Lelah Dalam Diam

Lelah Dalam Diam




seorang pemuda yang sedang melamun untuk ilustrasi cerita Lelah Dalam Diam


Kipas angin industri di pojok ruangan berputar, mengeluarkan derit monoton yang beradu dengan suara ketukan keyboard milik Hermansyah. Di luar jendela kaca berukuran besar, langit Jakarta sore menjelang magrib tampak kelabu, menggantung berat di atas gedung-gedung tinggi.

Lantai empat di salah satu gedung itu adalah rumah bagi Divisi Pemasaran dan Administrasi PT Karya Wahana, sebuah perusahaan distributor logistik skala menengah. Di sinilah Hermansyah menghabiskan delapan jam sehari dalam hidupnya sebagai staf administrasi gudang dan data.

Hermansyah mengusap matanya yang perih. Jam di pojok kanan bawah layar komputernya menunjukkan pukul 18.05 WIB. Seharusnya jam kerja sudah berakhir sejak sejam yang lalu. Namun, Hermansyah tidak beranjak. Matanya melirik ke arah kubikel di sudut seberang, tempat Fani duduk. Fani adalah rekan kerja satu divisinya.

Hermansyah sudah lama jatuh hati pada perempuan itu. Bukan sekadar karena parasnya semata, melainkan karena ia melihat betapa tulus dan lelahnya Fani bertahan hidup di kota yang tak pernah ramah ini. Meski demikian, Hermansyah memilih menyimpannya rapat-rapat di balik sekat kubikelnya yang sempit.

"Belum pulang, Man?"

Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Syrief muncul dari dapur kecil sambil membawa mug berisi kopi hitam. Syarief adalah staf marketing lapangan yang paling hobi mangkir dari meja kalau sedang tidak ada klien, paling suka bergosip, tapi punya intuisi sangat tajam. Laki-laki itu bertubuh sedang, mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku dipadu celana bahan.

"Dikit lagi, Rief. Tanggung, rekap data pengiriman gudang belum sinkron sama nota," jawab Hermansyah pelan sambil kembali mengetik.

Syarief terkekeh pelan, lalu melirik ke arah meja Fani. Wajahnya berubah usil. Ia mendekatkan kursinya ke meja Hermansyah.

"Alah, data gudang mah alasan klasik. Bilang saja lu mau nungguin Fani pulang bareng, kan?" bisik Syarief, sengaja meledek.

Hermansyah menoleh cepat, merasa darahnya berdesir gugup. "Ngawur lu. Orang dia juga masih lembur ngurusin nota retur."

"Halah, sok ngeles," Syarief terkekeh sambil menyeruput kopinya yang nyaris dingin. "Tapi ya, Man... kalau lu naksir Fani, buruan dikasih kepastian. Jangan cuma diliatin dari kubikel lu yang kayak sarang burung itu. Keburu disamber Kamal, baru tau rasa lu."

Mendengar nama Kamal, rahang Hermansyah tanpa sadar mengeras.

Kamal adalah staf bagian operasional dari gudang logistik bawah, rekan kerja beda divisi yang fisiknya jauh lebih tinggi dan necis ketimbang Hermansyah. Kamal punya kebiasaan sering naik ke lantai empat dengan dalih koordinasi data, padahal tujuannya jelas: mendekati Fani. Dan berbeda dengan Hermansyah, Kamal lebih berani, sering melempar guyonan di dekat meja Fani hingga perempuan itu tertawa renyah.

Seolah mengonfirmasi pikiran Hermansyah, suara pintu lift terbuka di ujung lorong. Langkah kaki berat menghentak lantai. Seseorang dengan kemeja polo rapi dan jaket kulit muncul seraya menenteng dua gelas es kopi susu.

"Malam, Fani. Lembur mulu, muka jadi keriput lho," suara kamal terdengar lantang, sengaja dikeraskan agar seisi lantai empat mendengarnya.

