Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..?
Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..?

SHujan baru saja berhenti ketika Irfan mematikan mesin motornya di depan sebuah rumah bercat putih di kawasan Jakarta Selatan. Jalanan masih basah. Lampu-lampu teras memantul di genangan air, sementara aroma tanah bercampur asap kendaraan memenuhi udara malam.
Irfan melepas helm dan melihat nomor rumah yang tertera di pagar. Ketika ia sedang mencocokkan nomor rumah dengan alamat yang tertera di ponselnya, sebuah motor berhenti tak jauh darinya.
"Ini rumahnya?" tanya Gilang sambil turun dari ojek online yang baru berhenti beberapa meter di belakang Irfan.
Irfan memeriksa alamat di ponselnya. "Kalau Google Maps tidak sedang mengerjai kita, iya."
Gilang membetulkan posisi kacamatanya. Di tangan kanannya tergantung tas laptop, sedangkan payung yang dibawanya tampak hampir tidak berguna setelah terkena angin.
Dari ujung gang, Hadi muncul sambil berlari kecil. "Kalian lama banget!" seru Hadi dengan nada protes.
Irfan menatap jam tangannya. "Aku datang tepat waktu."
"Aku juga," jawab Gilang, melipat tangan di dada.
Hadi menunjuk dirinya sendiri dengan bingung, berusaha mencari pembelaan.
"Memang kamu yang telat," ucap Irfan cepat.
Hadi menggeleng. "Aku tidak telat. Aku hanya menyesuaikan diri dengan keadaan."
Gilang menahan tawa, melihat tingkah sahabatnya. "Keadaan apa?" tanyanya.
"Macet."
Irfan menatap Hadi datar. "Kita berdua tadi jalan kaki dari warung kopi."
Hadi terdiam sesaat. "Oh, iya."
Gilang tertawa bergelak sampai terbatuk-batuk.
Mereka bertiga sudah berteman sejak kuliah. Sekarang usia mereka dua puluh enam tahun dan kehidupan masing-masing mulai bergerak ke arah berbeda. Irfan bekerja sebagai fotografer lepas, Gilang menjadi programmer di sebuah perusahaan rintisan, sementara Hadi menjalankan bisnis kecil berupa kopi kemasan.
Malam itu mereka datang bukan untuk membicarakan pekerjaan. Mereka datang untuk membantu seorang teman lama bernama Nadia.
Hadi berjalan mendekati pagar lalu menekan bel. Tidak sampai sepuluh detik kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang perempuan muncul dari balik pintu. Rambutnya sebahu dan sedikit bergelombang. Ia mengenakan blus biru tua dan celana panjang hitam sederhana. Usianya sekitar dua puluh tujuh tahun.
Nadia tersenyum ramah, membuat garis di sudut matanya terlihat jelas. "Maaf membuat kalian datang malam-malam."
Irfan mendadak diam, Gilang ikut diam, dan Hadi, yang biasanya paling cepat menjawab apa pun, bahkan ikut kehilangan kata-kata selama beberapa detik, terpesona oleh senyuman itu.
Nadia mengerutkan kening, keheranan. "Kenapa kalian diam?" tanyanya.
Hadi buru-buru tersenyum untuk menutupi salah tingkahnya. "Nggak apa-apa."
Irfan melirik tajam Hadi. Hadi melanjutkan, "Cuma... rumahnya bagus."
Nadia tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah. "Rumahnya biasa saja."
"Buat saya bagus," jawab Hadi cepat tanpa pikir panjang.
Gilang menyikut lengan Hadi, menatapnya dengan tatapan memperingatkan. "Jangan mulai."
Nadia justru semakin geli melihat tingkah mereka. "Ayo, masuk," ucapnya mempersilakan.
Baca juga: Rasa Yang Telah Terbunuh
Mereka bertiga masuk ke ruang tamu. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terasa hangat dan nyaman. Ada beberapa kardus yang belum dibuka di sudut ruangan. Di dinding tergantung foto keluarga dalam bingkai sederhana.
Irfan sempat memperhatikan salah satu foto itu dengan seksama. Di dalamnya ada Nadia, seorang pria, dan seorang anak perempuan kecil.
"Anakmu?" tanya Irfan sambil menunjuk foto tersebut.
