Menit-Menit Setelah 21:47

Menit-Menit Setelah 21:47




empat muda mudi melihat ke arah halte untuk ilustrasi cerita Menit-Menit Setelah 21:47


Bukan hujan deras yang membuat jalanan lumpuh, tapi cukup untuk membuat Jakarta basah dan terasa beberapa derajat lebih dingin dari biasanya.

Di lantai tiga sebuah gedung percetakan di Jakarta, suara mesin menjadi satu-satunya hal yang konsisten. Dengung... klek... sret... dengung... klek... sret. Berulang, stabil, membosankan selama lebih dari dua belas jam.

"Kalau printer ini bisa ngomong, pasti dia udah maki-maki kita pakai seluruh kebun binatang," kata Hadi sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

Andra tidak menoleh dari layar monitor 28 incinya. Tangannya mulai lelah menggeser kursor, merapikan margin pada file desain. "Dia nggak perlu ngomong, Di. Suaranya aja udah cukup nyiksa kuping gue dari tadi siang."

Di sudut ruangan, Rina menghela napas panjang. "Gue udah nggak ngerasain punggung gue lagi."

Yuli, yang duduk dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya, hanya melirik ke luar. Air hujan masih menetes dari ujung atap gedung seberang. Lampu-lampu kota memantul di atas aspal yang basah. "Jam berapa sih sekarang?" tanyanya tanpa menoleh.

Andra melirik sudut kanan bawah layar monitornya. "Sembilan lewat empat puluh tujuh."

"Serius?" tanya Rina. "Gue kira masih jam delapanan."

"Waktu di sini emang jalannya lebih cepet," sahut Hadi sambil memutar-mutar botol minumnya yang sudah kosong.

"Atau kita yang terlalu lama di sini," ucap Yuli pelan, jarinya mengetuk-ngetuk kaca jendela.

Pekerjaan mereka sebenarnya sederhana: menyelesaikan revisi akhir file desain untuk dicetak besok pagi. Namun, seperti sebuah kutukan klasik di industri kreatif, revisi dari klien selalu datang terlambat. Lembur pun menjadi sesuatu yang mutlak, bukan pilihan.

"Udah kelar belum sih file terakhir, Dra?" tanya Rina.

"Hampir kelar," jawab Andra.

Jawaban Andra langsung mengubah suasana. Rina yang tadinya setengah rebahan langsung bangkit berdiri, merenggangkan kedua tangannya ke atas hingga terdengar bunyi gemertak dari sendinya. Hadi menutup botol minumnya dengan bunyi klek. Yuli kembali fokus ke layar monitornya untuk bersiap mematikan sistem.

"Beneran ya, Dra? Lu nggak bohong kan?" tanya Rina memastikan.

"Iya. Ini file terakhir. Udah gue export ke PDF siap cetak. Tinggal nunggu mesin selesai ngeluarin lembar terakhir," jawab Andra sambil meregangkan jemarinya yang kaku.

"Abis ini makan, ya. Gue belum makan dari siang," ucap Hadi.

"Lu doang kali yang belum makan," sahut Rina.

"Ya makanya, kasihan gue," Hadi mengiba..

Andra, Yuli dan Rina tertawa berbarengan.

Sepuluh menit kemudian, suara printer besar itu perlahan merendah, lalu berhenti total dengan bunyi klik mekanis yang panjang. Ruangan mendadak terasa luar biasa kosong. Tidak ada lagi dengungan, tidak ada lagi ritme monoton. Yang tersisa hanyalah sisa kelelahan.

"Done," ucap Andra dengan suara yang dikeraskan.

Kali ini benar-benar selesai. Mereka berempat membereskan barang masing-masing. Komputer dimatikan, lampu dipadamkan sebagian, pintu kantor ditutup, dan mereka turun ke lantai dasar.

Begitu keluar gedung, udara malam langsung menyambut mereka, dingin, lembap dan sedikit berbau aspal basah yang bercampur dengan sisa-sisa asap kendaraan.

Jakarta masih hidup, meskipun wajahnya sudah berubah menjadi lebih sunyi. Beberapa kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu dari gedung perkantoran lain masih menyala, dan beberapa warung tenda pinggir jalan tampak masih melayani pembeli. Semuanya terasa normal dan aman.

"Langsung pulang ya?" tanya Yuli, sambil merapatkan jaketnya yang mulai terasa tembus angin malam.

"Iya lah, gila apa. Gue mau tidur 12 jam kalau bisa," jawab Rina cepat, tangannya sudah memegang ponsel.


