Bukan Tentang Lima Tahun
Bukan Tentang Lima Tahun

Aroma apek langsung tercium saat Nia membuka pintu kamar kos Lisa di daerah Karet Kuningan. Kamar berukuran 3×4 meter itu tampak sangat berantakan. Pakaian kotor menumpuk di keranjang hingga meluap, bungkus bekas makanan instan berceceran di lantai, dan gorden jendela ditutup rapat hingga membuat suasana siang hari terasa seperti tengah malam.
Nia menggeleng-gelengkan kepala melihat kondisi Lisa. Sahabatnya sejak masa orientasi kampus itu sedang berbaring di tempat tidur, berselimut hingga ke leher padahal pendingin ruangan dalam keadaan mati. Matanya sembap bagaikan orang yang habis dipukuli, rambutnya acak-acakan, dan tubuhnya terlihat sangat kurus hanya dalam waktu seminggu.
"Udah, Lis, jangan kayak orang mati lampu begini," kata Nia sambil menaruh tasnya.
Nia langsung berjalan ke arah jendela lalu menyibak gorden berwarna abu-abu tersebut. Cahaya matahari siang yang terik seketika menerobos masuk, membuat kamar yang tadinya remang-remang kini terlihat jelas berantakannya. Lisa langsung memejamkan mata dan menutupi wajahnya dengan bantal karena silau. Namun, ia tidak memprotes karena sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk marah.
Dengan gerakan lemas, Lisa bangkit lalu duduk di pinggiran kasur. Tatapannya tertuju kosong ke arah lantai.
"Hadi beneran mutusin aku, Nia," kata Lisa, suaranya serak habis. "Lima tahun, Nia. Dari zaman kita masih naik motor matic bapuknya dia, sampai sekarang dia udah bisa nyicil mobil. Hilang gitu aja."
Nia duduk di kursi belajar yang terletak di dekat tempat tidur Lisa. Ia mengambil bungkusan bubur ayam hangat yang dibelinya di depan gang tadi. Setelah membuka wadah sterofoamnya dan mengaduk bubur tersebut, ia menyodorkan sendok ke hadapan Lisa.
"Makan dulu dua tiga suap. Lu mau nangis semaleman juga bebas, tapi perut jangan dikosongin. Entar lu kena GERD malah nambah biaya berobat," omel Nia, tapi nadanya sayang.
Lisa menggelengkan kepala. "Gak napsu, Nia. Aku masih gak habis pikir. Kita berdua itu nemu pas lagi sama-sama di bawah. Pas dia ketipu proyekan temennya dan aku baru kena pengurangan karyawan. Kita sering makan promag bareng akhir bulan. Aku pikir, susah bareng di awal itu jaminan bakal awet sampai pelaminan. Tapi kenapa pas duitnya udah ada, malah bubar?"
Nia meletakkan mangkuk bubur di atas meja kecil. Ia menatap Lisa dengan serius. "Lis, dengerin gue. Jangan percaya konsep fiksi, seolah-olah kalau nemenin dari susah, otomatis bakal berakhir di pelaminan. Gak ada rumus kayak begitu. Jodoh mah urusan takdir, bukan soal siapa yang nemenin lu pas lagi susah. Kalau emang jalurnya bukan sama dia, jangankan lu tungguin sampai lima tahun, sampai kiamat sekalipun bakal bubar."
Lisa mendongak, matanya mulai berkaca-kaca kembali. "Tapi ini gak adil buat gue. Umur gue udah mau 28, Nia. Temen-temen angkatan kita udah pada posting foto anak di Instagram. Gue malah balik ke status jomblo."
"Kagak ada yang adil kalau urusan hati patah," balas Nia blak-blakan. "Tapi lu coba pake logika sehat lu deh. Emang masalah lu ama Hadi beneran baru muncul semalem pas ibunya bilang kagak restu?"
Lisa terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Setahun terakhir ini," Nia mengingatkan lagi, "hubungan lu berdua tuh isinya cuma berantem sama gengsi. Lu tau itu, tapi lu milih bertahan karena sayang sama angka lima tahun itu. Komunikasi hambar, Hadi makin cuek, dan anehnya tiap mau bahas tanggal lamaran, ada-ada aja masalahnya. Dari adiknya yang tiba-tiba butuh duit kuliah, sampai urusan kerjaan dia yang mendadak sibuk. Itu bukan cobaan hubungan, Lis. Itu sinyal dari atas kalau jalannya emang ditutup."
