Insan-Biasa Dot Net
Insan-Biasa Dot Net

Beberapa tahun lalu, Jakarta terasa sangat mengintimidasi bagi Hermansyah, terutama di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di daerah Palmerah. Kamar itu pengap, dipenuhi aroma mi instan rebus, kopi sasetan, dan suara kipas angin yang berderit setiap malam. Namun, di sanalah impiannya lahir.
Hermansyah adalah seorang pemuda yang gila musik. Setiap malam, sepulang kuliah, tugasnya adalah berburu file MP3 dari internet, memastikan kualitas suaranya tidak pecah, lalu mengetik lirik lagunya kata demi kata secara manual. Di sebelahnya, ada Ricky, teman satu kosnya yang kuliah di jurusan komputer. Ricky adalah orang yang tahu bagaimana cara menyewa hosting murah dengan paket paling hemat, mengatur tampilan blog, dan memastikan blog mereka tidak gampang error.
Di masa itu, orang-orang mulai gemar pergi ke warnet untuk men-download lagu MP3 langsung ke ponsel mereka demi menghemat kuota data seluler yang masih mahal. Blog mereka, Insan-biasa.net, hadir di waktu yang tepat. Tampilannya sangat sederhana, tetapi tombol download-nya asli, bukan jebakan iklan palsu yang menipu pengguna. Meski potensinya besar, pekerjaan mereka tidaklah mudah pada awalnya.
"Man, lagu barunya Band Cikal sudah kamu upload belum? Di forum-forum internet lagi naik banget pencariannya," tanya Ricky malam itu, matanya tak lepas dari monitor komputer bekas yang mereka beli patungan di Mangga Dua.
"Sudah, Rick. Lengkap dengan liriknya. Aku sampai dengerin berkali-kali pakai earphone biar nggak ada yang salah ketik," jawab Hermansyah sambil meregangkan jari-jemarinya yang kaku.
Namun, mengelola blog MP3 adalah kucing-kucingan dengan tautan yang sering mati karena masalah hak cipta. Di sinilah Ningsih masuk ke dalam tim kecil mereka. Ningsih adalah kekasih Hermansyah, mahasiswi yang sabar dan teliti. Setiap kali ada link download yang mati atau dihapus, Ningsih dengan telaten memeriksa artikelnya, menggantinya dengan link baru, dan membalas komentar pengunjung dengan ramah.
"Man, pengunjung kita hari ini tembus sepuluh ribu orang!" seru Ningsih suatu sore dengan mata berbinar-binar, menunjukkan statistik blog dari laptop pinjaman milik kakaknya.
Hermansyah tersenyum lebar, merasa kerja keras mereka mengetik larut malam tidak sia-sia. Namun, awalnya mereka tidak tahu cara menghasilkan uang. Iklan yang mereka pasang hanya iklan recehan yang bahkan tidak cukup untuk membayar biaya sewa server yang makin mahal karena pengunjung bertambah. Sampai akhirnya, Ricky membawa seorang teman sekampusnya yang bernama Dina.
Dina adalah mahasiswi yang lincah dan tahu banyak tentang seluk-beluk internet marketing berskala kecil. Dia melihat potensi dari blog MP3 tersebut yang selama ini dilewatkan oleh Hermansyah dan Ricky.
"Kalian ini sayang banget, tahu," ujar Dina saat bertamu ke kos Hermansyah yang sempit, sambil duduk di tikar plastik. "Pengunjung kalian itu banyak. Kalau kalian pakai jaringan iklan luar negeri, bayarannya pakai dollar, bukan rupiah recehan. Aku bisa bantu daftarin, nanti hasilnya kita bagi rata."
Dina kemudian mengenalkan mereka pada jaringan iklan pop-under dari penyedia luar negeri. Dia juga yang mengurus pembuatan akun dompet digital internasional untuk menampung dollar-dollar yang akan masuk.