"Lewat belakang aja yuk?" lanjut Yuli, menunjuk ke arah gang sempit yang berada tepat di samping gedung percetakan mereka.

Rina langsung menurunkan ponselnya dan menatap Yuli dengan tatapan tidak percaya. "Serius lu? Malam-malam begini lewat situ?"

"Cepet, Rin."

"Tapi sepi, Yul." Rina menghela napas panjang. "Gue agak nggak enak lewat situ malem-malem."

"Ah, lebay, Kemarin juga kita lewat situ aman."

Andra mengangkat bahu, membenarkan posisi tali ranselnya. "Gue ikut aja. Lagian kita berempat, nggak usah takut."

Hadi menambahkan sambil terkekeh, "Gue ikut mayoritas."

Rina mendesah pelan, kalah jumlah suara. "Ya udah, tapi kalau ada apa-apa, atau ada yang aneh, gue yang pertama kali lari ya. Jangan ada yang ngetawain."

"Silakan," kata Andra sambil tertawa kecil.

Mereka pun berbelok, meninggalkan terangnya trotoar jalan utama dan berjalan ke arah gang di samping gedung. Dari luar, gang itu sebenarnya terlihat biasa saja, hanya sebuah jalan tikus yang sempit, dilapisi aspal yang sudah banyak berlubang, dan diapit oleh dinding belakang gedung-gedung tinggi. Jalanan itu agak gelap karena hanya mengandalkan beberapa lampu LED yang terpasang di dinding luar gedung.

Namun, begitu mereka melangkah masuk beberapa langkah suasana berubah. Bukan karena tiba-tiba gelap total, tapi karena terlalu sunyi.

Suara kota memudar seperti ditarik menjauh, lampu jalan lebih redup, bayangan lebih panjang, dan sisa air hujan menetes dari atap ke genangan kecil.

Tik... Tik... Tik...

"Perasaan siang tadi nggak sesepi ini deh," gumam Rina.

"Ya iyalah, ini kan udah malam," jawab Hadi

Langkah kaki mereka sendiri mulai terdengar jauh lebih jelas dan bergema di antara dua dinding tinggi yang mengapit mereka. Sepatu yang mengenai aspal basah terasa sedikit lengket, seolah-olah jalanan ini enggan melepaskan mereka pergi.

"Gue benar-benar nggak suka bagian ini," kata Rina pelan. Ia berjalan sangat dekat di belakang Andra, hampir menempel pada tas ransel pria itu.

"Baru juga masuk beberapa meter, Rin," jawab Andra tanpa menoleh.

"Justru itu. Baru masuk aja hawanya udah aneh gini. Lu nggak ngerasa kalau udaranya mendadak jadi lebih dingin?" bisik Rina.

Mereka terus berjalan. Awalnya mereka masih mengobrol membicarakan tentang revisi pekerjaan tadi, tentang rencana makan siang besok, tentang hal-hal ringan yang tidak penting. Namun, perlahan-lahan obrolan itu memudar dengan sendirinya. Bukan karena topik pembicaraan habis, melainkan karena tidak ada yang ingin memulai lagi.

Yuli yang berjalan paling depan tiba-tiba memperlambat langkahnya. Langkah kakinya berhenti total, membuat Hadi yang berjalan di belakangnya hampir saja menabraknya.

"Eh..." suara Yuli tertahan di tenggorokan.

"Apaan, Yul? Jangan bikin kaget dong," tanya Hadi, mencoba tertawa kecil meskipun matanya langsung waspada memandang sekeliling.

Yuli tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk lurus ke depan. Di kejauhan, sekitar lima puluh meter dari posisi mereka berdiri, terlihat sebuah halte bus kecil. Lampu neon tunggal terpasang di atap halte. Cat hijaunya sudah mengelupas parah, memperlihatkan karat di bawahnya. Bangku panjang yang terbuat dari semen tampak kusam dan dipenuhi noda hitam karena lembap.

"Masih ada ya halte itu di sini," kata Hadi dengan nada heran. "Gue sering lewat sini kalau siang, tapi kayaknya nggak pernah merhatiin ada halte itu"

"Gue kira udah dibongkar waktu proyek perluasan gedung sebelah dua tahun lalu," tambah Andra, matanya menyipit, mencoba menembus keremangan cahaya di sekitar halte.

Rina tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya mencengkeram jaket Andra lebih erat, matanya menatap lurus ke arah halte dengan pandangan penuh ketakutan.


