Sunyi Yang Tak Bisa Kau Kendalikan

Sunyi Yang Tak Bisa Kau Kendalikan




seorang pemuda sedang menikmati secangkir kopi untuk ilustrasi cerita Sunyi Yang Tak Bisa Kau Kendalikan


Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang menempel di udara sore Jakarta. Di sebuah sudut kafe kecil yang tenang, Nizar duduk sendirian. Di hadapannya, secangkir kopi hitam tanpa gula mengepulkan sisa-sisa uap tipis sebelum akhirnya menyerah pada udara dingin ruangan. Ia tampak tenang, teramat tenang, tetapi bagi siapa saja yang cukup peka, ketenangan itu justru menyerupai permukaan air danau yang menyimpan pusaran di dasarnya.

“Masih suka kopi hitam tanpa gula?”

Suara seorang perempuan dari belakang memecah keheningan yang sejak tadi menemani lamunannya. Nizar menoleh perlahan. Sekilas, senyum tersungging di bibirnya, tipis, nyaris tak terlihat, seperti goresan pensil warna abu-abu di atas kertas putih.

"Masih," jawab Nizar datar, matanya menatap mata perempuan itu. "Kamu masih suka nanya hal yang sama setiap kali ketemu, ya, Ra?"

Aira tertawa kecil. Ia menarik kursi kayu di hadapan Nizar dan duduk di sana tanpa diminta. Dulu, bertahun-tahun lalu, ia biasa duduk di tempat yang sama dengan gestur yang serupa. Namun, waktu itu ada gelak tawa, cerita, dan rencana. Sekarang, hanya ada dua orang yang pernah dekat, tetapi kini dipisahkan oleh sesuatu yang tak terlihat dan bahkan tidak lagi perlu dijelaskan oleh kata-kata.

"Kadang aku cuma ingin tahu," kata Aira, menatap wajah Nizar yang masih sama. "Apa kamu masih tetap orang yang dulu."

Nizar mengangkat bahu perlahan. "Orang yang dulu tidak pernah benar-benar hilang. Dia cuma berhenti mencari alasan untuk tetap sama."

Aira terdiam. Ia tahu betul, kalimat itu bukan sekadar retorika kosong. Nizar sudah lama bukan lagi laki-laki yang membutuhkan validasi atau penjelasan panjang lebar mengenai perasaan. Ia kini lebih memilih diam. Bukan karena dingin, melainkan karena ia sudah belajar bahwa tidak semua hal yang dirasakan harus diceritakan. Dan tidak semua orang yang datang harus dipaksa untuk tinggal.

Jauh sebelum sore di kafe itu, beberapa tahun lalu, Nizar adalah sosok yang sama sekali berbeda. Ia adalah tipikal laki-laki yang kerap memenuhi ruang hidup orang lain dengan kehadirannya, memberi perhatian, dan berusaha membuktikan bahwa dirinya layak untuk dicintai.

Sampai pada suatu hari, ia bertemu dengan Liana, seorang gadis bermata tajam yang terlalu pandai membuat orang jatuh cinta, namun terlalu egois untuk membalasnya dengan tulus.

"Kenapa kamu tidak pernah marah, Nizar?" tanya Liana suatu malam dengan nada jengkel, tepat setelah ia dengan sengaja membuat Nizar menunggu selama tiga jam di area parkir bioskop.

"Apa gunanya marah?" jawab Nizar tenang. "Kamu bakal tetap jadi kamu, kan?"

Liana mendengus keras, melipat tangan di dada. "Kamu aneh. Orang lain mungkin sudah meninggalkan aku sejak tadi kalau diperlakukan seperti ini. Kamu ini punya darah atau air es?"

Nizar hanya tersenyum samar. Pandangannya tertuju pada lampu jalan yang memancarkan cahaya kekuningan. "Aku tidak meninggalkan siapa pun. Aku cuma belajar kapan harus berhenti peduli pada hal-hal yang berada di luar kendaliku."

Saat itu, Liana mengira Nizar sedang mencoba memanipulasi perasaannya. Namun, ia salah besar. Nizar sudah mulai lelah. Ia tidak lagi membutuhkan pengakuan atau pembalasan dendam emosional. Ia telah melewati fase ketika cinta dianggap sebagai kebutuhan primer untuk bertahan hidup. Baginya kini, cinta perlahan bergeser menjadi sekadar sebuah pilihan.

Ketika Liana akhirnya memutuskan pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas beberapa bulan kemudian, Nizar bahkan tidak mengejarnya. Ia hanya menatap sepi yang perlahan-lahan merayap masuk.

