Pamit Yang Tak Terdengar - Cerpen

Pamit Yang Tak Terdengar - Cerpen




pamit yang tak terdengar - cerpen


Rumah itu seharusnya hangat. Setidaknya itulah yang diingat Dirga saat ia bersama Firda, istrinya, pertama kali menandatangani kontrak sewa enam bulan lalu. Rumah bergaya kolonial minimalis di pinggiran kota itu punya jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menyentuh permukaan meja kayu di dapur. Namun, belakangan ini, matahari seolah enggan singgah. Rumah itu selalu terasa seperti pukul lima sore: remang, lembap, dan dingin.

Dirga duduk di kursi ruang tamu, memperhatikan Firda yang sedang melamun di sofa depan. Istrinya itu terlihat kacau. Lingkaran hitam di bawah matanya mencekung, rambutnya yang biasa tergerai rapi kini diikat asal-asalan. Sudah seminggu ini Firda bersikap aneh. Ia jarang bicara, sering menangis tiba-tiba, dan yang paling membuat Dirga sakit hati, Firda seolah-olah tidak menganggapnya ada di sana.

"Fir," panggil Dirga lembut. Suaranya serak, mungkin karena cuaca yang belakangan ini buruk.

Firda tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan taman depan yang tak terurus.

"Aku tahu aku salah karena sering pulang telat bulan lalu, tapi tolong jangan begini. Bicara padaku!" bujuk Dirga. Ia bangkit dan mencoba duduk di samping istrinya. Namun, saat ia mendarat di sofa, Dirga tidak merasakan pegas sofa itu amblas. Ia merasa ringan, seolah-olah berat badannya hilang ditelan udara.

Firda tiba-tiba berjengit. Ia merapatkan sweter rajutnya, lengannya mendekap tubuh sendiri dengan erat. "Kenapa dingin sekali, ya?" bisik Firda lirih. Suaranya gemetar.

Dirga menghela napas. Frustrasi. Ia berdiri dan berjalan ke arah sakelar lampu teras. "Mungkin karena lampu teras mati lagi. Aku akan menyalakannya."

Dirga menekan sakelar itu. Klik. Tidak ada cahaya yang muncul di luar. Dirga mencobanya berkali-kali. Klik, klik, klik, namun tetap sama. Di luar tetap gelap gulita.

"Sial," umpat Dirga. "Padahal baru kemarin aku ganti bola lampunya."

Dirga berbalik dan melihat Firda menutup telinganya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi. "Hentikan... tolong berhenti," jerit Firda.

Dirga tertegun. Apakah suara sakelar itu begitu mengganggu bagi Firda? Sejak kapan istrinya menjadi sesensitif ini terhadap suara kecil?

Dirga mencoba mencairkan suasana dengan melakukan hal yang paling disukai Firda: membuatkan kopi susu dengan sedikit kayu manis. Di dapur, Dirga sibuk mencari stoples kopi. Anehnya, ia merasa tangannya begitu cekatan, namun ia tidak mendengar denting sendok yang beradu dengan cangkir. Semuanya sunyi, sesunyi ruang hampa udara.

Dirga membawa cangkir itu ke meja makan. Setidaknya di matanya cangkir itu berisi cairan berwarna cokelat beraroma manis. "Minum ini, Sayang, biar kepalamu tidak pening lagi," ujar Dirga sambil meletakkan cangkir itu di hadapan Firda.

Namun, sebelum Firda sempat bereaksi pada cangkir itu, pintu depan terbuka. Suasana rumah mendadak terasa sesak, padahal hanya ada tambahan dua orang yang masuk: Dina, adik Firda, dan Andi, sahabat baik Dirga sejak SMA.


Dirga berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan Firda yang kini duduk di meja makan bersama mereka. Kehadiran mereka membuat Dirga merasa semakin terasing di rumahnya sendiri.

"Firda, kamu harus makan. Sedikit saja. Ini bubur ayam kesukaanmu, aku beli di depan kompleks tadi," ucap Andi lembut sambil menggeser mangkuk plastik ke hadapan Firda, tepat di samping cangkir kopi buatan Dirga yang mulai memudar.

