Ketika Ikhlas Belum Selesai

Ketika Ikhlas Belum Selesai




sepasang kekasih sedang bersantai di kafe untuk ilustrasi cerita Ketika Ikhlas Belum Selesai


Hujan turun sejak sore dan baru berhenti menjelang azan Isya berkumandang.

Hermansyah duduk sendirian di teras rumah, membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya. Di tangannya, ponsel menyala. Ia tidak sedang menunggu pesan dari siapa pun, hanya menggulir layar tanpa tujuan, sampai akhirnya ia membuka aplikasi WhatsApp dan melihat pembaruan.

Sebuah lingkaran hijau mengelilingi foto profil Yuli yang menandakan dia membuat status. Hermansyah menatap sebentar lalu membukanya.

Yuli termasuk orang yang jarang membuat status bernada pribadi, biasanya hanya foto makanan, pemandangan, atau kalimat pendek, tetapi malam itu berbeda.

Status Yuli berbicara tentang keikhlasan. Tentang menerima sesuatu yang tidak bisa diubah. Tentang bagaimana manusia kadang mengatakan dirinya sudah ikhlas, padahal di dalam hati masih ada pertanyaan yang belum selesai.

Hermansyah membacanya dua kali, kemudian tiga kali. Ia mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang terasa terlalu personal.

Ia tahu seharusnya ia tidak perlu ikut campur. Status WhatsApp adalah ruang pribadi seseorang. Orang bebas menulis apa pun tanpa kewajiban menjelaskan kepada siapa pun.

Namun, rasa penasaran sering kali lebih cepat bekerja daripada pertimbangan.

Hermansyah membuka ruang percakapan dengan Yuli. Jarinya sempat berhenti beberapa detik di atas keyboard sebelum akhirnya mengetik.

Jadi kalau dibaca secara keseluruhan, intinya masih belum ikhlas. Benar kan?

Pesan terkirim. Hermansyah meletakkan ponselnya di meja. Beberapa menit berlalu, dua centang berubah menjadi biru, kemudian balasan muncul.

Keikhlasan sulit memang. Masih belajar untuk ikhlas memaafkan seseorang, tapi kalau keikhlasan menjalankan hidup dan ketentuan takdir Allah, alhamdulillah sudah dapat.

Hermansyah membacanya perlahan. Jawaban itu bukan iya dan bukan pula tidak.

Yuli seperti sedang menarik sebuah garis. Belum ikhlas memaafkan seseorang, namun sudah ikhlas menjalani hidup dan menerima ketentuan Allah.

Hermansyah mengetik:

Oke, bisa dimengerti. Lanjut.

Tidak ada pertanyaan lain, tidak ada "siapa orangnya?", dan tidak ada "masih sayang?".

Hermansyah sengaja membiarkan Yuli menentukan sendiri apakah percakapan itu akan berlanjut. Beberapa menit kemudian, Yuli hanya memberikan emoji jempol pada pesannya dan percakapan selesai.

Namun, bagi Hermansyah, percakapan itu justru baru dimulai.

Keesokan sorenya, Hermansyah bertemu Fanny di kedai kopi langganan mereka.

Fanny sudah duduk lebih dulu. Sebuah laptop terbuka di depannya, tetapi sejak Hermansyah datang, laptop itu tidak pernah disentuh lagi.

"Kamu kelihatan seperti orang yang semalam tidak tidur," kata Fanny.

Hermansyah menarik kursi. "Memang tidak bisa tidur."

"Kenapa?"

"Banyak pikiran."

Fanny menatap sebentar dan tersenyum. "Perempuan?"

Hermansyah tertawa pendek. "Kenapa selalu perempuan?"

"Karena kalau pekerjaan, biasanya kamu mengeluh. Kalau perempuan, kamu diam."

Hermansyah tersenyum. Ia mengenal Fanny cukup lama; perempuan itu terlalu peka untuk ukuran seorang teman.


Hermansyah memesan kopi, lalu berkata, "Aku mau tanya sesuatu."

Fanny mengangkat alis. "Silakan."

"Kalau seseorang bilang dia sudah ikhlas menerima takdir, tetapi masih belajar memaafkan seseorang, menurutmu artinya apa?"