"Kalau seseorang ingin pergi, tugas kita bukan menahan pintu agar dia tetap tinggal," kata Nizar suatu malam kepada sahabat karibnya, Reza, yang sedang meratapi patah hatinya di sebuah warung kopi sederhana. "Tugas kita cuma memastikan diri kita sendiri tidak ikut hancur saat dia pergi."


Reza, yang memiliki karakter jauh lebih ekspresif dan meledak-ledak, menggelengkan kepala tak percaya. "Kamu seperti tidak punya hati, Zar."

Nizar tertawa kecil, meneguk kopi manisnya. "Punya. Cuma hatiku sudah tidak lagi bisa diatur dan disetir sama kemauan orang lain."

Waktu terus berputar. Nizar memutuskan untuk pindah tempat tinggal, menyewa sebuah rumah kontrakan kecil, dan memulai hidup baru dengan bekerja sebagai tenaga penyunting naskah di sebuah penerbitan buku independen.

Di tempat kerja barunya itu, ia bertemu dengan Fania, seorang editor senior yang dikenal tajam dan keras kepala, tetapi justru menaruh ketertarikan yang tidak biasa pada sisi diam Nizar.

"Kamu itu seperti teka-teki silang yang jawabannya sengaja dikosongkan," kata Fania suatu malam, ketika mereka berdua menjadi orang yang tersisa di kantor setelah jam lembur usai.

Nizar tidak langsung mendongak dari layar monitornya. Ia mengetik beberapa kata terakhir sebelum menutup laptopnya. "Bukan teka-teki," jawabnya santai. "Cuma orang yang sudah capek menjelaskan isi kepalanya ke orang lain."

Fania menatapnya lama. Ada sesuatu di balik ketenangan laki-laki itu yang memicu rasa penasarannya. Ia ingin mendekatinya, namun semakin dekat, ia justru sadar bahwa Nizar tidak mudah dimiliki. Ia ramah kepada siapa saja, tetapi tidak pernah benar-benar hangat. Ia hadir, tetapi tidak pernah bergantung pada siapa pun. Ia bisa mencintai, tetapi tidak menuntut balasan. Itulah yang paling membuat Fania gelisah.

Suatu malam, setelah beberapa bulan kedekatan profesional mereka terjalin dalam batas-batas kewajaran, Fania akhirnya melontarkan pertanyaan yang sudah lama mengganjal di benaknya. "Kamu tidak pernah takut sendirian, Zar?"

Nizar tersenyum tipis. "Takut itu kalau kamu butuh kehadiran orang lain cuma buat merasa kalau dirimu ini cukup. Aku tidak butuh itu."

"Jadi maksudmu, kamu tidak butuh siapa pun di dunia ini?"

"Bukan tidak butuh," koreksi Nizar lembut. "Hanya saja, kalau suatu hari nanti orang-orang pergi meninggalkanku, aku tahu aku masih bisa bernapas dengan tenang di ruangan yang kosong."

Fania tertunduk. Ia sadar sepenuhnya, mencintai atau mencoba mendekati laki-laki seperti Nizar adalah sebuah bentuk kelelahan batin yang lambat laun akan menggerogoti diri sendiri. Ia tidak tahu bagaimana cara menembus benteng setenang itu. Sejak malam itu, secara perlahan namun pasti, Fania mulai menjaga jarak, menarik diri, dan menjauh.

Tahun-tahun berlalu begitu cepat. Nizar tidak pernah mengubah kebiasaannya. Ia tetap datang ke kafe yang sama, duduk di meja sudut yang sama, memesan secangkir kopi hitam tanpa gula.

Namun sore itu, kehadiran Aira mengusik sesuatu yang telah lama ia kubur dalam-dalam.

Aira bukan kekasihnya, tetapi pernah menjadi seseorang yang paling memahami dirinya. Sahabat yang diam-diam mencintainya, namun harus kalah oleh waktu dan sikap Nizar yang terlampau dingin.

"Dulu aku sempat berpikir kamu itu kuat karena memang tidak butuh siapa pun di sisi kamu," kata Aira perlahan, memecah lamunan Nizar di kafe tersebut. "Tapi sekarang, setelah melihatmu hidup sendiri selama bertahun-tahun, aku sadar, kamu kuat justru karena kamu pernah kehilangan terlalu banyak."

Nizar menatap Aira lama. "Kehilangan itu guru yang paling jujur, Ra. Dia mengajarkan kita cara bertahan tanpa harus terus menangisi yang pergi."

