Sketsa Yang Tak Selesai

Sketsa Yang Tak Selesai




sebuah buku dan secangkir kopi untuk ilustrasi cerita Sketsa Yang Tak Selesai


Bagi Hermansyah, sebuah laptop tua berselimut stiker kedai kopi dan sebuah pelataran blog berlatar putih adalah dunia yang jauh lebih ramah ketimbang riuhnya kenyataan. Di sanalah, di bawah nama pena yang sengaja disamarkan, ia membangun sebuah kota fiksi. Kota yang dihuni oleh kenangan-kenangan yang menolak mati, jalan-jalan setapak yang selalu basah oleh hujan sore hari, dan satu sosok wanita yang wajahnya tak pernah ia deskripsikan secara gamblang, namun kehadirannya terasa di setiap bait kalimat.

Malam itu, jam dinding di kamarnya hampir pukul dua dini hari. Suara jangkrik di luar jendela beradu dengan ketukan ritmis jari-jari Hermansyah di atas papan ketik.

“Beberapa orang ditakdirkan menjadi rumah, tempat kita pulang dan menetap. Namun, beberapa lainnya hanya ditakdirkan menjadi stasiun kereta. Kita singgah, bertukar senyum di peron, lalu terpaksa melambai saat peluit keberangkatan berbunyi. Dan bagian paling getir dari perjalanan itu adalah menyadari bahwa kereta kita bergerak ke arah yang saling memunggungi.”

Hermansyah menghela napas panjang. Ia membaca ulang paragraf yang baru saja ia ketik di draf artikel blog terbarunya. Jemarinya ragu-ragu di atas tombol publish. Ada rasa hangat sekaligus sesak yang familier setiap kali ia menumpahkan isi kepalanya ke dunia maya. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol tersebut, sebuah jendela obrolan menyembul di sudut kanan bawah layarnya.

Reny: Belum tidur, Man? Menulis lagi?

Hermansyah tersenyum tipis. Reny adalah satu-satunya orang di dunia nyata yang memegang kunci menuju dunia digitalnya. Sahabatnya sejak masa kuliah itu tahu persis alamat blog rahasianya, bahkan sering menjadi editor dadakan sebelum tulisan-tulisannya itu dipublikasikan.

Hermansyah: Tinggal satu paragraf terakhir. Tanggung, biar besok pagi pembaca blogku punya asupan melankolis.

Reny: Jangan dulu diterbitkan. Kirim drafnya ke emailku. Aku mau baca.

Beberapa menit setelah Hermansyah mengirimkan salinan draf tersebut, ponselnya di atas meja bergetar. Nama 'Reny' tertera di layar. Hermansyah menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Halo, Ren. Belum tidur juga?"

"Bagaimana aku bisa tidur kalau tulisanmu malam ini rasanya seperti orang yang sedang mencekik leher sendiri?" Suara Reny terdengar jernih di seberang telepon, lengkap dengan nada menginterogasi yang khas. "Herman, aku sudah membaca tulisanmu di blog ini selama hampir empat tahun. Gaya bahasamu mengalir, diksimu bagus. Tapi, kamu tahu apa yang selalu kurasakan setiap kali membaca ulasan atau cerpenmu?"

Hermansyah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit kamar yang mulai menguning. "Apa?"

"Ada ruang kosong, Man," ucap Reny pelan, nadanya melunak. "Tulisanmu selalu terasa seperti rumah yang jendelanya terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk, tapi tidak ada orang di dalamnya. Kamu selalu menulis tentang kerinduan yang hebat, tapi kamu tidak pernah memberi tahu pembacamu atau mungkin dirimu sendiri kepada siapa rindu itu bermuara. Kamu seperti sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar di balik tirai kata-kata puitismu."

Kalimat Reny menghantam dada Hermansyah dengan telak. Sesaat, ruangan itu menjadi sangat hening, hanya menyisakan deru kipas angin laptop yang bekerja keras. Reny benar. Sebagai sahabat dekat yang menemaninya melewati masa-masa sulit pasca-kelulusan kuliah, Reny bisa merasakan ada hantu masa lalu yang masih sering mengetuk pintu hatinya. Namun, Reny cukup tahu diri untuk tidak pernah merangsek masuk dan menanyakan nama wanita itu secara paksa.

"Semua penulis punya rahasia dapur mereka sendiri, Ren," jawab Hermansyah akhirnya, mencoba tertawa kecil untuk mengusir kecanggungan.