Nadia mengangguk. "Iya. Namanya Lila. Umurnya lima tahun."
"Sekarang di mana?" tanya Gilang.
"Di rumah neneknya. Besok baru pulang."
Hadi memperhatikan foto itu lebih lama. "Lucu."
Nadia tersenyum. "Dia memang anak yang ceria."
Ada sedikit perubahan dalam suara Nadia ketika menyebut anaknya. Senyumnya menjadi lebih lembut.
"Lila tinggal sama kamu?" tanya Gilang.
"Iya. Untuk sementara malam ini dia menginap di rumah ibu saya. Saya baru pindah ke sini, jadi saya masih banyak yang harus dibereskan."
Irfan mengangguk. Baru saat itulah ia kembali memperhatikan foto tadi. Pria yang berdiri di samping Nadia jelas bukan sekadar teman. Itu pasti mantan suaminya.
"Kalau boleh tahu..." Hadi berhenti sebentar, memilih kata-kata. "Kamu sudah lama tinggal sendiri?"
Nadia menatapnya. "Baru beberapa bulan."
"Setelah..." Hadi tidak meneruskan kalimatnya.
Nadia memahami maksudnya. "Setelah bercerai?"
Hadi mengangguk. "Iya."
Nadia tersenyum tipis. "Sudah selesai. Saya dan mantan suami saya sepakat berpisah. Yang penting sekarang saya fokus ke Lila dan pekerjaan."
Tidak ada nada sedih dalam suaranya. Namun Irfan menangkap sesuatu dari tatapan Nadia. Seperti ada cerita panjang yang sengaja tidak ingin dibicarakan malam itu.
Nadia kemudian mengalihkan pembicaraan. "Masalahnya ada di garasi. Listriknya sering mati. Saya mau menjadikan garasi itu ruang kerja."
Hadi langsung berdiri. "Kalau begitu kita lihat."
Irfan menatapnya dengan satu alis terangkat. "Memangnya kamu ngerti listrik?"
Hadi menggeleng. "Nggak."
"Lalu?" tanya Irfan lagi.
"Yang penting percaya diri dulu," jawab Hadi sambil nyengir.
Gilang menghela napas panjang, melihat tingkah Hadi. "Biar saya yang lihat."
Mereka bertiga berjalan menuju garasi. Nadia mengikuti dari belakang.
Garasi itu cukup luas. Sebagian dinding dipenuhi rak kosong dan beberapa kardus. Di sisi kanan ada meja kerja yang baru dibeli.
"Rencananya meja ini untuk komputer," kata Nadia. "Sebelah sana untuk tempat saya menggambar desain."
Gilang memeriksa stopkontak. "Sudah berapa kali listriknya mati?"
"Hampir setiap malam," keluh Nadia
"Beban listriknya mungkin terlalu besar?"
"Padahal baru lampu dan satu komputer," jawab Nadia.
Gilang membuka kotak kecil di dinding, memperlihatkan kabel-kabel di dalamnya. Hadi berdiri di sampingnya dengan wajah serius, sedangkan Irfan hanya memperhatikan.
"Lu ngerti, Lang?" tanya Irfan
Gilang mengangguk. "Sedikit."
Baca juga: Apakah Memang Dia?
Hadi ikut mengangguk seolah sangat memahami. "Kalau begitu saya awasi."
Irfan tertawa renyah. "Bagian itu kamu memang ahli, Di."
Nadia tertawa mendengar percakapan mereka. Tidak lama kemudian, seorang perempuan muda yang baru dua hari lalu menemani Nadia muncul dari arah dapur.
"Tehnya sudah siap," ucap perempuan itu ramah.
Irfan menoleh seketika. Ia langsung mengenali wajah perempuan itu. "Sekar?" ucapnya kaget.
Perempuan itu berhenti, matanya membelalak. "Irfan?"
Sekar berusia dua puluh lima tahun. Rambutnya diikat sederhana dan ia mengenakan kaus putih polos dipadu celana jeans.
"Kalian kenal?" tanya Nadia heran, menatap bergantian antara Irfan dan Sekar.
"Pernah satu kampus," jawab Irfan cepat.
Sekar tersenyum. "Waktu acara pameran fotografi kampus dulu."
