Dua Centang Tanpa Warna

Dua Centang Tanpa Warna




seorang gadis sedang duduk di sebuah kafe untuk ilustrasi cerita Dua Centang Tanpa Warna


Layar ponsel di atas meja kayu kafe itu menyala sekilas, memantulkan cahaya putih di wajah Kirana. Tangannya yang memegang cangkir kopi susu yang sudah mendingin sejak satu jam lalu refleks menegang. Matanya bergerak cepat.

Namun, itu hanya notifikasi dari aplikasi belanja daring yang menawarkan diskon kilat tengah malam.

Kirana mengembuskan napas berat, meletakkan kembali cangkirnya dengan ketukan lirih yang tenggelam di antara denting sendok dan tawa riuh pengunjung lain.

Jakarta pukul sembilan malam di kawasan Senopati tidak pernah tenang. Suara bising knalpot kendaraan yang terjebak macet di luar beradu dengan dentum musik beraliran deep house yang diputar samar-samar oleh barista.

Di sudut ruangan, sepasang kekasih sedang berswafoto dengan tawa yang lepas. Di sudut lain, seorang pria berjas rapi sibuk berbicara dengan laptopnya. Semua orang tampak terhubung dengan sesuatu atau seseorang. Kecuali Kirana.

Ia membuka aplikasi WhatsApp untuk kesekian kalinya. Jari jempolnya bergerak, mengetuk profil pria bernama Rendra.

Online.

Tulisan kecil di bawah nama Rendra berkedip sedetik sebelum menghilang, berganti menjadi status kosong. Kirana menggeser layarnya ke bawah, melihat ruang obrolan mereka. Pesan terakhir yang ia kirim berbunyi: "Aku di kafe biasa, Ren. Kamu jadi mampir setelah rapat?"

Di samping kanan teks itu, dua centang abu-abu berdiri tegak dengan angkuh. Tidak berubah warna. Padahal, keterangan di bagian atas tadi dengan jelas menyatakan bahwa Rendra baru saja membuka aplikasi itu.

Dia ada di sana. Dia memegang ponselnya. Dia membaca atau setidaknya melihat ada pesan masuk dari Kirana. Namun, dia memilih untuk membiarkannya tetap abu-abu.

"Menahan rindu dalam diam melelahkan itu fiksi," bisik Kirana pada dirinya sendiri. "Yang nyata itu sakitnya melihat dua centang abu-abu dari orang yang baru saja online, tapi sengaja membiarkan kita menunggu."

Pintu kafe terbuka, seorang gadis berambut pendek dengan T-shirt putih longgar masuk. Matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya tertuju pada Kirana.

Itu Dinda. Sahabat Kirana sejak masa kuliah dulu. Dinda langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kosong di depan Kirana, meletakkan tasnya dengan kasar.

"Jakarta malam ini bener-bener gak ngotak macetnya. Dari Kuningan ke sini berasa kayak mudik ke Jawa Tengah," gerutu Dinda sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang gerah. Namun, tatapan mata Dinda segera berubah saat melihat ekspresi wajah Kirana. "Hei! Muka kamu kenapa kayak cucian belum kering tiga hari? Rendra lagi?"

Kirana tidak menjawab. Ia hanya membalikkan layar ponselnya menghadap Dinda. Dua centang abu-abu itu terpampang nyata.

Dinda memutar bola matanya, mengeluarkan dengusan tajam. "Gila ya itu anak. Tadi sore gue ketemu Ghali di FX Sudirman. Ghali bilang, proyek kantor mereka udah selesai dari jam lima sore. Harusnya Rendra gak ada rapat lagi malam ini."

Mendengar nama Ghali, jantung Kirana berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena romansa, melainkan karena rasa bersalah yang tiba-tiba menyergapnya.

Ghali adalah bagian dari lingkaran pertemanan mereka. Seorang pria yang selalu ada di baris terdepan setiap kali Kirana membutuhkan bantuan.

Sayangnya, ia selalu berakhir menjadi penonton di bioskop kehidupan Kirana yang layarnya hanya menampilkan sosok Rendra.


***

Di tempat lain, sekitar tiga kilometer dari kafe tempat Kirana berada, sebuah Apartemen di kawasan Palmerah menampilkan suasana yang jauh berbeda. Ruangan itu rapi, berbau kayu cendana, dengan pemandangan jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta yang menyerupai hamparan berlian tiruan.