"Terserah kamu saja," Reny menghela napas di ujung telepon. "Tapi bersiap-siaplah. Besok pagi, pihak penerbit swadaya yang kemarin menghubungimu akan mengirimkan draf kontrak final. Tulisan-tulisan melankolis di blogmu itu akan segera dicetak menjadi buku fisik. Kamu tidak bisa selamanya bersembunyi di balik layar, Hermansyah. Saat buku itu terbit, rahasia yang kamu simpan rapi itu... entah bagaimana, pasti akan merembes keluar."

Setelah obrolan telepon itu berakhir, Hermansyah tidak langsung mematikan laptopnya. Ia menatap layar yang menampilkan halaman dasbor blognya. Angka pengunjung harian terus bergerak naik. Di kolom komentar, ratusan orang asing memuji bagaimana tulisannya begitu mewakili patah hati mereka.

Hermansyah menyentuh dadanya sendiri. Di sana, di bagian terdalam yang tidak pernah terjamah oleh siapa pun, ada satu nama yang langsung berdenyut setiap kali kata 'rindu' diketikkan. Nama yang tidak pernah ia sebut dalam doa-doa yang lantang, melainkan nama yang ia selipkan di antara spasi dan tanda baca dalam setiap artikel blognya.

Hermansyah menutup laptopnya dengan pelan. Kamar itu kini sepenuhnya gelap, menyisakan ia yang mulai memejamkan mata, bersiap menghadapi hari esok di mana tulisan-tulisan rahasianya akan mulai menemukan jalannya ke dunia nyata, dan mungkin, ke tangan orang yang selama ini ia tuliskan.

***

Kabar tentang dibukukannya blog Hermansyah menyebar lebih cepat daripada yang ia duga. Begitu kontrak dengan penerbit ditandatangani, Reny yang bertindak seperti manajer merangkap humas pribadi langsung membuat selebaran digital sederhana untuk acara peluncuran buku yang akan diadakan di sebuah kedai kopi lokal dua minggu ke depan.

Sore itu, Hermansyah sedang duduk di meja kerjanya saat ponsel di sebelah cangkir kopinya bergetar tanpa henti. Layarnya berkedip-kedip, menampilkan puluhan notifikasi dari grup WhatsApp alumni kampus yang sudah berbulan-bulan senyap.

Reihan: Wah, gila! Ini Hermansyah sahabat kita kan? Yang dulu sering numpang tidur di sekre mapala? Selamat, Man! Sukses besar kamu sekarang!

Dito (Teman Kuliah): Gokil, Herman jadi penulis sekarang. Jangan lupa tanda tangan buat kita-kita ya.

Reihan: Tenang, Dit. Aku sama Ningsih pasti datang ke acaranya. Kebetulan kedai kopinya dekat dari rumah kami. Herman, kamu harus sisihkan dua buku paling bagus buat kami, ya!

Hermansyah memandangi rentetan pesan itu dengan jemari yang menggantung di atas layar. Jantungnya berdegup dengan ritme yang mendadak tidak beraturan. Nama Reihan di layar ponselnya selalu membawa dua rasa yang bertolak belakang: kehangatan seorang sahabat sejati, sekaligus sengatan linu dari sebuah kekalahan masa lalu.

Reihan adalah orang yang baik. Sangat baik, bahkan. Dulu, saat ia kesulitan membayar uang kuliah di semester lima, Reihan-lah yang diam-diam membayarkannya tanpa pernah menagih kembali. Reihan adalah tipe pria yang ceria, tegas, dan tahu apa yang dia inginkan dalam hidup. Berbanding terbalik dengannya yang selalu labil, penuh keraguan, dan lebih suka mengamati dunia dari balik jendela.

Maka, ketika lima tahun lalu Reihan menyatakan perasaannya pada Ningsih, gadis yang diam-diam menginspirasi setiap bait puisi di buku catatannya. Hermansyah memilih untuk mundur sepenuhnya tanpa pernah melempar satu pun perlawanan. Bagaimana mungkin ia tega bersaing dengan sahabat yang telah menyelamatkan hidupnya? Terlebih lagi, Reihan mampu memberikan kepastian masa depan yang saat itu belum bisa ia janjikan pada Ningsih.

Jemari Hermansyah akhirnya mengetik balasan.

