Gara-gara Status WhatsApp, Siaallll!

Gara-gara Status WhatsApp, Siaallll!




dua pemuda sedang memperhatikan ponsel untuk ilustrasi cerita Gara-gara Status WhatsApp, Siaallll!


Yudha merebahkan tubuhnya di atas kasur busa kosan yang sudah mulai menipis, memosisikan kipas angin mini tepat menghadap wajahnya yang gerah. Ritual malam hari setelah penat bekerja selalu sama: membuka ponsel, masuk ke aplikasi WhatsApp, lalu mengetuk tab Pembaruan. Baginya, melihat status WhatsApp orang lain adalah hiburan murah meriah daripada bergosip dengan tetangga.

Jempolnya bergerak lincah melakukan scrolling. Ada status rekan kerjanya yang memamerkan kopi susu mahal, status sepupunya yang hobi membagikan kata-kata motivasi religius, hingga status bapak kos yang menagih uang sewa bulanan lewat kutipan hadis.

Yudha hampir saja menutup aplikasi itu ketika matanya menangkap satu nama di daftar pembaruan. Fira.

Nama itu seketika membuat jempol Yudha mengerem mendadak. Fira adalah teman kuliahnya dulu. Seorang perempuan yang ramah, bermuka imut, dan punya selera humor yang sangat receh. Masalahnya, Fira kini sudah menjadi istri orang. Dan bukan sembarang orang.

Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Yudha mengetuk nama Fira. Layar ponselnya berganti menampilkan sebuah foto yang langsung sukses membuat pertahanan Yudha runtuh.

Di layar, tampak foto dua kaki dengan alas kaki yang sangat tidak serasi: kaki kanan memakai sandal jepit swallow berwarna hijau, sedangkan kaki kiri memakai selop bulu-bulu berwarna pink cerah. Di bawah foto tersebut, Fira menuliskan sebuah caption:

"Efek buru-buru ke minimarket depan karena ngidam seblak, pas bayar di kasir baru sadar alas kaki kiri-kanan beda alam. Terlanjur malu mau tukar, ya sudahlah yaaa anggap saja ini tren fashion 2026 wkwkwk"

Yudha spontans tertawa. Ini dia. Ini tipe status yang menjadi makanan empuk bagi jempol Yudha yang terkenal usil. Jiwa komediannya bergejolak hebat. Otaknya langsung memikirkan sepuluh kalimat balasan yang dijamin akan membuat Fira tertawa terpingkal-pingkal.

Jempol Yudha menekan kolom 'Balas'. Dia mulai mengetik: Itu konsepnya minimalis atau penganut aliran sesat, Fir? Hahaha kok bisa begitu?

Namun, tepat ketika ia hendak mengetuk tombol kirim berwarna hijau, bayangan wajah Chandra, suami Fira, mendadak melintas di pikirannya seperti adegan film horor. Jempol Yudha membeku di udara.

Keringat dingin mendadak menetes dari pelipisnya, bukan karena kipas angin mini kosannya kurang kencang, melainkan karena bayangan Chandra yang melintas di benaknya terasa begitu nyata. Chandra, pria bertubuh tegap, berambut cepak, yang kalau tersenyum malah terlihat seperti sedang merencanakan pembunuhan berencana.

"Kenapa lu? Muka lu kayak orang nahan berak begitu," suara cempreng tiba-tiba memecah keheningan kamar kos.

Yudha tersentak sampai hampir menjatuhkan ponselnya. Di ambang pintu kamar yang terbuka, Wahyu berdiri sambil memegang sebungkus kerupuk kulit. Teman kosnya itu melangkah masuk tanpa diundang, lalu langsung menghempaskan tubuhnya di sebelah Yudha, membuat kasur busa berdecit pasrah.


"Kaget gue, Kampret! Ketuk pintu dulu napa!" umpat Yudha sambil mengusap dadanya.

Wahyu tidak peduli. Matanya yang tajam langsung melirik ke arah layar ponsel Yudha yang masih menyala, menampilkan foto sandal beda alam milik Fira. Bibir Wahyu langsung menyunggingkan senyum jahil yang sangat familier di mata Yudha. Senyum seorang kompor profesional.