Dirga mendengus, ia melipat tangan di dada. "Ndi, dia tidak suka bubur yang terlalu banyak seledrinya. Kamu lupa?" Dirga mendekat, mencoba meraih mangkuk itu untuk menyingkirkan taburan seledrinya. Namun, tangannya hanya melewati pinggiran mangkuk seolah-olah benda itu terbuat dari asap.

Firda tidak menyentuh makanan itu. Ia hanya menatap kosong ke arah kursi kosong di ujung meja, kursi yang biasanya diduduki Dirga.

"Dia masih belum mau bicara, Kak?" tanya Dina pada Andi dengan nada berbisik.

"Belum. Sejak kejadian malam itu, dia lebih banyak melamun. Kadang dia bicara sendiri, seolah-olah Dirga masih duduk di sana," jawab Andi pelan.

Dirga tertawa hambar. "Bicara sendiri? Aku di sini, Ndi! Aku sedang melihatmu mengoceh tidak jelas!" Dirga berteriak, tapi suaranya hanya memantul di kepalanya sendiri.

Dina menghela napas panjang. Ia bangkit dan berjalan menuju rak buku di sudut ruangan. "Aku heran, kenapa lampu teras sering sekali mati-nyala sendiri? Aku sudah panggil tukang listrik kemarin, katanya kabelnya tidak ada yang bermasalah."

"Mungkin rumah ini butuh suasana baru," sahut Andi. "Firda sering bilang dia merasa ada hawa dingin yang mengikutinya setiap kali dia masuk ke kamar mandi atau dapur."

Dirga tersinggung. "Hawa dingin? Andi, itu cuma masalah sirkulasi udara karena rumah ini rumah tua! Bukan karena hal janggal!"

Dirga berjalan menghampiri Firda, berjongkok di samping kursinya, dan mencoba memegang jemari istrinya. "Fir, jangan dengarkan mereka. Mereka cuma menakut-nakutimu. Lihat aku, Fir. Aku sehat, aku di sini. Kita cuma perlu liburan sebentar."

Firda tiba-tiba tersentak. Bahunya bergetar. "Dina... Andi... apa kalian mencium bau melati?"

Dina dan Andi saling berpandangan. Wajah mereka mendadak tegang. "Tidak, Kak. Mungkin itu pengharum ruangan yang baru kupasang tadi pagi," dusta Dina, meski tangannya tampak gemetar.

"Bukan," jerit Firda. "Ini bau parfum Dirga. Dia selalu memakai parfum itu kalau kita mau pergi kencan. Dia di sini... aku tahu dia di sini, tapi kenapa dia tidak mau menyapaku?"

Dirga terpaku. "Aku menyapamu setiap detik, Fir! Kenapa kalian semua bersikap seolah aku ini tak terlihat?"

Suasana semakin mencekam saat Andi mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna cokelat dari tasnya. "Fir, ini berkas-berkas yang diminta pihak asuransi. Mereka butuh tanda tanganmu untuk pencairan dana... untuk biaya pemakaman dan cicilan sewa rumah yang tersisa."

Dirga terbelalak. "Pemakaman siapa? Ndi, jangan bercanda! Siapa yang mati?"


Dirga mencoba merebut amplop itu dari tangan Andi. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, membayangkan tangannya sekeras batu. Amplop itu tidak bergerak, tapi gelas air minum di sampingnya tiba-tiba bergeser dan jatuh ke lantai. Prang!

Firda menjerit kecil. Dina langsung memeluk kakaknya.

"Sudah, Fir! Sudah!" Andi berdiri, suaranya meninggi karena takut. "Dirga sudah tenang di sana. Kamu jangan terus-menerus memanggilnya dengan kesedihanmu. Lihat, gelas itu jatuh sendiri! Kamu membuat arwahnya tidak tenang!"

"Arwah?" Dirga mundur selangkah. Jantungnya terasa diremas. "Apa yang kamu katakan, Ndi? Aku berdiri di depanmu!"

Dirga mencoba berteriak lagi, tetapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Tiba-tiba, rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung jari kakinya. Ia mencoba memegang sandaran kursi untuk menahan tubuhnya yang limbung, tetapi tangannya justru menembus kayu itu seolah-olah ia hanya terbuat dari asap. Ia tidak merasakan tekstur kayu, tidak merasakan beban tubuhnya sendiri.

Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai muncul. Bukan takut pada Andi atau Dina ataupun pada hantu, melainkan takut pada dirinya sendiri. Dengan napas memburu, Dirga berbalik dan berlari menuju kamar. Ia butuh kepastian. Ia harus melihat wajahnya sendiri untuk membuktikan bahwa ia masih ada di sana.

Selama seminggu ini, Dirga selalu menghindari cermin. Ia merasa wajahnya terlihat terlalu lelah. Tapi malam ini, ia memberanikan diri berdiri di depannya.

Kosong.

Tidak ada pantulan pria berusia 28 tahun di sana. Yang ada hanya bayangan sebuah kalender yang tergantung di dinding seberang. Dirga membalikkan badan dengan cepat. Matanya terpaku pada kalender itu, ada lingkaran merah tepat di tanggal hari ini. Di bawahnya, ada tulisan tangan Firda: "40 Hari Kepergian Dirga. Tahlilan pukul 19.00."

Dunia Dirga seolah runtuh. Ingatannya yang selama ini terpecah mulai menyatu. Ia ingat aspal yang licin setelah hujan sore itu. Ia ingat memacu motornya sedikit lebih cepat, mengejar waktu agar martabak manis yang tergantung di pengait kemudi tidak keburu dingin saat tiba di rumah. Jaketnya yang lembap menempel di kulit, dan kaca helmnya sedikit berembun oleh napasnya sendiri.

Lalu, cahaya menyilaukan datang dari arah berlawanan. Sebuah truk kehilangan kendali di tikungan. Dirga ingat ia menarik tuas rem sekuat tenaga, namun ban motornya selip di atas genangan air. Ia merasakan detik-detik saat tubuhnya terlempar, menghantam aspal yang keras, sebelum suara logam yang beradu dengan logam menulikan telinganya.

Hal terakhir yang ia lihat bukanlah jalanan, melainkan langit malam yang kelam dan butiran hujan yang jatuh di kaca helm yang retak. Lalu, keheningan yang panjang.

"Tidak... tidak mungkin," gumam Dirga. Suaranya bergetar. Kini ia paham mengapa pundaknya selalu terasa kaku dan dadanya terasa sesak. Itu bukan karena udara dingin, melainkan sisa trauma dari benturan yang merenggut napas terakhirnya malam itu.


Dirga melihat ke arah pintu kamar yang kini telah dikunci oleh Firda yang baru saja berlari masuk. Ia menyandarkan kepalanya ke kayu pintu. Secara ajaib, kepalanya menembus kayu itu.

Di dalam kamar, Firda mendekap foto pernikahan mereka. Di atas tempat tidur, berserakan buku yasin dengan nama Dirga Anggara terukir dengan tinta emas di sampulnya.

Firda menangis sesenggukan. "Dirga... kalau kamu memang masih di sini, tolong lepaskan aku. Aku takut. Aku tidak bisa hidup kalau terus merasa kamu menarikku ke kegelapanmu. Aku mencintaimu, tapi aku ingin hidup..."

Dirga terkesiap. Selama ini, ia mengira ia sedang menemani Firda yang berduka. Namun ternyata, kehadirannya adalah beban. Bau melati yang Firda cium adalah bunga tabur dari pemakamannya. Lampu teras yang selalu padam bukan karena bola lampunya rusak, tapi karena setiap kali Dirga mencoba menyalakannya, ia justru menyerap energi kehidupan di rumah itu, menciptakan suasana mencekam bagi Firda.

Ia adalah hantu yang ia takuti selama ini.

Dirga mendekati Firda. Ia tidak lagi mencoba memegang bahunya. Ia hanya berdiri, menatap wanita yang sangat ia cintai itu untuk terakhir kalinya.

"Maafkan aku, Fir," bisik Dirga. Kali ini, ia tidak mencoba memaksa suaranya terdengar. Ia membiarkan kata-kata itu menjadi doa. "Aku tidak tahu kalau aku sudah pergi. Aku hanya tidak ingin meninggalkanmu sendirian."

Dirga berjalan perlahan menuju teras depan. Ia melihat sakelar lampu itu lagi. Untuk terakhir kalinya, ia menyentuhnya. Bukan dengan amarah atau keinginan untuk mengontrol, tapi dengan niat untuk memberi salam perpisahan.

Klik.