Irfan mengangguk. "Dan kamu pernah meminjam kamera saya waktu itu."
Sekar tertawa. "Dan sampai sekarang saya masih menyimpannya."
Irfan terkejut. "Serius? Saya kira sudah hilang."
Sekar menunjuk meja ruang tamu. "Kameranya ada di sana."
Irfan melihat sebuah kamera tua di atas meja. "Ya ampun. Itu masih ada?"
"Masih, tersimpan rapi," jawab Sekar.
"Kenapa tidak pernah dikembalikan?"
Sekar mengangkat bahu sambil tersenyum. "Karena setelah acara itu kita tidak pernah bertemu lagi."
Hadi menyela dari belakang dengan nada usil. "Jadi sekarang sudah ketemu. Minta balik, Fan."
Sekar menoleh kepada Hadi dengan tatapan menantang. "Memangnya dia mau?"
Irfan tersenyum menatap Sekar. "Kalau kameranya masih bagus, saya mau."
"Kalau ternyata rusak?" tanya Sekar.
"Saya tagih ke kamu," jawab Irfan dengan nada bercanda.
Sekar tertawa lepas.
Nadia datang membawa nampan berisi teh hangat dan gorengan. "Sudah, jangan ribut soal kamera. Ayo di minum tehnya."
Mereka akhirnya kembali duduk di ruang tamu. Lima orang itu berbincang cukup lama, berbagi cerita tentang kesibukan masing-masing setelah sekian lama tidak bertemu.
Nadia kemudian bercerita sedikit tentang Lila. "Lila itu cerewet sekali," katanya sambil tersenyum. "Kalau sudah mulai bertanya, bisa satu jam tidak berhenti."
Hadi tertawa terbahak-bahak. "Mirip ibunya berarti?"
Nadia mengangkat alis. "Mungkin."
"Berarti kalau besar nanti cantik dan cerewet."
Nadia tertawa renyah. "Jangan mengajari anak saya begitu."
"Siap."
Gilang yang sejak tadi lebih banyak diam tiba-tiba bertanya dengan nada serius, "Kalau Lila sudah pulang, dia sekolah di sekitar sini?"
"Iya. Tidak jauh dari sini," jawab Nadia.
"Pasti senang punya ibu yang perhatian."
Nadia tersenyum, namun ada kilatan sendu di matanya. "Saya justru sering merasa belum cukup baik sebagai ibu."
Sekar segera menatap Nadia. "Jangan mulai menyalahkan diri sendiri."
Nadia terdiam sebentar.
Baca juga: Indah Atau Winda, Atau...?
Irfan memperhatikan dinamika di antara mereka berdua. Ia baru memahami bahwa keputusan bercerai itu mungkin jauh lebih berat dan melelahkan daripada yang Nadia tunjukkan di permukaan.
Namun Nadia segera menarik napas dan kembali tersenyum., senyum yang hangat. Senyum yang membuat suasana berubah.
Hadi menatap Nadia cukup lama sampai Gilang menyenggol kakinya. Hadi berbisik, "Apa?"
Gilang membalas pelan, "Jangan kelihatan banget."
"Kelihatan apa?"
"Kamu suka dia."
Hadi tersenyum. "Memangnya salah?"
Gilang tidak menjawab.
Irfan yang mendengar percakapan itu hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua sahabatnya.
Nadia ternyata memperhatikan mereka. "Kalian sedang membicarakan saya?"
Hadi langsung menjawab, "Tidak."
"Yakin?" tanya Nadia memastikan.
"Yakin."
Irfan menyela, "Dia bilang teh buatanmu enak."
Hadi menatap Irfan. "Kapan saya bilang begitu?"
Irfan menginjak kakinya.
Hadi meringis. "Iya. Enak."
Nadia tertawa merdu. "Kalau begitu, habiskan."
Setelah hampir satu jam memeriksa instalasi listrik, Gilang akhirnya menemukan masalahnya. "Sambungannya longgar," katanya menjelaskan.
Ia memperbaiki kabel dan meminta Nadia menyalakan lampu. Lampu garasi menyala terang.
"Berhasil!" seru Hadi.
Nadia bertepuk tangan. "Terima kasih!"
Gilang tersenyum bangga. "Tidak sulit."
Hadi langsung menyela. "Untung ada saya."