Rendra berdiri di balkon, memandangi kemacetan di bawahnya. Di tangan kanannya, sebuah ponsel pintar tergenggam.

Layarnya menampilkan notifikasi pesan dari Kirana. Ia melihat notifikasi itu. Ia tahu Kirana menunggunya di kafe biasa, tempat mereka sering menghabiskan malam minggu dengan mengobrol tentang apa saja, mulai dari ambisi karier hingga hal-hal konyol seperti teori konspirasi tukang bakso.

Rendra menggeser ibu jarinya, hendak mengetik balasan. Namun, jarinya berhenti di atas papan ketik virtual. Ada keraguan yang menahan gerakannya. Di layar ponselnya tiba-tiba muncul panggilan masuk dari nama lain: Luna.

Rendra menarik napas panjang sebelum mengangkatnya. "Halo, Lun? Iya, aku baru selesai beres-beres apartemen. Gimana persiapan pameran kamu besok?"

Suara Luna di seberang telepon terdengar renyah. Luna adalah kurator seni yang baru beberapa bulan ini dekat dengan Rendra karena urusan kerja sama perusahaan.

Bagi Rendra, Luna adalah angin segar, sesuatu yang baru, menantang, dan tidak menuntut komitmen emosional yang berat seperti yang selama ini secara tidak sadar dibangun oleh Kirana.

"Besok kamu datang kan, Ren? Aku udah simpenin satu slot VIP buat kamu. Jangan telat ya, jam sepuluh pagi di Galeri Nasional," kata Luna dengan nada semi-perintah yang anehnya terdengar manis di telinga Rendra.

"Iya, aku usahain datang pagi ya," jawab Rendra pelan.

Setelah panggilan terputus, Rendra kembali melihat notifikasi pesan dari Kirana. Ia bisa saja membalas pesan itu dengan mengetik kata "Maaf, aku capek banget malam ini, mau langsung tidur." Tapi Rendra memilih untuk mengunci ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana.

Baginya, membiarkan pesan itu tidak dibalas atau dibaca adalah sebuah cara untuk menciptakan jarak secara perlahan, tanpa harus menghadapi konfrontasi langsung. Pikirnya, Kirana akan paham sendiri jika dia mulai menjauh. Sebuah kekeliruan besar yang sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak berani jujur.

***

Sementara itu, di lantai bawah apartemen yang sama, Ghali baru saja memarkir mobilnya di area basement. Ia baru saja mengantar ibunya dari bandara dan berencana naik ke unit Rendra untuk mengembalikan kunci pas yang ia pinjam minggu lalu.

Ghali berjalan menuju lift sambil mengetik pesan di grup chat mereka berempat: Ghali, Rendra, Kirana, dan Dinda.

Ghali: "Woi, pada di mana? Gabut nih. Nongkrong lah."

Pesan itu terkirim. Dalam hitungan detik, Dinda langsung membalas.

Dinda: "Gue sama Kirana di Senopati. Sini lu. Bawa sekalian temen lu yang songong itu kalau dia belum mati ditelan bumi."

Ghali mengernyitkan dahi. Ia tahu siapa yang dimaksud 'temen songong' oleh Dinda. Siapa lagi kalau bukan Rendra. Ghali tahu betul dinamika rumit yang terjadi di antara mereka.

Kirana yang mengejar Rendra, Rendra yang menggantung Kirana, Dinda yang gemas dengan kebodohan Kirana, dan Ghali yang mengamati semuanya dari sudut paling gelap, menahan perasaannya sendiri untuk Kirana yang matanya buta oleh pesona Rendra.

Ghali membatalkan niatnya naik ke unit Rendra. Ia kembali ke mobil, melempar kunci pas itu ke dalam laci dasbor mobil, memutar balik kendaraannya, dan membelah jalanan Jakarta menuju Senopati.


Pikiran Ghali melayang pada masa-masa kuliah. Kirana selalu menjadi gadis yang ceria, penuh tawa, dan bersemangat tentang banyak hal. Namun, sejak dua tahun lalu, sejak Kirana mulai menaruh hati pada Rendra yang dingin dan penuh teka-teki, keceriaan itu perlahan memudar, digantikan oleh kecemasan yang konstan di depan layar ponsel.