Hermansyah melihat dari balik sekat kubikelnya. Fani mendongak, tersenyum kikuk sembari merapikan helaian rambutnya yang jatuh. "Iya nih, Mal, masih banyak yang belum beres."

Kamal langsung menarik kursi kosong di sebelah meja Fani, meletakkan salah satu gelas es kopi di atas meja perempuan itu tanpa diminta. "Nih, buat tenaga tambahan. Biar gak gampang masuk angin."


Syarief melirik Hermansyah, lalu berbisik sinis, "Tuh, liat gaya Kamal. Modal tebar pesona dan kopi mahal. Lu kapan mau gerak, Man? Dipendam terus kayak gitu, yang ada lu sendiri yang gila."

Hermansyah tidak menjawab. Ia kembali menatap layar komputernya, padahal jarinya sudah tidak bergerak mengetik apa-apa lagi. Di dalam dadanya, rasa sesak itu mulai merayap naik.

Dipendam membuat lelah, sementara diungkapkan takut menjadi drama. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya bagai benang kusut yang tak berujung.

***

Keesokan harinya, tepat pukul sembilan pagi, udara di lantai empat Divisi Pemasaran sudah berbau campuran tinta printer yang panas, keringat tipis dari tubuh-tubuh yang berdesakan menaiki tangga darurat karena lift sempat macet tadi pagi, dan aroma kopi saset yang diseduh di pojok ruangan.

Hermansyah berdiri di samping mesin fotokopi besar merek lama yang bodinya sudah menguning dan berdengung nyaring setiap kali tombol start ditekan. Ia sedang menunggu setumpuk lembar laporan stok bulanan selesai digandakan.

Di balik sekat partisi yang membatasi ruang fotokopi dengan area koridor kecil menuju toilet wanita, suara dua orang perempuan terdengar samar-samar namun cukup jelas. Itu suara Fani dan Rina.

"Fan, lu tuh ya, dideketin Kamal kok kayak ogah-ogahan tapi dinikmati juga," suara Rina terdengar berbisik usil, disusul suara kertas laporan yang dibolak-balik.

Fani mendesah pelan. "Bukan ogah-ogahan, Rin. Kamal itu... gimana ya. Terlalu berisik. Tiap ngobrol isinya pamer kerjaannya di bagian logistik bawah, terus suka sok tahu masalah divisi kita."

"Tapi dia perhatian, Fan! Tiap malam ngirim ojol, bawain kopi, sering ngajak pulang bareng naik motor sport-nya dia. Buat anak rantau kayak kita yang kos di gang sempit, cowok model Kamal tuh paket komplit buat pelarian dari capeknya hidup di Jakarta," cecar Rina.

Fani terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab. "Entahlah, Rin. Gue malah kadang ngerasa risih. Kayak ada udang di balik batu. Beda banget sama..."

Kalimat Fani menggantung. Rina langsung menyambar dengan nada menyelidik, "Sama siapa? Jangan bilang sama... ehem... Herman?"

Jantung Hermansyah di balik tembok partisi seketika berdegup kencang. Tangannya yang memegang tumpukan kertas laporan nyaris bergetar.

"Hish, apa sih lu!" suara Fani terdengar salah tingkah, meski ada nada geli di ujung kalimatnya. "Herman mah orangnya lempeng banget, Rin. Kayak rahib. Kerjanya cuma ngetik, merhatiin data, terus pulang. Ngomong seperlunya doang. Kalau di sebelah dia tuh rasanya adem, gak banyak drama, tapi ya... datar banget. Kayak gak punya gairah hidup."

Rina terkekeh renyah. "Nah, itu dia masalahnya, Fan. Cowok kayak Herman itu tipe aman buat dijadikan suami, tapi membosankan buat diajak pacaran masa muda. Padahal ya... gue sering perhatiin cara dia mandangin lu kalau lu lagi repot laporan. Matanya beda, Fan. Kayak orang yang siap pasang badan kalau lu kenapa-napa."

