Indah Namanya, Tapi...? (#2)
Indah Namanya, Tapi...? (#2)

Menjelang tengah hari, Heru mulai memahami bahwa pekerjaan pemasaran tidak hanya berhubungan dengan menawarkan produk kepada klien. Ia juga harus memeriksa data, memahami riwayat transaksi, dan mempelajari kebiasaan setiap pelanggan. Banyak hal yang terlihat sederhana di permukaan ternyata memiliki penjelasan panjang di baliknya.
Ia sedang mencatat beberapa istilah yang belum dipahami ketika Adit datang membawa gelas plastik berisi kopi.
"Bagaimana? Masih hidup?"
"Sejauh ini."
"Bagus. Biasanya orang baru baru menyadari beratnya pekerjaan setelah makan siang. Sebelum makan, mereka masih punya harapan."
Heru tertawa. "Kamu selalu begini?"
"Begini bagaimana?"
"Bercanda terus."
Adit duduk di kursi kosong di depan meja Heru. "Kalau tidak bercanda, nanti saya harus memikirkan pekerjaan. Itu berbahaya bagi kesehatan."
Heru menggeleng sambil tersenyum. "Kamu sudah lama kerja di sini?"
"Empat tahun. Cukup lama untuk tahu di mana menyimpan dokumen, siapa yang harus ditanya kalau komputer bermasalah, dan kapan sebaiknya pura-pura sedang sibuk."
"Kalau begitu, kamu pasti sudah tahu banyak hal tentang kantor ini."
"Tentu. Misalnya, kalau kamu ingin makan siang murah, jangan ikut Indah ke restoran dekat gedung sebelah."
"Kenapa?"
"Karena dia akan bilang hanya ingin membeli minuman, lalu memesan makanan lengkap. Setelah itu dia akan mengeluh karena porsinya terlalu besar, tetapi tetap menghabiskannya."
Heru tertawa.
"Dan kalau kamu mencoba mengambil satu potong ayamnya," lanjut Adit, "dia akan mengingat kejadian itu sampai akhir tahun."
"Adit!"
Suara Indah terdengar dari belakang mereka. Adit langsung memejamkan mata, seolah sedang mempersiapkan diri menerima hukuman.
Indah berdiri sambil membawa dompet dan ponsel. "Kamu sedang menceritakan apa tentang aku?"
"Hal-hal baik, tentu saja."
"Bagus. Lanjutkan."
"Saya baru sampai pada bagian bahwa Mbak Indah sangat dermawan."
"Terus?"
"Dan sangat suka berbagi."
Indah mengangguk puas. "Benar."
"Terutama kalau makanannya tidak habis."
"ADIT!"
Kali ini Heru tertawa lebih lepas. Bahkan Indah sendiri tidak bisa menahan tawanya, meskipun ia sempat mengambil pulpen dari meja Adit dan mengarahkannya seperti hendak menusuk lengan laki-laki itu.
"Kamu benar-benar tidak tahu terima kasih. Kemarin siapa yang membawakanmu roti"
"Indah."
"Siapa yang membantu memperbaiki presentasimu minggu lalu?"
"Indah."
"Siapa yang menutupi kesalahanmu waktu kamu salah mengirim email kepada klien?"
Adit mengangkat telunjuk. "Untuk yang terakhir, kita tidak perlu membahasnya di depan anak baru."
Indah menyipitkan mata, lalu menoleh kepada Heru. "Catat, ya. Orang ini kelihatannya lucu, tetapi kalau punya masalah, dia datangnya ke aku."
"Karena Mbak Indah memang bisa diandalkan," jawab Adit tanpa kehilangan senyum.
Untuk sesaat, ekspresi Indah berubah. Hanya sebentar, tetapi Heru sempat melihatnya. Perempuan itu tampak benar-benar senang mendengar kalimat tersebut, bukan karena sedang dipuji di depan orang lain, melainkan karena seseorang mengakui bahwa ia memang bisa diandalkan.
Baca juga: Pengakuan Yang Mengubah Segalanya
Kemudian Indah kembali memasang wajah usilnya.