Lampu teras itu menyala. Terang benderang. Menyinari taman depan yang gelap. Di dalam kamar, Firda berhenti menangis. Ia merasakan hawa dingin yang selama ini mencekiknya perlahan menghangat. Ia berjalan ke jendela, melihat lampu teras yang menyala stabil, dan entah mengapa, ia tersenyum tipis sambil membisikkan kata, "Selamat jalan Dirga."

Dirga berdiri di teras. Cahaya lampu menyinari ubin semen yang lembap. Ia tidak lagi melihat bayangannya, tapi kali ini ia tidak takut. Dirga membalikkan badan, menatap pintu kayu jati yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, ia bisa mendengar suara rendah Andi dan Dina yang sedang membereskan pecahan gelas di dapur. Suasana rumah tidak lagi terasa mencekam, hanya ada kesedihan yang tenang.

"Terima kasih, Ndi, sudah menjaganya," bisik Dirga. Suaranya kini hanya seperti desau angin yang lewat di sela ventilasi.

Dirga merasakan tarikan yang lembut dari arah jalan raya. Ia mulai berjalan menjauh, melewati pagar besi yang catnya mengelupas. Setiap langkah terasa semakin ringan, seolah beban berat yang selama seminggu ini menghimpit pundaknya telah menguap. Di ujung jalan, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah jendela kamar. Di sana, Firda sedang menyentuh kaca, menatap tepat ke titik di mana Dirga berdiri.

"Aku pergi, Fir," gumam Dirga untuk terakhir kalinya.

Sosok Dirga perlahan memudar, menyatu dengan kegelapan malam hingga hilang sepenuhnya. Kursi taman kini benar-benar kosong. Lampu teras tetap menyala stabil, memberikan cahaya bagi Firda untuk melihat jalan di depannya yang kini harus ia tempuh sendirian, namun tidak lagi dalam ketakutan.

Dirga tidak lagi menghantui. Ia kini telah menjadi kenangan yang beristirahat




Tamat

Komentar

  1. dirga ga nyadar kalo dia udah mati, yang nyebapin dia meneror istrinya sendiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin si Dirga kurang tidur makanya jadi linglung.. wkwkwk

      Hapus
  2. Arwah yang Berbaur dengan manusia.. Tanpa sadar kalau ia telah metong.😁😊

    Jadi inget teman sekolah waktu di Stm.. Jatuh dari kereta terus meninggal seminggu kemudian semua teman2 yang hobinya melamun atau menyendiri sering dirasukin sama dia... Untung gue nggak cuma diajak ngobrol doang, sewaktu teman lainnya ada yang kerasukan dirinya.😁😊

    Berati kalau orang dan nggak ada mending diikhlaskan dari pada digentayangin yee Huu. Bisa berabe.😁😂🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. seharusnya sih emang gitu mas, ikhlas.. cuma ya manusia merasa kehilangan pasti ada

      Hapus
    2. Sepertinya saya pernah baca ceritanya, udah pernah diposting kan?

      Kalau masih merasa kehilangan berarti belum ikhlas, Nif.

      Hapus
  3. Katanya orang yang meninggal karena kecelakaan kadang ngga merasa ya jadinya masih sering menghantui.

    Harusnya Firda manggil tetangga nya mbah Herman untuk menetralisir pengaruh dari Dirga. Tinggal dikasih sajen nasi putih anget sama ayam goreng nanti Dirga nya pergi.😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin, soalnya saya belum pernah ketemu sama orang yang meninggal kecelakaan.

      Nasi putih anget sama ayam goreng mendingan buat saya, cukup buat ngisi energi sehari.. wkwkwk

      Hapus
  4. Owh ternyata Dirga berada di alam yang beda ya? Mungkin ada yg ingin disampaikan oleh cerita ini, mengikhlaskan seseorang yang telah berpulang itu lebih baik agar arwah tenang di sana, karena konon mereka yg berpulang juga melihat kehidupan org yg ditinggalkan.
    Hai aku datang lagi tapi masih wujud yang nyata ya hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Bukan Manis Tapi Iblis - Cerpen

Langkah Pertama, Memaafkan (#1) - Cerbung

Dara, Gadis Dunia Maya (#2) - Cerbung

Malam Terakhir Mereka (#1) - Cerbung

Malam Terakhir Mereka (#2) - Cerbung