Hermansyah: Terima kasih, Han. Datang saja, nanti aku siapkan tempat paling depan buat kalian berdua.


Sebuah notifikasi baru muncul. Bukan di grup, melainkan sebuah pesan pribadi. Dari Ningsih.

Ningsih: Selamat ya, Man. Judul bukunya indah sekali: "Sketsa yang Sengaja Tak Selesai". Aku membaca beberapa sinopsisnya di akun media sosialmu. Rasanya, gaya tulisanmu masih sama seperti dulu saat kita masih sering bertukar novel di perpustakaan.

Hermansyah menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Ia mengunci ponselnya, membalikkan layar benda itu ke bawah meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatap keluar jendela kafe tempat ia sedang bersantai. Hujan rintik-rintik mulai membasahi aspal jalanan Jakarta.

Ingatannya mendadak terlempar ke sebuah sore di perpustakaan kampus beberapa tahun lalu. Saat itu, Ningsih duduk di hadapannya, merapikan anak rambutnya yang jatuh ke dahi, sambil berbisik, "Herman, kalau suatu saat kamu menerbitkan buku, aku mau jadi orang pertama yang membaca halaman persembahannya."

Hermansyah mengembuskan napas berat. Halaman persembahan itu kini sudah dicetak. Di sana tertulis kalimat standar: Untuk kedua orang tuaku, sahabat-sahabatku, dan para pembaca setia. Tidak ada nama Ningsih di sana. Ia tidak berani, dan tidak akan pernah boleh memasukkan nama itu sekarang. Ningsih sudah menjadi istri sah Reihan sejak dua tahun lalu. Pernikahan mereka bahagia, dan Hermansyah hadir di sana, tersenyum paling lebar sambil menjabat tangan kedua mempelai di atas pelaminan.

"Hei. Melamun lagi."

Sebuah es kopi susu mendarat di meja, memutus lamunan Hermansyah. Reny duduk di hadapannya dengan wajah yang tampak lelah namun puas setelah mengurus perizinan tempat untuk acara peluncuran buku.

"Reihan dan Ningsih bilang mereka mau datang," ujar Hermansyah pelan, matanya kembali menatap cangkir kopinya yang mulai berembun.

Reny menghentikan aktivitas sedotannya. Matanya yang tajam menatap Hermansyah dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sebagai orang yang berada di lingkaran pertemanan yang sama sejak kuliah, Reny tentu tahu sejarah segitiga tak kasat mata di antara mereka bertiga. Reny tahu betapa hancurnya Hermansyah di malam pernikahan Reihan dan Ningsih, meskipun pria itu berpura-pura mabuk hanya demi menyembunyikan air matanya.

"Kamu siap bertemu mereka lagi?" tanya Reny, nadanya kini sepenuhnya serius, kehilangan nada ketus yang biasanya ia pakai. "Terutama... bertemu Ningsih, sebagai seorang penonton yang melihatnya dari jauh?"

Hermansyah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dipaksakan untuk menenangkan sahabatnya. "Mereka sahabatku, Ren. Reihan orang baik, Ningsih juga berhak bahagia. Lagipula, semuanya sudah berlalu. Perasaan itu sudah mati dan terkubur."

Reny tidak menjawab. Ia hanya menatap Hermansyah dengan pandangan iba yang coba ia sembunyikan. Dalam hatinya, Reny tahu betul: perasaan yang dituangkan ke dalam tulisan setiap malam tidak akan pernah bisa dikubur dengan mudah. Tulisan-tulisan itu justru adalah cara Hermansyah memberi napas buatan agar perasaan itu tetap hidup, terjaga rapi di dalam ruang rahasia yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.

"Baguslah kalau begitu," kata Reny akhirnya, memecah keheningan. "Karena dua minggu lagi, buku itu akan sampai ke tangan mereka. Dan aku harap kamu tidak goyah saat matanya menatap matamu di kedai kopi itu nanti."

Hermansyah hanya mengangguk, mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela, memperhatikan rintik hujan yang perlahan menghapus jejak debu di jalanan. Sama seperti ia yang mencoba menghapus jejak Ningsih dari realita hidupnya, meski gagal total di dalam pikirannya.

***

Kedai Kopi "Selaras" sore itu dipenuhi oleh aroma bubuk kopi dan wangi kertas baru dari tumpukan buku yang baru saja dikeluarkan dari kardus. Di sudut ruangan, sebuah spanduk berukuran sedang terpasang rapi, menampilkan tajuk acara: Peluncuran Buku "Sketsa yang Sengaja Tak Selesai" oleh Hermansyah.