"Wah, statusnya Fira nih. Hahaha, asli itu anak dari zaman kuliah kagak berubah kelakuannya. Si sandal beda alam," Wahyu terkekeh, mengambil kerupuk kulit dari bungkusnya lalu mengunyahnya dengan berisik. "Ngapain lu bengong? Komen napa! Biasanya jempol lu paling gercep kalau ada yang receh begini."

"Gue udah ngetik, Yu," sahut Yudha lemas, menunjukkan draf ketikannya yang menggantung. "Tapi gue mendadak ingat suaminya. Si Chandra."

Wahyu langsung mencibir, mengeluarkan suara 'Cih' yang sangat meremehkan. "Chandra lagi, Chandra lagi. Lu mah penakut amat jadi cowok, Yud! Lagian lu cuma mau bercanda kan? Bukan mau ngajak selingkuh. Masa komen status WA temen kuliah aja takut. Kayak zaman Siti Nurbaya aja lu."

"Lu nggak tahu aja gimana posesifnya itu orang, Wahyu!" Yudha membela diri, nadanya meninggi karena frustrasi. "Lu ingat nggak pas pernikahan mereka setahun lalu? Pas gue salaman sama Fira dan ngucapin selamat sambil ketawa, si Chandra genggam tangan gue kencang banget sampai tulang gue bunyi krek. Tatapannya itu lho, kayak mau ngirim gue ke alam baka saat itu juga!"

"Ah, itu kan perasaan lu aja yang overthinking. Siapa tahu dia emang tenaganya kuat karena rajin nge-gym," Wahyu terus memanasi, wajahnya mendekat ke telinga Yudha bak bisikan setan. "Ayolah, Yud. Komen aja. Paling mentok lu dibalas ketawa sama Fira. Fira kan orangnya asyik. Lagian, siapa tahu suaminya lagi kerja, nggak megang HP."

Yudha menatap draf ketikannya lagi. Itu konsepnya minimalis atau penganut aliran sesat, Fir? Hahaha kok bisa begitu?

Jempolnya kembali gatal. Hasrat berkomedinya meronta-ronta di dalam dada. Kata-kata Wahyu ada benarnya, ini kan cuma urusan pertemanan biasa. Tapi, sisi logis di otaknya berteriak sebaliknya. Rasa ragu ini begitu menyiksa.

"Gue nggak bisa tenang kalau belum tau situasi lapangan," kata Yudha akhirnya sambil bangkit berdiri dari kasurnya. Dia menyambar dompet dan memakai sandalnya.

"Mau ke mana lu?" tanya Wahyu heran.

"Gue mau beli kopi di depan, sekalian nanya-nanya informasi. Gue butuh pencerahan sebelum jempol gue nekat bertindak," jawab Yudha serius.

Yudha pun melangkah keluar dari kamar kos, meninggalkan Wahyu yang menggeleng-gelengkan kepala sambil menertawakan ketakutan sahabatnya itu. Tujuannya hanya satu: Warung di depan gang yang dijaga oleh Mbak Ambar. Di sanalah pusat intelijen dan informasi seluruh kampung berada. Jika ada cerita terbaru tentang kegilaan sifat posesif Chandra, Mbak Ambar pasti tahu segalanya.


Langkah kaki Yudha terasa berat saat menyusuri gang kos-kosan. Pikirannya masih tertambat pada layar ponsel di saku celananya. Bayangan status Fira yang menggemaskan bersaing sengit dengan bayangan wajah suaminya yang menyeramkan.

Di ujung gang, lampu neon putih dari Warung milik Mbak Ambar menyala terang, kontras dengan langit yang temaram. Warung itu seperti oase sekaligus pusat komando intelijen bagi warga sekitar. Mulai dari urusan harga sembako naik sampai urusan rumah tangga tetangga yang retak, semua datanya tervalidasi di sana.

"Mbak Ambar, kopi satu, gulanya dikit aja ya. Lagi mengurangi yang manis-manis, takut diabetes karena kebanyakan liat yang gemes," seloroh Yudha sambil menduduki kursi plastik biru di depan etalase kaca.