Hermansyah merasakan tenggorokannya kering seketika. Wajahnya terasa panas. Ia tidak menyangka Rina mengamati gerak-geriknya sejauh itu.

"Ah, lu mah suka ngaco kalau ngomong," balas Fani, suaranya terdengar merajuk menutupi salah tingkah. "Udah ah, fotokopian lu udah kelar tuh. Yuk balik ke kubikel, nanti keburu ditegur Pak Joko."


Mendengar langkah kaki yang mulai bergeser menjauh, Hermansyah buru-buru menyambar tumpukan kertas dan kembali ke kubikelnya. Sesampainya di meja, ia menjatuhkan diri ke kursinya yang berdecit. Ia menatap layar komputernya yang menampilkan excel penuh angka, tetapi pikirannya terpaku pada satu kalimat:

Datar banget. Kayak gak punya gairah hidup.

Kalimat itu menghantam harga dirinya. Selama ini ia mengira ketenangannya adalah bentuk perlindungan yang dewasa, namun di mata Fani, itu terbaca sebagai ketiadaan gairah. Ada dorongan besar yang mendadak meletup di dadanya untuk mendatangi meja Fani dan membuktikan perasaannya. Namun, akal sehatnya langsung menyiram air dingin. Bayangan gosip kantor, tawa Syarief, dan senyum sinis Kamal menahannya dalam sunyi.

***

Jam istirahat siang di lantai dasar gedung kantor selalu menjadi medan perang kecil. Kantin kantor yang berupa selasar beratap asbes dengan lima meja kayu tampak penuh sesak oleh suara piring berderik dan gelak tawa orang-orang yang melepas penat.

Di salah satu meja pojok dekat kipas angin dinding, Fani dan Rina sedang menunggu pesanan mi ayam. Tak lama kemudian, Syarief datang melenggang membawa piring nasi goreng porsi kuli, langsung menarik bangku plastik dan duduk tepat di sebelah Fani.

"Bau-bau gosip hangat nih dari lantai empat. Mumpung bos besar lagi dinas luar, kita santai dikit ya, Neng Fani," sapa Syarief usil.

Fani mendengus pelan sambil tersenyum geli. "Apaan sih, Rief? Kerjaan numpuk dibilang santai."

Belum sempat Syarief menjawab, sesosok tubuh dengan kemeja polo sudah berdiri di dekat meja mereka. Kamal datang membawa sepiring nasi padang lengkap dengan rendang dan segelas es teh manis, lalu meletakkan piringnya di sebelah Fani, menyisakan jarak yang sangat tipis.

"Boleh gabung, kan?" kata Kamal, meskipun matanya sejak detik pertama langsung tertuju pada Fani.

Syarief mendengus pelan, lalu berbisik cukup keras, "Tuh kan, pawang logistik bawah langsung hadir bawa ransum berat."

Rina tertawa tertahan. Wajah Fani merona merah.

Kamal yang merasa tersindir melirik Syarief tajam. "Kenapa, Rief? Sirik lu nggak dibawain rendang? Makanya, kalau kerja itu yang gesit, jangan cuma nongkrong di depan komputer mulu kayak Herman."

Mendengar namanya disebut dengan nada meremehkan, tangan Hermansyah yang sedang memegang sendok soto mendadak terhenti. Udara di sekitar meja itu terasa mendadak sesak.

Rina yang menangkap perubahan raut wajah Hermansyah langsung buru-buru memotong, "Eh, Mal, jangan remehin Herman ya. Walaupun dia nggak pernah traktir rendang mahal, Herman itu teliti. Nggak pernah salah input data, nggak kayak divisi lu kemarin yang laporan stoknya selisih banyak sampai kena amuk manajer."

"Mampus! Skakmat langsung sama Rina," tawa Syarief pecah.