Hermansyah duduk di kursi kayu dekat meja tinggi, memegang sebuah pena hitam. Tangannya sudah agak kaku setelah menandatangani hampir lima puluh eksemplar buku milik para pembaca blognya yang datang sejak siang. Senyum ramah tak lepas dari wajahnya, meski di balik kemejanya yang rapi, dadanya berdegup dengan ritme yang semakin liar setiap kali mendengar derit di pintu masuk kedai.

Reny berdiri tak jauh dari sana, sibuk mengarahkan antrean pembaca sambil sesekali mencatat sisa stok buku di gawainya. Namun, mata Reny yang waspada tidak pernah benar-benar lepas dari Hermansyah. Ia tahu, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Waktu di mana jam kantor selesai, dan waktu di mana tamu yang paling dikhawatirkan Hermansyah berjanji akan datang.

Suara pintu yang didorong terbuka dan embusan angin sore yang membawa sisa rintik hujan langsung merangsek masuk ke dalam kedai. Hermansyah mendongak dari halaman buku yang sedang ia tanda tangani.

Dua orang berjalan masuk. Reihan, dengan jaket hitamnya yang sedikit basah oleh gerimis, melangkah lebar sambil merangkul bahu seorang wanita bergaun warna pastel. Ningsih. Wanita itu tersenyum kecil sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin di luar.

"Herman!" suara berat Reihan langsung memecah riuh rendah suara blender es di kedai. Ia melambaikan tangan begitu melihat sahabatnya di ujung ruangan.

Hermansyah meletakkan penanya. Ia berdiri, menarik napas dalam-dalam seolah mengumpulkan seluruh pasokan udara yang mendadak menipis di paru-parunya.

"Reihan! Ningsih! Kalian datang juga," ujar Hermansyah saat keduanya sampai di depan mejanya.

Reihan langsung memeluk Hermansyah dengan erat, menepuk-nepuk punggungnya khas pelukan dua lelaki yang sudah bersahabat bertahun-tahun. "Mana mungkin aku melewatkan hari besarmu, Man? Gila, kedai ini penuh sekali. Kamu benar-benar sudah jadi artis sekarang!"

"Ah, bisa saja kamu. Ini cuma acara kecil-kecilan," jawab Hermansyah, mencoba tertawa lepas. Mata Hermansyah kemudian bergeser, mendarat pada sosok di sebelah Reihan.

"Selamat ya, Man," ucap Ningsih lembut. Ia mengulurkan tangannya.

Saat jemari mereka bertautan, Hermansyah merasakan sensasi dingin yang familier. Telapak tangan Ningsih selalu dingin jika cuaca sedang hujan. Itu adalah detail kecil yang dulu selalu membuatnya buru-buru membelikan teh hangat di kantin kampus. Namun sekarang, kehangatan itu bukan lagi tugasnya untuk memberikan.

"Terima kasih, Ningsih. Terima kasih sudah menyempatkan waktu," kata Hermansyah, buru-buru melepaskan jabat tangan itu sebelum perasaannya meluber ke permukaan.

"Kami beli tiga buku langsung, Man. Satu buat dipajang, satu buat dibaca Ningsih, satu lagi buat kusumbangkan ke perpus kantor," kata Reihan bangga sambil menyodorkan tiga eksemplar buku ke hadapan Hermansyah. "Tulis pesan yang paling keren di dalamnya, ya!"

Hermansyah mengangguk. Ia kembali duduk dan membuka halaman pertama buku milik Reihan dan Ningsih. Saat ujung penanya menyentuh kertas, ia merasakan tatapan Ningsih yang intens dari atas kepalanya. Ningsih memperhatikan jemari Hermansyah yang bergerak lincah, menuliskan untaian doa standar untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka.

"Herman," panggil Ningsih pelan, sementara Reihan sedang sibuk menyapa Dito yang kebetulan baru keluar dari toilet kedai.

"Ya?" Hermansyah mendongak, mencoba memasang wajah senetral mungkin.

Ningsih menunjuk sebuah bab di bagian tengah buku yang terbuka. "Aku sempat membaca beberapa lembar draf digital yang kamu unggah di media sosial minggu lalu. Bab tiga... tentang sebuah kedai teh tua di pinggir kota yang jendelanya menghadap ke pohon mahoni. Deskripsinya mendetail sekali." Ningsih terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Hermansyah. "Rasanya... aku tahu persis di mana kedai teh itu berada."