Bulan pertama setelah Dina bergabung, sebuah keajaiban kecil terjadi di kamar kos Hermansyah. Ketika Ricky membuka halaman pendapatan iklan, angka yang tertera membuat mereka semua menahan napas.
"Tiga ratus lima puluh dollar, Man..." bisik Ricky dengan suara bergetar.
Jika dikonversikan ke dalam rupiah saat itu, jumlahnya sekitar lima juta rupiah. Bagi sekumpulan anak kos yang biasanya harus berhemat demi bisa makan dua kali sehari, uang itu adalah berkah yang sangat besar. Malam itu juga, mereka merayakannya dengan cara yang paling mewah yang mereka bisa: makan ayam goreng cepat saji di mal dekat kos, sesuatu yang biasanya hanya mereka lakukan sebulan sekali.
Uang dollar terus mengalir setiap bulannya. Pendapatannya merangkak naik, dari tiga ratus, lima ratus, hingga sesekali menyentuh seribu dollar sebulan jika ada lagu yang sedang meledak besar-besaran.
Baca juga: Beranjak Dari Luka
Dengan uang tersebut, kehidupan mereka menjadi sedikit lebih longgar. Hermansyah akhirnya bisa membayar uang kos tepat waktu tanpa harus menunggak berbulan-bulan. Ricky bisa meng-upgrade komponen komputernya agar tidak lemot saat dipakai coding. Dina mulai bisa membeli pakaian-pakaian baru yang sering dia pamerkan di media sosialnya. Sementara Ningsih, dia memilih untuk menabung uangnya untuk biaya menyusun skripsi nanti.
Mereka merasa sudah menemukan jalan keluar dari kesulitan finansial di Jakarta. Kamar kos yang sempit dan panas itu tidak lagi terasa menyiksa, karena di dalamnya ada harapan yang terus menghasilkan dollar setiap harinya. Namun, uang sekecil apa pun jumlahnya ternyata bisa menjadi ujian yang berat bagi sebuah kejujuran.
Semua bermula ketika Ricky mulai merasa bahwa kontribusinya adalah yang paling penting. Sebagai orang yang mengerti teknis, dia merasa tanpa keahliannya menjaga agar server tetap hidup, blog itu tidak akan pernah berjalan. Perasaan itu perlahan dipupuk oleh Dina, yang mulai melihat bahwa membagi uang dollar hasil dari blog menjadi empat bagian terlalu merugikan bagi mereka berdua.
"Rick, kamu nggak capek apa?" bisik Dina suatu hari ketika mereka sedang makan bakso di dekat kampus tanpa mengajak Hermansyah dan Ningsih. "Yang begadang mikirin server kalau error itu kan kamu. Yang ngurusin pencairan uang dari luar negeri itu aku. Tapi kenapa uang dollarnya harus dibagi rata berempat?"
Ricky terdiam, memandang mangkuk baksonya. Ego mudanya mulai terusik oleh hasutan Dina. "Tapi kan Hermansyah yang cari file dan ketik liriknya dari awal, Din. Ningsih juga yang capek-capek benerin link yang mati setiap hari."
Dina mendengus pelan. "Ketik lirik itu pekerjaan gampang, Rick. Semua orang yang bisa ngetik juga bisa lakuin itu. Tapi urusan teknis server? Nggak semua orang paham. Harusnya bagian kita lebih besar. Atau, kalau kita pegang berdua aja, kita bisa dapat lebih banyak buat kebutuhan kita masing-masing."
Ricky menatap Dina, ada keraguan di matanya. Namun, bayangan tentang dompet digitalnya yang akan terisi penuh oleh dollar tanpa harus membaginya lagi, perlahan menghapus rasa setiakawan di hatinya. Konspirasi kecil di belakang Hermansyah dan Ningsih pun dimulai.
Perubahan sikap itu mulai dirasakan oleh Ningsih. Sebagai orang yang teliti, dia menyadari ada yang tidak beres setiap kali bulan baru tiba dan saatnya membagi hasil. Jumlah pengunjung blog makin banyak, tetapi jumlah uang yang dilaporkan Dina justru mengecil dengan alasan yang tidak jelas.