Mereka kembali melangkah, bergerak mendekati halte tersebut. Langkah mereka melambat tanpa mereka sadari, seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang menahan kaki mereka namun di saat yang sama rasa penasaran memaksa mereka untuk terus maju. Saat jarak semakin dekat, sesuatu mulai terlihat. Ada sosok yang sedang duduk di bangku halte.

Pemandangan itu tidak terasa aneh secara logika. Ini Jakarta. Menemukan seseorang yang sedang duduk di tempat umum, bahkan di malam hari, adalah hal yang biasa. Mungkin itu seorang tunawisma, atau pekerja malam lain yang sedang beristirahat, atau seseorang yang berteduh dari sisa hujan. Semua penjelasan itu masuk akal dan normal.

"Itu... orang kan ya?" tanya Rina. Kali ini dia tidak lagi berbisik.

"Iya lah, masa setan. Orang itu, lagi nunggu ojek, mungkin," jawab Andra cepat.

"Tapi ngapain diem begitu? Nggak main ponsel, nggak gerak sama sekali," sahut Yuli yang juga mulai merasakan ada yang tidak beres.

"Ya namanya juga orang capek, paling ketiduran sambil duduk," timpal Hadi, meskipun dia sendiri sekarang berjalan sejajar dengan Andra, tidak mau tertinggal di belakang.

Penjelasan mereka semua sangat masuk akal. Semua bisa dijelaskan oleh logika manusia sehat. Tapi, mengapa mereka tetap memperlambat langkah kaki mereka hingga hampir menyerupai langkah orang yang sedang mengendap-endap?

Jarak semakin dekat. Sepuluh meter. Sosok itu tetap tidak bergerak. Dia mengenakan jaket parasut berwarna cokelat, celana kain hitam, dan sepasang sepatu kets. Kepalanya tertunduk menghadap ke arah lantai halte yang basah.

Delapan meter. Sama sekali tidak ada perubahan posisi. Sosok itu terlalu statis, seperti patung yang diletakkan begitu saja di atas bangku beton.

Enam meter. Yuli berhenti total.

"Kenapa berhenti, Yul?" bisik Rina.

"Lu semua sadar nggak..." jawab Yuli dengan suara yang sangat pelan, seolah-olah dia takut jika dia berbicara terlalu keras, sosok di depan mereka akan mendengar.

"Apaan?" tanya Hadi.

"Dari sejak kita pertama kali ngelihat dia sampai kita sedekat ini... dia nggak gerak sama sekali," bisik Yuli.

Mendengar ucapan Yuli, mereka serentak memperhatikan sosok itu dengan lebih serius. Benar. Tidak ada gerakan, tidak ada pergeseran, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hujan yang tadi sempat mereda, kini mulai turun lagi dengan butiran-butiran air yang halus yang jatuh lurus ke bawah karena tidak ada angin.

Hadi tiba-tiba menyipitkan matanya, memperhatikan detail pakaian sosok itu di bawah lampu neon halte. "Eh... Tadi di luar hujan kan?"

"Iya... dari jam tujuh malam malah," jawab Yuli bingung.

"Terus kita jalan ke sini juga aspalnya basah, udara lembap, dan sekarang gerimis lagi," lanjut Hadi. "Lihat jaketnya. Lihat bahunya."

Andra dan Yuli menajamkan pandangan mereka. Di bawah cahaya neon, jaket cokelat yang dikenakan sosok itu terlihat sepenuhnya kering. Tidak ada satu pun titik air yang menempel di permukaannya, tidak ada noda gelap akibat yang menyerap kelembapan udara. Jaket itu tampak seolah-olah baru saja diambil dari dalam lemari pakaian yang kering dan hangat.

Andra maju satu langkah. "Gue cek," ucapnya pendek.

"Jangan, Dra! Jangan gila lu! Kita muter balik aja sekarang!" Rina langsung menarik ujung jaket Andra.

"Nggak apa-apa, Rin. Cuma lihat dari dekat doang. Biar kita nggak penasaran dan ketakutan sendiri sepanjang jalan pulang," kata Andra. Ia melepaskan tangan Rina dengan lembut.

Andra maju satu langkah lagi. Lalu satu langkah lagi. Sekarang jaraknya tinggal dua meter dari sosok yang duduk di halte tersebut. Dari jarak sedekat ini, keanehan itu semakin menjadi-jadi. Tidak ada aroma tubuh manusia, bau keringat atau parfum yang biasanya menempel pada orang yang habis beraktivitas seharian.