Baca juga: Dia Yang Sudah Lama Tertidur
Nia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat. "Sesuatu yang emang bukan punya kita, bakal selalu nemu alasan buat lepas. Mau lu iket pake tali tambang juga bakal putus."
Air mata Lisa kembali menetes, membasahi pipinya yang kusam. Apa yang dikatakan Nia memang benar. Setahun belakangan ini ia lebih banyak makan hati. Hadi sudah jarang menanyakan kabarnya terlebih dahulu, dan setiap kali bertemu, Hadi lebih sering sibuk bermain game di ponselnya.
"Hadi mundur bukan karena dia mendadak jadi dajjal," kata Nia, agak melembut. "Dia mundur karena dia emang cuma ditakdirkan nemenin lu sampai sini. Takdir minjem alasan 'restu orang tua' karena tau, kalau alasannya cuma bosen, lu pasti bakal ngemis-ngemis minta balikan dan gak bakal mau lepas."
"Terus kenapa harus lima tahun, Nia? Kenapa gak dari tahun pertama aja pas aku belum sayang-sayang banget?" tanya Lisa sambil sesenggukan.
"Ya buat ngedewasain lu lah! Lu inget gak dulu pas awal kuliah egoisnya kayak gimana? Mau menang sendiri, dikit-dikit ngambek, minta dijemput mulu. Selama lima tahun ama Hadi, lu belajar jadi orang sabar, belajar ngertiin isi dompet cowok, belajar nurunin ego. Lu tuh terlalu patokan ama umur. Takut kalah start ama yang lain. Lu maunya cepet, tapi Tuhan tahu hadi bukan opsi terbaik buat masa depan lu."
Nia memegang pundak Lisa yang terkulai lemas. "Urusan jodoh tuh bukan balapan sekolahan yang siapa cepet dia dapet piala. Tuhan gak ngasih yang paling cepet, tapi yang paling pas jalannya."
Lisa termenung. Ucapan Nia perlahan-lahan meresap ke dalam pikirannya. Ia mulai membayangkan, andai saja kemarin hadi nekat menikahinya tanpa restu sang ibu yang dikenal kolot dan memegang teguh adat itu. Mungkin setiap Lebaran ia akan diabaikan saat momen sungkeman. Atau setiap kali ada acara keluarga besar, ia akan dibanding-bandingkan dengan menantu lain pilihan ibunya. Hadi pasti akan stres karena terjebak di posisi tengah, dan ujung-ujungnya rumah tangga mereka hanya akan diwarnai pertengkaran.
Membayangkan hal itu membuat Lisa bergidik ngeri.
"Terus… aku bakal jadi perawan tua nih?" tanya Lisa polos, masih ada sisa ketakutan.
Nia langsung tertawa renyah. "Kagak lah, buset deh pemikiran lu kuno amat! Lu tuh manis, kerjaan mapan. Kalau emang Hadi jodoh lu, entar ada aja jalan ajaib, ibunya tiba-tiba luluh. Tapi kalau kagak, berarti ada cowok lain yang lagi OTW ke hidup lu. Dia gak dateng buru-buru karena tau lu lagi babak belur sekarang. Dia bakal dateng pas lu udah waras lagi."
Nia menyodorkan bubur itu kembali. "Udah, makan. Tuh buburnya udah adem."
Lisa akhirnya mengambil sendok tersebut. Meskipun rasanya hambar bagaikan mengunyah karet, ia memaksakan diri untuk menelan bubur itu demi kelangsungan hidup lambungnya.
**********
Minggu berikutnya, Lisa sudah mulai kembali masuk kerja di daerah Kuningan. Awalnya terasa sangat berat. Setiap kali naik TransJakarta pada jam pulang kantor, ia sering melihat kursi kosong lalu teringat pada Hadi yang biasanya menawarkan jemputan dengan sepeda motor, meski harus menembus kemacetan.
Ujian mental yang sesungguhnya datang saat jam makan siang di kantin belakang kantor. Teman satu kubikelnya yang bernama Siska dan terkenal agak bermulut lancang tiba-tiba bertanya dengan suara yang cukup kencang.
"Lis! Jadi kan mesen katering buat bulan depan? Rekomendasi katering dari nyokap gue udah gue kirim ke WA ya!"
Seketika suasana meja kantin yang tadinya bising menjadi hening. Teman-teman yang lain serempak menoleh. Lisa menahan napas, wajahnya mendadak terasa panas.
Baca juga: Pertengkaran Di Sore Hari
Lisa yang hendak menyuap nasi mendadak berhenti. Ia tahu pertanyaan itu pasti akan datang cepat atau lambat. Hanya saja, ia tidak menyangka datang secepat ini.