"Man, kamu ngerasa ada yang aneh nggak sama Ricky dan Dina?" tanya Ningsih pada suatu malam di teras kos, sambil memperhatikan Hermansyah yang sedang makan nasi goreng sebungkus berdua dengannya.
Hermansyah menoleh sekilas. "Aneh gimana, Sih? Mereka biasa aja kok. Kemarin Ricky baru aja bantuin colokin kabel LAN-nya."
"Bukan itu, Man. Ini masalah pembagian uang," Ningsih menurunkan suaranya, tampak cemas. "Kemarin aku iseng hitung statistik pengunjung kita. Harusnya bulan ini kita dapat lebih dari biasanya. Tapi kata Dina, iklannya lagi sepi jadi hasilnya turun drastis. Tiap kali aku minta lihat screenshot akun iklannya, Dina selalu bilang kodenya lagi error. Ricky juga sekarang ganti password c-panel servernya dan aku nggak dikasih tahu lagi."
Hermansyah menghela napas, mencoba menenangkan kekasihnya. "Mungkin emang iklannya lagi murah dari sananya. Kita kan sudah temenan dari awal masuk kos ini. Ricky itu orangnya baik. Nggak mungkinlah mereka tega bohongin kita soal uang sekecil ini."
"Kamu terlalu polos, Man," ucap Ningsih dengan nada lirih. "Uang bisa mengubah orang, bahkan untuk jumlah yang gak seberapa."
Sayangnya, sifat Hermansyah yang terlalu percaya dan enggan ribut dengan teman sendiri justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Puncaknya terjadi pada suatu malam di akhir bulan. Hermansyah baru saja kembali ke kamar kosnya setelah mengantar Ningsih pulang. Dia berniat untuk masuk ke dasbor admin blognya untuk meng-upload kumpulan lirik lagu yang baru saja dia selesaikan.
Dia mengetikkan nama pengguna dan kata sandinya seperti biasa pada keyboard komputernya. Namun, layar justru menampilkan pesan pendek: Invalid username or password.
Baca juga: Ancaman Yang Bikin Tersenyum
Hermansyah mengerutkan kening. Dia mencobanya lagi secara perlahan, mengira dirinya salah ketik. Hasilnya tetap sama. Dia mencoba menggunakan fitur reset kata sandi, tetapi sistem menyatakan bahwa email admin yang terdaftar bukan lagi alamat email miliknya.
"Lho, kok nggak bisa?" gumam Hermansyah panik.
Dia segera mengambil ponselnya, mencoba menghubungi nomor Ricky yang kamarnya berada tepat di lantai atas kosnya. Panggilan pertama dialihkan. Panggilan kedua tidak aktif. Dengan perasaan cemas, Hermansyah berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar Ricky. Dia mengetuk pintu kamar sahabatnya itu beberapa kali.
Pintu justru dibuka oleh penjaga kos, seorang bapak tua yang sedang memegang sapu. "Mencari Mas Ricky, ya, Mas Hermansyah?"
"Iya, Pak. Rickynya ada di dalam?" tanya Hermansyah dengan napas memburu.
"Oh, Mas Ricky sudah pindah tadi sore, Mas. Barang-barangnya yang sedikit itu sudah dibawa pakai motor temannya yang perempuan itu, Mbak Dina kalau nggak salah. Katanya mau pindah ke kosan lain yang dekat tempat kerjanya," jawab bapak penjaga kos dengan santai.
Hermansyah berdiri mematung di depan pintu kamar yang sudah kosong dan terbuka lebar itu. Kamar itu bersih, tidak menyisakan apa pun selain rasa hampa yang mendadak menyerang dada Hermansyah. Pengkhianatan itu terjadi begitu cepat, begitu rapi, dan dilakukan oleh orang yang setiap hari makan mi instan bersama di atas ubin kamar kos yang sama.