Fanny berhenti memainkan sedotan minumannya. "Pertanyaan macam apa itu?" tanyanya sambil menatap Hermansyah.

"Jawab saja."

"Orang yang kamu maksud siapa?"

"Tidak penting."

Fanny tersenyum tipis. "Kalau tidak penting, kenapa kamu bertanya?"

Hermansyah tidak menjawab.

"Menurutku, artinya sederhana. Dia mungkin sudah menerima bahwa sesuatu memang harus terjadi. Tapi menerima kejadian dan memaafkan orang yang terlibat dalam kejadian itu adalah dua hal berbeda."

Hermansyah terdiam.

"Kenapa?" tanya Fanny. "Kamu berpikir kalau seseorang belum bisa memaafkan, berarti dia masih mencintai?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kamu berpikir begitu."

Hermansyah menatap Fanny.

Fanny hanya mengangkat bahu. "Bisa saja seseorang tidak ingin kembali kepada orang yang menyakitinya, tapi tetap belum selesai dengan luka yang ditinggalkan orang itu."

"Jadi belum tentu masih sayang?"

"Belum tentu."

Jawaban itu seharusnya membuat Hermansyah merasa lega. Namun, anehnya, ia justru semakin tidak tenang.

Fanny memperhatikannya beberapa detik. "Kamu takut?"

"Takut apa?"

"Takut ternyata orang yang kamu suka masih menyimpan tempat untuk orang lain."

Hermansyah tersenyum hambar. "Aku bahkan belum tahu apakah aku punya hak untuk takut."

Fanny tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, ia mengambil ponsel. "Namanya siapa?"

Hermansyah diam.

Fanny tertawa kecil. "Yuli?"

Hermansyah menatapnya tajam. "Kok kamu tahu?"

"Karena kamu selalu berubah kalau membicarakan dia."

"Aku biasa saja."

"Justru itu masalahnya. Kamu terlalu berusaha terlihat biasa."

Hermansyah menghela napas. Ia tidak menyangkal.

Fanny kembali melihat layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.

"Ada apa?" tanya Hermansyah.

"Tidak ada."

"Kenapa mukamu begitu?"

Fanny mengangkat wajah. "Yuli membuat status lagi."

Hermansyah spontan mengambil ponselnya. Namun, sebelum ia sempat membuka WhatsApp, Fanny berkata pelan, "Jangan dibaca."

Hermansyah menatapnya. "Kenapa?"

Fanny tidak langsung menjawab. "Karena kali ini," katanya, "aku rasa kamu belum tentu siap tahu siapa yang dia maksud."

Untuk pertama kalinya sejak kemarin malam, Hermansyah merasa bahwa status Yuli bukan lagi sekadar tulisan. Ada seseorang di baliknya. Seseorang yang pernah begitu penting bagi Yuli. Entah kenapa, Hermansyah mulai merasa bahwa nama orang itu bukan nama yang asing baginya.


Hermansyah membuka WhatsApp. Status Yuli muncul di layar, hanya ada satu kalimat:

Memaafkan tidak selalu berarti ingin kembali.

Hermansyah membaca kalimat itu dalam diam. Kemudian sebuah nama tiba-tiba muncul di kepalanya. Surya.

Hermansyah tidak langsung bertanya kepada Yuli tentang status itu.

Setelah melihat tulisan "Memaafkan tidak selalu berarti ingin kembali", ia justru mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.

Entah kenapa, ia merasa pertanyaan seperti itu akan membuat semuanya menjadi terlalu jelas. Padahal yang paling ingin ia ketahui justru adalah sesuatu yang tidak bisa ditanyakan secara langsung.

Siapa Surya? Atau lebih tepatnya, seberapa penting Surya bagi Yuli?

"Jadi kamu kenal Surya?" tanya Hermansyah akhirnya.

Fanny yang sejak tadi memandang ke luar jendela kembali menoleh. "Kenal."

"Dekat?"

Fanny tidak langsung menjawab.

"Dulu," jawab Fanny akhirnya.

Satu kata itu justru membuat Hermansyah semakin penasaran. "Dulu itu kapan?"

"Sudah lama."

"Dan hubungan mereka apa?"

Fanny tersenyum tipis. "Kamu bisa bertanya langsung kepada Yuli."

"Aku bisa."

"Lalu?"

