."

Nadia menggelengkan kepala, mempersilakan kedua pria itu duduk. Di hadapan Hadi, Gilang, and Irfan yang kini berkumpul di ruang tamu, Nadia merasakan gelombang kehangatan yang berbeda untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki lingkar pertemanan yang benar-benar tulus melindunginya.


"Terima kasih, ya," ucap Nadia tulus. "Kalian jadi repot-repot datang kemari."

Hadi tersenyum lebar sambil menepuk dadanya sendiri. “Tenang saja, kalau Arman macam-macam lagi, saya siap pasang badan jadi bodyguard pribadimu, Nad.”

Gilang melirik bentuk tubuh Hadi dan tertawa mengejek. “Dengan postur tubuh seperti itu? Mau diandalkan jadi apa?”

“Kenapa memangnya?” protes Hadi tidak terima.

“Kurang meyakinkan sebagai pengawal profesional,” sahut Gilang santai.

Irfan dan Nadia pun ikut tergelak, mencairkan ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan akibat pesan Arman beberapa menit lalu. Namun tawa itu mendadak terhenti seketika saat deru mesin mobil berhenti tepat di depan pagar halaman rumah.

Nadia bangkit berdiri perlahan. Ia tahu persis siapa pemilik mobil itu.

Arman melangkah masuk ke halaman setelah Nadia membukakan pintu pagar. Raut wajah pria itu terlihat kaku dan tegang, menyimpan sisa-sisa ego masa lalu. "Saya mau ketemu Lila, Nad."

Nadia menatap mantan suaminya dengan tenang, tanpa ada kilatan amarah di matanya. "Silakan masuk. Lila ada di dalam."

Arman tampak terkejut, seolah bersiap menghadapi penolakan keras. "Maksudmu… kamu mengizinkan?"

“Kamu ayahnya. Saya tidak punya hak untuk memutus hubungan darah kalian,” jawab Nadia tegas namun lembut. "Tapi ingat satu syarat saya."

"Apa itu?"

"Jangan pernah bicara buruk tentang saya di depan anak kita. Dan jangan coba-coba membawa Lila pergi tanpa izin tertulis dari saya."

Arman mengangguk. "Baiklah, saya janji."

Tak lama kemudian, Lila melangkah keluar dari kamar. Begitu matanya menangkap sosok sang ayah, wajah kecil itu langsung berbinar cerah. "Ayah!"

Arman langsung berlutut, merentangkan tangan dan mendekap putrinya erat-erat. "Ayah kangen sekali sama Lila."

"Lila juga kangen Ayah," balas Lila polos.

Dari balik jendela ruang tamu, seluruh sahabat Nadia memperhatikan pemandangan haru itu dalam diam. Bahkan Hadi yang biasanya paling banyak bicara kini memilih mengunci mulutnya rapat-rapat.

Beberapa menit berlalu, Arman dan Lila kini duduk bersisian di teras depan, mengobrol riang tentang rencana akhir pekan dan sekolah. Di dalam ruangan, Nadia memperhatikan mereka sambil menyeka sudut matanya yang basah oleh air mata haru.

Sekar mendekat dan merangkul pundak Nadia pelan. "Kamu tidak apa-apa, Nad?"

Nadia mengangguk pelan, menarik napas panjang. "Saya cuma merasa lega, Sekar."

"Lega karena apa?"

"Karena ternyata Lila masih bisa tersenyum sebahagia itu saat melihat ayahnya datang."

Sekar meremas jemari Nadia lembut. "Dan itu bukan berarti posisimu di hati anakmu tergeser, Nad."

Nadia tersenyum tipis. "Saya tahu."

Sementara itu di sudut lain ruang tamu, Gilang melirik ke arah Hadi yang sedang memperhatikan interaksi Nadia dan Sekar. Gilang mendekat dan berbisik pelan, "Kamu masih menyimpan rasa sama dia, Di?"

Hadi mengangguk tanpa ragu. "Masih."

"Setelah melihat semua kerumitan ini? Mantan suami, anak, dan masalah masa lalu yang belum beres?"

"Iya," jawab Hadi mantap.

Gilang tersenyum kecil penuh pengertian. "Kalau begitu, mulailah bersikap realistis."


Hadi menoleh, menatap sahabatnya tajam. "Maksudmu?"

"Nadia punya masa lalu yang berat. Dia punya anak dan beban hidup yang tidak kecil. Mungkin saat ini dia belum siap memikirkan hubungan baru."

Hadi terdiam sejenak. Pandangannya kembali menerawang ke arah Nadia. Senyum kecil terbit di bibirnya. "Kalau memang begitu keadaannya, saya tidak akan memaksakan perasaannya."

Gilang menepuk bahu Hadi. "Kamu serius dengan keputusanmu?"

"Sangat serius."

Irfan yang tak sengaja mendengar percakapan itu ikut tersenyum tipis. Hadi melirik Irfan dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa kamu senyum-senyum, Fan?"

"Tidak ada apa-apa, Di," balas Irfan santai.

"Sudah jelas arah anginnya?" sindir Hadi bercanda.