Ricky dan Dina telah mengambil alih sepenuhnya akses blog tersebut. Mereka mengubah semua kata sandi, memindahkan data, dan mengganti rekening penampung dollar ke akun pribadi mereka berdua. Hermansyah dan Ningsih didepak begitu saja dari blog yang mereka bangun dari nol tanpa membawa sepeser uang pun.
Bulan-bulan berikutnya adalah masa yang sulit bagi Hermansyah. Dia kehilangan fokus, semangat belajarnya menurun, dan dia harus bekerja paruh waktu sebagai kurir barang untuk menutup biaya kos dan makannya yang semakin menipis. Dia merasa bodoh karena telah mengabaikan peringatan Ningsih.
Namun, dari kejauhan, Hermansyah sesekali masih melihat perkembangan situs Insan-biasa.net dari ponselnya. Di bawah kendali Ricky dan Dina, website itu ternyata tidak bertahan lama. Karena ingin mendapatkan dollar dengan cara yang lebih cepat tanpa mau repot mengetik lirik baru, Dina mulai memasang iklan-iklan judi online yang sangat mengganggu. Iklan itu muncul bertubi-tubi setiap kali pengunjung mengklik tombol download.
Ricky juga mulai malas memperbarui link lagu yang mati karena kesibukan barunya. Mereka berdua lupa bahwa kekuatan utama dari blog mereka dulu adalah kenyamanan pengunjung dan lirik yang diketik dengan teliti oleh Hermansyah.
Hukum alam tidak pernah salah alamat. Karena terlalu banyak memuat konten iklan judi online yang dilarang, blog Insan-biasa.net akhirnya terdeteksi oleh sistem pemblokiran internet pemerintah.
Hanya dalam waktu singkat, domain web tersebut diblokir total dan masuk ke dalam daftar internet positif. Blog itu mati selamanya, tidak bisa diakses lagi dari jaringan mana pun di Indonesia. Mesin uang yang menghasilkan ratusan dollar itu runtuh seketika. Ricky dan Dina dikabarkan bertengkar hebat karena saling menyalahkan atas matinya website tersebut, hingga akhirnya hubungan pertemanan mereka sendiri hancur berantakan, persis seperti cara mereka menghancurkan kepercayaan Hermansyah dulu.
"Mas, ini es teh manisnya sama mi rebusnya pakai telur," suara pelayan warkop memecahkan lamunan panjang Hermansyah.
Hermansyah tersentak, kembali ke realitas malam di Palmerah. Dia mengerjapkan mata, mendapati ponselnya masih menampilkan layar putih error yang sama dari domain masa lalunya. Dia tersenyum tipis, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja kayu warkop yang sedikit basah.
"Terima kasih, Mas," ujar Hermansyah.
Dia memandang mangkuk mi rebus yang mengepulkan uap hangat di hadapannya. Hidupnya kini memang berjalan biasa saja. Dia bukan lagi admin blog yang bisa mendapatkan uang dollar tambahan setiap bulan. Dia hanyalah seorang pekerja kantoran biasa di Jakarta yang harus berdesakan di dalam kereta rel listrik (KRL) setiap pagi dan pulang dalam keadaan lelah di malam hari.
Baca juga: Rindu Yang Tak Terjawab
Namun, ada satu hal yang kini dia miliki dan tidak pernah hilang: rasa tenang.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat ke arah warkop. Hermansyah menoleh dan melihat seorang wanita dengan payung lipat berwarna biru sedang berjalan menembus gerimis kecil yang mulai turun. Wanita itu mengenakan flat shoes rajut, wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja. Itu Ningsih.
Dia tidak pernah pergi. Ketika Hermansyah berada di titik terendah dalam hidupnya, ketika impian tentang dollar-dollar itu lenyap dan teman-temannya pergi menjauh, Ningsih adalah satu-satunya orang yang tetap menggenggam tangannya, menemaninya makan mi instan dibagi dua, dan menyemangatinya untuk terus berjalan.