Andra mencondongkan tubuhnya ke depan, mencoba mengintip wajah di balik kepala yang tertunduk itu. Tapi di detik itu juga, tubuhnya langsung kaku. Jarak wajahnya cuma terpaut beberapa sentimeter dari sosok itu, dan dia sadar ada yang aneh dengan posisi kepalanya. Leher sosok itu menekuk patah dengan sudut yang terlalu miring, mirip seperti leher korban kecelakaan fatal.

"Dra..." panggil Yuli dari belakang. "Lu ngelihat apa? Dra, jawab!"


Andra tidak menjawab. Ia bahkan tidak berani berbalik. Perlahan ia melangkah mundur, satu langkah, dua langkah, hingga ia kembali berada di samping Hadi.

"Apa, Dra?! Ada apa?!" Rina hampir menangis, suaranya tertahan di tenggorokan karena ketakutan yang amat sangat.

Andra menelan ludah, jakunnya naik turun. Suaranya bergetar hebat saat akhirnya ia berhasil bersuara.

"Itu... itu bukan orang."

Dunia di sekitar mereka seolah-olah berhenti berputar selama beberapa detik. Kata-kata Andra berputar-putar di kepala mereka, menciptakan bayangan-bayangan makhluk mengerikan yang biasa ada di film horor. Namun, rasa penasaran membuat Hadi memaksa dirinya untuk melangkah maju, melewati Andra, dan menatap langsung ke arah sosok di atas bangku halte. Segalanya akhirnya menjadi sangat jelas.

Sosok itu memang bukan manusia. Kulit wajahnya yang tadi tertunduk terbuat dari bahan plastik polimer keras berwarna krem pucat. Sepasang matanya hanya manik-manik kaca hitam yang mati, kosong, dan memantulkan cahaya neon di atasnya. Bentuk hidung dan bibirnya terlalu simetris, terlalu kaku, dan dicat dengan warna merah.

Itu adalah sebuah manekin. Boneka pajangan toko baju utuh bertubuh pria dewasa, yang didudukkan di sana dengan pakaian lengkap layaknya seorang manusia sejati yang sedang menunggu bus kota.

"Anjir..." Rina mundur hingga punggungnya membentur dinding beton gedung di belakangnya.

*Siapa... siapa orang gila yang naro boneka begini di bangku halte ini?!" Yuli berkata dengan nada penuh kemarahan yang dipicu oleh rasa takut yang luar biasa.

Lalu, sebuah suara memecah ketegangan mereka.

"Bagus, kan?"

Suara itu datang dari arah samping halte. Suara itu terdengar sangat kering, serak, dan bergetar karena usia.

Mereka berempat serentak menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria tua berdiri di sana. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu sejak kapan pria itu ada di tempat itu. Kedatangannya sama sekali tidak menimbulkan suara.

Pria tua itu mengenakan jaket parasut berwarna hijau tua yang ukurannya terlalu besar untuk tubuhnya yang sudah bungkuk. Wajahnya dipenuhi kerutan-kerutan dalam yang legam, dan sepasang matanya tampak keruh, hampir tertutup oleh kelopak matanya yang kendur.

"Punya... Punya Bapak?" tanya Hadi.

"Iya," jawab pria tua itu pendek.

Ia melangkah maju dengan gerakan yang sangat lambat dan dengan santai, tanpa menunjukkan ekspresi aneh atau bersalah, ia berjalan ke arah halte dan duduk di bangku semen tersebut, tepat di sebelah manekin yang kaku itu. Ia duduk dengan pose yang sangat tenang dan wajar

"Biar nggak sepi," kata pria tua itu lagi.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menanggapi kalimat itu.

"Dulu di sini ramai," lanjut pria tua itu tanpa diminta. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi, seperti sedang membacakan sebuah catatan sejarah yang membosankan. "Ratusan orang berdiri di sini setiap malam, nunggu bus jemputan atau angkot. Namun, sekarang nggak ada lagi yang nunggu di sini."

Ia lalu mengangkat tangannya yang kurus, keriput, dan dipenuhi bintik-bintik penuaan hitam. Dengan gestur yang teramat lembut, ia menepuk-nepuk pundak manekin plastik di sebelahnya.