"Ya jelas. Kalau bukan aku, siapa lagi yang mau mengurus kamu?"
Adit berdiri dan mengangkat gelas kopinya. "Baiklah. Saya mau menyelamatkan diri sebelum diminta membuat laporan tambahan."
"Jangan lupa makan siang!"
"Iya, Bu Indah."
"Dan jangan panggil aku begitu!"
Adit sudah berjalan menjauh ketika Indah melontarkan kalimat terakhirnya. Ia hanya mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.
Heru memperhatikan interaksi itu dengan perasaan hangat. Ia mulai melihat bahwa hubungan mereka bukan hubungan senior dan junior yang kaku. Ada kebiasaan, sejarah, dan kedekatan yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Ia berharap suatu hari nanti bisa merasa senyaman itu di kantor.
"Heru!"
Ia menoleh.
Indah masih berdiri di dekat mejanya. "Kamu mau makan siang, tidak?"
"Mau, Mbak."
"Bagus. Ikut saja. Kita makan di kantin bawah. Nanti aku kenalkan kamu dengan beberapa orang lain."
Heru segera menyimpan buku catatannya. "Baik, Mbak. Terima kasih."
"Tidak usah terima kasih. Aku juga lapar."
Indah berjalan lebih dahulu, lalu berhenti setelah beberapa langkah karena menyadari Heru belum mengikuti.
"Kenapa? Mau makan siang lewat jalur resmi?"
Heru buru-buru menyusul. "Sebentar, Mbak."
*Cepat. Nanti makanannya habis."
"Memangnya kantin seramai itu?"
"Tidak. Tapi kalau aku sudah lapar, semua kemungkinan buruk harus dipertimbangkan."
Heru tertawa lagi.
Siang itu, untuk pertama kalinya sejak memasuki gedung kantor, ia berjalan menuju kantin tanpa merasa seperti orang asing. Indah memperkenalkannya kepada beberapa karyawan dari bagian lain, bertanya tentang makanan kesukaannya, bahkan berdebat dengannya soal apakah es teh manis seharusnya memakai banyak es atau justru sedikit.
Perdebatan itu berakhir ketika Indah mengambil gelas Heru dan memeriksa isinya.
"Ini es teh atau teh yang kebetulan pernah melihat es?"
"Menurut saya, esnya sudah cukup, Mbak."
"Tidak bisa. Kamu harus belajar menghargai minuman dingin."
Heru tertawa sambil mengambil kembali gelasnya.
Ia tidak tahu bahwa di kemudian hari, ketika namanya disebut dalam percakapan yang tidak menyenangkan, ketika pekerjaannya dipertanyakan, dan ketika ia mulai merasa semua orang sedang menilainya, kenangan tentang makan siang ini akan membuatnya sulit mengambil kesimpulan sederhana tentang Indah.
Sebab perempuan itu tidak selalu membuatnya merasa kecil. Kadang-kadang, Indah justru membuatnya merasa diterima. Dan mungkin itulah yang kelak membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit.
Sore hari, sebelum jam kerja berakhir, Heru menerima tugas pertamanya.
Indah meletakkan beberapa lembar dokumen di meja, lalu menjelaskan bahwa ia perlu menyusun rekap penjualan mingguan berdasarkan data yang sudah tersedia. Pekerjaan itu tidak terlalu rumit, tetapi membutuhkan ketelitian karena beberapa transaksi berasal dari cabang yang berbeda.
"Untuk hari ini, kamu cukup menyusun datanya dulu," kata Indah. "Besok kita periksa bersama. Jangan buru-buru mengubah angka kalau menemukan sesuatu yang kelihatannya aneh. Catat dulu, lalu tanyakan."
Baca juga: Sepenggal Kisah Dunia Maya
Heru mengangguk. "Baik, Mbak."
"Dan satu lagi." Indah mengangkat telunjuk. "Kalau ada bagian yang belum kamu pahami, jangan menebak. Lebih baik bertanya daripada sok yakin."
"Saya mengerti."
"Bagus."
Indah hendak pergi, tetapi kemudian berbalik lagi.