Irfan menatapnya heran. "Kamu ngapain?"
"Saya memberikan dukungan moral."
Sekar tertawa. "Berarti yang memperbaiki Gilang, yang dapat pujian Hadi."
"Begitulah dunia," jawab Hadi santai.
Nadia menggeleng sambil tersenyum. "Sebagai ucapan terima kasih, besok malam saya traktir kalian makan."
Hadi menjawab terlalu cepat. "Boleh."
Gilang tertawa. Irfan hanya menggeleng.
Nadia berpikir sebentar. "Jam tujuh?"@
"Setuju," jawab Hadi mantap.
"Di Kemang?"
"Boleh."
Sekar mengangkat tangan. "Saya ikut."
Hadi menatapnya. "Kenapa?"
"Karena saya tinggal di sini."
"Oh."
Nadia tertawa. "Berarti besok berlima."
Setelah berpamitan, ketiga pria itu keluar rumah. Begitu pagar tertutup, Hadi langsung berkata, "Gue suka Nadia."
Gilang mengangguk. "Gue juga."
Irfan menatap keduanya. "Serius?"
"Serius," jawab Hadi.
Gilang memasukkan tangan ke saku celananya. "Nadia menarik."
Hadi tersenyum. "Dan senyumnya..."
Baca juga: Jeda Setelah Luka
"Jangan mulai," potong Irfan.
"Kenapa?" tanya Hadi.
"Tidak semua perempuan yang tersenyum berarti mengundang kamu."
Hadi tertawa. "Gue cuma mau bilang senyumnya bagus."
Gilang kemudian menatap Irfan. "Kalau lu?" tanyanya.
Irfan terdiam. Ia menoleh ke rumah Nadia. Dari balik jendela, Sekar sedang membereskan gelas. Ia kebetulan menoleh, mata mereka bertemu. Sekar tersenyum. Irfan tanpa sadar ikut tersenyum.
Hadi mengikuti arah pandangan Irfan. "Oalah."
Irfan langsung menoleh. "Apa?"
"Nggak."
"Bilang yang jelas!"
Hadi tertawa. "Lu ternyata bukan lihat Nadia."
Gilang ikut tersenyum.
Irfan menggeleng. "Gue cuma kenal Sekar dari dulu."
"Ya, ya," kata Hadi. "Kami percaya."
Ketiganya berjalan meninggalkan rumah. Namun malam itu belum selesai. Di dalam rumah, Nadia sedang menutup tirai ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Senyumnya langsung menghilang.
Sekar yang sedang membawa gelas ke dapur memperhatikan perubahan wajah Nadia. "Kenapa?" Sekar bertanya.
Nadia tidak menjawab. Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.
Aku tahu kamu tidak sendirian. Kita perlu bicara.
Nadia menggenggam ponselnya.
Sekar mendekat. "Siapa?"
Nadia menarik napas panjang. "Arman."
Sekar langsung memahami. Mantan suami Nadia, pria yang ada di foto keluarga tadi.
"Dia datang lagi?" tanya Sekar.
Nadia mengangguk. "Padahal sudah saya bilang jangan datang tanpa memberi tahu."
Di luar pagar, Arman keluar dari mobil. Ia berdiri diam sambil menatap rumah.
Nadia memandangnya dari balik tirai. Tidak ada senyum lagi di wajahnya. Untuk pertama kalinya malam itu, Sekar melihat ketakutan di mata sepupunya.
"Dia mau apa?" tanya Sekar.
Nadia menggeleng. "Saya tidak tahu."
Sekar berdiri di sampingnya. "Jangan temui dia kalau kamu tidak mau."
Nadia tetap memandang ke luar. "Masalahnya bukan cuma saya."
Sekar menatap Nadia. "Lila?"
Nadia mengangguk. "Arman pasti akan membawa-bawa Lila."
Di luar, Arman masih berdiri di depan pagar sedangkan di dalam, Nadia menggenggam ponselnya erat-erat.
Beberapa jam sebelumnya, ia masih tertawa bersama tiga pria yang datang membantunya memperbaiki listrik.