Mereka berempat tidak bertanya lagi. Mereka tidak ingin tahu dari mana pria tua itu mendapatkan manekin tersebut, atau mengapa dia harus memakaikannya baju kering dan mendudukkannya di sana setiap malam. Rasa ingin tahu mereka sudah sepenuhnya sirna, digantikan oleh keinginan pergi dari tempat ini secepat mungkin.

"Pak... kalau begitu, kami duluan ya. Permisi," ucap Andra.

Pria tua itu tidak menjawab. Ia tidak menoleh, tidak juga mengangguk. Ia hanya terus menatap lurus ke depan, sementara tangannya masih tetap menepuk-nepuk pundak manekin dengan ritme yang lambat.


Mereka berempat berbalik dan mulai berjalan pergi. Awalnya langkah mereka teratur, namun dalam hitungan detik, langkah itu berubah menjadi cepat, semakin cepat, hingga mereka hampir terlihat seperti orang yang sedang berlari.

Mereka berhenti di trotoar depan stasiun kereta, terengah-engah seolah-olah baru saja berlari maraton sejauh berkilo-kilometer, padahal mereka hanya berjalan cepat selama kurang dari lima menit.

"Gila! Gila! Gila!" Rina menarik napas panjang berkali-kali, memegangi dadanya yang naik turun dengan cepat. "Gue nggak akan pernah mau lagi lewat gang itu seumur hidup gue! Biar gue telat, biar gue harus muter jauh, terserah!"

"Cuma boneka pajangan toko, Rin," kata Andra, mencoba mengembuskan napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. "Kakek-kakek itu cuma kesepian karena masa lalunya tertinggal di sana."

"'Cuma' katanya?" Yuli menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Orang tua itu jelas-jelas nggak waras, Dra. Siapa yang bisa duduk setenang itu di samping boneka plastik di tempat segelap itu?"

Di tengah perdebatan kecil itu, Hadi hanya diam. Ia berdiri sedikit terpisah dari ketiga temannya, membelakangi mereka. Pandangannya terpaku ke arah mulut gang yang baru saja mereka tinggalkan.

"Eh," kata Hadi pelan. Suaranya terdengar sangat datar.

"Apa lagi sih, Di? Jangan mulai deh, gue udah lelah banget fisik dan mental malam ini," sahut Rina dengan nada frustrasi.

Hadi tidak bergerak dari posisinya. Ia perlahan menolehkan kepalanya, menatap ketiga temannya. "Lu semua... inget nggak... waktu pertama kali kita ngelihat boneka itu dari jarak jauh sebelum kakek itu muncul?"

"Iya, kenapa emangnya? Kan tadi gue bilang dia lagi nunduk dalam banget, makanya gue kira orang ketiduran," jawab Yuli, alisnya bertaut bingung melihat ekspresi Hadi.

Hadi menelan ludah. Ia kembali melirik sekilas ke arah mulut gang sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Waktu kita pergi... waktu kita pamit sama kakek itu dan mulai jalan buru-buru..." Hadi menjeda kalimatnya sejenak, tubuhnya sedikit gemetar. "Gue sempat nengok ke belakang sekali."

"Terus?" tanya Andra, suaranya mendadak ikut merendah, menyadari ada sesuatu yang sangat salah dari nada bicara Hadi.

"Kepalanya... posisi kepala boneka itu udah nggak nunduk lagi," lanjut Hadi. "Kepalanya lurus. Menghadap ke depan. Ke arah jalan tempat kita pergi."

Suasana di trotoar depan stasiun yang bising itu mendadak terasa sunyi bagi mereka berempat. Tidak ada lagi yang berbicara. 

Hujan yang sempat mereda, kini turun lagi dengan intensitas yang jauh lebih deras dan untuk pertama kalinya pada malam itu, mereka semua merasakan hal yang sama persis. Itu bukan lagi sekadar rasa takut yang biasa, bukan juga kepanikan histeris yang membuat orang ingin berteriak. Itu adalah sebuah perasaan ketidakyakinan yang amat sangat dalam, yang merayap masuk ke dalam pikiran mereka.

Apakah yang mereka lihat di halte tadi... benar-benar hanya sebuah boneka mati yang terbuat dari plastik?




Tamat


Terima kasih telah membaca Menit-menit Setelah 21:47. Ini adalah cerita pendek bergenre: Horror, Misteri, Urban Fiction, Urban Legend, Urban Thriller.q Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Cara Paling Bodoh Merindukan Seseorang

Dia Yang Memahami Diamku

Menunggu Respons Refa

Asmara Tak Beralamat Tetap

Sebelum Es Batu Mencair