Hermansyah menghela napas. "Aku tidak mau membuat dia merasa sedang diinterogasi."

"Bagus."

"Bagus bagaimana?" tanya Hermansyah.

"Berarti kamu masih punya perasaan."

Hermansyah mengerutkan kening. "Hubungannya apa?"

Fanny mengambil gelas minumannya dan menyesap sedikit. "Kalau kamu tidak punya perasaan, kamu tidak akan peduli siapa Surya."

Hermansyah terdiam. Kali ini ia tidak membantah.

***

Surya muncul kembali dalam kehidupan Yuli hampir seminggu kemudian. Bukan melalui pesan, bukan pula melalui pertemuan yang direncanakan. Ia muncul di sebuah acara pernikahan teman lama mereka.

Yuli datang bersama Fanny. Saat memasuki gedung, ia sama sekali tidak tahu bahwa seseorang yang pernah mengisi bagian penting dalam hidupnya sedang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.

Fanny melihatnya lebih dulu. "Yul," panggilnya.

Yuli berhenti berjalan. "Apa?"

Fanny memberi isyarat dengan matanya. Yuli mengikuti arah pandangan Fanny.

Surya.

Laki-laki itu berdiri bersama beberapa teman lama. Rambutnya lebih pendek daripada yang Yuli ingat. Wajahnya terlihat lebih matang. Tidak banyak berubah, tetapi cukup untuk membuat Yuli menyadari bahwa waktu memang telah berjalan tanpa menunggu siapa pun.

Surya juga melihat mereka. Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik. Namun beberapa detik itu cukup untuk membawa kembali sesuatu yang selama ini berusaha Yuli simpan jauh di dalam dirinya.

Bukan rindu. Bukan keinginan untuk kembali, melainkan ingatan.

Ingatan tentang sebuah sore bertahun-tahun lalu ketika Surya berdiri di depannya dengan mata merah dan suara yang berusaha tetap tenang.


"Kalau memang ini keputusanmu, aku akan pergi."

Saat itu Yuli tidak menjawab. Ia hanya menangis dan Surya benar-benar pergi.

"Yul.'" Suara Fanny menariknya kembali.

Yuli berkedip. "Aku tidak apa-apa."

"Kamu yakin?"

Yuli tersenyum. "Sudah lama sekali."

Fanny tidak menjawab. Ia tahu kalimat itu bukan jawaban.

Mereka kemudian masuk ke ruangan. Sepanjang acara, Yuli berusaha tidak melihat ke arah Surya, tetapi beberapa kali matanya tanpa sengaja bertemu dengan laki-laki itu. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, hanya tatapan singkat yang segera berakhir.

Sampai akhirnya, setelah acara selesai, Surya mendekatinya. "Yuli," panggilnya.

Yuli berhenti.

Fanny yang berdiri di sampingnya langsung memahami situasi. "Aku tunggu di luar," katanya sambil menepuk bahu Yuli.

Yuli mengangguk.

Setelah Fanny pergi, suasana di antara mereka terasa aneh.

Surya berdiri beberapa langkah di depannya. "Kamu baik?"

Yuli tersenyum kecil. "Alhamdulillah."

"Aku dengar kamu sekarang tinggal di Jakarta."

"Iya."

"Kerja masih di tempat yang sama?"

"Sudah pindah."

Surya mengangguk.

Percakapan mereka terdengar seperti dua orang yang baru pertama kali bertemu. Padahal mereka pernah mengenal satu sama lain jauh lebih dalam daripada yang bisa dijelaskan oleh percakapan singkat.

Surya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Aku senang lihat kamu baik-baik saja."

Yuli menatapnya. "Aku juga senang lihat kamu baik."

Kemudian Surya berkata pelan, "Aku minta maaf."

Yuli tidak menjawab.

"Untuk semuanya."

Yuli menundukkan wajah.

Kalimat sederhana itu ternyata masih memiliki kekuatan yang tidak ia duga.

"Sudah lama, Surya."

"Aku tahu."

"Jadi tidak perlu dibicarakan lagi."

Surya mengangguk. "Kalau begitu, anggap saja aku hanya ingin mengucapkannya."

Yuli menarik napas panjang. "Aku juga minta maaf."

Surya menatapnya. "Untuk apa?"