"Oh, ya. Kalau nanti kamu menemukan data yang berbeda dengan laporan bulan sebelumnya, jangan langsung menganggap laporan sebelumnya salah. Bisa jadi ada revisi yang belum kamu ketahui."
"Baik, Mbak. Saya akan periksa riwayatnya."
Indah tersenyum. "Nah, begitu. Kamu ternyata bisa juga."
Heru tertawa kecil, menganggap kalimat itu sebagai candaan biasa.
Setelah Indah pergi, ia mulai bekerja. Ia memeriksa setiap lembar dokumen, memasukkan angka ke dalam lembar kerja, dan menandai beberapa bagian yang perlu diperiksa kembali. Sesekali ia melirik catatan yang dibuat Indah pagi tadi. Penjelasan perempuan itu cukup membantu, sehingga ia bisa menyelesaikan sebagian besar pekerjaan tanpa harus terus-menerus bertanya.
Ketika jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, Adit sudah bersiap pulang. Ia menghampiri meja Heru sambil menyampirkan tas ke bahu.
"Masih lama?"
"Sedikit lagi. Saya mau memastikan angka yang ini sudah cocok."
Adit melirik layar komputer. "Kalau memang perlu diperiksa, periksa saja. Tapi jangan sampai kamu menghabiskan tiga jam untuk memastikan satu angka yang sebenarnya tidak akan mengubah apa-apa."
"Saya hanya tidak mau salah."
"Bagus. Tapi ingat, teliti itu berbeda dengan takut salah."
Heru berhenti mengetik.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa tepat mengenai sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Ia memang ingin bekerja dengan baik. Ia tidak ingin mengecewakan Pak Firman atau membuat Indah menyesal telah membantunya. Namun, sejak pagi ia juga mulai merasakan dorongan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun hal yang bisa dijadikan alasan untuk mengkritiknya.
Mungkin itu wajar untuk hari pertama, pikirnya.
Adit menepuk ringan sekat meja. "Sudahlah. Besok juga masih ada waktu. Saya pulang dulu. Kalau kamu butuh bantuan, besok tanyakan saja."
"Terima kasih, Dit."
"Sama-sama. Selamat datang di dunia orang-orang yang dibayar untuk duduk, tetapi tetap merasa capek."
Setelah Adit pergi, Heru kembali memeriksa pekerjaannya. Beberapa menit kemudian, ia menemukan satu baris data yang berbeda dari laporan sebelumnya. Angkanya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membuat total penjualan berubah.
Ia membuka dokumen sumber, memeriksa tanggal transaksi, lalu membandingkannya dengan catatan yang diberikan Indah. Setelah memastikan bahwa data itu memang berasal dari periode yang sama, ia menuliskan catatan kecil di samping angka tersebut.
Perlu konfirmasi. Angka berbeda dari laporan sebelumnya.
Heru tidak mengubah apa pun.
Ia teringat pesan Indah: jangan langsung menganggap laporan sebelumnya salah.
Keputusan itu membuatnya merasa cukup yakin. Ia menyimpan berkas, memastikan semua dokumen berada di folder yang benar, lalu mematikan komputer.
Saat berjalan menuju lift, ia melihat Indah masih berada di mejanya. Perempuan itu sedang berbicara melalui telepon, sesekali tertawa, sesekali mengernyit mendengar penjelasan seseorang di seberang sana.
Heru mengangkat tangan sebagai tanda pamit.
Baca juga: Dia Yang Kusayang
Indah melihatnya dan menutup mikrofon ponsel.
"Sudah pulang?"
"Iya, Mbak. Sampai besok."
"Besok jangan telat. Kita masih punya banyak pekerjaan."
"Siap."
Indah mengacungkan ibu jari, lalu kembali melanjutkan percakapannya.
Heru masuk ke lift dengan senyum kecil. Hari pertamanya ternyata tidak terlalu buruk. Ia bertemu atasan yang masuk akal, teman kerja yang humoris, dan seorang senior yang cerewet tetapi banyak membantu.