Kamal tertawa canggung menutupi malu. Ia lalu menoleh ke arah Fani, melembutkan suaranya. "Ngomong-ngomong, Fan, nanti malam ada acara? Gue dapet dua tiket bioskop dari vendor. Daripada bete di kosan, mending jalan-jalan sebentar, nyari angin."

Semua mata di meja itu mendadak tertuju pada Fani. Perempuan itu tampak salah tingkah. "Emm... gimana ya, Mal. Kayaknya gue bakal lembur deh, laporan akhir bulan belum kelar."

"Lembur mulu tiap hari. Kapan hidup lu senangnya, Fan?" desak Kamal, nada suaranya mulai mendominasi.

Hermansyah menatap mangkuk sotonya yang kini sudah mendingin. Di dalam dadanya, rasa panas menjalar begitu cepat. Ia ingin sekali menyela ucapan Kamal, ingin berdiri dan mengatakan bahwa ia juga ada di sini, jauh lebih lama mengenal Fani dan lebih peduli pada letihnya.


Tapi bayangan-bayangan mengerikan kembali berkelebat. Jika ia bersuara sekarang, seluruh kantor akan tahu ia cemburu. Situasi ini akan berubah menjadi bahan gunjingan murahan yang memalukan.

Hermansyah mengangkat kepalanya, memaksakan seulas senyum tipis yang terasa hambar, lalu berkata pelan tanpa menatap siapa pun, "Silakan diterima undangannya, Fan. Kalau memang lu butuh refreshing."

Fani menoleh cepat, menatap mata Hermansyah dengan sorot yang sulit diartikan. Ada setitik kekecewaan yang terselip di balik lelahnya. Namun Hermansyah memilih kembali menunduk, pura-pura menghabiskan sotonya.

***

Jam di dinding menunjukkan pukul 20.30 WIB. Gedung PT Karya Wahana sudah hampir sepenuhnya kosong. Lampu-lampu sudah dipadamkan, hanya lampu koridor lantai empat dan ruang arsip yang masih menyala.

Ruang arsip itu adalah sebuah ruangan kecil tanpa jendela di sudut belakang divisi, dipenuhi rak-rak besi tinggi yang dijejali bendel map cokelat. Udaranya selalu terasa pengap, beraroma debu dan kertas tua.

Di sinilah Hermansyah dan Fani berada, terduduk di lantai beralaskan karpet tipis, dikelilingi tumpukan dokumen laporan keuangan yang harus disortir untuk audit besok pagi. Suasana begitu sunyi, hanya diisi dengung exhaust fan.

Fani menyandarkan punggungnya pada tiang rak besi, memejamkan mata sejenak dan memijat pelipisnya.

"Capek, ya?" suara Hermansyah pelan memecah keheningan.

Fani membuka matanya, menatap Hermansyah sendu. "Banget, Man. Rasanya kepala gue mau pecah. Kerja dari pagi sampai malam, kejar target, tapi rasanya kok hidup kayak jalan di tempat ya? Sementara ada orang di dekat gue yang tiap hari ada, tapi entah kenapa, rasanya tetap jauh banget."

Degup jantung Hermansyah melonjak liar. Kalimat itu bukan sekadar keluhan; itu adalah sebuah celah terbuka lebar yang menyiratkan harapan. Ada dorongan yang begitu kuat untuk meraih tangan Fani dan menumpahkan segala isi hatinya.

Hermansyah mengangkat tangannya, perlahan terulur ke depan, hendak menyentuh jemari perempuan itu.

Namun, tepat saat ujung jarinya nyaris bersentuhan, bayangan-bayangan mengerikan kembali melintas: cibiran anak-anak divisi lain, senyum sinis Kamal, dan raut wajah Fani yang berubah canggung lalu menjauh.

Jika ia bicara sekarang, semua ini akan hancur menjadi drama kantor yang memalukan.

Tangan Hermansyah yang tadinya terulur gemetar hebat. Dengan gerakan lambat yang penuh kepedihan, ia menarik kembali tangannya dan mengepal erat di atas lutut.

