Indah Namanya, Tapi...?
Indah Namanya, Tapi...?

Senin pagi, Jakarta sudah terlihat lelah bahkan sebelum pukul delapan.
Di jalan raya, deretan sepeda motor menyelip di antara mobil-mobil yang bergerak lambat. Klakson bersahutan seperti orang-orang yang saling menyalahkan atas sesuatu yang sebenarnya tidak bisa mereka kendalikan. Di trotoar, seorang pedagang kopi keliling sibuk menuangkan minuman ke gelas plastik, sementara beberapa pekerja kantoran berdiri menunggu pesanan dengan wajah yang menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya siap menghadapi hari.
Heru termasuk salah satunya.
Laki-laki berusia dua puluh enam tahun itu berdiri di depan sebuah gedung perkantoran berlantai delapan di kawasan Jakarta Selatan. Kemeja biru mudanya masih cukup rapi, meskipun bagian punggungnya sedikit lembap karena perjalanan dari halte bus. Di tangan kirinya, ia memegang tas kerja berwarna hitam. Tangan kanannya sibuk merapikan ujung lengan kemeja, padahal sejak tadi tidak ada yang salah dengan bagian itu.
Ia hanya gugup.
Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai staf pemasaran di PT Ariana Niaga, sebuah perusahaan distribusi produk rumah tangga yang namanya cukup dikenal di kalangan toko-toko ritel menengah. Setelah hampir empat bulan mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan, mengikuti beberapa wawancara yang hasilnya tidak pernah jelas, dan dua kali menerima penolakan dengan kalimat sopan yang sama, Heru akhirnya mendapatkan pekerjaan yang cukup menjanjikan.
Gajinya bukan sesuatu yang bisa membuatnya langsung hidup nyaman di Jakarta. Namun, setidaknya ia tidak perlu lagi menghitung sisa uang di rekening setiap kali tanggal tua mendekat. Ia juga bisa mulai menyisihkan uang untuk membantu ibunya di rumah dan berhenti berpura-pura santai setiap kali keluarga menanyakan pekerjaannya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari ibunya masuk ketika Heru baru saja hendak menyeberangi lobi.
Sudah sampai kantor, Nak? Jangan lupa sarapan. Kerja yang rajin, tapi jangan terlalu dipikirkan kalau ada masalah.
Heru tersenyum kecil. Ibunya selalu punya kebiasaan mengirim pesan seperti itu setiap kali ia menghadapi sesuatu yang baru. Dulu, sebelum ujian sekolah, pesannya berisi larangan tidur terlalu malam. Sebelum wawancara kerja, pesannya berisi nasihat agar tidak berbicara terlalu cepat. Sekarang, ketika Heru akhirnya mendapatkan pekerjaan, ibunya mengingatkan agar ia tidak terlalu memikirkan masalah.
Padahal, justru itulah yang paling mungkin ia lakukan.
Heru mengetik balasan singkat bahwa dirinya sudah sampai, lalu memasukkan ponsel ke saku celana. Sebelum melangkah menuju meja resepsionis, ia menarik napas panjang.
Baiklah. Ini cuma hari pertama. Orang-orang di sini juga manusia biasa. Ia mengulang kalimat itu di dalam hati, lalu berjalan masuk.
Lobi kantor terasa lebih dingin daripada udara di luar. Di dekat pintu masuk terdapat meja resepsionis, beberapa sofa abu-abu, dan tanaman hias yang daunnya tampak terlalu sempurna untuk sesuatu yang berada di gedung dengan begitu banyak orang berlalu-lalang.
Seorang perempuan muda di balik meja resepsionis mengangkat kepala ketika Heru mendekat.
"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?"
"Pagi, Mbak. Saya Heru. Hari ini mulai kerja di bagian pemasaran."
Perempuan itu memeriksa layar komputernya. "Oh, Mas Heru, ya? Sudah ditunggu bagian HR. Lurus saja, nanti belok kiri, ada lift di sebelah ruang tunggu."
"Baik. Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama. Semoga betah, ya, Mas."
Kalimat sederhana itu membuat Heru sedikit lebih tenang. Ia membalas dengan senyum, lalu mengikuti petunjuk yang diberikan.
Baca juga: Jeda Setelah Luka
Urusan administrasi berlangsung hampir satu jam. Heru mengisi formulir, menyerahkan dokumen yang diminta, menerima kartu identitas sementara, dan mendengarkan penjelasan tentang aturan kantor yang sebagian besar sudah pernah ia baca melalui email. Staf HR bernama Siska menjelaskan dengan ramah, meskipun sesekali harus berhenti karena telepon mejanya berdering.