Ia tidak tahu bahwa kehadiran mereka akan mengubah banyak hal. Hadi sudah terang-terangan tertarik kepadanya, Gilang diam-diam mulai memperhatikannya. Sementara Irfan justru mulai tertarik kepada Sekar. Tetapi tidak seorang pun dari mereka mengetahui bahwa di balik senyum Nadia yang begitu menggoda itu tersimpan sebuah kehidupan yang belum benar-benar selesai.
Karena Nadia bukan hanya seorang perempuan muda yang baru bercerai, ia adalah seorang ibu. Dan ketika seorang perempuan sudah memiliki seorang anak, setiap keputusan yang diambilnya bukan hanya tentang dirinya sendiri.
Termasuk ketika seseorang dari masa lalu datang mengetuk kembali pintu kehidupannya.
Baca juga: Misteri Di Balik Senja
Nadia akhirnya menutup tirai. "Besok Lila pulang," katanya pelan.
Sekar menggenggam tangannya. "Kita hadapi bersama."
Nadia tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu bukan senyum menggoda. Itu senyum seorang ibu yang sedang berusaha kuat demi anaknya.
Di luar rumah, mobil Arman akhirnya bergerak pergi, tetapi Nadia tahu satu hal. Arman tidak datang untuk terakhir kalinya.
Dan tanpa disadari oleh Nadia, tiga pria yang malam itu datang sebagai teman akan segera terseret ke dalam kisah yang jauh lebih rumit daripada sekadar memperbaiki kabel listrik.
***
Keesokan harinya, Jakarta kembali sibuk seperti biasa. Pagi-pagi sekali, jalanan sudah dipenuhi suara kendaraan. Pedagang bubur mendorong gerobaknya, pengendara motor menyelip di antara mobil, dan orang-orang bergegas menuju tempat kerja masing-masing.
Di sebuah kedai kopi kecil tidak jauh dari stasiun, Irfan, Gilang, dan Hadi duduk mengelilingi meja. Hadi terlihat paling bersemangat. "Jadi malam ini kita makan sama Nadia," katanya sambil mengaduk kopi.
Gilang yang sedang melihat layar laptop mengangguk. "Iya."
"Dan Sekar juga."
Irfan mengangkat wajah. "Kenapa kamu menyebut nama Sekar dengan nada begitu?"
Hadi tersenyum. "Karena saya sedang mengamati."
"Mengamati apa?" tanya Irfan dengan nada menyelidik.
"Lu."
Irfan mengernyit. "Apa yang mau diamati?"
Hadi menunjuk Irfan dengan sendok. "Sejak kemarin mata lu selalu mengikuti Sekar."
"Tidak."
Gilang menutup laptopnya. "Memang iya."
Irfan menghela napas. "Kalian berdua kurang kerjaan."
Hadi tertawa. "Kalau lu suka Sekar, bilang saja."
"Gue tidak bilang suka."
"Berarti belum suka?"
"Belum tentu."
Gilang tersenyum. "Jawaban diplomatis."
Irfan bersandar. "Bagaimana dengan kalian? Kalian berdua sama-sama suka Nadia."
Hadi langsung menjawab, "Kalau gue jelas."
Gilang terdiam, meneguk kopinya perlahan untuk menutupi salah tingkah.
Hadi menoleh ke arah Gilang. "Lu juga suka, kan?"
Gilang akhirnya mengangguk. "Sedikit."
"Sedikit?" tanya Hadi memastikan.
"Iya."
"Sejak kapan?" tanya Irfan.
Gilang berpikir. "Sejak dia tersenyum."
Hadi menunjuk Gilang. "Nah! Berarti kita sama."
Irfan tertawa. "Kalian berdua tertarik kepada perempuan yang sama hanya gara-gara senyum."
Hadi mengangkat bahu. "Memangnya salah?"
Irfan tidak menjawab. Dalam hati, ia tahu Hadi ada benarnya. Senyum Nadia memang mudah diingat, tetapi ada sesuatu yang lebih membuatnya penasaran. Cara Nadia berbicara tentang anaknya. Cara matanya berubah ketika menyebut nama Lila. Ada cerita yang belum selesai.
Bersambung
Terima kasih telah membaca Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi...?. Ini adalah cerita bersambung bergenre: Comedy, Drama Romantis, Komedi Romantis, Metropop, New Adult Fiction, Pernikahan, dan Romance. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Bukan Cinta Yang Sama
Komentar
Posting Komentar