***
Pukul delapan lewat tujuh menit, Heru sudah duduk di mejanya ketika Indah datang membawa dua gelas kopi plastik dan sebuah kantong kertas kecil.
Perempuan itu berjalan cepat sambil menjepit ponsel di antara bahu dan telinganya. Tasnya menggantung di siku kiri, sedangkan tangan kanannya sibuk menahan tutup salah satu gelas kopi yang tampaknya kurang rapat.
"Bukan, Bu. Saya bukan bilang barangnya nggak ada. Saya bilang barangnya ada, tapi jumlahnya belum cocok." Indah berhenti di dekat meja Heru, menatap tutup gelas kopinya, lalu menekannya dengan ibu jari. "Nah, itu. Kalau jumlahnya belum cocok, jangan langsung bilang kurang. Bisa jadi barangnya ada di gudang lain. Bisa jadi pencatatannya telat. Bisa jadi orang gudangnya belum sarapan, jadi otaknya masih loading."
Ia melirik Heru, mengangkat alis, lalu memberi isyarat agar pemuda itu menyingkirkan sedikit tumpukan kertas di mejanya.
"Sebentar, Bu. Saya telepon lagi nanti, ya. Saya sedang menyelamatkan kopi dari bencana nasional."
Indah memutus telepon.
Heru menatapnya dengan bingung. "Bencana nasional?"
"Kopi tumpah ke keyboard." Indah meletakkan kedua gelas di atas meja Heru. "Kalau itu terjadi, pekerjaan satu departemen bisa berhenti. Perusahaan rugi, negara kehilangan produktivitas, dan saya harus menjalani hidup tanpa kopi. Kamu bisa bayangkan penderitaannya?"
Heru tertawa kecil.
"Kopi hitam satu, kopi susu satu. Kamu kemarin minum apa?" tanya Indah.
"Kopi susu."
"Nah, benar. Ingatan saya masih berfungsi. Tolong dicatat sebagai prestasi sebelum usia tiga puluh."
"Terima kasih, Mbak."
"Jangan terima kasih dulu. Yang kopi hitam punya saya. Yang kopi susu punya kamu. Uangnya saya talangi."
Heru mengeluarkan dompetnya. "Berapa, Mbak? Saya ganti sekarang."
"Dua puluh delapan ribu."
Heru mengambil dua lembar uang sepuluh ribuan dan satu lembar lima ribuan.
Indah menerima uang itu, menghitungnya sekilas, kemudian menatap Heru.
"Kurang tiga ribu."
"Oh, iya. Maaf."
"Tenang. Saya nggak akan memotong gaji kamu. Belum."
Heru tertawa lagi, kali ini sedikit lebih lepas.
Indah memasukkan uang tersebut ke dompetnya, mengambil gelas kopi hitam, lalu menunjuk layar komputer Heru. "Sudah buka file yang kemarin?"
"Sudah, Mbak. Saya juga sudah menandai angka yang berbeda itu."
"Bagus. Nanti kita cek."
Ia mengatakan kita dengan nada yang membuat Heru merasa ia tidak sedang menghadapi pekerjaan itu sendirian. Setelah kemarin menjalani hari pertama dengan kepala penuh nama, prosedur, dan singkatan yang belum semuanya ia pahami, perasaan tersebut cukup menenangkan.
Indah memang punya cara membuat orang merasa sedang berada di pihak yang sama dengannya. Masalahnya, Heru belum tahu bahwa bagi Indah, berada di pihak yang sama kadang berarti mengikuti arah yang ia tentukan.
Baca juga: Apakah Memang Dia?
Pukul delapan lewat dua puluh lima menit, suasana kantor mulai ramai. Telepon berdering dari beberapa meja. Printer di sudut ruangan mulai mengeluarkan bunyi. Dua staf penjualan berbicara tentang pengiriman yang terlambat, sementara seseorang dari gudang menghubungi bagian pemasaran untuk menanyakan perubahan jadwal.
Indah menghadapi semua itu seolah-olah ia sudah dilahirkan di tengah keributan kantor.
"Rika, tolong fotokopi kontrak yang di meja saya, ya!"