"Untuk semua yang dulu aku lakukan."

Surya tersenyum tipis. "Kalau begitu kita impas."

Yuli hampir tersenyum.

Surya kemudian mengangguk kecil. "Jaga diri, Yul."

"Kamu juga."

Mereka berpisah. Tidak ada pelukan, tidak ada tangisan, tidak ada janji untuk bertemu lagi. Namun malam itu, setelah sampai di rumah, Yuli duduk lama di tepi tempat tidur.

Ia membuka WhatsApp. Menulis sesuatu, menghapusnya, menulis lagi. Kemudian akhirnya ia membuat status:

"Memaafkan tidak selalu berarti ingin kembali."

***

Dua hari kemudian, Hermansyah bertemu Yuli. Mereka duduk di sebuah taman kecil di dekat kantor Yuli. Sore itu langit mendung, tetapi belum hujan.


Yuli membawa dua gelas kopi. Satu ia berikan kepada Hermansyah.

"Terima kasih," kata Hermansyah.

Yuli mengangguk.

Mereka berbicara tentang pekerjaan, makanan, dan rencana akhir pekan. Sampai akhirnya Hermansyah berkata, "Aku lihat statusmu beberapa hari lalu."

Gerakan tangan Yuli berhenti. "Yang mana?"

Hermansyah tersenyum kecil. "Kamu tahu yang mana."

Yuli menatap kopinya. "Kenapa?"

"Aku cuma penasaran."

"Penasaran apa?"

Hermansyah terdiam sebentar. "Status itu tentang Surya?"

Yuli mengangkat wajah dan menatap Hermansyah.

Beberapa detik berlalu sebelum Yuli akhirnya menjawab. "Iya."

Jawaban itu singkat, terlalu singkat.

Hermansyah mengangguk perlahan. "Masih sayang?"

Yuli menatapnya cukup lama. "Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Karena aku ingin tahu."

"Kamu ingin tahu sebagai apa?"

Pertanyaan itu membuat Hermansyah terdiam. Ia tidak memiliki jawaban yang cukup sederhana.

Sebagai teman? Sebagai seseorang yang menyukai Yuli? Atau sebagai laki-laki yang mulai takut kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar menjadi miliknya?

"Aku tidak tahu," jawab Hermansyah akhirnya.

Yuli tersenyum tipis. "Kalau begitu, jangan tanya sesuatu yang jawabannya mungkin akan membuatmu tidak nyaman."

Hermansyah menatap Yuli. "Jadi jawabannya iya?"

"Bukan begitu."

"Lalu?"

Yuli menghela napas. "Aku pernah sangat menyayangi Surya."

Hermansyah diam.

"Dan mungkin bagian dari diriku akan selalu mengingat apa yang pernah kami lalui," lanjut Yuli. "Tapi itu tidak berarti aku ingin kembali."

"Lalu kenapa masih sulit memaafkan?"

Yuli menundukkan kepala. Karena pertanyaan itu jauh lebih sulit. "Aku tidak tahu."

Hermansyah memperhatikan Yuli. Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang tidak pernah Yuli tunjukkan sebelumnya. Bukan kerinduan, melainkan kelelahan. Seperti seseorang yang sudah lama berjalan membawa sesuatu yang terlalu berat, tetapi tidak tahu di mana harus meletakkannya.

"Aku pernah berpikir," kata Yuli perlahan, "kalau seseorang pergi dari hidup kita, yang paling sulit adalah kehilangan orangnya."

Ia berhenti sejenak. "Ternyata bukan."

Hermansyah menunggu.

"Yang paling sulit adalah menerima bahwa kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi."

Angin sore bergerak melewati pepohonan.

Yuli menatap jauh ke depan. "Aku sudah menerima bahwa Surya bukan bagian dari hidupku sekarang. Aku juga sudah menerima bahwa hubungan itu memang berakhir. Aku tidak ingin mengulangnya."

"Lalu apa yang belum selesai?"

Yuli tersenyum getir. "Rasa sakitnya."

Hermansyah tidak mengatakan apa-apa.


"Aku belum bisa memaafkan semuanya," lanjut Yuli. "Bukan karena aku ingin dia kembali. Aku cuma belum bisa mengatakan kepada diriku sendiri bahwa semuanya sudah baik-baik saja."