"Gak jadi, Sis. Udah putus," jawab Lisa seadanya sambil memaksakan senyum agar tidak terlihat mengenaskan.
"Hah? Serius lu? Lah eman-eman banget udah lima tahun…" Siska bersiap menimpali lagi, tapi untung langsung disenggol pakai sikut sama teman satunya lagi.
Lisa mencoba kembali menyendok nasi. Baru satu suap, tenggorokannya terasa penuh. Ia buru-buru pamit ke toilet dengan alasan sakit perut. Di dalam bilik toilet, ia hanya bisa bersandar pada pintu sambil menggigit bibir agar tangisnya tidak pecah.
Malam harinya, drama ternyata belum berakhir. Saat sedang berbaring di kos, jempol Lisa terasa gatal untuk membuka aplikasi Instagram. Benar saja, ia melihat Hadi baru saja mengunggah cerita yang menampilkan dirinya sedang berkumpul di kafe bersama teman-teman wanita sekantornya. Hadi tampak bahagia tanpa beban, seolah tidak baru saja memutuskan hubungan lima tahun dengan kekasihnya.
Dada Lisa seketika terasa sesak. Rasanya ia ingin mengetik pesan makian melalui WhatsApp. Namun, saat membuka kontak Hadi, ia teringat kembali akan kata-kata dari Nia: Sesuatu yang emang bukan punya kita, bakal selalu nemu alasan buat lepas.
Daripada menimbun penyakit hati, Lisa mengambil tindakan tegas untuk dirinya sendiri. Ia mengeklik profil Hadi lalu memilih opsi Blokir. Tidak hanya di WhatsApp, tetapi juga di Instagram, TikTok, hingga LinkedIn sekalian agar terasa totalitas melupakan masa lalu. Setelah itu ia mematikan ponsel dan bergegas tidur. Keesokan harinya ia merasa sedikit lebih lega, meskipun ada rasa sepi yang terasa asing.
**********
Tiga bulan kemudian, keadaan sudah jauh berubah. Lisa tidak pernah lagi menangis di toilet kantor. Waktu luangnya yang dahulu habis untuk berpacaran, kini ia alihkan untuk kegiatan lain. Ia mulai mengikuti kelas pilates di studio dekat kosnya, dan setiap Sabtu pagi ia rutin mengikuti Car Free Day (CFD) di Sudirman bersama Nia. Tubuhnya yang sempat kurus kering kini terlihat lebih segar dan berisi.
Kamar kosnya pun tidak lagi beraroma apek. Setiap minggu ia rajin mengganti seprai, ruangan kini berbau harum kopi bali, dan pakaian kotor tidak pernah dibiarkan menumpuk lebih dari dua hari.
Suatu hari saat sedang merapikan lemari, Lisa menemukan jaket jins milik Hadi yang tertinggal. Jika dahulu ia akan menangis sambil memeluk jaket tersebut, kini ia hanya memandangnya dengan tatapan datar. Ia langsung memotret jaket itu dan mengirimkannya ke grup percakapan teman-teman kuliahnya: Ada yang mau jaket jins bekas ukuran L tidak? Gratis, kondisinya masih bagus. Tidak sampai lima menit, jaket itu sudah mendapatkan pemilik baru. Semuanya selesai tanpa perlu ada drama membuang barang ke tempat sampah luar.
Malam minggu tiba, Nia datang berkunjung ke kos Lisa membawa martabak telur lengkap dengan bumbu cukanya.
"Wih, auranya udah beda ya. Udah gak kayak mbak-mbak korban pesugihan lagi," ledek Nia sambil mencomot martabak.
Lisa melemparkan bantal sofa kecil ke wajah Nia sambil tertawa. "Sialan lu. Tapi bener deh, Nia. Pas aku pikir-pikir lagi sekarang, untung ya aku putus kemarin. Temen kantor aku ada yang nekat nikah tanpa restu, sekarang tiap minggu isinya curhat nangis-nangis mulu gara-gara mertuanya rewel. Aku terselamatkan banget."
"Nah, gitu dong! Makanya jangan sotoy ngatur takdir. Sekarang saatnya lu buka lembaran baru," kata Nia.
Baca juga:Di Saat Turun Hujan
**********
Enam bulan setelah peristiwa putus cinta itu, Lisa mendapatkan proyek besar di kantornya untuk mengurus pameran acara tahunan. Karena kekurangan personel, pihak kantor memutuskan untuk menggunakan jasa agensi Event Organizer (EO) dari luar.