"Untuk bagian pemasaran, nanti kamu akan banyak berkoordinasi dengan Pak Firman selaku manajer," kata Siska sambil menyerahkan selembar kertas. "Ada tiga staf tetap di tim itu. Salah satunya senior yang cukup lama menangani klien, namanya Indah. Nanti dia yang akan membantu kamu memahami alur pekerjaan sehari-hari."
Heru mengangguk. "Baik, Mbak."
"Orangnya cukup tegas, tapi kamu tidak perlu khawatir. Selama kamu mau belajar dan bertanya kalau tidak paham, biasanya semuanya bisa diatasi."
Kata tegas membuat Heru teringat beberapa atasan yang pernah ia temui selama menjalani kerja paruh waktu. Sebagian memang tegas dalam arti sebenarnya. Sebagian lain menggunakan kata itu untuk membenarkan kebiasaan berbicara seenaknya.
Ia tidak ingin berprasangka sebelum bertemu orangnya.
"Siap, Mbak. Saya akan belajar."
Siska tersenyum, lalu mengantarnya sampai ke lantai tempat bagian pemasaran berada.
Begitu pintu lift terbuka, Heru langsung disambut suara telepon, bunyi papan ketik, dan percakapan beberapa orang yang terdengar dari balik deretan meja. Ruangan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup padat. Beberapa meja dipisahkan oleh sekat rendah. Di sisi kanan terdapat lemari arsip dan mesin pencetak dokumen, sementara di ujung ruangan berjajar jendela lebar yang memperlihatkan gedung-gedung lain serta potongan jalan raya di bawah sana.
Seorang laki-laki berkemeja putih sedang berdiri di dekat printer sambil menepuk-nepuk sisi mesin itu dengan ekspresi orang yang sudah kehilangan kesabaran sejak beberapa menit lalu.
"Ayo, dong. Kita ini sama-sama mencari nafkah. Jangan mempersulit keadaan," gumamnya kepada mesin tersebut.
Siska tertawa kecil.
"Itu Adit," katanya kepada Heru. "Jangan terlalu diambil hati kalau dia mulai bicara sama benda mati. Sudah kebiasaan."
Laki-laki itu menoleh. "Saya dengar, Mbak Siska."
"Bagus. Berarti pendengaranmu masih berfungsi. Tinggal printernya yang perlu diperiksa."
Adit mendengus, lalu memperhatikan Heru yang berdiri di samping Siska. Ekspresinya berubah ramah. "Wah, anak baru?"
"Namanya Heru. Mulai hari ini bergabung di tim pemasaran," jawab Siska.
Adit segera menghampiri mereka dan mengulurkan tangan. "Adit. Selamat datang di tempat yang kelihatannya profesional dari luar, tetapi di dalamnya penuh perjuangan melawan teknologi."
Heru menyambut uluran tangannya. "Heru. Semoga perjuangannya tidak terlalu berat."
"Kalau kamu berhasil membuat printer itu bekerja tanpa mengancamnya, saya akan menganggap kamu orang berbakat."
"Adit," tegur Siska, masih tersenyum. "Jangan menakut-nakuti anak baru."
"Saya sedang memberi gambaran realistis tentang lingkungan kerja."
Heru tertawa. Untuk pertama kalinya sejak memasuki gedung itu, ia merasa mungkin hari pertamanya tidak akan seburuk yang dibayangkan.
Baca juga: Misteri Di Balik Senja
Adit kemudian menunjuk sebuah meja kosong di dekat jendela. "Itu tempatmu, sepertinya. Kemarin mejanya sudah dibersihkan. Kalau ada barang yang kurang, bilang saja. Kami di sini tidak punya upacara penyambutan, jadi paling-paling kamu cuma dapat ucapan selamat datang dan tugas yang menumpuk."
"Jangan dengarkan semua ucapannya," kata Siska. "Pak Firman ada di ruangannya. Sebentar lagi saya panggilkan."
Setelah Siska pergi, Adit membantu Heru meletakkan tas di meja. Ia juga menunjukkan letak kamar kecil, tempat mengambil air minum, serta lemari perlengkapan kantor. Penjelasannya sesekali diselingi komentar yang tidak penting, tetapi justru membuat Heru lebih mudah mengingatnya.
"Kalau mau kopi, mesin di sana bisa dipakai. Rasanya memang tidak seperti kopi kafe, tetapi cukup untuk membuat kita lupa bahwa hari masih panjang."
"Kalau mau teh?" tanya Heru.
"Bisa. Kalau mau minuman yang enak, silakan beli di luar."