Irfan melihat ke arah Sekar yang sedang memeluk Nadia. "Sudah sangat jelas."

Gilang tertawa kecil sambil mengulurkan tangan. "Kalau begitu, selamat berjuang."

Irfan menyambut uluran tangan itu dengan erat. "Terima kasih dukungannya."

Menjelang sore, Arman akhirnya pamit undur diri. Sebelum masuk ke dalam mobilnya, ia sempat berbalik menatap Nadia yang berdiri di teras. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan bertemu Lila hari ini, Nad."

Nadia mengangguk tenang. “Jangan buat saya menyesal atas keputusan ini, Arman."

Arman tersenyum tipis sebelum akhirnya laju mobilnya meninggalkan halaman rumah.

Hadi melangkah mendekati Nadia begitu jalanan di depan rumah kembali lengang. "Semua urusan sudah beres?"

Nadia menghela napas lega. "Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, rasanya memang begitu."

Hadi menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberaniannya. "Nadia."

"Ya."

"Ada satu hal yang ingin saya katakan padamu sejak lama."

Nadia menatap lurus ke dalam mata Hadi yang tampak sedikit salah tingkah. "Katakan saja."

"Saya suka sama kamu, Nad," aku Hadi jujur tanpa basa-basi.

Nadia tertegun sejenak. Di kejauhan, Gilang dan Irfan yang memperhatikan langsung saling melempar pandang.

Hadi buru-buru melanjutkan sebelum Nadia sempat merespons. "Tapi saya tahu kamu punya banyak hal lain yang harus diselesaikan lebih dulu. Jadi, saya tidak menuntut jawaban apa pun sekarang."

Nadia tersenyum tulus, beban di hatinya mendadak terasa jauh lebih ringan. "Terima kasih sudah jujur."

"Saya cuma ingin perasaan saya tersampaikan."

"Kamu memang teman yang sangat baik," puji Nadia lembut.

Hadi tertawa renyah. "Teman, ya?"

"Untuk saat ini, iya," balas Nadia diiringi kekehan kecil.

Tak lama berselang, Gilang turut melangkah maju menghampiri mereka. "Kalau begitu, sepertinya saya tidak boleh ketinggalan."

Nadia menatap Gilang heran. "Mau ikut-ikutan menyatakan perasaan juga?"

Gilang tersenyum lebar. "Saya juga pernah menyukai kamu, Nad, bahkan sampai sekarang."

Hadi menoleh cepat ke arah Gilang dengan mata membelalak. "Wah, berani sekali kamu menyaingi temanmu sendiri!"

Gilang tertawa lepas. "Aku tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur secara terhormat."


Nadia menggelengkan kepalanya pelan, merasa tersentuh sekaligus geli. "Kalian berdua ini benar-benar aneh."

"Kenapa dibilang aneh?" protes Gilang.

"Karena kalian membuat saya merasa seperti perempuan paling diperebutkan di seluruh Jakarta," canda Nadia.

Hadi terbahak keras. "Bukankah kenyataannya memang begitu?"

Nadia memukul pelan lengan Hadi. "Sudah, jangan mulai merayu lagi."

Di sisi lain halaman, Irfan memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Sekar yang sedang duduk. "Kamu sibuk, Sekar?"

Sekar menoleh, mendapati Irfan sudah duduk tepat di sebelah kanannya. "Tidak juga. Kenapa, Fan?"

"Masih ingat kamera pinjaman yang dulu sempat kita bahas?"

Sekar tersenyum misterius."Tentu saja masih."

"Kali ini, saya tidak berniat mengambilnya kembali."

"Lalu?"

Irfan menarik napas dalam. "Saya ingin meminjam sesuatu yang jauh lebih berharga dari kamu."

"Apa itu?"

"Waktu luangmu."

Sekar mengerjap kaget. Irfan melanjutkan dengan nada yang sedikit gugup namun tulus, "Saya ingin mengajak kamu pergi makan malam. Bukan sebagai teman lama atau rekan kerja biasa."

Sekar menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di pipinya sebelum akhirnya tertawa kecil. "Sebagai apa kalau boleh tahu?"

"Sebagai seorang laki-laki yang benar-benar tertarik kepadamu," jawab Irfan mantap.

Sekar mengangkat wajahnya, tersenyum manis. "Boleh."

Irfan mengembuskan napas lega, senyum bahagianya tak mampu lagi disembunyikan.

Lila yang melihat pemandangan itu langsung berteriak girang. "Ibu! Cepat lihat ke sini!"

Nadia menoleh cepat. "Ada apa lagi, Lila?"

"Om Irfan sama Tante Sekar lagi pacaran, ya?"

Seketika tawa meledak dari seluruh orang yang ada di rumah itu. Sekar menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu, sementara Irfan hanya bisa menggelengkan kepala salah tingkah.

Lila mengangkat kedua tangannya ke udara. "Berarti nanti mereka mau menikah!"

Hadi tertawa paling kencang mendengar kepolosan anak itu, disusul oleh Gilang yang terpingkal-pingkal. Nadia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh kehangatan.