"Dan sekarang, apakah kamu benar-benar sudah tidak takut kehilangan siapa pun lagi di dunia ini?"

Nizar terdiam sejenak, meresapi pertanyaan itu sebelum menjawab dengan jujur. "Takut? Mungkin rasa itu masih ada di sudut hati yang paling kelam. Tapi aku sudah belajar untuk tidak lagi menolak kemungkinan buruk itu terjadi."


Aira menghela napas panjang. Ada getir yang menggantung di ujung matanya yang jernih. "Kadang aku iri sama ketenanganmu, Zar. Kamu bisa tetap terlihat begitu tenang dan rasional, bahkan di tengah badai kehidupan yang paling menghancurkan."

Nizar tersenyum kecil. "Tenang bukan berarti tidak sakit, Ra. Aku hanya sudah berdamai dengan rasa sakit itu sendiri."

Beberapa hari setelah pertemuan sore di kafe itu, Reza datang berkunjung ke rumah kontrakan Nizar tanpa pemberitahuan. Reza kini telah menikah dengan Mirna, perempuan yang beberapa tahun lalu sempat menaruh hati pada Nizar sebelum akhirnya ditolak secara halus karena Nizar merasa dirinya belum siap untuk berkomitmen.

Dunia memang terasa begitu sempit. Kehidupan mempunyai caranya sendiri untuk menertawakan rencana manusia.

"Aku dengar dari Mirna, kamu sempat ketemu Aira lagi di kafe langgananmu," kata Reza sambil membuka kaleng minuman dingin yang ia bawa, lalu duduk di sofa.

"Ya," jawab Nizar singkat, merapikan beberapa lembar naskah di meja kerjanya.

“Dia masih sendiri?”

“Sepertinya begitu.”

Reza menatap Nizar lekat-lekat dengan pandangan menyelidik. "Kamu tahu tidak, Zar? Alasan sebenarnya Aira memilih pergi menjauh darimu bertahun-tahun lalu."

Nizar menghentikan tangannya, duduk diam.

"Dia pergi karena merasa kehadirannya di hidupmu tidak pernah benar-benar dibutuhkan. Dia ingin merasa berarti. Dia ingin menjadi tempat sandaranmu, tapi kamu selalu menunjukkan sikap seolah-olah kamu bisa hidup sempurna seorang diri."

Nizar terdiam. Ia tahu itu benar, tapi apa salahnya merasa cukup?

Ia pernah hidup dari puing hubungan yang hancur, dari kehilangan yang tidak dijelaskan, dari pengkhianatan yang tidak diakui. Setelah semua itu, ia tidak lagi membutuhkan validasi.

"Aku tidak pernah memaksa siapa pun untuk tinggal, Za," ujar Nizar dengan suara pelan namun tegas. "Kalau seseorang ingin masuk ke hidupku, aku hargai kehadirannya. Tapi kalau dia memilih pergi karena lelah dengan caraku hidup, aku tidak akan menahannya."

Reza tertawa getir, menggelengkan kepalanya pelan. "Dan sikap itulah yang membuatmu menjadi orang paling berbahaya di dunia ini, Zar. Kamu tidak bisa dimanipulasi, tidak bisa dikendalikan oleh ancaman kehilangan, dan tidak bisa ditaklukkan oleh drama apa pun. Kamu terlalu damai untuk dunia luar yang bising dan penuh tuntutan ini."

Nizar mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatap langit senja yang mulai gelap. "Bukan berbahaya, Za. Hanya saja... aku sudah lelah merasa takut kehilangan sesuatu yang hakikatnya memang bukan milikku."

Malam itu, di tempat terpisah, Aira sempat mengetik sebuah pesan panjang di layar ponselnya:

"Aku tahu kamu tidak butuh siapa pun untuk bahagia. Tapi terkadang aku berharap, kamu mau memberi kesempatan buat seseorang menemanimu dalam sunyi. Bukan untuk mengisi kekosongan, tapi buat berbagi ketenangan."

Namun, pesan itu tidak pernah terkirim.

Aira membaca ulang kata demi kata yang ia tulis, menatapnya lama di layar yang berpendar redup, lalu menghapusnya perlahan-lahan, huruf demi huruf.

Ia sadar, Nizar telah menciptakan dunianya sendiri, sebuah dunia yang tidak mudah dimasuki oleh siapa pun lagi.

Sementara itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Nizar merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar sambil tersenyum kecil tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu dalam kesepian yang justru membuatnya damai.