Saat Ghali tiba di kafe, suasana sudah agak lengang. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Dinda sedang sibuk mengunyah kentang goreng dengan wajah kesal, sementara Kirana duduk menopang dagu, memandangi jalanan di luar jendela kaca besar dengan tatapan kosong. Ponselnya tergeletak pasrah di atas meja, telungkup seolah-olah Kirana takut melihat kenyataan di dalamnya.

"Woii," sapa Ghali sambil menarik kursi di sebelah Dinda, tepat berhadapan dengan Kirana.

Kirana sedikit tersentak, lalu tersenyum tipis, senyuman formalitas yang biasa ia gunakan untuk menutupi kerapuhan. "Eh, Ghal. Kok cepet banget? Katanya tadi dari FX?"

"Jalanan agak lowong pas lewat Semanggi," bohong Ghali.

Ia menatap wajah Kirana yang tampak lelah. Lingkaran hitam samar di bawah matanya menceritakan segalanya tanpa perlu kata-kata. "Rendra qgak bisa dihubungi?"

Dinda mendengus keras, hampir tersedak kentang gorengnya. "Dihubungi sih bisa, Ghal. Wong statusnya online terus kok. Cuma ya itu, pesannya Kirana cuma didiemin doang kayak pajangan museum. Dua centang abu-abu. Padahal baru aktif lima menit yang lalu. Gila gak? Kalau gue jadi Kirana, udah gue samperin ke apartemennya, gue lempar itu ponsel ke mukanya."

"Dinda, udah..." potong Kirana dengan suara pelan, hampir memohon. "Mungkin dia emang lagi sibuk banget. Atau lupa bales karena lagi ngerjain hal lain."

Ghali merasakan cubitan perih di dadanya mendengarkan pembelaan Kirana. Bagaimana mungkin seorang wanita pintar seperti Kirana bisa menjadi begitu naif demi pria yang bahkan tidak meluangkan waktu lima detik untuk mengetik kata "Iya" atau "Tidak"?

"Na," Ghali memanggil dengan nada suara yang sengaja ia rendahkan, mencoba menyalurkan ketenangan. "Seseorang yang bener-bener peduli sama kamu, gak akan membiarkan kamu nunggu tanpa kepastian di kota segede ini malam-malam. Dia tahu kamu di sini sendirian. Dia tahu Jakarta malam hari bukan tempat yang ramah buat perempuan yang nunggu sendirian. Kalau dia sengaja gak bales padahal dia aktif, itu bukan sibuk, Na. Itu pilihan."

Kata-kata Ghali telak menghantam ego Kirana. Air mata yang sejak tadi ia tahan di sudut matanya akhirnya luruh juga, setitik demi setitik, membasahi pipinya.

"Tapi kenapa, Ghal?" tanya Kirana, suaranya bergetar hebat. "Kenapa dia gak bilang aja kalau gak bisa datang? Kenapa harus bikin aku kayak orang bodoh yang setiap menit ngeliatin status online-nya?

Ia menunduk, air matanya kian deras. "Menahan rindu dalam diam selama ini, aku kuat. Aku bisa pura-pura biasa aja di depan dia kalau kita lagi kumpul bareng. Tapi dicuekin kayak gini... melihat dia ada di sana, di balik layar itu, tapi gak menganggap aku ada... itu jauh lebih berat dari apa pun."

Dinda langsung menggeser kursinya, merangkul pundak sahabatnya itu, memberikan kehangatan yang coba meredam dinginnya penolakan.

Sementara Ghali hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk pergi ke apartemen Rendra saat itu juga dan melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Namun, Ghali tahu, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu tidak akan membuat Kirana berpaling kepadanya.


***

Keesokan paginya, Jakarta disambut oleh langit kelabu yang tertutup polusi tipis dan gerimis yang mulai membasahi aspal. Di Galeri Nasional, suasana riuh dengan obrolan para pencinta seni, kolektor, dan sosialita ibu kota. Rendra berdiri di sudut ruangan mengenakan kemeja kasual yang membuatnya tampak berwibawa.

Di sampingnya, Luna sedang menjelaskan salah satu lukisan abstrak kontemporer kepada seorang kolektor asing. Rendra tersenyum secara berkala, mengangguk setuju pada penjelasan Luna, meski pikirannya sama sekali tidak berada di ruang pameran itu.