Mbak Ambar yang sedang menyusun sasetan sampo langsung menoleh, matanya yang tajam langsung menyipit penuh selidik. "Halah, sok-sokan kurangin manis. Bilang aja dompet lagi kering makanya mesen kopi hitam, bukan es kopi susu kekinian," sahut Mbak Ambar blak-blakan. Namun, tangannya tetap cekatan merobek saset kopi dan menyeduhnya dengan air panas dari termos.

Yudha hanya terkekeh. Sebelum mulai memancing informasi.

"Mbak, ngomong-ngomong... akhir-akhir ini lihat Mas Chandra yang rumahnya di dekat pertigaan depan itu nggak? Yang badannya tegap kayak anggota tentara tapi kerjanya di kantoran itu lho."

Mendengar nama Chandra disebut, gerakan tangan Mbak Ambar yang sedang mengaduk kopi mendadak berhenti. Dia menaruh sendok dengan bunyi klenteng yang agak keras, lalu melongok ke luar warung, memastikan situasi aman sebelum mencondongkan badannya ke arah Yudha. Wajahnya berubah serius, seolah-olah mereka sedang membicarakan rahasia negara.

"Duh, Yud... kamu ngapain nanyain orang itu? Jangan dekat-dekat atau cari masalah sama suaminya si Fira itu deh. Mbak peringatin ya, itu orang cemburunya sudah masuk stadium akhir. Seram!" bisik Mbak Ambar dengan mata membelalak.

Jantung Yudha berdegup sedikit lebih kencang. "Seram gimana, Mbak? Perasaan biasa aja kalau ketemu di jalan."

"Biasa aja mata kamu tekor!" Mbak Ambar menepuk lengannya sendiri. "Dua minggu lalu, tukang galon langganan sini kan anter air ke rumahnya. Pas Fira yang nerima dan bayar, si tukang galonnya senyum ramah toh, namanya juga pelayanan. Eh, kebetulan si Chandra pulang. Kamu tahu apa yang terjadi?"

Yudha meneguk ludah, menggeleng.

"Itu galon kosong yang ada di teras langsung ditendang sama Chandra sampai pecah! Si tukang galon diinterogasi di depan rumah, ditanya ngapain senyum-senyum ke istrinya. Sejak hari itu, nggak ada satu pun tukang galon yang berani anter air ke dalam rumah mereka. Semua ditaruh di pagar luar. Belum lagi urusan jemuran baju," lanjut Mbak Ambar berapi-api.

"Jemuran baju?" tanya Yudha makin penasaran.


"Iya! Bulan lalu, jemuran besi punya Pak RT yang di sebelah rumah mereka roboh kena angin, terus ujungnya gak sengaja nyenggol daster Fira yang lagi dijemur. Si Chandra ngeliat, langsung dipatahkan itu tiang jemuran Pak RT pake tangan kosong! Katanya, dia gak suka ada barang laki-laki lain yang menyentuh pakaian istrinya. Gila toh?" Mbak Ambar menggeleng-gelengkan kepala penuh kengerian.

Yudha merasa tenggorokannya mendadak sekering padang pasir. Cerita Mbak Ambar benar-benar meruntuhkan sisa-sisa keberanian yang sempat dipompa oleh Wahyu tadi di kamar kos. Kopi yang diteguknya sekarang terasa dua kali lebih pahit.

"Tapi Mbak... kalau cuma... anu... berteman di media sosial, gimana?" tanya Yudha hati-hati, suaranya agak bergetar.

Mbak Ambar menatap Yudha dengan pandangan kasihan, seolah sedang melihat orang yang divonis sisa umur tiga hari. "Jangankan media sosial, Yud. Chandra itu kabarnya pegang semua akun Fira. Dia pasang WA Web di laptopnya. Jadi setiap ada pesan masuk ke HP Fira, si Chandra bisa baca langsung secara real-time. Kamu mau main api? Mending jangan deh, sayang nyawa."

Yudha pamit dari warung Mbak Ambar dengan pikiran yang makin semrawut. Informasi dari ratu gosip itu bukannya membuat situasinya jelas, malah membuat Yudha merasa sedang berdiri di tepi jurang. Namun, dasar jiwa penasarannya keras kepala, Yudha merasa butuh bukti dari sudut pandang korban langsung. Dia butuh testimoni nyata.