Hermansyah mengangguk perlahan. Kini ia mulai memahami maksud status itu. Namun masih ada sesuatu yang mengganjal. "Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa?"

Yuli terdiam. Senyumnya menghilang. Ia menatap Hermansyah cukup lama sebelum menjawab. "Kalau aku bilang aku yang pergi, kamu akan percaya?"

Hermansyah mengerutkan kening. "Aku tidak tahu."

Yuli menghela napas. "Bagus."

"Kenapa?"

"Karena ceritanya tidak sesederhana itu."

Sebelum Hermansyah sempat bertanya lagi, ponsel Yuli bergetar. Satu pesan masuk. Yuli melihat layar, wajahnya berubah.

Hermansyah tidak sengaja melihat nama pengirimnya.

Surya.

Yuli tidak membuka pesan itu, ia hanya mematikan layar.

"Dia menghubungimu?"

"Iya."

"Apa katanya?"

Yuli memasukkan ponsel ke dalam tas. "Tidak penting."

Hermansyah terdiam. Jawaban itu terdengar begitu familiar. Dua hari lalu ia mengatakan hal yang sama kepada Fanny.

Tidak penting.

Tetapi sesuatu yang tidak penting tidak seharusnya membuat wajah seseorang berubah seperti itu.

Yuli berdiri. "Aku harus pulang."

Hermansyah ikut berdiri. "Yul."

Yuli berhenti.

"Kalau suatu hari nanti kamu sudah bisa memaafkan dia, apa yang akan terjadi?"

Yuli tersenyum samar. "Tidak ada."

"Tidak ada?"

"Aku akan tetap menjalani hidupku."

"Dengan Surya?"

Yuli menatap Hermansyah. "Tidak."

Jawaban itu seharusnya membuat Hermansyah lega. Namun Yuli melanjutkan, "Masalahnya bukan Surya."

Hermansyah terdiam.

Yuli berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata, "Masalahnya adalah aku."

Kemudian ia pergi.

Hermansyah berdiri sendirian di taman. Ia baru sadar bahwa sejak awal ia mencari jawaban yang salah. Ia mengira cerita Yuli adalah tentang seorang perempuan yang belum bisa melupakan seorang laki-laki. Ternyata mungkin bukan itu.

Malamnya, ketika Hermansyah bertemu Fanny, ia akhirnya menceritakan percakapan tersebut.

Fanny mendengarkan tanpa menyela. Setelah Hermansyah selesai, Fanny hanya berkata, "Sekarang kamu sudah tahu sebagian."

Hermansyah menatapnya. "Sebagian?"

Fanny mengangguk. "Belum semuanya."

"Apa yang belum aku tahu?"

Fanny terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata pelan, "Kenapa Surya pergi."

Hermansyah menunggu. Fanny menatapnya dengan wajah serius. "Dan yang lebih penting, kenapa Yuli membiarkannya pergi?"


***

Malam itu Hermansyah tidak langsung pulang. Kalimat Fanny terus terngiang-ngiang di kepalanya.

"Kenapa Surya pergi. Dan yang lebih penting, kenapa Yuli membiarkannya pergi."

Ada pertanyaan yang sejak awal tidak pernah ia pikirkan. Hermansyah selalu mengira seseorang meninggalkan Yuli. Sekarang ia mulai curiga bahwa mungkin justru Yuli yang memilih kehilangan seseorang.

Ponselnya bergetar, pesan dari Fanny.

"Kalau kamu benar-benar ingin tahu, besok sore datang ke tempat biasa."

Hermansyah membalas singkat.

"Kamu akan cerita?"

Balasan Fanny datang beberapa detik kemudian.

Bukan aku yang seharusnya cerita.

Esok sore, Hermansyah datang ke sebuah kedai yang dulu sering mereka datangi.

Fanny sudah menunggu, tetapi kali ini ia tidak sendirian, Surya duduk di seberangnya. Hermansyah berhenti beberapa langkah dari meja.

Surya berdiri. "Kamu Hermansyah?"

Hermansyah mengangguk.

"Surya."

Mereka berjabat tangan. Tidak ada permusuhan, tidak ada ketegangan seperti yang selama ini dibayangkan Hermansyah. Justru itu yang membuatnya semakin bingung.