Ponsel di saku celana Rendra bergetar. Ia mengambilnya dengan cepat, berharap itu adalah pesan dari rekan bisnisnya. Namun, nama Kirana kembali muncul di panel notifikasi. Kali ini bukan pesan teks, melainkan sebuah tautan lagu dari Spotify tanpa kata-kata pengantar.

Rendra menghela napas, hendak memasukkan kembali ponselnya saat Luna menyenggol lengannya pelan.

"Siapa, Ren? Kok mukanya langsung berubah gitu? Dari pacar kamu ya?" tanya Luna dengan nada menyelidik yang dibalut candaan.

Rendra memaksakan senyum. "Bukan. Cuma temen lama. Agak rewel akhir-akhir ini."

"Oh, temen lama yang menuntut lebih?" Luna menaikkan satu alisnya, memperlihatkan ketajaman intuisinya sebagai seorang wanita. "Saran aku sih, Ren, kalau kamu gak bisa kasih apa yang dia mau, mending tegas dari awal. Jangan dikasih harapan palsu dengan cara didiemin. Perempuan itu paling gak suka digantung. Lebih baik diputusin dengan jelas daripada dibikin bingung sama sikap abu-abu."

Ucapan Luna bagaikan cermin yang diletakkan tepat di depan wajah Rendra. Kata-kata itu terdengar ironis karena keluar dari mulut wanita yang sedang dekat dengannya, sementara Kirana yang selalu tulus mengkhawatirkannya justru ia perlakukan seperti gangguan yang harus dihindari.

***

Di sudut lain Jakarta, di sebuah kedai kopi kecil di daerah Pasar Minggu yang jauh dari kemewahan Senopati, Kirana duduk bersama Ghali. Dinda tidak bisa ikut karena harus menghadiri acara keluarga. Suasana kedai kopi ini lebih tenang, hanya diiringi suara rintik hujan yang jatuh di atas atap dan aroma bubuk kopi yang pekat.

Kirana menatap layar ponselnya. Tautan lagu yang ia kirim ke Rendra tadi pagi jam sembilan kini sudah memiliki status baru. Dua centang biru. Akhirnya.

Namun, tidak ada balasan. Hanya dua centang biru yang dingin, yang menandakan bahwa pesan itu telah dibaca, lalu diabaikan kembali.

Jika kemarin dua centang abu-abu membuatnya sesak karena ketidakpastian, hari ini dua centang biru tanpa kata-kata memberikan konfirmasi mutlak bahwa perasaannya memang sudah tidak memiliki ruang lagi di hidup Rendra.

"Ternyata," Kirana membuka suara, memecah keheningan di antara dirinya dan Ghali, "biru atau abu-abu itu sama saja rasanya kalau hatinya sudah berubah hitam putih bagi kita."

Ghali meletakkan cangkir kopinya, menatap lekat-lekat mata Kirana yang kini tampak lebih tenang, meski ada gurat kesedihan yang mendalam di sana. "Kamu udah mutusin apa yang mau kamu lakukan selanjutnya, Na?"

Kirana tersenyum, kali ini sebuah senyuman yang tulus, senyuman pelepasan. Ia mengambil ponselnya, menekan tombol opsi pada ruang obrolan Rendra, lalu memilih menu Arsipkan.

"Aku gak akan blokir dia, Ghal. Itu kekanak-kanakan. Aku cuma mau memindahkan dia ke tempat di mana aku gak perlu lagi melihat apakah dia online atau enggak, apakah centangnya abu-abu atau biru. Aku mau mengembalikan dia menjadi orang asing yang kebetulan pernah aku kenal dengan sangat baik," kata Kirana mantap.


Ghali merasakan kelegaan yang luar biasa mengalir dalam dirinya. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, telapak tangannya terbuka, menunggu sambutan. "Kalau gitu, mau mulai lembaran baru? Gak usah buru-buru. Kita bisa mulai dengan nonton film yang udah lama kamu pengen tonton minggu ini. Cuma kita berdua. Tanpa ponsel yang harus dicek setiap lima menit."