Dia berjalan ke sudut gang yang agak sepi, merogoh ponselnya, lalu mencari kontak bernama Ricky.

Ricky adalah teman satu organisasi Yudha dan Fira dulu saat masih aktif di kampus. Seingat Yudha, Ricky adalah orang yang paling rajin mengomentari apa saja di media sosial. Namun, belakangan ini, akun Ricky mendadak bersih dari interaksi apa pun dengan Fira.

Yudha menekan tombol telepon. Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya diangkat.

"Halo, Yud? Tumben lu telepon malam-malam. Ada apa?" suara Ricky terdengar di seberang sana, agak berisik seperti sedang berada di tempat umum.

"Rick, lu lagi di mana? Gue mau nanya sesuatu yang penting banget. Ini soal... Fira," kata Yudha tanpa basa-basi.

Keheningan mendadak tercipta di seberang telepon. Suara bising di latar belakang Ricky seolah menjauh. "Lu... lu ngapain nanyain Fira? Yud, dengerin gue. Kalau lu sayang sama keselamatan diri lu, hapus nomor Fira sekarang juga," suara Ricky berubah menjadi bisikan yang sarat akan ketakutan dan paranoia.

"Tunggu dulu, Rick. Lu kenapa sih? Emang beneran si Chandra seposisif itu? Gue cuma mau bercanda di status WA-nya Fira karena lucu banget hari ini."

Ricky menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar penuh beban trauma masa lalu. "Bercanda lu bilang? Yud, dengerin cerita gue baik-baik. Sebulan yang lalu, Fira bikin status foto kucingnya yang lagi merem. Lucu kan? Gue cuma reply pake satu emoji doang, Yud. Cuma emoji ketawa satu biji! Nggak pake kata-kata, nggak pake modus."


"Terus? Apa yang terjadi?" Yudha mendengarkan dengan saksama, menempelkan ponselnya erat-erat ke telinga.

"Malamnya, pas gue lagi nongkrong di warkop depan kampus, tiba-tiba ada mobil hitam ngerem mendadak di depan gue. Dua orang berbadan gede turun, salah satunya si Chandra. Dia nyamperin gue, mukanya datar tapi matanya merah kayak mau makan orang. Dia gak mukul gue, Yud. gak."

Yudha menahan napas. "Terus dia ngapain?"

"Dia duduk di depan gue, ngambil gelas kopi gue, terus diremas sampai pecah di tangannya sendiri sambil natap mata gue. Dia bilang gini: 'Saya tahu kamu suka tertawa. Tapi jangan pernah tertawa di atas hal-hal yang menjadi milik saya, atau saya buat kamu lupa cara tertawa selamanya.' Anjir, Yud! Gue gemeteran di tempat. Besoknya, akun Instagram gue diblokir massal lewat HP Fira, dan gue langsung buru-buru hapus kontak Fira dari HP gue. Gue gak mau mati konyol gara-gara emoji"

Mendengar kesaksian langsung dari Ricky, bulu kuduk Yudha meremang hebat. Keringat dingin yang tadi sempat reda kini mengucur lebih deras, membasahi kaus belakangnya. Ketakutan Ricky begitu menular.

"Rick... lu seriusan?"

"Gue gak pernah seserius ini seumur hidup gue, Yud. Pokoknya terserah lu deh. Kalau lu mau coba-coba, silakan. Tapi jangan cari gue kalau lu berakhir di ruang ortopedi. Udah ya, gue lagi buru-buru," Ricky langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Yudha terpaku di tempatnya berdiri. Ponsel di tangannya terasa seperti sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Dua testimoni dari Mbak Ambar dan Ricky sudah lebih dari cukup untuk menegaskan satu hal: Chandra bukan manusia biasa, dia adalah monster posesif sejati.

Dengan langkah lunglai namun penuh tekad bulat untuk bertahan hidup, Yudha berjalan kembali ke kosan. Dia sudah mengambil keputusan akhir. Persetan dengan hasrat berkomedinya. Persetan dengan kegemasan status Fira. Nyawanya jauh lebih berharga daripada sebuah lelucon WhatsApp.

