Jeda Setelah Luka (#2) - Cerbung
Jeda Setelah Luka (#2) - Cerbung

Tiga hari setelah tiga pesan yang masuk malam itu, Rina memutuskan untuk menuruti ajakan yang paling ringan dulu: dari Gilang. Ia tidak ingin tekanan, tidak ingin beban, tidak ingin hal yang terasa seperti keputusan hidup. Gilang menawarkan sesuatu yang sederhana: jalan sore di taman.
Sore itu langit cerah. Rini berlari-lari kecil, sementara Rina duduk di bangku taman mencoba menikmati angin, meski masih sedikit gugup.
Tak lama, Gilang datang dengan motor matiknya, memakai jaket denim dan membawa dua es krim. Ia melambaikan tangan dari jauh. "Mbak Rina! Rini!"
Rini langsung menyambut, "Om Gilang bawa es krim?"
Gilang tertawa lebar. "Bawain buat calon anak saya, dong."
Rina memutar bola matanya. "Calon? Siapa yang setuju?"
Gilang duduk di sampingnya dengan santai. "Bercanda, tenang aja. Saya belum kampanye, kok."
Rina terpaksa ikut tertawa. Entah kenapa, energi Gilang selalu ringan. Tidak memaksa, tidak menekan. Sesuatu yang Rina butuhkan setelah lama merasa sesak.
Mereka mengobrol lama. Tentang pekerjaan, keluarga, bahkan tentang asmara. Dan yang mengejutkan, di balik sikap santai Gilang ternyata ada kedewasaan yang tidak disangka Rina.
"Mbak... saya bukan cuma mau kenal. Saya tertarik sama Mbak, tapi saya nggak mau terburu-buru," kata Gilang pelan ketika Rini sedang bermain agak jauh.
Rina menoleh, sedikit waspada. "Kamu tuh muda, Lang. Banyak pilihan. Ngapain repot sama janda anak satu?"
Gilang tersenyum, tapi kali ini tidak ada candaan. "Mbak pikir saya nggak tahu risiko? Atau Mbak pikir saya main-main?" Ia menatap lurus ke mata Rina.
Rina terdiam, tak mampu membalas tatapan penuh arti itu.
"Saya tahu hidup Mbak nggak mudah," lanjut Gilang. "Tapi justru itu yang bikin saya tertarik. Mbak kuat, mandiri, sayang banget sama Rini. Saya suka itu."
Suara Rina tercekat sedikit, seolah ada ganjalan di tenggorokannya. "Tapi kamu bilang sendiri... kamu baru pindah. Kamu sedang cari tempat."
Gilang mengangguk. "Iya. Dan saya nemu tempat yang pas."
"Di mana?" tanya Rina pelan.
Gilang menatapnya, lembut namun penuh keyakinan."Di hidup Mbak."
Rina menahan napas. Kata-kata itu sederhana, tapi masuk terlalu dalam.
Beberapa hari setelah itu, hubungan Rina dan Gilang semakin dekat. Mereka belum berpacaran, tapi jelas ada arah. Rini semakin nyaman dengan Gilang yang sering mengajaknya bermain, menggambar, atau sekadar minum es teh di warung dekat taman. Namun, Sardi dan Haris masih sering menghubunginya. Tidak agresif, tapi jelas mereka masih berharap.
Suatu siang, Haris datang ke rumah membawa kue untuk Rini.Ketika hendak pulang, ia berdiri di ambang pintu dan melihat Gilang baru saja memarkir motornya sambil membawa kantong belanjaan. Suasana berubah canggung dalam hitungan detik.
Baca juga: Bukan Cinta Yang Sama
Haris mengangkat alis. "Oh… kamu ke sini juga?"
Gilang tersenyum ramah. "Iya, saya bawain buah. Rini kemarin flu ringan."
Haris menatap Rina. "Saya nggak tahu kalau… ada tamu lain."
Rina merasa tidak enak, ketegangan ini adalah hal yang paling ia hindari. "Haris, makasih sudah mampir. Tapi… nanti kita kontak lagi, ya?"
Haris mengangguk, tapi jelas ia kecewa.Dan saat berjalan pergi, ia sempat menatap Gilang dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Ketika udara kembali tenang, Gilang menyerahkan kantong buah ke Rina. Matanya memancarkan rasa bersalah. "Maaf, Mbak... kalau jadi nggak enak."
Rina menggeleng. "Bukan salah kamu. Ini hidupku. Rumit dari sananya."
Gilang menatapnya penuh perhatian, tangannya menyentuh lembut bahu Rina. "Mbak. Mbak nggak harus pilih sekarang. Tapi biarkan saya ada di sini. Kalau nanti Mbak rasa saya salah, saya pergi. Tapi kalau saya benar..."