Heru tertawa lagi.
Adit tampaknya puas melihatnya tidak terlalu tegang. "Santai saja. Minggu pertama biasanya masih banyak orientasi. Kamu belum akan langsung disuruh menyelamatkan perusahaan."
"Syukurlah."
"Paling cuma menyelamatkan laporan yang hampir tenggelam," lanjut Adit.
Heru belum sempat menanggapi ketika sebuah suara perempuan terdengar dari belakang mereka.
"Dit, kamu sudah selesai mengobrol? Kalau sudah, tolong ambilkan map biru di lemari. Saya perlu yang bulan lalu."
Nada suaranya terdengar ringan, bahkan sedikit manja, tetapi cukup jelas bahwa ia mengharapkan permintaannya segera dilakukan.
Adit menoleh ke arah sumber suara. "Bisa, tapi map yang mana? Di lemari ada banyak map biru."
"Yang ada labelnya."
"Informasi yang sangat membantu."
Perempuan itu menghela napas panjang, seolah-olah Adit baru saja mengajukan pertanyaan paling merepotkan sepanjang sejarah kantor.
"Ya ampun, Adit. Masa begitu saja harus dijelaskan? Yang laporan penjualan bulan lalu. Ada labelnya di bagian depan."
"Nah, begitu lebih jelas."
"Kadang-kadang saya heran bagaimana kamu bisa bertahan bekerja di bagian pemasaran."
"Dengan kerja keras, kesabaran, dan kemampuan mengabaikan komentar tertentu."
Perempuan itu tertawa pendek. Adit ikut tersenyum, lalu beranjak menuju lemari arsip.
Barulah Heru benar-benar memperhatikan perempuan yang berdiri beberapa langkah darinya.
Usianya mungkin akhir dua puluhan. Rambut hitamnya sebahu, ditata sederhana dengan beberapa helai terselip di belakang telinga. Ia mengenakan blus krem dan celana bahan hitam, dengan jam tangan kecil di pergelangan kiri. Penampilannya rapi tanpa terlihat berlebihan. Di tangan kanannya ada gelas kopi, sementara tangan kirinya memegang ponsel yang terus menyala karena notifikasi.
Perempuan itu memandang Heru dari ujung kepala sampai ujung sepatu, bukan dengan tatapan merendahkan, melainkan seperti seseorang yang sedang memastikan bahwa barang yang dipesannya sudah datang dalam keadaan baik.
"Kamu Heru, ya?"
Heru segera berdiri lebih tegak. "Iya, Mbak."
"Aku Indah." Ia mengulurkan tangan. Heru menyambutnya.
"Selamat datang di tim pemasaran," kata Indah. "Semoga kamu kuat."
Baca juga: Bukan Cinta Yang Sama
Heru sempat terdiam, tidak yakin apakah kalimat itu sebuah candaan atau peringatan sungguhan.
Indah melihat ekspresinya, lalu tertawa. "Aduh, jangan tegang begitu. Aku bercanda. Memangnya kita mau dikirim ke medan perang?"
"Belum tahu, Mbak. Saya baru sampai."
"Wah, bisa juga kamu menjawab."
Indah tersenyum lebar. Ada sesuatu yang spontan dalam cara bicaranya. Ia tidak tampak seperti orang yang harus memikirkan setiap kalimat sebelum mengucapkannya. Beberapa karyawan di meja sebelah bahkan ikut tersenyum mendengar percakapan mereka.
"Sudah pernah bekerja di bagian pemasaran sebelumnya?" tanya Indah.
"Pernah magang waktu kuliah, Mbak. Tapi belum pernah bekerja penuh waktu."
"Berarti masih banyak yang harus dipelajari."
"Iya. Makanya saya ingin belajar sebanyak mungkin."
"Bagus. Aku suka orang yang mau belajar." Indah mengangguk seolah baru saja mendengar jawaban yang tepat. "Tapi satu hal, ya. Kalau tidak tahu, bertanya. Jangan sok tahu. Di sini kita berurusan dengan angka dan klien. Kesalahan kecil kadang bisa bikin pekerjaan orang lain ikut berantakan."
Heru mengangguk. Nasihat itu terdengar masuk akal. "Baik, Mbak. Saya akan bertanya kalau ada yang belum jelas."
"Jangan cuma mengangguk. Nanti kalau sudah diberi tugas, ternyata bingung sendiri."
Indah mengatakannya sambil tertawa, seakan kalimat itu tidak perlu dianggap serius. Heru pun ikut tersenyum. Ia mengira perempuan itu memang tipe senior yang suka bercanda sambil memberi nasihat.