Jantung Hermansyah seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh. Kedai teh itu adalah tempat tersembunyi yang hanya diketahui oleh mereka berdua, tempat di mana Ningsih pernah menangis di bahunya saat nilai sidangnya anjlok, jauh sebelum Reihan menyatakan cinta padanya.

Sebelum Hermansyah sempat menyusun kata-kata untuk mengelak, Reny tiba-tiba muncul di antara mereka, memotong ketegangan yang mulai mengental.

"Herman, maaf memotong," ujar Reny sambil membawa satu kotak sisa buku promosi. "Ini ada beberapa berkas dan buku edisi khusus yang harus kamu tanda tangani segera di meja administrasi depan. Pihak penerbit sudah menunggu."

Reny melirik sekilas ke arah Ningsih, lalu memberikan tatapan penuh kode kepada Hermansyah. Sebuah pelampung penyelamat yang sengaja dilemparkan Reny agar ia bisa keluar dari situasi berbahaya tersebut.

"Ah, iya. Maaf, Reihan, Ningsih, aku harus ke depan sebentar mengurus ini," pamit Hermansyah sambil buru-buru berdiri, seolah-olah berkas dari penerbit adalah hal paling darurat di dunia.

"Oh, aman, Man! Kerjakan saja dulu. Kami juga sepertinya harus sekalian pamit. Ningsih agak kurang enak badan kalau kena angin malam, takut kemalaman di jalan juga," balas Reihan sambil merangkul bahu Ningsih secara protektif.

Ningsih hanya mengangguk pelan. Ia menerima buku yang sudah ditandatangani Hermansyah, memeluknya di dada, lalu melempar sebuah senyuman perpisahan yang hangat namun menyimpan sejuta tanya yang ia tahu tak akan pernah ada jawabannya lagi.

Hermansyah mematung di tempatnya berdiri. Dari sudut matanya, ia memperhatikan bagaimana Reihan membukakan pintu kedai untuk Ningsih, melindunginya dari rintik hujan sore yang kian menderu dengan payung besar yang ia bawa. Punggung keduanya perlahan menjauh, bersiap masuk ke dalam mobil.

Sore itu, di tengah riuhnya kedai kopi, Hermansyah menyadari satu hal: dunianya baru saja berjalan pergi, dan ia hanya bisa berdiri menyaksikannya dari balik kaca yang berembun.

***

Suara derit pintu depan Kedai Kopi 'Selaras' saat ditutup rapat perlahan digantikan oleh rintik hujan yang kian menderu di luar. Di dalam kedai, riuh pengunjung mulai menyusut seiring temaramnya langit sore. Beberapa staf kedai mulai merapikan kursi, dan aroma kopi yang pekat kini bercampur dengan aroma tanah basah yang menguar dari sela-sela pintu.

Hermansyah masih berdiri di dekat meja administrasi. Tangannya menggenggam pena hitam yang tintanya hampir habis. Matanya lurus menatap ke luar jendela kaca yang kini buram tertutup embun. Di seberang jalan, lampu belakang mobil Reihan baru saja menyala, membelah genangan air, lalu perlahan melebur bersama arus lalu lintas Jakarta yang padat.

Sosok Ningsih benar-benar telah hilang dari pandangan.

"Ini berkas laporan penjualan hari ini, Man. Total ada sembilan puluh lima buku yang keluar," suara Reny memecah keheningan yang sempat membekukan Hermansyah.

Reny berjalan mendekat, membawa sebuah map tebal. Namun, alih-alih membahas angka-angka penjualan, Reny meletakkan map itu di meja, lalu bersedekap sambil menyandarkan pundaknya ke tiang kayu kedai. Matanya yang tajam menatap sisi wajah Hermansyah yang tampak lelah.

"Kamu sengaja melarikan diri ke meja depan tadi, kan?" tanya Reny pelan, nyaris berbisik.

Hermansyah menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia membalikkan tubuh, mencoba mengumandangkan senyum tipis yang biasa ia gunakan untuk topeng pertahanan diri. "Penerbit memang butuh tanda tanganku segera, Ren. Aku tidak bohong."