Fani, yang melihat tangan Hermansyah terhenti lalu ditarik kembali, perlahan menundukkan kepalanya. Ada binar kekecewaan yang amat dalam. Binar dari seseorang yang merasa pintunya baru saja diketuk, tapi kemudian ditutup kembali rapat-rapat dari dalam. Keheningan yang menyiksa kembali menyelimuti ruang arsip itu.

"Lu mau sampai kapan begini, Man?" suara Fani akhirnya memecah kebisuan, pelan namun bergetar.

Hermansyah tertegun. "Maksud lu... apa, Fan?"

"Begini terus. Duduk di kubikel yang sama, saling curi pandang, saling peduli lewat hal-hal kecil tapi nggak pernah berani melangkah lebih jauh. Lu kira gue nggak tau kalau selama ini lu merhatiin gue?" Fani menarik lututnya mendekat ke dada. "Gue capek dikelilingi orang-orang yang maunya cuma menuntut atau pamer kayak Kamal. Dan jujur... gue juga capek nungguin orang kayak lu yang punya seribu alasan buat terus bungkam."

Hermansyah menelan ludah yang terasa kering. "Bukan nggak mau melangkah, Fan... lu tau kondisi kita. Kalau kita nekat bikin hubungan, apa kata anak-anak divisi lain? Kantor ini bakal jadi panggung drama murahan buat kita berdua."


Fani menatap tajam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum menyayat hati. "Jadi, rasa takut jadi bahan gosip kantor jauh lebih besar daripada keberanian lu buat jujur sama perasaan lu sendiri?"

Pertanyaan itu menohok tepat di ulu hati Hermansyah.

"Kalau hubungan kita rusak... gue nggak bakal punya alasan lagi buat datang ke kantor tiap pagi, Fan," suara Hermansyah melemah, sarat keputusasaan. "Buat gue, bisa melihat lu dari dekat tanpa kehilangan lu sepenuhnya... itu satu-satunya cara gue bertahan hidup di kota sialan ini."

Fani perlahan melonggarkan pelukan di lututnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya pelan-pelan. Kemarahan di matanya surut, menyisakan kelelahan yang teramat sangat.

"Mungkin kita memang penakut, ya?" suara Fani berubah sangat lirih. Ia berdiri perlahan, meraih tas kanvasnya. "Jam sembilan malam, Man. KRL terakhir sebentar lagi berangkat."

Di ambang pintu, langkah Fani terhenti sejenak tanpa membalikkan badan. "Besok pagi, saat kita kembali duduk di kubikel masing-masing... semuanya bakal tetap sama, kan?"

Hermansyah terdiam kaku di lantai. Tenggorokannya kelu. Ia ingin berlari menyusul, namun ketakutan akan realitas menahan kakinya di tempat.

Tanpa menunggu jawaban, Fani melangkah keluar. Suara pantofelnya berketukan pelan di lantai lorong, semakin menjauh, lalu hilang ditelan suara lift yang berdenging turun.

Hermansyah sendirian di ruang arsip. Ia perlahan menyandarkan punggungnya pada rak besi. Ia tidak mengejarnya. Ia tidak mengatakan apa-apa.

Di luar jendela, rintik hujan malam mulai turun membasahi kota Jakarta, menghapus suara-suara bising dunia di luar sana, meninggalkan Hermansyah bersama kesunyian dan keputusannya sendiri yang memilih untuk tetap lelah dalam diam, demi menghindari badai drama yang tak pernah ia sanggup tanggung risikonya.




Tamat


Terima kasih telah membaca Lelah Dalam Diam. Ini adalah cerita pendek potongan kehidupan (Slice of Life) dengan bumbu drama romantis dan bergaya metropop mengusung genre: new adult fiction dan romance. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Makhluk Manis Dalam Lift

O.D.O.P

Dara, Gadis Dunia Maya

Di Saat Turun Hujan

Rasa Yang Telah Terbunuh