Yudha mendorong pintu kamar kosnya dengan lemas. Langkah kakinya seperti diseret. Wahyu, yang masih setia dengan posisi rebahannya sambil menonton video di ponsel, langsung menoleh.

"Gimana, Yud? Udah dapet restu dari intelejen Warung buat komen?" tanya Wahyu santai, masih menyempatkan diri mengunyah sisa kerupuk kulitnya.

Yudha tidak menjawab. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar kos. Ponselnya dia letakkan di atas dada, seolah benda itu adalah batu nisan bagi harga dirinya yang menciut.

"Gue gak bakal komen, Yu. Kagak bakal seumur hidup gue," bisik Yudha dengan tatapan kosong.

"Lah, lemah amat lu! Emang Mbak Ambar ngomong apa? Paling juga nakut-nakutin doang."

Yudha akhirnya menceritakan semuanya. Mulai dari nasib tragis galon kosong yang hancur ringsek, tiang jemuran Pak RT yang patah dengan tangan kosong, hingga kesaksian Ricky yang gelas kopinya diremas sampai pecah hanya gara-gara satu emoji tertawa.


Mendengar cerita itu, kunyahan kerupuk di mulut Wahyu perlahan melambat, lalu berhenti total. Wahyu menelan ludah dengan susah payah. Keberanian yang tadi dia pamerkan mendadak menguap.

"Serius lu, Yud? Gelas kopi diremas pake tangan kosong? Itu tangan manusia apa tang buaya?" Wahyu bergidik, reflek menjauhkan wajahnya dari ponsel Yudha. "Ya udah deh... kalau gitu mending lu hapus drafnya. Bahaya. Kita ini cuma remahan rengginang, jangan cari perkara sama beton."

Yudha mengangguk setuju. Dia mengangkat ponselnya kembali ke depan wajah. Layar kunci terbuka, menampilkan aplikasi WhatsApp yang masih berada di ruang obrolan balas status Fira. Draf ketikan usilnya masih ada di sana: Itu konsepnya minimalis atau penganut aliran sesat, Fir? Hahaha kok bisa begitu?

Jempol Yudha bergerak menuju tombol hapus di papan ketik virtualnya. Namun, sebelum dia sempat menekannya, matanya kembali menatap foto sandal beda alam milik Fira. Sialan, status itu masih terlihat sangat lucu. Rasa gemas dan hasrat berkomedinya kembali berbisik, memprotes akal sehatnya.

"Masa cuma hapus teks aja sesusah ini," batin Yudha frustrasi. Terjadi perang batin yang hebat di dalam kepalanya. Sisi kirinya berteriak HAPUS DEMI NYAWA!, sementara sisi kanannya berbisik TAPI INI LUCU BANGET, SAYANG KALAU DIANGGURIN!

Yudha membiarkan jarinya menggantung di atas layar. Dia memutuskan untuk menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu untuk menenangkan hatinya yang berdegup kencang. Dia tidak tahu bahwa menunda satu detik saja di dalam kamar kos itu bisa berakibat fatal.

Di saat Yudha sedang fokus menenangkan diri, di atas langit-langit kamar kos, seekor cicak bertubuh tambun sedang merayap tepat di atas posisi kepala Yudha. Tampaknya, cicak itu sedang mengincar seekor nyamuk, namun nasib sial rupanya tidak hanya milik Yudha hari ini. Cicak itu terpeleset.

Plop!

Benda kenyal, dingin, dan sedikit lengket jatuh dari atas dan mendarat tepat di atas dahi Yudha.

"Anjirrr, apaan nih?!" teriak Yudha histeris.

Efek kejut itu membuat seluruh tubuh Yudha menegang. Jantungnya serasa melompat keluar dari dada. Secara refleks, kedua tangannya melempar ponsel ke udara sementara dia berguling panik ke samping untuk mengibaskan cicak dari wajahnya.

Ponsel Yudha melayang, berputar dua kali di udara, sebelum akhirnya jatuh kembali ke atas kasur busa tepat di sebelah tangan kanan Yudha yang sedang menahan bobot tubuhnya.

Saat ponsel itu mendarat dengan layar menghadap ke atas, telapak tangan Yudha secara tidak sengaja menekan permukaan layar tepat di tombol  kirim untuk menstabilkan posisinya yang limbung.