"Herman, aku ini sudah bersamamu sejak kita masih sama-sama bingung memilih judul skripsi," Reny menggelengkan kepala, ada nada gemas sekaligus iba dalam suaranya. "Kamu bisa membohongi puluhan pembaca yang mengantre di depan tadi dengan senyum ramahmu itu. Tapi kamu tidak bisa membohongi aku. Tatapan matamu saat melihat Ningsih tadi... itu tatapan yang sama seperti lima tahun lalu."

Hermansyah terdiam. Ia menatap ujung sepatunya. Pertahanan yang ia bangun rapat-rapat selama bertahun-tahun di dalam blog pribadinya rasanya runtuh begitu saja di hadapan Reny.

"Dia kelihatan bahagia, Ren," ujar Hermansyah akhirnya, suaranya terdengar sangat parau. "Reihan menjaganya dengan sangat baik. Tadi, saat angin bertiup kencang, Reihan langsung merangkulnya. Reihan tahu Ningsih tidak tahan dingin. Melihat itu... aku sadar tempatku memang di sini. Sebagai penonton."

Reny menghela napas dalam-dalam. Ia melangkah satu tindakan lebih dekat, lalu menepuk bahu Hermansyah dengan lembut. "Menjadi penonton itu pilihanmu, Man. Tapi jangan biarkan dirimu terjebak di dalam bioskop yang filmnya sudah selesai diputar. Kamu berhak untuk pulang dan menulis cerita yang baru. Cerita tentang dirimu sendiri, bukan tentang dia lagi."

Hermansyah tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Reny benar, namun hati manusia terkadang adalah labirin yang paling keras kepala.

"Aku mau membereskan sisa buku dulu. Kamu kalau mau pulang duluan, silakan," kata Reny, memberikan ruang privat yang sangat dibutuhkan sahabatnya itu.

Setelah Reny melangkah pergi ke area belakang, Hermansyah berjalan mendekati meja tempat ia duduk bersama Reihan dan Ningsih tadi. Di atas meja kayu itu, masih tertinggal satu cangkir kopi hitam miliknya yang sudah dingin dan sebuah buku catatan kecil bergaris yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Hermansyah duduk kembali di kursi itu. Suasana kedai kini benar-benar sepi, hanya menyisakan alunan musik instrumental bernada rendah dari pengeras suara di sudut langit-langit. Dunia di sekitar Hermansyah mendadak terasa begitu hening, seolah waktu sengaja berhenti untuk memberinya kesempatan mengucapkan selamat tinggal yang sesungguhnya.

Ia membuka buku catatan kecilnya pada halaman yang kosong. Jemarinya membelai permukaan kertas yang putih bersih. Di dalam riuhnya pikiran yang berkecamuk dan sunyinya hati yang telah lama mengalah, Hermansyah tidak menggerakkan penanya. Ia memilih untuk menyimpan semuanya di dalam dada. Di dalam ruang paling gelap, paling suci, dan paling aman yang tidak akan pernah bisa diakses oleh siapa pun di dunia ini, bahkan oleh Reny sekalipun.

Sambil menatap rintik hujan yang kian mereda di balik kaca, Hermansyah membisikkan sebuah kalimat yang menggaung hebat di dalam lubuk jiwanya, sebuah takdir batin yang ia stempel rapat-rapat:

Ningsih... kamu adalah rindu yang selamanya akan aku rahasiakan. Dan meskipun kamu bukan takdirku, namun namamu akan selalu abadi dalam setiap ceritaku.

Hermansyah memejamkan mata sesaat, merasakan sesak yang perlahan berubah menjadi sebuah keikhlasan yang lapang. Saat matanya kembali terbuka, ia menutup buku catatan itu dengan pelan.

Ia berdiri, memakai jaketnya, lalu melangkah menuju meja depan untuk membantu Reny. Langkah kakinya kini terasa lebih ringan. Ia tidak lagi berjalan sebagai pria yang meratapi kehilangan, melainkan sebagai seorang penulis yang siap merawat sebuah rahasia paling indah sepanjang hidupnya.




Tamat


Terima kasih telah membaca Sketsa Yang Tak Selesai. Ini adalah cerita pendek bergenre: Drama Romantis, New Adult Fiction, Romance. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Adakah Pertemuan Di Cerita Kita? (Masih Ada Sedikit Harapan)

Rasa Yang Telah Terbunuh

Makhluk Manis Dalam Lift

Misteri Di Balik Kata Hmmm

Dara, Gadis Dunia Maya (#3)