Ia belum tahu bahwa kelak ia akan mengingat kalimat tersebut dengan perasaan yang sangat berbeda.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah sarapan?" tanya Indah tiba-tiba.
"Sudah, Mbak."
"Bagus. Kalau belum, aku mau pesan bubur. Tapi jangan bilang ke Adit, nanti dia ikut minta dan menghabiskan kerupukku."
Dari dekat lemari arsip, Adit menyahut, "Saya dengar, Indah!"
"Memang sengaja!"
Beberapa orang tertawa. Indah ikut tertawa sambil mengangkat gelas kopinya, lalu berjalan menuju mejanya. Heru memperhatikan sebentar sebelum kembali duduk.
Kesan pertamanya sederhana: Indah memang banyak bicara, sedikit suka menyuruh, tetapi tampaknya menyenangkan. Ia bisa bercanda tanpa membuat suasana canggung. Ia juga tidak membuat Heru merasa seperti orang asing yang sama sekali tidak diinginkan.
Bagi seorang karyawan baru, itu sudah cukup berarti.
Pak Firman memanggil Heru sekitar pukul sembilan lewat lima belas menit.
Ruangan manajer itu terletak di ujung lorong pendek, dipisahkan dari area kerja utama oleh dinding kaca. Di atas meja terdapat laptop, beberapa map, dan sebuah kalender meja yang masih menunjukkan bulan sebelumnya. Pak Firman sendiri adalah laki-laki berusia awal empat puluhan dengan rambut yang mulai menipis di bagian depan. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia menyambut Heru dengan ramah.
"Silakan duduk, Heru."
"Terima kasih, Pak."
Pak Firman membuka berkas di laptopnya. "Saya sudah membaca hasil wawancara dan tes yang kamu kerjakan. Tim HR juga memberikan penilaian yang cukup baik. Jadi, saya harap kamu bisa berkembang di sini."
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Pak."
Baca juga: Langkah Pertama, Memaafkan
"Tidak perlu buru-buru ingin terlihat hebat. Yang penting kamu memahami pekerjaan, menjaga komunikasi, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali. Kesalahan pertama masih bisa dimaklumi. Kesalahan yang sama untuk kelima kalinya biasanya menunjukkan ada sesuatu yang belum dipelajari."
Heru mengangguk.
"Untuk beberapa minggu pertama, kamu akan membantu pekerjaan pemasaran yang sudah berjalan. Nanti kalau sudah memahami produk dan alurnya, baru kita berikan tanggung jawab yang lebih besar. Indah akan banyak membantumu karena dia yang paling memahami riwayat klien kita."
Pak Firman berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Dia memang cukup keras kalau soal pekerjaan, tetapi hasil kerjanya selama ini baik. Kalau ada yang belum kamu pahami, tanyakan saja. Saya juga terbuka kalau kamu membutuhkan arahan."
"Baik, Pak."
"Bagus. Selamat bergabung."
Heru keluar dari ruangan itu dengan perasaan lebih ringan. Setidaknya, ia tahu apa yang diharapkan darinya. Tidak ada tuntutan yang terasa tidak masuk akal, tidak ada ancaman terselubung, dan tidak ada pidato panjang tentang loyalitas kepada perusahaan.
Ketika kembali ke mejanya, ia mendapati Indah sudah berdiri di samping kursinya sambil memegang sebuah map tipis.
"Nah, sudah selesai rapat kenegaraannya?"
Heru tersenyum. "Sudah, Mbak."
"Bagus. Sekarang kita mulai pekerjaan yang sebenarnya."
Indah meletakkan map itu di atas meja Heru. Di dalamnya terdapat beberapa lembar laporan penjualan, daftar klien, serta contoh materi promosi yang pernah digunakan perusahaan.
"Ini bahan dasar yang harus kamu pelajari. Jangan dihafal semuanya sekaligus, nanti kepalamu berasap. Yang penting kamu memahami produk, siapa target pasarnya, dan bagaimana tim kita bekerja."
Heru membuka map itu dan melihat halaman pertama. Ada banyak angka, singkatan, dan istilah yang belum dikenalnya.
"Untuk laporan ini, saya harus memeriksa semuanya, Mbak?"
"Untuk sekarang, baca dulu. Nanti aku jelaskan bagian yang penting."
Indah menarik kursi kosong dari meja sebelah, lalu duduk di samping Heru. Ia menjelaskan jenis produk yang paling banyak terjual, karakter beberapa klien utama, dan kesalahan umum yang sering dilakukan staf baru. Cara bicaranya cepat, tetapi cukup teratur. Sesekali ia menggambar panah di kertas Heru, melingkari angka, atau membuat catatan kecil di pinggir halaman.