"Duduk," kata Fanny.

Hermansyah menarik kursi.

Beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Surya akhirnya membuka percakapan. "Fanny bilang kamu ingin tahu tentang Yuli."

Hermansyah menatapnya. "Aku ingin memahami."

"Bedanya?"

"Aku tidak ingin salah memahami dia."

Surya tersenyum kecil. "Bagus." Ia menundukkan pandangan. "Karena dulu aku juga salah memahami dia."

Hermansyah menunggu.

Surya menarik napas panjang. "Yuli dan aku dulu akan menikah."

Kalimat itu membuat Hermansyah terdiam. Fanny tetap diam.

"Kami sudah merencanakannya," lanjut Surya.

"Lalu apa yang terjadi?"

Surya tidak segera menjawab. Ia memandang ke luar jendela. "Bapak Yuli sakit."

Hermansyah mengerutkan kening. "Sakit parah?"

Surya mengangguk. "Yuli berhenti bekerja untuk merawat bapaknya."

Ia berhenti sebentar. "Aku ingin membantu."

Hermansyah menatap Surya. "Dia menolak?"

"Bukan hanya menolak. Dia meminta aku menjauh."

"Kenapa?"

"Karena dia merasa kalau kami menikah saat itu, hidupku akan ikut hancur."

Hermansyah terdiam.

Surya melanjutkan, "Aku bilang aku siap. Aku bilang aku tidak peduli dengan keadaan itu. Aku bilang kami bisa menghadapinya bersama."

"Lalu?"

"Dia tetap menolak."

Surya tersenyum pahit. "Awalnya aku marah. Aku pikir dia tidak percaya kepadaku. Aku pikir dia mencari alasan untuk membatalkan pernikahan."


Hermansyah mulai memahami sesuatu.

"Padahal bukan itu."

"Bukan."

Surya menatap meja. "Beberapa hari sebelum kami berpisah, Yuli mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih aku ingat."

"Apa?"

Surya terdiam sejenak. "Dia bilang, 'Aku tidak mau kamu menghabiskan hidupmu untuk menyelamatkan sesuatu yang bukan tanggung jawabmu.'"

Hening. Hermansyah tidak tahu harus mengatakan apa.

Surya melanjutkan, "Aku tetap ingin bertahan. Tapi kemudian bapaknya Yuli meninggal."

Hermansyah menatap Surya. "Setelah itu?"

"Yuli benar-benar berubah."

"Bagaimana?"

"Dia merasa semua yang terjadi adalah kesalahannya."

Fanny akhirnya berbicara. "Yuli selalu berpikir kalau dia mengambil keputusan yang berbeda, semuanya akan berjalan berbeda."

Surya mengangguk. "Dia menyalahkan dirinya sendiri karena membuatku menunggu. Karena membatalkan pernikahan. Karena tidak memberi kesempatan kepadaku."

Hermansyah menatap keduanya. "Jadi kalian berpisah bukan karena ada orang lain?"

Surya menggeleng. "Tidak."

"Lalu kenapa dia sulit memaafkanmu?"

Surya tersenyum samar. "Karena aku pergi."

Hermansyah mengerutkan dahi. "Tapi tadi kamu bilang dia yang meminta kamu menjauh."

"Iya."

"Lalu?"

"Aku pergi karena dia memintanya."

Surya menghela napas. "Tapi setelah beberapa bulan, aku menikah."

Hermansyah terdiam. Untuk pertama kalinya, ia memahami luka yang selama ini tidak terlihat.

"Dengan orang lain?"

Surya mengangguk.

"Kenapa?" tanya Hermansyah.

"Aku pikir itu satu-satunya cara agar kami benar-benar bisa berhenti saling menunggu."

Hermansyah menatap Surya. "Dan kamu benar-benar bahagia?"

Surya tersenyum. "Sekarang iya."

Hermansyah menundukkan wajah. Ada sesuatu yang terasa ironis. Surya tidak meninggalkan Yuli karena berhenti mencintainya. Ia pergi karena Yuli memintanya pergi. Dan ketika akhirnya ia mencoba menjalani hidupnya, Yuli merasa ditinggalkan.

"Jadi," kata Hermansyah perlahan, "Yuli sebenarnya marah karena kamu menikah?"