Yudha membeku. Cicak yang tadi di dahinya sudah lari entah ke mana, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Wahyu yang menyaksikan kejadian itu langsung bangkit berdiri, matanya melotot menatap ponsel Yudha.

Dengan tangan gemetar seperti penderita parkinson, Yudha mengambil ponselnya. Draf teks yang dia ketik tadi sudah hilang. Jantung Yudha berhenti berdetak selama dua detik.

Baca juga: O.D.O.P

Yudha menatap layar dengan mata mendelik. Status pesan di bawah nama Fira itu langsung berubah dari centang dua abu-abu menjadi centang dua berwarna biru.

Pesan itu sudah dibaca. Detik itu juga.

Ruangan kos berukuran 3x3 meter itu mendadak sunyi senyap, lebih sunyi daripada kuburan di tengah malam. Centang dua berwarna biru di layar ponsel Yudha seperti menyedot seluruh oksigen di sekitar mereka.

Di bagian bawah nama Fira, muncul sebuah tulisan status yang paling dihindari oleh Yudha:

Mengetik...

"Yu... Wahyu..." suara Yudha keluar dalam bentuk bisikan parau. Wajahnya sudah sepucat kertas HVS baru. "Gue harus gimana, Yu? Ini gara-gara cicak sialan itu!"

Wahyu yang biasanya banyak bacot kini cuma bisa melangkah mundur perlahan sampai punggungnya mentok di lemari pakaian. Yud... gue rasa lu mending buru-buru cari fitur Hapus untuk Semua Orang. Buruan sebelum terlambat!"

Jempol Yudha yang gemetaran langsung menekan lama pesan tersebut. Dia mengetuk ikon tempat sampah di bagian atas, lalu memilih Hapus untuk Semua Orang.

Pesan ini telah dihapus.

Yudha sempat menghela napas lega selama satu detik. Namun, kelegaannya langsung buyar saat dia teringat peringatan dari Mbak Ambar beberapa jam lalu: 'Chandra itu pasang WA Web di laptopnya. Dia bisa baca secara real-time.' Fitur hapus pesan tidak akan berguna jika layarnya sudah dipantau sejak awal.

Belum sempat Yudha menaruh ponselnya, sebuah panggilan suara masuk WhatsApp berdering memecah keheningan. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan nama kontak: Fira.

Yudha dan Wahyu saling berpandangan. Ponsel itu terus bergetar di atas kasur, mengeluarkan suara dering yang sekarang terdengar seperti sirene ambulans bagi Yudha.

"Angkat jangan, Yu?" tanya Yudha panik.

"Jangan! Kalau lu angkat, terus yang ngomong suara cowok ngebass gimana? Mati lu!" bisik Wahyu histeris.

Panggilan pertama mati karena tidak terjawab. Namun, hanya jeda tiga detik, sebuah pesan teks masuk. Kali ini bukan dari Fira, melainkan dari sebuah nomor baru tidak dikenal yang mengirimkan sebuah foto.

Dengan keberanian yang tersisa di ujung kuku, Yudha membuka pesan dari nomor asing tersebut. Foto yang dikirimkan adalah sebuah tangkapan layar WhatsApp Web. Di sana terlihat jelas pesan Yudha yang belum dihapus dan di atas laptop tersebut... tampak sebuah kepalan tangan pria dengan urat-urat yang menonjol tegang.

Di bawah foto itu, ada satu pesan teks singkat dari nomor asing tersebut:
“Posisi kamu di kamar nomor 4 kosan Pak Haji Badrun, kan? Saya sudah di depan gang.”

DEG!




Tamat


Terima kasih telah membaca Gara-gara Status WhatsApp, Siaallll!. Ini adalah cerita pendek psycho thriller dan dark comedy yang dibumbui sedikit dengan misteri bergenre: urban thriller dan comedy. Jika kamu menyukai cerita ini, silakan bagikan ke media sosialmu.


Komentar

Post Yang Paling Banyak Dibaca

Makhluk Manis Dalam Lift

O.D.O.P

Di Saat Turun Hujan

Rasa Yang Telah Terbunuh

Dara, Gadis Dunia Maya