Hari pertama rapat koordinasi bersama tim EO digelar di ruang rapat kantor Lisa. Saat Lisa sedang sibuk menyiapkan proyektor, pintu ruangan terbuka. Masuklah dua orang pria yang menjadi perwakilan dari tim EO tersebut.
"Lis, kenalin ini mas-mas EO yang bakal bantu kita. Ini namanya Mas Pandu," kata bosnya Lisa.
Lisa menoleh lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Pria bernama Pandu itu berpenampilan sangat kasual khas pekerja agensi: kaus hitam polos, jaket parka, celana jins, serta sepatu Vans. Potongan rambutnya rapi, wajahnya ramah, dan saat bersalaman ia melemparkan senyum sopan.
"Pandu," katanya singkat.
"Lisa," jawab Lisa sambil balas senyum. Tidak ada adegan tatap-tatapan mata dramatis hingga dunia terasa berhenti berputar. Semuanya berlangsung biasa saja dan profesional, layaknya orang yang sedang bekerja mencari uang.
Selama sebulan mengurus acara tersebut, Lisa dan Pandu menjadi sangat sering berkomunikasi. Pandu merupakan tipe pekerja yang taktis, tidak banyak bicara, namun selalu memberikan solusi setiap kali ada kendala di lapangan. Hal yang paling penting, ia selalu bersikap sangat sopan saat berbicara dengan rekan kerja wanita.
Puncaknya terjadi pada hari pelaksanaan acara. Acara tersebut sukses digelar dan selesai pada pukul 11 malam. Seluruh tim sudah beranjak pulang, menyisakan Lisa dan Pandu yang masih menunggu sisa barang diangkut ke dalam mobil boks di area parkir belakang gedung. Angin malam Jakarta terasa lumayan dingin, dan perut mereka berdua sudah terasa sangat keroncongan.
"Mbak Lisa, udah makan belum? Di depan gang situ ada sate ayam madura yang enak banget. Mau makan dulu enggak? Saya yang traktir deh sebagai selebrasi acara kelar," ajak Pandu sambil nepuk perutnya sendiri yang bunyi.
Lisa sempat berpikir sejenak, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Biasanya pada jam seperti ini ia sudah kembali ke kos untuk beristirahat. Namun, melihat Pandu yang menanti jawabannya sambil tersenyum ramah, Lisa akhirnya tersenyum.
"Boleh deh, Mas. Kebetulan aku juga laper banget dari sore belum kemasukan nasi."
Malam itu, mereka berdua berakhir dengan duduk di bangku plastik warung sate pinggir jalan. Di bawah tenda spanduk bergambar ayam dan sate, mereka ditemani uap bakaran sate yang aromanya sangat gurih. Sambil menunggu pesanan datang, mereka mengobrol ke sana kemari, mulai dari urusan pekerjaan yang absurd hingga hobi masing-masing. Pandu ternyata sosok yang humoris dan sangat nyambung saat diajak membicarakan hal-hal ringan.
Saat sedang tertawa mendengar cerita Pandu tentang pengalamannya dikejar anjing ketika melakukan survei lokasi acara, Lisa mendadak teringat akan perkataan Nia enam bulan lalu di kamar kosnya yang pengap.
"Dia gak dateng buru-buru karena tau lu lagi babak belur sekarang. Dia bakal dateng pas lu udah waras lagi."
Malam ini, Lisa merasa dirinya sudah benar-benar waras dan utuh. Kesedihan dari kisah lima tahun lalu sudah tidak berbekas sama sekali, digantikan oleh rasa syukur karena ia telah melewati proses tersebut dengan baik. Di hadapannya kini, ada awal dari cerita baru yang dimulai dari tempat yang sangat membumi: sepiring sate ayam dan segelas es teh manis di pinggir jalan Jakarta.
Tamat
Terima kasih telah membaca Bukan Tentang Lima Tahun. Ini adalah cerita pendek bergenre: Metropop, New Adult Fiction, Romance, Slice of Life. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Nurul, Si Gadis Kecil
Parah Juga si Herman.. Eehh Hadi maksud gue.🤣🤣 dari mulai naik motor matic Bapuk eehh pas dah punya mobil si Lisa ditinggal gitu aja.🤣🤣🤣
BalasHapusTerus sama si Pandu gimana akhirnya.😁😁
Intinya Jodoh itu datang bukan karena bertemu... Tetapi karena Berjodoh jadi dipertemukan.😁😁