Surya menggeleng. "Bukan."

"Lalu?"

"Dia marah kepada dirinya sendiri."

***

Malam itu, Hermansyah pergi menemui Yuli. Ia tidak memberi tahu bahwa ia sudah bertemu Surya. Yuli sedang duduk di teras rumah ketika Hermansyah datang.

"Kamu kenapa datang malam-malam begini?" tanya Yuli.

"Aku ingin bicara."

Yuli menggeser kursi di sebelahnya. "Duduklah."

Hermansyah duduk. Untuk beberapa saat, keduanya hanya mendengar suara kendaraan yang lewat.


"Aku bertemu Surya," kata Hermansyah.

Yuli menoleh.Tidak marah, tidak terkejut, hanya diam.

"Fanny yang mempertemukan kami."

Yuli menghela napas. "Akhirnya kamu tahu."

"Aku belum tahu semuanya."

"Memang tidak perlu."

"Kenapa?" tanya Hermansyah.

Yuli tersenyum kecil. "Karena itu masa lalu."

Hermansyah menatapnya. "Tapi kamu masih membicarakannya."

"Karena luka juga bagian dari masa lalu."

Jawaban itu membuat Hermansyah terdiam.

"Aku dulu berpikir," kata Yuli, "kalau Surya pergi, berarti dia tidak cukup mencintaiku."

Hermansyah tidak menyela.

"Bertahun-tahun aku menyimpan pikiran itu.'

Yuli menatap halaman. "Padahal aku yang meminta dia pergi."

Angin malam bergerak pelan.

"Aku yang mengatakan kepadanya bahwa kami tidak bisa bersama. Aku yang meminta dia berhenti menunggu. Aku yang mengatakan bahwa hidupnya tidak boleh berhenti karena aku."

Yuli tersenyum getir. "Tapi ketika dia benar-benar pergi, aku sakit."

Hermansyah menatapnya. "Karena kamu masih mencintainya?"

Yuli menggeleng perlahan. "Karena aku merasa kehilangan sesuatu yang sebenarnya aku sendiri yang lepaskan."

Hermansyah tidak mengatakan apa-apa.

Yuli melanjutkan, "Waktu Surya menikah, aku marah. Bukan kepadanya, tapi kepada diriku sendiri."

"Kenapa?"

"Karena sebagian diriku berharap dia tetap menungguku, meskipun aku yang memintanya pergi."

Hermansyah tersenyum tipis. "Itu manusiawi."

"Mungkin."

Yuli mengusap kedua tangannya. "Tapi aku tidak mau hidup dengan perasaan itu selamanya."

"Makanya kamu bilang masih belajar memaafkan?"

Yuli mengangguk. "Bukan hanya memaafkan Surya" Ia menatap Hermansyah. "Aku sedang belajar memaafkan diriku sendiri."

Hermansyah akhirnya memahami semuanya.

Status itu, percakapan mereka, kalimat tentang keikhlasan. Semuanya bukan tentang keinginan untuk kembali kepada Surya. Yuli hanya sedang berusaha berdamai dengan keputusan yang pernah dibuatnya.

"Sekarang kamu sudah tahu," kata Yuli.

Hermansyah tersenyum. "Iya."

"Kecewa?"

"Tidak."

"Takut?"

Hermansyah terdiam.

Yuli menatapnya. "Takut aku masih mencintai Surya?"

Hermansyah tersenyum kecil. "Mungkin."

Yuli ikut tersenyum. "Aku tidak."

Hermansyah menatapnya. "Sudah tidak?"

"Sudah lama tidak."

"Lalu kenapa ketika bertemu dia kamu terlihat sedih?"


Yuli menunduk. "Karena ada orang-orang yang tidak lagi kita cintai, tetapi tetap kita ingat."

Hermansyah mengangguk. "Dan itu tidak salah."

"Tidak."

Yuli menarik napas. "Yang salah adalah kalau kita membiarkan ingatan itu menentukan bagaimana kita menjalani hari ini."

Hermansyah tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu bertanya lagi.

***

Beberapa bulan berlalu. Hubungan Hermansyah dan Yuli tidak berubah secara drastis. Tidak ada pernyataan cinta yang tiba-tiba, tidak ada janji besar. Mereka hanya semakin sering bertemu, semakin sering berbicara. Dan perlahan, tanpa disadari, masa lalu tidak lagi menjadi topik yang harus mereka hindari.