Waktu terus merayap maju hingga genap setahun sudah berlalu sejak pertemuan terakhir Nizar dan Aira di kafe itu. Suatu petang, Reza kembali datang ke rumah Nizar. Namun, kedatangan kali ini sama sekali berbeda dari biasanya. Tidak ada sapaan riang atau candaan ringan. Reza melangkah masuk dengan langkah yang terasa begitu berat.


"Aira mengalami kecelakaan lalu lintas kemarin malam," ucap Reza terbata-bata, suaranya nyaris hilang ditelan udara kamar. "Dia... meninggal di tempat kejadian."

Nizar tidak langsung bereaksi. Tubuhnya membeku di tempat duduknya. Untuk sepersekian detik, detak jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia hanya menatap Reza dalam keheningan, memejamkan matanya rapat-rapat untuk meredam gemuruh yang tiba-tiba bergejolak di dalam dada. Lalu, dengan suara yang terdengar sangat lirih dan datar, Nizar berucap, "Dia akhirnya tenang, Za."

Reza menatap Nizar seperti tidak percaya. "Kamu... kamu sama sekali tidak sedih, Zar? Perempuan yang pernah mencintaimu sepenuh hati sekarang sudah tiada, dan reaksimu cuma sekadar berkata dia akhirnya tenang?!"

Nizar menarik napas panjang. "Sedih itu adalah reaksi saat kita kehilangan sesuatu yang masih kita genggam erat di tangan kita, Za. Aku... aku sudah melepaskan dia sejak bertahun-tahun yang lalu."

Namun, ucapan rasional itu runtuh seketika begitu malam tiba. Nizar duduk sendirian di pinggir tempat tidurnya di dalam kamar. Ia menatap lampu-lampu kota yang berpendar samar. Tangannya gemetar sedikit, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa sesak. Bukan karena kehilangan Aira, tapi karena ia sadar, ia telah menjadi seseorang yang bahkan tidak bisa menangis untuk orang yang pernah begitu mencintainya setulus hati. Itulah harga dari kedamaian yang ia banggakan selama ini.

Beberapa minggu kemudian, Nizar kembali ke kafe yang dulu sering mereka datangi. Kursi kayu di hadapannya tampak kosong. Dengan tenang, ia memanggil pelayan kafe dan memesan dua minuman: satu kopi hitam tanpa gula kesukaannya, dan satu lagi cappuccino hangat, tepat seperti pesanan yang biasa dipesan oleh Aira dulu.

Pelayan kafe itu sempat mengerutkan keningnya, tampak bingung. "Ini dipesan untuk dua orang, Mas? Apakah ada yang mau menyusul?"

Nizar tersenyum tipis, pandangannya menerawang jauh menembus kaca jendela kafe. "Iya, untuk berdua. Tapi yang satu tidak perlu diantar ke meja; biarkan tetap di sini saja."

Ia menatap kursi kosong tepat di depannya, lalu tanpa suara, bibirnya bergerak membisikkan kalimat: “Aira, aku tetap bertahan dengan ketenanganku. Tapi kali ini... kenapa ketenangan ini rasanya begitu menyakitkan?”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nizar sadar, terkadang orang yang paling nyaman dalam kesendirian bukanlah orang yang paling kuat, melainkan orang yang paling terluka dan terlalu takut untuk berharap lagi.

Nizar meneguk kopinya perlahan. Hujan turun di luar kafe. Dan dalam diam itu, Nizar akhirnya menangis. Tanpa suara, tanpa gestur berlebihan, hanya air mata yang jatuh di antara dua cangkir kopi.

Ketenangan yang selama ini ia banggakan retak pelan. Tapi anehnya, retakan itu terasa manusiawi. Mungkin itulah yang Aira maksud: Berbagi ketenangan bukan berarti kehilangan kendali, tapi memberi ruang bagi seseorang untuk membuat sunyi terasa lebih hangat.

Nizar menatap keluar jendela. Langit kelabu, tapi ada cahaya samar di ujung sana. Dan dalam hening itu, ia tersenyum. Bukan karena damai. Tapi karena akhirnya ia kembali bisa merasa sesuatu yang selama ini ia anggap sudah mati.




Tamat


Terima kasih telah membaca Sunyi Yang Tak Bisa Kau Kendalikan. Ini adalah cerita pendek bergenre: Drama Romantis, Metropop, Romance, Slice of Life. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Adakah Pertemuan Di Cerita Kita? (Masih Ada Sedikit Harapan)

Rasa Yang Telah Terbunuh

Makhluk Manis Dalam Lift

Misteri Di Balik Kata Hmmm

Dara, Gadis Dunia Maya (#3)