Dari meja resepsionis, Rika mengangkat wajah. "Yang mana, Mbak? Ada tiga map."
"Yang biru."
"Map biru yang mana? Yang ada tulisan revisi atau yang..."
"Yang biru, Rik. Yang kalau dibuka ada kontraknya."
Indah sudah kembali menatap layar komputernya sebelum Rika selesai berbicara.
Rika memandang tiga map di meja resepsionisnya sendiri, kemudian menghela napas pelan. Ia berdiri dan berjalan ke meja Indah untuk memastikan map yang dimaksud.
Heru memperhatikan kejadian itu tanpa sengaja.
"Memang begitu, Mbak Indah?" tanya Heru setelah perempuan itu selesai membalas sebuah surel.
"Begitu bagaimana?"
"Kalau minta tolong."
Indah menoleh. "Maksud kamu, saya kurang spesifik?"
Heru sedikit gugup. "Bukan begitu. Maksud saya..."
"Saya tahu maksud kamu." Indah tersenyum. "Saya memang punya bakat membuat instruksi sederhana terdengar seperti teka-teki ujian masuk perguruan tinggi."
Ia tertawa sendiri, lalu mengangkat gelas kopinya. "Tapi Rika sudah hafal. Kalau saya bilang map biru, dia tahu map yang mana."
Dari seberang meja, Rika yang baru kembali dengan map di tangannya menyahut, "Kalau saya nggak tanya, nanti yang disalahkan saya juga, Mbak."
"Lho, siapa yang menyalahkan kamu?"
"Pengalaman."
Adit, yang baru datang sambil membawa helm, langsung tertawa mendengar jawaban itu. "Wah, pagi-pagi sudah ada sidang terbuka."
Indah menunjuk Rika dengan gelas kopinya. "Tuh, kan. Dia sekarang berani melawan. Saya bangga. Sebentar lagi dia bisa menggantikan Pak Firman."
"Menggantikan Mbak Indah saja saya belum sanggup," jawab Rika.
"Bagus. Berarti kamu masih punya kesadaran diri."
Semua orang tertawa, termasuk Rika. Namun, setelah meletakkan map di meja Indah, Rika kembali ke meja resepsionis dengan langkah yang sedikit lebih cepat daripada sebelumnya.
Heru tidak tahu apakah Rika benar-benar tersinggung. Perempuan itu memang ikut tertawa. Mungkin ia sudah terbiasa. Mungkin juga ia merasa lebih mudah tertawa daripada menjelaskan bahwa ia tidak suka diperlakukan seperti itu.
Heru tidak punya cukup alasan untuk menyimpulkan apa pun. Ia hanya menyimpan kejadian itu di sudut pikirannya, lalu kembali membuka file laporan.
"Heru."
"Iya, Mbak?"
"Jangan melamun. Angka-angka nggak akan berubah cuma karena kamu tatap dengan penuh harapan."
Heru tersenyum canggung. "Saya sedang memeriksa data."
"Bagus. Periksa datanya, bukan masa depan perusahaan."
Indah menarik kursi ke sebelahnya dan mulai menjelaskan susunan laporan penjualan bulanan. Ia menerangkan kolom jumlah pesanan, barang terkirim, retur, dan nilai penjualan bersih. Ia juga menunjukkan beberapa kesalahan yang sering dilakukan staf baru, termasuk memasukkan angka retur ke kolom barang terkirim.
Baca juga; Rasa Yang Telah Terbunuh
Penjelasannya cepat, tetapi mudah dipahami. Ia menggunakan contoh-contoh sederhana, sesekali menyelipkan lelucon yang membuat istilah akuntansi terasa tidak terlalu menakutkan.
"Kalau angka penjualanmu salah, bagian keuangan bisa marah. Kalau angka returmu salah, bagian gudang bisa marah. Kalau dua-duanya salah, Pak Firman yang marah. Kalau Pak Firman sudah marah, saya yang pusing karena harus mendengarkan ceramahnya."
"Berarti saya harus memastikan semuanya benar," kata Heru.