"Maaf ya, Man, agak telat. Tadi jalanan di depan stasiun macet parah karena hujan," kata Ningsih sambil menutup payungnya dan duduk di kursi plastik di sebelah Hermansyah. Dia menyeka sisa air hujan di lengannya dengan tisu.
"Nggak apa-apa, Sih. Aku juga baru selesai dimasakin mi-nya kok," Hermansyah menggeser segelas es teh manis yang baru ke hadapan Ningsih. "Ini, diminum dulu."
Ningsih tersenyum manis, meminum es teh tersebut, lalu pandangannya tidak sengaja tertuju pada layar ponsel Hermansyah yang masih menyala, menampilkan halaman error dari domain lama mereka. Ningsih terdiam sejenak, memandangi wajah kekasihnya dengan tatapan lembut. Dia tahu apa yang ada di dalam pikiran Hermansyah.
Perlahan, Ningsih mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas punggung tangan Hermansyah, dan menggenggamnya dengan erat.
"Sudah, Man. Jangan dilihat lagi," ucap Ningsih dengan suara yang sangat lembut. "Blog itu sudah lama mati. Uang dollar yang dulu kita dapatkan lewat jalan seperti itu juga mungkin memang bukan rezeki kita untuk jangka panjang."
Hermansyah menatap mata Ningsih, mencari sisa-sisa kekecewaan di sana, namun yang dia temukan hanyalah ketulusan yang murni.
"Aku kadang cuma kepikiran aja, Sih. Kalau saja waktu itu kita lebih hati-hati, mungkin sekarang kita nggak perlu pusing mikirin bayar kosan bulan depan," kalimat Hermansyah menggantung di udara.
"Kalau saja kita tetap di sana, mungkin kita nggak akan pernah tahu sifat asli orang-orang di sekitar kita, Man," potong Ningsih sambil tersenyum tipis. "Uang dari blog MP3 itu memang lumayan buat tambahan, tapi bikin kita selalu waswas. Sekarang, meskipun kita harus kerja kantoran dan hidup pas-pasan, setidaknya hati kita tenang. Kita bisa makan di warkop begini tanpa harus takut mikirin orang yang mau berbuat licik di belakang kita."
Mendengar kata-kata Ningsih, beban berat yang selama ini menggelayuti pundak Hermansyah perlahan-lahan terangkat. Kata-kata kekasihnya laksana penawar yang membersihkan sisa-sisa penyesalan di dalam hatinya.
Jakarta di luar sana mungkin masih tetap sama; kota yang bising, macet, dan dipenuhi oleh orang-orang yang rela memakai topeng kepalsuan demi keuntungan pribadi, seperti Ricky dan Dina yang memilih menjadi "pengecut bertopeng", menusuk sahabat sendiri dari belakang demi beberapa ratus dollar digital.
Namun, di dalam warkop kecil yang remang-remang ini, Hermansyah menyadari satu hal yang jauh lebih berharga. Kehilangan sebuah blog pembawa dollar memang sempat membuatnya jatuh. Namun, memiliki satu orang yang tetap setia, jujur, dan menerima dirinya apa adanya di tengah kerasnya kota Jakarta adalah sebuah kekayaan yang nilainya tidak akan pernah bisa dihitung dengan mata uang apa pun.
Hermansyah tersenyum, kali ini sebuah senyuman yang tulus dan lepas tanpa ada beban kekecewaan lagi. Dia membalikkan tangannya, membalas genggaman tangan Ningsih dengan tidak kalah erat.
"Kamu benar, Sih. Ah, sudahlah. Mari kita habiskan mi-nya sebelum dingin," kata Hermansyah mantap.
Dia meraih ponselnya, menekan tombol home, dan menutup aplikasi peramban tersebut selamanya. Di bawah rintik hujan Jakarta malam itu, di atas meja warkop yang sederhana, mereka berdua menikmati makan malam dengan tawa kecil, siap menghadapi hari esok dengan hati yang jauh lebih lapang.
Tamat
Baca juga: Hanya Fiksi, Tapi...
Komentar
Posting Komentar