Gilang berhenti, ia menatap Rina lebih dalam."Saya akan tinggal."
Kata-kata itu membuat dada Rina terasa hangat sekaligus takut.
**********
Menghabiskan waktu dengan Gilang memang menyenangkan, namun anehnya, setelah Gilang pulang, pikiran Rina justru sering kembali pada Haris. Ia tidak bisa melupakan ekspresi kecewa di wajah Haris saat melihat Gilang di rumahnya waktu itu. Meski Gilang jauh lebih asyik diajak bicara, ada sesuatu dari ketenangan Haris yang membuatnya merasa penasaran. Sebuah misteri yang seolah memanggilnya untuk memahami pria itu lebih jauh.
Hari itu, Rina bertemu Haris lagi di sekolah Rini. Caca, keponakan Haris, menarik Rini untuk bermain ayunan, meninggalkan mereka berdua di bangku kayu tepi taman sekolah. Haris duduk diam, menatap kedua anak itu sambil memainkan cincin hitam di jari manisnya, cincin yang sudah lama berusaha ia lupakan.
Rina akhirnya bertanya pelan, "Haris... kamu kayaknya lelah banget. Kenapa?"
Haris tersenyum tipis, matanya masih tertuju pada anak-anak di depan mereka. "Kamu peka juga, ya."
"Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa," jawab Rina lembut. "Aku cuma… peduli."
Butuh beberapa detik dan satu helaan napas panjang sebelum Haris akhirnya menyahut, "Aku belum selesai dengan masa laluku. Itu sebabnya."
Rina tidak memaksa. Ia hanya menunggu hingga akhirnya Haris membuka pintu yang selama ini ia tutup rapat.
"Aku pernah hampir menikah," katanya lirih. "Hampir... tapi gagal."
Rina menahan napas, terkejut.
"Dia pergi. Bukan karena aku, bukan karena orang ketiga... tapi karena keadaan yang nggak pernah bisa aku kendalikan...."
Haris berdiri menghampiri Caca yang memanggilnya. Percakapan itu menggantung di udara, menyisakan tanya yang besar di hati Rina saat mereka berpamitan hari itu.
Baca juga: Langkah Pertama, Memaafkan
**********
Minggu-minggu setelah pengakuan singkat di sekolah itu, hubungan Rina dan Haris justru berkembang dalam keheningan yang lembut. Tanpa banyak kata, tanpa ada janji, tanpa ada pernyataan cinta. Namun, ada rasa yang pelan-pelan tumbuh di antara ruang kosong di hati mereka.
Kedekatan itu pun mulai bergeser ke teras rumah. Haris lebih sering mampir, entah untuk mengantar buku sekolah Rini yang tertinggal di tas Caca, atau sekadar memastikan Rina sampai di rumah dengan aman.
Suatu sore, hujan turun sangat deras tepat saat Haris hendak pamit pulang. Rina menawarkan Haris untuk masuk dan menunggu hujan reda di dalam rumah saja, namun Haris menolak dengan halus. Akhirnya mereka duduk di kursi kayu di teras, terjebak bersama oleh dinding hujan yang menghalangi langkah siapa pun untuk pergi.
"Nggak apa-apa kamu terlambat pulang?" tanya Rina cemas.
Haris menggeleng. "Caca bersama orang rumah. Yang penting aku memastikan kamu dan Rini aman dulu."
Hening sejenak. Namun, jantung Rina justru berdetak lebih cepat.
"Haris..." "Iya?" "Kamu baik banget."
Haris hanya tersenyum. "Aku nggak tahu itu baik atau hanya refleks."
"Tapi kenapa ke aku?" tanya Rina tanpa sadar.
Haris menatapnya lama. "Karena kamu membuatku ingin mencoba lagi, Rina. Tapi aku butuh waktu."
Rina tertegun, menyadari bahwa "masa lalu" yang Haris katakan tempo hari masih menjadi tembok besar di antara mereka.
Beberapa hari setelah sore yang basah itu, Haris mengundang Rina ke taman kecil di dekat sekolah. Sore itu sepi, angin lembut berembus, dan aroma tanah basah sisa hujan siang tadi masih memenuhi udara.
Haris tampak resah, jarang sekali ia terlihat setegang itu. Rina tahu, ini adalah kelanjutan dari cerita yang terputus di sekolah waktu itu.
"Rina..." ucapnya dengan suara pelan dan berat, "Aku harus jujur sama kamu. Sepenuhnya. Tentang masa laluku."
Rina duduk perlahan di sampingnya. "Aku siap mendengar, tapi kamu nggak perlu memaksakan diri."
Haris menggeleng. "Aku harus mengatakannya… karena kalau nggak, aku merasa nggak pantas melangkah lebih jauh sama kamu."