***

Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Bisnis desain milik Nadia perlahan mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan berkat kerja sama tim yang solid: Gilang merancang sistem situs web yang rapi, Irfan mengambil alih seluruh dokumentasi portofolio visual, dan Hadi dengan gigih membantu mempromosikan layanan tersebut melalui jaringan pelanggan di kedai kopinya. Sekar sendiri tetap setia tinggal di dekat Nadia untuk membantu mengurus segala keperluan rumah tangga sekaligus menemani Lila bermain.

Sementara itu, hubungan Irfan dan Sekar kian hari kian dekat, sering menghabiskan waktu sore bersama di sela-sela kesibukan. Hadi dan Gilang pun kembali pada peran mereka sebagai sahabat setia, menikmati dinamika persahabatan yang jauh lebih tulus dari sebelumnya.

Mereka berlima, bersama Lila yang asyik berlari mengejar kupu-kupu, duduk bersantai di taman kecil dekat kompleks perumahan. Senja di Jakarta mulai menampakkan bias jingga yang indah di antara celah-celah gedung pencakar langit.


Hadi melirik ke arah Nadia yang sedang tertawa lepas melihat aksi lucu putrinya. Ia berbisik pada Gilang di sebelah, "Sekarang saya benar-benar mengerti."

"Mengerti apa, Di?" tanya Gilang penasaran.

Hadi menunjuk sosok Nadia dengan dagunya. "Kenapa senyumnya begitu memikat."

Nadia yang merasa diperhatikan menoleh sekilas. "Ada apa kalian berbisik-bisik begitu?"

"Tidak ada apa-apa, hanya mengagumi ciptaan Tuhan," jawab Hadi berkelakar santai.

Nadia mendengus geli. "Dasar."

Irfan tertawa renyah, sementara Sekar menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Irfan. Lila berlari kencang menghampiri ibunya dan langsung menghambur ke dalam pelukan hangat.

Nadia memeluk putrinya erat-erat, menyerap setiap detik kedamaian yang kini menyelimuti hatinya. Pada detik itulah, sebuah kesadaran menghujam hati Irfan dan juga orang-orang di sekitarnya.

Senyum Nadia memang memesona.

Namun pesona itu sama sekali bukan karena statusnya sebagai seorang janda muda. Bukan pula karena paras cantiknya atau karena ia hidup mandiri seorang diri di kota besar ini.

Senyum itu menjadi begitu istimewa karena di balik senyumnya tersimpan keteguhan luar biasa dari seorang perempuan yang pernah jatuh terduduk, remuk berkeping-keping karena luka masa lalu, namun memilih untuk bangkit demi masa depan dirinya dan sang buah hati.

Itulah alasan sesungguhnya mengapa banyak orang ingin berada di dekatnya. Bukan karena label masa lalunya, melainkan karena cara ia tetap memilih tersenyum tegar ketika hidup menuntutnya untuk menyerah.

Nadia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menatap satu per satu wajah orang-orang berharga di hadapannya. Ia kembali tersenyum, senyum tulus tanpa beban, tanpa ada rahasia atau air mata yang disembunyikan di baliknya.

Lila mendongak menatap ibunya dengan rasa penasaran khas anak-anak. “Ibu senang banget hari ini?”

Nadia mengangguk mantap. “Senang sekali, sayang.”

“Kenapa?”

Nadia melirik Hadi, Gilang, Sekar, dan Irfan secara bergantian sebelum kembali menatap putrinya. “Karena ternyata, hidup selalu punya cara yang indah untuk mempertemukan kita dengan orang-orang baik di saat yang paling tidak terduga.”

Lila mengerutkan keningnya, berpikir sejenak. “Berarti Om Hadi sama Om Gilang sekarang juga jadi bagian dari keluarga kita?”

Nadia tertawa renyah. “Bisa dibilang begitu, Nak.”

Hadi langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Aku setuju seratus persen!”

Gilang mengangguk. “Aku juga tidak keberatan.”

Irfan dan Sekar tersenyum hangat, menyempurnakan kebersamaan sore itu. Riuhnya deru kendaraan di kejauhan, sapaan angin sore Jakarta, dan langit senja yang berubah kemerahan menjadi saksi bisu atas babak baru kehidupan mereka.

Nadia tidak lagi tersenyum sekadar untuk menutupi luka lama atau menyenangkan hati orang lain. Hari ini, ia tersenyum karena ia benar-benar telah menemukan kebahagiaannya yang utuh sebagai seorang ibu, sebagai seorang perempuan tangguh, dan sebagai seseorang yang akhirnya siap membuka lembaran baru kehidupan dengan penuh keberanian.




Tamat


Terima kasih telah membaca Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi...? (#3). Ini adalah cerita bersambung bergenre: Comedy, Drama Romantis, Komedi Romantis, Metropop, New Adult Fiction, Pernikahan, dan Romance. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Misteri Di Balik Kata Hmmm

Dia Yang Kusayang (#3)

Dia Yang Kusayang

Adakah Pertemuan Di Cerita Kita? (Masih Ada Sedikit Harapan)

O.D.O.P