Ternyata, Indah benar-benar memahami pekerjaannya.
Ia bisa mengingat klien berdasarkan kebiasaan membeli, mengetahui toko mana yang selalu meminta diskon menjelang akhir bulan, dan mengenali pola penjualan hanya dengan melihat beberapa kolom angka. Ketika Heru bertanya mengapa perusahaan tetap mempertahankan klien yang nilai transaksinya relatif kecil, Indah menjelaskan bahwa klien tersebut memiliki banyak cabang dan berpotensi berkembang.
Heru mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
"Kalau begitu, yang kita lihat bukan hanya angka penjualan sekarang, tetapi kemungkinan pertumbuhannya juga, ya, Mbak?"
"Betul." Indah menunjuknya dengan ujung pulpen. "Nah, kamu cepat menangkap. Aku suka."
Pujian itu membuat Heru merasa lega. Ia sempat khawatir akan kesulitan mengikuti penjelasan seniornya, tetapi ternyata ia masih bisa memahami banyak hal jika diberi kesempatan.
Indah melanjutkan penjelasannya sampai ponselnya bergetar. Ia membaca pesan yang masuk, mengerutkan kening, lalu menghela napas.
Baca juga: Malam Terakhir Mereka
"Aduh, si Adi ini."
"Ada masalah, Mbak?" tanya Heru.
"Klien yang dari Bekasi. Dia minta revisi harga lagi, padahal kemarin sudah disepakati. Kalau dituruti terus, lama-lama dia minta kita yang bayar untuk membeli produk sendiri."
Heru tertawa kecil. Indah menunjukkan layar ponselnya, memperlihatkan pesan dari klien yang meminta penyesuaian harga dengan alasan biaya operasional.
"Lihat, kan? Katanya ada kenaikan biaya distribusi. Padahal minggu lalu dia bilang gudangnya sudah pindah ke lokasi yang lebih dekat."
"Mungkin ada perubahan lain, Mbak."
Indah menatapnya. "Heru, kamu ini baru satu jam belajar, sudah membela klien?"
Heru langsung mengangkat kedua tangan sedikit. "Bukan begitu, Mbak. Saya cuma berpikir mungkin ada penjelasan lain."
Indah diam selama satu detik, lalu tertawa keras. "Ya ampun, aku bercanda! Kamu benar-benar mudah panik, ya?"
Beberapa kepala menoleh. Heru ikut tertawa, meskipun sedikit terlambat. Ia merasa pipinya menghangat karena sadar telah menanggapi candaan itu terlalu serius.
Indah masih tertawa ketika kembali berdiri.
"Sudahlah. Aku harus mengurus si Adi. Kamu lanjutkan membaca. Kalau ada pertanyaan, catat saja dulu. Nanti kita bahas."
"Baik, Mbak."
Indah berjalan pergi sambil mengetik balasan di ponselnya. Tak lama kemudian, ia berhenti di meja Rika yang berada di dekat lorong.
"Rik, nanti kalau ada paket datang, tolong kabari aku, ya. Katanya contoh produk baru dikirim hari ini."
"Baik, Mbak Indah."
"Eh, kamu sudah makan? Tadi aku lihat kamu belum ke kantin."
"Belum, Mbak. Sebentar lagi."
"Jangan lupa. Nanti sakit, aku lagi yang disalahkan karena terlalu banyak menyuruh orang bekerja."
Rika tertawa. "Memangnya siapa yang menyuruh saya terus?"
Indah menepuk pelan meja resepsionis. "Nah, ini dia. Sudah berani melawan senior. Bagus. Perkembangan yang membanggakan."
Ia melanjutkan langkahnya dengan wajah puas, meninggalkan Rika yang masih tersenyum sendiri.
Heru melihat semua itu dari kejauhan. Ada sesuatu yang menarik tentang Indah. Perempuan itu bisa berbicara kepada banyak orang dengan mudah, mengingat nama mereka, dan menciptakan suasana akrab bahkan di tengah pekerjaan yang menumpuk.
Ia tampaknya bukan orang yang sulit disukai.
Bersambung
Terima kasih telah membaca Indah Namanya, Tapi...? Kisah ini merupakan cerita bersambung dengan genre: romance dan comedy seperti novel Metropop yang mengangkat tema potongan kehidupan (slice of life) penuh dengan drama romantis. Jika kamu menyukainya, silakan bagikan ke media sosialmu.
Baca juga: Pengakuan Yang Mengubah Segalanya
Komentar
Posting Komentar