Kirana memandangi tangan Ghali. Pria yang selama ini selalu ada di sisinya, yang pesannya selalu masuk dalam hitungan detik setelah Kirana mengirim sesuatu, yang tidak pernah membiarkan centang di ponsel Kirana menjadi abu-abu tanpa alasan yang jelas. Pria yang realitas keberadaannya nyata di depannya, bukan sekadar status online digital yang semu.

Kirana meletakkan tangannya di atas telapak tangan Ghali, merasakan kehangatan yang nyata. "Boleh, Ghal. Mari kita nonton minggu ini.”

***

Minggu malam, tiga hari setelah kejadian di Senopati. Jakarta diguyur hujan deras yang membuat jalanan protokol macet total. Rendra baru saja pulang dari acara makan malam bersama keluarga Luna.

Acara itu berjalan lancar, namun entah mengapa, Rendra merasa ada ruang kosong yang besar di dadanya. Luna adalah wanita yang hebat, namun semua interaksi mereka terasa seperti transaksi bisnis yang terukur, penuh gengsi, penuh kalkulasi citra diri.

Rendra rindu dengan obrolan tanpa arah yang biasa ia lakukan dengan Kirana. Ia rindu dengan tawa lepas Kirana saat mendengar cerita konyolnya tentang rekan kerjanya yang menyebalkan. Ia rindu dengan perhatian-perhatian kecil Kirana yang dulu sering ia anggap sebagai angin lalu.

Rendra merebahkan tubuhnya di sofa apartemennya. Ia mengambil ponselnya, membuka WhatsApp, dan mencari nama Kirana.

Status Kirana: Online.

Rendra mengetik sebuah pesan dengan cepat, tanpa keraguan yang biasa ia miliki.

Rendra: "Na, maaf ya buat malam kamis kemarin. Aku bener-bener capek banget waktu itu sampai ketiduran. Kamu minggu depan ada waktu luang? Kita makan malam ya, aku yang traktir."

Rendra menekan tombol kirim. Ia menatap layar ponselnya dengan intensitas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menunggu tulisan ‘Typing...’ muncul di bawah nama Kirana.

Satu detik. Dua detik. Satu menit.

Pesan itu terkirim dengan dua centang abu-abu.

Rendra terus memperhatikan layar itu. Dua menit kemudian, status online di bawah nama Kirana menghilang. Pesan dari Rendra tetap berdiri tegak dengan dua centang abu-abu yang dingin, tidak berubah warna.

Rendra meletakkan ponselnya di atas dada, menatap langit-langit apartemennya. Rasa sesak yang tiba-tiba menyergap dadanya begitu nyata. Ia akhirnya mengerti perasaan yang selama ini ia bebankan pada Kirana. Rasa sakit dari sebuah penantian digital, rasa kecewa dari sebuah pengabaian yang disengaja.

Namun, di belahan Jakarta yang lain, di dalam sebuah bioskop di kawasan Jakarta Selatan, ponsel Kirana berada di dalam tasnya, disetel dalam mode senyap. Layarnya menyala sesaat menampilkan pesan dari Rendra, namun tidak ada yang melihatnya.

Di dalam kegelapan studio bioskop, Kirana sedang tertawa lepas mendengarkan bisikan lelucon dari Ghali yang duduk di sebelahnya. Tangan mereka bertautan erat di atas sandaran kursi.

Kirana tidak lagi peduli apakah centang di ponselnya berwarna abu-abu, biru, atau hijau. Karena pada akhirnya, ia telah menemukan seseorang yang memilih untuk hadir sepenuhnya secara nyata dalam hidupnya, bukan sekadar menjadi hantu digital yang muncul-tenggelam di balik status onlinenya.

Jakarta malam itu tetap berisik, tetap macet, dan tetap dingin karena hujan. Namun bagi Kirana, kota itu tidak lagi terasa sepi. Penantian panjangnya telah usai, bukan karena ia mendapatkan apa yang ia inginkan, melainkan karena ia akhirnya tahu kapan harus berhenti berjalan di jalan yang buntu.




Tamat


Terima kasih telah membaca Dua Centang Tanpa Warna. Ini adalah cerita pendek Metropop potongan kehidupan (Slice of Life) yang dibumbui sedikit dengan Drama Romantis bergenre: New Adult Fiction dan Urban Romance. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Makhluk Manis Dalam Lift

Di Saat Turun Hujan

Rasa Yang Telah Terbunuh

O.D.O.P

Pertengkaran Di Sore Hari