Haris menelan ludah, menarik napas panjang, lalu akhirnya berucap, "Kekasihku… bukan pergi, Rin. Dia… meninggal."
Rina terdiam. Informasi ini jauh lebih menyesakkan daripada sekadar "gagal menikah" yang ia dengar sebelumnya.
Haris menatap tanah, jari-jarinya menggenggam ujung bangku hingga memutih.
"Aku bilang ke orang-orang dia pergi agar aku nggak perlu menjelaskan apa pun. Agar aku nggak perlu mengingat hari itu lagi." Suara Haris bergetar. "Tapi kamu perlu tahu yang sebenarnya."
Rina tidak menyela. Ia hanya menunggu.
"Namanya Sinta," lanjut Haris. "Kami sudah bertunangan. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Semuanya hampir siap." Ia tersenyum pahit, "Aku pikir hidupku sudah lengkap."
Baca juga: Malam Terakhir Mereka
Lalu napasnya tersangkut.
"Sinta meninggal dalam kecelakaan. Dia sedang dalam perjalanan menjemputku karena aku… memintanya datang lebih cepat." Suaranya pecah sedikit, "Kalau saja aku tidak menyuruhnya datang hari itu... mungkin dia masih hidup."
Rina merasakan dadanya ikut sesak tanpa sadar air matanya menetes. Haris menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Aku nggak pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Makanya aku bilang aku takut memulai lagi… aku takut membuat seseorang terluka karena aku lagi." Ia akhirnya menatap Rina dengan mata yang memendam rasa bersalah selama bertahun-tahun, "Dan saat aku mulai merasa nyaman bersamamu… aku justru semakin takut."
Rina mengusap air matanya, lalu memutuskan untuk bersuara.
"Haris... kamu nggak membunuh siapa pun."
Haris menggeleng cepat. "Aku pemicunya. Kalau saja aku nggak egois..."
"Berhenti," Rina memotong. Ia memegang tangan Haris yang bergetar. "Dengar aku."
Haris menatapnya dengan mata merah penuh luka lama.
"Kejadian itu di luar kendalimu," kata Rina. "Kamu hanya memintanya datang. Kamu nggak mungkin tahu apa yang akan terjadi di jalan."
"Tapi..."
"Haris," Rina menggenggam tangan Haris lebih erat. "Kamu tidak bertanggung jawab atas takdir seseorang hanya karena kamu mencintainya dan ingin bertemu dengannya."
Haris terdiam. Air mata jatuh perlahan dari sudut matanya. Rina menghapusnya dengan ibu jarinya.
"Aku... takut kehilangan lagi, Rin," ucap Haris dengan suara lirih, hampir tak terdengar. "Aku takut suatu hari kalau aku benar-benar sayang sama kamu... aku akan membuatmu menderita."
Rina tersenyum kecil, sebuah senyuman dengan ketenangan yang menguatkan.
"Maka biarkan aku mengatakan sesuatu..." Rina mendekat sedikit. "Aku bukan Sinta. Dan kamu bukan laki-laki yang sama seperti dulu."
Haris tertegun.
"Aku seorang ibu. Aku pernah kehilangan. Aku pernah gagal. Aku pernah takut akan banyak hal... tapi aku tetap hidup." Rina menatap mata Haris dalam-dalam, "Dan kamu juga berhak untuk hidup lagi, Ris. Berhak mencintai lagi. Berhak bahagia lagi."
Butuh waktu sebelum Haris akhirnya bereaksi. Namun, ketika ia mengangguk pelan dan balas meraih tangan Rina, Rina tahu satu hal. Ini untuk pertama kalinya sejak kehilangan itu, Haris benar-benar mencoba untuk memulai kembali.
Di taman kecil itu, di bawah langit senja yang menguning, dua orang yang sama-sama pernah terluka itu memulai perjalanan penyembuhan. Bersama-sama. Perlahan. Dan kali ini, mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh
Tamat
Part sebelumnya: Jeda Setelah Luka (#1)
senasib sepertinya....😁
BalasHapusMungkin.. wkwkwk
HapusTerus si Gilang Gimana? Apa dua-duanya aja kali yee biar si Rina puas.😁😁
BalasHapusSi Gilang melarikan kayaknya.. wkwkwk
Hapusmantep banget ceritanya
BalasHapuskompleks
jadiin ftv mas pasti rame
Oke, nanti saya coba cari produsernya.. hihihi
HapusLho kok tamat mas, kan belum tahu siapa yang dipilih Rina. Belum lagi tokoh ketiga yaitu Satriani eh Sardi. Seperti part 3 cerita Rina dan Satriani eh Sardi ya. Sorry keceplosan terus.😁
BalasHapusUdah kehabisan ide, jadinya dibuat tamat aja.. wkwkwk.. udah napa jangan protes terus.. wkwkwk
BalasHapus