Suatu sore, Hermansyah dan Yuli duduk di tempat yang sama ketika percakapan tentang Surya dulu terjadi.

Yuli membawa dua gelas kopi. Satu ia berikan kepada Hermansyah.

“Kamu masih ingat pertanyaanmu waktu itu?”

Hermansyah tersenyum. "Yang mana?"

"Yang tentang ikhlas."

"Masih."

Yuli menatap langit. "Sekarang aku sudah tahu jawabannya."

"Apa?"

Yuli tersenyum. "Dulu aku pikir ikhlas itu berarti tidak merasa sakit lagi."

Hermansyah mendengarkan.

"Ternyata bukan."

Yuli menatapnya. "Ikhlas itu ketika kita tidak lagi memaksa masa lalu untuk menjadi berbeda."

Hermansyah mengangguk.

"Dan memaafkan?" Yuli tersenyum. "Kadang orang yang paling sulit kita maafkan adalah diri sendiri."

Mereka terdiam. Tidak ada yang perlu ditambahkan. Beberapa hal memang tidak membutuhkan penjelasan panjang.

Malamnya, Yuli membuat sebuah status WhatsApp. Tidak ada kata-kata puitis, tidak ada kalimat yang membuat orang bertanya-tanya, hanya satu kalimat sederhana:

Alhamdulillah. Hari ini aku tidak lagi bertanya mengapa.

Hermansyah membaca status itu. Ia tersenyum dan kali ini ia tidak mengirim pesan. Tidak bertanya apakah Yuli sudah benar-benar ikhlas, tidak bertanya apakah status itu tentang seseorang. Ia sudah mengerti. Tidak semua cerita harus kembali kepada orang yang pernah pergi, tidak semua luka harus hilang untuk bisa dikatakan sembuh, dan tidak semua perpisahan adalah kegagalan.

Ada orang yang hadir untuk menemani kita, ada yang hadir untuk mengajarkan kita sesuatu, dan ada pula yang harus pergi agar kita akhirnya belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.

Hermansyah mematikan ponselnya. Di layar yang mulai gelap, ia sempat melihat pantulan wajahnya sendiri. Ia tersenyum. Mungkin selama ini ia juga salah memahami arti “lanjut”. Ketika dulu ia berkata kepada Yuli, "Oke, bisa dimengerti. Lanjut."

ia mengira sedang memintanya meneruskan cerita. Padahal tanpa mereka sadari, kalimat itu seperti sebuah pertanda. Bahwa setelah semua yang telah terjadi, mereka memang harus lanjut.

Bukan kembali ke masa lalu, bukan menghapusnya, tetapi menerimanya, lalu berjalan ke depan.




Tamat


Terima kasih telah membaca Ketika Ikhlas Belum Selesai. Ini adalah cerita bersambung bergenre: Drama Romantis, Metropop, Romance dan Slice of Life. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

  1. 🤣🤣 Si Yuli Terlalu Drama orangnya, Eeh tapi cerita ini peran si Yuli hampir sama kaya mantan Gue namanya Si Indah. Minta maaf ke gue tapi pas ketemu gue bawa cewek baru malah mewek bikin cerita aneh2 sama teman-temanya.😁😁

    Dan peran si Herman disini sama juga kaya si Yuli Drama dan melebai-lebai sesuatu.

    Harusnya si Herman itu sejak awal jadi penyembuh luka si Yuli, Malah drama sana dan sini.🤣🤣🤣

    Intinya si Herman tidak mendalami perasaan si Yuli. Seandainya si Yuli banyak yang suka si Herman keburu ketembak Belanda dah.😋🤣🤣🤣😆😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ngga ada dramanya kurang asyik, Mas.. wkwkwk

      Bukan ngga mendalami tapi masih ragu, dekati apa ngga.. wkwkwk

      Hapus

Posting Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Misteri Di Balik Kata Hmmm

Rasa Yang Telah Terbunuh

Simfoni Sunyi Di Ujung Mimpi

Adakah Pertemuan Di Cerita Kita? (Masih Ada Sedikit Harapan)

Dara, Gadis Dunia Maya