"Betul. Tapi jangan terlalu bangga dulu. Kalau semua angka benar, itu memang tugas kamu. Kalau salah, itu juga urusan kamu. Dunia kerja memang tidak adil."
Heru tertawa. "Motivasi Mbak bagus sekali."
"Saya belum selesai. Kalau kamu bisa menyelesaikan laporan tanpa bikin saya pusing, nanti saya traktir makan siang."
"Benarkah?"
"Tidak. Itu motivasi supaya kamu bekerja lebih cepat."
Heru menggeleng sambil tersenyum.
Ada sesuatu yang menyenangkan dari cara Indah berbicara. Ia tidak membuat Heru merasa bodoh karena belum tahu banyak hal. Bahkan ketika menyindir, ia selalu menyelipkan senyum atau tawa, seolah-olah setiap kekeliruan hanyalah bagian dari permainan yang semua orang pahami aturannya.
Heru merasa beruntung ditempatkan di bawah bimbingannya.
Pada pukul sembilan, Indah menerima telepon lagi. Kali ini suaranya berubah lebih serius.
"Pagi, Pak. Iya, saya sudah lihat pesanan dari pihak Bapak. Betul, jumlahnya dua ratus empat puluh unit, bukan dua ratus empat belas."
Ia mendengarkan selama beberapa detik.
"Tidak, Pak. Saya tidak sedang menyalahkan tim Bapak. Saya hanya ingin memastikan barang yang dikirim sesuai dengan pesanan. Kalau kami kirim dua ratus empat belas, nanti Bapak yang kekurangan. Kalau kami kirim dua ratus empat puluh sementara pesanan yang tercatat dua ratus empat belas, bagian gudang kami yang bingung."
Indah melirik layar komputernya, lalu menggeser sebuah dokumen ke samping.
"Begini saja. Saya kirimkan salinan pesanan yang sudah dikonfirmasi. Bapak cocokkan dengan catatan di sana. Kalau memang ada perubahan dari pihak Bapak, tidak masalah. Kita perbaiki bersama."
Suaranya tenang, tegas, dan tidak merendahkan lawan bicaranya.
Heru berhenti mengetik untuk sesaat.
Perempuan yang beberapa menit sebelumnya memperlakukan kesalahan sebagai bahan lelucon itu kini terdengar seperti orang yang sangat paham cara menjaga hubungan bisnis. Ia tidak membentak, tidak panik, dan tidak buru-buru menyalahkan siapa pun.
Setelah telepon ditutup, Indah mengirimkan dokumen kepada klien tersebut dan mencatat hasil pembicaraan di sistem.
"Begitu, Her," katanya tanpa menoleh. "Kalau ada masalah, jangan buru-buru cari orang yang salah. Cari dulu bagian mana yang belum cocok. Kalau memang ada orang yang salah, baru dibicarakan."
Heru mengangguk. "Saya mengerti, Mbak."
"Bagus. Prinsip itu berlaku juga buat hidup. Kalau pasangan kamu tiba-tiba diam, jangan langsung tanya kenapa dia marah. Bisa jadi dia lapar."
Adit menyahut dari mejanya, "Pengalaman pribadi, Mbak?"
Indah melemparkan gulungan kertas kecil ke Adit. "Pengalaman melihat orang-orang di kantor ini. Kalian kalau lapar saja bisa membuat suasana seperti rapat darurat."
Tawa kembali memenuhi ruangan.
Heru ikut tertawa, tetapi kali ini ia juga mencatat sesuatu tentang Indah: perempuan itu bukan sekadar banyak bicara. Ia tahu kapan harus bercanda dan kapan harus serius. Ia bisa mengendalikan suasana tanpa terlihat berusaha terlalu keras.
Setidaknya, itulah kesan yang ia dapatkan pagi itu.
Bersambung
Terima kasih telah membaca Indah Namanya, Tapi...? Kisah ini merupakan cerita bersambung dengan genre: romance dan comedy seperti novel Metropop yang mengangkat tema potongan kehidupan (slice of life) penuh dengan drama romantis. Jika kamu menyukainya, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Senyum Janda Memang Menggoda, Tapi,..?
Komentar
Posting Komentar